Catatan Pribadi: Pointer Kata Pamit Purna Tugas di Kantor Semarang


Senin 24 Mei 2010

Ini satu note katarsis lagi dalam sebuah catatan pribadi.

Ass Wr Wb, Selamat Pagi, Salam Sejahtera,

Yang kami hormati…………………………………..

Pertama sekali kami mohon maaf, mohon waktu sebentar, mau pamitan.

Biasanya setiap bulan dari Kantor Pusat di Semarang ada 4-5 orang yang purna tugas. Kebetulan untuk bulan Juni, hanya kami sendiri yang pensiun. Agar pekerjaan kantor lebih lancar, kami ijin tidak masuk kerja selama satu minggu sampai saat pensiun. Satu minggu sebelum waktunya, agar teman-teman tidak rikuh dalam persiapan membuat konsep-konsep Surat-Surat Keputusan Penggantian kami. Baik sebagai Pejabat Inti Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk APBN dan APBD maupun Surat-surat lainnya sehingga awal Juni sudah berjalan lancar dengan pengganti yang baru.

………………….. masih ada waktu seminggu menata ruang, arsip-arsip lama ditata dan yang pribadi sudah kami ambil, sehingga sewaktu pengganti kami masuk sudah rapi.

Kebetulan hari ini hari Senin kita melakukan upacara bendera, biar ingat pada saat hari terakhir masuk kerja kami melihat pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Bagimu Negri.

Kami mulai kerja pada tahun 1979 di Proyek Irigasi Luwu, Sulawesi Selatan. Kantor proyek berada di Makasar, akan tetapi lokasi proyeknya berada di Kabupaten Luwu, perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, sekitar 9 jam perjalanan dari makasar pada saat itu. Beberapa kali kami dalam perjalanan menginap di Tanah Toraja. Setelah dua tahun kemudian kami pindah ke Bengkulu. Pada tahun 1985 kami mendapat tugas belajar di University of Manitoba, Canada dan pada tahun 1987 sepulang dari Canada kami ditempatkan di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh pada Proyek Irigasi Baro Raya. Pada tahun 1988 kami diangkat menjadi Pemimpin Proyek Irigasi Aceh Utara, yang berkantor di Banda Aceh. Pada tahun 1999 Kantor Proyek Irigasi Aceh Utara pindah ke Kota Bireuen, Kabupaten Aceh Utara. Pada waktu itu di Aceh termasuk DOM, Daerah Operasi Militer, dengan adanya Gerakan Aceh Merdeka.

Pada hari Saptu tanggal 7 April 1990, yang merupakan bulan puasa, kami sehabis makan sahur bersama beberapa teman melakukan perjalanan dinas ke Banda Aceh. Pengemudi bilang agar kami tidur dan akan dibangunkan setelah waktu subuh, untuk shalat subuh di Mesjid di tepi jalan. Di daerah Kabupaten Pidie tiba-tiba ada suara senjata meletus dan peluru M 16 mengenai mobil dan tiga pecahannya mengenai tubuh kami. Satu pecahan mengenai kulit di pinggang, satu lagi mengenai ujung paru paru yang membuatnya kempes dan satu pecahan peluru lagi mengiris limpa saya, perut saya berdarah-darah. Beberapa kali kami berhenti di Puskesmas di tepi jalan tetapi belum ada yang buka sampai akhirnya kami sampai di Sigli. Kami baru pingsan dan tidak sadar kala mendapat pertolongan pertama di rumah Sakit Sigli dan kemudian dibawa ambulance ke Banda Aceh. Perjalanan darat dari Sigli ke banda Aceh memakan waktu 2 jam lebih dan sampai di Banda Aceh, konon tekanan darah sudah mencapai 60/0 sehingga goyang sedikit nyawa melayang.

Jadi, Sejak tahun 1990 kami sudah tidak punya limpa. Darah kami juga sudah mendapat transfusi dari 8 orang teman di Aceh, yang terdiri dari banyak suku, Aceh, Batak, Padang, Jawa, Sunda dan merupakan darah dari berbagai penganut agama. Mungkin itu menjadi salah satu sebab kami lebih cepat menghormati semua suku dan semua keyakinan yang ada di Indonesia.

Setelah Bendung Peusangan Pante Lhong diresmikan oleh Menteri Perencanaan/Ketua Bappenas saat itu, Bapak Saleh Afiff, lemudian kami mendapatkan promosi sebagai Pemimpin Proyek Irigasi Teluk lada di Pandeglang, Banten. 

