Judul : Neo Psychic Awareness
Pengarang : Anand Krishna
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2005
Tebal : 197 halaman
Mutiara Quotation Buku Neo Psychic Awareness
Ilmu medis memiliki standar tertentu untuk kemampuan persepsi kita. Mata mengandaikan gelombang tertentu. Telinga memiliki skala, sehingga hanya gelombang dengan frekuensi tertentu yang bisa didengar olehnya. Hal yang sama berlaku untuk peraba, penciuman, dan perasa.
Manusia memiliki kemampuan luar biasa, yang dalam diri kebanyakan orang masih terpendam sebagai sebuah potensi. Yang dimaksudkan adalah psychic awareness atau kesadaran psikis. Lapisan kesadaran ini sering dikaitkan dengan sesuatu yang berbau mistis, gaib, dan sering disamakan dengan indra keenam.
Buku ini memaparkan bahwa kita bisa mengembangkan kesadaran psikis tersebut, dan terdapat banyak latihan untuk itu. Dengan latihan tersebut akan terjadi perluasan kemampuan indrawi kita, dan sebagai akibat berkembangnya kesadaran psikis kita, kita akan menjadi lebih intuitif, lebih peka, dan dapat menggeser keterbatasan persepsi indrawi kita yang biasa.
Dengan kemampuan yang baru itu, kita juga diajak untuk membangun Indonesia Baru, mulai dengan dan dari diri kita sendiri.
Lapisan Kesadaran Psikis.
Perkembangan lapisan psikis membuat kita menjadi lebih intuitif. Tetapi intuisi bukanlah indera keenam, ketujuh, atau entah keberapa. Kita memahami intuisi sebagai hasil dari optimalisasi semua indera; perluasan dari indera-indera yang berjumlah lima itu. Perkembangan lapisan kesadaran psikis menggeser standar-standar buatan manusia. Bila dikaitkan dengan indera penglihatan, mata kita menjadi lebih peka dan dapat melihat lebih jauh, atau melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh umum.
Lapisan kesadaran psikis menggunakan energi di dalm diri kita sendiri untuk perkembangannya. Di sinilah letak perbedaannya antara perkembangan kesadaran psikis dan koreksi terhadap indera. Koreksi terhadap indera dilakukan oleh para ahli media dengan menggunakan alat-bantu, obat-obatan dan lain sebagainya. Perkembangan kesadaran psikis dilakukan oleh diri sendiri. Bantuan dari luar dibutuhkan sekadar untuk mengingatkan diri bahwa kita mampu mengembangkan diri. Karena itu, untuk sementara waktu kita boleh mengartikan perkembangan kesadaran psikis sebagai perkembangan diri. Untuk itu, kita harus mengubah mindset kita: Aku bukanlah panca indera, aku bukanlah badan ini. Diriku bersemayam di dalam badan ini dan menggunakan panca indera untuk keperluannya. Silakan menyebut diri ini jiwa, roh, ruh, soul atau apa saja.terserah. Itulah Aku!
Pembersihan Diri
Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran Anda terganggu bila telinga Anda penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila diri Anda penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Karena itu, demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya untuk memfasilitasi perkembangan diri, kita perlu membersihkan diri.
Latihan Pertama hal 4-5.
Pengalaman-pengalaman Psikis.
Kebiasaan dalam keseharian kita, ketenangan kita, cara kita menghadapi suatu situasi dapat memfasilitasi perkembangan psikis, perkembangan diri.
-
Kadang dalam keadaan tidur, kita mengalami perluasan kesadaran tanpa disadari. Kita merasa melihat atau mendengar sesuatu, mendengar sebuah dialog misalnya, kemudian kita terjaga dan pengalaman itu kita anggap sebagai sebuah mimpi. Padahal, apa yang kita lihat atau dengar itu barangkali benar-benar terjadi. Dalam keadaan tidur, jiwa kita dapat menembus batas-batas buatan badan, dapat menembus kesadaran jasmani itu sendiri.
-
Kadang kita mengharapkan hubungan dengan seseorang petinggi atau seseorang yang sulit dijangkau, kemudian terjadi sesuatu atau kita berkenalan dengan seseorang yang dapat menghubungkan kita dengan orang itu, padahal kita tidak melakukan sesuatu, tidak berusaha untuk itu… seolah terjadi begitu saja.
-
Sesungguhnya kita semua pun sering mengalami telepati. Anda mengingat seseorang dan tidak tahu cara untuk mengontaknya…. tiba-tiba orang itu mengontak anda.
-
Pengalaman lain lebih sering terjadi: Di suatu pesta atau di tempat umum seperti mal, Anda memerhatikan seseorang bukan kenalan. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan melihat Anda, terjadi kontak mata. Kejadian yang barangkali sudah sering terjadi seperti ini dapat digunakan untuk melatih kemampuan kita bertelepati.
Latihan Kedua hal 9.
Latihan Ketiga hal 10.
