Kancil Mencuri Ketimun


Pertarungan batin Si Kancil di lahan penuh ketimun

Agar dibedakan antara dongeng ‘Kancil Nyolong Timun’ dengan kisah ‘Kancil Mencuri Ketimun’. Kata ‘nyolong’ itu mempunyai arti negatif, sedangkan ‘mencuri’ itu kata yang agak netral, buktinya ada yang mencuri perhatian, mencuri pandang, mencuri kesempatan dan mencuri hati. Kalau dalam dongeng ‘Kancil Nyolong Timun’, Si Kancil mempraktekkan tindakan penuh tipu muslihat, mengikuti nasehat Sun Tzu, bahwa yang penting adalah hasil akhir. Maka Si Kancil dalam dongeng ‘Kancil Mencuri Ketimun’, sudah sadar bahwa walaupun hasil bisa tercapai, akan tetapi  kalau untuk memperolehnya dengan  cara menghalalkan tipu muslihat, maka pada suatu saat akan datang juga akibat dari tindakannya tersebut. Si Kancil kali ini telah memahami hukum sebab akibat, sedikit-sedikit sudah memahami Bhagavad Gita.

Kancil pada awalnya adalah hewan yang bebas, bahkan lebih bebas daripada manusia yang terbelenggu pola pemikiran lama, yang hanya merasa benar dengan kerangka pikirannya. Padahal kerangka pikiran itu terbentuk oleh sifat genetik bawaan, didikan orang tua, lingkungan, sekolah dan pengalaman. Seandainya Kancil lahir di kutub Utara, maka kulitnya akan penuh bulu tebal, dan Si Kancil telah menyadari hal itu. Sebuah SMS Wisdom terpatri dalam batinnya:  “Lebih baik hidup sehari sebagai manusia  bebas dan tak terbelenggu oleh adat istiadat yang sudah kadaluarsa daripada hidup seribu tahun dengan jiwa terbebani olehnya”.

Pada suatu hari kancil ‘vihar’, jalan-jalan dari pagi sampai siang dengan penuh keceriaan. Pada saat tengah hari Si Kancil berada pada lahan timun yang luas. Dalam diri Si Kancil berkecamuk perang batin. Mau meminta kepada Pak Petani  si empunya lahan, dia sedang pergi, biasanya Pak Petani baru piket inspeksi lahannya pada sore hari. Menunggu Pak Petani akan menyebabkan Si Kancil kelaparan bahkan mungkin dehidrasi, sedangkan mengambil ketimun tanpa izin dia pun takut hukum sebab akibat. ‘Mind’ memang selalu ‘lihai’ dalam mencari pembenaran, maka pada akhirnya Si Kancil memakan beberapa buah ketimun, “Nanti kalau Pak Petani datang aku akan lapor dan mesti dimaafkan Pak Petani yang dermawan”. Kancil lupa apa yang dimakan akan berpengaruh kepada tabiatnya, makanan akan menjadi otak, jantung, hati dan berbagai anggota tubuh. Makanan yang diperoleh dengan ketidaksadaran akan mempengaruhi perilakunya. Si Kancil lupa pelajaran dari Resi Bhisma dalam perang Bharatayuda. Dia pun melupakan sebuah SMS Wisdom:  “Kebaikan yang kau lakukan pasti kembali padamu. Begitu jua dengan kejahatan. Kau dapat menentukan hari esokmu, penuh dengan kebaikan atau sebaliknya”.

 

Pengaruh makanan terhadap tubuh manusia

Hazrat Inayat Khan, memahami bahwa kematianpun, tidak alami, sudah 6.000 ekor ayam masuk dalam perut, sudah 20 ekor sapi yang dikunyah, sudah 30 kg ikan dilewatkan kerongkongan, sudah 4 kg udang mengalir dalam darah. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuh. Hukum Sebab-Akibat adalah Hukum Alam yang berlaku di dunia.

Sapi-sapi pun kecut melihat pisau pemotong, seandainya ada yang memasang ‘Electro Cardiograph’ pada mereka, manusia akan paham vibrasi detak jantung mereka ketika melihat pisau pemotong. Seandainya saja tangisan mereka seperti tangisan manusia, seandainya manusia paham kemarahan mereka merasuk ke daging yang dimakan manusia. Mungkin manusia akan berdoa dulu, memohon maaf sebelum memakannya.

Makanan yang dimakan akhirnya akan menjadi energi untuk kegiatan manusia, mengganti sel yang rusak dan sisanya menjadi simpanan energi. Walau pernyataan tersebut tidak terlalu tepat, karena ada ”prana” sebagai sumber energi, tetapi tidak terlalu salah juga pernyataan tersebut. Makan sambil melihat televisi atau sambil membaca tidak menghormati calon organ tubuh sendiri. Mengunyah makanan sambil bicara, tak hanya ‘tidak menghargai’ orang yang diajak bicara, tetapi juga tidak ‘respek’ kepada makhluk yang akan menjadi tubuh kita, otak kita, jantung kita, organ tubuh kita.

Makanan yang diperoleh dari cara yang tidak benar mengakibatkan  ketidakbenaran akan menjiwai makanan tersebut. Makanan yang dimasak oleh orang yang serakah, mengakibatkan makanan pun ikut kena vibrasinya. Berdoa, sebelum dan sesudah makan dengan penuh ketulusan dari dahulu kala dianggap dapat menjadi penawar pengaruh negatif.

