Renungan Kebangsaan: Perjalanan Batin Yudistira Dari Filosofi Ke Penegakan Dharma Di Dunia Nyata

Semasa remaja, Pandawa dan Korawa belajar bersama pada guru yang sama. Dalam hal ilmu perang guru mereka adalah Pandita Drona, dan Arjuna menjadi murid terpandai. Kemudian para remaja tersebut mempelajari  ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dan, dalam ini, Yudistira tampil sebagai murid terpandai, sehingga Resi Krepa sangat mendukung agar tahta Hastinapura diserahkan kepada Sulung Pandawa tersebut.

Di masa mudanya, hanya satu kelemahan diri yang belum dapat diatasi Yudistira, yaitu kegemaran untuk bermain dadu. Bermain dadu dan memegang janji taruhan sebagai dharma. Kerancuan pikiran inilah yang membuat Pandawa terlunta-lunta karena Yudistira kalah bermain dadu dengan Korawa akibat kelicikan Shakuni. Pandawa harus menyerahkan kerajaan Indraprasta beserta isinya dan menjalani hidup di hutan selama 12 tahun dan kemudian hidup menyamar selama 1 tahun. Yudistira telah berjudi secara pribadi tetapi mengorbankan seluruh negara dan keluarganya dengan anggapan telah mengikuti dharma……

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh satu per satu dari adik-adiknya mencari air minum. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali. Yudistira kemudian berangkat menyusul adik-adiknya dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Kemudian terdengar suara seorang Yaksha yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Sang Yaksha menceritakan bahwa keempat saudaranya tewas keracunan air telaga karena mereka menolak menjawab pertanyaan Sang Yaksha sebagai pemilik danau, tetapi langsung minum air karena kehausan. Kemudian sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Yaksha untuk bertanya. Satu per satu, pertanyaan demi pertanyaan berhasil dia jawab.

….. Yang menyebabkan matahari selalu bersinar adalah Brahman…… Keberanian menyelamatkan manusia dari marabahaya…… Membaca kitab-kitab belum membuat orang menjadi bijak, bergaul dengan para bijak bisa memperoleh kebijaksanaan….. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia daripada bumi….. Hanya dharma yang mendampingi manusia dalam kematian…. Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik….. Dengan meninggalkan keangkuhan manusia akan dicintai sesama…… Dengan menghilangkan amarah manusia tidak akan dikejar kesedihan….. Dengan meninggalkan hawa nafsu manusia akan menjadi kaya….. Yang paling mengherankan adalah bahwa setiap orang pernah melihat orang lain pergi menghadap Yama tapi orang tersebut selalu lupa bahwa Yama pun sedang menunggui dirinya……

Akhirnya, Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudistira, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Oleh karena itu Yudistira diminta memilih siapa yang akan dihidupkan kembali. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Sang Yaksha heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandungnya. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madrim, yaitu Nakula. Sang Yaksha terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Yama, “Yudistira ingat-ingatlah peristiwa ini. Engkau sudah tidak lagi hanya paham teori dharma, akan tetapi telah mempraktekkannya dengan memilih Nakula agar dihidupkan kembali. Engkau sudah dapat mendengar suara hati nuranimu dan kau praktekkan suara hati nuranimu ke dalam tindakan nyata. Berkat tindakanmu yang  nyata-nyata berdasarkan keadilan dan ketulusan, maka tidak hanya Nakula, melainkan Bima, Arjuna, dan Sadewa pun kuhidupkan…… Continue reading

Renungan Kebangsaan: Hakikat Pengorbanan Sadewa Menjelang Perang Bharatayuda

Dewi Kuntì, ibu Pandawa cemas mengenai nasib anak-anaknya yang sedang mengembara di hutan menjalani masa pengasingan selama 12 tahun. Waktu sudah mendekati tahun ke-12, kala Dewi Kunti mendengar bahwa ada dua raksasa Kalantaka dan Kalajaya yang sangat kuat yang akan membantu koalisi Korawa dalam perang Bharatayuda. Bhima dan Arjuna pernah berperang tanding dengan mereka, akan tetapi kedua saudara Pandawa tersebut terdesak, karena pada saat kedua raksasa tersebut hampir kalah, mereka selalu membaca mantra pemberian Bathari Durga, dan mereka berdua dapat menjadi kuat kembali. Beruntung pada waktu perang tanding tersebut kedua raksasa segera meninggalkan Bhima dan Arjuna karena menerima panggilan dari Bathari Durga.

Dewi Kunti sangat prihatin melihat kesulitan Bhima dan Arjuna dalam menghadapi kedua raksasa tersebut. Sebagai seorang ibu, Dewi Kunti berupaya sekuat tenaga agar Bhima dan Arjuna dapat menang melawan mereka. Kemenangan tersebut akan membangkitkan semangat mereka untuk lebih percaya diri kala menghadapi perang Bharatayuda nantinya. Dewi Kunti kemudian menemui Bathari Durga agar berkenan menarik kembali mantra kesaktian raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Sang Bathari bersedia mengabulkan permintaannya asal Dewi Kuntì membawa Sadewa kepadanya. Dewi Kuntì dengan tegas menolak permintaan tersebut. Akan tetapi pada saat terjadi pergolakan batin, seorang pembantu Bathari Durga merasuk ke dalam diri Dewi Kuntì dan berhasil mempengaruhi  dirinya untuk membawa Sadewa ke tempat Bathari Durga.

Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa juga merupakan seseorang ahli astronomi. Yudisthira pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara dengan Brihaspati, guru para Dewa. Sadewa giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya serta amat patuh terhadap Dewi Kunti. Sejak Dewi Madrim, ibunya meninggal, Dewi Kunti merawatnya sebagai putra sendiri. Baginya Dewi Kunti adalah Guru Pertama dalam kehidupan, apa pun perintah ibunya dia jalani. Sadewa bersyukur bahwa dia dilahirkan di dunia sebagai saudara bungsu Pandawa. Pandawa adalah contoh abadi sebuah sangha, support group yang baik dalam menegakkan dharma. Support group yang sangat kompak, dimana mereka saling bantu-membantu dan mau berkorban demi keselamatan saudara yang lain. Pengorbanan adalah mahkota para kesatria.

Dalam buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…… Carilah support group yang betul-betul dapat menunjang kesadaran. Kemudian, jika sudah mendapatkannya, upayakan kerjasama yang baik dengan peserta lain. Untuk itu, belajarlah untuk berkorban. Ya, kerjasama yang baik tidak hanya berlandaskan pada win-win theory. Win-win berarti kau menang, aku pun ikut menang. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada win-win, karena untuk memenangkan, kamu tak apa bila kau mesti berkorban. Semangat dan kerelaan untuk berkorban adalah penting, Walau semangat itu sendiri sudah cukup untuk memastikan bahwa pihak yang berkorban pun tidak pernah merugi, tidak pernah kalah. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Setiap orang yang rela berkorban, telah keluar sebagai pemenang. Ia berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendiri…… Continue reading

Renungan Kebangsaan: Bhima, Hanuman Dan Dewaruci, Perjalanan Batin Menjelang Perang Bharatayuda

Para Pandawa selalu ingat wejangan Bhagawan Abyasa, Sang Kakek Agung yang menyampaikan nasehat agar mereka menggunakan waktu 12 tahun di hutan, yang telah diskenario oleh Keberadaan, untuk mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran mereka. Pengembangan jiwa dan peningkatan kesadaraan sangat penting untuk menghadapi perang Bharatayuda di luar maupun perang batin di dalam yang setiap saat selalu berkecamuk di dalam diri selama hayat masih dikandung badan..

Kala Arjuna pergi bertapa mencari senjata andalan, Bhima melindungi saudara-saudaranya dan Drupadi dalam pengembaraan di hutan. Pada suatu hari Drupadi menemukan bunga saugandhi dan minta Bhima mencarikan tanaman bunga yang sangat harum tersebut guna ditanam di hutan di tempat mereka tinggal. Bhima mengikuti bau harum bunga dan naik ke atas gunung. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan kera raksasa berwarna putih yang sedang beristirahat. Bhima minta sang kera menepi karena dia akan melewati jalan setapak tersebut. Sang Kera sengaja menggoda dan menanyakan dirinya itu siapa yang berani menyuruh seekor kera yang sedang beristirahat untuk menepi. Bhima mengatakan bahwa dirinya adalah Bhima, saudara kedua Pandawa yang juga disebut Bayuputra, karena masih keturunan dari Bathara Bayu yang menguasai angin. Bhima juga mengatakan bahwa dia juga mempunyai saudara seekor kera, keturunan Bathara Bayu di zaman Tetra Yuga bernama Hanuman yang menjadi idola para manusia, oleh karena itu Bhima minta supaya sang kera minggir. Sang kera minta agar Bhima memindahkan ekornya agar bisa lewat. Ternyata Bhima yang perkasa tidak sanggup memindahkan ekor sang kera. Keangkuhan Bhima hancur berkeping-keping, baru kali ini Bhima menyerah dan mengakui kekuatan Sang Kera, “Wahai Kera sakti , aku mohon maaf atas kesalahanku yang memaksakan kehendakku, mulai saat ini aku tidak akan lagi memaksakan kehendak.” Sang Kera tertawa, “Bhima kutunggu 5.000 tahun untuk bertemu denganmu, akulah Hanuman saudaramu.” Hanuman memeluk Bhima dan Bhima sangat terharu bertemu saudaranya Sang Putra Bayu. Hanuman memberi petunjuk kepada Bhima bagaimana menjalani hidup dengan penuh pengabdian dan perlunya yakin kepada diri sendiri. Hanuman memberi nasehat agar Bhima berjuang menegakkan dharma tanpa pamrih dan perlunya menemukan jatidiri sehingga kita tidak akan goyah dengan berbagai prahara ataupun kegemerlapan dunia.

Semua yang dilakukan Hanuman hanyalah untuk menyenangkan Sri Rama (Dia Yang Berada Di Mana-Mana). Ego-nya telah dilampaui. Hanuman adalah bhakta, panembah yang sempurna.  Hanuman melakukan devosi (bhakti) yang murni. Hanuman membantu membuat jembatan ke Alengka, berkelahi dengan para raksasa, mencari tanaman obat untuk Laksmana dan dia bekerja tanpa pamrih pribadi dan semata-mata segala perbuatannya hanyalah untuk menyenangkan Sri Rama. Oleh karena tindakan-tindakannya, Hanuman dikaruniai usia ribuan tahun (Chiranjiwin), dia akan hidup selama kebesarannya masih disuarakan di dunia. Hanuman menghubungkan antara seorang bhakta, panembah dengan Hyang Widhi. Hanuman bertugas melayani, melindungi dan memberi inspirasi kepada bhakta, panembah Hyang Widhi. Continue reading

Renungan Kebangsaan: Pasopati, Senjata Arjuna Sebagai Pengendali Keserakahan Diri Dalam Perang Bharatayuda

Pandawa menjalani pembuangan di hutan selama 12 tahun, dan Bhagawan Abyasa, sang kakek yang bijak menemui mereka di awal tahun pembuangan. Sang Bhagawan memberi nasehat, pada saat para Korawa menikmati gemerlapnya kekuasaan yang memabokkan, Pandawa perlu merasakan pengalaman hidup di hutan agar jiwa dan raga mereka lebih kuat dan kesadaran mereka meningkat. Di saat Korawa menghabiskan waktu untuk menikmati dan memuaskan kemewahan duniawi, para Pandawa harus memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Dalam Hidup adalah suatu proses, tujuan hidup bukanlah untuk memuaskan keinginan duniawi, tetapi untuk mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran agar hidup bermakna bagi sesama dan bagi alam semesta. Dan pengendalian diri adalah modal utama untuk mencapai kesuksesan.

Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad… Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengandalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang itu.

Sang Bhagawan minta agar Arjuna bertapa dan mohon karunia Bathara Guru untuk mendapatkan senjata yang sakti untuk memperkuat keyakinan diri. Dikisahkan bahwa Arjuna bertapa di gunung Indrakila dan tujuh bidadari utusan Bathara Indra dengan kecantikan tak tertandingi menggoda Arjuna. Walaupun demikian, karena Arjuna telah berhasil mencapai  keteguhan-hati,  maka ia tidak terganggu oleh godaan para bidadari jelita tersebut. Ia tidak menukar cita-citanya demi bidadari-bidadari yang cantik. Selanjutnya Bathara Indra sendiri yang menguji apakah Arjuna seorang ksatria yang penuh keyakinan, ataukah seseorang yang sedang melarikan diri dari kesulitan dunia. Bathara Indra menyamar sebagai seorang pengemis tua yang memperolok dan menggugah rasa kesatriaan Arjuna. Ia muncul dan menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya Arjuna belum mencapai kesempurnaan, karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri dari kesulitan dunia. Dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan diri, juga bukan untuk kepentingan keluarga Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran, menegakkan dharma melawan adharma. Demi keyakinannya akan kebenaran, Arjuna berani menghadapi apa saja, bahkan kematian sekalipun akan dihadapinya. Continue reading

Renungan Kebangsaan: Upacara Rajasuya Dan Akhir Kisah Dua Raksasa Penjaga Istana Waikunta

Di zaman mahabharata terdapat banyak kerajaan yang merdeka yang menjalankan pemerintahannya sendiri. Akan tetapi ada beberapa maharaja dari kerajaan besar yang diakui dan dihormati oleh para raja sekitarnya. Indraprasta sebagai salah satu kerajaan besar akan mengundang para raja untuk hadir dalam upacara Rajasuya. Begitu mereka hadir dan mengakui kedaulatannya, maka Yudisthira sah sebagai maharaja Indraprasta. Bila ada yang diundang dan tidak hadir, maka bisa terjadi peperangan, dan yang kalah akan tunduk. Akan tetapi sangat jarang seorang raja yang menganeksasi kerajaan lainnya. 5.000 tahun sebelumnya, Sri Rama mengalahkan Rahwana, akan tetapi dia tidak menganeksasi, dia menyerahkan pemerintahan Alengka kepada Wibisana, adik Rahwana. Yudisthira dengan dukungan para saudaranya disegani para raja, dan para raja tersebut menghadiri undangan upacara Rajasuya. Perayaan semakin semarak karena ke 95 raja bekas tawanan Jarasandha hadir sebagai rasa terima kasih kepada Pandawa.

Sebagai akhir dari upacara Rajasuya, dilakukan persembahan kepada tamu yang paling dihormati di antara semua raja-raja dan resi yang hadir. Yudisthira kebingungan, kepada siapa penghormatan itu diberikan. Dan menyeletuklah Bhisma, “Yudistira, hanya ada seorang yang pantas menerima kehormatan yaitu Sri Krishna.” Yudisthira menurut dan dia beserta Drupadi mulai mencuci kaki Sri Krishna dengan air bunga. Dan, kemudian air tersebut dipercikkan kepada kepala semua saudara-saudaranya.

Dalam buku “Mengungkap Misteri Air”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2006 disampaikan…… Air mempunyai sifat membersihkan, dan mendinginkan. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran, apabila air mendengarkan lagu yang indah, didoakan, dihormati, atau mendapatkan getaran penuh kasih maka air akan membentuk kristal hexagonal yang indah. Pengetahuan ini penting, karena bumi ini mengandung air sekitar 70%, demikian pula organ-organ tubuh kita mengandung air yang bervariasi dengan rata-rata pada orang dewasa sekitar 70% juga. Sejak lahir hingga mati kita membutuhkan air. Setiap acara ritual keagamaan hampir selalu menggunakan air sebagai sarana ritual……….

Air yang mendapat vibrasi doa bersama dan diberkati seorang suci mempunyai pengaruh yang luar biasa…… Dalam kisah sungai Gangga diceritakan bahwa Sungai Gangga bertanya kepada raja  Bhagiratha, “Pertama, apakah ada yang sanggup menahan diriku apabila aku menggerojok ke bumi dari angkasa? Kedua, apa untungnya aku pindah ke Bumi, setiap orang yang punya kekotoran batin dengan niat yang sungguh-sungguh dapat aku sucikan. Akan tetapi siapa yang akan mensucikan diriku, bila semua kotoran berkumpul pada diriku?” Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi Gangga, apabila ada seorang di antara para resi suci, para penglihat agung, mereka yang telah melampaui perbudakan karma, mereka yang tidak punya pikiran selain Tuhan, manakala satu di antara mereka berendam di sungaimu mereka akan mensucikanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.” Konon Sungai Gangga yang turun ke bumi ditahan oleh rambut Shiva, sehingga tidak ada satu pun air yang menetes di bumi, Dewi Gangga mohon maaf dan air dialirkan oleh Shiva secara perlahan-lahan ke bumi……..

Bukan hanya air, akan tetapi makanan pun dapat merasakan vibrasi kasih. Para leluhur berdoa dengan duduk melingkar dengan pusat lingkaran berupa nasi tumpeng. Doa bersama akan memberikan getaran kasih kepada kandungan air dalam nasi tumpeng dan membuat nasi tumpeng tersebut membawa berkah. Berdoa sebelum dan sesudah makan juga memberikan getaran terhadap makanan sehingga membawa berkah bagi tubuh……. Continue reading

Ujian Nasional dan Karakter Pemimpin

Di muat @ Radar Jogja 23 Mei 2011.

http://www.facebook.com/notes.php?id=1587940362#!/mcdishadi

Oleh : Anand Krishna*

Ketika Ki Hajar Dewantara (1889-1959) menggagas pembangunan jiwa manusia lewat pengembangan daya cipta, karsa dan karya yang inheren – sudah ada di dalam diri setiap orang – istilah-istilah asing seperti Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan lain sebagainya belum dikenal.

Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional “kita”, terinspirasi oleh kearifan lokal “kita” sendiri. Sayang, beribu-ribu kali sayang, bahwa “kita” pula yang kemudian meninggalkan kearifan tersebut, dan malah berkiblat pada kearifan impor yang belum tentu seratus persen cocok untuk kita.

Nilai Lokal – Nilai Impor

Tidak ada salahnya mengadopsi nilai-nilai luhur dari luar, dari Barat, dari Arab, dari Cina, dari India – dari mana saja. Sebagaimana tidak ada salahnya kita menghormati ayah atau ibu seorang sahabat. Tidak ada salahnya kita memanggil mereka “Bapak” atau “Ibu”. Namun, salah besar – dan itu yang terjadi saat ini – jika kita melupakan ayah dan ibu kandung kita sendiri, dan mengagung-agungkan orangtua sahabat “saja”.

Mari kita membaca ulang pemikiran Dewantara sebagaimana dikumpulkan dalam dua jilid antologi dengan judul “Pendidikan” dan “Kebudayaan”. Benang merah yang kita temukan dalam kedua antologi tersebut adalah nilai-luhur:

“Kebersamaan”

Bung Karno menerjemahkan nilai tersebut sebagai semangat “gotong-royong”. One for all, and all for one – satu untuk semua, dan semua untuk satu. Sesungguhnya sistem RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, atau sistem Banjar di Bali – semuanya berlandaskan pada nilai luhur kebersamaan tersebut.

Dan, itu pula yang menjadi tujuan pendidikan – mengembangkan dan melestarikan nilai “kebersamaan”. Makan bubur bersama, dan makan nasi bersama. Ikut merasakan suka dan suka sesama anak bangsa, bahkan sesama manusia, sesama makhluk hidup.

Jadi, “Education is not preparation for life; education is life itself” (John Dewey, 1859-1952). Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, tetapi hidup itu sendiri. Kehidupan itu sendiri…. Kiranya demikian maksud John Dewey, seorang pendidik reformis, filosof, dan psikolog asal Amerika Serikat yang hidup sezaman dengan Dewantara.

Pertanyaannya:

Apakah Tujuan Pendidikan itu Tercapai?

Jika pendidikan adalah hidup itu sendiri – maka semestinya ia menjadi lifelong process – proses seumur hidup. Dan, tidak berhenti pada tingkat S-1, S-2, S-3, atau bahkan S-7, atau entah S keberapa lagi.

Pun demikian dengan gagasan Dewantara tentang pemberdayaan cipta, karsa, dan karya, atau, mind, heart and body/physic – pikiran, perasaan, dan perbuatan. Proses pemberdayaan tersebut tidak bisa, dan tidak boleh berhenti. Ia mesti menjadi proses yang berjalan sepanjang hidup.

Lalu, apa arti ijazah yang kita peroleh dari sekolah, universitas, atau nilai hasil ujian nasional? Apakah semuanya itu menyemangati kita untuk “belajar terus” – atau justru mematikan, menghentikan proses pembelajaran?

Seorang tokoh spiritual asal India, Sathya Sai (1926-2011) mengingatkan supaya ijazah kita tidak menjadi “begging bowl” untuk “mengemis pekerjaan”. Tujuan pendidikan, menurut sang spiritualis, adalah karakter. Continue reading

Renungan Kebangsaan: Menaklukkan Jarasandha, Sasaran Antara Untuk Memperkuat Koalisi Pandawa

Yudistira, merasa sangat berat untuk menyampaikan keinginannya untuk melakukan Upacara Rajasuya kepada Sri Krishna.  Rajasuya adalah suatu Upacara Agung yang dilakukan oleh seorang calon maharaja dan penobatannya sebagai tanda bahwa kedaulatannya tidak dipersoalkan lagi. Yudistira sudah merasakan pahit getirnya diperangkap dalam istana kayu yang dibakar dan kemudian mengembara menjauhi pasukan gelap para Korawa yang ingin membunuh mereka. Setelah menjadi menantu dari Raja Drupada, dan dukungan para raja dinasti Yadawa, keluarga ibunya maka posisi Pandawa menjadi kuat. Drestarastra akhirnya memberikan tanah kepada Pandawa yang kemudian dikenal sebagai Indraprasta. Setelah Indraprasta mulai menampakkan kemajuan, saudara-saudaranya mengingatkan perlunya kedaulatan mereka diakui raja-raja lainnya. Ada dua macam cara menjadi maharaja. Pertama upacara Aswameda, seorang maharaja melepaskan seekor kuda diikuti pasukan, dan apabila raja yang wilayahnya dilalui mendiamkan, maka raja tersebut mengakui kedaulatan sang maharaja, dan bila tidak mau dilewati, maka akan terjadi perang antar pasukan sampai ada yang menang. Yang kedua upacara Rajasuya, tidak perlu memakai kuda, langsung para kesatria mendatangi raja-raja setempat, mau mengakui kedaulatan atau tidak? Bila mengakui maka mereka akan datang pada acara upacara Rajasuya.

