‘Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus’
Ihdinash shiraathal musta’iin. Ayat ‘Tunjukilah Jalan yang Lurus’, dalam Surat Al Faatihah ayat 6, mempunyai kaitan erat dengan beberapa keadaan. Pertama, adanya keyakinan terhadap Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang selalu memberi petunjuk atau hidayah. Kedua, manusia sedang melakukan perjalanan hidup dan setiap saat dihadapkan pada arah jalan yang bercabang dan harus membuat pilihan antara yang lurus dan jalan yang tidak lurus. Ketiga, secara tersirat manusia harus memahami tujuan perjalanan hidup itu sebenarnya kemana?
Kesadaran akan Kebenaran
Surat Al Faatihah membuka kesadaran bahwa adalah benar ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kepada-Nya manusia menyembah dan mohon pertolongan. Kemudian manusia sadar ada jalan lurus dan jalan tidak lurus. Jalan lurus adalah jalan manusia yang mendapat karunia, sedang jalan yang tidak lurus dapat menjadikan manusia tersesat atau dimurkai-Nya. Kesadaran ini harus selalu dijaga setiap saat, agar manusia tetap berada di jalan yang lurus. Apabila manusia menyadari sedang berbelok dari tujuan, segera dia harus bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus dan yakin Allah Maha Mengampuni hambanya.
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan abadi, tujuannya adalah kebahagiaan abadi. Sedangkan makhluk itu tidak pernah abadi, yang abadi hanya Dia Yang Maha Abadi. Adalah sulit dinalar kalau manusia mencari hal-hal yang tidak abadi untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Kemelekatan manusia terhadap hal duniawi yang tidak abadi menyebabkan manusia lalai dan mengambil jalan yang berbelok.
Pilihan Jalan Amal, Dharma yang Lurus
Setelah manusia sadar tentang kebenaran, apabila dihadapkan pada suatu pilihan dia harus mempertimbangkan kebenaran sebagai landasan pemilihan. Manusia selalu dihadapkan antara pilihan yang menyenangkan inderawi sesaat atau pilihan yang akan menguntungkan akhirnya walau tampaknya kurang enak. Mahasiswa bisa memilih, happy-hour menghabiskan waktu bersenang-senang tanpa belajar. Bisa juga memilih belajar di perpustakaan dikelilingi gunungan buku text-book yang menjemukan. Kalau si mahasiswa sadar, paham akan kebenaran, dia akan memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus. Apabila si mahasiswa lalai sehingga mengikuti syahwat berhepi-ria, dan datang kesadaran, dia harus segera kembali ke Jalan Amal, Dharma yang lurus.
Seandainya manusia sadar dalam sholatnya, sadar tentang makna Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sadar bahwa setiap sholat selalu mohon petunjuk jalan yang lurus, insya Allah dia tetap terjaga untuk memilih jalan yang lurus. Mereka yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, sebetulnya telah lalai dalam shalatnya.
Menjaga Kesadaran
Dalam surat Al Ashri, dinyatakan bahwa setiap waktu manusia selalu berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholeh, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Ini adalah suatu anjuran agar tidak merugi, manusia harus membuat persaudaraan, sangha, support-group yang terdiri dari mereka yang beramal sholeh untuk memelihara kesadaran. Anjuran sholat berjamaah, bukan berarti setelah sholat bersama, bahkan ada yang terlambat satu rakaat terus bubar. Kalau terjadi hal demikian, maka makna berjamaahnya kurang maksimal. Saling nasehat menasehati dalam kebenaran, merupakan hal penting dalam ikatan persaudaraan. Problemnya adalah bahwa masing-masing insan merasa telah benar, apalagi yang telah fasih berbahasa Arab. Padahal syarat dalam support-group tersebut adalah hanya diperuntukkan bagi mereka yang beramal sholeh, mereka yang selalu memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus.
Catatan Kecil
Istilah bahasa Sansekerta, sengaja dimunculkan agar para pembaca dengan berlatar belakang bermacam-macam agama dapat saling memahami dan menghormati demi Indonesia tercinta. Semoga kita selalu sadar akan petunjuk-Nya yang tidak henti-hentinya mengetuk hati nurani kita.
Damai, Rahmat dan Berkah untuk semua makhluk-Nya.
Triwidodo
Juni 2008.
DIarsipkan di bawah: kelembutan Islam | Ditandai: dharma, kelembutan Islam, sangha
Andai saja semua masyarakat di Indonesia mengetahui makna dari agama yang di anutnya. Tentu tidak akan terjadi perselisihan antar agama di negeri ini.
Orang Hindu merasa harus membela agama Hindu. Orang Islam merasa harus membela agama Islam. Orang Kristen, Kattholik, dan lainnya pun sama. Apa betul, agama harus dibela? Dan, dibela oleh manusia?
Apa benar, manusia lebih kuat daripada agama yang dianutnya? Bila ya, kenapa ia harus bersandar pada Agama? Kenapa harus percaya pada sesuatu yang lebih lemah daripada dirinya?
Dan, bila agama lebih kuat daripada manusia, agamalah yang harus membela manusia. Bukan sebaliknya.
Atas nama pembelaan terhadap agama, entah berapa tempat ibadah yang telah dihancurkan? Atas nama Tuhan, rumah-rumah-Nya malah dibumihanguskan. Kita masih belum sadar juga, tidak sadar juga…..
Ayat Allah telah turun. Lewat gelombang tsunami yang menghancurkan itu, lewat Gempa Bumi di Jogya dan Klaten, lewat Lapindo dan berbagai bencana lainnya. Ia Yang Maha Mendaur Ulang tengah berbicara dengan kita. Ia hendak menyampaikan sesuatu, tetapi kita tidak memahami.
Agama yang semula diturunkan untuk mempermudah hidup manusia, memperkayanya dengan nilai-nilai yang menyejukkan, sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan, dan tidak lagi menyebarkan kesejukan, cinta, tetapi kebencian.
Kadang, agama yang seharusnya mempertemukan malah memisahkan. Kadang, agama yang seharusnya menyejukkan malah menggerahkan. Kadang, agama yang seharusnya memberi rasa aman malah membawa bencana. Dan, semua itu terjadi karena “interpretasi” manusia terhadap agama, karena “pemahaman” kita tentang agama masih sempit, masih picik.
Berarti, interpretasi manusia atau pemahamannya tentang agama menjadi sangat penting. Pemahaman yang sempit membawa bencana dan menjadi serapah. Pemahaman yang luas menghasilkan rasa damai dan menjadi berkah.
Matahari menyinari alam dan tidak memilah-milahkan, bumi juga demikian. Kami yakin Kanjeng Nabi Muhammad saw dan semua Pesuruh Allah selaras dengan alam dan bertindak universal. Yang dibedakan hanya yang selaras dengan alam atau yang mengingkarinya. Interpretasilah penyebabnya. semoga semakin banyak hamba yang berijtihad dan tidak taqlid membuta karena kemalasannya. Amin