Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT

 

Judul : FEAR MANAGEMENT

Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2007

Tebal : 158 halaman

 

Mutiara Quotation FEAR MANAGEMENT

 

Abstrak

Selama ini rasa takut kita terima sebagai sesuatu yang mutlak, tak terhindarkan. Psikologi modern bahkan menegaskan rasa takut sebagai sumber energi untuk ‘fight or flight’, melawan atau melarikan diri. Ketika kita menghadapi bahaya, rasa takut secara spontan mendorong kita untuk melawan atau melarikan diri.

Rasa takut atau FEAR sebenarnya adalah False Emotion Appearing Real – Emosi Palsu yang Terkesan Nyata. Sebagai makhluk yang lebih mulia daripada binatang, kita dapat mengelola rasa takut kita untuk mencapai puncak evolusi diri kita.

 

Perlukah Anda Membaca Buku ini?

Barat sudah mulai menoleh ke dalam diri untuk menemukan jawaban yang tidak ditemukannya dari luar.

Melarikan diri atau melawan adalah reaksi yang biasa. Menghadapi adalah respons yang tidak biasa. Menghadapi rasa takut – dalam hal ini ‘takut mati’ – berarti menerima kematian sebagai kematian. Penerimaan seperti itu menuntut kesadaran. Penerimaan seperti itu tidak datang begitu saja.

Saya setuju 100 persen dengan apa yang dikatakan Raja Salomo atau Nabi Sulaiman:”Di bawah kolong langit ini tidak ada sesuatu yang baru ……” Yang baru adalah cara saya menyajikannya.

 

Bagian Pertama. Mengenal Rasa Takut.

Sesungguhnya gelombang itu hanyalah sebuah sebutan. Gelombang tidak terpisah dari laut. Sesungguhnya gelombang itu tidak ada. Yang ada hanyalah laut. Kendati demikian, kita memperoleh kesan seolah gelombang ada.

Inilah basis kehidupan rasa takut yang sesungguhnya, tidak ada memberi kesan seolah ada. Tidak ada yang perlu ditakuti, karena apa yang mesti terjadi sudah pasti terjadi. Kendati demikian manusia tetap takut.

Ada yang takut mati; ada yang takut hidup. Yang takut mati berusaha untuk menghindarinya, tapi sia-sia saja. Yang takut hidup berusaha untuk mengakhiri hidupnya, padahal kehidupan adalah energi; dan energi tidak dapat diakhiri. Energi tidak mengenal kematian. Energi bersifat abadi.

 

Management: Seni Mengolah

FEAR- False Emotion Appearing Real.

Ketakutan adalah emosi palsu, tapi tampak asli… memberi kesan seolah asli.dalam kesan sesaat itu, ada suka, ada duka. Ada panas, ada dingin.

Semuanya itu mimpi. Tetapi, mimpi itu begitu riil. Dalam mimpi kadang jantung kita berhenti berdebar, kadang mengeluarkan keringat. Pengalaman-pengalaman seperti itu, walau terjadi dalam mimpi, sangat tidak menyenangkan.

Karena ketakutan adalah emosi palsu yang tampak riil, langkah pertama yang mesti diambil untuk mengatasinya adalah ‘bangun dari mimpi’. Akhirilah mimpimu itu, kemudian, dampak dari mimpi itu kau rubah.

Fear Management sesungguhnya, adalah Seni Mengolah Dampak dari Rasa Takut.

Man berarti manusia. Age berarti usia, dan ment mengindikasikan adanya proses. Management berarti Proses Peng-”usia”-an atau Pendewasaan Manusia. Jika age diartikan sebagai “zaman”, management dapat diartikan sebagai Proses Penyelarasan Manusia dengan Zaman.

Diri yang dewasa mampu melihat kepalsuan sebagai kepalsuan. Ia tak terjebak dalam kepalsuan itu. Diri yang sudah dewasa dan selaras dengan zaman, dengan alam, tidak takut menghadapi perubahan. Ia mendengar “Sabda Alam”. Ia memahami artinya. Dia bertindak sesuai dengan tuntunannya.

Luapan emosi pun terjadi karena kita membiarkannya untuk meluap. Di luar boleh terjadi kekacauan, kita tidak mesti terbawa oleh kekacauan itu. Kita tidak perlu diterjang oleh Gelombang Kekacauan Tsunami di luar.

Menjaga kewarasan di tengah ketakwarasan dunia, memelihara ketenangan diri di tengah kebisingan dunia, inilah tujuan Management Diri. Dan, supaya tidak ditakut-takuti oleh keramaian di luar, kita membutuhkan Fear Management.

 

Manusia Baru

Mereka yang malas mengharapkan zaman berubah. Mereka yang rajin mengubah diri dan menyebabkan terjadinya perubahan pada zaman. Celakanya kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tak pernah surut.

Harapan pada zaman baru adalah harapan pada perubahan yang terjadi di luar diri. Harapan ini tergantung pada sesuatu yang terjadi di luar kendali kita, maka harapan ini menciptakan rasa takut baru – ketakutan bahwa harapan itu tak terpenuhi.

Perubahan bukanlah sesuatu yang pernah terjadi secara masal. Tidak pernah. Perubahan terjadi pada perorangan, secara pribadi. Kemudian, pribadi yang berubah itu membawa perubahan.

Untuk membebaskan diri dari rasa takut pun, adalah salah jika kita berusaha untuk membereskan keadaan di luar. Keadaan di luar tidak pernah beres. Dulu ada penjahat, sekarang pun masih ada.

Manusia “Neo”, Manusia Baru – bukan New-Ager atau mereka yang mengharapkan Zaman Baru – berusaha untuk memahami “rasa Takut”. Apa yang menyebabkannya? Ia juga berusaha untuk memberdayakan dirinya, supaya tidak dihantui oleh rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi. Sudikah Anda menemani dia dalam pencahariannya?

 

Bagian Kedua. Jenis-Jenis Rasa Takut.

Setidaknya ada lima lapisan kesadaran utama dalam diri manusia dan di sana ada ketakutan yang berbeda-beda:

  • Lapisan Fisik

  • Lapisan Energi

  • Lapisan Mental

  • Lapisan Intelegensia

  • Lapisan Spiritual

 

Rasa takut muncul dalam setiap lapisan secara serempak. Intensitasnya berbeda. Karena itu, penyelesaian pada seluruh lapisan mesti diupayakan secara bersama, secara menyeluruh, secara holistik.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Fisik

Lapisan Fisik, yaitu jasmani kita dalam bahasa kuno disebut Annamayakosha – Lapisan yang terbuat dari Makanan. Inilah raga manusia.

Sperma dan sel telur adalah hasil makanan. Kualitas makanan menentukan kualitas sperma dan sel telur. Seluruh data dalam DNA seorang anak berasal dari sperma ayah, dan energi untuk menggerakkan tubuh berasal dari telur ibunya. Data tersebut tidak dapat dibaca secara jelas jika wahana atau sperma yang mengantarnya berkualitas rendah. Begitu pula motorik seorang anak sepenuhnya tergantung pada kualitas telur ibunya.

Rendah-tingginya kualitas sperma dan sel telur menentukan “jenis rasa takut” yang diwarisi oleh seorang anak.

Kualitas yang rendah menciptakan berbagai macam kendala sehingga seorang anak tidak mampu mengekspresikan dirinya secara sempurna. Ia mengalami depresi, nervousness. Ia menderita inferiority complex atau menganggap dirinya rendah. Para pelaku kejahatan, dari kelas teri hingga kelas kakap, dari maling biasa hingga pembunuh berdarah dingin, semuanya menderita rasa takut yang disebabkan oleh kualitas sperma dan sel telur yang rendah.

Awalnya, seluruh sistem pendidikan dirancang untuk mengatasi rasa takut jenis pertama ini.

Vyaayaam atau olah raga ringan dari tradisi yoga, Tai-Chi dan sebagainya dirancang untuk itu.

 

Kualitas sperma dan sel telur yang terlampau tinggi membuat seorang anak terlalu percaya diri. Ia menjadi sombong, keras, kaku, alot. Ia menderita penyakit superiority complex – merasa diri superior. Untuk melembutkan kepribadiannya, ia diajar untuk menyanyi, menari, menggambar, dan lain sebagainya.

