Judul : LIFE WORKBOOK, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam
Perjalanan, dan Cara Mengatasinya
Pengarang : Anand Krishna
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2007
Tebal : 314 halaman
Mutiara Quotation Buku LIFE WORKBOOK
Buku panduan ini dimaksudkan untuk lebih membumikan 5 Langkah Menuju Kesadaran yang disarikan dari karya Mahaguru Shankara, karena jalan menuju pencerahan tidak mulus dan tidak mudah. Ada banyak rintangan yang menghadang.
Buku ini dimaksudkan untuk membantu kita mengatasi rintangan yang ada, yaitu 14 kelemahan yang menjadi kendala dalam perjalanan kita menuju puncak ketinggian:
- Naastikyam, tidak percaya diri
- Anritam, bohong, tidak jujur
- Krodham, amarah.
- Pramaadham, abai, tidak peduli
- Dhirgasutram, kebiasan menunda
- Adharshanam Gyaanavataam, sembarangan bergaul
- Alaasya, sikap malas
- Pancha Vraatitam, terbawa nafsu
- Ek Chintanaata-marthaanaam, kurang pertimbangan
- Anartha-Gyeshcha Mantranaam, minta nasehat dari mereka yang tidak kompeten
- Nishchitaanaam Anaarambham, tidak menindaklanjuti perencanaan yang sudah dibuat
- Mantrasyaa-pari-rakshanam, tidak bisa menyimpan rahasia
- Mangaladi Aprayogam, tidak mengindahkan praktik terbaik
- Pratyut-thaanam Cha sarvatah, menciptakan konflik, mencari gara-gara
Disertai dengan bantuan praktik life management, kita akan lebih mudah mengendalikan pikiran dan emosi kita.
Untuk Anda yang belum sempat membaca ulasan terhadap karya Mahaguru Shankara itu, saya ringkaskan lima topik yang dibahas di sana yaitu:
- Kenalilah Dirimu
- Jagalah pergaulanmu
- Pertahankanlah Kesadaranmu
- Tekun dan Bersemangatlah Selalu
- Berkaryalah Sesuai dengan Kesadaranmu
Keinginan supaya pengorbanan kita dihargai itu pun kelemahan. Dan, ketika keinginan itu muncul, kita sendiri sudah tidak sadar lagi. Mulla Nasruddin merasa bahwa apa saja yang dilakukannya itu karena kasihnya, Untuk apa kulakukan semua ini? Untuk kalian, karena aku mengasihi kalian; karena kasihku. Bila kasih bertemu “aku”, tercemarlah kasih itu. “Aku” bak setitik nila yang dapat merusak secawan kasih. Kasih dan pengorbanan berjalan bersama, tanpa gembar-gembor. Bila suara langkahnya terdengar, ketahuilah itu bukan kasih, bukan pengorbanan. Ada Guru yang berani menjadi tidak populis dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan kita. Mereka hanya segelintir saja. Lebih banyak yang mencari aman. Mereka lebih mementingkan popularitas diri. Ketika seorang Guru menunjukkan kesalahan kita, ia tidak bicara tentang kasih dan pengorbanannya. Karena yang dilakukannya sudah bicara sendiri. Ia tidak perlu menegaskan dengan kata-kata.
Kekeliruan besar jika kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia. Dalam satu kelompok saja, pun di bawah bimbingan seorang guru yang sama, setiap orang mengalami evolusi sesuai dengan daya dan upayanya sendiri. Seorang Guru boleh membanting tulangnya, boleh jungkir balik, tapi hasilnya tetap sesuai dengan jerih payah masing-masing murid. Pengetahuan dari seorang Guru adalah input atau masukan. Jerih payah kita adalah proses yang harus dijalani; sedangkan pencerahan adalah output atau hasil.
Seseorang yang terbebani dengan pengetahuan tentang jiwa, meremehkan badan, pikiran dan perasaan. Ia menerjemahkan meditasi sebagai keadaan mati rasa. Seseorang yang terbebani dengan pengetahuan tentang pencerahan menganggap dirinya sudah tercerahkan, dan menghentikan segala daya upaya yang seharusnya ia lakukan untik memperoleh pencerahan itu. Memperoleh pengetahuan tentang pencerahan tidak sama dengan memperoleh pencerahan. Setelah memperoleh pencerahan, daya upaya sangat dibutuhkan, untuk mempertahankan perolehan kita itu.
Bila tak tercerna dengan baik, apa yang kita makan justru menjadi racun dan merusak seluruh jaringan di dalam tubuh. Proses pencernaan itulah yang mengubah makanan menjadi energi dengan by product ampas yang harus dibuang. Pengetahuan yang diperoleh dari Guru pun menghasilkan ampas pikiran dan perasaan lama yang harus dibuang jauh-jauh. Pikiran dan perasaan itu adalah bagian dari masa lalu yang harus keluar dari sistem kita. Satu virus yang bersarang di dalam komputer kita merusak seluruh data yang ada di dalamnya. Satu pikiran lama cukup untuk merusak seluruh program baru yang diterima dari guru.
Para guru menunjukkan kesalahan dan memberi tahu cara untuk menghindari atau mengatasinya, namun kita tetap masih harus bekerja sendiri. Kita sendiri yang harus menghindari dan mengatasinya.
Memang betul, pikiran dan perasaan seorang juru masak adalah energi yang dapat mengalir lewat kedua tangannya saat memasak. Tetapi, memikirkan makanan dan kesehatan hingga tingkat paranoid adalah penyakit, yang dalam bahasa medis disebut hypocondriac.
Menundukkan kepala adalah mutlak, karena hanya dengan cara itulah kita dapat menundukkan aku jasmani. Tapi, menundukkan kepala saja juga tidak penting, kecuali untuk menjadi kambing. Membuka diri terhadap apa yang kita peroleh dari seorang Guru tidak kalah penting. Dengan cara itulah kita menambah wawasan, menjernihkan pikiran dan melembutkan perasaan. Apa yang hendak saya sampaikan adalah susu murni yang btelah saya terima lewat cawan guru saya. Kini, saya haturkan susu itu untuk Anda, semoga Anda merasakan apa yang telah saya rasakan. Semoga Anda memperoleh manfaat yang sama.
Kenalilah Dirimu!
Dandamis mengenal dirinya. Ia tahu dirinya. Wahai Alexander yang Agung, kau tidak tahu dirimu siapa.
Bila kau lapar, kau akan mencari makanan. Setelah makan, rasa laparmu hilang. Bila kau haus, kau mencari minuman. Setelah minum rasa haus pun hilang. Kenapa? Karena, keinginan-kinginan itu sangat alami. Setiap keinginan alam dapat dipenuhi dengan cara alami pula. Sekali terpenuhi, kau pun merasa puas. Persis seperti ketika kau lapar dan haus. Tapi, Alexander, keserakahan manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Tidak pernah hilang. Dengan melayani keserakahan itu, kau menjadi semakin serakah.
Keserakahan kita menyebabkan kegelisahan; dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun harta; tidak dapat diobati dengan memperluas wilayah kekuasaan, tidak dapat diobati dengan menaklukkan orang lain. Belajarlah, wahai Alexander, untuk menaklukkan dirimu sendiri, untuk menaklukkan keserakahan yang bersarang di dalm dirimu. Itulah raksasa yang harus kau usir dari batinmu.
Bebaskan diri dari cengkeraman pikiran, dari perbudakan oleh mind, maka kita pasti tersadarkan akan hakikat diri kita. Guru Besar Shankara mengingatkan kita: Pengetahuan belaka tidak mampu membebaskan dirimu dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. Pujilah Govinda, ingatlah pengendalian diri, pengendalian sifat-sifat hewani dan pikiran rendah oleh kesadaranmu! Itulah makna Govinda, Govinda bukan sekadar nama, bukan sekadar sebutan bagi sifat ilahi di dalm diri manusia – yaitu, pengendalian diri.
Aku Siapa?
Kita perlu menemukan jatidiri kita supaya kita tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain tentang diri kita. Kita pantas mendengarkan pendapat mereka agar bisa memperbaiki diri. Memperbaiki diri pun karena kehendak diri kita, karena kita menyadari kesalahan kita, karena kita melihat kebenaran di balik pendapat-pendapat itu.
Seseorang yang terlalu cepat terpengaruh oleh pendapat orang lain tentang dirinya, tidak memiliki energi untuk mengubah diri. Ia menjadi lemah. Belajarlah dari pendapat orang untuk memperbaiki diri, tetapi pendapat orang tentang diri kita itu harus kita cerna dulu.
Apa yang terpikir sepanjang hidup, itu pula yang terpikir saat ajal tiba, karena kematian adalah perpanjangan atau kelangsungan dari kehidupan. Kemudian ia melingkar lagi dan bertemu kembali dengan titik kelahiran.
