Antara Bunglon, Pagi Kedele Sore Tempe, dan Cara Insani Menangani Permasalahan


Sambil menyetir mobil tua di luar kota, seorang suami berdiskusi dengan istrinya. Banyaknya kendaraan yang berlalu lalang antara Solo-Semarang, diselingi antri di beberapa tempat tidak mengurangi keasyikan pembicaraan mereka.

Sang Isteri: Mass media memberitakan bahwa masyarakat harap-harap cemas menanti berita kasus nasional yang menjadi head line. Padahal banyak masyarakat yang sudah cuek, tidak percaya lagi pada para wakilnya. Ingat kan komentar J.Kristiadi di artikel Kompas tanggal 23 Februari kemarin lalu? Masyarakat melihat panggung sandiwara lewat jendela mass media dan akhir kisah di panggung sandiwara selalu sulit ditebak, karena para pemain ahli “mimikri”, gampang berubah setiap saat, melihat keadaan sekitar dahulu.

Sang Suami: Bunglon?!? Almarhum kakek saya mencap mereka yang gampang berubah sebagai, “Pagi Kedele Sore Tempe”. Ya tergantung raginya, manjur atau tidak, kadang bisa jadi “mendoan” juga? Kita tak dapat berharap banyak pada manusia yang demikian. Berubah sebetulnya adalah hal yang alami, sel-sel pada tubuh kita pun dalam 2 tahun sudah 99% berganti. Air sungai yang lewat setiap saat bukan air sungai yang lama. Akan tetapi bila sel-sel yang sinkron dengan tubuh tiba-tiba bermutasi menjadi tumor yang ganas maka perubahan tersebut tidak lagi selaras dengan alam.

Sang Isteri: Beberapa orang yang mengaku murid dan pernah dengan lantang cinta Bhinneka Tunggal Ika, tiba-tiba berusaha mendiskreditkan seseorang yang tadinya dianggap gurunya dengan mengklaim dilecehkan seksual dengan blow up media masa. Katanya, dulu hal tersebut dilakukan karena pengaruh hipnotis. Bagaimana bila para wakil rakyat juga bilang bahwa dulu mereka setuju karena dihipnotis, makanya mereka sekarang berbeda. Kemudian beberapa orang yang juga mengaku pernah menjadi muridnya 5-6 tahun yang lalu mendukung dengan mengatakan hal yang sama. Hukum rupanya sudah bukan merupakan pengawal utama bangsa, bombardir mass media dengan kebenaran yang belum tentu dapat dibuktikan lewat mekanisme hukum membuat opini masa. Ada apa? Hal yang terjadi di suatu kelompok kecil tersebut dapat terjadi di suatu negara. Watch out!

Sang Suami: Almarhum kakek saya dulu pernah bilang bahwa para leluhur bilang “hati-hati”, perhatikan “rasa hati” yang ada di dada, sedangkan saat ini kita bilang “pikir-pikir”, memakai otak. Otak selalu berpikir untung-rugi dan sering tertutup fulus dan kemudian mencari pembenaran. Padahal masih ada satu proses lagi setelah memakai nurani, kita harus berani melakukan kebenaran minimal menyuarakan kebenaran. Berani karena memahami jati diri. Dan pusat energi itu berada di daerah pusar. Otak di kepala, nurani di dada dan keberanian di daerah pusar. Seseorang yang takut dan khawatir, dia tidak berani dan mempunyai permasalahan dengan perutnya. Ketidakberanian bersuara, orang paham yang diam, nyaman dalam “comfort zone”-nya itulah yang menyebabkan “adharma” merajalela.

Sang Istri: Kanjeng Nabi Muhammad SAW bersabda ada tiga ciri orang munafik: 1. Bila berbicara selalu dusta, tidak bisa dipercayai dalam setiap perkataan yang diucapkannya. Bisa jadi apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan hatinya; 2. Bila berjanji, tidak ditepati, sulit untuk dipercayai perkataan dan perbuatannya; 3. Bila diberi kepercayaan selalu berkhianat, sulit diberikan kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan tidak dapat dia jaga dengan baik. Semua profesi termasuk profesi beberapa insan mass media masa yang suka memblow up permasalahan yang belum jelas dan segelintir pengacara yang tidak memakai nurani sebenarnya hidup karena kepercayaan masyarakat. Semoga mereka menjunjung tinggi amanah ini dan tidak masuk mereka yang disebut munafik. Ada hukum alam, hukum aksi reaksi, semua harus mempertanggungjawabkan tindakannya.

Sang Suami: Perhatikan sabda kanjeng Nabi yang selalu mengetuk hati nurani, dan bukan mengajari kelicikan akal yang mencari pembenaran. Semalam saya membaca buku yang sempat saya beli di Gramedia, Youth Challenges and Empowerment, buku yang betul-betul luar biasa. Sayang kalau buku yang amat baik bagi kaum muda ini terabaikan oleh masalah ketidak puasan sekelompok orang yang belum lembut nuraninya. Terus terang saya sangat menghargai upaya Ketua Anand Ashram untuk mengakhiri kasus dengan damai. Inilah salah satu alternatif cara insani manusia.

Sang istri: Masih terbuka kesempatan, masih ada peran mass media, masih ada peran pengacara, masih ada peran kelompok yang bersengketa menyelesaikan dengan cara insani. Bukan dengan cara raksasawi atau cara hewani di rimba belantara. Demi bangsa ini damailah. Kedamaian di Ashram akan memberi aura kedamaian di negara kita. Kejadian di Ashram dapat terjadi di negara kita. Damai, Salam, Shanti, Sadhu. Semoga.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

About these ads

4 Tanggapan

  1. [...] Sang Suami: Bunglon?!? Almarhum kakek saya mencap mereka yang gampang berubah sebagai, “Pagi Kedele Sore Tempe”. Ya tergantung raginya, manjur atau tidak, kadang bisa jadi “mendoan” juga? Kita tak dapat berharap banyak pada manusia yang demikian. Berubah sebetulnya adalah hal yang alami, sel-sel pada tubuh kita pun dalam 2 tahun sudah 99% berganti. Air sungai yang lewat setiap saat bukan air sungai yang lama. Akan tetapi bila sel-sel yang sinkron dengan tubuh tiba-tiba bermutasi menjadi tumor yang ganas maka perubahan tersebut tidak lagi selaras dengan alam. Baca selebihnya » [...]

  2. [...] Sang Suami: Bunglon?!? Almarhum kakek saya mencap mereka yang gampang berubah sebagai, “Pagi Kedele Sore Tempe”. Ya tergantung raginya, manjur atau tidak, kadang bisa jadi “mendoan” juga? Kita tak dapat berharap banyak pada manusia yang demikian. Berubah sebetulnya adalah hal yang alami, sel-sel pada tubuh kita pun dalam 2 tahun sudah 99% berganti. Air sungai yang lewat setiap saat bukan air sungai yang lama. Akan tetapi bila sel-sel yang sinkron dengan tubuh tiba-tiba bermutasi menjadi tumor yang ganas maka perubahan tersebut tidak lagi selaras dengan alam. Baca selebihnya » [...]

  3. [...] bermutasi menjadi tumor yang ganas maka perubahan tersebut tidak lagi selaras dengan alam. Baca selebihn Ditulis oleh paparastaman Disimpan di Uncategorized Leave a Comment [...]

  4. [...] Sang Suami: Bunglon?!? Almarhum kakek saya mencap mereka yang gampang berubah sebagai, “Pagi Kedele Sore Tempe”. Ya tergantung raginya, manjur atau tidak, kadang bisa jadi “mendoan” juga? Kita tak dapat berharap banyak pada manusia yang demikian. Berubah sebetulnya adalah hal yang alami, sel-sel pada tubuh kita pun dalam 2 tahun sudah 99% berganti. Air sungai yang lewat setiap saat bukan air sungai yang lama. Akan tetapi bila sel-sel yang sinkron dengan tubuh tiba-tiba bermutasi menjadi tumor yang ganas maka perubahan tersebut tidak lagi selaras dengan alam. Baca selebihnya » [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 261 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: