Mutiara Quotation Buku The Gita of Management

Judul : THE GITA OF MANAGEMENT Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2007

Tebal : 336 halaman

 

Mutiara Quotation Buku The Gita of Management

 

Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga. Berbasiskan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kita kemenangan, dan orang modern dengan antusias menerapkannya dalam bisnis.

Sun Tzu adalah sebuah kemerosotan dari kebijaksanaan klasik, dan kita perlu naik kembali ke ketinggian itu: Kebijaksanaan Sri Krishna. Untuk itu, buku ini akan memandu pendakian Anda.

Zaman telah berubah, Para eksekutif bisnis kini meninggalkan ajaran seni perang Sun Tzu… Era ketika Gordon Gekko, tokoh dalam film Wall Street, dengan bangga mengutip Sun Tzu telah pudar. Bhagavad Gita menggeser posisi The Art of War sebagai referensi manajemen.

 

Sun Tzu adalah masa lalu manusia. Krishna adalah masa kini dan masa depannya. Sun Tzu masih terjebak dalam kegelapan pikirannya sendiri. Cahaya lilin itu tidak mampu menerangi keseluruhan mind-nya. Krishna adalah Cahaya Matahari yang mampu mengubah pikiran menjadi kesadaran. Adalah energi dari cahaya itu yang menjadi gizi, menjadi vitamin, dan kemudian mengubah sifat pikiran yang keras menjadi lembut.

Sun Tzu adalah anak tangga pertama dalam kehidupan manusia. Karena itu, jangan membenci dia, tetapi juga jangan terikat padanya. Keterikatan kita akan membuat kita berhenti pada anak tangga tersebut, tidak maju-maju. Krishna adalah perjalanan dan pendakian kita saat ini. Krishna adalah anak-anak tangga yang tengah kita tapaki dan akan kita lewati.

 

BUKU PERTAMA

 

Perbandingan antara Sun Tzu dan Krishna:

 

Ide-Ide:

Sun Tzu: Bagi Sun Tzu, kemenangan harus menjadi tujuan utama. Memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur.

Krishna: Dalam Bhagavad Gita, kebijaksanaan Krishna lebih terfokus pada pikiran dan tindakan, bukan pada hasil.

Tentang Insentif Finansial:

Sun Tzu: Rakus itu baik. Agar termotivasi, pasukan harus melihat adanya keuntungan jika berhasil mengalahkan musuh. Bagilah hasil rampasan dengan rekan sejawat dan anak buah. Berikan bagian dari daerah jajahan kepada mereka.

Krishna: Rakus itu buruk. Jangan pernah melakukan sesuatu hanya karena imbalan. Tindakan yang dilakukan hanya demi hasrat duniawi akan berujung kegagalan. Lakukan sesuatu dengan baik. Dengan demikian, hal-hal yang baik akan menjadi kenyataan.

Tentang mengelola bawahan:

Sun Tzu: Bersikaplah keras. Sun Tzu menuntut disiplin tangan besi, jika Anda memanjakan anak buah dengan bersikap terlalu baik dan tidak mempertahankan otoritas, mereka tak akan berguna dalam mencapai tujuan praktis apa pun.

Krishna: Bersikap adil. Pemimpin yang toleran dan berwawasan sejatinya penuh belas kasih dan tidak egois. Mereka memperlakukan semua orang dengan setara. Pengikut akan mendukung dan mengikuti teladan mereka.

Tentang Inisiatif:

Sun Tzu: Hanya menyerang jika mungkin menang. Yang lebih baik lagi, bermanuver untuk menang tanpa bertanding. Jika peluangnya buruk, mundur dan tunggu peluang lain. Kampanye yang lama akan menguras sumberdaya dan membuat anda jadi rentan.

Krishna: Beraksi dan bukannya bereaksi. Aksi seorang pemimpin saat ini dapat menjadi karma yang memengaruhi statusnya pada masa mendatang. Para pemimpin mencapai kesempurnaan dalam beraksi.

Tentang tujuan akhir:

Sun Tzu: Taklukkan musuh. Perang adalah fakta penting dalam kehidupan yang tak dapat diabaikan oleh penguasa yang bertanggungjawab. Menang menuntut taktik pintar dan dalam beberapa kasus, tipu muslihat.

Krishna: Temukan kesadaran yang lebih tinggi. Para pemimpin mesti memandang masalah dalam konteks yang besar. Tunjukkan sensitivitas pada banyak pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, pegawai, mitra dan masyarakat.

Krishna memahami betul bahwa Sun Tzu juga masih dibutuhkan dalam dunia kita. Dalam suatu masyarakat di mana hukum rimba masih berlaku, Sun Tzu adalah cahaya lilin yang dapat menerangi rimba itu. Krishna memahami waktu sebagai kontinuitas. Apa yang disebut masa lalu tidak terputuskan dari masa kini. Apa yang disebut masa depan juga terkait dengan masa kini, walau tidak atau belum nampak, bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu.

 

Bab Pertama: Lying Plans atau Pengaturan Siasat.

Ada 5 hal utama yang menurut Sun Tzu harus diperhatikan sebelum perang:

  1. The Moral Principles atau Landasan Moral, seperangkat nilai yang mendorong rakyat untuk untuk berada dalam kepatuhan pada penguasa, mengikuti perintahnya tanpa memikirkan keselamatan nyawa mereka, dan tidak berani menolak perintahnya. Seorang Sun Tzu sangat disukai oleh para Hitler dan Mussoulini. Ia akan disukai oleh keluarga raja-raja di Timur Tengah yang ingin berkuasa untuk selamanya. Penggilasan terhadap para demonstran di Tiannamen Square telah mematahkan semangat rakyat China untuk berjuang demi keadilan. Mereka sudah tidak mengharapkan keadilan lagi. Mereka tidak memikirkan demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi. Mereka hanya memikirkan sepiring nasi, secangkir teh, papan untuk perlindungan, dan sandang supaya tidak telanjang.

  2. Heaven atau Langit – yang dimaksud adalah faktor waktu. Ini oke, kita harus tahu kapan mesti bertindak, kapan tidak.

  3. Earth atau Bumi adalah faktor tempat. Sebelum berlaga di medan perang, kita harus memahami medannya. Sebelum memasuki wilayah musuh, kita harus mengerti tentang wilayah itu. Fine, ini pun oke.

