Melayani Sesama, Renungan Ke-57 Tentang Berguru


Sepasang suami istri sedang berolah-rasa tentang berguru. Buku-buku serta artikel-artikel Bapak Anand Krishna mereka jadikan referensi. Mereka yakin siraman wisdom secara repetitif-intensif dari referensi tersebu bagaikan pemberian pupuk bagi pengembangan tanaman kasih di dalam diri.

Sang Suami: Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan orang lain. Setelah berkembang menjadi Manusia-Plus, dia akan berkata, Wahai Gusti, kebutuhan pribadi kami telah Gusti cukupi, ‘sampun cekap Gusti’….. biarlah waktu, napas dan apa pun yang telah Gusti karuniakan kepada kami, kami persembahkan bagi pelayanan kepada sesama……… Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana………

Sang Istri: Berkaitan dengan spiritualitas ada beberapa kondisi diri kala berhubungan dengan sesama, pertama Antipati, berlawanan dengan sesama; kedua Apati, cuek, acuh tak acuh terhadap sesama; ketiga Simpati, menaruh belas kasihan terhadap sesama yang sedang menderita; dan keempat Empati, dapat merasakan penderitaan sesama. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Empati – yang sebelumnya hanya dirasakan mulai dipraktekannya dalam keseharian hidup. Demikian ia memasuki terminal berikutnya melayani. Melayani berarti  berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi orang lain, bagi seluruh umat manusia. Berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta. la tidak memikirkan hasil. Seluruh kesadaran dipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Maka, tidak perlu dipikirkan. la berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Bagi seorang Karma Yogi, Maanava Sevaa atau Pelayanan terhadap Sesama Manusia, bahkan Sesama Makhluk, adalah Maadhava Sevaa atau Pengabdian terhadap Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh atau berdana-punia demi pahala atau kenikmatan surgawi. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya……….

Sang Suami: Berbicara masalah “Melayani” aku ingat buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” yang menyampaikan tentang……… Alkitab (Perjanjian Baru) Matius 25:35-40, “Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumah kalian.” “Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku di penjarakan, kalian menolong Aku.” Lalu orang-orang itu akan berkata, “Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum?” “Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing. Lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau di penjarakan, lalu kami menolong Tuhan?” Raja itu akan menjawab, “Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!” Melayani sesama dengan melayani Tuhan. Dan Tuhan pun bisa menggunakan tangan siapa saja untuk membantu kita, mengangkat kita dari keterpurukan. Mengapa kita masih juga meragukan hal ini? Karena kita belum yakin akan kemahahadiran-Nya. Kita belum cukup yakin akan kemahakuasaan-Nya. Kita belum dapat melihat wajah-Nya di mana-mana. Kita belum merasakan keagungan dan kemahabesaran-Nya……..

Sang Istri: Kebajikan tidak dimulai di Rumah demikian disampaikan dalam buku “Voice of Indonesia”………. Apa yang kita lakukan untuk kebutuhan kita, untuk rumah kita – tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan sama sekali. Itu sudah merupakan kewajiban kita, sudah merupakan tanggung jawab kita. Maka dari itu amal tidak dimulai di rumah. Kebajikan harus dimulai di luar rumah kita. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi.…. tetapi bagi mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pelayanan kita. Dengan melakukan kebijakan terhadap anggota keluarga kita, kita tidak membuktikan apapun. Bahkan kita telah menodai hubungan yang ada diantara kita sebagai anggota keluarga. Apa yang saya lakukan pada mereka adalah kewajiban saya kepada keluarga – tidak lebih dari itu. Dan ada waktunya kewajiban itu berakhir. Sebagai contoh Anda tidak berkewajiban untuk membiayai anak anda seumur hidupnya. Pada umur tertentu mereka harus berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan Anda tetap melakukannya – maka anda melakukan kebajikan. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat anda berkewajiban untuk melakukan kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban anda. Tidak sebuah sistem kepercayaan manapun yang dapat melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak diharuskan untuk melakukan sebuah tindakan kewajiban. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun, pamrih apapun didalam dirinya untuk melakukan tindakan kebijakan………

Sang Suami: Betul istriku, dalam buku “Voice of Indonesia” tersebut juga disampaikan……… Kebajikan dilakukan bukan karena alasan apapun. Kebajikan harus dilakukan dalam perbuatan bajik itu sendiri. Kebajikan macam apa yang berakar pada sebuah agresi? Seorang pengacara dari sebuah lembaga yang bergerak di bidang hukum yang membela seorang teroris juga tidak melakukan sebuah kebajikan, meskipun mereka menyatakan bahwa mereka melakukan perbuatan itu dengan cuma-cuma, tidak dibayar oleh para teroris tersebut. Hal ini membuat mereka tidak lebih baik dari teroris yang mereka bela. Mereka berjuang dengan sebuah alasan yang sama, melakukan sebuah perbuatan yang tidak bajik. Kebajikan macam apa yang menyebabkan matinya ribuan orang, meledakkan bom di tempat-tempat umum dan merusak reputasi sebuah negara…….. Sebuah kebajikan dilakukan dengan alasan untuk menyenangkan banyak orang, sebanyak mungkin orang yang dapat dijangkau. Dan seorang yang bajik selalu terlibat dengan hal semacam itu. Seorang yang bajik, seorang dengan hati yang dipenuhi kebajikan, tidak dapat dikurangi dalam dinding-dinding rumahnya sendiri. Orang semacam itu akan selalu berusaha, melampaui kewajiban yang harus mereka lakukan, sehingga mereka dapat melakukan kebajikan bagi orang lain. Dengan kata lain, tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa mereka melarikan diri dari kewajiban. Tidak, sama sekali tidak, mereka bekerja keras untuk memenuhi semua hutang mereka, menyelesaikan kewajiban mereka terhadap anggota keluarganya – sehingga mereka dapat melakukan sesuatu lebih mulai nilainya………