Selain clairvoyance, clairaudience dan telepathy, masih ada yang disebut precognition, melihat sesuatu yang akan datang. Banyak orang menggunakan kemampuan precognition untuk meramal. Mereka malah menjadi peramal profesional dan berjalan di tikungan jalan. Tentu saja tidak setiap ramalan mereka tepat, karena precognition bukanlah kemampuan yang melekat pada diri kita 24 jam sehari. Hanya pada saat-saat tertentu, ketika kita dalam keadaan tenang, kemampuan ini muncul ke permukaan.
Banyak sekali dukunj dan peramal yang bhidupnya tidak tenang. Rumah tangga mereka sendiri berantakan. Dalam keadaan seperti itu, jelas mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan psikis mereka. Bila masih bertahan sebagai dukun atau peramal, sesungguhnya mereka membohongi diri dan masyarakat.
Ada perbedaan yang jelas antara precognition dan mengetahui masa depan. Precognition berarti kita bicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang pasti, sedangkan mengetahui masa depan berarti kita bicara tentang kepastian tunggal.
Otak Manusia.
Dunia medis sudah mengakui kemampuan dan kedahsyatan otak manusia. Diketahui pula bahwa umumnya kita tidak menggunakan lebih dari 5-10% dari kemampuannya. Sisa otak dikaitkan dengan alam bawah sadar.
Kadang kita mengalami sesuatu dan merasakan bahwa pengalaman itu bukan sesuatu yang baru bagi kita… rasanya pernah terjadi, atau setidaknya pernah terpikir sebelumnya; atau pernah terlihat dalam mimpi. Ini yang umumnya disebut sebagai pengalaman deja vu. Bahakan cetak biru keseluruhan hidup kita dengan segala kemungkinannya pun ada di sana. Bahkan, keadaan-keadaan di luar, dalam segala bidang, asal masih ada kaitannya dengan hidup kita, ada pula di dalam cetak biru tersebut.
Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungsi 100%. memang baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, intelegen, makin sharp, makin tajam.
Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang btidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini.
Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Meungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus.
Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang bterjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka.
Latihan Keempat: hal 16-17.
Kesadaran Spiritual.
Sampai kini masih banyak terjadi salah kaprah mengenai arti spiritualitas. Sering kali spiritualitas dikaitkan dengan ritual keagamaan, maka timbul ungkapan seperti Spiritualitas Muslim, Spiritualitas Kristiani, Spiritualitas Hindu, Spiritualitas Buddhis, dan entah apa lagi, sehingga spiritualitas pun terkotakkan seperti halnya agama.
Dengan melaksanakan akidah agama. Anda dapat beragama tanpa harus berspiritual. Kita menjadi orang yang dipandang taat beragama, tetapi spiritualitas kita hampa.
Namun, bila Anda berspiritualitas, perilaku kita biasanya secara otomatis menunjukkan keberagamaan, karena ketika spiritualitas atau perkembangan jiwa diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan sendirinya hidup kita akan memiliki warna dan aroma keagamaan atau religiositas, religiusness.
Ketika keberagamaan di dalam diri kita berbuah, terjadilah perkembangan jiwa. Itulah spiritualitas. Namun, keberagamaan tidak selalu berbuah. Ada kalanya perkembangan jiwa tidak terjadi, walau seseorang sudah menjalani disiplin religi sebagaimana dianjurkan sesuai dengan kepercayaannya. Lahan jiwa yang penuh ilalang kebencian, keserakahan, keangkuhan, keterikatan, dan lain sebagainya, tidak layak untuk ditanami sesuatu. Ilalang itu harus dicabut terlebih dahulu. Lahan jiwa mesti dibersihkan dan dipersiapkan supaya cocok untuk ditanami sesuatu.
Rasa jenuh yang kita rasakan terhadap meditasi atau latihan-latihan yang dapat mengantar kita pada lapisan kesadaran yang lebih tinggi harus dipahami sebagai tarikan dari lapisan kesadaran rendah, karena lapisan kesadaran rendah itu tidak pernah lenyap, ia tetap eksis, tetap ada sebagai kesadaran rendah. Bila sudah memasuki Alam Meditasi, kita akan berada di atas alam pikiran dan perasaan. Rasa jenuh atau rasa apa pun tidak muncul lagi, atau tidak terasakan lagi. Meditasi membebaskan kita dari dualitas, dari segala macam dualitas.tidak ada duka, namun suka pun tidak ada, karenakeberadaan suka akan menghadirkan pula duka dalam hidup kita.
Kebhinekaan atau pluralitas merupakan sebuah bkeniscayaan. Adakah dua orang, dua makh;luk, atau dua helai daun yang persis sama? Sama dalam bentuk, ukuran, sifat hingga jumlah sel dan DNA? Tidak ada. Keberadaan, Tuhan, Allah, atau apa pun sebutan Anda menghendaki kebhinekaan. Tidak memahami Kehendak-Nya sama dengan tidak mampu membaca ayat-ayat-Nya yang bertebaran di mana-mana. Menolak Kehendak-Nya sama dengan menolak-Nya.
Jadi, secara ringkas saya akan mengatakan spiritualitas adalah:
-
Kemampuan untuk melihat Yang Tunggal di balik Kebhinekaan, dan
-
Kesadaran bahwa tidak sesuatu pun terjadi di luar Kehendak-Nya, maka Kebhinekaan pun harus dihargai, dihormati, dan diterima sebagai Kehendak-Nya.
Kita sangat bergairah saat mendalami sesuatu yang baru, namun beberapa lama kemudian kegairahan itu mulai melentur. Dalam kaitannya meditasi, kegairahan awal itu biasanya berlanjut hingga tiga bulan saja. Setelah itu, kita membutuhkan disiplin diri, ketekunan, dan barangkali support group untuk membantu kita bertahan, hingga pada suatu ketika timbul kesadaran dari dalam diri dan kesadaran itu menjadi kekuatan diri kita untuk bertahan.. untuk mempertahankan diri itu sendiri.
Percaya Diri.
Percaya diri tercermin juga pada penerimaan atas kegagalan dan melampaui rasa kecewa yang disebabkannya dalam sekejap. Ia tidak berhenti, tidak pernah berhenti. Ia bekerja terus. Suatu bangsa menjadi besar karena percaya diri bangsa itu sendiri terhadap nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaanya. Krisis utama yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini sesungguhnya krisis percaya diri, krisis spiritual. Kita sudah melupakan nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaan kita. Nilai-nilai luhur itu tidak diimpor dari Barat, Arab, Cina, maupun India. Milai-nilai luhur itu milik kita sendiri, yang kemudian diterjemahkan, dijabarkan oleh para founding fathers kita dalam lima butir Pancasila. Lihat saja apa yang terjadi pada bangsa kita setiap kali kita melupakan nilai-nilai sendiri dan mulai membanggakan nilai-nilai impor yang tidak sesuai, tidak selaras dengan tabiat bangsa kita.
Manusia bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah hasil dari evolusi panjang yang terjadi dalam alam yang tidak diketahui ujung serta pangkalnya, semesta yang tiada awal dan tiada pula akhirnya. Bukan hanya sekadar kepekaan yang harus dimiliki manusia. Ia harus sadar akan jati dirinya sebagai manusia, sebagai makhluk yang bertanggung jawab untuk memperindah bumi ini, dan oleh karenanya peka terhadap segala sesuatu yang mengotori atau dapat mengotorinya.
Ya, sadar dan peka. Itulah takdir manusia. Bila sekadar kepekaan, makhluk-makhluk lain pun memilikinya… perhatikan burung. Sebelum bertelur, mereka membuat sarang. Untuk itu mereka memilih pohon di mana mereka akan membuat sarang. Pohon pilihan itu hampir dapat dipastikan tidak akan kena petir. Kenapa bisa begitu? Karena setiap pohon mengeluarkan gelombang elektro magnetis yang dapat dideteksi oleh burung. Mereka juga dapat merasakan intensitasnya, sehingga dengan mudah mereka menghindari gelombang yang dapat mengundang petir.
Gajah-gajah di Phuket Thailand meninggalkan kandang mereka dan lari menuju bukit sebelum gelombang tsunami memorak-porandakan seluruh kawasan wisata itu. Fenomena lain yang sangat menarik. Binatang-binatang yang berada di habitat asalnya jarang jatuh sakit. Bila sakit mereka dapat menyembuhkan diri.mereka memiliki kemampuan self healing yang luar biasa. Jauh melebihi kemampuan manusia. Binatang-binatang yang sama, bila dikeluarkan dari habitat asalnya, dikurung di kebun binatang, lebih sering jatuh sakit. Kemampuannya untuk self healing pun berkurang.
Kodrat manusia adalah kepekaan berkesadaran. Itulah potensi diri yang mesti dikembangkannya. Untuk itu manusia harus percaya diri. Ia harus percaya pada ketakterbatasan dirinya. Ia harus melampaui kesadaranjasmani yang serba terbatas, utntuk menggapai kesadaran rohani yang tidak terbatas.
Untuk menjaga kesehatan manusia, akan dibutuhkan lebih banyak sentra meditasi, atau apa pun sebutannya, untuk menemukan jati diri dan mengembangkannya. Saat ini, kita sedang melakukan sesuatu yang baru akan menjadi populer 50-an tahu kemudian. Karena itu, tidak heran bila kita membingungkan beberapa pihak yang tidak mengikuti perkembangan zaman.
Mereka bingung ketika kita bicara tentang kesehatan holistik, meditasi, spiritualitas, dan kemudian mengaitkannya dengan keadaan negara dan bangsa. Mereka tidak sadar bahwa hanya manusia yang segat yang dapat menyehatkan bagsa dan negaranya. Mereka juga tidak sadar bahwa kesehatan holistik tidak hanya menyentuh lapisan fisik saja, tetapi juga lapisan-lapisan lain: mental, emosional, spiritual, bahakan sosial, finansial dan sebagainya. Manusia harus memercayai dirinya sebagai pribadi yang utuh.
