Nyai Lara Kidul Laut Selatan, Candi Kalasan Indonesia dan Dewi Tara Tibet

Membaca artikel di internet “Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java”, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak kita masing-masing: seperti yang berkaitan dengan hal mistis; pencarian jalan pintas dalam mendapatkan kekayaan; tumbal manusia secara berkala untuk dijadikan pekerja Istana Dasar Laut Kidul; atau pun Kanjeng Ratu Kidul yang berhubungan mistis dengan para Raja Surakarta dan Jogjakarta yang merupakan anak keturunan dari Raja Mataram Pertama Panembahan Senopati……… sang penulis artikel mengambil referensi nama Nyai Lara Kidul, sebagai dewi yang dikenal masyarakat pada zaman Candi Kalasan sedang dibangun. Dewi yang berkaitan dengan Dewi Padi (Dewi Sri) dan Dewi Padi Ladang (dewi Tisnawati) dan juga Dewi yang memberikan kemakmuran kepada masyarakat (Dewi Laksmi). Menurut sang penulis, gambaran tentang ikon Nyai Lara Kidul tersebut pada saat ini telah berubah menjadi seperti yang kita pahami pada saat ini.

Mengenai panggilan Nyai, perlu dimengerti bahwa orang-orang Jawa Kuna merasa dekat bila kekuatan yang dipuja mereka dipanggil sebagai keluarga dekat. Orang Jawa Kuna merasa bahwa sebutan Allah dan Nabi itu jauh, sehingga agar dekat di hati, mereka memanggilnya dengan sebutan Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, seperti menyebut raja dan bangsawan kerajaan bagi mereka. Mereka memanggil Tuhan dengan sebutan Gusti Pangeran. Memanggil Dewa, kekuatan ilahi pun dengan sebutan Hyang (Eyang), matahari dipanggil Hyang Surya, bulan dipanggil Hyang Chandra. Memanggil para Wali dengan sebutan Kanjeng Sunan. Memanggil orang yang dihormati sebagai Kyai atau Nyai.

Baik Dewi Tara maupun Nyai Lara Kidul menyukai warna hijau yang merupakan kekuatan jiwa muda. Dewi Tara memegang bunga Utpala (teratai biru, atau teratai malam) yang mekar di waktu malam tidak seperti teratai putih yang mekar di siang hari. Demikian juga Nyai Lara Kidul memegang bunga Wijaya Kusuma yang mekar di waktu malam. Penulis menganggap ada perbedaan antara Nyai Lara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Nyai Lara Kidul adalah Dewi Kesuburan dan Pelindung di zaman dahulu kala. Sedangkan Kanjeng Ratu Kidul adalah shakti/energi para Raja Jawa setelah para Raja Jawa menganut agama Islam. Pada panggung Sangga Buana di Keraton Surakarta digantungkan lukisan yang menggambarkan seorang pria mengendarai ular terbang, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai candra-sengkala (tanda tahun) 1782 M. Akan tetapi bagi sang penulis, ular tersebut ada hubungannya dengan Ratu Kidul. Di Keraton Jogjakarta Kanjeng Ratu Kidul bertemu Sultan di Sumur Gumuling di Taman Sari yang menurut penulis juga ada hubungannya dengan ular. Kanjeng Ratu Kidul menurut penulis adalah Ratu Naga. Sesungguhnya ular ada hubungannya dengan energi kundalini atau shakti yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.

Kita paham bahwa ajaran Buddha sangat adaptatif dengan keyakinan setempat, sehingga di tengah masyarakat perbedaan antara ajaran Buddha, Shiwa dan keyakinan setempat hanya berupa perbedaan formal. Di dalam kenyataan di lapangan, keyakinan tersebut bisa berbaur di tengah masyarakat. Buddha Mahayana dan Vajrayana tidak ragu-ragu menyesuaikan ajaran asli mereka, dengan mengambil alih konsep dan bahkan  ikon dari banyak dewa-dewi dan ikon keyakinan masyarakat setempat. Dewi Tara mempunyai asosiasi dengan Dewi Durga yang merupakan Adishakti  dan juga dengan dewi kepercayaan masyarakat setempat seperti Nyai Lara kidul. Bila di Candi Kalasan terdapat patung Dewi Tara, maka dalam jarak kurang dari 2 km ada Candi Prambanan dengan patung Dewi Durga. Melihat kondisi geografis, nampaknya sungai Opak yang memisahkan Candi Prambanan dengan Candi Kalasan menjadi batas antara kekuasaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Candi-candi di jawa Tengah seperti Kalasan, Plaosan dan Prambanan, Sambisari dibangun oleh masyarakat campuran antara Shiwa dan Buddha. Bagi mereka Dewi Durga, Dewi Tara, Nyai lara Kidul adalah ikon seorang ibu yang perlu dipuja. Baca selebihnya »

Mencermati Perubahan Karakter Legenda Dewi Feminin Durga Menjadi Bathari Maskulin Ganas Durga

Membaca artikel The Goddess Durga– in the East-Javanese Period, HARIANI SANTIKO, Universitas Indonesia, Jakarta yang membahas perubahan persepsi dari Dewi Durga di Jawa pada abad 10 ke Bathari Durga pada abad 15, kita bertanya-tanya apakah latarbelakang dari perubahan karakter Dewi Durga tersebut? Dari persepsi awal sebagai seorang dewi yang baik, pembunuh asura jahat Mahisasura (Durga Mahisasuramardini) dan pelindung kesejahteraan dan kesuburan, ke Bathari dengan wajah yang menakutkan dan kecenderungan untuk berbuat jahat yang dipuja para pengikut aliran hitam. Apakah ini sebuah pembunuhan karakter?