Sang Istri: Kembali ke masalah “Melayani”, melayani tidak berarti membuat yang dilayani menjadi “tergantung” selama hidupnya.  Dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” disampaikan……… Sistem yang berlaku di dunia saat ini telah menjebak kita dalam kesalahpahaman kolosal, kekeliruan massal, seolah melayani fakir miskin adalah perbuatan yang bajik. Tidak. Melayani fakir miskin, yatim piatu, para janda, orang sakit, dan lain sebagainya mesti dipahami sebagai: First Aid – Pelayanan  Gawat Darurat. Janganlah mencintai unit gawat darurat. Jangan berlama-lama di dalam unit itu. Pun jangan sampai seorang pasien dipindahkan ke salah satu kamar di rumah sakit. Rumah sakit adalah rencana dunia, bukan rencana Allah. Dalam Kerajaan Allah tidak ada rumah sakit. Pelayanan gawat darurat hanyalah sebatas untuk menyembuhkan seorang, yang karena ulahnya sendiri, jatuh sakit. Dari unit gawat darurat itu setiap pasien mesti keluar dalam keadaan sembuh total. Seperti itu pula pelayanan-pelayanan lainnya, untuk menyembuhkan, mengoreksi, meluruskan, dan membantu manusia untuk menyadari kemanusiaan dirinya dalam waktu sesingkat mungkin………

Sang Suami: Benar istriku, dalam buku tersebut juga disampaikan bahwa…….. Terapi yang dibutuhkan untuk memanusiakan manusia, lagi-lagi, adalah kasih, kasih tanpa syarat dan tanpa batas. Belajarlah dari Allah Bapa. Melihat dunia ini dalam keadaan kacau-balau, apa yang dilakukan-Nya? Solusi apa yang diberiNya? “Allah Mengutus Anaknya yang Tunggal” (Yohanes 3:17) Dan, Anak Tunggal itu, Yesus itu, mewakili apa? Kemanusiaan, sebagaimana dikatakan-Nya sendiri. la adalah “Anak Manusia”. Allah menghendaki: … supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)…….. Apa arti “Yesus, sebagai Anak Tunggal”? Arti Yesus sebagai Anak Tunggal adalah sama dengan arti “kemanusiaan dalam diri manusia” – Itulah sifat tunggal manusia. Manusia yang tidak manusiawi bukanlah manusia. Dan, inti kemanusiaan adalah “kasih”. Sesungguhnya, kemanusiaan adalah ungkapan kasih Allah. Itulah Zat Allah yang berada dalam diri setiap manusia: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yohanes 3:16)……. Kemanusiaan atau Kasih, ibarat dua sisi dari sekeping uang logam yang sama. Tidak ada kemanusiaan tanpa kasih, dan tidak ada kasih tanpa kemanusiaan. Nah, kasih atau kemanusiaan dalam diri kita itulah: Kesadaran Kristus. Dalam bahasa Wattles, itulah Kesadaran Kosmis. Dalam bahasa Yoga, itulah Turiya, Hyang Tak Terjelaskan. Dalam bahasa Buddha, itulah Bodhichitta, Kesadaran Buddha…………

Sang Istri: Iya suamiku, dalam buku “A NEW CHRIST Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Bapak Anand Krishna” tersebut juga disampaikan……… Kasih atau Kemanusiaan adalah sifat dari kesadaran tersebut. Kesadaran adalah sesuatu yang abstrak. Ketika yang abstrak itu mewujud, hasilnya adalah Kasih, hasilnya adalah Kemanusiaan. Di satu sisi, kasih mempersatukan kita dengan Tuhan, dengan Allah Bapa. Di sisi lain, kasih juga mempersatukan kita dengan sesama makhluk, bahkan dengan semesta. Pertemuan dengan Tuhan terjadi dalam keheningan diri. Sementara itu, pertemuan dengan semesta terjadi di tengah kebisingan dunia. Aku, kamu, dia, kita, alam semesta dengan seluruh isinya, dan Tuhan, semuanya bersatu dan menyatu dalam kasih. Ketika kita menyadari hal ini, terjadilah apa yang disebut “Pencerahan” – enlightenment. Pencerahan berarti “melihat apa yang tidak terlihat sebelumnya”. Tidak berarti apa yang tidak terlihat itu sebelumnya tidak ada. Ada, tapi tidak terlihat karena entah mata kita tertutup, atau selama ini kita memang…… menolak untuk melihat Kebenaran……….

Terima kasih Bapak Anand Krishna

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2011

About these ads

Satu Tanggapan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 272 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: