Judul : MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena
Pengarang : Anand Krishna
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2007
Tebal : 196 halaman
Mutiara Quotation Buku MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena
Buku ini berisi ulasan terhadap Injil Maria Magdalena, pesan Isa, Sang Masiha, kepada Maria Magdalena, yang pernah dicatat oleh para pengikut setia, tapi kemudian hilang selama berabad-abad, sampai ditemukan kembali pada tahun 1896 di Cairo, Mesir. Sebagai naskah yang termasuk Injil Apokrif, Berita Baik menurut Maria Magdalena ini tentu berbeda sekali dengan versi ajaran resmi. Kendati demikian, dan tanpa harus mempertentangkannya dengan ajaran resmi itu, kita bisa belajar banyak darinya, guna memperluas dan memperdalam religiositas kita, karena bahkan Uskup Agung Genoa, Jacobus de Voragine, menyebut Maria Magdalena sebagai Illuminata sekaligus Illuminatrix, yaitu Pribadi yang sudah cerah sekaligus mencerahkan. Kendati demikian, barangkali Anda perlu berkonsultasi dengan pembimbing rohani Anda, untuk memastikan apakah Anda perlu membaca buku ini.
Miriam yang Dicintai-Nya
Yesus, sang Guru, ibarat seorang dokter. Setiap orang yang datang kepada-Nya akan diperiksa satu persatu. Kemudian Ia meracik dan memberi obat sesuai dengan penyakit dan kebutuhan masing-masing orang. Karena itu, obat yang diberikan kepada Petrus, belum tentu cocok untuk Maria atau Miriam. Obat yang diberikan kepada Yudas belum tentu cock untuk Yohanes. Ada kalanya Ia hanya memberi vitamin atau obat penenang kepada para penderita penyakit ringan. Resepnya bersifat umum, seperti obat sakit kepala, obat sakit perut dan sebagainya.
Mayoritas masyarakat dunia sesungguhnya tidak sakit-sakit banget. Mereka membutuhkan obat-obat ringan yang dapat diperoleh secara bebas. Racikan-racikan umum inilah yang kemudian dikumpulkan dalam Alkitab, bagi konsumsi umum. Racikan-racikan khusus di”rahasia”- kan, dalam pengertian “hanya diberikan kepada mereka yang membutuhkannya.”
ada pesan yang diberikan oleh Sang Guru kepadanya yang harus saya sampaikan lewat buku ini. Pesan itu yang pernah dicatat oleh para pengikut setia, tapi kemudian hilang selama berabad-abad, sampai ditemukan kembali pada tahun 1896 di Kairo, Mesir.
Injil Maria Magdalena
Inilah Berita Baik oleh Maria
(Berdasarkan pemahamannya tentang apa yang diterimanya dari Sang Guru, dan saya ulas kembali berdasarkan pemahaman saya tentangnya)
Halaman 1-6: Hilang
Halaman 7, ayat 1-2. Apakah Dunia Benda ini? Apakah ia akan bertahan selamanya?
Selama ini aku percaya pada dunia. Aku bertindak sesuai dengan hukum dan peraturan yang dibuat oleh dunia, oleh masyarakat. Aku berusaha untuk tidak melanggarnya. Aku menjaga keseimbangan antara apa yang disebut duniawi dan ilahi, dan keseimbangan itu kupercayai sebagai agama. Tapi, sekarang…. sekarang aku binging. Melihat kilauan wajahmu, menyaksikan cahaya yang dipancarkan oleh kedua matamu, aku sungguh bingung. Seribu satu pertanyaan muncul dalam benakku. Aku meragukan setiap pengalaman hidupku selama ini. Aku mulai menyangsikan kewarasan diriku sebelum pertemuan hari ini.
Adakah garis pemisah yang jelas antara kebendaan dan kerohanian? Di manakah kebendaan berakhir dan di mana pula kerohanian bermula?
Sesungguhnya si penanya sudah sadar bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya, ia hanya membutuhkan konfirmasi, karena sangat prihatin tentang keberadaan dirinya. Jika dunia ini tidak dapat bertahan selamanya, bagaimana dengan diriku yang hidup dalam dunia ini? Apakah kelahiranku harus berakhir dengan kematian? Itu saja?
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang mematahkan semangat hidup manusia berkesadaran yang tahu bahwa pada suatu ketika dirinya pun pasti mati. Pengetahuan itu, kesadaran itu membuatnya merasa tidak berdaya. Ia mulai berpikir untuk pertama kalinya, Sebenarnya untuk apa hidup ini?
Ayat 3-6. Sang Guru Menjawab: Semua yang terlahir, semua yang tercipta, semua elemen-elemen alami saling terkait dan bersatu antara satu dengan yang lain.
Bagi Sang Guru, baik kelahiran maupun penciptaan adalah urusan alam. Tuhan tidak melahirkan, Tuhan tidak juga menciptakan. Keduanya terjadi karena Tuhan. Elemen-elemen alami yang saling terkait itu pun ada karena Tuhan.
