Sewaktu masih sekolah dasar, dua orang teman sekelas kami pernah berkelahi, duel satu melawan satu di lapangan sekitar 200 m dari halaman sekolah. Seluruh murid laki-laki melihat tontonan seru yang dilakukan pada saat istirahat. Akhirnya salah satu kalah dan bilang “embek” seperti kambing dan tontonan selesai. Saat masuk kelas pak guru sudah siap di depan pintu dan setiap murid laki-laki dipukul pantatnya dengan penggaris besar. Pada waktu itu kami sekelas merasa bersalah dan takut kepada Pak Guru. Mungkin kejadian itu akan berbeda kalaun terjadi pada saat ini. Mungkin ada yang lapor polisi bahwa dia tidak bersalah tetapi dihukum pak guru. Buku *1 the Hanuman Factor membahas mengapa Hanuman memberi pelajaran kepada penduduk Alengka yang merasa tidak bersalah.
Mengapa Hanuman menghukum masyarakat yang merasa tidak bersalah?
Banyak yang mempertanyakan, mengapa sebagai duta ilahi, Hanuman membakar atap penduduk Alengka yang tidak ada kaitannya dengan perbuatan Raja Rahwana? Perlu dijelaskan bahwa Raja Alengka menculik istri Sri Rama, dan sekilas tidak ada hubungannya dengan masyarakat sipil Alengka.
Akan tetapi, walau bagaimana pun masyarakat lah yang memilih pemimpin mereka. Masyarakat lah yang memilih peraturan perundang-undangan. Masyarakat juga yang telah memilih perwakilan mereka untuk duduk di parlemen. Sehingga dalam memilih pemimpin diktator pun masyarakat ikut terlibat. Konon pada saat itu Kerajaan Alengka mengalami masa keemasan. Masyarakat Alengka sangat sejahtera. Pemerintah tidak menarik pajak dari rakyatnya, pendapatan pemerintah dari perdagangan rempah-rempah sudah memadai untuk menjalankan pemerintahan. *1 the Hanuman Factor Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: ramayana, universalitas | Ditandai: anand krishna, hanuman, the hanuman factor | Leave a Comment »