Modal Dasar Kehidupan
Bertanya tentang siapa dirinya. Siapa aku?
Life Management
Modal dasar kita.
Pertama: Waktu.
Badan kita terjerat waktu. Kita harus tunduk pada waktu. Waktu adalah kontinuitas. Tidak ada garis jelas yang memisahkan masa lalu dari masa kini, dan masa kini dari masa depan. Untuk menyikapinya, kita perlu selalu mengingat nasihat pujangga besar India yang pernah menjabat sebagai presiden, Prof. S. Radhakrishnan: Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan. Masa lalu sudah berlalu, mau disesali pun percuma. Buatlah rencana untuk masa depan tanpa kekhawatiran. Jangan Gelisah; jangan pula ngebet, seolah kita sedang berpacu dengan waktu, karena kita hidup dalam waktu. Hidup dan berkaryalah dalam masa kini dengan penuh kesadaran. Kita tidak dapat berkarya dalam masa lalu yang sudah berlalu, atau pun dalam masa depan yang belum datang. Kita harus berkarya dalam masa kini. Saat ini adalah saat kita untuk berkarya, untuk hidup danmenghidupi. Gunakanlah saat ini dengan sebaik-baiknya.
Kedua: Ruang.
Sejak kelahiran kita di dunia ini, Keberadaan telah menyediakan ruang bagi kita – bagi badan kita. Ruang ini menjadi milik kita selama persinggahan kita di sisni, dan tak seorang pun dapat merampasnya dari kita.
Ketiga: Napas.
Napas adalah pertanda kehidupan. Selama kita masih bernapas, kita masih bernyawa; selama itu pula kita masih disebut hidup.
Ada yang menempatkan pengetahuan di atas segalanya, seolah pengetahuan adalah modal utama manusia. Saya ingat kembali renungan seorang bulama yang kena stroke dan lupa seluruh isi kitab suci, pada hal sebelumnya ia hafal kitab suci. Falam kegelisahannya itu, ia kena stroke kedua kalinya. Kondisinya makin parah. Akhirnya ia pasrah, Ya Allah, Ya Rabb, kau Maha Tahu. Pengetahuan ku tidak berarti apa-apa.
Keadaan dia tidaklah unik. Kita pun menderita penyakit yang sama. Ia menempatkan pengetahuan di atas segalanya, sementara kita barangkali menempatkan keluarga, atau harta benda, atau ketenaran, atau kedudukan, atau semuanya bersama-sama di atas segalanya. Sama saj, sama-sama bodoh.
Penggunaan waktu.
- Bagilah 24 jam dalam 3 bagian yang sama, delapan jam untuk setiap bagian. 8 jam untuk bekerja, untuk menghasilkan uang bagi diri dan keluarga. Yang penting adalah kreatif bukan produktif.
- Gunakan 8 jam berikutnya bersama keluarga dan untuk pengembangan diri; untuk membaca dan menonton sesuatu yang dapat menambah wawasan. Syukur-syukur bila hal itu dapat kita lakukan bersama keluarga. Dengan demikian, kita mengirit waktu, sehingga sisa waktu dapat kita gunakan untuk sesuatu yang lain.
- Sisa 8 jam untuk makan, minum, tidur, senggama, mandi dan segala hal yang menjadi kebutuhan badan, kebutuhan biologis. Namun, jika kita sudah berusia di atas 40-an tahun, waktu ini pun harus diirit secara bertahap. Sisa waktu ditambahkan pada porsi untuk pengembangan diri.
- Selain itu, kita juga harus membuat jadwal harian dengan cara konvensional. Setiap malam, sebelum tidur, catatlah semua pekerjaan yang mesti dilakukan dan diselesaikan keesokan harinya. Dalam hal ini adalah penting bahwa kita menjaga efisiensi diri. Jangan terbiasa menunda pekerjaan.
Kedua, kesadaran akan ruang.
Ruang terdekat dengan diri kita adalah badan kita. Sadarkah kita akan segala sesuatu tentang badan kita? Tentang kebutuhan, kelemahan dan kelebihan badan kita?
Setiap pagi badan kita membutuhkan energi segar yang hanya diperoleh dari matahari pagi. Sekitar pukul 6 hingga 8 WIB. Gunakan waktu itu untuk berolah raga di pekarangan rumah atau untuk jalan pagi. Berjemur di bawah matahari pagi selama 150 menit setiap minggu akan memperbaiki fungsi sumsum. Akibatnya, produktivitas dan kualitas darah akan meningkat.