Elemen-elemen alami menjadi saksi akan Keberadaan Tuhan. Alam ini sendiri adalah bukti akan Kehadirannya. Persis seperti sinar matahari adalah bukti akan kehadiran matahari. Matahari tidak perlu melahirkan sinar. Sinar matahari ada karena adanya matahari. Alam ini ada karena Keberadaan Allah.
Api terkait dengan tanah, tanah dengan air, air dengan angin, dan semuanya dengan ruang, ruang kosong.
Ayat 7-10. Semua yang terbentuk akan terurai; segala sesuatu kembali pada asalnya; dunia benda kembali pada asal benda. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!
Lima elemen alami, lima elemen dasar atau pokok tersebut ada dalam setiap benda. Adonan atau campuran mereka yang membedakan satu benda dari benda yang lain.
Apa yang terjadi saat kematian? Proses pernapasan terganggu. Kita tidak dapat bernapas. Sisa napas dalam tubuh kembali kepada asalnya, pada angin, udara dan menyatu dengan alam. Unsur api yang selama ini mengurusi pencernaan, bahkan penglihatan pun kembali pada asalnya, pada elemen api. Tulang-belulang kembali pada tanah. Cairan dalam tubuh kembali pada air. Dan ruang yang selama kita hidup dipakai oleh tubuh menjadi kosong. Apa yang terjadi, jika pada suatu ketika alam atau Maha Alam itu sendiri terurai? Ia pun akan kembali pada asalnya – pada Allah, Tuhan, Gusti, atau apa pun sebutannya. Para ilmuwan menyebutnya Energi.
Ayat 11-13. Petrus Bertanya: Hanya Engkau yang dapat menjelaskan segala tentang elemen-elemen alami dan peristiwa-peritiwa di dunia, beritahulah kami, apakah Dosa Dunia itu?
Barangkali ada yang mencari penjelasan lewat kepercayaan sebagian umat manusia pada reinkarnasi. Oh, itu karena dosa-dosa mereka di masa lalu. Baik, anak-anak itu lahir cacat karena dosa mereka di masa lalu.. dan di masa lalu mereka menikmati hidup atau menderita karena masa sebelumnya…. Ditarik terus ke belakang, kita bertemu dengan Dosa Asal. Petrus, salah seorang murid, mulai menyangsikan cerita tentang Dosa Asal atau Dosa Dunia tersebut. Setiap orang yang percaya pada Cinta dan Kasih sudah pasti menyangsikan cerita tersebut.
Cinta dalah pekerjaan purna waktu. Pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh jiwa yang sudah matang, sudah dewasa. Jiwa yang masih muda, masih kecil, masih bayi, tidak dapat bekerja. Mereka harus belajar berjalan. Untuk mereka, cerita tentang Adam, Hawa dan Ular itu penting. Cerita itu menjadi sarana bagi mereka untuk belajar berjalan.
Petrus telah menundukkan kepalanya. Ia mengaku tidak tahu, maka bertanya. Petrus jelas beda dengan para murid yang merasa sudah tahu semua. Mereka bertanya untuk memperoleh konfirmasi; itu saja. Dan, ketika seorang Guru tidak memenuhi harapan itu, mereka malah balik menyerangnya. aneh!
Ayat 14-19. Sang Guru Menjawab: Dosa itu tidak ada. Engkaulah yang membuatnya ada karena perilaku serta kebiasaan-kebiasaanmu yang tidak selaras dengan alam. (Ketakselarasan) itulah Dosa.
Kesalahan itu tidak ada, kecuali kau berbuat salah. Kekeliruan itu sesungguhnya tidak ada, kecuali kau bertindak keliru. Adanya dosa karena adanya tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Dosa disebabkan ketakselarasan kita dengan alam. Setiap tindakan yang tidak selaras dengan alam adalah dosa. Dosa tidak memiliki eksistensi di luar tindakan kita yang tidak selaras dengan alam.
Dosa = Aku + Tindakan yang tidak selaras dengan alam
Ia mengajak kita untuk memperbarui hubungan kita dengan Tuhan, dengan landasan Cinta, tidak berlandaskan Dosa dan Penyucian Dosa. Perhatikanlah alam sekitarmu. Belajarlah dari alam. Dari bumi yang selalu memberi walau dieksploitasi, diinjak-injak dan perutnya dikoyak-koyak. Ada langit yang selalu mengayomi, menyirami ketika bumi gersang. Ada ruang, angkasa luas di mana bumi kita berputar tanpa henti. Pernahkah mereka menuntut sesuatu darimu? Mereka memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari kita.
Itulah pelajaran utama yang dapat kita petik dari alam: memberi tanpa mengharapkan imbalan, memberi tanpa pamrih. Ketika kita memberi dengan sesuatu harapan, kita sudah bertindak tidak selaras dengan alam.
Pelajaran lain yang dapat dipetik dari alam adalah keluasannya. Langit yang luas, laut yang luas, segalanya luas. Cara berpikir kita yang sempit adalah dosa.
