Posted on Juni 27, 2009 by triwidodo
Sebuah filsafat, pandangan hidup yang tidak mampu meningkatkan kualitas hidup sungguh tidak berarti. SMS Wisdom, Anand Krishna.
Introspeksi Sang Prabu
Prabu Yudistira larut dalam permenungan yang dalam……….. Semasa remaja, Pandawa dan Korawa belajar bersama pada guru yang sama. Dalam hal ilmu perang guru mereka adalah Pandita Drona, dan Arjuna menjadi murid terpandai. Kemudian para remaja tersebut mempelajari [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal, wayang | Ditandai: anand krishna, Bharatayuda, bhisma, Drona, kesadaran, salya, wayang | Leave a Comment »
Posted on Juni 23, 2009 by triwidodo
Pesan Bhisma kepada Yudistira: Persatuan itu ‘unity’ bukan keseragaman atau ‘uniformity’. Persatuan berarti menerima perbedaan. Kemudian menemukan benang merah yang dapat mempersatukannya. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian. Anand Krishna.
Persatuan Hastina adalah prioritas hidup Bhisma
Prabu Sentanu yang [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal, wayang | Ditandai: anand krishna, Atman, Ingsun, pandawa, Sri Krishna, wayang | Leave a Comment »
Posted on Juni 20, 2009 by triwidodo
Semua leluhurku bisa hidup karena dihidupi bumi pertiwi. Makanan, minuman, napas yang kuhirup, pakaian, peralatan, tempat tinggalku dan bahan-bahannya semuanya disediakan oleh bumi pertiwi. Disamping ibu genetikku yang melahirkanku, ibu pertiwilah yang menyediakan segala keperluan hidupku. Sekarang ibu pertiwiku, Ibu leluhurku dijarah orang. Dan, aku tidak rela. Aku akan berjuang demi ibu pertiwiku sampai hembusan [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal, wayang | Ditandai: anand krishna, jaya wijaya, kesadaran, tapa, wayang, Wisnu | Leave a Comment »
Posted on Juni 16, 2009 by triwidodo
Bagi Raden Sumantri melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Termasuk rasa kepemilikan terhadap nyawanya. Raden Sumantri tidak melarikan diri dari tanggung jawab. Tuhan adalah Pemilik Tunggal semuanya ini. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan egonya. Dan, Raden Sumantri bertarung sepenuh hati melawan Rahwana sampai hembusan napas yang terakhir. Raden Sumantri hanya melihat Dia, hanya ada [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal, wayang | Ditandai: anand krishna, ibu-pertiwi, rahwana, sumantri, wayang | Leave a Comment »
Posted on Juni 11, 2009 by triwidodo
Dalam usia paruh baya, kami menyaksikan banyak pemuda terjun ke masyarakat demi tujuan mulia, tetapi karena belum mempeoleh Kesadaran mereka terserimpet godaan dan melenceng dari tujuan semula. Ada juga yang berhasrat mendapatkan Kesadaran dulu, mengabaikan ketidak-adilan yang terjadi di sekitar, tetapi sampai Yamadipati menjemput, mereka belum mendapat Kesadaran juga. Pilihan kami telah jelasmeng ikuti Guru [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal, wayang | Ditandai: anand krishna, hastina, kematian, kesadaran, krishna, wayang | Leave a Comment »
Posted on Juni 8, 2009 by triwidodo
“Apa yang akan kamu korbankan untuk dapat memenuhi keinginan hatimu?” “Hidupku sendiri!” jawabnya. “Hidup begitu remeh dan merupakan hal yang paling tidak penting yang bisa dikorbankan setiap orang!” “Apa lagi yang kumiliki? Apa lagi yang dapat aku berikan?” “Pengabdian, sahabatku! Pengabdian!” suara dari atas memberi jawaban. (BANKIM CHANDRA CHATTERJI dalam ANANDAMATH).
Terluka oleh Ucapan Sang Ibu [...]
DIarsipkan di bawah: catatan pribadi | Ditandai: anand krishna, bhakti, Narada, srimad bhagavatam, Yesus | Leave a Comment »
Posted on Juni 5, 2009 by triwidodo
Sent by Klentheng Hawani, June 4. 2009 20:05 Facebook.
I am honored to be in the timeless city of Cairo, and to be hosted by two remarkable institutions. For over a thousand years, Al-Azhar has stood as a beacon of Islamic learning, and for over a century, Cairo University has been a source of Egypt’s advancement. [...]
DIarsipkan di bawah: secangkir kopi kesadaran | Leave a Comment »
Posted on Juni 4, 2009 by triwidodo
Sent by Anand Krishna
Agha Sufi (Darazi),
in Sufi Mahavaru (Monthly)
Dec. 1931 Larkana Sindh.
special edition in commemoration of the Generous Lord Sachal of Daraza
Edited by: Kismet T. Chagani (Chhagarnii)
(translation from Sindhi by Gul Agha)
This is the message that the King of Mendicants, the Lord of Shah
Daraza Sachal Sarmast gave in his holy life 108 years ago. I [...]
DIarsipkan di bawah: secangkir kopi kesadaran | Ditandai: anand krishna | Leave a Comment »
Posted on Juni 4, 2009 by triwidodo
Nachiketas seorang anak yang patuh terhadap orang tua. Dia mempunyai kemauan keras, memiliki pengetahuan dan melaksanakan semuanya dengan penuh kesungguhan. Sang Dewa Kematian menawari kekayaan seluas bumi, kekuasaan dalam masa yang panjang serta kenikmatan bidadari yang cantik dengan alunan musik surgawi, asalkan dia tidak mempertanyakan kematian. Dan, tawaran tersebut ditolaknya.
Antara kedewasaan fisik dan kedewasaan kesadaran
Usia [...]
DIarsipkan di bawah: catatan pribadi | Ditandai: anand krishna, bhagavad gita, kathopanisad, kematian | Leave a Comment »
Posted on Juni 2, 2009 by triwidodo
Dalam buku Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999, di jelaskan tentang makna Wedhatama. Wedha, Veda berarti Pengetahuan. Utama berarti “Yang Tertinggi”. Apabila dilihat dengan meminjam kacamata Sri Mangkunagoro IV, Pengetahuan Yang Tertinggi tidak bertujuan mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam [...]
DIarsipkan di bawah: kearifan lokal | Ditandai: anand krishna, dewantara, mangkunegara IV, pendidikan, tradisi | Leave a Comment »