Penjelasan Resi Bhisma bahwa makanan Korawa mempengaruhi tindakannya ada benarnya. Selagi kesadaran manusia masih naik turun, sebaiknya dia menjaga apa yang dimakannya. Hanya apabila kesadarannya sudah tinggi, dia dapat melepaskan diri dari pengaruh makanan yang disantapnya.

“Makanan dari Korawa itulah yang menyebabkan aku diam saja melihat Dewi Drupadi dipermalukan para Korawa”. Beberapa pakar astronomi India, mempunyai keyakinan tentang tanggal terjadinya suatu kejadian berdasar penjelasan dalam cerita. Misalkan peristiwa kematian Bhisma yang merupakan peristiwa penting dalam Mahabharata, merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam Mahabharata. Bhisma sengaja menunggu saat yang mulia untuk mati. Bhisma menunggu perjalanan matahari menuju ke utara sementara ketika terpanah oleh Srikandi matahari masih menuju ke arah selatan. Penulis Abyasa menjelaskan saat kematian Bhisma tersebut.

Astronomi modern memberitahukan bahwa ada fenomena alam yang disebut ketepatan dari konstelasi bintang. Kita tahu bahwa Bumi berputar melingkar keatas. Karena berputar melingkar seperti spiral, maka titik sumbunya selalu berubah.  Setelah 26.000 tahun seluruh siklus akan berulang. Dari perhitungan astronomi kematian Bhisma adalah pada tanggal 14 Januari dan tahunnya diperkirakan 3.000 Sebelum Masehi. Hari itu adalah hari yang paling suci yang akan berulang setelah 26.000 tahun. Bhisma juga menunggu hilangnya pengaruh makanan Korawa dari tubuhnya baru meninggalkan jasadnya.

 

Pelajaran hidup Si Kancil

Setelah makan ketimun curian, potensi ketidaksadaran Si Kancil muncul kembali. Keangkuhannya muncul dan dia melihat orang-orangan jerami yang diletakkan di tengah lahan ketimun. Kealpaannya membuat dia memukul orang-orangan dengan kedua kakinya. Ternyata orang-orangan tersebut penuh lem yang kuat dan kedua kaki Si Kancil tertempel  erat.  “Seandainya aku tadi memukul pelan dengan satu tangan mesti keadaan tidak separah ini”. Si Kancil cepat menutup mata, merenung dan sadar, hukum sebab akibat telah datang kepadanya. Sore hari Pak Petani datang dan melihat ceceran bekas ketimun dan Si Kancil yang kedua tangannya yang melekat pada orang-orangan. Si Kancil diikat lehernya dan dibawa ke rumah Pak Petani.

Zaman telah berubah, pada zaman dulu Si Kancil pasti akan disembelih, tetapi kini Kancil telah menjadi hewan langka. Kancil tahu, dia tidak akan disembelih, dia akan dijual ke orang kaya dan menjadi hewan peliharaan yang tidak bebas lagi. Makanannya akan dicukupi, mungkin dia akan dicarikan jodoh, tempatnya mungkin di halaman villa yang sejuk,akan  tetapi kebebasan telah hilang, karena keteledoran dalam makan ketimun curian yang diperbuatnya dalam ketidaksadaran. “Sudahlah Gusti aku pasrah, aku sadar dan aku tidak akan mengulangi lagi, apa pun yang akan kualami adalah hasil perbuatanku di masa lalu”.

Kancil dimasukkan dalam kurungan rotan yang kuat. Akan tetapi Si Kancil telah sadar dan dia menjadi ceria dalam keadaan apa pun. Dia ingat beberapa SMS Wisdom:  “Jangan menangisi nasib. Kau lah penentu nasibmu. Tangisan dan ratapanmu justru melemahkan jiwamu. Hadapilah persoalan dengan keceriaan hati, dan kau akan memperoleh kekuatan untuk mengatasinya”……. “Kenapa mesti menangisi nasib? Kau adalah penentu nasibmu sendiri. Apa yang kau alami saat ini adalah akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Apa yang kau buat hari ini menentukan nasibmu esok”……… “Cukup sudah kau mengemis dan minta dikasihani. Sekarang berdirilah di atas kedua kakimu. Sepasang tangan dan kaki yang kau miliki itu hanya menunggu perintahmu untuk menggerakkan bukit-bukit dari tempatnya”.

Ketika Doberman, anjing penjaga Pak Petani datang dan bertanya kejadian yang menimpanya, dia ketawa: “Aku akan dijadikan menantu  Pak Petani, aku akan dikawinkan dengan anjing puddlenya yang cantik”.  Dasar Doberman sudah ngebet cintanya dengan anjing puddle, maka dia memaksa Si Kancil agar segera keluar kurungan, biarlah dirinya yang menggantikannya. Si Kancil berkata: “Sahabatku, aku hanya bercanda, aku akan dijual Pak Petani esok hari ke pasar”. Tetapi Si Anjing penjaga tetap tidak percaya, pintu kurungan dibuka dan Si Kancil dipaksa keluar, dan disuruh cepat pergi oleh Doberman. Si Kancil kembali berpikir, Doberman, Si Anjing Penjaga tidak akan disiksa majikannya, dia telah berbakti lama, bahkan dia telah dibebaskan oleh Pak Petani, dia hidup tanpa tali pengikat. Hanya Si Anjing saja yang merasa berhutang budi dan tidak mau meninggalkan majikannya. Si Kancil pun akhirnya bebas kembali.  “Only God knows our true needs”, menurut SMS Wisdom. Terima Kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: