Dharma Bhakti Teguh Para Garuda

Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia.

Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  + Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan.

Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan. *1 Kundalini Yoga 

Kelahiran Sang Garuda

Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.

Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa. Baca selebihnya »

Laporan Pandangan Mata: Silaturahmi Islamic Movement for Non Violence dengan Tokoh Muslim Bali

Muslihah Razak

http://www.facebook.com/muslihah.razak#/notes/muslihah-razak/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-toko/180518735403

 

Islamic Movement for Non Violence (IMN)

Restoran de Surau Denpasar Bali, 13 November 2009

 

“Inna ad-din ‘Inda-Allah Islam: the Way to God is Peaceful Surrender” with Prof. Amina Wadud

 

Bertempat di Denpasar bali, Islamic Movement for Non Violence atau IMN mengadakan acara silaturahmi dengan tokoh-tokoh muslim Bali, diantaranya Masrur, Ketua MUI Badung, Khabibah Ahmad dari Fatayat NU, Suri Handayani dari Muslimat NU, Yayuk Herawati dari Forum Majlis Taklim Denpasar, Ariful Akmal dari Religious Affairs Denpasar, dan masih banyak lagi seperti perwakilan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), perwakilan Himpunan Pengusaha Muslim Bali, perwakilan dari Departemen Agama, dan ada juga dari Universitas Udayana Hadir pula dalam acara tersebut Maya Safira Muchtar sebagai penggagas IMN

 

Yang membuat acara ini lebih special adalah kehadiran tokoh pemikir islam yang kontraversial Prof. Amina Wadud, yang hari itu berbagi dengan kami apa sebenarnya makna dari Inna ad-din ‘Inda-Allah Islam.

 

Amina memulainya dengan peringatan agar kita tidak sempit dalam memahami Al-quran karena dalam al-quran sendiri dijelaskan bahwa pesan-pesan Allah tidak hanya didalam a-quran tetapi juga diseluruh alam, tanda-tandanya berada dimana-mana. Dan alquran diturunkan bukan hanya untuk orang-orang yang mengerti bahasa arab saja, ataupun bangsa arab saja tetapi untuk semua ummat manusia Baca selebihnya »

Kelahiran Rahwana Dan Sekelumit Tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda. *1 Medis dan Meditasi

Latar belakang keluarga para pelaku dalam Ramayana

Prabu Dasarata penuh hasrat mendapatkan seorang putra, sehingga mengawini tiga orang wanita yang ternyata tiga-tiganya belum dapat memberikan putra juga. Akhirnya dengan suatu upacara ritual ketiga istrinya melahirkan empat putra. Keempat putranya saling mengasihi.

Kemudian karena sang prabu kalah janji dengan istri ketiga, maka putra terkasihnya Sri Rama harus meninggalkan istana yang menyebabkan kesedihan sang prabu yang membawanya keujung kematian.

Resi Gotama bertapa seratus tahun dengan harapan mendapatkan anugerah isteri seorang bidadari. Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang bersedia menjadi istrinya, akan tetapi dia memiliki cupu manik Astagina yang pada setiap saat konon dapat berhubungan dengan Bathara Surya lewat cupu tersebut.

Pasangan suami istri tersebut melahirkan tiga anak, Guwarsa yang akhirnya menjadi Subali, Guwarsi yang menjadi Sugriwa dan Retno Anjani yang melahirkan Hanuman.  Dua bersaudara Subali dan Sugriwa berseteru hingga akhirnya Subali mati dipanah Sri Rama. Sedangkan Hanuman melakukan “total surender” pada Sri Rama, sang avatara.

Dewi Sukesi, putri raja Alengka Prabu Sumali, seorang wanita yang sangat percaya diri dan bersemangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan pasangan hidup melalui pertarungan antar ksatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih pasangan hidup siapa pun yang dapat menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Baca selebihnya »

Nilai Sejati dari “ARTHA”

Anand Krishna*

(Radar Bali, Rabu 21 Oktober 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=235:nilai-sejati-dari-artha&catid=15&Itemid=56

 

 

 

Bagi masyarakat di kepulauan ini, di mana Bali menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, artha, “kekayaan” atau “uang” bukanlah tujuan akhir, tapi sarana untuk mencapai kesejahteraan total. Dan kesejahteraan total bukan sekedar kesejahteraan ekonomi, tapi juga keamanan sosial. Di atas segalanya, artha ialah sesuatu yang memberi makna bagi kehidupan seseorang.

 

Satu dari teman saya di Singapura memberi nama perusahaannya Cash dan Gold Pte. Ltd. Nah, “cash” dan “gold” dalam bahasa Inggris tak lagi mempunyai arti lain. Cash ya fulus dan gold ya emas. Tapi di sini, svarna artha, walau berarti sama secara harfiah, “emas” dan “uang,” toh bisa memiliki implikasi makna yang berbeda.

 

Svarna bisa juga berarti kekayaan, kejayaan atau kemuliaan. Emas adalah logam mulia, tapi bisa juga berarti nilai-nilai luhur yang mulia, misalnya kejujuran dan integritas. Bukan hanya materi, karakter pun bisa menjadi sesuatu mulia. Baca selebihnya »

Hanuman Sang Duta Pembawa Pesan Ilahi

Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau ‘demon’ itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah “bentuk” atau “wujud” kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu. *1 Atisha

Peringatan Alam sebelum bencana tiba

Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak. *2 Reinkarnasi

Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Keberadaan terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera taubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.

Semua tindakan mempunyai akibat masing-masing, akan tetapi sebelum melakukan tindakan yang semakin tidak harmonis dengan alam, kita dingatkan Keberadaan melalui berbagai tahapan peringatan. Baca selebihnya »

Mengamati Sifat Sugriwa dan Subali Dalam Diri

Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak, napas ikut menjadi kacau. Kita cenderung menarik dan membuang napas lebih cepat. Itulah yang saya maksud dengan pemborosan napas. Napas kita menjadi 24 hingga 32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Janganlah mengharapkan kreativitas dari seseorang yang sedang bernapas cepat. Kreativitas adalah hasil pikiran yang tenang, jernih, dan emosi yang stabil. Kedua hal itu merupakan prasyarat utama bagi pengembangan kreativitas diri. Seekor kera bernapas 32 hingga 36 siklus per menit, maka ia tidak sekreatif manusia; padahal anatomi otaknya tidak jauh berbeda dari anatomi otak manusia. Dengan napas normal 15 siklus per menit saja kita sudah dapat berpikir, dan bertindak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Keberhasilan kita selama ini berdasarkan sikluls napas normal tersebut. Kurangi siklus napas Anda, maka Anda dapat menambah tingkat keberhasilan Anda. Dengan mengurangi siklus napas, otak kita dapat mencerna lebih baik, dan dapat berpikir lebih jernih. Ide-ide baru pun muncul, sehingga kita menjadi lebih kreatif. Kreativitas itulah yang membuat kita lebih berhasil! *1 Life Workbook

Gelombang otak dan frekuensi napas

Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG). Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam EEG adalah hertz.

Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak  berkisar 14 hertz.  Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta. Baca selebihnya »

Karma

Anand Krishna*

(Radar Bali, Selasa 13 Oktober 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=234:karma&catid=15&Itemid=56

 

 Ketika anda menggunakan istilah “Hukum Karma” dalam bahasa Indonesia, lazimnya mengacu pada hukuman. Dalam bahasa Indonesia kata “hukum” memiliki makna ganda. Bisa berarti “hukum” atau bisa juga “hukuman.”

 

Tidak demikian dalam bahasa Bali. Karma bukanlah “hukum” atau “aturan penghukuman.” Karma ialah “aktivitas” atau “tindakan.” Apapun yang anda dan saya lakukan ialah karma. Ini ialah “hukum” dalam pengertian bahwa ini tak bisa dielakkan. Tak ada yang bisa melarikan diri darinya. Ini seperti hukum gravitasi, atau hukum fisika lainnya. Jadi Hukum Karma ialah Hukum Aksi.

 

Hukum Karma mengikat kita semua. Apapun yang kita lakukan menjadi sebuah “sebab,” dan setiap “sebab” diikuti oleh “akibat.” Jadi penderitaan kita dimasa kini ialah jumlah dari beberapa sebab dimasa lalu, begitupula dengan kebahagiaan kita. Pada saat yang sama, apa yang kita lakukan hari ini menjadi sebuah sebab bagi keceriaan atau penderitaan esok hari.

 

Hukum sebab dan akibat menjaga dunia tetap berputar. Hukum menciptakan dualitas penderitaan dan kesenangan, kemuraman dan keceriaan, saat-saat desolasi dan konsolasi.

  Baca selebihnya »

Desha Kala Patra

Anand Krishna*

(Radar Bali, Selasa 6 Oktober 2009)

http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&view=article&id=232:desha-kala-patra&catid=15&Itemid=56

 

 

 

Ketika mengatakan “ya, tergantung,” biasanya kita tidak menjelaskan “tergantung pada apa”. Kita tidak merasa perlu untuk menjelaskannya, dan tidak ada orang yang peduli akan hal itu. Jadi, tergantung-nya bisa semau kita. Tergantung pada apa pun, suka-suka kita.

 

Namun, di Bali, “tergantung pada apa” menjadi penting. Kata “Tergantung” tidak berdiri sendiri. “Tergantung” di Bali tergantung pada desha, kala dan patra.

 

Desha berkaitan dengan tempat di mana kita hidup, dan menjadi sumber nafkah kita. Kata ini sebenarnya adalah perpaduan dari dua kata: Deha, atau “badan” dan ashraya, atau “memelihara/mendukung”. Maka, desha adalah yang “memelihara/mendukung tubuh” kita.

 

 

Oleh karena itu, desha tidak mesti negara di mana Anda lahir, dan/atau dari mana Anda berasal/warga Negara mana. Anda bisa dilahirkan di Betlehem, dibesarkan di Bangkok dan memiliki paspor Brasil – jika Anda hidup dan tinggal di Bali, maka Bali adalah desha Anda. Kata “desa” dalam Bahasa Indonesia berasal dari “desha” dalam bahasa Sanskerta/Kawi. Baca selebihnya »

Refleksi Pribadi Menjelang 81 Tahun Sumpah Pemuda

Bagi para Sufi Dalam, syariat bersifat sangat pribadi, Walau tujuannya untuk berinteraksi dengan dunia luar. Karena itu pula, syariat mereka berlapis-lapis. Berada pada tingkat kesadaran yang paling rendah, ia masih dapat mengangkat pedang untuk membela dirinya. Berada pada tingkat kesadaran teratas, ia akan memaafkan orang yang memedanginya. Syariah mereka yang berkesadaran rendah menuntut “balas dendam”, syariat mereka yang berkesadaran tinggi mengajar kesabaran, kasih dan pemaafan.

Tujuan akhir syariat yaitu memanusiakan manusia, menjadikannya manusia sempurna atau insan kami tak pernah terlupakan oleh para sufi di Sindh. Pada saat yang sama, syariat juga tidak disejajarkan dengan Tuhan, dan kemanusiaan yang merupakan inti ajaran-ajaran agama. Sebagai jalan menuju Tuhan, syariat senantiasa diperbaharui dan dibenahi. Tak ada keterikatan fanatik terhadap peraturan-peraturan diri tidak dibenarkan atas nama kepercayaan dan peraturan agama. Esensi agama dikawinkan dengan budaya setempat sebelum dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. *1 Haqq Moujud

Sumpah Pemuda

SOEMPAH PEMOEDA. Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA. Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA. Batavia, 28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda merupakan hasil Kongres Pemoeda yang berlangsung pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928, di Batavia, nama kota Jakarta pada waktu itu.

Ada beberapa peristiwa penting bagi kemerdekaan Indonesia. Pertama Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908. Kedua Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kebetulan kami mengikuti acara Temu hati Bapak Anand Krishna pada tanggal 26 Oktober 2009 di Semarang  yang membicarakan tentang Sumpah Pemuda. Tulisan ini dijiwai pemahaman yang diperoleh dari acara penuh makna tersebut.

…….. Seandainya para pelaku sejarah tersebut melihat kondisi Indonesia pada saat ini, yang terpikir oleh kami adalah apakah kira-kira mereka pernah memperkirakan kejadian yang yang dialami Indonesia saat ini? Bukan mau mengecilkan peranan pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat, tetapi kinerja suatu pemerintah harus dilihat secara holistik. Baca selebihnya »

Belantara Hasrat di Hutan Dandaka

Kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stress dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yangmenemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. *1 si Goblog

 

Menemui para resi yang tinggal di Hutan Dandaka

Di dalam hutan belantara hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri. Hukum Rimba “fight or flight” ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya.

Sri Rama menemui para resi yang tinggal di hutan belantara Dandaka. Semua resi merasa terberkati dan mempersembahkan ilmu yang diperolehnya kepada Sri Rama. Kemudian, ada beberapa resi yang mohon bantuan Sri Rama untuk memusnahkan para raksasa. Menurut mereka sudah banyak resi yang dibunuh para raksasa dan mereka memperlihatkan tumpukan tulang belulang korban pembunuhan para raksasa. Sri Rama berjanji akan memusnahkan para raksasa. Baca selebihnya »