Kualitas sperma yang berkualitas tidak rendah atau tidak tinggi juga memiliki rasa takut yang muncul dari reaksinya terhadap rasa lapar. Selama dalam kndungan ibunya, seorang anak tidak perlu mencari makanan. Ia mendapat suplai makanan dari peredaran darah ibunya. Begitu lahir ia tersadarkan bahwa suplai makanannya sudah terhenti, muncullah rasa takut yang sangat mencekam. Barangkali belum lapar betul. Tetapi ia sudah tahu bahwa sekarang makanan tak dapat diperolehnya dengan cara biasa.

Rasa takut yang muncul karena lapar, sesungguhnya menciptakan “semangat” dalam diri seorang anak untuk mencari, semangat untuk berjuang, dan semangat untuk menemukan.

Anak-anak yang saat lahir diberi susu siap saji menjadi generasi “mi instan”. Ia tidak mau bersusah payah untuk “memasak” sesuatu. Lebih gampang membeli bungkusan atau mangkuk mi, bubur, sup, atau apa saja yang siap saji – ditambah air panas, didiamkan sesaat, diaduk – dan langsung dimakan. Generasi kita telah terlanjur menjadi korban budaya siap saji, tradisi instan.

Takut kelaparan adalah rasa takut yang paling mudah terdeteksi pada Lapisan Kesadaran Fisik.

Penyakit membuat kita takut. Yang menderita saya, atau orang lain, tidak menjadi soal. Penyakit itu memunculkan rasa takut dalam diri saya.

Kita takut menjadi tua. Kita takut pada proses menua, padahal proses itu sudah berjalan sejak kita lahir.

Takut mati. Kita sudah sangat sering melihat kematian; sering pula melayat. Saat itu, muncul rasa takut akan kematian, tetapi kemudian rasa takut itu mengendap kembali di bawah sadar kita.

 

Sesungguhnya, pencerahan tidak perlu diupayakan. Pencerahan “terjadi” dengan adanya pemahaman tentang sifat kebendaan, termasuk pemahaman tentang fisik, raga, badan manusia. “pemahaman” inilah yang mesti diupayakan.

Solusinya: pertama adalah afirmasi. Ulangi terus menerus, “Aku bukanlah Badan. Aku adalah Jiwa Abadi”. Atau jika Anda percaya betul berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya: “Aku berasal dari Tuhan, dan akan kembali kepada-Nya”.

Dalam keadaan tidur, mata kita tertutup; badan kita tergeletak di atas ranjang. Fisik beristirahat, namun kita masih bermimpi. Mimpi itu tetap aku lihat. Aku yang melihat ini jelas bukan badan.

Dalam bahasa lain, afirmasi yang diulang-ulangi itu disebut japa atau zikr. Tujuannya sama: membebaskan manusia dari kesadaran jasmani.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Energi

Lapisan Energi, yang dalam bahasa kuno disebut Praanamayakosha. Yang dimaksud adalah life force, kekuatan yang menggerakkan tubuh kita, yang memberi kita kemampuan untuk berpikir dan berperasaan.

Pada lapisan ini terjadi pertemuan antara raga dan rasa manusia; antara badan dan pikiran. Ketika lapisan ini sudah tidak bekerja, pertemuan pun berakhir. Tubuh menjadi jazad. Kadang lapisan ini mengalami rusak berat, tubuh sudah tidaki dapat digerakkan, otak tidak bisa berpikir jernih, perasaan terganggu. Pada kerusakan yang paling berat dalam dunia medis disebut koma.

Lapisan energi di dalam tubuh memperoleh suplai energi dari alam sekitar kita. Energi diperoleh lewat lubang hidung, mulut, pori-pori kulit terluar, lewat mata, telinga, lewat setiap lubang, setiap pembukaan yang ada pada tubuh kita.

70 % energi terboroskan lewat mata, maka perolehan energi lewat mata pun bisa menjadi sumber utama.

Terjadinya short of supply of energy menciptakan rasa takut dalam diri kita, lalu kita berusaha menarik energi secara paksa.

Seorang lelaki bermata jelalatan, seorang perempuan centil yang sedang menarik perhatian sesungguhnya sedang menarik energi.

Ketika dengan cara itu belum cukup, kita menciptakan konflik, friksi, perang. Perlombaan adalah cara untuk menarik energi.

Dua orang yang saling mencintai tidak perlu saling memanipulasi. Interaksi energi antara keduanya berjalan sendiri tanpa tarik menarik. Keduanya merasa lebih segar karena keduanya memperoleh sesuatu.

Dalam satu kelompok di mana 10 atau 20 orang saling mencintai, interaksi energi yang terjadi sedemikian dahsyatnya sehingga dalam radius 6 hingga 60 km, setiap makhluk dapat merasakan getaran-getaran cinta. Apalagi jika jumlah orang yang saling mencintai dan mengasihi itu mencapai 100; getaran energi berlipat ganda dan menyebar hingga radius ribuan kilometer.

Rasa takut pada lapisan energi dapat dideteksi dengan mudah. Biasanya orang yang mengalami defisiensi energi takut gelap, takut tempat-tempat sempit.

Solusi: Praanayaama atau latihan-latihan pernapasan tradisi yoga secara teratur, setiap hari walau untuk 10 menit saja.

Salah satu latihan yang paling mudah adalah Pernapasan Perut. Kalau akan tidur, latihan cukup 5 menit. Kalau lebih dari 5 menit latihan bisa menyegarkan dan Anda akan sulit tidur.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Mental

Lapisan Mental/Emosional atau Manomayakosha. Rasa takut pada lapisan ini muncul karena sense of loss – takut kehilangan.

  1. Takut kehilangan sesuatu yang kita peroleh lewat kerja keras.

  2. Takut kehilangan seorang relasi.

  3. Takut ditolak.

  4. Takut kesepian.

Pada usia tua, kegiatan fisik berkurang dan terjadi ekses of energi. Energi berlebihan. Energi akan turun ke pusat energi pertama yang terkait makanan dan pusat energi kedua yang terkait dengan seks. Ketika kemampuan seks juga berkurang, maka seks akan bersarang dalam pikiran.

Rasa takut yang sesungguhnya sekadar emosi seolah menjelma menjadi sesuatu yang nyata.

Solusi: lapisan mental/emosional paling sering menjadi korban rasa takut, karena rasa takut itu sendiri terbuat dari materi yang sama, yaitu emosi.

Kepribadian kita terbentuk oleh gugusan pikiran, perasaan, angan-angan, impian, ingatan dan materi-materi lain sebagainya. Selama hidup berdamai di dlam tubuh kita, kita sehat. Ketika konflik terjadi di antara mereka, tubuh jatuh sakit.

Cara yang paling tepat adalah dengan cara memahami hukum-hukum alam. Dengan begitu muncul kesadaran bahwa apa pun yang terjadi sudah sesuai dengan hukum alam.

  • Apa pun yang saat ini Anda miliki, pernah dimiliki oleh orang lain.kepemilikan tidak langgeng.

  • Suami, istri, anak, saudara orang tua, kawan semuanya adalah hubungan yang terjadi dalam hidup ini dan dunia ini. Aku lahir dan mati seorang diri.

  • Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan dan penerimaan seseorang tak mampu mempengaruhi kualitas hidupku.

  • Kita perlu memahami Hukum Alam yang paling penting. Hukum Sebab-Akibat.

 

Rasa Takut pada Lapisan Intelegensia

lapisan Intelegensia atau Vigyaanmayakosha. Rasa takut pada lapisan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan gagal atau tidak berhasil dalam suatu pekerjaan atau hidup.

Sesungguhnya, ada paradoks. Rasa takut yang satu ini sesunnguhnya juga membuktikan bahwa intelegensia kita sudah mulai berkembang.

Intelegensia membuat kita sadar akan kebutuhan jiwa. Dan, jiwa tidak hanya membutuhkan pengalaman-pengalaman yang manis. Pengalaman pahit sama pentingnya dengan pengalaman manis.

Lebih lanjut, intelegensia menyadarkan kita bahwa sesungguhnya tidak ada siang tanpa sore. Tidak ada pahit tanpa manis. Keberhasilan menjadi bermakna, karena adanya duka dan kegagalan.

Ketika seseorang menganggap dirinya cukup intelegen, ia mencukupi dirinya. Ia mengakhiri perkembangan intelegensianya. Ini berarti kemunduran, intelegensia yang sudah berkembang itu menjadi layu dan akhirnya mati.

Seorang yogi, seorang bhogi dan seorang rogi tidak bisa tidur sepanjang malam.

Seorang yogi bermeditasi. Keheningan malam sangat menunjang latihan spiritual.

Seorang bhogi sedang menikmati indera sepanjang malam.

Seorang rogi atau orang sakit tidak dapat tidur sepanjang malam.

Rasa takut kedua yang muncul pada lapisan ini adalah takut ide atau opini atau gagasan kita tidak diterima.

Solusi:

Ketakterikatan membebaskan manusia dari rasa takut.

Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, imbalan, penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut.

Lapisan intelegensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama: Pertama, sumber dalam diri, dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang. Yang kedua, sumber di luar diri dari pujian dan pengakuan.

Menulis semata untuk menghasilkan uang akan menyeret saya ke lapisan kesadaran pertama.

Solusi pertama ini juga terkait dengan solusi kedua: Berkarya tanpa pamrih.

Ada yang bertanya: Bagaimana memastikan bahwa suara yang didengar itu betul suara hati? Bukan suara pikiran bukan pula godaan setan?

Pikiran itulah setan yang menggoda. Sebaliknya, jika kita mendengar suara hati, bisikan nurani, tidak ada keraguan lagi.

 

Rasa Takut pada Lapisan Kesadaran Spiritual

Untuk menguasai rasa takut pada empat lapisan sebelumnya, kita telah mempraktikkan empat jenis Yoga:

  1. Puasa dan afirmasi adalah bagian dari Ashtaang Yoga

  2. Praanaayaama atau olah napas adalah bagian dari Raja Yoga.

  3. Transformasi diri dengan mengubah cara pandang dan melakoni hidup sesuai dengan kesadaran baru – itulah Karma Yoga.

  4. Mengasah intelejensia adalah bagian dari Gyaana Yoga.

Yoga adalah sistem pelatihan, sistem olah diri guna mencapai keseimbangan antara lapisan-lapisan kesadaran di dalam diri manusia, dan keselarasan dengan alam semesta.

 

Rasa takut utama yang muncul pada lapisan ini adalah fear of the unknown, takut menghadapi sesuatu yang tidak atau kurang jelas. Sesuatu yang penting tapi belum jelas bagi kita. Unknown di sini adalah ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang berada di luar dunia, sesuatu yang melampaui ilmu-ilmu sedunia.

Takut mati bukanlah bagian dari Fear of Unknown.

Takut menghadapi apa yang terjadi setelah kematian itu baru Fear of Unknown.

Mereka yang tidak siap menghadapi The Ultimate Unknown Fear ini lebih baik menerima konsep-konsep tentang surga neraka yang sudah ada. Konsep-konsep itu cukup jitu untuk menghilangkan sementara rasa takut untuk sesaat.

Solusi:

Terimalah rasa takut sebagai rasa takut. Rasakanlah hingga ke sumsum Anda.

Penerimaan seperti ini memunculkan rasa Bhakti dalam diri kita. Manusia menyadari ketakberdayaannya di hadapan Hyang Maha Daya. Dia berhamba bukan karena takut, tetapi karena sadar, karena cinta… cinta yang lahir dari kesadaran manusia akan ketakberdayaan dirinya.

Mutiara Quotation Buku Niti Sastra

 

Judul : ANCIENT WISDOM FOR MODERN LEADERS

Niti Sastra, Kebijaksanaan Klasik Bagi Manusia Indonesia Baru

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2008

Tebal : 316 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Niti Sastra

 

Niti Sastra ditulis pada zaman Majapahit, kira-kira lima abad yang lalu. Niti atau pedoman perilaku adalah sebuah shastra, senjata ampuh, alat yang baik dan berguna untuk menghadapi hidup ini. Persembahan Niti Sastra ini merupakan upaya kecil untuk mengingatkan kita akan keberhasilan para leluhur kita dalam hal berpikir, mengelola negara, dan menerjemahkan nilai-nilai luhur dalam keseharian hidup.

 

Aku bertanggung Jawab terhadap Keadaan Negeriku Saat Ini.

 

Agama tentu saja menentukan identitas kita, tetapi bukan satu-satunya yang menentukan identitas kita. Budaya bukanlah sekadar identitas diri. Budaya adalah jati diri kita, jati diri bangsa. Dengan melupakan budaya, kita telah melupakan jati diri dan karenanya lantas kita menyontek budaya-budaya asing. Penyontekan seperti itu melemahkan jiwa kita, mencabut akar kita. Akibatnya, masyarakat kita telah menjadi floating mass.… kena badai sedikit saja hanyut, larut, lenyap.

 

Untuk membuktikan keadaan kita yang seperti floating mass itu cukuplah kita nonton teve selama beberapa jam saja. Di satu pihak banyak sekali tontonan bernuansa agama yang mendefinisikan agama secara sempit. Sulit untuk memisahkan agama dari praktik perdukunan dan klenik. Di pihak lain adalah generasi muda yang seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, sungguh cuek. Berita tentang kegiatan konstruktif jarang disiarkan, sedangkan hal-hal yang destruktif memperoleh sorotan utama.

 

Dimana letak kesalahan kita?

Salah satunya, saya kira adalah “penolakan kita terhadap sejarah”. Orang bilang, Borobudur adalah peninggalan zaman Buddha. Prambanan adalah peninggalan zaman Hindu. Borobudur bukanlah peninggalan zaman Buddha. Borobudur adalah warisan budaya kita, peninggalan dinasti Syailendra.

 

Dengan memisahkan diri dari Sriwijaya, Syailendra, Mataram, majapahit dan lain-lain, dengan menolak dan tidak mengakui para leluhur, kita telah mencabut sendiri akar budaya kita. Dan, tanpa akar budaya, kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab.

 

Bila kita ingin menyelamatkan negeri ini, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada budaya asal kita yang adalah jati diri kita, jati diri manusia Indonesia.

 

Aku Dapat Mengubah Keadaan Negeriku

 

Janganlah membiarkan para pemimpin kita menunggangi rakyat demi kepentingan pribadi, partai, maupun kelompok. Kinilah saatnya untuk bersuara. Jangan takut. Bertindaklah sesuai kata hati, sesuai nurani, supaya masa depan tidak kotor.

 

Berkarya bersama. Kenapa kita harus berkarya bersama? Kenapa umat Islam tidak berkarya sendiri saja dengan orang-orang seumat; demikian pula umat yang lain? Kita harus berkarya bersama, karena kita memang satu. Kebersamaan kita adalah sebuah keniscayaan. Indonesia satu. Kepulauan Nusantara satu. Letak geografis kita di tengah laut itu satu, dan tidak dapat diganggu-gugat.

 

Kita memiliki nilai-nilai luhur sendiri. Bangsa kita juga memiliki apa yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Dan, nilai-nilai yang kita miliki itu sudah teruji keabsahannya. Nilai-nilai itu membuat Sriwijaya jaya selama hampir 1.000 tahun. Majapahit jaya selama berabad-abad. Sejarah menjadi saksi ketika kita melupakan nilai-nilai itu; tenggelamlah bangsa kita dalam masa kegelapan hingga berabad-abad pula.

 

Bab I.

Saya tidak tahu, akan diberi hidup oleh Tuhan sampai umur berapa. Tetapi permohonanku kepada-Nya ialah supaya hidupku iytu hidup yang menfaat. Manfaat bagi tanah air dan bangsa; manfaat bagi sesama manusia. Permohonanku ini saya panjatkan pada tiap-tiap sembahyang. Sebab, Dialah Asal segala Asal, Dialah Purwaning Dumadi. Soekarno.

 

  1. Tuhan sebagai Pembebas Agung… bukan sebagai Pemberi rezeki, bukan sebagai Penguasa Surga, bukan untuk kenikmatan dunia dan kerumunan peri di Surga…. tapi untuk pembebasan diri dari segala keterikatan; untuk membebaskan jiwa dari rantai yang membelenggu.

  2. Pengetahuan benar-benar menjadi daya hidup bila sudah dialami. Bagaimana dapat menjelaskan rasa manis bila belum pernah mencicipi sesuatu yang berasa manis. Begitu pula dengan pengalaman hidup.

  3. Pengetahuan bagaikan racun bagi mereka yang malas dan tidak mau menuntutnya. Sebagaimana makanan yang tidak tercerna pun menjadi racun dan menyebabkan penyakit.

  4. Seorang pemimpin tahu kapan menggertak orang; kapan bersikap sabar; kapan menunjukkan otot; kapan menggunakan hati. Ia sangat inkonsisten, sangat adaptif, dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi juga tidak berarti kompromis. Dia tidak mudah menggadaikan jiwanya. Ia dapat menundukkan kepalanya, dapat menafikan segonya, keakuannya demi kepentingan yang lebih luas.

  5. Seorang anak manusia berhati jahat lebih berbahaya daripada seekor hewan yang buas karena dia dapat menyembunyikannya, sementara hewan buas tidak berpura-pura, tidak menyembunyikan kebuasannya di balik kedok.

  6. Sabar, ikhlas, dan tenang adalah tiga kemuliaan utama. Sesungguhnya tiga kemuliaan ini adalah tritunggal. Sabar karena ikhlas. Tenang karena ikhlas. Sabar adalah bahan baku yang kita masukkan ke dalam mesin kehidupan kita. Keikhlasan adalah proses yang terjadi, olah diri yang diwarnai olehnya… Kemudian, hasil akhirnya adalah ketenangan.

  7. Agar hidup menjadi berarti, gunakan pengetahuan untuk menentukan pergaulan mana yang tepat dan layak, mana yang btidak tepat dan tidak layak; pergaulan mana yang dapat menunjang kesadaran serta evolusi batin, dan mana yang tidak menunjang.

  8. Tidak menepati janji sungguh menyakitkan bagi orang yang memegang janji kita, tetapi dengan itu sebenarnya kita rugi lebih besar lagi. Pertama, kita tidak lagi dipercaya orang; dan kedua kita sendiri akan kehilangan kepercayaan diri kita karena dalam hati kita tahu bahwa kita tidak bisa diandalkan. Inilah jalan tol menuju kehancuran.

  9. Mereka yang gemar pamer, suka mengada-ada sesungguhnya tidak percaya diri. Mereka sedang mencari perhatian karena sesungguhnya tidak ada sesuatu dalam diri mereka yang patut diperhatikan.

  10. Singa menjaga hutan, dan dijaga hutan. Perselisihan antara mereka merugikan keduanya. Hutan tanpa penjaga dirusak manusia, singa di luar hutan pun diburu manusia.

  11. Kasih membuat kita adil. Kasih membuat kita beradab.

  12. Sebagai orangtua, kita harus selalu berhati-hati…. senantiasa sadar dan waspada, karena setiap langkah kita sedang diamati oleh anak-anak kita.

  13. Anak manusia tidak hanya membutuhkan pendidikan, tetapi juga perawatan dan pemeliharaan fisik, mental, emosional… Setiap lapisan kesadaran di dalam diri manusia perlu dirawat dan dipelihara. Dengan cara apa mendidik anak manusia, merawat serta memelihara kesadarannya? Dengan cara membangkitkan semangat dalam dirinya; dengan cara memberdayakan dirinya. Semangat, energi, atau apa pun sebutannya, tidak dapat diperoleh lewat motivasi dari luar. Motivasi pun harus datang dari dalam diri sendiri. Kita harus mampu memotivasi diri sendiri.

  14. Kerelaan untuk berkorban demi kepentingan orang banyak adalah esensi ajaran setiap agama. Sekarang, para pemeluk agama malah rela mengorbankan kepentingan banyak orang demi kepentingan diri. Agama tidak mengajarkan kekerasan. Agama tidak membenarkan kekerasan. Tidak ada pula pemaksaan dalam hal beragama.

 

Bab II.

  1. Pakaian dan perhiasan hanya menghiasi bada. Pengetahuan menghiasi pikiran, memperhalus perasaan, dan meningkatkan kesadaran. Karena itu, seorang berpengetahuan akan selalu berupaya untuk menambah pengetahuannya. Ia tidak pernah berhenti.

  2. Hasil rampasan tidak dapat membahagiakan kita. Ada Hukum Sebab Akibat yang berlaku sama bagi setiap orang. Bekerjalah dengan rajin dan jujur untuk memperoleh harta. Berkaryalah dengan sekuat tenagamu. Hasil kerja keras dan jerih payah itulah yang langgeng. Otherwise, easy come easy go..

  3. Untuk mengakhiri perselisihan dengan lawan, kau dapat berdamai dengannya, memecah belah kubunya, bersikap penuh kasih, atau memaksa dan menghukumnya. Silakan menguasai keempat cara itu, namun upayakan selalu untuk mengakhiri segala persoalan dengan kasih sayang.

  4. Menghadapi seorang lawan, janganlah kau menunjukkan rasa takutmu. Itu akan mengendurkan semangat para kawan yang membela dan mendukungmu. Tidak perlu menghina musuhmu karena ia akan bertambah marah. Semangat yang membara dalam hatimu cukup untuk mengalahkannya tanpa senjata.

  5. Pengetahuan adalah kawan utama, hawa nafsu adalah lawan utama, cinta orang tua terhadap anaknya itulah cinta utama. Dan, kekuatan utama adalah kekuatan takdir, nasib. Memang ada sebuah master plan. Setiap jiwa memilikinya, namun master plan itu sekadar kemungkinan yang dapat menjadi kepastian bila ditindaklanjuti.

  6. Pelajaran tertinggi adalah yang kau peroleh dari seorang Guru Sejati; Pengahrgaa tertinggi diberi oleh para suci kepada mereka yang suka mengampuni.

  7. Sungguh tidak cerdas orang kaya yang menjadi angkuh karena kekayaannya. Ia tidak sadar bahwa seorang penarik becak bekerja lebih keras daripada dirinya. Bila kekayaan adalah hasil kerja keras saja, penarik becak itu seharusnya lebih kaya daripada dirinya. Karena itu, tidak cerdas orang yang tidak bisa mensyukuri kekayaan karena mengira itu hanya merupakan hasil kerja kerasnya.

  8. Kesehatan fisik tidak cukup. Penampilan luaran pun belum cukup. Perilaku kita, tingkah laku kita pun harus sehat. Tingkah laku sopan itulah pertanda kesehatan diri. Sehat rasa menghasilkan sifat ramah. Sehat jiwa membuat kita suka mengampuni. Demikianlah kesehatan holistik, kesehatan sempurna ala Indonesia.

  9. Racun kejahatan manusia menyebar ke segala dimensi dirinya sehingga mewarnai segala perilakunya pula, serta dapat dirasakan oleh siapa pun. Racun itu menggerahkan si empunya dan siapa saja yang cukup peka.

  10. Anak manusia tergantung induknya; ikan di kolam tergantung pada kedalaman airnya; burung di langit tergantung pada sayapnya; seorang pemimpin tergantung pada kepuasan mereka yang dipimpinnya.

  11. Keharuman nama menyebar kemana-mana. Kendati demikian, jangan berharap agar setiap orang memuji. Harapan itu akan mengecewakan. Kemudian kekecewaan diri dapat dengan mudah mengubah hati yang baik menjadi hati yang busuk.

  12. Tidak perlu melawan perseteruan. Hindari saja mereka yang berseteru. Kalau tak puas dengan suatu keadaan, hindari saja keadaan itu. Hindari lingkungan di mana keadaan itu terjadi. Tidak perlu menggelisahkan diri lebih lanjut. Tidak perlu berseteru dengan siapa pun.

  13. Bila kita mengharapkan seorang bijak, seorang suci atau seorang guru bertindak sesuai dengan keinginan kita, sesungguhnya dari awal kita sudah tidak menerima yang bersangkutan sebagai seorang bijak, suci, guru. Kita tidak berguru kepada mereka, justru sedang berusaha menggurui mereka.

 

Bab III.

  1. Kemampuan manusia untuk memberi membedakan dirinya dari hewan. Kemampuan hewan untuk memberi sangat terbatas. Makanan yang menjadi energi dalam diri seekor hewan, digunakan untuk keperluan dirinya saja. Sebaliknya, manusia sesungguhnya hanya membutuhkan energi bagi dirinya. Lebih banyak energi yang dapat digunakannya untuk kepentingan umum yang lebih luas. Inilah kelebihan manusia. Inilah keunggulan manusia. Karena itu, sungguh tidak kodrati bila manusia hidup untuk diri sendiri. Sungguh tidak alami bila ia hanya memikirkan kepentingan diri. Manusia seperti itu melecehkan kemanusiaan dirinya sendiri.

  2. Apa saja yang menyertai kita ketika ajal tiba dan kita harus meninggalkan dunia fana ini? Tak sesuatu apa pun jua, kecuali perbuatan kita. Sebab itu, berbuatlah yang baik. Berbuatlah yang terbaik sebatas kemampuanmu.