Ketiga, pengaturan napas.
Jika pikiran kita kacau, emosi sedang bergejolak, napas pun menjadi kacau. Sebaliknya, dalam keadaan tenang, napas ikut menjadi tenang. Dengan menggunakan reverse theory, kita akan mengatur napas, supaya pikiran ikut teratur.
Setiap menit kita bernapas kurang-lebih 25 kali. Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak, napas ikut menjadi kacau. Napas kita menjadi 24-32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Kreativitas adalah hasil pikiran yang tenang, jernih dan emosi yang stabil.
Seekor kera bernapas 32-36 siklus per menit, maka ia tidak sekreatif manusia, padahal anatomi otaknya tidak jauh berbeda dengan anatomi otak manusia.
Kurangi siklus napas Anda, maka Anda dapat menambah tingkat keberhasilan Anda.
Keberhasilan:
- Keberhasilan Anda dalam hal pengendalian diri itulah Keberhasilan Utama.
- Keberhasilan Anda tidak berarti jika Anda merayakannya sendiri. Rayakan keberhasilan Anda tidak saja dengan mereka yang telah membantu Anda meraih keberhasilan, tetapi juga bdengan mereka yang tidak atau kurang berhasil.
- Dengan membantu mereka yang kurang atau tidak berhasil, Anda melipatgandakan keberhasilan Anda sendiri.
- Keberhasilan tidak dapat diukur dengan materi. Keberhasilan harus diukur dengan roh: apakah jiwa anda bahagia?
- Bertambahnya kenikmatan dalam hidup tidak membuktikan keberhasilan. Bukti keberhasilan adalah ketika Anda dapat berbagi kenikmatan dengan siapa saja.
- Keberhasilan yang Anda raih dengan menggagalkan orang lain bersifat semu, dan tidak akan bertahan lama.
- Berkarya terus tanpa dipengaruhi oleh keberhasilan maupun kegagalan itulah Keberhasilan Sejati yang berarti.
- Keberhasilan bukanlah pengakuan dari dunia; keberhasilan adalah kepuasan diri.
- Jika keberhasilan Anda tidak membuat Anda gelisah dan ikut prihatin terhadap mereka yang tidak, belum atau kurang berhasil, maka Anda belum berhasil sebagai manusia.
Langkah Kedua. Jagalah Pergaulanmu.
Right Company.
Mengenal diri adalah pekerjaan purna waktu, full time job. Untuk itu, kita membutuhkan support group yang sangat kuat, tidak bisa setengah-setengah, yang dapat menunjang perjalanan, pekerjaan, perkembangan kita. Inilah yang disebut right company. Dan, right company tidaklah saqma dengan good company. Kita boleh bergaul dengan orang-orang baik, tetapi bila mereka tidak menunjang kesadaran, pergaulan itu belum bisa disebut right company. Pergaulan kita belum tepat.
Di satu pihak kita jengkel terhadap kaum Yahudi, karena ulah mereka terhadap saudara-saudara kita. Di lain pihak, para pencetus hukum-hukum dasar di dunia ini hampir semuanya orang Yahudi:
- Nabi Musa menempatkan Hukum di atas segalanya; dan dia dalah orang Yahudi.
- Nabi Isa menempatkan cinta di atas segala-galanya; dia pun orang Yahudi.
- Freud menyimpulkan seks berada di atas segala-galanya; dia orang Yahudi.
- Einstein merumuskan bahwa segalanya itu relatif; dan dia orang Yahudi.
Sidharta Gautama melawan monopoli kaum brahmin atau cendekiawan terhadap kekuasaan, bahkan terhadap agama dan kehidupan sosial. Apa yang dilakukannya tepat, namun barangkali ia pun tidak menyadari konsekuensi dari apa yang diajarkannya. Dari 15 juta penduduk India di zaman itu, hampir 5 juta menjadi bhiksu dan pertapa, dan mereka adalah orang-orang muda dalam usia yang produktif.seluruh tatanan masyarakat menjadi kacau, maka datanglah Vatsyayana dengan Kamasutranya; datang pula Shankara dengan pandangan-pandangannya.
Utang-Utang Manusia
Ada 5 macam hutang atau Rina yang disebut:
- Deva Rina, utang terhadap Dewa. Yang dimaksud adalah kemuliaan, kesadaran, pencerahan karena kata dewa berasal dari Divya, yang berarti yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya.
Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin dapat menyusup kemana-mana. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis.
Belajar dari sifat-sifat alami itu adalah utang pertama yang harus dibayar. Membakar sampah pikiran, menjaga kebersihan diri, kebersihan pikiran dan perasaan, belajar hidup sederhana, ringan dan tidak menjadi beban pada siapa pun juga, menjadi ruang kosong byang akomodatif.
- Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih tepat utang terhadap keluarga. Karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur dan leluhur adalah keluarga.
Dengan meninggalkan rumah, kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan dunia. Hubungan kita dengan dunia tidak pernah putus. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar – dunia ini.
Para Mesias dan Buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka lain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar.
Jadilah seorang pelayan. Layanilah keluarga Anda sebagaimana orang tua Anda pernah melayani anda. Semangat pelayanan inilah yang semestinya berada di balik pelunasan Pitra Rina.
- Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.
Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak.
Nilai kebijakan tertinggi adalah: aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun harus bahagia. Aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.
Kita harus mengembangkan kebijaksanaan di dalam diri, kearifan diri. Demikian, kita baru dapat melunasi utang kita terhadap kebijaksanaan.
- Nara Rina, utang terhadap sesama manusia.
Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia. Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.
- Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya.
Kerjasama
Team-work adalah keharusan, keniscayaan, namun team-work harus terjadi di antara orang-orang yang berkesadaran mirip, hampir sama; dengan tujuan yang jelas dan sama pula. Tanpa kesamaan dan persamaan itu, team-work tidak bisa; tak akan terjadi. Kesadaran anggota satu team boleh plus-minus, tapi tujuannya harus jelas dan sama. Ada 4 hal utama yang mesti dilakukan oleh support group:
- Ia menunjang perkembangan diri kita.
- Tidak mengangkat-angkat kita, sehingga ego kita makin menjadi-jadi.
- Menunjukkan kesalahan-kesalahan kita.
- Membantu kita supaya kita dapat memperbaiki diri.
Jika mmemutuskan untuk berguru, bergurulah pada seseorang yang kita percayai 100%. janganlah berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Kita harus berguru karena kepercayaan kita. Berarti keputusan untuk berguru harus datang dari diri kita sendiri, tidak boleh ada pertimbangan dari luar yang mempengaruhi keputusan kita. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Kita yang mempertimbangkan dan memutuskan.
Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya kita berguru pada jumlah, pada kuantitas – tidak pada guru. Kita tidak memperoleh sesuatu yang berharga.
Dalam tradisi kuno, team work disebut yagya, kadang ditulis jajna. Sebutan yang sama juga digunakan bagi upacara yang melibatkan banyak orang. Jika hanya melibatkan seorang diri atau anggota satu keluarga saja, upacara itu disebut homa – persembahan.
Langkah Ketiga, Pertahankanlah Kesadaranmu!
Kesadaran dan Kewarasan.
Tanpa kerelaan untuk berkorban – untuk mengorbankan kenyamanan dan kesenangan diri demi kepentingan yang blebih tinggi, lebih luas dan menyangkut banyak orang – kita tak akan mampu mempertahankan kesadaran kita.
Sebab itu, sadarkanlah dirimu, maka seperti yang dikatakan Bernard Shaw, jumalh orang yang tidak sadara di dunia ini akan berkurang satu, yaitu dirimu.
Perubahan.
Coba pikirkan, renungkan sejenak: Untuk menjadi dokter kita membutuhkan belasan tahun di sekolah dan universitas. Untuk menjadi sarjana daloam cabang ilmu apa saja, kita membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk hal-hal yang menyangkut nafkah dan profesi kita rela mengorbankan sekian tahun. Berapa tahun yang kita cadangkan untuk olah batin? Untuk olah batin kita tidak punya waktu. Kita menginginkan hasil instan. Kenapa? Karena, sesungguhnya kita tidak menghargai olah batin. Kita melakukannya sebagai pekerjaan sambilan. Dalam hati kecil, kita masih belum cukup percaya bahwa olah batin itu perlu, dan jauh lebih penting dari olah-olah batin.
Penyakit jiwa selama berabad-abad, selama beberapa masa kehidupan ingin kita sembuhkan dalam sekejap. Asal selama sekejap itu biarlah terputuskan hubungan kita dengan dunia yang telah membuat sakit. Apa mungkin? Kita tidak bisa bebas dari cengkeraman dunia sekali pun hanya untuk sekejap. Karena sekejap itu terjadi dalam dunia ini, dalam dunia yang sama.
Selama masih hidup, kita semua menjalani terapi rawat jalan. Proses rawat jalan ini berlangsung seumur hidup. Proses rawat jalan inilah hidup berkesadaran atau hidup meditatif.
Arti Kesadaran.
Kesadaran adalah apa saja yang telah kau dengar dan telah kau baca selama ini. Kesadaran juga adalah apa yang sedang kau baca saat ini. Kesadaran adalah apa yang kau baca dan dengar setelah ini. Kesadaran adalah keinginanmu untuk membaca dan mendengar. Kesadaran adalah pertanyaanmu tentang definisi kesadaran.
Psikologi modern masih menerjemahkan kesadaran atau consciousnes, conscious mind sebagai keadaan jaga. Dalam bahasa para resi, lain keadaan jaga, lain pula keadaan sadar. Walau dalam keadaan jaga, perilaku kita masih belum menunjukkan kesadaran.
Kesadaran itu seperti apa? Para resi menjawab dengan sebuah pertanyaan lain, Seperti apakah manisnya gula? Apakah kita dapat menjelaskan manisnya gula?
Ada beberapa ciri yang menunjukkan apakah kita sudah cukup manusiawi:
- Maitri atau persahabatan berlandaskan kasih.
Anjing disebut sahabat setia manusia, tetapi persahabatan itu belum berlandaskan kasih. Persahabatan itu barangkali berlandaskan saling ketergantungan; dan saling ketergantungan menciptakan keterikatan, bukan persahabatan sejati.
Persahabatan antara kita haruslah berlandaskan kesadaran Tat Tvam Asi, aku tidak terpisah darimu. Pada hakikatnya kita sama.. sama-sama makhluk ciptaan Keberadaan. Kesadaran semacam itu kemudian dengan sendirinya mengantar kita pada tahap berikutnya, yaitu:
- Ekta atau persatuan berlandaskan keyakinan pada Tuhan Yang Tunggal Ada-Nya.
Ada sapi berwarna hitam, ada yang berwarna putih, ada pula yang kecoklat-coklatan, tetapi susu yang mereka berikan berwarna sama, putih. Mereka yang melihat perbedaan karena warna kulit sapi, belum mencicipi susu sapi. Mereka belum merasakan manfaat susunya.
Mereka yang menganggap kepercayaannya, agamanya, pahamnya lebih baik daripada kepercayaan, agama dan paham orang lain baru melihat kulit kitab suci. Mereka belum menghayati isinya.
Zat kehidupan yang ada di dalam diri saya bagaikan angin di dalam rumah saya, tidak dapat dibedakan dari zat kehidupan yang ada dalm diri anda.
Zat itulah roh, spirit atau apa pun sebutannya. Pun energi di dalam badan saya tidak beda dari energi di dalam badan Anda.
Kesadaran di dalam diri saya tidak berbeda dari kesadaran di dalam diri anda. Ekam Sad Viprah Bahudu Vadanti – Kebenaran Satu Ada-Nya.
Yesus menjelaskan, Ketika kau memberi makan kepada seorang fakir miskin yang lapar, kau telah memberi makan kepadaku.
Langkah Keempat. Tekun dan bersemangatlah Selalu.
Purusharta.
Ada 4 hal yang layak, patut, dan mesti dikerjakan oleh setiap orang yang masih menganggap dirinya manusia: dharma,artha, kama, dan mokhsa.
Pertama, dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang bpenjahat. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu perputaran roda ekonomi. Bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Kedua, artha atau harta, uang, materi. Carilah harta, kumpulkan uang dengan cara dharma – dengan baik dan tepat tanpa merugikan orang lain.
Ketiga, kama atau nafsu, keinginan. Gunakan harta yang dicari dengan cara dharma itu untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan kita, tetapi jangan lupa menjaga keinginan itu supaya tidak melebihi penghasilan.
Keempat adalah moksha atau kebebasan; juga dapat diartikan pembebasan – yang secara khusus berarti bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Ini adalah tujuan hidup manusia.
Dharma, artha dan kama adalah tujuan-tujuan dalam hidup.mokhsa adalah tujuan hidup, tujuan akhir. Karena itu sesungguhnya keempat hal tersebut saling berkaitan. Yang satu tidak dapat dipisahkan dengan yang lain.