Ayat 20-22. datangnya Kebaikan padamu semata untuk menyelaraskan dan mempersatukan dirimu dengan alam sekitarmu.
Inilah tujuan tunggal datangnya Yesus dalam hidup kita. Dengan cara inilah ia menebus dosa-dosa kita. Ia membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Ia membebaskan kita dari khayalan, dari imaginasi, dari takhayul tentang dosa.
Ayat 23-28. Lalu Dia melanjutkan: (Ketakselarasan) inilah yang menyebabkan penyakit hingga akhirnya kau mati. Semua itu terjadi karena tindakanmu sendiri; tindakanmu pula yang telah menjauhkanmu dari Dia. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!
Ketakselarasan dengan alam membuat kita tidak nyaman, sakit. Ketakselarasan pula yang menyebabkan kalahiran dan kematian. Keselarasan akan membuat kita kekal, abadi – bebas dari kelahiran dan kematian. Keselarasa dengan alam adalah Rencana allah bagi kita – Kehendak Ilahi. Ketakselarasan dengan alam adalah buatan kita.
Halaman 8. Ayat 1-3. Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul dalam tubuh.
Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita. Dan timbul keinginan untuk memilikinya.pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati dan jeroan karena semua itu ada dalam diri kita. Hingga suatu ketika kita jatuh sakit. Karena saat itu kita merasa kehilangan kesehatan.
Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu – keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya.
Ayat 4-6. Aku harus menjelaskan semua ini, supaya kau hidup selaras dengan alam, dan tidak kehilangan keseimbangan.
Alam dengan seluruh isinya sadar akan perannya masing-masing dalam Jagad Raya. Api berperan sebagai penghangat, pembakar, dan ia tidak pernah melupakan perannya itu. Sebagai energi pun menjaga suhu badan kita. Berada di kutub utara, suhu badan kita tidak ikut turun menjadi minus sekian. Apa yang terjadi jika suhu badan kita menjadi minus 50 atau 60 derajat? Kita sudah pasti mati. Begitu juga air, angin, tanah, dan ruang angkasa berperan sesuai dengan tugas mereka masing-masing, sesuai dengan sifat mereka masing-masing.
Ayat 7-10. Dapatkanlah petunjuk dari dalam dirimu sendiri. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!
Apakah kita mendengar suara ketukannya? Kita tidak membutuhkan seorang perantara. Kita tidak membutuhkan seorang perantara. Kita tidak membutuhkan tempat khusus. Kita tidak membutuhkan apa-apa, kecuali diri kita sendiri.
Sesungguhnya diriku dan dirimu sama. Diri kita satu dan sama. Diri, Aku atau Self ibarat aliran listrik yang mengalir dalm diri kita semua. Ia juga ibarat elektro-magnetis di mana kita berada. Mendengarkan petunjuk dari dalam diri berarti menyelaraskan diri dengan alam dan penyelarasan diri dengan alam adalah keseimbangan yang mesti diraih. Gunakan kedua telingamu. Kedua telinga itu diberikan kepadamu untuk keperluan itu. Untuk mendengar petunjuk yang berasal dari dalam dirimu.
Kau berangkali lupa bahwa aliran listrik yang sedang mengalir di dalm dirimu ada di luar juga. Ada energi di dalam dirimu, ada juga energi di luar dirimu. Kita semua sedang berenang dalam Kolan Energi. Ketika air di dalam diri kita berkurang, kita merasa haus dan mencari air. Ketika air dalam pompa sumur kita menyusut, kita harus memancingnya dengan beberapa ember dari luar. Ketika suara dari dalam diri sendiri tidak terdengar, kita harus memancingnya dengan memasukkan Yesus ke dalam diri.
Ayat 11-14. Setelah mengucapkan demikian, Ia Yang Terberkati Menyelami Mereka Sambil Berkata: Damai selalu bersamamu – Semoga kedamaian-Ku muncul dan memenuhi dirimu!
Kumaknai kehadiran sang Guru dalam hidupku bukan untuk menyelamatkan jiwaku, tetapi untuk memberdayakan diriku. Ia senantiasa menuntunku, menasehatiku… Kadang juga menjewer kupingku, meneriakiku, karena aku memang sering bandel, sering bersikap acuh-tak-acuh.
Ayat 15-22. Waspadalah selalu, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkanmu dengan pengakuannya: Ia berada di sisni, atau Ia berada di sana. Berpalinglah selalu pada diri sendiri. Anak Manusia berada dalam dirimu. Carilah Dia di dalam diri, karena Siapa pun yang mencari pasti menemukan-Nya.
Ayat 23-24. Janganlah berhenti; berjalanlah terus untuk menyampaikan berita baik tentang Kerajaan-Nya!