  3. Pengalaman-pengalaman dalam hidup ini ibarat musim, datang silih berganti. Tak satu pun kekal, abadi. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan tak ada yang langgeng. Karena itu hiduplah seutuhnya. Terimalah semuanya dengan kedua tangan terbuka karena dengan menutup tangan pun kita tak mampu menolaknya. Pengalaman-pengalaman itu memperkaya hidup, memperkuat jiwa. Terimalah semuanya dengan rasa syukur, dengan penuh yakin pada Kebijakan Ilahi dan apa yang telah ditentukan-Nya bagi perkembangan jiwa kita.

  4. Manusia Indonesia zaman itu sudah mencapai tingkat kesadaran Krishna yang dapat dengan mudah mengampuni penganiayanya.

  5. Kecelakaan demi kecelakaan yang terjadi di negeri kita bukanlah sekadar kebetulan. Kita seolah mengundang kecelakaan-kecelakaan itu dengan ulah kita; dengan ketakpedulian kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi basis, menjadi fondasi bagi budaya bangsa. Kebangsaan, kebanggaan sebagai bagian kecil dari suatu bangsa yang besar itulah nilai utama. Kemudian, baru latar belakang keluarga. Penampilan dan pekerjaan berada pada urutan ketiga dan keempat.

  6. Ada empat peristiwa dalam kehidupan manusia yang awalnya menyenangkan, namun akhirnya menyedihkan. Meminjam namun tak dapat mengembalikan. Memelihara anjing yang kemudian menjadi gila. Berfoya-foya tanpa perhitungan, dan pergaulan bebas tanpa tanggung jawab.

  7. Uang memang menyenangkan. Uang dapat menyamankan hidup, namun ia pun menciptakan ketergantungan pada kesenangan dan kenyamanan ciptaannya.ketergantungan itu membuat kita tak berdaya. Kita menjadi budaknya. Kemudian, suatu ketika kita tidak memperoleh kesenangan dan kenyamanan yang sama, dan kita pun kehilangan semangat.

  8. Menimbun harta ibarat membendung arus yang besar dan deras. Apa yang ingin kau selamatkan tetap hanyut tanpa bekas. Kieberuntungan kita terjadi karena adanya masyarakat sekitar kita. Sudah lazimnya kita berbagi keberuntungan.

  9. Bila cincin permata kita jatuh ke dalam tong sampah, apakah kita tak akan memungutnya? Berasal dari mana pun kebaikan adalah kebaikan.

  10. Kata-kata dapat menyejukkan hati. Kata-kata dapat membakar hati. Aksara berarti tidak kshara atau tidak punah. Setiap kata yang terucap akan kemabli kepada kita. Hati-hati.

  11. Bagi seorang berjiwa jahat, perselisihan dan pertengkaran itulah yang membahagiakan. Suatu waktu, terpaksa alam bekerja dan menghanyutkan mereka. Orang-orang yang tidak sesuai dengan tatanan dunia dan harus diangkat demi keselamatan dunia.

Bab IV

  1. Seorang berpengetahuan sejati tidak hanya menerangi diri, ia pun menerangi lingkungannya.

  2. Revolusi tidak selalu bersifat fisik. Revolusi tidak harus berdarah. Revolusi dalam hal berpikir yang dibutuhkan negara kita saat ini. Pencetus revolusi itu haruslah para pemberani yang bekerja tanpa pamrih, mereka yang tidak takut gugur dalam perjuangan.

  3. Bila kepahlawanan belum terbukti, lebih baik diam dulu. Bila kesucian serta kebijakan belum terbukti, lebih baik mengolah diri dulu.

  4. Rendah hati tidak berarti kurang percaya diri.merendahkan diri tidak berarti kurang berani. Seorang penakut tidak mampu merendahkan diri. Seorang pengecut tidak mengerti arti rendah hati.

  5. Mari kita memperhatikan noda-noda di wajah sendiri. Untuk itu, tentunya kita masih membutuhkan sebuah cermin, dan tiada cermin sejernih nurani kita sendiri. Nurani yang masih menyala dan hidup; nurani yang bersih dan tidak berkabut.

  6. Alam bergejolak ketika keselarasannya terganggu. Dan, keselarasan itu terganggu ketika kita tidak hidup harmonis dengan alam. Hidup harmonis dengan alam berarti hidup sesuai dengan hukumnya. Alam memberi tanpa pamrih. Itulah hukum pertama sekaligus utama. Hukum kedua adalah bekerja sesuai dengan kemampuan dan potensi diri, berkarya sesuai dengan peran yang diberikannya kepada kita.

  7. Hukum sebab akibat tak terelakkan. Mereka akan jatuh dan terlupakan oleh sejarah. Kalau sejarah tak melupakannya, sejarah itu akan mencatat aibnya.

 

Triwidodo

Juli 2008.

Melihat Tari Topeng Monyet dan Introspeksi Diri

 

Mengamati Tari Topeng Monyet

Seekor monyet memakai celana blue jean overall, berkacamata hitam, dengan topi di kepala, dan tas sekolah dipunggungnya, mengayuh sepeda kecil dengan dada dibusungkan. Dengan penampilan luar sesuai tradisi manusia, mungkin dia sudah merasa sebagai manusia. Bunyi gendang, tepuk tangan dan sorak sorai penonton, membuat dia semakin yakin bahwa dirinya adalah manusia yang sedang menari. Tetapi……….. ketika ada kacang disebarkan didepannya, dia lupa persepsinya sebagai manusia, diambilnya kacang tersebar dan dimakannya sambil berjalan. Memperhatikan tingkah Topeng Monyet, kita perlu introspeksi apakah kita pun hanya berbaju manusia dan merasa sebagai manusia, tetapi begitu datang kesukaan dan kenikmatan di depan kita, lantas kita pun tidak berbeda dengan Topeng Monyet. Apakah setelan jas dan dasi, peci, batik, baju koko, jilbab serta seragam Korpri hanya penampilan luarnya saja, dan ketika ketika ada fulus kita berebut tanpa etika?

 

Kebutuhan Dasar Manusia

Dilihat dari sudut pandang biologis, kebutuhan dasar manusia dan hewan amat mirip dan biasa sebagai disebut instink hewani. Pertama, kebutuhan makan untuk mengatasi lapar dimana perbedaannya hanya manusia makan yang sudah masak sedangkan hewan makan yang masih mentah. Kedua, kebutuhan seks, untuk mengatasi gejolak nafsu, dimana perbedaannya hanya manusia membutuhkan surat nikah sedangkan hewan sekadar naluri suka sama suka. Ketiga, kebutuhan tidur, untuk mengatasi mengantuk, dimana manusia memilih tidur di rumah yang bagus sedangkan hewan di lubang dan goa. Keempat, kebutuhan akan rasa nyaman, sehingga untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan, bahkan membunuh.

Bila manusia dalam hidupnya hanya bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya atau instinknya, ia masih seperti hewan. Bila di dalam diri sudah rasa timbul kasih baru pantas disebut manusia. Kasih dapat berarti memaafkan kesalahan orang; kasih dapat berarti memberi tanpa menerima; dan rasa kasih tidak dapat di logika karena sudah masuk ranah hati.

 

Synap saraf stabil dalam otak yang berhubungan dengan pikiran bawah sadar

Terbentuknya synap baru, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Meditasi mengantar manusia pada penemuan jati diri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya.

 

Katarsis dan Afirmasi dapat memperbaiki pikiran bawah sadar

Perubahan diawali dengan pemahaman keadaan yang sebenarnya dan kemudian pemahaman tersebut diimplementasikan dalam tindakan sehari-hari. Tindakan berdasar pemahaman tersebut perlu dilakukan secara berulang-ulang agar menjadi kebiasaan dan untuk selanjutnya dapat merubah perilaku dan karakter. Proses pemahaman lebih efektif apabila manusia dalam keadaan tenang. Kegelisahan menyebabkan ketidak tenangan dan suasana yang tidak kondusif bagi proses pemahaman.