Pada tahun 1994 menjadi Pemimpin Proyek Induk Ciujung Ciliman di Banten dan pada tahun 1997, diminta menjadi Pemimpin Proyek Irigasi Jawa Tengah di Semarang. Setelah itu selaras dengan otonomi daerah kami masuk Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air sampai masuk purna tugas per 1 Juni 2010.

Pada waktu itu di tahun 1997 titik berat pemerintahan ke arah otonomi daerah. Semua proyek irigasi dari proyek-proyek induk bersatu menjadi Proyek Irigasi Jawa Tengah. Bersamaan itu ratusan pegawai bulanan proyek dari Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Bengawan Solo, Serayu Citanduy dan Jratun Seluna menjadi pegawai bulanan Proyek Irigasi Jawa Tengah. Tidak ada masalah juga karena dibayar lewat APBN. Masalah bermulai ketika Proyek Irigasi dikembalikan ke Balai Besar Wilayah Sungai yang merupakan kepanjangan tangan Pemerintah Pusat. Kepegawaian para pegawai bulanan proyek yang belum menjadi PNS menjadi mengambang. Bagaimana pun saat ini sebagian sudah berhenti kerja, sebagian sudah diangkat PNS sebagian yg tidak bisa diangkat PNS dikembalikan kepada yang membayar gajinya yaitu Balai Besar Wilayah Sungai. Penataan kembali tersebut akhirnya rapi juga setelah 13 tahun.

Berdirinya Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Bengawan Solo dan Serayu Opak di Jawa Tengah yang merupakan instansi Pusat di daerah, dibantu secara penuh oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah. Demi pembangunan bidang sumber daya air di Jawa Tengah, maka Dinas meminjamkan beberapa karyawan pada tahun 2007, untuk membantu kelancaran organisasi. Pemimjaman tersebut, mempunyai dampak kepegawaian mereka yang dipinjamkan. Akan tetapi pada saat ini sudah mulai tertata, surat lolos butuh bagi yang ingin pindah ke Balai Besar maupun yang ingin pindah ke Dinas sudah disetujui. Perlu waktu 3 tahun untuk merapikan organisasi kembali.

Semoga tahun depan depan sudah ada tunjangan remunerasi bagi seluruh karyawan, sehingga semua karyawan mendapat penghasilan yang layak.

Kami berterima kasih sekali kepada para pimpinan dan seluruh teman-teman yang kemarin mengajak makan bersama di Bendungan Wonogiri. Wong Jowo itu suka otak atik gathuk. Ngepas-ngepaskan keadaan.

Wonogiri, bermakna hutan di gunung. Setelah purna tugas diminta pergi ke gunung, “mandhito”, bertapa. Sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu kami mengikuti kegiatan Anand Ashram, dan merasa berbahagia di organisasi tersebut. Pengabdian formal kepada negara sudah selesai, akan tetapi pengabdian informal kepada Ibu Pertiwi tak pernah usai.

Pergi ke Waduk Gajah Mungkur, mungkin disuruh “mungkur” atau membelakangi dari pekerjaan kantor, sehingga hanya menulis dan bertapa. Kebetulan dipilihkan rumah makan di tepi waduk yang bernama “Pak Glindhing”, setelah pensiun hidupnya diminta “ngglindhing”, berjalan dan berputar saja ikuti roda kehidupan.

Berikut ada beberapa contoh roda kehidupan.

Kita lahir sendiri, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, mahasiswa, kerja, pensiun kerja, pensiun hidup itu adalah roda kehidupan. “Ndhisik nglamar gaweyan terus nyambut gawe dibacutake metu SK Pensiun, terus ora nyambut gawe maneh”. Tadinya melamar pekerjaan, terus bekerja, selanjutnya keluar SK Pensiun dan tidak bekerja lagi itulah Roda kehidupan. “Ngglindhing”. Berjalan dengan berputar.

Tadinya setiap pagi masuk kantor, sekarang tidak perlu masuk lagi. Wajar. Tadinya memakai kendaraan dinas dan pengemudi, sekarang tidak memakai mobil dinas lagi. Awalnya tidak ada, kemudian mengada dan kemudian tidak ada lagi. Pak Ustad bilang “Inna lillahi wa innna lillahi rojiun”. Dari Ilahi kembali ke Ilahi.

Sewaktu di Solo, beberapa teman memberikan pesan dan kesan, bahwa kami selalu yayaya, jarang sekali menolak. Baiklah kami mencoba memberikan alasannya. Kami berlatih mengendalikan ego, selama masih masuk kriteria, kami terima, sekaligus agar tumbuh kepercayaan diri pada yanng bekerja. Bukankah Ki Hajar Dewantara memberi nasehat, “Ing Ngarsa sung tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani”. Berada di Depan memberi teladan, di Tengah memberi semangat, di Belakang memberi pengaruh. Sudah saatnya kami berada di Belakang.

Pengalaman kami dalam mengusulkan promosi dan mutasi memberikan pelajaran tersendiri. Nampaknya semuanya sudah seperti ditetapkan Yang Maha Kuasa sebelumnya. Mungkin yang menetapkan kita sendiri yang patuh pada hukum sebab akibat holistik, bukan aksi reaksi parsial. Ada beberapa orang yang usulannya begitu lancar, ada yang hasilnya diluar dugaan hanya di saat terakhir ada telpon berbunyi, ada yang diusulkan berkali-kali tetap ada yang menghalangi. Kita hanya sekedar alat yang bekerja sebaik-baiknya saja.

Kemudian mengapa nama Triwidodo Djokorahardjo, tanda tangannya Rahardjo? Kami harus bersyukur kepada orang tua. Agar selamat seyogyanya sebelum bertindak termasuk tanda tangan mestinya membaca afirmasi “Bismillah hirrohman hirrohim”, ingat Yang maha Pengasih dan Penyayang. Karena waktu itu sering lupa yang penting afirmasi selamat dan sejahtera, dalam bahasa jawa Raharja. Jadi sambil paraf atau tanda tangan itu menguatkan afirmasi selamat dan sejahtera…… wkwkwkwkw……. Alhamdulillah saat ini sudah pensiun dengan selamat.

Alhamdulillah kami sudah enam tahun ikut kegiatan Anand Ashram, sehingga kami merasa hidup punya makna. Kami selalu ingat pesan orang yang kami hormati, yang kami doakan setiap hari, “Pak Tri tugas untuk negara secara formal sudah selesai, namun tugas bagi Ibu Pertiwi tak pernah usai”. Terima Kasih Guru panduan-Mu telah mengubah hidup kami.

Kepada Yang Terhormat………… dan seluruh teman-teman semua kami mohon maaf atas segala kesalahan kami selama bekerja sama.

Teman-teman semua mohon tutup mata dan berdoa………….. Al Fatihah…….

Silakan buka mata.

Kata para leluhur, kalau doa orang banyak tanpa makan dinamakan doa bersama bisa di mushola. Bila makan bersama orang banyak tanpa doa bersama namanya pesta bisa di warung saja. Yang namanya slametan itu ada doa bersama dan ada makan bersama, kebetulan makanan sudah disediakan teman-teman,  mari makan bersama.

Salam…….

http://triwidodo.wordpress.com

About these ads

2 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum mas Djoko ingkang Rahardjio,

    Artikel ini yang pertama menggelitik saya untuk segera membuka dan membacanya.
    Bukan main, baru sekali saya membaca sambutan ” slametan ” pamit purnakarya yang “ber-ruh ”
    Apik tenan pamitan ndika.
    “Mungkur” pancen wis wayahe janma sak umur awake ta.
    Wiwit saking jaman ing njero kandhutan, gendhinge ” Maskumambang “- emas kumambang ing guwagarba. Njur ” Mijil ” – lair, ” Kinanthi “- di kanthi diajari tatakrama ngaurip, ” Sinom ” – dadi nom-noman, ” Smaradahana “- abege olah asmara ,”
    Lha tutuge ” Gambuh ” – kagungan kulawarga, “Durma ” – paring dharma bekti dateng negari, ” Dhandhanggula ” – berdendang manis menikmati kemuliaan hidup ndungkap yuswa 40-50.
    Terusane panci kidung ” Pangkur ” – zuhud dunya, margi tutuge gendhing namung kantun ” Megat-ruh” sawayah wayah Kapundhut ruh kita kalihan Kang Kagungan, njur gendhing pungkasan ” Pocung ” – di-pocong dibuntel lawon, asal lemah bali dadi lemah.

    Sugeng angidung Pangkur, Pangkur jatining Pangkur sanes Pangkur sing dede Pangkur, rahayu kondur angedhaton jatining Kedhaton.

    Sudarmanta

    • Maturnuwun Mas Sudarmanta Tri Widada. Sampun kapareng tindak ing gubug maya kawula. Comments ingkang luarbiasa mberkahi. Kadosta Gusti maringi pepadhang ing lampah kawula.
      Rahayu __/\__

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 220 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: