Judul : Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan
Pengarang : Anand Krishna
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1999
Tebal : 141 halaman
Mutiara Quotation Buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan
Taurat, Injil dan Al-Qur’an merupakan Jari-Jari Allah yang menunjukkan jalan kepada kita semua. Bahkan beberapa butir mutiara di dalamnya akan cukup untuk membekali Anda dalam upaya meniti jalan ke dalam diri, guna menemukan dalam diri Anda sendiri Insan Tuhan.
Reguklah Air Bening Telaga Pencerahan yang akan menghilangkan dahaga Anda dalam kembara hidup ini!
Apabila kita membaca Taurat dan Injil dan Al-Qur’an, dan kita hanya membacanya, tidak menyelaminya, maka yang akan nampak jelas adalah perbedaan-perbedaannya. Selama ini memang itu yang terjadi. Kita hanya membaca, lantas timbul arogansi kelompok, Aku yang tertua, aku yang terbaik. Kelompok lain mengatakan, Aku yang terbaru, aku yang paling kontemporer, paling baik.
Pembaharuan, perubahan dan penyesuaian merupakan hukum alam. Manusia tidak dapat menghentikan putaran roda Sang Kala.
MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN
Perjanjian Lama Ulangan 5:1-22.
Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul kepada mereka:
Apabila Anda puas dengan suatu keadaan, Anda akan berusaha untuk mempertahankan keadaan itu. Jelas bahwa Sang Pangeran, Musa tidak puas dengan segala apa yang ia miliki. Rupanya harta-benda tidak mampu memberi nilai tambah kepada kehidupannya. Ia sudah mencapai titik jenuh. Ia sedang mencari makna kehidupan. Ia ingin menemukan suatu yang lebih berharga daripada kerajaan, kedudukan, kekayaan dan ketenaran.
Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. Ia diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. Ia diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi Ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. Ia ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.
Tugas seorang Musa memang sangat berat. Ia harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan jiwa mereka yang sudah mati.
Tuhan, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeh. Bukan dengan nenek moyang kita Tuhan mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.
Tuhan, Allah atau nama apa saja yang Anda berikan kepada Sang Keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus. Kehidupan berjalan terus. Betapa bodohnya manusia yang mengagung-agungkan masa lalu, peraturan-peraturan yang sudah kadaluwarsa dan tidak berani meninggalkan semuanya itu. Setiap peraturan memiliki masa berlaku. Setiap ketetapan bersifat sangat kontekstual; relevan pada masanya tidak relevan sepanjang masa.
Seorang Musa akan mengalir terus. Ia tidak pernah berhenti. Irama kehidupan seorang Musa harmonis dengan irama Keberadaan. Mendengarkan Suara Tuhan berarti penyelarasan energi Anda dengan dengan Energi Alam Semesta. Keberanian dia menyatakan bahwa Tuhan telah mengikat perjanjian baru dengan mereka yang masih hidup berarti penyelarasan energi anda dengan energi Alam Semesta – merupakan fenomena yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja.
Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
Tuhan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Anda bisa berkonsep ria tentang Tuhan. Anda bisa berfilsafat tentang Tuhan. Apa gunanya? Apakah dengan cara itu Anda bisa merasakan kehadirannya dalam kehidupan Anda sehari-hari.
Apabila Anda belum sadar bahwa sebenarnya Ia-lah Segalanya dan bahwa Anda merupakanbagian dari-Nya setidaknya jadikan Dia bagian dari hidup Anda.
Kita harus bertanya kembali pada diri sendiri: apa yang memperbudak kita? Dan bagaimana Tuhan dapat membebaskan kita? Dan, yang mungkin lebih pentinglagi, apakah kita merasa diperbudak? Apabila kita sudah merasa bebas, kita tidak membutuhkan Tuhan lagi. Saya katakan tidak membutuhkan – ya karena Kebebasan Mutlak itulah Tuhan. Apabila kita sudah memilikinya, kita tidak membutuhkan sesuatu lagi.
Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.
Ia yang menyadari Kehadiran Allah menyadari Keberadaan. Ia tidak bisa menyadari sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang lain itu juga merupakan bagian dari Keberadaan.
Di mana ada cahaya, tidak ada kegelapan. Di mana ada Allah, allah lain tidak akan ada. Apabila Anda meng-allahkan kedudukan, meng-allahkan kekayaan, meng-allahkan ketenaran, ketahuilah bahwa Matahari Allah belum terbit dalam kehidupan Anda. Anda masih hidup dalam kegelapan.
Kesadaran Musa dan Kesadaran Muhammad dan Kesadaran Yesus tidak berbeda. Tidak ada yang kelasnya lebih rendah atau lebih tinggi. Apabila bahasa mereka berbeda, apabila penyampaian mereka berbeda, hal itu disebabkan karena tingkat kesadaran para pendengar mereka.
Anda mungkin seorang doktor, seorang profesor, tetapi sewaktu berdialog dengan seorang anak Sd, anda harus menyederhanakan bahasa Anda. Perbedaan yang terlihat antara Taurat, Injil dan Al-Qur’an, tidak akan terlihat lagi, apabila Anda menemukan esensinya. Selama Anda masih bergulat pada tingkat syariat, pada tingkat peraturan agama, kulit agama, ya, Anda hanya melihat perbedaan saja. Tetapi begitu memasuki esensi Agama, begitu Anda menemukan nilai spiritual yang terkandung dalam agama itu, perbedaan akan lenyap seketika.