Agar kegelisahan dan juga trauma belenggu bawah sadar terbuang, dapat dilakukan katarsis. Setelah tindakan katarsis dan dalam keadaan tenang dapat dilakukan afirmasi yang akan merasuk ke dalam pikiran bawah sadar. Salah satu afirmasi ajaran Guru adalah mengulangi terus menerus, “Aku bukanlah Badan. Aku adalah Jiwa Abadi”. Dalam bahasa lain, afirmasi yang diulang-ulang itu disebut japa atau zikr. Tujuannya sama: membebaskan manusia dari kesadaran jasmani, dari instink hewani. Setelah tercapai pemahaman baru, maka pemahaman ini harus diupayakan untuk dilaksanakan sehari-hari sehingga menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Pola pemikiran lama dibuang dan diganti dengan pola pemahaman yang baru, conditioning mind diganti dengan created mind. Semoga.

 

Triwidodo.

Juli 2008.

Kuasa Tuhan pada Siklus Kehidupan Makhluk-Hidup

Memahami Kuasa Allah swt
Al An-’am 95 (Q 6:99). Innallaaha faaliqul habbi wan nawaa yukhrijul hayya minal mayyiti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi dzaalikumullaahu fa anna tu’fukuun. Sesungguhnya Allah yang membelah buah dan biji. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?
Al An-’am 99 (Q 6:99). Wa huwal ladzii anzala minas samaa-i maa-an fa akhrajnaa bihii nabaata kulli syai-in fa akhrajnaa minhu khadhiran nukhriju minhu habbam mutaarakibaw wa minan nakhli min thal’ihaa qinwaanun daaniyatuw wa janaatim min a’naabiw waz zaituuna war rummanaa musytabihaw wa ghaira mutasyaabuhin unzhuruu illa tsamarihii idzaa atsmara wa yan’ihii inna dzalikum la aayaatil li qaumiy yu’minuun. Dan Dialah yang menurunkan air dari langit lalu Kami keluarkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan. Maka Kami keluarkan sebahagiannya tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu biji yang banyak. Dan dari mayang korma mengurai, tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, zaitun dan delima serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya ketika berbuah dan masaknya. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang beriman.

Campur tangan alam semesta
Semua kehidupan di dunia bergerak dalam suatu siklus. Dari sebuah biji mangga keluar sebentuk lembaga, yang berkembang menjadi sebuah pohon mangga, dan pada waktunya akan mengeluarkan bunga, menjadi buah yang mengandung biji calon pohon yang baru. Membelahnya biji menjadi lembaga dan siklus kehidupan seterusnya mendapatkan campur tangan alam semesta, bukan kuasa pohon itu sendiri. Dan alam semesta ini mendapatkan kemampuan dari Dia Yang Maha Kuasa.
Air hujan pun turun ke bumi, membasahi bumi dan isinya, kemudian menuju ke laut untuk menguap menjadi uap air, yang setelah berkumpul akan turun menjadi hujan kembali. Kemampuan unsur alami air ini diperoleh dari Dia Yang Maha Kuasa.
Demikian pula yang terjadi pada siklus kehidupan seekor ulat bulu. Yang perlu disimak adalah pelajaran yang dapat ditarik dari transformasi ulat bulu, melalui kepompong dan lahir kembali sebagai kupu-kupu yang bisa terbang. Seekor ulat bulu berhasrat meneruskan evolusinya, pasrah sepenuhnya kepada alam semesta, berhenti makan dan berhenti bergerak. Alam lah yang kemudian bekerja melalui 2 hormon, hormon remaja dan ecdysonne yang mengatur prosesnya. Bagi mata telanjang, tampaknya organ-organ dan jaringan syaraf ulat bulu berubah menjadi sup yang tidak berbentuk. Akan tetapi kedua hormon itulah yang memandu perubahan, ada sel yang mati, ada sel yang mencerna diri, ada juga yang menjadi embrio mata, antena dan sayap. Terjadilah transformasi yang luar biasa, ulat yang merambat pelan menjadi kupu-kupu cantik yang dapat terbang.
Seorang pengantin perempuan berhasrat mempunyai seorang anak dan meminta sang suami membuahinya. Begitu sel telurnya dibuahi, maka hasrat sang ibu diintervensi oleh kekuatan alam. Proses berkembangnya telur yang telah dibuahi menjadi bayi yang mungil, proses pembuatan air ketuban, letak janin dalam perut bukan lagi urusan sang ibu. Sang Ibu tidak bisa membuat sel induk berkembang menjadi embrio mata, telinga dengan seluruh peralatan canggihnya. Kuasa alam semestalah yang bekerja. Dan alam semesta mendapatkan kemampuan dari Dia Yang Maha Kuasa.

Tanda bagi orang beriman
Seiring dengan kemajuan pengetahuan, semakin terkuak kebenaran Kuasa Allah dalam setiap kejadian. Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang beriman. Seseorang perlu berdaya upaya maksimal dalam menempuh jalan kehidupan yang lurus dengan segala kemampuan yang telah dikaruniakan kepadanya dan selanjutnya memasrahkan semuanya kepada Dia Yang Maha Kuasa. Damai, rahmat dan berkah kepada semua makhluk.
Triwidodo.
Juli 2008.

Hukum Perubahan pada Tubuh, Pikiran dan Jiwa, (Body, Mind and Soul)

Perubahan pada tubuh

            Tubuh manusia bukan seperti patung yang relatif stabil dan relatif terpisah dengan alam semesta. Tubuh manusia adalah medan energi yang dinamis, yang terus menerus bertukar energi dengan medan energi yang luas dari alam semesta. Tubuh manusia selalu diperbaharui dan berganti setiap saat. Dalam satu tahun lebih kurang 98 % tubuh kita telah menjadi baru. Tulang manusia pun berubah setiap 3 bulan. Milyaran atom yang membentuk tubuh keluar masuk dengan bebas melalui dinding sel secara terus menerus. Atom-atom baru mengalir terus ke seluruh tubuh, sedangkan atom-atom lama keluar dari tubuh ada. Atom yang keluar lewat pernapasan dihirup manusia dan makhluk lainnya, sehingga sesungguhnya manusia telah bertukar atom dengan manusia dan makhluk lainnya. Otak kita pun, dimana sel-sel nya tidak mengalami regenerasi pada saat mati, terdapat karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen yang hampir semuanya terbaharui baru dalam waktu satu tahun.

 

Pertukaran informasi dalam otak

            Jikalau pada tubuh kita terjadi pertukaran atom, kemudian didalam pernapasan kita terjadi pertukaran gas, maka dalam pikiran kita yang berpusat di otak juga terjadi pertukaran informasi. Otak adalah organ yang menerima, mencatat dan memproses informasi. Sebagaimana kualitas udara mempengaruhi kesehatan tubuh, maka kualitas informasi juga mempengaruhi kesehatan diri. Informasi ini masuk dan keluar lewat interaksi pikiran kita dengan pikiran orang lain, misalnya lewat kontak langsung atau lewat buku. Buku pada dasarnya adalah kumpulan informasi. Masalah yang paling krusial adalah bagaimana memilih informasi yang sehat bagi diri.

            Manusia adalah kumpulan informasi yang dimulai sejak kecil, yang dianggap sebagai identitas dirinya. Manusia memilih informasi berdasarkan identitas dirinya. Padahal informasi itu selalu berkembang dan identitas diri kita pun selalu berkembang. Pada suatu saat akan datang suatu kesadaran bahwa diri itu bukan kumpulan informasi pikiran. Akulah pemilik kumpulan informasi itu. Beberapa orang mengatakan yang menyadari kepemilikan akan tubuh dan pikiran itulah jiwa. Jiwa itulah pengendali pikiran, pengendali informasi. Semakin meningkat kesadaran akan tiba saatnya suatu kesadaran baru bahwa diri itulah saksi dari tindakan berpikir, berbicara dan berbuat. Mungkin dari sudut pandang pikiran inilah jati diri manusia. Jati diri sesungguhnya menurut beberapa orang sudah berada diluar pikiran, sudah melampaui pikiran.

 

Penciptaan, Pemeliharaan dan Pendaur-ulangan

            Seluruh sel dalam tubuh kita pada dasarnya tercipta atau lahir, kemudian hidup dan terpelihara sampai akhirnya mati dan didaur ulang oleh alam semesta. Kejadian ini merupakan suatu siklus kehidupan. Apabila pada waktu masih hidup terjadi perubahan, misalnya suatu tanaman atau hewan agar bertahan hidup harus menyesuaikan dengan keadaan, maka sel-selnya yang baru sudah menyesuaikan dengan perubahan tersebut.