Pribadi yang Utuh.
Adakah yang salah dengan penanganan kita selama ini? Adakah yang salah dengan pemahaman kita selama ini? Ya, ada. Kita tidak pernah melihat manusia sebagai pribadi yang utuh. Kita memisahkan masa kecil dari masa remaja dan masa remaja dari masa tua. Kita membedakan kelahiran dan kematian seolah keduanya adalah kubu terpisah, yang tidak pernah bertemu. Padahal, seorang anak kecil pun menimpan di dalm sanubarinya, bukan saja keceriaan seorang remaja, tetapi juga kematangan seorang dewasa dan kebijaksanaan orang tua. Seorang remaja pun demikian, masih ada seorang anak dalam dirinya yang ingin bermain, bercanda. Dan, seorang tua pun masih memiliki semangat remaja yang sesungguhnya tidak pernah padam di dalam dirinya. Karena tidak memahami hal ini, kitra sengsara. Kita hidup setengah-setengah. Kita tidak pernah hidup sepenuhnya.
Seorang remaja tengah membunuh anak kecil di dalm dirinya. Seorang dewasa berupaya untuk melupaka keremajaannya. Dan, seorang tua tenggelam dalam ketuaannya. Pertumbuhan adalah esensi masa kecil. Semangat yang membara adalah hakikat masa remaja. Kematangan adalah ciri orang dewasa, dan kebijakan adalah pertanda seorang tua. Kadarnya boleh beda. Kebijakan dalam diri seorang anak kecil barangkali tidak seperti dalam diri orang tua. Barangkali, karena tidak selalu demikian. Kadang-kadang, seorang anak kecil pun terbukti lebih matang daripada seorang dewasa dan lebih bijak daripada orang tua.
Perkembangan pribadi manusia secara utuh, sempurna, tidak akan terjadi bila hanya otaknya yang diasah. Program-program yang banyak disajikan di pasar pun baru menyentuh lapisan otak, walau sudah menggunakan label EQ,SQ, dan entah QQ apa lagi.
Maksud kita dengan perkembangan pribadi secara utuh adalah: otak berkembang, namun kepekaan indera-indera lain pun bertambah. Kepekaan bertambah, namun kesadaran pun meningkat. Bagaimana terjadinya perkembangan itu? Kita memang muali dari otak, karena otak merupakan titik awal. Ya titik awal, bukan titik akhir. Bukan pula satu-satunya titik.
Otak kita mengerjakan lebih dari 15 milyar sel dalam seluruh tubuh kita. Kurang-lebih itulah jumlah sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi rado waves, gelombang suara. Karena itu, hampir semua agama bicara tentang cahaya sebagai awal kejadian. Yang dimaksud sesungguhnya kejadian sebagaimana kita memahaminya selama ini. Pemahaman kita dapat berkembang, sehingga kesimpulan-kesimpulan lama mesti dikoreksi. Electric impulse, rado waves itu seperti petir: pertama kita melihat cahayanya, kemudian mendengar suaranya. Saat melihat cahaya, kita sudah dapat memastikan sesaat lagi akan mendengar suara.
Fenomena petir ini berlangsung pula pada manusia. Setiap pikiran yang muncul dalm otak kita juga merupakan electric impulse. Kemudian electric impulse itu berubah menjadi radoa waves, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir pun terucap oleh kita. Namun, ada yang membedakan manusia dengan petir. Ini pula yang membedakan manusia dari hewan. Cahaya maupun suara dalm petir mengkuti hukum alam dengan kecepatan tertentu. Tidak demikian dengan manusia. Jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakannya dapat diubah; dapat diperpanjang; dapat dihapus menjadi nihil aatu tak terbatas.
Manusia yang telah berkembang pribadinya secara utuh dapat mengendalikan pikirannya. Kapan harus diterjemahkannya menjadi ucapan, kapan menjadi tindakan, dan kapan dibiarkan sebagai pikiran saja. Tidak setiap petir pikiran-nya harus bersuara. Ini yang membedakan diri manusia dari manusia-manusia lain yang belum berkembang seutuhnya.
Dalam hal ini perlu diingat bahwa jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakan dapat digunakan untuk menimbang dan mengevaluasi keadaan, sehingga kita tidak selalu reaktif seperti binatang – dihantam, mengahntam kembali. Kita menjadi responsif, bertidak secara sadar. Seorang manusia yang berkembang pribadinya secara utuh menjadi responsif.
Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat dengan orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu waktu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia yang utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya. Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. Dalam tradisi zen dikaitkan dengan transmisi kesadaran diri Sang Guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu kejadian yang hanya terjadi bila Guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama.
Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah penurunan kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse.