Sering disebutkan bahwa energi atau daya gerak itu berasal dari feminin, itulah sebabnya energi disebut Shakti. Tanpa energi, manusia hanya berupa jasad atau mayat. Dewi Durga adalah Shaktinya ShIva. Oleh karena itu “ShIva” ditulis dengan I besar, tanpa I besar (yang bermakna energi) ShIva akan menjadi Shava atau mayat. Seorang ayah bisa memberikan warisan genetik seorang yang cerdas kepada anaknya, tetapi tanpa energi sang ibu anaknya tidak akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam kisah Bharatayuda Arjuna disebut putera Kunti.

Sekarang kita memahami bahwa pada saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”. Yang menggerakkan manusia adalah Shakti yang berasal dari seorang ibu.

Tanpa energi/shakti manusia hanya merupakan jasad. Dan Dewi Durga adalah simbol dari kekuatan shakti awal mula atau adishakti. Matahari bersinar menghidupi manusia di bumi, akan tetapi shakti adalah energi yang membuat matahari bersinar. Shakti ada dalam setiap makhluk hidup.

Dewi Durga adalah kekuatan/energi feminin yang dipuja oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan 1009-1042. Kemudian Raja Kertanegara dari Kerajaan Sighasari  juga memuja Kekuatan Feminin Dewi Chamundi salah satu nama dari shakti Shiva. Akan tetapi pada abad 15 ditulislah beberapa kitab antara lain Tantu Panggelaran,  Sudamala, Kidung Sri Tanjung, Korawasrama yang menggambarkan Bathari Durga sebagai Dewi yang berpenampilan mengerikan yang merupakan istri Shiwa yang dikutuk karena berbuat salah. Bahkan Hikayat calon Arang yang menceritakan tentang pemujaan Bathari Durga sebagai kekuatan jahat juga ditulis pada abad ke 16. Pada hal kisah Calon Arang menceritakan tentang Raja Erlangga yang memerintah pada abad 11, bahkan Erlangga sendiri adalah sebagai pemuja Kekuatan feminin Dewi Durga.

Kisah yang dibuat pada abad 15 tersebut ditatahkan pada relief dinding Candi Tegawangi , Candi Sukuh dan Candi Penataran. Sejarawan Soedarmono dari Surakarta pernah menyampaikan bahwa  relief yang di dinding bangunan baru Candi Sukuh tidak sama dengan bangunan utama Candi Sukuh yang berbentuk Piramid terpotong yang usianya jauh lebih tua. Patung Dewi Durga Mahisasuramardini antara lain terdapat di Candi Prambanan, Candi Singhasari, Candi Badhut. Baca selebihnya »

Makna Masa Kini Tentang Kisah Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Dan Kisah Masyarakat Dalam Zaman Edan

Kisah Nabi Yunus ada dalam berbagai agama. Banyak versi kisah maupun pembahasannya, akan tetapi semestinya esensinya adalah satu jua. Pedoman “Bhinneka Tunggal Ika” digunakan dalam mencari esensi dari banyak versi kisah yang berbeda-beda.  Pada masa kini, para pengguna internet telah mendapatkan kebebasan untuk membaca berbagai versi kisah tersebut dan dengan demikian telah memperkaya wawasan mereka, kala mendalami kisah tersebut. Wikipedia menyebutkan bahwa Nabi Yunus, Yunus (Arab), Jonah ( Inggris), Yonah (Ibrani), Ionas (Latin) (sekitar 750 SM) adalah salah nabi yang dikenal dalam berbagai agama. Sudah semestinya Kisah Nabi Yunus mempunyai esensi yang sama bagi berbagai agama. Dalam Al Qur’an Surah Yunus, dikisahkan tentang Nabi Yunus AS dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya. Dalam Alkitab ada Kitab Yunus, yang mengisahkan pengalaman Nabi Yunus, ketika ia mencoba menghindari perintah Tuhan. Nabi Yunus adalah Utusan Ilahi bagi orang Ninawa/Niniweh/Ninevites di daerah Irak.

 

Berulang kali Nabi Yunus memperingatkan mereka yang tengah tenggelam dalam perbuatan adharma, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Nabi Yunus bukan dari kaum mereka. Setiap kali adharma merajalela akan ada “Utusan” yang memperingatkan agar masyarakat kembali ke jalan yang benar. Kita juga mengerti bahwa banyak “Utusan” yang bukan penduduk setempat.  Konon Adi Shankara lahir di Kerala (kebanyakan masyarakat bergenetik Melayu atau Malayalam; Nabi Musa konon juga bergenetik Yahudi walau menjadi putra raja Mesir, sehingga bangsa Yahudi saat itu tidak mengetahui bahwa Musa sebangsa dengan mereka; Tokoh Hanuman adalah “Utusan” yang bergenetik “kera” bagi para raksasa yang tinggal di Alengka. Sri Krishna adalah “Utusan” bagi masyarakat adharma Korawa sebelum perang Bharatayuda.