Banyak raja yang menyetujui Yudistira sebagai Maharaja, karena dia putra Maharaja Pandu. Dan yang tidak setuju takut dengan saudara-saudaranya yang perkasa. Arjuna mendesak Yudistira, “Kakanda, Berbicaralah dengan Sri Krishna, kakanda adalah tetua Pandawa, Kakanda adalah murid terpandai dari Guru Krepa yang mengajar ilmu pemerintahan. Kakanda mewakili Pandawa, mohon jangan terlalu sungkan untuk meminta pengakuan para raja.” Esoknya, Arjuna mendengar permintaan Yudistira kepada Sri Krishna, “Kakanda Sri Krishna yang kami hormati, Mendiang Ayahanda Pandu Dewanata belum sempat mengadakan upacara Rajasuya sebelum mangkat. Beliau memberi wasiat agar kami sulung Pandawa melakukannya, mohon pertimbangan Kakanda.”

Sri Krishna menjawab, “Sepertinya bukan karakter Adinda Yudistira berambisi menjadi seorang maharaja. Akan tetapi seorang pemimpin harus mengalahkan karakter pribadinya, mengikuti amanah rakyatnya. Aku bangga Adinda telah dapat menaklukkan sifat lembut dan pemalu Adinda. Seorang raja harus demikian. Saya yakin para raja akan mengakui Adinda sebagai maharaja. Akan tetapi pada saat ini ada Raja Jarasadha yang akan melakukan upacara Rundamala yang mengerikan. Sudah 95 raja ditawan olehnya dan setelah mencapai seratus orang, mereka semua akan dikorbankan untuk dijadikan karangan  bunga yang terbuat dari tengkorak para raja. Bila dia berhasil mengadakan upacara, maka sejak saat itu 100 kerajaan akan tunduk ketakutan terhadap Jarasadha dan raja-raja yang lain akan mudah ditundukkannya. Jarasandha mempunyai dua orang putri yang dinikahkannya dengan Raja Kamsa. Jarasandha begitu dendam denganku karena aku telah membunuh Kamsa. Koalisi antara Jarasandha dan Kamsa bertujuan untuk menguasai dunia. Sudah tujuh belas kali pasukannya menyerang Mandura, tetapi pasukannya selalu dikalahkan dan dirinya menyusun kekuatan kembali untuk menghancurkan diriku dan Baladewa. Untuk itulah agar masyarakat tenang, aku mendirikan Istana di Dwarawati yang lebih bisa berkembang tanpa kecemasan yang mengganggu masyarakat.” Continue reading

Renungan Kebangsaan: Pengorbanan Gatotkacha Bagi Penegakan Dharma

Gatotkacha mendengar Abimanyu, saudara misan sekaligus sahabat dekatnya tewas dikeroyok para panglima Korawa yang meninggalkan norma-norma kekesatriaan. Dia juga mendengar bahwa Arjuna, sang paman yang dihormatinya marah melihat kekejian yang dilakukan para Korawa. Arjuna, sang paman bersumpah bahwa sebelum matahari tenggelam dia akan membunuh Jayadrata, yang membendung pasukan Pandawa yang datang membantu Abimanyu yang telah masuk perangkap dalam formasi Charawyuha. Oleh karena itu, dia mendengar bahwa Jayadrata sedang dilindungi dengan pasukan yang berlapis-lapis.

Arjuna terus merangsek maju dan tetap fokus kepada posisi Jayadrata. Tujuh adik Duryudana yang menahan gerak laju Arjuna dibunuh oleh Bhima. Satyaki yang kelelahan membuka jalan bagi Arjuna, ditantang duel satu per satu oleh Burisrawa. Satyaki memenuhi tantangan tersebut, akan tetapi pada saat Satyaki yang karena terlalu lelah terjatuh, Sri Krishna menyuruh Arjuna untuk memanah Burisrawa dan tangan kanan Burisrawa terpotong. Burisrawa protes atas tindakan Arjuna yang meninggalkan sifat kesatria. Arjuna menjawab, apakah tindakan Burisrawa yang menantang Setyaki yang kelelahan untuk berduel itu tindakan kesatria? apakah tindkan Burisrawa dan para Panglima Korawa mengeroyok Abimanyu itu tindakan kesatria? Burisrawa termenung sejenak, dan Satyaki bangkit dan membunuh Burisrawa. Dalam perang, kondisi yang terjadi adalah pilihan antara hidup dan mati, tata krama dan etika sudah tidak sanggup mengendalikan sebuah perang. Ini patut menjadi renungan kita semua…….

Matahari semakin condong ke arah Barat dan Duryudana memberikan instruksi untuk melindungi Jayadrata semakin rapat. Bila matahari telah tenggelam dan Arjuna tidak berhasil membunuh Jayadrata, maka Arjuna akan malu dan mungkin akan bunuh diri karena frustrasi menahan malu. Beberapa saat kemudian, matahari sudah tidak terlihat dan Jayadrata yang merasa selamat segera menampakkan diri sambil memandang ke langit yang gelap. Pada saat itulah Sri Krishna meminta Arjuna memanah Jayadrata yang nampak lengah dan matilah Jayadrata. Dan, tiba-tiba matahari bersinar lagi karena awan gelap yang menutupinya mulai berlalu….. Alam bergerak sesuai skenario-Nya…..

Duryudana semakin marah, dia mengerahkan seluruh pasukannya mengepung Arjuna walau hari sudah benar-benar gelap. Dalam keadaan gelap mata, semua etika dan tata krama diabaikan, yang penting dendam segera terbalas. Bagi Duryudana inilah kesempatan emas membunuh Arjuna yang tidak menduga Korawa meneruskan peperangan di malam hari. Gatotkacha segera sadar, saat ini adalah saat yang tepat baginya untuk memberikan pengorbanan guna membantu paman yang paling dihormatinya. Gatotkacha menyerang Korawa dengan seluruh pasukannya yang dibawa dari Pringgodani, sebuah daerah di Nusantara. Dia memberi semangat kepada pasukannya, “kita semua akan mati, dan kini terbuka kesempatan mulia, apabila mati, kita akan dikenang sebagai pahlwan pembela kebenaran yang tak akan dilupakan sampai puluhan abad kemudian”…….Semakin malam pasukan raksasa Gatotkacha semakin kuat dan semakin tajam penglihatan mereka dan Korawa dibuat kocar-kacir. Ribuan pasukan Korawa dibunuh pasukan Gatotkacha.

Pada malam sebelum perang Bharatayuda hari keempat belas tersebut, Gatotkacha merenungi seluruh perjalanan hidupnya…… “Ayahandaku, Bhima adalah idola masyarakat Nusantara. Menurut Romo Semar, beliau mendapat ‘wisik’, bisikan gaib, ribuan tahun yang akan datang, ayahandaku akan diabadikan sebagai patung Kuntha Bhima yang diletakkan di bangunan termegah di atas bumi ini. Nantinya pertemuan ayahanda dengan diri sejati bahkan akan diabadikan dalam sebuah sastra “Suluk Dewaruci” yang indah. Menurut Romo Semar akan banyak keyakinan di Nusantara yang menjadikan profil ayahanda sebagai lambang spiritual”. Gatotkaca tiba-tiba tersadarkan, “Romo Semar? Mendapat bisikan? Membisiki? Atau Bisikan itu sendiri? Atau ‘three being one’. Duh Gusti, Romo Semar adalah wujud dari Roh Nusantara.”………

Gatotkaca ingat bahwa Romo Semar sang “pamomong” pernah menceritakan peristiwa kelahiran dirinya. Seluruh keluarganya berada dalam kerepotan, tali pusar dirinya tidak dapat diputus dengan berbagai macam senjata keris dan panah. Alkisah kedua pamandanya Arjuna dan Karna sedang bertapa di tempat berbeda untuk mendapatkan senjata sakti. Konon, Bathara Narada yang membawa karunia senjata panah Kuntawijayadanu sulit membedakan kedua satria putra Dewi Kunti tersebut. Romo Semar tertawa, “dewa pun bisa melakukan konspirasi, karena itulah para dewa takut denganku.” Bathara Surya sengaja memberi penerangan pada tempat Karna bertapa, sehingga lebih mudah dicapai dan Bathara Narada memberikan senjata tersebut kepada Karna. Akan tetapi karena tersirat semacam ketidak baikan dalam diri Karna, maka Narada hanya memberikan “panah”-nya, sedangkan “sarung”, wadah pusakanya diberikan kepada Arjuna yang bertapa di tempat lain. Dengan berbekal sarung senjata Kuntawijayadanu tersebut, pamanda Arjuna dapat memotong tali pusar bayi Gatotkaca, dan sarung tersebut hilang masuk ke dalam dirinya, sehingga dirinya menjadi sakti.

Gatotkaca juga ingat bahwa sejak kecil dia dikasihi Kalabendana, adik ibunya yang paling kecil. Di Nusantara, paman termuda usianya tidak beda jauh dan sering menjadi kerabat terdekat. Kalabendana yang berwujud raksasa ‘kunthing’, cebol mempunyai karakter sangat jujur, setia, suka berterus terang dan tidak bisa menyimpan rahasia…….

Pada suatu hari, dirinya bepergian bersama Abimanyu ke negeri Wirata, sedangkan Siti Sundari, istri Abimanyu ditinggal bersama Kalabendana. Karena minggu-minggu tidak kembali, Siti Sundari meminta Kalabendana mencari mereka. Dengan membaui keringat Gatotkaca, keponakan tersayangnya, Kalabendana dapat menemukan Abimayu dan Gatotkaca yang sedang berada di kerajaan Wirata. Abimanyu sedang bertemu dengan Dewi Utari, calon istrinya yang merupakan perjodohan kesepakatan antara Pandawa dan Wirata untuk memperkokoh koalisi Pandawa. Kalabendana berteriak, agar dirinya dan Abimanyu segera pulang. Pamannya yang belum tahu pokok permasalahannya, sudah berteriak, maka tanpa sadar dia telah menampar pamannya. Ajian bajramusti di telapak tangannya telah menewaskan pamannya. Dia begitu sedih, tatkala paman Kalabendana menghembuskan napas terakhir. Tak ada rasa dendam di wajah pamannya. Pada waktu itu Gatotkaca ingat bahwa sewaktu dirinya masih kecil, pamannya pernah berkata, “Gatotkacha, aku tidak tahu, tetapi aku begitu mengasihimu sedemikian rupa sehingga ibaratnya kaubunuh pun aku rela.” Gatotkaca menjadi sadar bahwa sejak dulu pamannya telah paham bahwa garis kematiannya adalah oleh dirinya. Dia memperhatikan senyuman pamannya sebelum menghembuskan nafasnya yang seakan berkata, “Gatotkaca kutunggu dirimu, aku ingin meneruskan kehidupan masa mendatang bersamamu.”……….

Kembali Gatotkaca teringat wejangan “Romo Semar”, “Jangan menganggap karma sebagai hukuman di dunia. Jangan bersedih……..  Dunia lebih cocok disebut Pusat Rehabilitasi.  Programnya disesuaikan agar setiap jiwa menjalani program pembersihan dan pengembangan. Kelahiran di lingkungan tertentu, orangtua, saudara , negara pun bukan tanpa rencana. Sahabat dan musuh juga ada alasannya. Rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan dimaksudkan demi pembersihan dan pengembangan jiwa. Menyalahkan orang lain, mencari kesalahan, mengeluh dan kecewa berlebihan berarti kita belum menyadari program dari Keberadaan, skenario alam semesta. Jalanilah Program Pusat Rehabilitasi sebaik-baiknya sampai kau sembuh dan tidak sakit lagi.”……… “Perhatikan kala tubuhmu sehat, kau merasa dirimu satu, kemudian rasakan ketika gigimu atau organ yang lain sakit. Kau merasa ada bagian tubuhmu yang sakit. Rasa keterpisahan, rasa ketidakbersatuan disebabkan kamu dalam keadaan sakit. Manusia berada di dunia karena sakit. Kalau sudah sembuh dia tidak perlu berada di dunia.”…….

Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Yang terbatas dapat diketahui, dapat dijelaskan. Yang Tak Terbatas hanya dapat dialami, dirasakan, diselami. Yang Tidak Terbatas juga tidak dapat dijelaskan. Peningkatan kesadaran berarti merasakan dan menyadari keterbatasan “pengetahuan”. Pencerahan membebaskan diri kita dari “yang dapat diketahui”, dan mengantar kita ke “Yang Melampaui Pengetahuan”. Pencerahan menuntut pengorbanan. “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda. Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda. Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu……..

Demikian salah satu pandangan Bapak Anand Krishna tentang kehidupan. Yang beliau sampaikan adalah esensi spiritualitas yang bersifat universal yang dapat diterima semua keyakinan. Lihat  http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

Gatotkacha, sang kesatria dari Nusantara merenung. “Tanpa menegakkan dharma pun diriku akan mati juga, kodratku, dharmaku, adalah menegakkan kebenaran. Apalagi Sri Krishna telah membuat perang Kurukshetra menjadi Dharmakshetra, medan dharma. Biarlah waktu yang singkat di kehidupan ini kugunakan untuk  berbhakti pada Hyang Widhi. Sambil menebus hutang-hutang perbuatanku masa lalu, kutegakkan dharma dengan segenap jiwaku. Abhimanyu telah memilih mati dalam medan dharma. Aku ini siapa? Diri sejati melampaui pikiran dan perasaan. Nafsuku bukan diriku. Rasa cintaku juga bukan diriku. Kala mereka tak ada “aku” pun masih ada. Diri sejati adalah Kebenaran. Karena kebodohanku,  karena salah pandangan, jiwaku mengalami karma.”

Bhagavad Gita mengingatkan kita bahwa medan laga dengan segala perlengkapannya selalu ada. Dunia inilah medan laga itu. Silakan berlaga, tapi tetap sadar bahwa kita bukanlah medan. Kita juga bukanlah laga, permainan yang sedang kita mainkan. Selama disini kita memang mesti berlaga, maka marilah kita bermain dengan cantik. Pengetahuan inilah moksha. Dan, dapat diraih sekarang dan saat ini juga. Gita 13:1: Badan kasat ini bagaikan lapangan bermain atau Kshetra dan ia yang menyadari hal ini disebut Kshetrajna. Gita 13:2: Ketahuilah bahwa “Sang Aku” itulah sebenarnya yang disebut Kshetrajna. Pengetahuan tentang Kshetra dan Kshetrajna ini kuanggap Pengetahuan Sejati.

“Bagiku dharma-ku sebagai perajurit adalah maju berperang, ‘sangha’-ku adalah Pandawa, persaudaraan pembela kebenaran, Kendra-ku, fokusku adalah Kebenaran, Sri Krishna”. Ada pihak yang menganggap aku membantu pihak keluarga Ayahandaku, Bhima. Ada pula yang menganggap aku membalas budi kebaikan pamandaku, Arjuna, yang telah menolong kelahiranku. Bagiku, aku mewakili kesatria dari Nusantara dalam menegakkan Kebenaran. Pilihanku telah jelas, aku memilih pihak Pandawa daripada Korawa. Gusti itu ‘tan kena kinaya ngapa’, tak dapat disepertikan, diluar pikiran dan rasa manusia. Bagiku Nusantara adalah salah satu wujud-Nya yang dapat kulayani sepenuh hati. Hidup-matiku kupersembahkan bagi Nusantara.”

“Kemenangan perang Bharatayuda nampaknya akan ditentukan oleh perang tanding kedua pamandaku, putra-putra Eyang Kunti. Senjata Kuntawijayadanu milik pamanda Karna sangat berbahaya bagi pamanda Arjuna. Rama Semar menyampaikan bahwa sarung Kuntawijayadanu berada di pusarku. Pemandu Agung Sri Krishna memintaku menghancurkan pasukan Korawa agar Duryudana putus asa dan menyuruh Karna mengeluarkan senjata andalan Kuntawijayadanu.” “Wahai Nusantara, putramu ini mewakili-Mu mengangkat nama-Mu di kancah sejarah penegakan Kebenaran di dunia!”

Saat berhadapan dengan Adipati Karna sebenarnya Gatotkacha sudah tahu datangnya kematian yang menjemputnya. Di angkasa badan Gatotkacha telah dikunci. Senjata Kunta Wijayadanu itu mengejar Gatotkaca bak peluru kendali. Akhirnya senjata itu menembus perut Gatotkacha melalui pusarnya dan masuk ke dalam sarungnya yang menyatu di perut Gatotkacha. Gatotkacha di akhir hayatnya tetap berupaya memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin. Ketika jatuh ke bumi, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, tetapi senapati Korawa itu waspada dan cepat melompat menghindar sehingga kereta perangnya hancur berkeping-keping dan semua senjata yang berada di dalam keretanya meledak dan membunuh ratusan pasukan Korawa………

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Renungan Kebangsaan: Kisah Dewi Kunti, Perjuangan Seorang Ibu Mendampingi Para Putranya Menegakkan Dharma

Seorang ibu mempersiapkan jiwa dan raganya agar indung telurnya dibuahi. Selanjutnya indung telur yang berubah menjadi sel induk dipelihara dalam rahim yang kokoh nan lembut untuk difasilitasi bagi perkembangan janin dan dibawa kemanapun juga selama sembilan bulan sepuluh hari. Setelah sang bayi lahir, diberinya sang anak makanan dari air susunya, diajarinya bicara dengan penuh kesabaran, bahkan terus menerus didoakannya sampai akhir hayat dirinya. Demikianlah kasih seorang ibu.