  4. The commanding personnels atau para pelaku – integritas, keberanian, ketepatan, kebijaksanaan, serta kecerdasan mereka yang menjadi komandan sudah pasti menentukan hasil perang.

  5. The administration atau kemampuan para komandan untuk memerintah pasukannya. Di sini Sun Tzu menjelaskan inti pemikirannya dalam satu kalimat pendek yang sangat mengesankan: Warfares are based on deception.

 

Kiranya jelas sudah kebijakan Sun Tzu, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Seorang pengikut Sun Tzu tidak boleh memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Marahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya. Pertanyaannya: apakah hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara?

Kehancuran industri kita dan ketergantungan kita pada impor dari China adalah keberhasilan Cina dalam melakukan strategi Sun Tzu. Bagi Sun Tzu, nilai persahabatan dan kemitraan tidak berarti apa-apa. Ia melihat potensi permusuhan dalam diri setiap orang, apalagi dalam diri orang yang kuat dan aman. Baginya, seorang tetangga yang kuat, aman, apalagi kaya dan sehat, berpotensi untuk menyerang kita. Maka kita harus mempersiapkan diri. Tidak boleh terlena.

Cara pandang Sun Tzu ini sangat materialistis. Seluruh perhatian dia terpusat pada fisik, raga, jasmani. Ia tidak bisa melihat kekuatan jiwa. Karena itu, berkorban dan pengorbanan adalah kata-kata asing baginya. Sun Tzu tidak menasehati kita untuk menyadarkan si arogan, tetapi justru untuk memicu arogansinya. Pokoknya lawanmu harus celaka. Tidak perlu disadarkan. Untuk apa? Biarlah dia mampus sekalian.

 

Bab Kedua: Waging War atau Memulai Peperangan.

Prajurit harus didorong untuk membunuh dengan membakar emosi mereka (provokasi) dan mendapat untung dengan menjarah. Seorang teman bercerita tentang pengalamannya selama mengikuti program kaderisasi. Para kader dikarantina dan dibuat lelah dengan berbagai macam cara, kemudian diindoktrinasi. Otak yang lelah, mind yang lemah memang gampang dipengaruhi. Ini adalah fakta psikologi. Untuk melelahkan otak dan melemahkan mind, cara yang mereka gunakan sungguh jitu: membuat mereka berdoa selama berjam-jam, mengulangi mantra, atau berzikir selama berjam-jam, dan kegiatan lainnya yang semua diberi warna religius. Dengan cara itu, tercipta zombie-zombie yang penuh dengan rasa benci. Kemudian, kebencian terhadap kelompok-kelompok tersebut ditanam dengan berbagai cara:

  1. Tidak membaca literatur apa pun, termasuk koran, yang dianggap bertentangan dengan doktrin yang telah ditanamkan dalam otak mereka.

  2. Saat makan pun, mereka disuruh membayangkan seolah sedang mengunyah kepala lawan mereka.

  3. Membenci setiapang yang berbeda pandangan.

Sadar atau tidak, orang-orang seperti ini adalah pengikut setia Sun Tzu.

 

Bab Ketiga: Strategy to Victory atau Siasat untuk Meraih Kemenangan.

Seorang pemimpin dengan pengetahuan yang cukup tentang lawan dan tentang keadaannya *kekuatannya/kemampuannya) sendiri, sudah pasti menang. Kemungkinan menang bagi orang yang tidak memiliki referensi yang cukup tentang lawannya tetapi tahu persis tentang kemampuan dirinya adalah 50%. tetapi, ia yang tidak memiliki referensi tentang lawannya dan tidak mengetahui kemampuannya sudah pasti kalah.

Para bijak di wilayah peradaban kita menempatkan pengetahuan tentang diri diatas segalanya. Dengan mengenal diri, kita mengenal Tuhan. Mereka mengatakan bahwa penaklukan panca indera itulah penaklukan yang berani.

 

Bab Keempat: Strength atau Kekuatan.

Seorang ahli dalam militer terlebih dahulu akan memastikan bahwa dirinya tidak rentan terhadap serangan. Setelah itu, baru mengambil tindakan untuk mengalahkan lawannya.

 

Bab Kelima: Moment atau Waktu.

Seorang jenderal yang ahli dalam bidangnya dapat mengelabui lawannya dengan memberi kesan seolah dirinya dalam posisi yang kurang menguntu8ngkan dan lawannya dalam mposisi yang lebih menguntungkan, kemudian, ketika lawannya agak lengah dan merasa puas dengan keberhasilannya, ia akan melakukan serangan besar-besaran dengan sekuat tenaganya.

 

Bab Keenam: Contending for Initative atau Berpacu Menentukan Waktu yang Tepat untuk Mengambil Inisiatif.

Keberadan kita di medan perang yang lebih awal menjadi sangat penting, jika kita terlambat di medan perang, dan kemudian berperang langsung, sebentar lagi pasti capek.

 

Bab Ketujuh: Vying for Superiority atau Berlomba demi Superioritas.

Landasan perang adalah tipu muslihat, dan faktor pendorongnya adalah keuntungan. Menjarah dusun-dusun dan kota-kota musuh yang tertaklukkan dibenarkan. Malah ia menasehati supaya tawanan itu dibagi-bagi. Mau mengaplikasikannya dalam manajemen modern – be my guest, silahkan, monggo,,, asal sadar akan konsekuensinya: Hukum Sebab-Akibat. Hukum Aksi-Reaksi.

 

Bab Kedelapan: Options atau Pilihan-pilihan.

Bersahabatlah dengan para penguasa yang berdekatan (dengan lawanmu). Jika ingin menghancurkan Indonesia, terlebih dahulu bersahabatlah dengan Om Lee di Puri Singa, Bang Mahathir di negeri Jiran, bahkan dengan Bule Howard di Negeri Kanguru dan jangan lupa Tante Aquino di perbatasan sana.

Management by Hostility, Seni Manajemen dengan Bermusuhan – inilah inti ajaran Sun Tzu. Sadar atau tidak, cara inilah yang dipakai oleh Amerika Serikat dalam menangani berbagai kasus di Timur Tengah. Hasilnya dapat dilihat sendiri. Kemitraan atau perselingkuhan antara Paman sam dan beberapa penguasa Arab sepenuhnya berlandaskan materi. Demi keuntungan materi pula, tidak jarang mereka mengabaikan kepentingan rakyat.

 

Bab Kesembilan: Troop Deployment atau Mengatur Tentara.

Jika seorang pemimpin mudah marah-marah terhadap bawahannya, ketahuilah bahwa ia sudah capai dan jenuh dengan perang.

Sesungguhnya induk amarah adalah kekecewaan, ketidakpuasan. Sementara itu, rasa kecewa atau tidak puas lahir dari rahim harapan. Ia lahir dari harapan yang tidak terpenuhi. Jadi urusannya tidak sesederhana capek atau jenuh.

Para komandan atau pemimpin yang bersikap lemah-lembut terhadap bawahannya mesti diartikan sudah tidak percaya diri terhadap superioritasnya dan karena itu sudah tidak layak untuk memimpin.

 

Bab Kesepuluh: Terrains atau memahami Medan.

Pengetahuan yang lengkap tentang lawan dan dirimu sendiri menjamin kemenangan. (Ditambah dengan) Pengetahuan tentang bumi dan langit, kemenanganmu menjadi sempurna.

 

Bab Kesebelas: Positions atau Daerah-daerah Strategis.

Suatu wilayah di mana tiga kerajaan bertemu (sungguh sangat strategis), siapa pun di antara mereka yang terlebih dahulu menguasai wilayah itu akan mendapatkan bantuan dari kerajaan-kerajaan lain.

Pahami strategi ini, maka akan mudah memahami kisah Tiga Kerajaan atau Sam Kok. Pahami Sun Tzu, maka kita akan memahami Kublai Khan, Cheng Ho serta penyuruhnya dan Rezim Komunis yang berkuasa di daratan China. Wilayah Tibet mempertemukan Cina dengan Nepal dan India. Maka, Mao Tse Tung merasa perlu menguasainya. Bahkan, ia berusaha untuk memperbaiki petuah Sun Tzu, maka perbatasan India pun dijebolnya. Nepal dikacau dengan mendanai pemberontak Maois di sana.

Sekarang, mari kita perhatikan posisi geografis kita. Posisi geografis Kepulauan Nusantara atau Dwipantara berada di antara (1) Daratan Asia Tengah yang dulu disebut Chung Ko, The Center, Centrum. (2) Benua australia, dan (3) negara-negara Pasifik. Posisi kita seperti posisi Tibet di utara sana – wilayah strategis di antara tiga kerajaan, dalam hal ini tiga wilayah penting. Karena itu, tidak heran jika sejak zaman dahulu Cina ingin menguasai kepulauan Nusantara.

Kendati demikian, mereka pun sadar bahwa menguasai kepulauan kita dengan invasi militer sudah pasti tidak mungkin. Setidaknya sulit sekali, maka mereka menggunakan cara-cara lain. Di zaman soekarno dulu, mereka berusaha menguasai kita dengan cara invasi politik… ternyata gagal. Sekarang, mereka berusaha menguasai kita dengan cara invasi ekonomi.. dan terbukti cukup berhasil. Kita tidak mau belajar dari sejarah.

Pada masa lalu, para jenderal yang mhir selalu bersedia menciptakan kekacauan pihak lawan. Setelah mereka tertaklukkan, para jenderal ini akan senatiasa menjaga supaya mereka tidak bersatu kembali.

 

Bab Keduabelas: Reconnaisance atau Memata-matai Lawan.

Jika seorang pemimpin tidak memperhatikan para mata-mata, tidak memberi gelar kebangsawanan, mengangkat derajat mereka dan menghadiahi mereka, ia telah bertindak kejam terhadap orang-orangnya sendiri.

 

Bab Ketigabelas: Fire Attack atau Serangan Api.

Seorang penguasa yang bijak dan komandan yang baik akan berhati-hati sebelum melakukan serangan. Ia tidak akan lengasung menyerang jika tidak yakin akan manfaat yang dapat diperolehnya dari serangan itu. Ia tidak akan menyerang jika tidak yakin akan kemenangannya. Ia tidak akan menyerang jika wilayahnya tidak dalam keadaan bahaya.

 

BUKU KEDUA

Sri Krishna: Dulu dan Kini.

 

Seperti itulah keyakinan kita di masa lalu. Praktik agama – itulah keagamaan, religiusitas. Praktik keagamaan atau religiusitas harus mengalahkan upacara agama. Upacara atau ritual-ritual agama mempersiapkan manusia untuk menjadi seorang praktisi agama yang baik. Jika ia mengabaikan praktik agama demi upacara dan ritual, ia belum memahami inti keagamaan.

Diceritakan tentang asal kerajaan Mathura dan cucu pendiri kerajaan yang bernama Kamsa. Devaki adalah sepupu Kamsa, dan Kamsa takut terhadap anak Devaki yang mempunyai hak untuk menjadi raja Mathura, sehingga anak Devaki selalu dibunuh setelah lahir. Diceritakan pula tentang kelahiran Balaraam, yang merupakan telur Devaki yang dibuahi oleh Vasudeva yang dipindahkan oleh tabib ke rahim Rohini, istri Vasudeva yang mandul. Kemudian bayi laki-laki Devaki dan Vasudeva yang lahir sebelum waktunya dan diselamatkan Vasudeva untuk menggantikan anak perempuan Nand dan Yashoda yang sedang lahir. Bayi laki-laki tersebut adalah Krishna. Anak perempuan yang dibawa Vasudeva ke penjara dan dibanting oleh Kamsa berubah menjadi Mahamaya. “Kamsa, aku Mahamaya, Kekuatan Ilahi yang berada di balik setiap adegan kelahiran dan kematian. Ketahuilah, Kamsa, putra kedelapan Vasudeva dan Devaki sudah pindah tempat… dan semua itu terjadi atas kehendakku. Dia selamat bKamsa. Kelak dia akan datang ke Mathura untuk menghabisi riwayatmu, wahai raja yang kejam. Saat itu pula, ia akan membebaskan kedua orangtuanya dan Raja Ugrasena.”