Kembali ke Musa. Ia harus menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh para mantan budak itu. Tuhan tidak bisa dipahami dengan menggunakan pikiran, logika atau apa yang Anda sebut akal-sehat. Tuhan harus dirasakan. Untuk merasakan Tuhan, kita harus menggunakan jalur rasa itu sendiri. Kasih adalah rasa. Kelak Yesus akan menggunakan jalur Kasih, Cinta. Tetapi, pada zamannya, Musa tidak akan pernah berhasil, apabila menggunakan jalur kasih. Ia terpaksa menggunakan jalur peraturan.
Orang-orang Israel yang sudah begitu lama diperbudak sudah tidak mengenal kasih lagi. Sesuatu yang harus kita renungkan. Kasih merupakan energi yang bersifatkan expansive – menyebar, melebar. Apabila Anda masih diperbudak, Kasih tidak akan pernah muncul. Kasih dan Kebebasan sebenarnya sinonim – satu adanya. Kebebasan adalah Kasih, Kasih adalah Kebebasan.
Selama Anda masih diperbudak, Anda tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu Anda harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama Anda masih hidup dalm penindasan, Anda tidak bisa mengasihi seseorang, Anda tidak bisa menghormati seseorang.
Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama Anda masih belum bebas, selama Anda masih terbelenggu, selama itu pula Anda masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.
Musa masih sangat relevan. Manusia masih hidup dalam perbudakan. Kadang diperbudak oleh masyarakat, kadang oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, kadang oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Nenek-moyang kita? Warisan budaya kita?
Meditasi membuat Anda sadar akan jati-diri Anda. Kesadaran mengantar Anda ke pencerahan jiwa. Pencerahan jiwa memperluas pandangan manusia. Ia tidak akan berpikiran picik lagi. Pada etape itu, terjadilah dialog antara manusia dan apa yang Anda sebut Tuhan. Bahkan sebenarnya, pada etape itu jiwa menyatu, bersatu dengan Tuhan, dengan Keberadaan, dengan Alam Semesta.pada etape itu, sangat sulit memisahkan manusia dari Tuhan, Tuhan dari manusia. Pada etape itu sangat sulit memisahkan, yang mana kata-kata manusia, yang mana firman Tuhan. Demikian adanya!
BUKU KEDUA
Kerajaan Allah (perumpamaan Yesus dalam Injil)
- Benih dan Tanah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Matius.
Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesuadah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Matius 13:3-9).
arogansi dan kebodohan sebenarnya sinonim. Yang bodoh selalu arogan, yang arogan adalah orang bodoh. Para budak Israel yang dibebaskan oleh Musa dan diajak keluar Mesir masih menyangsikan ketulusan Musa. Mereka bodoh. Sebaliknya, para ahli Taurat yang menganggap diri pandai dan dianggap demikian oleh masyarakat juga menolak Yesus. Karena arogansi mereka.
Kebodohan kita, arogansi kita, membuat kita menjadi mandul. Bibit yang ditaburkan Yesus tidak dapat tumbuh dan berbuah karena arogansi kita.
- Tumbuh dengan Kuasa Allah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Markus.
Beginilah hal Kerajaan allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi; bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba. (Markus 4:26-29).
Bekerjalah, berupayalah – dan serahkan hasilnya kepada Ia Yang Maha Kuasa, jangan menyangsikan kekuasaan-Nya. Bukalah hati Anda, dan benih Sabda allah akan tumbuh sendiri dengan kuasa dari Atas. Orang yang membuka diri terhadap Sabda Pencerahan akan melihat hasil yang luar biasa. Sabda itu penuh kuasa, dan kalau kita menyediakan tanah subur untuknya, kita akan memetik panen melimpah: sabar, damai, welas-asih, bela-rasa dan damai.
- Biji Sesawi dan Ragi. Perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas.
Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Ia seumpama ragi yang diambil seorang permapuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. (Markus 13:18,19 & 21).
- Kasih-Mengasihi. Perintah Yesus dalam Injil Yohanes.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34).
BUKU KETIGA.
Allah dan Insan Allah (Beberapa Butir Mutiara dari Al-Qur’an).
Allah Maha Ada.
Dan kepunyaan allah Timur dan Barat, maka ke mana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah: Ayat 115).
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat.. (Al Baqarah: Ayat 186).
anda tidak harus mencari-Nya. Anda tidak perlu mencari-Nya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran Anda. Sadar akan Kehadiran-Nya, di sini, saat ini. Ia tidak pernah ke mana-mana. Ia Maha Ada. Apabila kita tidak dapat menyadari Kehadiran-Nya, kitalah yang salah. Mungkin mata hati kita tertutup, mungkin pintu jiwa kita terkunci, mungkin batin kita tertidur, sehingga Kehadiran-Nya tidak terasa.
DIarsipkan di bawah: apresiasi buku | Tagged: apresiasi buku, guru-rohani, kesadaran, meditasi, padamu-negeri, spiritual