Inilah berita baik. Inilah Injil. Inilah gospel. Berita baik, Injil, Gospel bukanlah kitab buatan manusia yang ada ditangan kita. Injil adalah berita baik tentang Anak Manusia yang berada di dalm diri kita: tentang Kemanusiaan yang adalah cerminan Keilahian Allah. Janganlah berhenti; berjuanglah terus untuk menemukan Kemanusiaan alias Keilahian itu di dalm diri sendiri.
Halaman 9. Ayat 1-4. Selain dari hukum di mana Aku menjadi saksi, janganlah menerapkan larangan-larangan lain. Janganlah menambah sesuatu pada Hukum Taurat, sehingga kau tidak terikat oleh hukum dan larangan semata.
Seorang Yesus menjadi saksi bagi pedoman-pedoman yang bersifat sangat universal, berlaku dalam setiap zaman. Dan menjdi saksi bagi suatu pedoman berarti menerjemahkan pedoman tersebut dalam bentuk kerja nyata dalam keseharian hidup. Pedoman bukan peraturan. Pedoman bersifat universal, peraturan bersifat spesifik.pedoman berlaku sepanjang zaman. Peraturan berubah dari zaman ke zaman.
Yesus menasihati kita untuk tidak terikat oleh hukum dan larangan semata. Tidak berarti Yesus menasihati kita untuk melanggar hukum dan peraturan. Ia menasihati kmita agar kita menjadi sadar. Agar kita berbuat baik bukan karena takut dihukum jika berbuat tidak baik, tetapi berbuat baik karena kita memang baik, karena kebaikan telah menjadi sifat kita.
Ayat 5-11. Setelah mengakhiri wejangannya, Ia pergi. Para murid menjadi sedih, berlinangan air mata, mereka berkata: Bagaimana menyampaikan berita baik tentang Kerajaan Anak Manusia kepada mereka yang tidak percaya? Mereka menghukum-Nya karena hal itu, apalagi kita?
Tidak ada urusan selamat-menyelamatkan. Tidak ada janji surga. Tidak ada apa-apa. Backing dari Sri Paus pun tidak ada. Vatikan belum ada. Gereja belum terbentuk. Rasa takut saat itu sungguh sangat real, sangat menusiawi. Kelemahan mereka masih dapat dipahami.
Ayat 12-20. Lalu Maria berdiri, memeluk setiap di antar mereka, dan mulai berbicara: Janganlah berkecil hati, jangan bimbang, karena Rahmat-Nya akan selalu membimbing dan melegakan kalian. Lebih baik memuji Kebesaran-nya, kareana Ia telah mempersiapkan kita semua untuk (pekerjaan) ini. Dia telah memanggil kita untuk menjadi Manusia Sempurna(=Anthropos, Yunani). Demikianlah Maria membimbing hati mereka untuk kembali pada Kebaikan dan mendalami arti setiap kata yang disampaikan oleh Sang Guru.
Lupakah kita bahwa selama ini kita sudah dipersiapkan untuk tugas ini? Dengan menjalankan tugas ini, sesungguhnya kita tidak membantu orang lain. Kita membantu diri sendiri. Mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya adalah tujuan hidup setiap manusia. Dengan proses inilah kita memanusiakan diri. Dengan cara inilah kita menemukan Sang Anthropops, Sang Manusia Sempurna dalam diri. The Real Superman!
Saat ini Kesempurnaan itu masih berupa benih di dalam diri kita. Benih ini tidak akan tum uh sendiri jika dibiarkan begitu saja. Benih ini bisa mati. Kedatangan Sang Juru selamat adalah untuk menyelamatkan benih ini. Ia mengingatkan kita untuk cepat-cepat mengurusi diri. Untuk mengurusi benih kesadaran di dalam diri.
Apa dan siapa yang mesti kau takuti, jika kau betul-betul ingin menyebarkan kasih? Siapa yang akan melarangmu untuk mencintai tetanggamu, mengasihinya tanpa syarat dan tanpa batas? Siapa yang berkeberatan jika kau melayani anak-anak gelandangan atau para yatim-piatu di panti?
Halaman 10. Ayat 1-6. Petrus berkata kepada Maria: Kami tahu cinta Guru terhadapmu beda dari cintanya terhadap wanita-wanita lain. Beritahulah kami apa saja yang dapat kau ingat Dari apa yang pernah disampaikan-Nya kepadamu. Sesuatu yang kami belum dengar sebelumnya.
Petrus dapat merasakan kekuatan Maria. Ia dapat merasakan kekuatan setiap kata yang terucap olehnya. Ia pun sadar bahwa kekuatan itu karena cinta Sang Guru terhadapnya. Pertemuan antara cinta seorang murid dan seorang Guru melahirkan energi yang sungguh dahsyat. Energi itu dapat mengubah langit menjadi bumi dan bumi menjadi langit. Ya, Energi Cinta itu dapat mewujudkan apa saja. Ia dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada , tidak pernah ada, tiada – Ketiadaan.
Ayat 7-9. Maria menjawab mereka: Baiklah, akan saya sampaikan apa saja yang kalian belum dengar sebelumnya.
Maria sudah bertemu. Ia berada dalam keadaan Pertemuan Abadi. Ia berada dalam alam yang beda dari alam kita. Apa yang terlihat oleh kita sesungguhnya hanyalah bayangan dia. Apa yang tercium oleh kita hanyalah aromanya. Dan, bayangan ini tidak akan ada untuk selamanya. Aroma ini taka akan bertahan lama.
Ayat 10-16. Saya pernah diberkahi-Nya dengan penglihatan dan saya pun menyampaikan kepada Guru: Aku melihatmu,Guru!
Ia menjawab: Terberkatilah dirimu, karena penglihatanmu itu tidak mengganggumu. Di mana ada kesadaran, di sanalah adanya harta karun.
Selama bertahun-tahun kesadaran kita terfokus pada salah satu arah yang menjadi kiblat kita. Dan, sebagaimana dengan penglihatan kita, kesadaran yang terfokus pada sesuatu pun akhirnya membuyar. Saat itulah terjadi peningkatan kesadaran. Kesadaran kita meluas, dan tiba-tiba saja kita lihat kiblat itu berada di mana-mana. Pada saat yang sama kita menemukan jati-diri kita. Kita menemukan sesuatu yang luar biasa. Kita melihat sesuatu yang tak pernah kita lihat. Kita menemukan diri kita dalam pelukan-Nya.
Pada saat itu ada tiga kemungkinan yang umumnya terjadi:
- bunga yang baru saja mekar menoleh ke kanan dan ke kiri, dan melihat bunga lain mekar bersamanya. Ini yang terjadi dengan Guru Nanak, Sang Guru Sejati, dan ia menari ria.
- Bunga yang baru mekar itu melihat bunga-bunga lain yang pernah mekar dan sudah mulai layu.
- Bunga yang baru mekar itu tidak menoleh ke mana-mana; ia memperhatikan dirinya saja..
Sang Guru tersenyum, Maria, kau mengalami apa yang pernah dialami oleh Magadhi – Perempuan Agung yang menolak kerajaan Magadha dan memilih untuk menjadi pengikut Buddha – Amrapali! Sejak itulah sang Guru selalu memanggilnya dengan julukan Magadhi. Perempuan dari Magadha. Saat itu di Timur Tengah tidak ada kota atau dusun dengan nama Magada. Maria sendiri berasal dari kota Bethany. Hingga hari ini pun para teolog masih bingung, kenapa Maria dari Bethany disebut Magdhalena? Apakah Maria dari Bethany dan Maria Magdalena itu satu orang> barangkali mereka dua orang yang berbeda.
Guru bagaikan katalisator, perantara yang ada dan tidak ada. Ia bagaikan awan yang menyebabkan keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan tidak memberi keteduhan, ia tidak membuat teduh; ia menyebabkan terjadinya teduh, keteduhan. Itulah Guru.
Ayat 17-21. Lalu saya bertanya kepada-Nya: Guru, ketika seseorang melihat-Mu dalam penglihatan semacam itu, apakah itu sekadar permainan pikiran, atau betul sebuah penglihatan oleh jiwa?
Mind adalah gudang thought atau satuan pikiran. Kumpulan dari satuan pikiran membentuk mind, mengkristal menjadi mind. Mind penuh dengan unit-unit kecil pikiran, ditambah dengan keinginan, obsesi, ingatan atau memori , imajinasi, dan masih banyak hal yang lain.
Maria memahami seluk beluk mind. Ada seorang wanita yang mengaku menerima wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Kenapa? Karena mind-nya memiliki rekaman tentang Jibril.
Anak-anak kita diracuni dengan memori tentang pertikaian anatar penganut dua agama, maka bertahun-tahun kemudian pun, memori tersebut masih bisa di-recall bersama racun dan kebenciannya. Dan, dengan sangat mudah anak-anak itu bisa disulap menkadi zombie, alat pembunuh, teroris.
Ayat 22-25. Sang Guru Menjawab: Penglihatan semacam itu bukanlah permainan pikiran, juga bukan karena jiwa. Ia disebabkan oleh Kesadaran yang mengendalikan keduanya.
Halamam 11-14 hilang.
Halaman 15. Ayat 1-12. Dan, Keinginan berkata: Saya tidak melihatmu jatuh, sekarang kau (mengaku telah) bangkit kembali. Kenapa berbohong, bukankah kau milikku?
Sang Jiwa menjawab: Kau tidak melihatku, kau tidak mengenaliku, tapi aku melihatmu. Bagaikan busana, aku bersamamu selalu. Kau saja yang tidak merasakanku.Setelah berkata demikian, Sang Jiwa pun berlalu dengan penuh suka-cita.
Dialog ini terjadi dalam Lapisan Kesadaran kedua, lapisan di mana keinginan berkuasa. Lapisan sebelumnya adalah Lapisan Gelap Thoughts atau Satuan Pikiran.
Kegelapan pada Lapisan Pertama ini disebabkan oleh satuan-satuan pikiran yang terlalu banyak, rapat, padat, dan njlimet. Persis seperti awan gelap yang menutupi matahari atau bulan. Sesungguhnya awan gelap itu tidak dapat menutupi matahari atau bulan; ia hanya membatasi pandangan kita, sehingga kita tidak dapat melihat apa yang ada di baliknya.
Dalam keadaan gelap gulita, Sang Jiwa atau Percikan Kesadaran Murni di dalam diri manusia kadang tersandung, jatuh, tetapi ia cepat-cepat bangkit kembali. Kemudian, muncul keinginan untuk cepat-cepat keluar dari kegelapan. Keinginan ini bukanlah jiwa manusia. Keinginan hanyalah salah satu dari sekian banyak lapisan kesadaran.
Sang Jiwa adalah kepala rumah tangga. Kesadaran kita sedang melewati setiap kamar. Kadang kita berada dalam kamar anak, dan kamar ini memiliki daya tarik tersendiri. Kita tidak ingin meninggalkan kamar ini. Kamar ini pun seolah tidak rela ditinggalkan.
Banyak orang yang berhenti pada Lapisan Keinginan. Dari pengemis di pinggir jalan yang menginginkan rezeki untuk hari ini, hingga para motivator paling beken dan berpenghasilan ratusan juta kali lipat, semuanya berhenti di lapisan yang satu ini.
Ayat 13-18. Berada pada Alam Ketiga, yang mana adalah Alam Ketidaktahuan, Ketidaktahuan pun menguji Sang Jiwa: Mau ke manakah kau? Dirimu penuh dengan sifat-sifat jahat. Kau tidak dapat melihat kebaikan, karena telah diperbudak oleh kejahaatan.
Ego manusia sungguh luar biasa! Kadang ia mengaku saleh. Kadang ia mengaku jahat. Kadang ia puas dengan satu hal, kadang dengan hal lain. Ego manusia tidak tahu diri. Ia berada dalam Alam Ketidaktahuan. Ia tidak tahu apa yang dapat memuaskan dirinya untuk selamanya.
Ayat 19-25. Sang Jiwa menjawab: Aku tidak menghakimimu, kenapa kau menghakimiku? Kendati terpengaruh (oleh sesuatu), aku tidak mempengaruhimu. Aku tidak dikenali, tetapi aku mengenali diri-sendiri. (Aku tahu) segala sesuatu yang terbentuk akan terurai kembali, baik di bumi maupun di surga.
Tidak, aku tidak lahir dari dosa. Tidak, aku tidak lahir karena dosa. Aku lahir dari Sang kasih, dari Mahadaya Kasih.. aku akan kembali kepada-Nya. Bersama-sama makhluk-makhluk lain, elemen-elemen alami, bulan, bintang, matahari dan jagad raya ini, aku berasal dari Zat yang satu dan sama – dari Hyang Tunggal.
Baik dan buruk hanyalah perasaan sesaat. Suka dan duka adalah pengalaman sesaat. Siang malam, panas-dingin, gugur-semi – tak satu pun yang bertahan selama ini. Kendati demikian, di balik semua ini adalah Kebenaran Mutlak yang selalu ada.. Kebenaran yang melampaui segala penjelasan, tidak ada dalam alam ini, tapi alam ini ada karena-Nya!
Halaman 16. Ayat 1-4. Terbebaskan dari Alam Ketiga, Sang Jiwa melanjutkan pendakiannya dan sampai pada Alam keempat.
Adalah Tujuh lapisan Alam (yang harus dilewatiSang Jiwa): Yang Pertama adalah Alam Kegelapan;
Ayat 5. Kedua, Alam Keinginan;
Ayat 6. Alam Ketiga adalah Alam Ketidaktahuan.
Ayat 7. Yang Keempat, Alam Kecemburuan yang Membinasakan.
Rasa cemburu adalah musuh utama kita. Terdorong oleh rasa cemburu, manusia bisa saling membunuh, saling menjatuhkan. Rasa cemburu membuat kita lupa akan segala kenikmatan yang sudah kita miliki. Kita lupa akan berbagai berkat yang telah kita nikmati. Kecemburuan merampas akal budi kita, mengacaukan pikiran kita, membuyarkan pandangan kita, dan hilanglah kemampuan kita untuk membedakan yang tepat dari yang tidak tepat.
Ayat 8. Kelima, Perbudakan pada Tubuh.
Silakan bertubuh, silakan berbadan, silakan menikmati kepemilikan, tapi jangan menjadi budaknya. Jadilah pemilik, the master of your senses, not the slave. Jadilah raja dari panca indra dan pikiran yang kita miliki, janganlah menjadi budak mereka.
Perbudakan pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makan melulu. Bukan hanya makanan yang masuk ke dalam tubuh kita lewat mulut, tetapi juga yang masuk lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran.
Ayat 9. Keenam, Kebijaksanaan yang Memabukkan.
Istilah kebijaksanaan di sini harus diartikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan yang masih belum berkembang menjadi kesadaran. Pengetahuan yang setengah-setengah inilah yang berbahaya. Pengetahuan seperti inilah yang memabukkan. Para politisi yang btidak berani menolak paham-paham radikal dan ekstrem hanya karena keuntungan sesaat dan kepentingan pribadi atau kelompok adalah orang yang mabuk yang dapat merusak seluruh tatanan masyarakat.
Ayat 10-14. Ketujuh, Kebijaksanaan yang menyesatkan. Inilah Tujuh Wujud Kegusaran. Masing-masing mengejar Sang Jiwa dengan berbagai pertanyaan: dari manakah kau berasal, pembunuh? Kemanakah kau mau pergi, gelandangan!
Kebijaksanaan yang menyesatkan mengintimidasi manusia dengan segala macam siksaan dan penderitaan di neraka; kemudian ia pun menawarkan jasa dan solusi untuk menghindarinya dengan keluarkan tabunganmu!
Ayat 15-19. Sang Jiwa menjawab: Terbunuh sudah ia yang menindasku; lenyap sudah ia yang membelengguku; memudar sudah segala keinginanku; sekarang aku bebas dari ketidaktahuan.
Terbunuh sudah si ego yang selama ini menindasku, aku palsu yang selama ini memperbudak diriku. Lenyap sudah pikiran-pikiran kacau yang selama ini membelengguku. Memudar sudah segala macam keinginan yang selama ini membuat diriku pusing tujuh keliling. Sekarang aku bebas dari ketidaktahuan. Sekarang aku tahu siapa diriku!
Menerima Yesus sebagai putra Allah sungguh sangat gampang. Menerima diri sendiri sebagai putra Allah sungguh sangat sulit. Tanya kenapa? Karena kita takut disalibkan seperti Yesus. Kita takut berkorban seperti Yesus.
Halaman 17. Ayat 1-8. Saya terbebaskan dari dunia berkat dunia lain; sebuah rancangan telah dihapuskan, oleh kebaikan dari rancangan yang lebih tinggi. Selanjutnya aku beristirahat dalam kedamaian, di mana waktu berhenti dalam keabadian; sekarang aku menuju keheningan itu. Setelah mengucapkan semua itu, Maria diam, hening, karena dalam keheningan seperti itulah Sang Guru berbicara kepadanya.
Kita tidak mau melepaskan gundu, karena gundu di tangan kita sangat tangible, nyata, dapat dipegang, diraba, dirasakan. Kenapa aku harus melepaskannya demi surga yang tidak nyata, tidak dapat dipegang, tdak dapat diraba maupun dirasakan?
Bukalah genggam; lepaskan gu du-gundu yang tidak berharga itu.. dan perhatikan alam sekitar. Begitu kayanya alam semesta, dan alam ini diciptakan untuk kita. Kita bisa bermain apa saja, banyak permainan di sini. Kenapa begitu terikat dengan segenggam gundu itu?
Pikiran-pikiran kacau yang saat ini mengkristal menjadi mind harus lenyap dulu. Mind harus gugur dulu. Baru setelah itu kita menciptakan mind baru, yang sesuai dengan kesadran kita, yang tidak terpengaruh oleh masyarakat, tidak terpengaruh oleh buku-buku, tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan oleh orang lain; juga tidak terpengaruh oleh keinginan-keinginan kita yang tercipta dari ketaksadaran kita, dari ketidaktahuan kita; mind yang bebas dari belenggu, free!
Bodhichitta adalah Kesadaran seorang Buddha, kesadaran yang berani, tetapi tidak perlu membuktikan keberaniannya; mind yang tidak lagi membedakan materi dengan energi, dunia benda dari roh; mind yang tidak berkiblat pada arah tertentu, karena ia melihat Wajah Allah di mana-mana.
Ayat 9-13. Lalu Andreas mengatakan kepada saudara lelakinya: Apa yang kau pikrkan tentang kata-katanya itu? Saya tidak percaya bila Guru pernah berkata seperti itu. Apa yang disampaikannya itu sangat berbeda dari apa yang telah kita ketahui.
Andreas tersinggung. Egonya terpukul, karena apa yang disampaikan oleh Maria bukanlah sesuatu yang biasa. Apa yang disampaikannya adalah berita luar biasa. Andreas tidak memahami maksud sang Guru yang disampaikannya lewat Maria. Bukan saja Andreas, para murid lain pun tidak memahami maksudnya. Daftar mereka yang tidak memahami maksud Sang Guru sejak 2.000 tahun yang lalu kian menjadi lebih panjang.
Kematian Yesus di atas salib tidak bisa membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Tidak, never. Kita masih harus bertanggung jawab terhadap setiap kebaikan dan kesalahan yang kita lakukan. Dengan menjadi Kristen, dan menerima Yesus, janganlah kita berpikir bahwa kita bisa melepaskan diri dari tanggung jawab atas perbuatan kita.
Bukalah Perjanjian Baru, Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 14:12, so, then every one of us shall give account of himself to God. Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.
Ayat 14-17. Da, Petrus menambahkan: Bagaimana mungkin Guru menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia dan tidak diketahui oleh kita kepada seorang wanita?
Ego Petrus pun terusik.. ego seorang murid yangvtelah menjadi dasar bagi keamanan kita. Ya, dasar bagi keimanan kita, karena selama ini iman kita berlandaskan pada doktrin, pada dogma tentang Yesus, bukan pada Yesus sendiri.
Ayat 18-20. Apakah kita harus meninggalkan kepercayaan kita, dan mempercayai kata-kata perempuan ini? Apa betul Dia menyayangnya lebih dari kita?
Apakah kita harus meninggalkan kepercayaan kita bahwa materi, benda itu mati dan energi itu hidup? Selama beratus-ratus tahun kita membedakan materi dan energi. Kemudian, Einstein mengatakan, Tidak, keduanya saling terkait. Hukum relativitas mempertemukan keduanya.
Selama bertahun-tahun kita menganggap diri kita beragama, dan orang lain kafir. Sekarng kita mengatakan, Tidak keagamaan dan kekafiran menyangkut kejiwaan dan tingkah-laku manusia. Keagamaan dan kekafiran seseorang tidak dapat ditentukan dan dibuktikan oleh lembaga buatan manusia. Tuhanlah yang maha menetukan dan maha membuktikan, karena Ia maha mengetahui jiwa manusia.
Yesus yang dapat menuntun kita dalam keseharian hidup kita sudah pasti bukanlah Yesus yang mati. Dan yesus yang hidup tidaklah membutuhkan perantara untuk berdialog dengan kita. Ia tidak memerlukan balai pertemuan khusus untuk menyelenggarakan pertemuan dengan umatnya. Ia dapat menemui kita di mana pun jua. Tidak jarang ia mendatangi rumah kita masing-masing, dan mengetuk pintu kita. Sayang, banyak di antara kita yang mendengar ketukan itu, tetapi tidak mau membuka pintu.
Halaman 18. Ayat 1-6. Mendengar itu, Maria menangis dan mengatakan: Petrus, saudaraku, apa yang engkau pikirkan? Kau pikir aku berkhayal atau mengada-ada tentang penglihatanku, dan berbohong tentang kata Guru?
Ayat 7-10. Saat itu Lewi baru menanggapi: Petrus, kamu memang selalu mudah marah. Sekarang, kamu meremehkan kata-kata seorang wanita sebagimana dilakukan oleh mereka yang tidak percaya.
Di zaman itu semua orang tahu bahwa Maria sangat dekat dengan Yesus yang membuat banyak morang cemburu. Ketika ia membasuh kaki sang Guru dengan air matanya, lalu mengeringkan dengan rambutnya, dan meminyakinya dengan parfum termahal di zaman itu yang harus diimpor dari India, banyak yang cemburu. Kecemburuan itu kemudian mereka bungkus rapi dengan berbagai dalil yang masuk akal. Kenapa harus memboroskan uang begitu banyak untuk meminyaki kaki Guru? Kenapa tidak menyedekahkannya kepada fakir miskin? Ah, Yesus lagi… wanita itu kan tuna susila… Nabi koq mau berhubungan dengan seorang wanita tuna susila?
Kita lupa bahwa Yesus datang bagi kita yang sakit. Ia datang untuk menyembuhkan penyakit kita. Seorang wanita tuna susila tidak lebih sakit daripada seorang pejabat tinggi yang korup. Dan, seorang pejabat yang korup tidak lebih asusila daripada seorang agamawan yang mengintimidasi umatnya, kemudian menawarkan solusi, supaya tokonya ramai.
So, Yesus jelas-jelas bukanlah monopoli orang Katolik atau Protestan. Barangkali orang lain, budaya lain, peradaban lain lebih mengenal Yesus daripada saudara-saudara Katolik atau Protestan. Bukan saja lebih lama, tapi mereka mengenalnya lebih dalam, lebih luas.
Ayat 11-14. Bagaimana kau dapat meremehkan dan menolak orang yang dihargai oleh Guru? Guru mengetahui dan mengenalnya lebih baik, sebab itu Ia pun mencintainya lebih dari kita.
Ayat 15-18. Mari kita berpaling pada diri, dan berusaha untuk menjadi Manusia sempurna, sehingga dapat menyadari Kehadiran Guru, dan tumbuh sebagaimana Ia menginginkannya.
Ayat 19-21. Dan melangkah maju untuk meyebarkan berita baik, tanpa menambah satu peraturan, selain apa yang telah disaksikan-Nya.
Halaman 19. Mendengar kata-kata Lewi itu, Mereka semua melangkah maju untuk menyampaikan berita baik. Inilah Injil menurut Maria.
DIarsipkan di bawah: apresiasi buku | Tagged: alam, guru-rohani, kesadaran, meditasi, renungan diri