Berteman dengan Fathonah
Kata Fathonah hampir selalu ditemukan bersama: Shiddiq, Amanah dan Tabligh, yaitu 4 akhlak mulia nabi yaitu “cerdas”, “benar”, “bisa dipercaya” dan “menyampaikan”. Akan tetapi kala search google image setelah ketik fathonah, maka di layar muncul foto-foto Ahmad Fathanah, yang bernama lengkap : Olong Ahmad Fedeli Luran yang terlibat Kasus Korupsi Daging Impor Sapi. Dari hasil pencarian tersebut selain foto Ahmad Fathonah juga ditemukan berbagai foto wanita-wanita yang sangat cantik. Foto-foto tersebut terkait berbagai artikel tentang pelanggaran hukum yang sedang ditangani oleh KPK, yang jauh dari sifat mulia nabi.
Ada hukum law of attraction bahwa pergaulan kita akan mengungkapkan karakter kita. Bulan-bulan ini media masa mengungkapkan nama Fathonah yang royal terhadap wanita-wanita cantik serta kelihaian lobby dengan membawa nama petinggi partai. Adalah suatu kesalahan seorang pemimpin yang memilih berkarib dengan Fathonah, sehingga seorang pengacara menyatakan sifat kedua karib tersebut sebelas-duabelas.
“Demikian penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, keselarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari-hari juga persis demikian, apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Pesan Kitab Suci Untuk Memilih Pergaulan Yang Baik
Berbekal laptop atau sebuah HP kita dapat search didunia maya dengan perangkat google. Kala mengetik “pengaruh teman bergaul” dan di klik, maka keluarlah banyak artikel yang berkaitan dengan pengaruh teman bergaul. Di salah satu judul artikel ada ulasan mengenai Hukum-Hukum Al Qur’an dan Hadist yang berkaitan dengan hal tersebut, yang antara lain:
“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al Furqan:27-29)
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Sumber: artikel “Pengaruh Teman Bergaul” – Muslim.or.id.
Antara Pengetahuan dan Praktek
Pengetahuan saja tidak cukup, contohnya adalah para perokok yang pasti sudah membaca bungkus rokok dan iklan baliho di Jalan Raya: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Dalam abad modern ini tidak mungkin seseorang tidak mengetahui bahayanya merokok. Mengapa tetap merokok? Karena pengetahuan kalah dengan kebiasaan. Adiksi atau kecanduan dengan mudah mengalahkan pengetahuan. Melanggar hukum seperti korupsi itu mempunyai resiko yang bahkan kini sampai pada resiko pemiskinan sang koruptor. Akan tetapi, mengapa berita tentang korupsi tak pernah sirna satu hari pun dari media masa?
Demikian pula seorang pemuka masyarakat, petinggi partai mestinya mengetahui berbahayanya pergaulan yang tidak baik. Apalagi beliau pernah tahu bahwa teman karibnya pernah kena masalah kriminal, melanggar hukum di Australia. Ayat-ayat dari Kitab Suci dan Hadist tentang bahayanya “pengaruh teman bergaul”, diduga bahkan hapal di luar kepala, bukan hanya terjemahannya akan tetapi juga dalam bahasa aslinya. Mengapa beliau nekat bergaul dengan teman karib yang membahayakan imannya? Karena akibat pergaulan itu menyenangkan panca indera dan mental-emosionalnya . Setiap saat manusia selalu diberi pilihan apakah dia memilih tindakan yang menyenangkan mental-emosional dan panca inderanya? ataukah dia memilih tindakan yang mulia? Baca selebihnya »
Filed under: renungan diri | Ditandai: anand krishna, fathonah, korupsi daging sapi, luthfi | Tinggalkan sebuah Komentar »