Seorang Guru menyadari keterbatasan itu, maka ia menciptakan keadaan di mana para siswa bisa bertahan dengan penuh kesabaran untuk kejadian itu. Apa pun yang telah disampaikannya lewat wejangan dan tulisan tidak berarti dibanding apa yang ingin disampaikannya lewat transmisi energi, lewat shaktipaat. Kendati demikian, shaktipaat tidak dapat dipaksakan. Memang dapat dipercepat dengan mempersiapkan diri kita supaya bergetar pada gelombang yang sama dengan sang Guru, tapi cara untuk mempersiapkan diri pun diperoleh dari sang Guru, karena ternyata kesadaran kita tidak perlu tinggi untuk berada di gelombang yang sama dengan sang Guru. Kesadaran itu justru meningkat setelah berada di gelombang yang sama. Berada pada gelombang yang sama dengan sang Guru, kita menjadi bagian dari pengembangan dirinya yang tak pernah berhenti. Sang Guru berkembang, kita punikut berkembang. Kita tidak perlu bersusah-payah, tidak perlu melakukan sesuatu kecuali mempertahankan keberadaan kita pada gelombang yang sama dengannya.
Pribadi yang utuh bagaikan bara api. Membara dengan semangat; itulah sifat pribadi yang utuh. Dekati dia, dan kita pasti ikut terbakar. Kemudian tidak ada lagi yang membedakan diri kita dengan dia. Dia bara api, kita pun bara api – sama. Tidak ada yang rendah, tidak ada yang tinggi. Tidak ada guru, tidak ada siswa. Tidak ada murshid, tidak ada murid. Yang ada hanyalah api, api, api.. Api Cinta, Api Kasih, Api Semangat, Api Keutuhan dan Kesempurnaan. Itu saja. Tapi, jangan lupa: Jika pribadi utuh menjadi berkah dan dapat mengutuhkan diri kita, pribadi-pribadi yang btidak utuh pun dapat menjadi serapah dan mengotak-ngotakkan kita. Ini yang lebih sering terjadi di sekitar kita saat ini.
Pengaruh Luar.
Saat saya sedang ngegossip dengan penuh semangat, saat itu, electric impulse pikiran saya sudah berubah menjadi gelombang radio, suara. Segala cacian yang saya lontarkan kepada Anda, terdengar jelas oleh setiap orang yang berada di dekat saya. Anda tidak mendengarnya dengan cara itu, karena Anda tidak di sekitar saya. Sesungguhnya Anda tetap mendengar nya dengan cara lain. Radio waves atau gelombang radio adalah energi dan energi tidak pernah musnah. Radio waves yang telah menjelma menjadi suara memang sangat singkat masa hidupnya sebagai suara, namun ia tidak mati. Ia berubah kembali menjadi radio waves dan menuju sasarannya di mana pun sasaran itu (dalam hal ini Anda) berada.
Anda tetap saja mendengarkan setiap cacian yang saya sampaikan, walau dalm bentuk radio waves, bukan dalam bentuk suara. Bila Anda memiliki kemampuan untuk melakukan decoding terhadap radio waves itu, Anda dapt mendengarkan kata yang saya ucapkan. Bila tidak, radio waves itu akan diterima langsung oleh electric impulses dalam diri Anda dan memengaruhinya, maka kadar gula darah Anda pun pasti meningkat, tekanan ikut meningkat… dan telinga Anda memerah. Lain halnya ketika saya sedang memuji atau bercerita tentang Anda dengan semangat positif, dengan cinta, maka terciptalah keadaan hamonious yang luar biasa di dalam diri saya. Irama jantung saya sangat indah. Tekanan darah pun normal, menari-nari ceria, dan electric impulses yang kemudian menjadi radio waves memengaruhi electric impulses di dalam diri Anda secara positif pula. Kesimpulannya, dengan menjelek-jelekkan Anda, sesungguhnya saya mencelakakan diri saya sendiri sebelum mencelakakan Anda. Dengan memuji Anda, saya membahagiakan diri saya sendiri sebelum membahagiakan Anda.
Latihan kelima hal 44.
Mengasah Kepekaan Diri.
Menyadari konflik-konflik yang terjadi di dalam diri merupakan cara yang paling efektif untuk membebaskan diri dari segala macam konflik. Dengan cara ini, kita seolah melakukan select all, kemudian tinggal menghapusnya dengan satu perintah delete! Saat ini kita seolah membiarkan konflik-konflik di dalam diri tetap bersarang di sana, karena ada penolakan dari diri kita sendiri untuk melenyapkan semuanya. Penolakan atau keengganan iytu pun sesungguhnya disebabkan oleh konflik. Mau mendalami sesuatu, tapi ada ketentuan yang melarang diriku mempelajari sesuatu dari orang yang beragama lain. Ada keinginan dan ada ketentuan yang berseberangan, maka terciptalah sebua konflik dalam batin.
Dengan penih kesadaran, pelajari alasan-alasan yang menyebabkan konflik di dalam diri, dan kita akan terkejut sendiri. Konflik itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin menguasai diri kita dengan memperbudak jiwa kita. Tak seorang pun dapat membebaskan diri kita dari perbudakan itu, bila kita sendiri tidak menghendaki hal itu. Mmemang harus ada modal kepekaan sedikit untuk memahami saat ini kita diperbudak oleh orang-orang, oleh faktor-faktor di luar diri. Dan perbudakan itu dilakukan dengan menciptakan konflik di dalam diri kita.
Evaluasi Kepekaan Diri.
Hal 48-52.
Neo Psychic Awareness. Latihan Inti no 1 hal 53 – 59.
Pribadi Utuh.
Hanya dengan mengasah otak saja, hanya dengan menimba ilmu saja, hanya dengan membaca berbagai kitab saja, kita tidak menjadi pribadi yang utuh.dengan mengasah otak, kita justru mematikan intuisi di dalam diri. Kita menjadi sangat tergantung pada informasi yang kita peroleh dari luar. Kepercayaan terhadap Sumber segala Informasi yang Ada di dalm diri justru berkurang. Makin banyak informasi yang ada di dalam otak, makin tegang kita saat berpikir. Dalam keadaan tegang itu, informasi yang ada dalam otak diolah, ditimbang, dirumuskan, disimpulkan, dan digunakan sesuai keperluan. Karena itu mau jungkir balik seperti apa pun kecerdasan saya sudah pasti beda dari kecerdasan Anda. Informasi di gudang otak saya dan otak anda tidak mungkin persis sama. Walau belajar dan lulus dari satu sekolah yang sama dengan nilai yang mirip pula, pemahaman saya belum tentu sama dengan pemahaman Anda. Kemampuan otak saya u ntuk mengolah informasi saat saya membutuhkannya pun pasti beda. Karena itu, saya tidak dapat merasakan persatuan dan kesatuan dengan Anda bila landasannya hanyalah ilmu. Dengan memakai otak sebagai dasar , saya tidak dapat berdiri bersama anda di atas panggung yang sama.
Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus.
Kemampuan untuk mengenal fakta datang dari ilmu. Kepekaan untuk melihat kebenaran berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membantu bagi saya semua pintu ilmu.
Ada kalany dalam keadaan terpepet kita menjadi makin peka. Ada kalanya tegang justru membuat kita lebih kreatif. Saya sering merasakannya. Tentu saja bukan sembarang ketegangan, malainkan ketegangan yang datang sendiri. Pribadi utuh, bukanlah orang yang tidak pernah tegang. Pribadi yang utuh adalah orang yang dapat mengubah ketegangan nya menjadi Energi yang Kreatif. Senantiasa kreatif, orisinal, tidak menyontek – itulah tanda-tanda pribadi utuh.
Kreatifitas dan Orisinalitas.
Kreatif, orisinal dan tidak menontek.. Kita tidak bisa menjadi kreatif dan orisinal bila masih sering menyontek. Kebiasaan menyontek bahkan dapat melumpuhkan kemampuan kita untuk berpikir dan mencerna informasi yang diperoleh dari luar.
Banyaknya informasi bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi serapah, karena tindakan kita sudah hampir pasti sesuai dengan jenis informasi yang ada dalam otak. Dengan memilih ya atau tidak berdasarkan informasi yang ada di dalm otak saja, kita juga tidak menjadi kreatif dan orisinil. Menyontek tetaplah menyontek, walau yang disontek otak sendiri. Informasi di dalam otak itu berasal dari mana? Dari apa yang kita baca, kita lihat, kita dengar – bukankah demikian? Lalu bagaimana menjadi kreatif? Bagaimana menjadi orisinil? Berhentilah menyontek! Ya, behentilah menyontek. Jawabannya sesederhana itu.
Latihan keenam hal 66-67.
Doa.
Bagi saya:
-
Energi yang tercipta dari doa, jauh lebih dahsyat, besar, tinggi dan mulia daripada energi yang tercipta dari otot manusia atau alat-alat buatannya. Karena itu, sungguh patut disayangkan bila energi sedahsyat itu saya gunakan untuk kepentingan-kepentingan yang sepele, untuk keperluan-keperluan yang btak berarti.
-
Doa bukanlah sekadar ritus yang saya lakukan sesuai dengan anjuran agama, tetapi esensi dari agama serta keagamaan saya.karena itu, doa saya sungguh tidak bermakna bila saya hanya melakukannya karena kewajiban. Saya suka berdoa, maka saya berdoa.
-
Doa juga berarti memberkati, bila hidup saya tidak menjadi berkah bagi sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan lingkungan di mana saya berada, sia-sialah doa saya.
-
Doa meningkatkan kesadaran saya, sehingga saya dapat melihat Wajah-Nya di mana-mana.
Di atas segalanya, bagi saya doa adalah napas hidup. Tiada kehidupan tanpa napas, tiada napas tanpa doa.
