Niat Yang Luhur dan Energi dari Alam Semesta
Ada seorang Guru Sekolah Dasar yang mengajar demi mencari sesuap nasi dan dia pun sebetulnya tidak begitu menyukai pekerjaannya. Ada seorang Guru yang lain yang menguasai ilmu belajar-mengajar dan bekerja secara profesional. Kemudian ada seorang Guru yang lain lagi, yang berpendapat bahwa tugas mengajar murid Sekolah Dasar ini adalah Panggilan Nurani, Sang Guru ingin membentuk kader-kader bangsa, pekerjaan mengajar merupakan persembahan Sang Guru kepada Ibu Pertiwi. Dengan mengheningkan diri sejenak, kita semua dapat merasakan bahwa energi yang paling besar dimiliki oleh Guru Sekolah Dasar yang terakhir.
Samudera sangat luas, langit, ruang angkasa sangat luas, alam semesta mempunyai karakter yang luas. Niat , tujuan, wawasan yang sempit tidak selaras dengan alam semesta. Bumi menghidupi kita, makanan dan minuman berasal darinya, alat-alat rumah tangga, bahannya diambil darinya. Sering manusia mengkoyak-koyak lapisan bumi untuk mengambil bahan tambang dari perutnya, Sang Bumi tetap lega-lila, ikhlas melayani. Alam semesta hanya memberi dan tidak meminta. Bumi tidak memperdulikan yang hidup di atasnya sekelompok pemabuk atau teroris, dia tetap berputar pada porosnya dan beredar mengelilingi Matahari. Bila bumi beristirahat sejenak, kehidupan akan musnah. Berniat, bertujuan, berdharma-bhakti tanpa pamrih, tidak membeda-bedakan, tidak pilih kasih selaras dengan alam semesta dan energi alam semesta akan mendukungnya.
Bertindak berani penuh kejujuran, bertindak berani atas dasar kebenaran selaras dengan alam semesta dan energi alam semesta pun akan menunjangnya. Menurut Tokoh Humanis yang kami hormati, Bapak Anand Krishna, rasa takut adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi yang panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia mestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Rasa takut disebabkan oleh:
- Ketidaktahuan tentang potensi diri, potensi manusia.
- Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu.
- Hilangnya rasa percaya diri.
Berarti, rasa takut mempengaruhi tiga lapisan diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensi, akal sehat atau pikiran yang jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri. Dengan hilangnya kesadaran dari ketiga lapisan tersebut, manusia kembali menjadi hewan.
Kita barangkali lupa bahwa aliran listrik kehidupan yang sedang mengalir di dalam diri kita ada di luar juga. Ada energi di dalam diri kita, ada juga energi di luar diri kita. Kita semua sedang berenang dalam Kolam Energi. Ketika air di dalam diri kita berkurang, kita merasa haus dan mencari air. Ketika air dalam pompa sumur kita menyusut, kita harus memancingnya dengan beberapa ember dari luar. Ketika suara dari dalam diri sendiri tidak terdengar, kita harus memancingnya dengan memasukkan suara Guru, suara Master, suara sang Bijak ke dalam diri. Menyelaraskan diri dengan alam semesta berarti membuka diri terhadap energi alam untuk masuk ke dalam diri. Tuhan, Allah atau Sebutan apa saja yang diberikan kepada Sang Keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus. Kehidupan berjalan terus. Bekerja dan berupaya – kemudian menyerahkan hasilnya kepada Ia Yang Maha Kuasa, tanpa menyangsikan kekuasaan-Nya. Bila kita membuka diri, Energi Agung akan memenuhi diri kita.
Kita sering tidak sadar banyak pekerjaan kita yang selaras dengan alam dibantu oleh mekanisme alam sesmesta. Sepasang pengantin, berniat membuat keturunan yang saleh, pekerjaan ini selaras dengan alam. Setelah ovum dibuahi sperma maka pekerjaan mengembangkan sel induk, membuat air ketuban, membentuk bakal organ tubuh adalah pekerjaan alam semesta. Karakter yang baik dari calon Sang Bapak dan calon Sang Ibu, sifat genetik mereka, ditambah dengan doa dan tirakat mereka akan membuat alam memilihkan genetik khusus bagi anak yang akan lahir.
Demikian pula yang terjadi pada siklus kehidupan seekor ulat bulu. Seekor ulat bulu berhasrat meneruskan evolusinya, pasrah sepenuhnya kepada alam semesta, berhenti makan dan berhenti bergerak. Alam lah yang kemudian bekerja melalui 2 hormon, hormon remaja dan ecdysonne yang mengatur prosesnya. Bagi mata telanjang, tampaknya organ-organ dan tissue ulat bulu berubah menjadi sup yang tidak berbentuk. Akan tetapi kedua hormon itulah yang memandu perubahan, ada sel yang mati, ada sel yang mencerna diri, ada juga yang menjadi embrio mata, antena dan sayap. Terjadilah transformasi yang luar biasa, ulat yang merambat pelan menjadi kupu-kupu cantik yang dapat terbang.
Kita perlu belajar dari alam. Matahari, bulan, bintang, dan air, angin, api, tanah – adakah satu pun di antaranya yang merasa jenuh? Membersihkan, menyejukkan, membasahi dan melarutkan, menghanyutkan – itulah tugas Air. Sudah jutaan tahun ia melakukan hal itu. Apakah ia pernah mengeluh? Bagaimana pula dengan api? Angin, tanah? Hasil bumi tidak ditelan sendiri oleh bumi. Segala apa yang dihasilkannya adalah untuk makhluk-makhluk hidup. Melihat makhluk hidup bersuka cita, ia pun menari ria. Seisi alam ini berkarya tanpa pamrih, dan, mereka semua puas. Mereka semua bersukacita. Kita perlu belajarlah dari mereka.
Agar tindakan kita selaras dengan alam semesta dan mendapatkan energinya, kita dapat memetik pelajaran dari alam:
- Menghindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran, tugas, serta kewajiban kita.
- Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, keserakahan, ketamakan, dan lain sebagainya.
- Berkarya sesuai dengan sifat dan kemampuan, serta dengan semangat persembahan.
Triwidodo.
April 2008.
DIarsipkan di bawah: keselarasan dengan alam | yang berkaitan: kesadaran, nurani, alam, renungan diri, psikologi
PENGETAHUAN YANG MENGAGUMKAN.
Terima kasih,
Guru dan Alam yang terkembang menjadi Pemandu Handal.