Swadharma.
Menghukum mereka yang bersalah adalah dharma seorang satria. Kau dapat menghukum Ashvathama. Tetapi dharma yang lebih tinggi daripada dharma mana pun juga – dan itu adalah dharma manusia yang menuntut pemaafan. Jalankan dhrmamu sebagai satria dengan mengasingkan dia. Itu pun hukuman. Tidak perlu membunuhnya.
Hubungan kita dengan manusia menuntut kesabaran, dan hubungan kita dengan Tuhan menuntut keyakinan. Dua kata sederhana ini mengatur seluruh kehidupan manusia.
Berhentilah berkhayal.
Tekun dan bersemangatlah selalu, dan untuk itu adalah 3 hal yang mesti diperhatikan, dan dipraktekkan:
- Abhaya, Be Fearless, Do not Fear, Jangan Takut: jangan takut menghadapi kenyataan hidup. Jangan takut menghadapi stress berat, jangan takut memikul beban. Jangan melarikan diri.
- Ahimsa, Do Not Act Violently, Do Not Cause Injury, Jangan Menggunakan Kekerasan, Jangan Menyakiti.
- Asanga, Be Detached, Janganlah terikat pada Sesuatu. Silahkan bersahabat tapi tanpa keterikatan. Berkaryalah, tetapi jangan terikat hasilnya. Layanilah keluarga dan cintailah mereka, tapi tanpa keterikatan.
Keterikatan bukan cinta. Keterikatan menciptakan keinginan untuk memiliki. Kemudian untuk memiliki sesuatu atau seseorang, kita akan melakukan apa saja, dengan membenarkan himsa atau kekerasan.
Kebutuhan Mendesak.
Kebutuhan kita, kebutuhan bangsa yang paling mendesak adalah rasa bangga sebagai anak bangsa, sebagai manusia Indonesia. Berbanggalah sebagai anak Indonesia, karena rasa bangga itu adalah energi. Dengan energi itu kita dapat memberdayakan diri.
Bagaimana mengembalikan rasa bangga itu? Dengan mempelajari sejarah bangsa ini, dengan menggali kembali khazanah budaya kita; dengan menghormati kembali kultur kita; dengan menempatkan jati diri bangsa berdasarkan kekayaan budaya dan kultur itu di atas identitas-identitas tambahan yang kita peroleh dari luar.
Langkah Kelima. Berkaryalah Sesuai dengan Kesadaran.
Membangun tanpa bekal kesadaran.
Seekor burung pun membangun sarang bagi anaknya dengan penuh kesadaran. Ia tahu persis pohon mana yang tidak akan disambar petir. Instingnya sangat kuat. Ia dapat merasakan medan listrik yang berada di bawah pohon, apakah medan itu mengandung petir tidak.
Bekal untuk Berkarya.
- Kerja keras.
- Kita membutuhkan management skill.
- Kekuatan akhlak.
- Keberanian.
- Tujuan yang jelas.
- Dedikasi dan komitmen.
- Communication skill.
- Gotong broyong.
- Intelejensia.
Rintangan dalam Perjalanan.
- Kurang percaya diri.
- Bohong, tidak jujur.
- Amarah.
- Sikap cuek.
- Kebiasan menunda pekerjaan.
- Tidak bergaul dengan para bijak.
- Sikap malas.
- Terbawa oleh nafsu.
- Mengambil putusan sendiri tanpa memperhatikan pendapat dan pandangan para bijak.
- Minta nasehat dari mereka yang tidak berkompeten.
- Tidak menindaklanjuti perencanaan.
- Ketidakmampuan untuk menyimpan rahasia.
- Tidak mengindahkan tradisi atau sistem yang sudah berjalan dengan baik.
- Menciptakan konflik, mencari gara-gara dan menumpuk provokasi.
Dari keempatbelas hal negatif dan harus dihindari itu bisa dirumuskan 6 hal yang positif.
- Menambah wawasan terus-menerus.
- Berkarya dengan semangat gotong-royong.
- Terimalah setiap kritik yang membangun.
- Kaderisasi dan pendelegasian wewenang.
- Kecepatan dalam hal pengambilan keputusan dan bertindak.
- Rayakan bersama keberhasilanmu.
DIarsipkan di bawah: apresiasi buku | Tagged: kesadaran, meditasi, nurani, renungan diri