Rasa takut adalah induk yang melahirkan amarah. Seorang pemarah, siapa pun yang dimarahinya, dan dengan alasan apa pun, sebenarnya berada dalam keadaan takut. Ia sudah tidak tahu apa yang mesti dilakukannya, maka menjadi pemarah.

Sesungguhnya, ia kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tidak mampu mengurusi dirinya. Ia pun sadar bahwa dirinya gagal melakukan apa yang semestinya dilakukannya. Ia dalam keadaan kecewa berat. Kecewa pada dirinya sendiri, tetapi tidak mau menerima hal itu, maka ia akan mencari alasan atas kekecewaannya. Ia akan mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Untuk itu, ia akan berbohong, menipu, menyesatkan, malakukan apa saja. Ia menjadi keras. Ia menjadi pemarah.

Amarah adalah benih kehancuran, jika tidak cepat-cepat diurusi, diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat. Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah. Akhirnya, hancurlah kita.

 

Namaste, Sri Krishna.

 

Dengan menangkupkan kedua telapak tangan kita dan menaruhnya di dada, kita menyalami seseorang dan mengucapkan namaste. Arti namaste adalah “Aku Menyalami Ia yang bersemayam di dalam Diri-Mu!”

Balaraam atau sang Kokoh memang sesuai dengan badan bayi yang kekar dan subur itu. Krishna berarti Hitam, Hitam Manis.

Di Vrindavan itulah, Krishna memulai Leela nya, permainannya. Para Gopi dan Gopal yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul danh pindah bersama Nand dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para resi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta.

Ya, mereka lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembab, malah banyak di antara mereka yang jatuh karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guardingand guidng angels – akhirnya mereka sadar bahwa Cinta adalah aksara terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna.. apa saja yang dapat dimaknai dan diartikan.

Mereka pun menunggu hingga berabad-abad untuk memandang titisan Cinta di mayapada, di dunia manusia… Ya, kelahiran seorang Krishna selalu ditunggu-tunggu oleh jiwa-jiwa yang sudah cukup berkembang. Konyolnya, banyak di antara mereka kemudian lupa lagi. Mereka menyia-nyiakan kesempatan yang sudah mereka nantikan sendiri. Lihat saja, ada lebih dari 100 keluarga di Gokul, tapi hanya 18 yang bergabung dengan Nand dan Yashoda.

Krishna tahu bahwa adalah kepercayaan warga desa secara kolektif yang mendatangkan hujan atau menundanya. Krishna menasehati mereka, Seorang pawang hujan bukanlah dewa, setengah dewa, apalagi Tuhan. Mintalah kepada Dia Hyang Maha Tunggal, maka seluruh kebutuhanmu akan terpenuhi.

Ya, kebutuhanmu… bukan melulu kemauanmu, karena kemauanmu belum tentu dapat membahagiakan dirimu. Serahkan urusan kebutuhan kepada Hyang Maha Mengetahui. Biarlah Ia sendiri yang menentukan apa yang kalian perlukan, karena Dia adalah Hyang Maha Memahami, Maha memberi. Serahkan segala urusanmu kepada-Nya dengan penuh rasa cinta. Jangan takut, Hyang Maha Mencintai tidak membutuhkan apa-apa. Dengan mencintai-Nya, kalian akan mengenal cinta. Dan, cinta itulah kehidupan.

Intisari Bhagavad Gita

sesuai dengan Kesadaran-’ku’ Saat Ini

 

Ketika saya membaca Bhagavad Gita dan merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala sesuatu yang lain menjadi sangat tidak berarti. (Albert Einstein, Saintis).

Setiap kali keraguan menghantui diriku, setiap kali kekecewaan menatap wajahku, dan aku tidak melihat setitik pun terang harapan, aku berpaling kepada Bhagavad gita dan menemukan ayat yang dapat menghiburku, dan langsung saja di tengah duka sepedih apa pun, aku tersenyum kembali. Mereka yang melakukan perenungan terhadap Gita akan selalu menemukan makna baru dan keceriaan baru setiap hari. (Mahatma Gandhi, Nasionalis India/Pemimpin Dunia).

Setiap pagi aku menyirami intelekku dengan filsafat kosmis Bhagavad Gita yang sungguh indah – literatur modern kita menjadi sangat tidak berarti jika dibandingkan dengannya. (Henry David Thoreau, Pemikir Barat).

Pengaruh Bhagavad Gita terhadap jiwa umat manusia sungguh luar biasa, khususnya dalammenerjemahkan devosi kepada Tuhan dalam bentuk karya nyata.( Dr. albert Schweitzer, Pemikir Barat).

Bhagavad gita adalah kitab suci bagi seluruh umat manusia. Bahkan bukan sekadar kitab, ia adalah sesuatu yang hidup, dengan pesan baru bagi setiap zaman, dan arti baru bagi setiap peradaban.(Sri Aurobindo, Filsuf/Rohaniwan India).

Bahwasanya manusia ibarat pohon yang terbalik (akarnya di atas dan ranting-rantingnya di bawah) merupakan pendapat umum di mas lalu. Kaitannya dengan konsep yang ada dalam Veda dijelaskan oleh Plato dalam Timaeus di mana ia mengatakan… Lihat, kita bukanlah tanaman duniawi, tetapi tumbuhan surgawi. Hali ini menjadi sangat jelas dengan apa yang dikatakan oleh Krishna dalam Bab Kelimabelas Bhagavad Gita. (Carl Jung, Bapak Psikologi Modern).

Bhagavad Gita memberi landasan spiritual bagi keberadaan umat manusia. Ia adalah panggilan (bagi seluruh umat manusia) untuk berkarya dan menunaikan kewajibannya di dunia dengan tetap memperhatikan tujuan spiritual semesta yang jauh lebih penting dan mulia. (Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India).

Kehebatan Bhagavad gita terletak pada kemampuannya untuk menjelaskan kebijakan hidup dengan sangat indah, sehingga filsafat pun berbunga menjadi agama. (herman Hesse, Penulis/Filsuf Jerman).