Bagaimana doa dapat menambah kepekaan diri? Bagaimana doa dapat mengantar kita pada kesadaran lebih tinggi? Jawabannya: dengan mengistirahatkan pikiran. Dengan menciptakan jarak antara pikiran dan tindakan. Kepekaan diri bertambah saat saya menafikan pikiran dengan penuh kesadaran; saat saya istirahatkan pula otak saya. Saat itu, saat berdoa, terjadilah kontak batin antara diri saya dan sang Pribadi Tunggal. Bagaimana terjadinya? Bagaimana prosesnya? Saya tidak tahu. Saya juga tidak mengetahui banyak hal yang lain. Saya tidak tahu bagaimana terciptanya alam semesta. Saya tidak tahu kapan berakhirnya ciptaan ini.
Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, Janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membacanya hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena engakau ingin tahu akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta, karena setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta yang dialamatkan kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha. Maka, pengajian seperti itu, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai.
Para ahli kitab sangat tergantung pada tulisan. Mereka sibuk membaca, menghafal, dan mengutib ayat-ayat suci. Seorang pendoamenjadi suci karena doanya. Karena doa yang keluar dari hatinya, karena jiwanya yang senantiasa berdoa. Para ahli kitab sibuk dengan pembahasan mereka tentang doa. Seorang pendoa tidak memiliki waktu lagi untuk membahas sesuatu yang berada di luar bahasan, yang tidak dapat dibahas.
Latihan Ketujuh hal 73 – 74.
catatan teman Anda akan membuktikan bahwa saat meminta sesuatu, dahi Anda akan penuh kerutan. Berkali-kali kelopak mata pun bergerak. Namun, tidak demikian saat anda mensyukuri segala pemberian-Nya. Wajah Anda tenang, tidak menampakkan tanda-tanda kegelisahan. Hampir tidak ada kerutan di dahi, dan kelpak mata pun hanya sesekali bergerak.
Sesungguhnya setiap pikiran menyebabkan ketegangan, baik pikiran meminta maupun mensyukuri, namun ketegangan yang tercipta karena meminta jauh melebihi yang tercipta ketika kita mensyukuri. Idealnya: Saat berdoa terjadi peningkatan kesadaran sehingga kita dapat menyadari Kehadiran-Nya. Bila itu terjadi, doa anda membawa berkah bagi setiap makhluk… dan Semesta-pun memberkati Anda.
Latihan Kedelapan hal 74 – 75.
Latihan Inti no 2 Going beyond Mind.
-
Kesadaran ada saat kita dalam keadaan jaga, saat otak bekerja, saat pikiran berkuasa.
-
Kesadaran ada saat kita bermimpi.
-
Kesadaran juga ada saat kita tertidur lelap, saat gelombang otak hampir datar, saat pikiran tidak terdeteksi.
-
Namun, di luar tiga keadaan di atas, kesadaran juga ada, malah meluas, saat dalam keadaan jaga, pikiran atau mind manusia sedemikian tenangnya sehingga gelombang otak hampir datar. Inilah Keadaan Keempat, inilah saat kita berada di luar cengkeraman otak, di luar jangkauan pikiran. Inilah saat kita menjadi Raja, menjadi pengendali pikiran atau mind, dan otak.
Lalu apa yang terjadi bila pikiran atau mind sudah terlampaui? Apa yang dialkukan oleh mereka yang konon sudah berkesadaran?
Pertama: Apa yang terjadi? Mereka terbebaskan dari pengendalian oleh mind.mereka keluar dari penjara mind.
Kedua: Apa yang mereka lakukan? Mereka mengamati mind; mereka mengamati keadaan penjara di mana mereka di tahan selama ini.
Karena itu, mereka dapat melihat dengan jelas dan jernih keadaan diri meraka. Mereka dapat memahami sebab atau alasan perilaku mereka selama ini. Kemudian, berdasarkan penglihatan dan pemahaman yang baru itu, mereka pun dapat menguabh keadaan dapat melakukan transformasi atau perombakan total. Mereka dapat memperbaharui mind mereka. Mereka dapat menciptakan mind yang baru, mind berekesadaran.
Selama ini kita hidup dengan mind ciptaan orang, ciptaan masyarakat, ciptaan orang tua, ciptaan keadaan dan lingkungan di mana kita lahir dan tumbuh. Sekarang, saatnya kita memproklamasikan kemerdekaan diri! Kita tidak dapat menguabh keadaan di luar, tidak dapat mengubah masyarakat di sekitar, bila diri kita belum berubah. Perubahan diri dulu, baru perubahan keadaan di luar.
Latihan Inti no 3. Sharpening of Intuition.
Latihan ini menambahnkemampuan kita untuk menghayati setiap pengalaman hidup. Tak satu pun pengalaman boleh lolos, karena setiap pengalaman yang lolos akan terulangi lagi. Keberadaan memiliki cara kerja yang sangat rapi. Pengulangan terjadi kerena kita tidak menghayati apa yang terjadi. Bila kita menghayatinya dengan baik, pengulangan pun tak terjadi. Setiap pengulangan menjadi penghalang bagi evolusi manusia. Penghayatan membuat Roda Evolusi bergelinding kembali, berputar kembali. Dalam hal beragama pun itu terjadi. Kita mengulangi segala sesuatu tanpa penghayatan. Karena itu, hasilnya ada di depan mata. Banyak yang beragama, amun sedikit sekali penghayat, sehingga kolusi pun berjalan terus, korupsi pun makin merajalela. Bertambah terus tempat-tempat ibadah, namun sedikit saja hati yang beribadat.