Seorang penulis, pematung, penggubah lagu, bahkan seorang CEO Perusahaan juga mempunyai sifat kasih seorang ibu untuk melahirkan “putra-putri” karyanya. Mereka merenung lama, memproses dalam dirinya untuk melahirkan karya-karyanya dan memolesnya agar menjadi karya yang indah, bermanfaat dan dinikmati masyarakat luas. Kasih Ibu berada dalam diri setiap manusia, setiap hewan, setiap tumbuhan, dan pada seluruh alam semesta. Melahirkan, mengungkapkan pikiran dengan tindakan, menghasilkan karya, melindungi dan memeliharanya dengan tulus, dengan penuh kasih adalah sifat kasih ibu dalam diri setiap manusia. Semoga para pemimpin bangsa, para eksekutif, legislatif, anggota DPR, para guru, para pengusaha dan profesi lainnya dapat melahirkan karya nyata dengan penuh kasih demi umat manusia, bukan demi nafsu pribadinya…..

Dewi Kunti kecil bernama Pritha, bersaudara dengan Basudewa dan Ugrasena, akan tetapi kemudian dijadikan anak angkat oleh Prabu Kuntibhoja yang bijaksana. Dewi Kunti seorang putri berbudi pekerti luhur, berbakti kepada kedua orang tuanya, serta penuh kasih terhadap sesama. Pada suatu ketika, ada seorang pendeta bernama Resi Durwasa mengunjungi Prabu Kuntibhoja. Resi itu baru saja mengakhiri tapa bratanya dan datang ke istana untuk minta makan. Dewi Kunti menyediakan berbagai jenis makanan yang lezat bagi tamunya tersebut. Sang Resi Durwasa tersentuh oleh ketulusan sang puteri raja dan diberilah dia Mantra Aji Gineng, Aditya Hrdaya. Mantra tersebut dapat dipergunakan untuk mendatangkan Dewa, mendatangkan kekuatan Ilahi, semacam penemuan cara membuat bayi tabung saat ini. Anugerah mantra yang diberikan kepada Dewi Kunti tersebut nantinya akan menyelamatkan kelangsungan Dinasti Bharata. Continue reading

Renungan Kebangsaan:Dewi Gendari, Kisah Seorang Ibu Dari Para Pelaku Kekerasan Dalam Mahabharata

Dewi Gendari adalah putri dari Prabu Gandhara dari negari Gandharadesa, atau Khandahar, di daerah Afghanistan. Dia mempunyai tiga orang saudara dan salah satunya bernama Shakuni yang mengikutinya pergi ke daerah Bharat, India.

Sebagai putri raja Gandhara dia berharap dipersunting oleh Pandu, Sang Maharaja Hastina, akan tetapi oleh Pandu dia dihadiahkan kepada saudaranya Drestarastra yang buta. Pandu memilih permaisuri Dewi Kunti putri Prabu Basudewa yang telah diambil anak angkat oleh Prabu Kuntiboja. Ada rasa sakit hati dalam hati Dewi Gendari yang tadinya berharap menjadi permaisuri seorang maharaja, kemudian menjadi istri dari seorang buta saudara sang raja. Dia makin sakit hati kala Pandu menurut saja disuruh Bhisma mengambil Madri, putri raja Mandrapati sebagai istri kedua. Mengapa dia tidak dijadikan istri kedua, karena pada saat itu seorang raja jamak beristri dua atau tiga untuk menjamin kelanggengan sebuah dinasti.

Pada saat Dewi Gendari hamil, Dewi Kunti pun sedang hamil juga. Akan tetapi Dewi Kunti dengan mudah melahirkan Yudistira, Bhima dan Arjuna, sedangkan dirinya belum melahirkan juga. Dalam kegelisahan yang memuncak, dari rahimnya lahirlah segumpal daging yang belum berbentuk janin. Atas Bantuan Bhagawan Abyasa yang menguasai ilmu kloning, maka daging tersebut diubah menjadi 100 orang bayi Korawa…….. Kejadian 5.000 tahun sebelumnya, kala Dewi Sukesi melahirkan segumpal darah bercampur telinga dan kuku yang menjadi Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka seakan terulang lagi. Setting panggung dunia jelas sudah berubah, dulu di zaman Sri Rama perbedaan antara raksasa dan manusia jelas, sedangkan di zaman Sri Krishna praktis raksasa tinggal sedikit, tetapi sifat keraksasaan tersebut sudah merasuk ke diri manusia.

Pengaruh kejiwaan seorang ibu hamil sangat berpengaruh kepada calon putra yang dikandungnya. Kegelisahan seorang ibu dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya, bahkan dapat membuat sang ibu melahirkan secara prematur. Demikian pula rasa emosi kebencian sang ibu terhadap seseorang membuat sang bayi terpengaruh olehnya. Oleh karena itu sejak dalam kandungan para Korawa sudah membawa bibit kebencian terhadap keluarga Pandawa. Hal tersebut ditambah lagi karena mereka sejak kecil diasuh oleh adik Gendari, Shakuni yang memang mempunyai rasa dendam terhadap Pandu dan Dewi Kunti. Shakuni pernah mengharapkan Dewi Kunti sebagi istrinya tetapi kalah saingan dengan Pandu. Dewi Gendari sendiri lebih sering merawat dan memperhatikan suaminya yang buta. Continue reading

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 251 pengikut lainnya.