            Manusia mempunyai kemampuan yang luar biasa. Apabila dalam kehidupannya dapat merubah pola pemikirannya karena menyadari jati dirinya, maka akan terjadi perubahan sel-sel syaraf dalam tubuhnya menyesuaikan pola pemikiran yang baru tersebut. Pola pemikirannya akan berubah total dan dia seakan mengalami kelahiran baru, kelahiran Kristus di dalam diri. Pemacu dan pemandu kearah pengenalan jati diri dan perubahan pola hidup tersebut adalah seorang Guru, seorang Master. Terima kasih Guru.

Triwidodo

Juli 2008.

Menikmati Karunia atau Menikmati Kasih dari Pemberi Karunia

Antara Pikiran dan Hati

            Ketika seseorang menikmati secara fisik segala sesuatu, maka yang menikmati adalah indera-inderanya. Kesenangannya disebabkan oleh pikiran yang senang mengulangi kenikmatan indera. Dilain pihak, rasa kasih dan dikasihi muncul dari hati. Memberi sesuatu kepada orang lain atau memaafkan orang lain adalah tindakan hati yang tidak dapat dinalar dengan pikiran.

 

Otak kita yang luar biasa

            Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.

 

Tidak ada yang diluar

            Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk ketika gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita. Ketika kita tidur nyenyak, deep sleep maka segalanya tidak ada, kosong, hampa.

            Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk.

 

Menikmati kesenangan dan melalaikan Sang Pemberi Kesenangan

            Dalam Surat Al An’aam 44 (Q 6 : 44) disebutkan, Fa lammaa nasuu maa dzukkiru bihii fatahnaa ‘alaihim abwaaaba kulli syai-in hatta idzaa farihuu bi maa uutuu akhadznaahum baghtatan fa idzaahum mublisuun.………….. Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan), sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong…………..

 

Senang karena Karunia atau Kasih dari Allah swt

            Tersebut dalam Surat Yunus 58 (Q 10 : 58), Qul bi fadhillaahi wa bi rahmatihii fa bi dzaalika fal yafrahuu huwa khairum mim maa yajma’uun. Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan dengan rahmat-Nya maka dengan itu hendaklah kamu bergembira; karunia ini lebih baik dari apa yang mereka lakukan.

 

La Illaha Illallah

            Hanya Allah. Setiap Karunia dari Allah, pada hakikatnya semuanya dari Allah. Pikiran pun juga dari Allah. Mengagungkan pikiran berarti melupakan Sang Pemberi Pikiran, Sang Pemberi Hidup. Tanpa kehidupan, pikiran tidak bermakna. Pikiran perlu dimaksimalkan, tetapi biarlah hati yang menuntun dan memimpinnya.  Untuk kembali kepada Allah diperlukan hati. Dia yang Maha Besar berkenan bersemayam dalam hati hamba-Nya yang beriman.

 

Triwidodo.

Juli 2008.

Syukur Dan Ketenangan Jiwa

 

Syukur menarik banyak karunia lainnya

Tersebut dalam Surat Ibrahim 7 (Q 14:7), Wa idz ta-adzdzana rabbukum la in syakartum la aziidannakum wa la in kafartum inna adzaaabii la syadiid. Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memberitahukan, “ Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azab-Ku sangat keras”.

Ada hukum ketertarikan, law of attractions yang berlaku di alam semesta ini dan bekerja seperti magnet yang menarik logam-logam sejenis. Pribadi seseorang akan menarik orang-orang yang serupa. Jika seseorang mempunyai pemikiran-pemikiran yang buruk , maka segera saja dia mendapati bahwa orang-orang di sekitarnya juga memberi pemikiran buruk serupa. Dalam berpikir pun, apabila kita ingin mencari kejelekan seseorang, maka dalam jangka waktu yang tidak lama akan dihasilkan sederet daftar kejelekan orang tersebut. Di lain pihak, apabila kita diminta mencari daftar kebaikan dari orang yang tidak kita senangi, akan keluar juga sederet kebaikannya. Pikiran hanya alat, manusia seharusnya yang mengendalikan, jangan sampai dia yang dikendalikan olehnya. Demikian pula halnya dengan rasa syukur, sehingga bagi seseorang yang mempunyai hati yang penuh rasa syukur, dia seperti magnet yang membuka diri untuk menerima lebih banyak karunia lagi.

 

Merasa dikasihi dan pengaruhnya terhadap kesehatan lahir dan batin

Dalam laboratorium percobaan, beberapa ekor kelinci diberikan makanan yang berkolesterol tinggi dan dichek secara berkala contoh darahnya. Dari percobaan tersebut didapati seekor kelinci yang tidak menunjukkan kadar kolesterol darah yang tinggi, walau makanannya sama dengan kelinci lainnya. Setelah diteliti, ternyata kelinci tersebut pada waktu makan selalu dielus-elus oleh petugas observasi. Kelinci tersebut merasa dikasihi, dan perasaan tersebut ternyata memberikan efek positif terhadap kesehatan.

Pada waktu seseorang bersyukur, ada beberapa kondisi yang terjadi: pertama dia menerima keadaan yang telah menimpanya; kedua di merasa menerima karunia dan merasa dikasihi Allah swt.; ketiga dia merasa bahagia; keempat napasnya akan tenang. Analog kepada kelinci yang lebih sehat karena merasa dikasihi, adalah wajar apabila seseorang yang selalu bersyukur dan merasa dikasihi Allah swt. menjadi sehat lahir dan batin.

 

Orang yang mengingkari nikmat yang telah diberikan Allah swt.

Bagi seseorang yang mengingkari nikmat, di dalam dirinya selalu merasa kurang puas. Perasaan kurang puas ini membuat hukum law of attraction berjalan dengan semakin banyak datangnya peristiwa yang tidak membuat dia puas. Kebutuhan alami seperti makan dan minum akan terpuaskan setelah kebutuhannya terpenuhi. Akan tetapi, ketamakan, keserakahan tidak pernah terpenuhi karena ambang batasnya selalu meningkat setelah tercapai, sehingga dia tidak pernah merasa terpuaskan. Napasnya sering menjadi pendek, kacau dan sering tersengal-sengal seperti orang yang sedang naik gunung yang akan berpengaruh jelek terhadap kesehatannya.

Dalam Surat At Takaatsur 1-2 (Q 102: 1,2) disebutkan, “Kamu telah dilalaikan oleh perlombaan (memperbanyak harta benda dan anak), sehingga kamu masuk kubur”. Perasaan tidak puasnya selalu terjadi hingga dia masuk kubur.

 

Membiasakan perasaan bersyukur

Rasa syukur dapat diungkapkan dengan hati seperti tersebut dalam Surat An Nahl 53 (Q 16 : 53), “Dan apa saja yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. Selanjutnya, rasa syukur dapat diungkapkan dengan lisan seperti tersebut dalam Surat Adh Dhuhaa 11 (Q 93 : 11), “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. Dapat pula rasa syukur diungkapkan melalui amal sholeh, seperti Surat Saba’ 13 (Q 34 : 13), “Bekerjalah keluarga Daud untuk bersyukur”.

Menurut psychologi, setelah seseorang memahami, dia harus mengimplementasikannya dalam perbuatan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebisaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi karakter. Karakter tersebut menjadi bagian dari pikiran bawah sadar dan membuat synap-synap saraf otak menjadi stabil dan permanen. Kemudian, setiap peristiwa akan diselesaikan menurut program dari karakter tersebut. Seseorang yang bisa membuat rasa syukur menjadi karakternya, maka dalam menghadapi peristiwa apa saja dia akan bersyukur. Dia akan mendapatkan kebahagiaan terus menerus sampai akhir hayatnya. Jiwanya akan tenang dan dia tidak akan bersedih hati.

 

Triwidodo.

Juli 2008.

‘Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus’ dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

 

‘Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus’

Ihdinash shiraathal musta’iin. Ayat ‘Tunjukilah Jalan yang Lurus’, dalam Surat Al Faatihah ayat 6, mempunyai kaitan erat dengan beberapa keadaan. Pertama, adanya keyakinan terhadap Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang selalu memberi petunjuk atau hidayah. Kedua, manusia sedang melakukan perjalanan hidup dan setiap saat dihadapkan pada arah jalan yang bercabang dan harus membuat pilihan antara yang lurus dan jalan yang tidak lurus. Ketiga, secara tersirat manusia harus memahami tujuan perjalanan hidup itu sebenarnya kemana?

