Dan… Yang Merasa Tidak Bersalah pun Terkena Bencana, Belajar dari the Hanuman Factor

Sewaktu masih sekolah dasar, dua orang teman sekelas kami pernah berkelahi, duel satu melawan satu di lapangan sekitar 200 m dari halaman sekolah. Seluruh murid laki-laki melihat tontonan seru yang dilakukan pada saat istirahat. Akhirnya salah satu kalah dan bilang “embek” seperti kambing dan tontonan selesai. Saat masuk kelas pak guru sudah siap di depan pintu dan setiap murid laki-laki dipukul pantatnya dengan penggaris besar. Pada waktu itu kami sekelas merasa bersalah dan takut kepada Pak Guru. Mungkin kejadian itu akan berbeda kalaun terjadi pada saat ini. Mungkin ada yang lapor polisi bahwa dia tidak bersalah tetapi dihukum pak guru. Buku *1 the Hanuman Factor membahas mengapa Hanuman memberi pelajaran kepada penduduk Alengka yang merasa tidak bersalah.

Mengapa Hanuman menghukum masyarakat yang merasa tidak bersalah?

Banyak yang mempertanyakan, mengapa sebagai duta ilahi, Hanuman membakar atap penduduk Alengka yang tidak ada kaitannya dengan perbuatan Raja Rahwana? Perlu dijelaskan bahwa Raja Alengka menculik istri Sri Rama, dan sekilas tidak ada hubungannya dengan masyarakat sipil Alengka.

Akan tetapi, walau bagaimana pun masyarakat lah yang memilih pemimpin mereka. Masyarakat lah yang memilih peraturan perundang-undangan. Masyarakat juga yang telah memilih perwakilan mereka untuk duduk di parlemen. Sehingga dalam memilih pemimpin diktator pun masyarakat ikut terlibat. Konon pada saat itu Kerajaan Alengka mengalami masa keemasan. Masyarakat Alengka sangat sejahtera. Pemerintah tidak menarik pajak dari rakyatnya, pendapatan pemerintah dari perdagangan rempah-rempah sudah memadai untuk menjalankan pemerintahan. *1 the Hanuman Factor Baca selebihnya »

Pendengar Yang Bersemangat, Belajar Dari Hanuman

Mendiang kakek kami pernah memberi nasehat agar kami membedakan antara “krungu” atau mendengar dan “ngrungokake” atau mendengarkan. Mendengarkan bersifat aktif, lebih terfokus dan hasilnya menjadi lebih baik. Dalam perjalanan kehidupan, kami mendapatkan pemahaman bahwa walaupun sama-sama mendengarkan dengan fokus, hasilnya juga tergantung macam semangatnya. Ada yang bersemangat mendengarkan untuk mencari pembenaran bagi hasrat keinginannya dan ada pula yang bersemangat untuk menerima secara utuh, dan hasilnya berbeda. Dalam buku *1 the Hanuman Factor, Hanuman menjadi pendengar yang bersemangat berdasar “trust” terhadap Sang Pembicara, Sri Rama. Sebuah cara mendengar yang lebih dalam lagi. Luar biasa!

Fokus

Seekor kelelawar ditempatkan di sebuah ruangan yang gelap gulita dan pada satu sudut ruangan ditempatkan seekor lalat. Begitu lalat terbang, kelelawar bergerak langsung menangkap lalat tersebut.

Kemudian dalam kamar tersebut diletakkan beberapa ulat bulu dan ditutup selembar koran. Ternyata saat kelelawar dimasukkan ruangan dia juga langsung terbang menuju koran dan mengangkatnya untuk menangkap ulat bulu tersebut.

Selanjutnya kelelawar tersebut dimasukkan dalam lorong gelap dengan banyak sekat dan tiap sekat hanya diberi satu lubang sebesar tubuh kelelawar dengan posisi berbeda. Pada ujung yang lain ditempatkan sekelompok kupu-kupu. Sangat menakjubkan, begitu cepatnya kelelawar menangkap kupu-kupu mangsanya. Demikianlah kekuatan fokus kelelawar dalam mendengarkan sesuatu yang menjadi perhatiannya. Baca selebihnya »

Dari Topeng Monyet ke Wanara Hanuman, Perjuangan Melampaui Insting Hewani Menuju Ilahi

Seorang sahabat berkata bahwa 90% orang tidak menyenangi pekerjaannya, sehingga hasil yang dicapainya tidak maksimal dan juga tidak membahagiakannya. Seseorang yang mencintai pekerjaannya tidak pernah merasa capai dalam bekerja, dia selalu kreatif, dinamis dan selalu dalam keadaan berbahagia ketika bekerja. Hanuman bukan hanya mencintai pekerjaannya, melainkan dia mencintai semua tindakannya yang dilakukannya sepanjang waktu. Fokusnya hanya satu menyenangkan Sri Rama (yang bermakna Dia Yang Berada Di Mana-Mana), dan tindakan itu selalu menyenangkannya sehingga Hanuman bertindak dinamis, kreatif, bijak, kuat , cepat dan penuh semangat. Tulisan ini dilhami buku *1 the Hanuman Factor

Antara Manusia dan Kera

Studi genetika terhadap DNA memperkuat kesimpulan mengenai kemiripan molekuler antara manusia dan simpanse. Diantara 16.000 posisi nukleotida dalam molekul, hanya sekitar 1.400 (8,8%) yang berbeda, antara manusia dan simpanse.

Ilmu pengetahuan manusia telah bekembang pesat secara luar biasa. Menurut kantor berita AFP tahun 2009, para ilmuwan di Jepang berhasil mengembangbiakkan transgenik primata pertama di dunia yang bisa mengembangbiakkan kera yang nampak berpijar kehijauan kulitnya. Bisa dikatakan bahwa manusia sudah bisa menciptakan seekor kera.

Disamping kecanggihan manusia, ternyata sifat kehewanian kera juga masih bertahan dalam diri manusia. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa “kera-kera yang lebih sempurna” sudah dapat menciptakan kera. Dan karena masih mempunyai sifat “kekeraan” dalam dirinya, maka tindakan “kera yang lebih sempurna” itu pun bisa membahayakan diri mereka sendiri.

Dengan mengadakan introspeksi ke dalam diri, dapat disadari bahwa “kekeraan” atau insting hewani manusia belum banyak berubah, kecuali kualitas hewaninya saja yang meningkat.

Dilihat dari sudut pandang biologis, kebutuhan dasar manusia dan hewan amat mirip dan kebutuhan dasar tersebut biasa sebagai disebut sebagai insting hewani. Pertama, kebutuhan makan untuk mengatasi lapar dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia makanannya sudah dimasak sedangkan hewan makanannya masih mentah. Kedua, kebutuhan seks untuk mengatasi gejolak nafsu, dimana perbedaannya hanyalah bahwa manusia membutuhkan surat nikah dan pengakuan masyarakat sedangkan hewan sekadar naluri suka sama suka. Ketiga, kebutuhan tidur untuk mengatasi mengantuk, dimana manusia memilih tidur di rumah yang bagus sedangkan hewan di lubang dan goa dan pepohonan. Keempat, kebutuhan akan rasa nyaman untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan bahkan membunuh sedangkan manusia pun kadang masih demikian. Baca selebihnya »

Ketidakterikatan, “Sepi Ing Pamrih” dan Makna Bunga Teratai

Kakek kami pernah bercerita bahwa konon setiap saat, Kanjeng Nabi Ibrahim yang suci selalu memilih tindakan yang mulia (shreya) daripada tindakan yang hanya menyenangkan diri pribadi saja (preya). Tindakan mengasihi putra yang telah lama didambakan kelahirannya  juga merupakan tindakan yang mulia. Akan tetapi tindakan tersebut menyebabkan adanya keterikatan Kanjeng Nabi terhadap sang putra, terhadap dunia. Dengan petunjuk Yang Maha Kuasa lewat mimpi untuk menyembelih (“keterikatan” pada) sang putra, Kanjeng Nabi dapat melepaskan keterikatan terhadap sang putra dengan memilih Yang Haqq daripada kehidupan putra tersayangnya. Selanjutnya, kakek berpesan, nasehat leluhur tidak sekedar dipahami pikiran agar mahir dalam diskusi. Pemahaman harus dihayati, dirasakan dengan penuh perasaan dan kemudian dipraktekkan sehari-hari.

