Ribuan kalimat pun tak sempurna tuk mengungkap kecamuk perasaan
Sudut pandang terbatas tak mampu ungkap tiga ratus enam puluh derajat melingkari diri
Namun kucoba jua sebatas kemampuan
Sampaikan pandangan yang amat pribadi
Pesan Guru begitu sederhana
Doa ajaran Guru begitu bersahaja
Maksimalkan potensi yang ada
Bertindak selaras dengan alam semesta
Setiap saat lakukan dengan penuh kesadaran
Potensi diri belum juga maksimal
Sang Keledai pembawa beban buku-buku tebal
Tetap keledai juga
Belum manusia juga
Pengetahuan yang banyak menggembungkan ego manusia
Kekuasaan dan materi yang banyak melupakan jatidirinya
Makin menjauh dari keselarasan alam semesta
Ada saatnya
Pengetahuan yang dimiliki tidak bisa membantu
Ada saatnya
Kekuasaan dan materi yang dimiliki tidak juga bisa membantu
Manusia sungguh unik
Wajah setiap orang berbeda
Pengalaman setiap orang juga berbeda
Pemikiran setiap orang pun berbeda
Hanya Guru berkata,
Semuanya bisa selaras dengan alam semesta
Bertindak selaras dengan alam tidak mudah dilakukan
Perasaan, pikiran, ucapan dan tindakan sulit diselaraskan
Watak manusia sangat tergantung pada apa yang dia rasakan
Alam luas tak bisa diwakili sempitnya pemikiran
Bertentangan dengan nurani tanda belum selarasnya ucapan dan tindakan
Kata Guru solusinya bukan di luar
Solusinya di dalam
Solusinya selaras dengan alam
Pikiran berhasrat diri menjadi luar biasa
Berbeda dengan lainnya
Sungguh tidak mudah menjadi manusia biasa
Yang selaras dengan alam semesta
Yang terus memaksimalkan potensi dirinya
Sudahlah Guru
Kami tidak tahu
Apapun panduanmu
Guru lebih tahu
Triwidodo
Juli 2008 dari “Be The Change”.
DIarsipkan di bawah: puisi | Tagged: catatan pribadi, guru-rohani, kesadaran, keselarasan dengan alam, renungan diri