Mengenali Konstitusi Diri.
Latihan Kesembilan, Kesepuluh, Kesebelas hal 99 – 91.
Vibrating Universe.
Mari belajar untuk bergetar bersama alam. Untuk itu kita harus bersahabat dengan alam, dengan setiap makhluk, dengan setiap manuisa. Kita tidak mungkin selaras dengannya bila tidak selaras dengan semua makhluk. Bagaimana cara bergetar bersama alam? Bagaimana cara menyelaraskan diri dengan semesta? Dengan cara mencintai, menghargai, dan melayani alam ini, dengan cara menhormati dan mengasihi sesama makhluk hidup, sesama manusia.
Latihan Keduabelas hal 97 – 98.
Creating Harmony.
Sesungguhnya, getaran-getaran itu menciptakan harmoni, keselarasan, keseimbangan, namun campur tangan manusia menciptakan disharmony, ketakselarasan, ketakseimbangan. Perhatikan alam sekitar: sungai-sungai kecil yang kotor mengalir menuju laut untuk menyatu dengannya – untuk menjadi suci, menjadi bersih olehnya. Kemudian, air laut menjadi uap, membentuk awan, dan turun kembali sebagai hujan, sebagai air hujan yang bersih murni.
-
Kita lupa bahwa keberhasilan adalah kerja keras. Maka kita mencari jalan pintas.
-
Kita lupa bahwa kebahagiaan adalah hasil kepuasan.
Alam sendiri bekerja keras. Ia membutuhkan masa yang begitu panjang untuk berevolusi.
Living in Harmony with Nature berarti hidup patuh pada hukum-hukum alam. Di antara dua yang terpenting, yaitu: 1. Hukum Sebab-Akibat atau Aksi-Reaksi, dan 2. Hukum Evolusi.
Membereskan Aku…. Diriku!
Kebhinekaan, pluralitas, pluralisme, atau apa sebutannya adalah sebuah keniscayaan alami, kepastian Ilahi.
Sapta Wacana.
-
Aku Bertanggung Jawab atas Keadaan Negeriku Saat Ini.
Lapisan Kesadaran Pertama, makan dan minumuntuk apa? Untuk menjadi bersemangat. Bertanggung jawab atas setiap kejadian di dalam hidup berarti menerima baik atau buruk, good or bad, semuanya sebagai akibat ulah sendiri. Bila negeriku terpuruk, bukan hanya para pemimpin dan pejabat yang salah, tetapi diriku ikut bersalah. Mereka adalah pilihanku sebagai rakyat Indonesia.
-
Aku Mempunyai Kemampuan untuk Merubahnya.
Lapisan Kesadaran Kedua Lapisan Enegi. Seseorang yang sadar akan Medan Energi di sekitarnya tidak akan mengemis untuk bantuan, ia yakin pada kemampuan dirinya. Bila keterpurukan terjadi karena ulahnya, ia pun mampu mengubahnya.
-
Aku Bisa Melakukannya.
Lapisan Kesadaran Ketiga terkait dengan nyali kita yang mendorong kita untuk berbuat. Energi dan semangat yang kita miliki tidak berarti apa pun bila tidak ada nyali untuk berbuat, untuk menggunakan energi dan semangat itu.
-
Aku Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Lapisan Kesadaran Keempat adalah Kesadaran akan Cinta. Kita tidak dapat mengubah keadaan negeri ini bila kita tidak mencintai negeri ini. Para Founding Fathers kita adalah pecinta sejati.
-
Aku Menyuarakan Tekad Persatuan dengan Jelas.
Lapisan Kesadaran Kelima adalah Kesadaran akan kotoran di dalam diri dan perlunya diri kita dibersihkan. Kita harus membersihkan diri dari berbagai pengaruh dan sikap buruk yang akan mengancam kesatuan wilayah Indonesia, dan membahayakan persatuan bangsa Indonesia.
-
Aku Melihat Indonesia Jaya.
Lapisan Kesadaran Keenam ini adalah Lapisan Komando, pengendali Kesadaran dalam diri manusia. Jangan ragu, jangan bimbang, jangan khawatir, jangan cemas. Aku melihat Indonesia Jaya.
-
Damai Indonesia, Amin…
Ketika Sang Maha Ada hendak mengukuhkan sesuatu, Ia menggunakan mulut, tangan, dan kaki salah seorang di antara kita. Bila kita hendak melarutkan kehendak kita ke dalam kehendak-Nya, kita menenggelamkan diri, membiarkan diri kita, aku larut dalam kehendak-Nya. Pada saat itu, terwujudlah kedamaian, terjadilah damai. amin.
DIarsipkan di bawah: apresiasi buku | Tagged: alam, apresiasi buku, guru-rohani, kesadaran, meditasi, renungan diri