Bunga teratai

Bunga teratai tumbuh pada kolam di daerah subur seperti di Mesir Kuno, di Asia termasuk juga di Indonesia. Itulah sebabnya simbol ketidakterikatan bunga teratai hanya dikenal pada peradaban yang berkembang pada daerah yang subur dengan air yang berlimpah. Legenda dari Mesir Kuno menyebutkan bahwa Ra, Dewa Matahari lahir dari kelopak bunga teratai yang tumbuh dari air kekacauan. Dalam Buddhis bunga teratai juga bermakna kemurnian pikiran, kemurnian ucapan dan kemurnian tindakan yang tumbuh dari air lumpur keinginan dan keterikatan. Bhagavad Gita juga mengambil contoh daun teratai sebagai simbol ketidakterikatan. Baca selebihnya »

Pengaruh Universal dari Musik dan Nyanyian terhadap Jiwa

Konon musik kecapi Daud dapat menenangkan kemarahan yang menggelegak dari Raja Saul dan hal tersebut disampaikan di dalam Bible.  Kemudian Napoleon menyatakan bahwa lagu revolusi yang dikenal sebagai “Marseillase” lebih berharga dari pada dua resimen pasukan. Juga dalam setiap peperangan selalu diiringi oleh musik, dengan instrumen-instrumen militer dan himne-himne pembangkit semangat. Pada zaman dahulu, sewaktu perang bharatayudha pun terompet-terompet kerang ditiup para ksatria untuk membakar semangat prajuritnya. Musik dan nyanyian memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dan bahkan untuk mengubah dunia. Musik dan nyanyian perlu dirasakan dan dihayati pengaruhnya terhadap diri.

Pengaruh musik terhadap kehidupan

Hidup kita terisi dengan suara-suara dengan segala macam ragamnya, dan respons-respons kita terhadap suara-suara tersebut ikut membentuk diri kita dari waktu ke waktu. Satu saat suara-suara tersebut terasa sangat mengganggu dan pada saat yang lain sangat menyenangkan. Getaran-getaran suara mempengaruhi pola pikir kita, perasaan kita, dan bagaimana kita mengalami dunia ini.

Kita memberi respon terhadap semua suara ini, namun biasanya kita tidak memberi banyak perhatian kepada mereka. Kita tidak menyadari bahwa kita telah disentuh oleh sebuah kebijaksanaan kuno…sebuah daya semesta… sebuah instrumen ilahi. Baca selebihnya »

Bhinneka Tunggal Ika Mengukuhkan Persatuan Ajaran Para Suci

Setelah peristiwa 30 September 1965, kala itu para orang tua dan muda-mudi takut dikatakan tidak beragama, sehingga mereka banyak yang mulai mendatangi tempat-tempat ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Putra-putri kecil mereka juga diperkenalkan dengan keyakinan orang tuanya sejak kecil. Bahkan banyak yang disekolahkan pada tempat-tempat pendidikan yang dikelola berdasarkan keyakinan tertentu. Tiga puluh tahun telah berlalu dan putra-putri dari orang-orang tua tersebut telah dewasa dan telah terbentuk pola dalam pikirannya hanya keyakinan mereka yang benar.

Anak-anak kecil tersebut sudah menjadi orang tua dan kemudian mempunyai putra-putri yang sejak kecil sudah dididik sesuai keyakinan  mereka. Sejak usia kecil, anak-anak kita sudah didik untuk memperhatikan perbedaan, bukan melihat kesatuan di balik perbedaan. Bhinneka tunggal Ika hanya merupakan slogan saja. Demikian yang terjadi dan banyak anggota masyarakat yang merasa berbeda dengan anggota masyarakat yang lain.

Bila kita ingin melihat Indonesia bersatu, maka kita harus mulai dari anak-anak kita agar dapat  melihat kesatuan di balik perbedaan. Bila tidak, disintegrasi sudah di ambang mata. Baca selebihnya »

Dari Berteman Dengan Diri Sendiri Menuju Kasih, Be Joyful and Share Your Joy to Others!

Seorang teman mengeluh, nampak depresi begitu kehilangan jabatan, kehilangan kedudukan dan kehilangan harta karena teman-temannya mulai menjauhinya. Seorang teman yang lain, pada posisi yang sama tetap ceria tidak memperdulikan teman-temannya datang atau pergi darinya, dia tetap saja melayani orang lain. Masalah yang dihadapi sama akan tetapi hasilnya sangat berbeda, mengapa?

 

Eksploitasi dari seseorang yang dianggap teman

 

Bahkan dalam dunia ini, kebencian pun, permusuhan pun tidak langgeng. Tadi Anda miskin, sekarang Anda kaya dan seorang musuh pun bisa balik menjadi teman. Tahukah Anda bahwa Anda sedang dimanfaatkan, sedang di eksplotasi? Betapa tololnya Anda. Anda telah mempercayai hubungan-hubungan semacam itu selama ini. Anda telah menangis karenanya, Anda telah ketawa karenanya – padahal semua hubungan-hubungan duniawi Anda hanya bersifat sementara. Jangan bersandar pada siapa pun. Bersandarlah pada diri sendiri. Jadilah teman bagi diri Anda sendiri. *1 Kehidupan halaman 76