 

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Para “Utusan” adalah pembaharu sehingga menyampaikan hal yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat. Nabi Yunus berkata: “Aku hanya mengajakmu beriman dan bertauhid (advaitha/non-dualitas) sesuai dengan amanah Allah yang wajib kusampaikan padamu. Aku hanyalah pesuruh Allah yang ditugaskan mengeluarkanmu dari kesesatan dan menuntunmu di jalan yang lurus. Aku sekali-kali tidak mengharapkan upah atas apa yang kukerjakan ini (berkarya tanpa pamrih/karma yoga). Aku tidak bisa memaksamu mengikutiku. Namun jika kamu tetap bertahan pada kebiasaanmu itu, maka Allah akan menunjukkan tanda-tanda kebenaran akan kata-kataku dengan menurunkan azab yang pedih padamu, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Masyarakat menjawab dengan menantang: “Kami tetap tidak akan mengikuti kemauanmu dan tidak takut ancamanmu. Tunjukkan ancamanmu jika kamu termasuk orang yang benar!” Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka.

 

Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa sangat gundah, karena mendung sangat pekat, binatang peliharaan sangat gelisah, dan suara angin bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar akan terjadi pada mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Nabi Yunus adalah orang yang benar. Mereka kemudian beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Nabi Yunus sambil memohon pengampunan Allah atas kesalahan mereka. Yang Maha Pemaaf-pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Nabi Yunus agar mereka bisa dituntun di jalan yang benar. Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar dan selamat dari bencana alam yang menghampiri mereka.

 

Disebutkan ada makna empat tangan Wisnu sebagai kekuatan pemelihara alam. Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Yang Maha Kuasa terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera bertaubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya. Baca selebihnya »

Memelihara Nyala Semangat Agar Tidak Bekerja Hangat-Hangat Tahi Ayam

Belum genap seminggu tahun 2011 kita tinggalkan dan berita hingar bingar di akhir tahun masih dapat kita baca di arsip berita, akan tetapi sudah tak ada seorang pun yang membicarakannya. Kita sudah lupa masalah seminggu yang lalu, padahal dari segi keuangan pengaruhnya masih terasa ke neraca ekonomi rumah tangga beberapa bulan ke depan. Melupakan masa lalu baik, agar kita bisa terfokus pada apa yang dihadapi saat ini, akan tetapi kita harus mendapatkan pelajaran dari tindakan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan lama di masa mendatang. Bagaimana pun juga komitmen kerja keras, berbuat baik harus tetap diingat dan diimplementasikan serta tidak ikut terlupakan. Kita bisa melihat janji-janji para pemimpin sebelum pemilu yang terlupakan, seperti kita juga perlu merenungi komitmen-komitmen perbaikan kualitas diri yang juga terabaikan…….. Kita lupa bahwa bila kita tidak belajar dari  pengalaman, maka kita akan terpaksa mengulanginya di masa depan. Filsuf George Santayana berkata, “Mereka yang tidak dapat belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya.” Apakah bangsa kita mudah melupakan sejarah dan mengulangi peristiwa yang hampir sama berkali-kali? Apakah kita hanya ingat fakta-fakta tentang sejarah dan tidak belajar sejarah? Sejarawan Arnold Toynbee menegaskan tentang perlunya kita Belajar Dari Sejarah, dan tidak sekedar mempelajari fakta-fakta sejarah. Demikian pula secara individual kita perlu belajar dari sejarah pengalaman pribadi, agar kita tahu potensi yang ada dalam diri dan kita bisa memberdayakan diri sendiri……….

Di akhir tahun, kita melihat antrean mobil di pusat keramaian, penuhnya tempat parkir di hotel dan mall, ramainya penerbangan domestik dan internasional serta pesta kembang api di berbagai kota besar di Indonesia, rasanya negara kita sudah sejahtera dan tak banyak masalah yang membelit bangsanya…….. Melihat artikel di media televisi dan koran saat itu, diri kita ikut terseret kesenangan sesaat dan lupa masalah kemiskinan di berbagai daerah, lupa masalah kekerasan yang tengah melanda negeri. Kita mudah lupa walau untuk sejenak saja……….. Semangat konsumtivisme, hedonisme, materi dan duniawi, menguasai kehidupan. Televisi mengajarkan setiap hari bagaimana menikmati hidup modern ini, entah dari mana mendapatkan uangnya. Kita bersenang-senang, seolah-olah telah mencapai kesuksesan seperti China, Jepang, dan Singapura. Kita ingin segera menikmati segala sesuatu secara instan tanpa menghiraukan prosesnya. Kita tidak pernah sadar bahwa kita menikmati mobil, pakaian, peralatan rumah tangga, hp, laptop, padahal yang memproses bukan bangsa sendiri. Kita tidak sadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan dilakukan dengan cara membayar harga proses yang dilakukan bangsa lain.

Banyak para pemimpin bangsa dan tokoh masyarakat yang meneriakkan semangat baru di tahun baru, salah seorang petinggi negara berkata: “Username dan pasword kita hanya kerja, kerja dan kerja.” Seorang pengusaha kaya yang seniman memberi semangat: “Saya ingin tetap berjuang, lebih baik mati sambil teriak daripada mati menua dan pikun.” Mungkin bagi sedikit orang, mereka bisa melakukan dengan konsisten antara semangat dan praktek di kehidupan nyata….. Akan tetapi banyak dari kita yang berjanji untuk melakukan kebaikan di tahun baru…… tetapi banyak juga yang skeptis….. biasa kita itu bangsa yang hangat-hangat tahi ayam…. Demikian penilaian sebagian masyarakat terhadap karakter bangsa kita sendiri…… Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya pada permulaan.  Lama kelamaan melempem karena tidak tahan berjuang lama. Semangat hanya selagi di depan, sebentar juga adem dengan sendirinya……. hangat-hangat tahi ayam…….. Seminggu setelah semangat yang menggebu-gebu saja sudah bekerja “as usual”……
Baca selebihnya »

Renungan Akhir Tahun: Menjadi Baru Di Tahun Baru

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan siklus matahari (kalender solar) dan gerakan siklus bulan (kalender lunar). Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan putaran bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender diawali bulan Januari diakhiri bulan  Desember dan kemudian kembali ke Januari lagi. Demikian pula hari kerja, dimulai hari Senin sampai Minggu, dan kemudian kembali ke hari Senin lagi. Hari dimulai dari pagi sampai malam dan kembali pada pagi lagi. Demikianlah kehidupan ini merupakan suatu siklus……….. Akan tetapi Sang Kala tidak hanya bersifat siklus, tetapi juga bersifat maju. Kondisi bumi pada tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi akan berbeda dengan tanggal 1 Januari tahun 2012. Berapa banyak manusia yang telah didaur ulang Sang Kala? Berapa banyak peradaban yang lenyap dikubur Sang Kala? Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus peradaban lahir-tumbuh-mandeg-punah. Manusia pun mengalami siklus lahir-tumbuh-mandeg-punah. Dan, apa yang dialami manusia tercatat dalam DNA, catatan sejarah genetiknya……… Sel-sel dalam tubuh kita pun mengalami siklus. Misalnya sel-sel darah putih juga mengalami lahir dan hidup selama lebih-kurang 3 bulan dan bahkan apabila menghadapi musuh penyakit yang menyerang tubuh, mungkin dia akan mati lebih cepat. Setiap sel yang mati akan diganti sel yang baru. Dalam satu tahun sekitar 90% dari trilyunan sel tubuh kita sudah terbaharui. Perbaharuan adalah hal yang alami.

Bagaimana manusia menghadapi siklus tahunan? Seorang anak kelas 2 SD yang terpaksa tinggal kelas, maka dalam satu tahun berikutnya dia harus mengulangi semua mata pelajaran yang pernah diberikan kepadanya sampai dia naik kelas. Sudahkah kita selalu naik kelas baru setiap tahun? Atau masih mengulang di kelas yang lama? Ada seorang teman yang kecanduan merokok dan dia ingin melepaskan dari belenggu rokok tetapi tidak bisa. Bertahun-tahun dia lewati dan dia tidak lulus mata pelajaran melepaskan rokok. Dan, di tahun baru dia harus mengulangi mata pelajaran melepaskan diri dari kecanduan rokok. Demikian juga dengan kita, kita tahu kelemahan diri kita dan kita ingin berubah dan selama kita belum memperbaiki kelemahan tersebut, kita akan tinggal kelas dan harus belajar lagi cara memperbaiki kelemahan sampai lulus dan naik kelas. Sering sampai batas waktu kehidupan berakhir, kita belum juga lulus suatu mata pelajaran kehidupan. Dan bagi mereka yang mempercayai adanya kehidupan yang berupa siklus, maka dia harus belajar mata pelajaran yang sama lagi. Mereka yang percaya adanya siklus kehidupan yakin bahwa fisiklah yang mengalami kematian, akan tetapi pikiran tidak mati, dan perbaikan hanya dapat dilakukan selama seseorang hidup.

Terlalu lama mengulang pelajaran yang sama dapat menyebabkan kita terpola dengan kebiasaan tersebut dan semakin sulit melepaskan diri. Dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan tentang terbentuknya synap baru akibat kebiasaan. Terbentuknya synap baru di otak, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil “conditioning” oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, dan pengalaman pribadinya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh “conditioning” tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Oleh karena itu ada nasehat untuk lebih baik “kuper” daripada salah gaul. Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika, oleh uang, atau dalam hal ini berselingkuh, mekanismenya sama : dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani semacam “sexual addict” persis sama dengan “narcotic drug addict”. Baca selebihnya »

Tangan Yang Melayani Lebih Suci Dari Bibir Yang Berdoa


Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi…….. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya.

Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, KABHI PYASE KO PANI PILAYA NAHIN. Ternyata makna dari bhajan tersebut sangat menyentuh hati……… Intinya tangan yang melayani lebih suci dari bibir yang berdoa………. Ada beberapa bait yang terjemahan bebasnya sangat menyentuh hati……… Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?……………. Aku pergi ke sebuah pertemuan untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?………. Aku pergi untuk mandi pada sungai Gangga di Haridwar Kasi yang suci, sementara aku sedang mandi di sungai Gangga tiba-tiba aku berpikir, aku telah mencuci tubuhku tapi aku tidak mencuci jiwaku, lalu apa gunanya mandi di sungai suci Gangga?………. Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?……….

Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan………. Bagi seorang Sri Mangkunagoro, Ngelmu atau “ilmu” atau “pengetahuan” tidak berarti sama sekali, apa bila tidak dapat dipraktekkan dalam kehidupan yang nyata. Ngelmu kang nyata berarti suatu pengetahuan yang dapat dilakoni – suatu yang dapat dijadikan pedoman hidup. Ngelmu kang nyata berarti perlaku, tindakan, perbuatan seseorang yang sadar………. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……… Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan “ton” pengetahuan. “Sekilo” yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus………

Untuk meningkatkan kesadaran kita perlu mempraktekkan pemahaman yang kita yakini kebenarannya. Pemahaman tersebut perlu dipraktekkan dan kemudian dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan. Dengan terbiasa mempraktekkan akan mengubah karakter kita, sehingga setelah itu kita akan melakukan tindakan berdasar pola pikiran dari karakter baru kita.

Pemahaman yang tidak dipraktekkan, seperti air yang tidak dibiarkan mengalir, akan menggenang dan membusuk. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Di tengah angin kencang dan badai topan orang bijak menjaga dirinya, dan membantu orang lain. Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Itulah rahasia keberhasilan! Keahlian yang anda miliki dan ilmu pengetahuan yang anda kuasai harus dimanfaatkan, digunakan, diterapkan dalam hidup sehari-hari. Banyak di antara kita yang senang mengoleksi ilmu. Lalu, mereka juga senang memamerkan koleksi mereka. Diberi kesempatan untuk berbicara, mereka memang hebat! Tetapi hidup mereka masih hampa, masih amburadul. Keahlian dan ilmu yang mereka kuasai belum berhasil mengisi hidup mereka sendiri. Belum berhasil membenahi hidup mereka sendiri. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam hidup sehari-hari, tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran diri akan membusuk. Akan mengeluarkan bau tidak sedap………… Baca selebihnya »

Seberapa Dekat Manusia Dengan Tuhan?

Banyak orang yang merasa sudah dekat dengan Tuhan, akan tetapi kedekatannya tersebut karena mereka mencintai Tuhan atau karena mencintai diri mereka sendiri dan Tuhan diminta menjadi alat penolong mereka? Pertama, ada manusia yang dekat Tuhan kala dia mendapatkan kesulitan. Kala dia memperoleh kesenangan dia tidak ingat Tuhan. Tuhan dibutuhkan hanya untuk mengeluarkan dirinya dari penderitaan. Kedua, ada manusia yang mohon pada Tuhan agar diberikan kemudahan dalam kehidupan agar dia dapat mengabdi kepada Tuhan. Ketiga, ada manusia yang berupaya sungguh-sungguh untuk mengetahui Tuhan. Dia belajar dan meningkatkan kesadarannya agar dapat mencintai Tuhan. Ketiga-tiganya, sebenarnya masih terfokus pada diri mereka, pada ego mereka dan belum terfokus pada Tuhan. Keempat, ada manusia yang mencintai Tuhan dengan sebenar-benarnya. Baginya yang penting Tuhan. Fokusnya sudah tidak kepada dirinya tetapi kepada Tuhan.

Sri Sathya Sai Baba menyampaikan bahwa ada empat tipe “bhakta”: (1) arthi, (2) arthaarthi, (3) jignasu, dan (4) jnani.

Arthi adalah pengabdi tipe pertama, pengabdi yang berdoa kepada Tuhan bila ia berada dalam kesulitan dan mengalami banyak cobaan serta kesengsaraan. Hanya pada saat itu ia ingat kepada Tuhan.

Arthaarthi adalah pengabdi tipe kedua, pengabdi yang memuja Tuhan dan memohon agar diberi kekayaan, jabatan, kekuasaan, umur panjang, keturunan, dan lain-lain yang bersifat keduniawian. Banyak orang yang mendambakan anugerah kekayaan tanpa menyadari bahwa kekayaan sejati adalah kebijaksanaan, bahwa harta sejati adalah tingkah laku yang baik, bahwa permata yang paling berharga adalah watak yang baik. Mereka bernafsu untuk memperoleh kekayaan duniawi, tetapi tidak mengerti arti dan makna dari semua simbol lahiriah benda duniawi tersebut.

Jignasu adalah pengabdi tipe ketiga, pengabdi yang tidak henti-hentinya menekuni asas kerohanian. Di manakah Tuhan? Siapakah Tuhan? Siapakah Aku? Bila sudah masuk dalam tahap jignasu, seseorang akan sibuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu untuk memperoleh pengetahuan kerohanian. Tipe ini lebih maju dibandingkan dua tipe sebelumnya.

Jnani adalah pengabdi tipe keempat, pengabdi yang sudah mengetahui kebenaran. Jnana berarti pengetahuan. Apakah pengetahuan duniawi yang dimaksudkan? Tidak! Jnana tidak menyangkut pengetahuan duniawi. Jnana adalah pengetahuan spiritual yang sejati. Jnana berarti kebijaksanaan, ia juga berarti penghayatan kesatuan, pengetahuan yang esa tiada duanya.

Selanjutnya, kita perlu introspeksi diri, kita masih berada di mana? Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi……..

Kita juga masih terobsesi dengan kepemilikan dunia. Dalam buku “The Gospel of Michael Jackson” disampaikan……… Kita tidak dapat hidup tanpa kepemilikan. Kita bisa saja memilih hidup telanjang di tengah hutan – kita tetap punya badan. Badan ini juga kepemilikan. Kita bisa batasi barang-barang kita, tetapi kita takkan pernah ada tanpa kepemilikan. Yang bisa kita lakukan adalah “tidak posesif”. Nikmati apa yang kita punyai. Nikmati semua yang kita dapatkan secara benar, asalkan jangan terobsesi karenanya. Jangan malah kita yang menjadi milik barang-barang kita. Janganlah kita kembangkan rasa kepemilikan yang membuat kita serakah dan selalu ingin yang lain dan yang lebih……..

Kemudian kita mulai melepaskan rasa kepemilikan. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri” disampaikan…….. Tenang, santai, rileks – jangan tegang. Milikilah kemewahan tanpa rasa kepemilikan. Nikmatilah keberuntungan kita. Kita belum tahu seni kehidupan. Kita belum tahu cara menikmati kehidupan. Kadang kita menolak Tuhan, kadang kita menolak Setan. Kadang kita malah ingin memiliki kedua-duanya. Kadang kita berada pada ekstrim kiri, kadang pada ekstrim kanan. Kita telah kehilangan keseimbangan. Kita tidak perlu menolak apa pun. Kita tidak perlu mendambakan apa pun. Semuanya datang dengan sendiri, datang pada waktunya. Rasa kepemilikan kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Bagaimana dapat memiliki langit biru, bulan dan bintang, hawa sejuk ataupun angin panas? Apakah kita dapat menentukan kapan Sang Surya harus menampakkan dirinya, kapan Si Bulan harus menghilang dari penglihatan? Terimalah, apa yang diberikan oleh Keberadaan. Penerimaan total seperti ini dapat membuat kita lepas dari rasa kepemilikan. Kita tidak harus melepaskan apa pun. Keinginan untuk pelepasan pun hanya sekadar ilusi dan harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak memiliki sesuatu sehingga dapat melepaskannya. Keinginan untuk pelepasan timbul karena kita merasa memiliki. Jangan merasa memiliki dan kita akan menemukan kehidupan baru……

Salah satu program e-learning dari One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada satu program lagi yaitu Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang dimaksudkan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.

Selama ini kita ingin memiliki Tuhan yang senantiasa siap sedia untuk mengabulkan permohonan kita dan bukan mengabulkan permohonan orang lain. Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah” disampaikan…….. Kita ingin “memiliki” Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita “miliki”! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! “Keinginanmu untuk ‘memiliki’ Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Orang yang sudah menjadi “milik-Nya”, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya, tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain, akan “menjalani” agama dalam hidup sehari-hari………

Dalam nasehat “Heart to Heart” pada tahun 2003, Bapak Anand Krishna menulis……… Radha dan Meera, “sama-sama” mencintai Krishna. And yet, there love was not the same. Tampak sama, namun cinta mereka berbeda. Radha hidup sejaman “dengan” Krishna. Meera tidak hidup sejaman, tidak hidup dengan Krishna – ia hidup di “dalam” Krishna. Radha ingin “memiliki” Krishna. Meera ingin menjadi “milik”-Nya. Menghadapi seorang murshid, kita pun dapat memilih: Mau bersikap seperti Radha, atau seperti Meera. aku memilih Meera…. Penyerahan Diri Meera sungguh tak tertandingi. Ia tidak peduli apakah Krishna “menerimanya” atau tidak… Bagi seorang Meera, yang penting adalah “penyerahannya”, “persembahannya”. Ia tidak kecewa bila Krishna tidak memperhatikannya: “Bolehlah kau, wahai Krishna, memutuskan tali cinta dan melupakan diriku – aku tak akan pernah memutuskannya. Aku akan selalu mencintaimu.” Lain Meera, lain Radha… Seruling bambu di tangan Krishna pun dapat menggelisahkan dirinya: “Kau lebih mencintai seruling itu….” Bagi Meera, jangankan seruling bambu, kehadiran Radha pun hanya menambah kegembiraannya. Senantiasa ia bersukacita: “Krishna, kau sungguh hebat! Kau dapat memikat hati sekian banyak Gopi.” Tapi, janganlah kau terpengaruh oleh pilihanku… Pilihanku bagiku, pilihanmu bagimu…

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak lagi terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi. Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Dia menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu, Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana…….

……..Bagi seorang Udhava, patung dan wujud seorang avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus dilampaui, dilewati. Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?  ……. “Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna….” Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu. Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lgi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih……………..

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology

http://www.oneearthcollege.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

Neo Feodalisme Di Tengah Bangsa

Budayawan Mochtar Lubis pada tahun 1977 menyampaikan 6 (enam) ciri-ciri manusia Indonesia yaitu: Pertama, munafik atau hipokrit; Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul; Kelima, artistik; dan Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Pada saat ini, tiga dasa warsa sudah berlalu, tetapi nampaknya ciri-ciri tersebut belum banyak berubah juga.

 

Disebutkan bahwa ciri yang ketiga adalah jiwa feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan bahwa nilai-nilai feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di Nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah. Revolusi kemerdekaan sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia, tetapi nampaknya setelah berjalan beberapa lama, jiwa feodal marak kembali. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif karena seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka selalu benar dalam setiap tindakannya. Mereka tidak berani menyangkal walau perbuatan atasan salah. Sifat feodal juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang setara derajatnya dengan manusia lainnya. Seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan walaupun alasannya benar. Tidak didengarnya suara masyarakat bawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Kini bukan raja lagi yang feodal, tetapi sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur, anggota dewan yang terhormat dan lain-lainnya.

 

Seorang anggota lembaga negara bersikukuh akan membubarkan institusi pengawasan, mungkin karena institusi tersebut telah berani memanggil para pimpinannya. Para anggota lainnya mungkin juga ada yang tersinggung dengan institusi yang seakan-akan dianggap bawahan tetapi berani mengutak-utik mereka. Pokoknya karena kedudukan mereka tinggi, maka mereka tak mau disalahkan. Bahkan waktu itu ada suara sebagian mereka akan ngambek tak bekerja, walau rumor tersebut tak dilaksanakan. Secara peraturan memang institusi tersebut diperbolehkan memeriksa………. Seorang anggota lembaga negara yang lain dalam suatu sidang juga mengusir seorang pejabat negara karena yang diundang dalam dengar pendapat tersebut adalah atasan pejabat tersebut…….. Kita yakin mereka paham bahwa sok kuasa itu tidak benar, mereka pasti mafhum bahwa para diktator yang paling berkuasa pun akhirnya jatuh. Akan tetapi mereka tidak bisa merasa bahwa mereka sudah bertindak sok kuasa. Para leluhur mengkritik para pemimpin seperti itu dengan nasehat “Rumangsa bisa nanging ora bisa rumangsa”, merasa mampu namun tidak bisa merasa bahwa dia sebenarnya tidak mampu. Mereka telah memberlakukan kasta dan yang setingkat dengan mereka adalah pucuk pimpinannya. Dan wakilnya tidak selevel dengan mereka………. Bila demikian masyarakat itu levelnya dimana? Banyak sekali kata-kata para petinggi yang menyepelekan suara rakyat. Seorang pimpinan lembaga menolak diadakannya survei untuk mengetahui respon masyarakat soal pembangunan gedung baru, karena menganggap hanya orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa nggak bisa dibawa……

 

Dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002 disampaikan……… Pembagian masyarakat dalam empat kelompok – para cendekiawan, para pegawai negeri, para ekonom dan para pekerja atau buruh – merupakan suatu eksperimen yang hanya dilakukan oleh masyarakat India kuno.  Kelak pengelompokan ini akan disebut kasta oleh orang-orang asing, padahal istilah asalnya adalah varna atau “pengelompokan berdasarkan tugas/sifat/potensi”. Kshatriya biasanya diterjemahkan sebagai “satria”, “pendekar” atau “prajurit”. Terjemahan itu tidak tepat. Kelompok Kshatriya adalah kelompok ”pegawai negeri”, baik yang sipil maupun yang militer……….. Pada jaman Mahabharat, sekitar 3.000 tahun S M, sistem ini berjalan baik. Vyaasa atau Abiyasa dalam pewayangan Jawa adalah anak di luar nikah dari seorang wanita penjual ikan dan dari golongan (kasta) Shudra, yang sekarang disalahartikan sebagai golongan terendah. Namun, karena bijak, Abiyasa anak di luar nikah dari kasta Shudra mendapat gelar “Jagad Guru” – guru sejagad. Ia yang menulis epos besar, epos terpanjang dalam sejarah manusia: Mahabharat. Ia pula yang mengedit dan mengumpulkan Veda.……….. Baca selebihnya »

Ibunda, Ibu Pertiwi Dan Bunda Ilahi, Sebuah Renungan Di Hari Ibu

Ada sebuah kenangan indah tentang almarhumah ibunda sewaktu kami masih kecil. Beliau selalu berpuasa di saat kami dan saudara-saudara kami menghadapi ujian sekolah. Beliau selalu mengingatkan kami untuk bangun pagi, jangan sampai keduluan matahari agar murah rejeki. Dan beliau memberi contoh bangun pagi dengan menanak nasi dan mempersiapkan sarapan bagi putra-putrinya. Setelah semua putra-putrinya berangkat sekolah beliau akan ke pasar berbelanja dan pulang ke rumah memasak lauk-pauk untuk persiapan makan siang. Beliau tidak akan makan siang lebih dahulu sebelum putra-putrinya pulang sekolah. Beliau menunggu putra-putrinya makan siang lebih dahulu. Pekerjaan rutin tersebut tidak pernah membosankan beliau.  Mungkin beliau mencontoh sifat air yang tak pernah bosan dalam rutinitas membersihkan segala sesuatu sejak zaman dahulu sampai akhir zaman. Beliau memberi semangat agar putra-putrinya mau minum jamu pahit, orang yang berani melakoni kepahitan hidup akan sehat sentosa di akhirnya, demikian nasehat beliau…… Doa dan kasih seorang ibu yang tulus memperkuat energi dalam diri seorang anak.  Ibu adalah sumber keberadaan kita di dunia dan pemelihara kehidupan kita sampai kita dapat mandiri.