Saya berhutang pada Bhagavad Gita.. Membaca buku awal peradaban manusia itu, saya seolah mendengar sebuah pesan dari kerajaan di masa lalu – kerajaan yang besar tapi tenang dan damai… Pesan yang disampaikan di masa lalu itu masih mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan masa kini. (Ralph Waldo Emerson, salah Seorang bapak Bangsa AS).

Untuk memahami pesan Bhagavad gita yang begitu mulia dan halus, jiwa kita harus berada pada gelombang yang sama dengannya. (Rudolph Steiner, Filsuf Barat).

Bhagavad gita menjelaskan evolusi batin manusia dengan sangat jelas dan sistematis, evolusi batin yang dapat mengangkat derajatmanusia. Ia adalah intisari dari filsafat perenial yang paling jelas dan lengkap; karena itu, ia penting bagi seluruh umat manusia, bukan bagi India saja. (Aldous Huxley, Filsuf Barat).

Cara untuk menggapai kesempurnaan hidup dengan bekerja tanpa pamrih – itulah yang dijelaskan oleh Krishna dalam Bhagavad Gita. (Vivekananda, Pujangga Besra India yang banyak mengilhami para Founding Fathers Republik Indonesia).

 

Percakapan Pertama: Kegelisahanmu Membuktikan Bahwa Kau Masih Hidup!

Rasa takut bagi Krishna adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi yang panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia mestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya.

Krishna juga tahu bahwa rasa takut disebabkan oleh:

  1. Ketidaktahuan tentang potensi diri, potensi manusia, dan

  2. Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu.

  3. Hilangnya rasa percaya diri.

 

Berarti, rasa takut mempengaruhi tiga lapisan diri manusia.

Pertama: Lapisan Intelegensi, akal sehat atau pikiran yang jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri.

Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu.

Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri.

Dengan hilangnya kesadaran dari ketiga lapisan tersebut, manusia kembali menjadi hewan. Ia kembali menjadi hewan. Ia kembali kepada nalar hewani. Ia menjadi reaktif. Sementara reaksi hewan hanya satu di antara dua: lari atau melawan. Fight atau flight. Jika diserang, seekor hewan biasanya menyerang balik atau melarikan diri. Dia bereaksi cepat. Kemampuannya berpikir belum berkembang. Jika manusia bersikap seperti itu, ia telah menurunkan derajatnya dan kembali menjadi hewan. Seharusnya manusia bertindak responsif, tidak reaktif. Apa yang dianggapnya bahaya barangkali bukan bahaya. Dalam gelap barangkali tali dikira ular. Nyalakan sebatang lilin kesadaran.

Percakapan Kedua: Lampaui Kegelisahan dengan Menemukan Jati Diri.

 

Perang ini bukanlah antara kubumu dan kubu Korawa. Pernag itu bukanlah perang saudara semata. Keberadaan ku di sini, wahai satria, bukanlah untuk mendukungmu, tetapi untuk menegakkan kebajikan, demi keadilan.

Masih ingat tujuan Anda mendalami ilmu ekonomi? Tujuan ilmu ekonomi adalah menyejahterakan masyarakat, dan dalam kesejahteraan masyarakat itulah tersembunyi kesejahteraan diri dan keluarga Anda. Berjuanglah demi orang banyak, demi masyarakat, dan Anda akan memperoleh energi dari masyarakat itu. Energi Anda akan luar biasa.

Krishna tetap berbicara dengan kita, tetapi kita tidak mendengarnya. Kenapa? Karena kita menderita penyakit kufr, penyakit ketertutupan. Kita kafir; hati dan jiwa kita tertutup, maka kita tidak mendengar suaranya. Ketertutupan terjadi ketika kita tidak jujur dengan diri sendiri. Ketika kita mencari pembenaran atas kesalahan dan kelemahan diri.

Kelahiran dan kematian silih berganti. Adegan yang satu berlalu, disusul oleh adegan lain. Kita “tidak dapat” menentukan kelahiran, dan “jangan berharap dapat” menentukan kematian kita.

Para pejabat kita enggan bertindak tegas terhadap kaum radikal yang mengatasnamakan tindakan mereka dengan dogma agama, karena mereka takut dicap “anti agama”. Kaum radikal pun mengetahui persis keadaan ini, maka mereka memanfaatkannya. Sengaja mereka menggunakan atribut, jargon, dan simbol-simbol keagamaan bagi identitas diri mereka. Para pejabat kita lupa bahwa kaum radikal ini hendak merusak seluruh tatanan masyarakat yang telah diupayakan dengan susah payah oleh para founding fathers negeri ini.

Masyarakat adalah nama lain bagi kebersamaan. Mereka yang hanya berpikir tentang diri sendiri atau tentang kelompoknya sendiri jelas belum bermasyarakat. Bagaimana menumbuhkembangkan kebersamaan itu?

Ketakselarasan dengan alam membawa bencana. Ketakharmonisan dengan Keberadaan menyebabkan musibah. Ketidakadilan adalah ketidakselarasan, ketidakharmonisan. Kebatilan adalah ketakselarasan dan ketakharmonisan. Jangan bertindak tak adil terhadap rakyat kecil dan usahawan menengah untuk mencapai target pajak, hanya karena mereka lemah; hanya karena mereka dapat diintimidasi dan ditakut-takuti. Kejarlah para koruptor besar. Jangan membiarkan para pengkhianat bangsa, kaum radikal, dan orang-orang ekstremis melecehkan hukum, hanya karena Anda membutuhkan suara atau tenaga mereka dalam pemilihan umum yang telah Anda lecehkan pula maknanya.

Pikirkan arjuna, pikirkan siapakah dirimu sebenarnya? Adakah kebenaran lain di balik lapisan-lapisan kepribadian yang dapat terkupas kapan saja? Ya, ada! Itulah jiwamu, aku-mu yang sejati.. Aku yang saat ini berbusana badan. Aku yang kelak meningglkan busana badan, dan badan akan mengalami kematian, tetapi sang aku tidak ikut mati bersamanya.

Aku itu, jiwa itu, kau Arjuna, kali ini lahir dalam keluarga satria. Ini bukan suatu kebetulan, Arjuna. Ya, kelahiranmu, kelahiranku, kelahiran kita di Indonesia pun bukan suatu kebetulan. Kau telah memilih kelahiran ini. Di antara kita, ada yang mengingat pilihannya, ada yang tidak, karena ada yang memilih dengan penuh kesadaran, ada juga yang memilih tanpa kesadaran. Mereka yang memilih dengan kesadaran akan mengingat tugasnya dalam hidup ini. Mereka akan mengingat kewajiban mereka terhadap bangsa dan negara ini. Mereka yang memilih tanpa kesadaran lupa. Mereka tidak ingat, maka mereka tidak melakukan apa yang semestinya mereka lakukan.

Seorang wakil rakyat berada di senayan karena mewakili rakyat. Kemudian, setelah berada dalam gedung itu, ia memagari dirinya. Pagar gedung pun diamankan dengan kawat berduri. Ini gejala apa? Setelah terpilih oleh rakyat, karena rakyat, dan untuk rakyat, para wakil ini malah memisahkan diri dari rakyat.

Pertanyaan Arjuna adalah pertanyaan kita. Bagimana Krishna, bagaimana mendengarkan suara hati? Kita perlu waspada, jangan-jangan apa yang kita anggap suara hati selama ini sesungguhnya bukan suara hati. Itu baru tuntutan pikiran dan perasaan. Mereka bergabung untuk menciptakan kebisingan di dalam diri. Kemudian, kebisingan di dalam diri itu membuat kita menjadi berisik. Dan, selama kita masih berisik, suara hati tidak terdengar. Karena itu tenang dulu…. Dalam keadaan tenang itulah, suara hati baru terdengar jelas.

Pertanyaan bagaimana menenangkan diri, supaya suara hati terdengar jelas? Pertanyaan ini selalu muncul karena ketololan kita dalam memahami mekanisme badan. Perhatikan napas, detak jantung, denyutan otak kita. Dalam keadaan tenang, napas kita teratur, detak jantung harmonis, berirama; dan denyutan otak menjadi sangat pelan. Sebaliknya, dalam keadaan tidak tenang napas kita tidak teratur. Detak jantung tidak harmonis. Iramanya kacau. Denyutan otak menjadi liar. Untuk menenangkan diri, aturlah napas. As simple as that! Tarik napas dan buang napas pelan-pelan… selama 10 menit saja, maka kita menjadi tenang.

Musim silih berganti, air laut pun mengalami pasang dan surut. Pengalaman manusia pun mirip dengan apa yang dialami oleh alam. Dalam peng”alam”an manusia itu, tersembunyi segala hukum, peraturan, dan kaidah alam. Alam tidak selalu memperoleh. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan kepadanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai pemberi. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya lewat alam.

Jika kita pun belajar untuk memberi tanpa mengharapkan imbalan, persis seperti yang dilakukan oleh alam, kita menjadi alami. Pengalaman kita menjadi sangat mirip dengan apa yang dialami oleh alam. Kita akan bersinergi dengan alam. Dan, saat bersinergi itu, terjadilah ledakan dahsyat: Kita tercerahkan. Saat itu, kita menemukan jatidiri kita, Eh, ternyata…! Tiba-tiba kita tersadarkan, tercerahkan bahwa keberadaan kita di sisni untuk menikmati, untuk merayakan, untuk menggunakan dan meneruskannya kepada orang lain – bukan untuk memiliki. Alam terlalu besar sekaligus terlalu halus untuk dimiliki. Kebesarannya tak tergapai, kehalusannya tak tersentuh. Apakah kita dapat memiliki angin? Apakah kita dapat menyimpan sinar matahari? Apakh kita dapat mengurung sinar bulan di dalam kamar kita?

Bhagavad tidak setuju dengan monopoli atau kepemilikan tunggal. Ia berpihak pada kolaborasi, kerjasama, atau yang disebut gotong royong oleh para founding fathers kita. Kolaborasi tidak diatur atas landasan yang kuat menentukan syarat, tetapi atas landasan kesetaraan yang bersifat spiritual, bukan materiil. Kesetaraan yang tidak tergantung pada pemicu-pemicu di luar diri, tetapi pada kesadaran rohani di dalam diri. Banyak pemicu di luar yang senantiasa berupaya untuk mengelabui dan menjauhkan diri kita dari kebenaran. Harta berusaha meyakinkan kita bahwa kau lebih kaya dari orang lain atau sebaliknya. Pendidikan dan pengetahuan sebagi pemicu untuk mengelabui kita, kau pintar, dia bodoh atau sebaliknya. Demikian pula dengan kedudukan, status sosial dan lain sebagainya.

Krishna mengajak Arjuna untuk merenungkan: Semua itu menjadi milikmu setelah kelahiranmu, setelah segala jerih payah dan interaksimu dengan dunia. Semua itu merupakan pemberian masyarakat. Adakah sesuatu di dalam dirimu yang tidak merupakan pemberian?

Arjuna, jati dirimu adalah sesuatu yang riil, sesuatu yang berarti, sesuatu yang sudah ada sejak keberadaan dirimu. Ia bukanlah pemberian dunia; bukanlah pemberian masyarakat. Alihkan kesadaranmu pada jati dirimu, maka kau akan terbebaskan dari pengaruh-pengaruh yang tidak berarti.

Karena pergaulanmu dengan mereka yang memikirkan materi, kau telah melupakan jati dirimu yang adalah energi murni.

Bias, kita bisa menghindari pergaulan. Adalah interaksi atau hubungan dengan dunia yang tidak dapat dihindari. Dan, interaksi atas hubungan dapat dibatasi sebagi interaksi atas hubungan saja. Tidak perlu dilanjutkan menjadi pergaulan.

Kata kunci dalam ajaran ini adalah pengendalian diri. Selama ini, kita menjarah bumi. Kita mengeksploitasi dan memperkosanya demi keuntungan materi. Jika diterjemahkan dalam keseharian hidup, pengendalian diri berarti kepedulian terhadap lingkungan, terhadap flora dan fauna, terhadap sumber alam, terhadap dunia, terhadap alam. Hanyalah pengendalian diri yang dapat menyelamatkan dunia kita. Tanpa pengendalian diri, dunia ini akan hancur, tenggelam, binasa, lenyap.