Teman Pertama kita tersebut, sejak kecil hanya percaya terhadap keberhasilan, dia menyenangi keberhasilan. Hidupnya diarahkan agar dirinya selalu berhasil. Dan karena ia berhasil maka teman-temannya banyak. Kemudian, karena dia hanya mempercayai keberhasilan, dia lalai bahwa setiap keberhasilan selalu mengandung potensi kegagalan. Hidup ini tidak melulu berisi keberhasilan, selalu ada pula kegagalan dan dia tidak bisa menerima kegagalan. Wajahnya nampak sedih dan dirinya gelisah karena beberapa kegagalan yang tidak diharapkan mendatanginya yang mengakibatkan  teman-temannya menjauh. Dia kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Dia dalam keadaan “Un-Joy” Baca selebihnya »

Dari Terima Kasih Menuju Kasih

Seorang sahabat mengingatkan tentang pesan Guru untuk selalu berterima kasih kepada orang yang telah membantu kita. Ungkapan terima kasih akan mengangkat energi dan meningkatkan kesadaran. Mungkin sahabat tersebut telah melupakan nasehatnya yang disampaikannya di depan para sahabatnya, akan tetapi nasehat tersebut telah mengubah sebuah kehidupan salah satu sahabatnya.

Peluang untuk mengucapkan terima kasih

Selalu saja ada ungkapan terima kasih yang pantas disampaikan kepada seseorang dalam setiap keadaan. Terima kasih kepada seorang pengemudi mobil atau bis yang telah membawa kita selamat dalam perjalanan. Ungkapan  terima kasih tersebut sekaligus mengangkat energi sang pengemudi yang merasa dimanusiakan. Dan peningkatan energi sang pengemudi pada akhirnya akan mempunyai efek balik yang meningkatkan energi kita. Ungkapan terima kasih yang tulus memberikan energi kasih yang dapat dirasakan sang penerima ungkapan dan otomatis akan kembali kepada sang pemberi dengan energi kasih pula.

Rasa terima kasih perlu diungkapkan kepada panitia yang menyelenggarakan suatu acara apalagi sebuah acara spiritual, sehingga kita telah dapat menerima manfaatnya. Kemudian ilmu pengetahuan yang diperoleh pun akan mantap dan mengangkat diri kita. Seandainya kita percaya bahwa ilmu pengetahuan itu sosok yang hidup, “dia” pun merasa dihargai kala kita mengungkapkan rasa terima kasih kepada sang pemberi. Berterima kasih kepada seorang penulis buku sebelum dan sesudah membaca buku adalah penting karena kita telah mengakses pengetahuannya. Rasa penghargaan yang tulus kepada sang penulis dan pengetahuannya otomatis akan kembali kepada kita. Baca selebihnya »

Makna Sebuah Esensi

1970

Seorang kakek memberi nasehat kepada cucunya yang masih remaja.

Lakukan “mulur mungkret”, kembang susut dalam menghadapi kehidupan nyata.

Contohnya bagi seorang perjaka,

Idealnya memilih gadis yang jelita, yang cerdas, anak orang kaya,

yang mandiri, yang spiritual dan seterusnya.

Selama harapan dipenuhi, “mulur”-berkembanglah kriteria, berkembanglah keinginan manusia

Saat harapan meleset, “mungkret”-susutkanlah kriterianya.

Tidak perlu cantiklah, lumayan saja.

Asal mandiri, spiritual…. demikian seterusnya.

Sampai akhirnya…. sudahlah kalau bersama kan lampu dimatikan juga…… Baca selebihnya »

Memikul Salib bersama Yesus

Anand Krishna*

(Catatan di Facebook Natal 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=240:admin&catid=17&Itemid=58

Mudah sekali bagi kita untuk mengutip seseorang yang “punya nama” kemudian menjabarakan apa yang dikatakannya. Mudah sekali bagi kita untuk mengutip Yesus, atau Muhammad, atau Siddhartha, atau Krishna, kemudian mengomentari kata-kata mereka.

Namun, tidak demikian dengan seorang Yesus. Ketika ditanya oleh para ahli kitab apa yang menjadi “ajaran utama” – bukan ajaran-“nya” – tetapi “ajaran”, titik. Mereka ingin mendengar sesuatu yang bersifat generik, dan berlaku bagi semua.

Maka, tanpa keraguan, Yesus pun menjawab bila mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan jiwa – adalah ajaran terutama. Dan, kedua adalah mencintai tetangga kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri.

  Baca selebihnya »