Kata mutiara “surga berada di bawah telapak kaki ibu”, mempunyai kaitan erat dengan seorang  “ibu”. Akan tetapi ada ibu lain yang berada di bawah telapak kaki ibu kita, yaitu Bunda Bumi. Kita mempertahankan hidup dengan sari-sari makanan dan oksigen yang kita peroleh dari Bunda Bumi. Pakaian kita, rumah kita, kendaraan kita, perlengkapan kerja kita, semuanya disediakan oleh Bunda Bumi. Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh Bunda Bumi. Kasih Bunda Bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Enam milyar manusia, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar, trilyunan tanaman, semuanya dihidupi dengan makan dan nafas oleh Bunda Bumi. Ibunda yang mengandung kita, yang menyebabkan kita ada di dunia pun dipelihara oleh Bunda Bumi. Bunda Bumi adalah pemelihara kehidupan kita semua. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang berada dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang terkait langsung dengan diri kita yang menghidupi kita dan memelihara diri kita, diri putra-putri Indonesia. Sebenarnya Pertiwi adalah sebutan bagi bumi dari kata Prthvi, putri Prthu. Dalam kisah Srimad Bhagavatam disebutkan bahwa Prthu adalah raja bumi yang amat bijaksana yang bisa menaklukkan bumi sehingga bumi menyediakan diri untuk melayani makhluk hidup yang tinggal di atas dirinya.

Ada satu ibu lagi, Dia yang memberikan kehidupan, yang memberikan zat hidup kepada semuanya. Tanpa kehidupan semua segera didaur ulang oleh alam semesta. Alam semesta pun ada karena Dia. Bunda Ilahi adalah yang memberi kehidupan ini. Orang bisa menyebut Bunda Ilahi dengan berbagai nama, seperti yang telah diajarkan kepadanya tentang nama sebutan terhadap-Nya. Akan tetapi sebagai sumber kehidupan, tak ada salahnya menyebut-Nya dengan Bunda karena kasihnya yang tak  terkira kepada kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita dapat diibaratkan debu dari kaki Bunda Ilahi yang mewujud untuk memelihara dan mengasihi diri kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita adalah wujud kasih dari Bunda Ilahi terhadap kita. Semua makhluk menjadi hidup karena karunia kehidupan dari Bunda Ilahi. Menghormati Bunda Ilahi dilakukan dengan jalan melayani kehidupan semua makhluk (yang sama-sama hidup karena-Nya). Baca selebihnya »

Virus Ketidakjujuran Melanda Bangsa, Masyarakat Putusasa Menanti Epidemi Mereda

Seorang teman mengambil contoh kisah Bharatayuda untuk mencari pembenaran terhadap ketidakjujuran yang dilakukan dirinya. Dia mengambil contoh Raja Yudistira dari Pandawa yang terkenal sebagai kesatria paling jujur. Yudistira telah melakukan ketidakjujuran karena mengikuti nasihat Sri Krishna dengan mengatakan kepada Pandita Drona bahwa Aswatama benar-benar mati. Panglima Korawa dalam Perang Bharatayuda tersebut menjadi frustasi dan putus asa dan dapat dibunuh dengan mudah oleh Drestadyumna. Padahal faktanya yang mati adalah Gajah Aswatama dan bukan Aswatama putra Pandita Drona. Persoalan kejujuran sudah muncul sejak awal peradaban awal manusia. Teman tersebut lupa bahwa Korawa telah berpuluh-puluh kali berbuat tidak jujur dengan menipu Pandawa. Sri Krishna berpihak kepada dharma, mendukung kebenaran, dan tanpa ketidakjujuran tersebut Pandita Drona tak dapat dikalahkan, sehingga Korawa akan menang  serta adharma akan merajalela. Teman tersebut perlu merenung, apakah tindakan ketidakjujuran yang dilakukannya apakah untuk menegakkan dharma kebenaran atau untuk menuruti nafsu pribadinya yang tidak pernah puas?

Kami ingat sewaktu sekolah di SMP ada seorang guru matapelajaran Civics, sekarang dinamakan Kewarganegaraan atau PMP atau sudah diganti apalagi. Sang guru hanya membenarkan definisi seperti apa yang tertulis dalam buku. Memang definisinya baik sekali, tetapi panjang dan sulit dihapal. Melihat teman yang kurang pintar “nyontek” dan gurunya tidak perhatian, maka teman sekelas melakukan tindakan yang sama……… Kita masih kerap mendengar pada waktu Ujian Nasional, guru-guru di pelosok berada dalam keadaan dilema. Pengawasan ujian diketati, akan banyak peserta ujian yang tidak lulus. “Nggak nyontek nggak lulus” karena cara pemberian matapelajaran yang tidak baik, nyontek berarti melakukan ketidakjujuran.

Seorang pegawai negeri rendahan mendapatkan uang kesejahteraan dari bossnya, dan tanpa kesejahteraan tersebut sulit bagi dirinya menyekolahkan putra-putrinya. Dia “diam” saja apakah uang kesejahteraan tersebut berasal dari hasil ketidakjujuran dalam mengelola negara atau tidak? Seorang pengemudi yang sedang dinas ke luar kota melewati garis marka dan dihentikan petugas. Apakah dia akan bertindak jujur membiarkan dirinya ikut sidang pengadilan seminggu kemudian yang merepotkan atau damai-damai saja?……… Seorang murid sekolah menyontek demi nilai tujuh, tetapi sesudah dia bekerja hasil ketidakjujurannya bukan berupa nilai tapi segepok uang, mana tahan? Ketidak jujuran sudah melanda ke seluruh lapisan masyarakat, baik di pendidikan, di bidang usaha, di eksekutif, di legislatif, di yudikatif. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.