 

Percakapan Ketiga: Berkaryalah tanpa pamrih!

 

Kita sudah tidak berkibalt pada Kebenaran, pada Allah yang Maha Benar dan Maha Baik adanya. Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadapi Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri, keluarga dan kelompok sendiri.

Bagaimana mempraktikkan pengendalian diri. Jika kita tidak berinteraksi engan dunia? Lagi pula apakah kita dapat menghindari interaksi dengan dunia? Pengendalian diri menjadi berarti jika berada dalam keadaan di mana kita bisa lepas kendali. Keadaan sepert itu tercipta ketika kita berinteraksi dengan dunia.

Lalu penemuan jati diri.. Apa yang akan kita lakukan setelah menemukannya.? Penemuan jati diri pun menjadi berarti jika kita memanfaatkannya dalam dunia ini – di tengah kegaduhan dan kebisingan dunia.

Krishna juga berpesan, Berkaryalah sesuai kodratmu. Berarti, berkarya sesuai kemampuan, potensi dirimu. Dan, kemapuan serta potensi diri itu dapat dikembangakan, dapat diperbaiki, dapat ditingkatkan, dipertajam. berkaryalah.

Bekerja dan berpikir bukanlah suatu water tight compartments – dua kotak yang sama sekali terpisah. Seorang pemikir juga bekerja. Berpikir pun merupakan pekerjaan. Dan, seorang pekerja mesti berpikir pula. Pekerjaan tidak dapat dipisahkan dari pikiran.

Bukan hasil akhir, tetapi cara untuk melaksanakan tugasmu dengan baik! Berkaryalah tanpa pamrih! Slogan ini khas Krishna. Lewat slogannya ini, ia membuktikan keyakinannya pada Hukum Alam: kebaikan sudah pasti berbuah baik.

Apapun yang kita lakukan, mari kita lakukan dengan semangat menyembah, kita lakukan sebagai wujud penyembahan kita kepada Dia Yang Maha Kasih dan Maha Agung.

Belajarlah dari alam. Matahari, bulan, bintang, dan air, angin, api, tanah – adakah satu pun di anataranya yang merasa jenuh? Membersihkan, menyejukkan, membasahi dan melarutkan, menghanyutkan – itulah tugas Air. Sudah jutaan tahun ia melakukan hal itu. Apakah ia pernah mengeluh? Bagaimana pula dengan api? Angin, tanah? Hasil bumi tidak ditelan sendiri oleh bumi. Segala apa yang dihasilkannya adalah untuk kita, untuk makhluk-makhluk hidup. Melihat kita bersuka cita, ia pun menari ria. Apakah kau tidak menyaksikan tariannya? Arjuna, seisi alam ini berkarya tanpa pamrih, dan, mereka semua puas. Mereka semua bersukacita. Belajarlah dari mereka!

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik:

  1. Hindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran, tugas, serta kewajibanmu.

  2. Bebaskan dirimu dari harapan, keterikatan, keserakahan, ketamakan, dan lain sebagainya.

  3. Berkaryalah sesuai dengan sifat dan kemampuanmu, serta dengan semangat menyembah.

 

Menghindari keadaan yang tidak menunjang – menyangkut disiplin atau pengendalian diri. Diri dalam hal ini masih terkait dengan lapisan kesadaran jasmani kita. Inilah olah raga dalam arti sebenarnya. Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, dan lain sebagainya berkaitan dengan lapisan pikiran dan perasaan. Inilah olah cipta dan olah rasa. Kemudian, setelah mengolah diri, kita harus terjun ke dunia untuk berkarya tanpa pamrih dengan semangat menyembah. Pun, sebelumnya, sebelum turun ke dunia, kita sudah memahami kemampuan diri. Berkarya dengan semangat menyembah berarti ibadah. Inilah pemahaman Gita tentang ibadah. Krishna tidak menyuruh Arjuna untuk menutup diri dalam kamar. Ia juga tidak menyuruhnya untuk beribadah ramai-ramai di suatu tempat.

Janganlah engkau memasuki suatu bidang yang tidak sesuai dengan keahlian serta kemampuanmu.

Let’s the dead bury their deads, tou follow me, kata Yesus kepada seorang muris. Jika mereka masih mau hidup dalam kematian, tinggalkan mereka dengan segala urusan mereka. Biarlah mereka mengurusi diri sendiri. Ikuti aku jika kau menginginkan hidup dalam keabadian.

Setiap orang yang memperoleh gelar doktor, sesungguhnya dituntut untuk berfalsafah tentang ilmu yang ditekuninya. Jika urusanmu sekadar perut dan tabungan di bank, gelar itu harus kau lepaskan. Kau tidak layak bagi kehormatan seperti itu.

 

Percakapan Keempat: Berkaryalah dengan Penuh Semangat, namun Tetap Santai!

 

Krishna berkarya demi keseimbangan, keselarasan, kesetaraan, kesejahteraan, dan kemakmuran makro; dimana yang mikro terurusi dengan sendirinya. Arjuna hanya memikirkan yang mikro, maka menjadi bimbang, ragu, gelisah.

Sekarang pertanyaannya, kita bekerja untuk siapa? Untuk panca indra dan demi kenikmatannya? Atau untuk Sang Aku Sejati, untuk Dia yang bersemayam dalam diri setiap makhluk? Untuk mencapai kesempurnaan dalam persembahan kita, tingkatkan obyek penyembahan dan persembahan kita. Jika kita berkarya demi bangsa dan negara, apalagi demi dunia, demi kelestarian alam, kita telah berbuat apa yang semestinya dibuat oleh setiap makhluk hidup, oleh setiap orang. Kita telah menyatakan identitas kita. Kita telah memproklamasikan diri kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Semesta! Maka, sejak saat itu, Semesta akan melindungi kita. Kita menjadi tanggung jawabnya.

 

Percakapan Kelima: Berkaryalah tanpa Keterikatan!