 

Kesadaran akan Kebenaran

Surat Al Faatihah membuka kesadaran bahwa adalah benar ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kepada-Nya manusia menyembah dan mohon pertolongan. Kemudian manusia sadar ada jalan lurus dan jalan tidak lurus. Jalan lurus adalah jalan manusia yang mendapat karunia, sedang jalan yang tidak lurus dapat menjadikan manusia tersesat atau dimurkai-Nya. Kesadaran ini harus selalu dijaga setiap saat, agar manusia tetap berada di jalan yang lurus. Apabila manusia menyadari sedang berbelok dari tujuan, segera dia harus bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus dan yakin Allah Maha Mengampuni hambanya.

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan abadi, tujuannya adalah kebahagiaan abadi. Sedangkan makhluk itu tidak pernah abadi, yang abadi hanya Dia Yang Maha Abadi. Adalah sulit dinalar kalau manusia mencari hal-hal yang tidak abadi untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Kemelekatan manusia terhadap hal duniawi yang tidak abadi menyebabkan manusia lalai dan mengambil jalan yang berbelok.

 

Pilihan Jalan Amal, Dharma yang Lurus

Setelah manusia sadar tentang kebenaran, apabila dihadapkan pada suatu pilihan dia harus mempertimbangkan kebenaran sebagai landasan pemilihan. Manusia selalu dihadapkan antara pilihan yang menyenangkan inderawi sesaat atau pilihan yang akan menguntungkan akhirnya walau tampaknya kurang enak. Mahasiswa bisa memilih, happy-hour menghabiskan waktu bersenang-senang tanpa belajar. Bisa juga memilih belajar di perpustakaan dikelilingi gunungan buku text-book yang menjemukan. Kalau si mahasiswa sadar, paham akan kebenaran, dia akan memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus. Apabila si mahasiswa lalai sehingga mengikuti syahwat berhepi-ria, dan datang kesadaran, dia harus segera kembali ke Jalan Amal, Dharma yang lurus.

Seandainya manusia sadar dalam sholatnya, sadar tentang makna Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sadar bahwa setiap sholat selalu mohon petunjuk jalan yang lurus, insya Allah dia tetap terjaga untuk memilih jalan yang lurus. Mereka yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, sebetulnya telah lalai dalam shalatnya.

 

Menjaga Kesadaran

Dalam surat Al Ashri, dinyatakan bahwa setiap waktu manusia selalu berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholeh, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Ini adalah suatu anjuran agar tidak merugi, manusia harus membuat persaudaraan, sangha, support-group yang terdiri dari mereka yang beramal sholeh untuk memelihara kesadaran. Anjuran sholat berjamaah, bukan berarti setelah sholat bersama, bahkan ada yang terlambat satu rakaat terus bubar. Kalau terjadi hal demikian, maka makna berjamaahnya kurang maksimal. Saling nasehat menasehati dalam kebenaran, merupakan hal penting dalam ikatan persaudaraan. Problemnya adalah bahwa masing-masing insan merasa telah benar, apalagi yang telah fasih berbahasa Arab. Padahal syarat dalam support-group tersebut adalah hanya diperuntukkan bagi mereka yang beramal sholeh, mereka yang selalu memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus.

Catatan Kecil

Istilah bahasa Sansekerta, sengaja dimunculkan agar para pembaca dengan berlatar belakang bermacam-macam agama dapat saling memahami dan menghormati demi Indonesia tercinta. Semoga kita selalu sadar akan petunjuk-Nya yang tidak henti-hentinya mengetuk hati nurani kita.

Damai, Rahmat dan Berkah untuk semua makhluk-Nya.

 

Triwidodo

Juni 2008.

Rileks, Pasrah dan Keselarasan dengan Alam Semesta

Gelombang otak dan frekuensi napas

            Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG). Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam EEG adalah berapa bunyi tut dalam satu detik. Satu bunyi tut sama dengan satu putaran per detik atau 1 hertz.

            Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak  berkisar 14 hertz.  Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta.

            Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik, sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi atau pada waktu akan tidur.

            Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi.

            Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi deep sleep, tidur tanpa mimpi, dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz.  Ketika itu terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Ketika sedang sakit, seseorang akan tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pada waktu keadaan koma, gelombang otak berada pada 0.5 hertz. Sebaliknya ketika pikiran begitu kacau, napas begitu tak teratur gelombang otak berada pada kondisi gama, diatas 30 hertz.

Pikiran Bawah Sadar

            Seperti halnya gunung es, yang nampak di atas permukaan laut lebih kecil dibanding yang berada dibawah permukaannya, demikian pula pikiran pada waktu kita terjaga, conscious mind  lebih kecil daripada pikiran bawah sadar, subconscious mind. Perbandingan antara  conscious mind dan subconscious mind kira-kira 12% berbanding 88%.

            Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi bagian dari bawah sadar dan sulit dihilangkan.

            Pada waktu napas lebih tenang dan memasuki kondisi theta, pikiran menjadi kreatif dan inspiratif. Afirmasi dalam kondisi ini masuk bawah sadar, dapat mengubah citra diri, mengubah kebiasaan, menanamkan pikiran tertentu dan menetapkan tujuan.

Kondisi Gelombang Pikiran yang Selaras dengan Alam

            Gelombang elektromaknetik mampu merambat pada permukaan bumi. Secara matematis dapat dihitung bahwa, keliling bola bumi sekitar 40.000 km, sedangkan kecepatan cahaya adalah sekitar 300.000 km/detik. Frekuensi gelombang elektromaknetik bumi adalah kecepatan cahaya (300 km/detik) dibagi panjang perambatan gelombang elektromagnetik (40.000 km) =  7.5 hertz. Berarti dalam 1 detik cahaya (gelombang elektromagnetik) akan mengelilingi bumi 7.5 kali. Tentu saja perhitungan ini tidak akurat sekali, gelombang pikiran bumi diperkirakan antara 7-8 hertz. Pada waktu seseorang tenang, rileks maka gelombang otaknya dapat selaras dengan gelombang pikiran bumi. Keadaan ini adalah yang paling penuh misteri, disinilah biasanya akan terjadi keadaan metafisika dari orang yang bersangkutan.

Kedekatan dengan Guru

            Seorang Guru, seorang Master, seorang bijak, napasnya tenang dan dengan mudah memasuki kondisi alpha dan theta. Ada teknik MIRM (Masukan Informasi melalui Rileksasi Meditasi), conscious mind dibuat tenang, hening dan badan rileks, disertai background musik yang tenang lembut. Pada waktu demikian concious mind  menjadi sangat waspada. Dalam waktu demikian, Guru mengucap verbal, memberi masukan informasi yang konstruktif, realistik, universal. Masukan informasi ini akan disimpan seluruhnya pada pikiran bawah sadar.

            Ketika seseorang tegang, penuh upaya, aliran energi melamban, bahkan tidak mengalir. Menjadi rileks adalah terbuka sedang menjadi tegang adalah tertutup. Berada dekat Guru, apabila gelombang otak selaras dengan gelombang otak Guru, akan terjadi perubahan luar biasa, quantum leap . Bersikap terbuka dan rileks secara intelektual dan emosional, kemudian berada di sekitar Guru, saat mendengar, berbicara, mengikuti berbagai hal yang dia ucapkan, memperbesar potensi terjadinya quantum leap. 

Sinkronisasi dan Berdoa Bersama

            Unsur yang paling penting dalam berdoa adalah ketenangan. Pada waktu tenang, kita menjadi reseptif dan energi alam mulai mengalir dan mengisi kita. Energi alam menekan energi lama yang kotor ke bawah dan mendesaknya ke tanah lewat telapak kaki yang tanpa alas. Sehingga setiap saat kita berdoa, terasa lebih segar dan bersemangat. Pada waktu sinkronisasi, apabila lebih dari satu orang mengalami relaksasi total pada saat yang sama, energi alam yang mengguyuri tempat itu semakin terasa. Demikian apabila di antara mereka ada yang sakit atau sedang kacau pikirannya, dia akan ikut terguyuri juga, dan ikut merasakan manfaatnya.

            Tempat-tempat ibadah seharusnya dijaga kebersihannya, karena dapat digunakan sebagai pusat-pusat  energi. Tempat-tempat demikian dapat dijadikan sentra-sentra sinkronisasi antara energi manusia dan energi alam. Apabila hal ini diperhatikan, kesadaran akan meningkat, dan lebih peduli terhadap lingkungan.