 

Tuhan tidak melakukan sin laundering. Ia bukanlah tukang cuci dosa. Ia menyaksikan setiap perbuatan kita. Dan, ia membiarkan Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, Hukum Aksi-Reaksi bekerja terhadap setiap orang tanpa pilih kasih. Jika kita memahami hal ini, terjadilah transformasi… dalam sekejap. Kita memahami tanggung jawab kita atas setiap perbuatan, pikiran, dan ucapan kita. Kemudian, rasa tanggung jawab itu memisahkan diri kita dari masa lalu kita. Kita memulai lembaran baru. Inilah hidup baru, kehidupan baru…. Yesus menyebutnya kelahiran kembali. Memang, sesungguhnya saat itulah, kesadaran jiwa kita baru muncul, baru lahir.

Para nabi mengajak kita untuk mengalami sebelum mati. Apa maksud mereka? Biarlah kesadaran kita yang lama mati. Dalam bahasa Injil, ragi yang lama itu sudah tidak berguna lagi, harus dibuang. Siapkan adonan baru yang masih fresh, segar.

Bagaimana caranya? Pertama, untuk memisahkan diri dari masa lalu – belajarlah untuk hidup dalam kekinian. Caranya mudah, perhatikan napasmu, karena pekerjaan itu tidak dapat dilakukan di masa lalu maupun di masa depan. Pekerjaan itu mesti dilakukan sekarang dan saat ini juga, dalam kekinian. It is a real time stuff. Saat memperhatikan napas, terjadilah perpisahan dengan masa lalu. Kita sudah menciptakan jurang. Jika jurang ini diperdalam lagi setiap hari, kita akan terbiasa untuk hidup dalam kekinian.

Masa lalu tidak pernah hilang. Ia tetap ada di balik jurang kekinian yang mengantar kita pada diri kita yang terdalam. Untuk menggali lebih dalam lagi, bahkan sekadar untuk mempertahankan kedalaman yang sudah tergali, kita harus berjihad setiap hari dan berupaya sungguh-sungguh untuk mempertahankannya. Caranya sama, persis sama seperti ketika kita baru memulai menggali: Tarik napas, buang napas… Perhatikan napas… Ini adalah alat untuk menggali, dan alat itu tetap diperlukan, tetap dibutuhkan. Tidak dapat menggali tanpa alat.

 

Percakapan Keenam: sadari setiap Pikiran, Ucapan, serta Tindakanmu!

 

Krishna pun mengulangi beberapa hal yang telah dijelaskannya dalam percakapan sebelumnya. Dengan cara itulah, seorang Master melakukan pemboran dalam otak kita. Dengan cara itulah, ia menciptakan ruang kosong supaya dapat menampung sesuatu yang baru. Ia membantu kita untuk mengosongkan otak, untuk mempersiapkan diri bagi sesuatu yang berguna, bagi Keberadaan, bagi alam, bagi Tuhan, bagi pencerahan, bagi kesadaran, bagi pemahaman yang betul, bagi pengetahuan yang berguna.

Kata kunci di sini adalah saadhanaa, yang dalam bahasa sufi disebut jihad – upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Saadhanaa atau jihad bukanlah sesuatu yang kita lakukan untuk memperoleh materi.tidak. Untuk itu, silakan berkarya, silakan bekerja, silakan membanting tulang, silakan berkeringatan. Saadhanaa atau jihad adalah upaya sungguh-sungguh untuk membebaskan diri dari ilusi yang disebabkan oleh materi. Untuk melihat kebenaran rohani di balik bayang-bayang jasmani.

 

Percakapan Ketujuh: Terjemahkan Kesadaranmu dalam Hidup Sehari-hari!

 

Percakapan Kedelapan: Kenali Dirimu dan kau akan Mengenal Tuhan!

Adanya ikan-ikan di dalam kolam adalah karena air, tanpa air, tidak ada kolam, tidak ada ikan. Jika ikan kecil memahami hal ini saja, sesungguhnya pertanyaan kedua pun terjawab sendiri. Jalanilah hidup dalam kolam kehidupan ini dengan penuh kesadaran – kesadaran akan jati diri sebagai makhluk air. Itu saja. Tidak perlu apa-apa lagi. Sadarilah hubungan kita dengan air yang ada dalam diri, dan diluar diri. Air yang adalah kebenaran diri kita.

 

Percakapan Kesembilan: Meneropong Misteri Kehidupan

 

Percakapan Kesepuluh: Kemuliaan-Nya dapat Kau temukan di Mana-mana!

 

Percakapan Kesebelas: Mengungkap Misteri Kehidupan.

 

Percakapan Keduabelas: Wujudkan kasih dalam Hidup!

 

Percakapan Ketigabelas: Lampaui Kesadaran Jasmani untuk Menyadari Kehadiran-Nya!

 

Percakapan Keempatbelas: Kenali Alam Sekitarmu!

 

Percakapan Kelimabelas: Manusia Tuhan – Insan Allah!

 

Percakapan Keenambelas: Bertindak Tepat dan Menghindari Ketaktepatan

 

Percakapan Ketujuhbelas: Tidak Sekadar Beriman, tapi Yakinlah!

 

Percakapan Kedelapanbelas: Kesempurnaan

 

 

BUKU KETIGA

 

Trisila Kepemimpinan

 

  1. Sane Leadership – kepemimpinan yang waras sekaligus kewarasan seorang pemimpin: Kesehatan mental adalah syarat mutlak atau ciri utama seorang pemimpin versi Gita. Ia sehat mental. Kejernihan mental ketenangan jiwa atau batin.

  2. Effective and Efficient – efektif dan efisien: menentukan pekerjaan atau usaha yang selaras dengan kemampuan serta keahlian diri. Itulah ciri seorang pemimpin yang efektif. Efisiensi adalah hasil dari produktivitas dan kreativitas. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif dan efisien, keseluruhan energi kita harus terpusat pada pekerjaan kita. Pikiran tidak boleh bercabang untuk memikirkan hasil akhir segala.

  3. Friendly Attitude – semangat persahabatan terhadap klien, rekan kerja, atasan, bawahan, pemerintahan, bahkan lingkungan – terhadap siapa saja.

 

Triwidodo.

April 2008.

Tinggalkan Balasan