Renungan Kebangsaan: Akhir Kisah Sri Krishna Dan Pandawa Dalam Mahabharata


Dalam kitab Mahabharata dikisahkan tentang beberapa kutukan dari orang yang merasa dianiaya, dan demikian pula dalam kitab Srimad Bhagavatam. Rupanya sang penulis, Bhagawan Abyasa memberikan peringatan agar manusia berhati-hati dalam menapaki kehidupan, karena bisa saja orang teraniaya oleh tindakan kita dan hukum sebab-akibat akan mengejar kita. Dikisahkan bahwa Dewi Gendari mengutuk Sri Krishna, mengapa membiarkan perang Bharatayuda terjadi dan tidak membuat skenario agar para Korawa sadar dan tidak semakin berlarut-larut berkubang dalam perbuatan adharma sehingga perang Bharatayuda tidak terjadi. Perang Bharatayuda tidak memberi keuntungan bagi Korawa dan Pandawa. Korawa punah, di pihak Pandawa juga tinggal Pandawa sendiri yang sudah tua-tua dan seorang cucu Pandawa yang selamat yaitu Parikesit. Konon Dewi Gendari yang kehilangan semua putranya, mengutuk agar kejadian serupa terjadi pada Dinasti Yadawa. Bagaimana pun ada banyak faktor yang mempengaruhi terlaksananya sebuah kutukan dan faktor utama adalah Hukum Alam dan Ridha Ilahi, Kehendak Hyang Widhi. Dan, perang Bharatayuda memang bukan merupakan kemenangan mutlak Pandawa, tetapi kemenangan mutlak dharma mengalahkan adharma.

Setelah perang Bharatayuda, Dinasti Yadawa mengalami masa jaya selama 36 tahun dibawah kepemimpinan Sri Krishna, Sang Wisnu yang mewujud di dunia untuk menegakkan dharma dan mengalahkan adharma yang merajalela. Kala sebuah bangsa atau seorang manusia mengalami penderitaan, maka semangatnya bangkit untuk berjuang melepaskan diri dari kesengsaraan. Akan tetapi kala, sudah tidak ada tantangan, hidup terasa nyaman, sebuah bangsa atau seorang manusia sering lalai dan terbuai oleh kenyamanan dan kenikmatan pancaindera. Demikianlah, setelah perang Bharatayuda dinasti Yadawa menjadi sombong, arogan dan gemar berpesta pora.

Ada perbedaan kehidupan Sri Krishna sewaktu kecil di Brindavan dan sesudah menjadi raja dinasti Yadawa di Dwaraka. Para Gopi dan Gopal, para penggembala di Brindavan merasa bahwa mereka adalah milik Sri Krishna, mereka tidak mempunyai kesenangan pribadi kecuali menyenangkan Sri Krishna. Sedangkan bagi dinasti Yadawa, Sri Krishna adalah milik mereka, mereka memuaskan kesenangan mereka sendiri, yang penting dilindungi Sri Krishna. Para Gopi dan Gopal sudah dapat mengendalikan sifat hewani mereka, sedangkan dinasti Yadawa tidak dapat mengendalikan sifat hewani mereka. Para Gopi dan Gopal yakin bahwa yang bisa membahagiakan manusia adalah kasih, sedangkan dinasti Yadawa masih yakin kenyamanan dunialah yang akan membahagiakan mereka.

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Manusia pun tak luput dari sifat-sifat hewani. Bahkan kebutuhan akan makan, minum, tidur, seks dan sebagainya masih merupakan sifat-sifat hewani. Sifat-sifat yang kita miliki bersama hewan. Berarti ada sifat-sifat hewani yang “masih dibutuhkan demi keberlangsungan hidup”. Hanya saja, perlu dijinakkan, dikendalikan. Dan yang menjinakkan adalah diri kita sendiri. Yang mengendalikan adalah kesadaran diri pula. Jadi sesungguhnya, setiap orang harus menjadi Gopal atau Gopi. Harus menjaga dan memelihara kejinakan “sapi”nya. Para Gopi disebut-sebut sebagai reinkarnasi para pertapa yang telah mencapai suatu tingkat kesadaran tertentu, tetapi belum mencicipi manisnya kasih. Mereka lahir kembali untuk menyelesaikan “skripsi”. Untuk mengikuti semester terakhir. Sungguh beruntung mereka, karena Krishna menjadi dosen pembimbing mereka…….

 

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 juga disampaikan bahwa…….. Kita harus membedakan kenyamanan dari kebahagiaan. Sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya, sekadar untuk menyamankan kita, dan tidak bisa membahagiakan kita. Tetapi, kenyamanan pun penting. Karena itu, tidak perlu meninggalkan semua itu. Cukup menyadari bahwa apa yang bisa menyamankan belum tentu bisa membahagiakan. Menurut Narada, yang bisa membahagiakan manusia hanya satu. Kasih, titik. Karena sifat Kasih yang tak terbatas dan tak bersyarat itu, apa yang kita peroleh dari-Nya juga tidak terbatas dan tidak bersyarat. Kasih adalah “sebab”. “Akibat”-nya adalah kebahagiaan sejati. Akibat tidak bisa bersifat lain dari sebab……

 

Pada suatu ketika beberapa resi mengunjungi Kota Dwaraka untuk menemui Sri Krishna. Beberapa pemuda mendandani Samba, putra Sri Krishna dari istri Dewi Jembawati sebagai seorang wanita yang sedang hamil dan para resi diminta meramalkan jenis kelamin bayi yang akan lahir. Merasa dipermalukan, salah seorang Resi mengutuk bahwa Samba akan melahirkan gada besi yang akan memusnahkan dinasti Yadawa. Para pemuda Dwaraka takut karena setelah Samba melepaskan “tumpukan kain” pakaian hamilnya betul-betul ada sebuah gada besi di dalam tumpukan kain tersebut. Mereka menghancurkan gada tersebut menjadi serbuk dan membuangnya ke laut. Akan tetapi beberapa minggu kemudian, serbuk tersebut terbawa arus kembali kepantai. Dan, dari serbuk tersebut tumbuh ribuan alang-alang besi semacam bilah-bilah logam yang tajam.

Beberapa bulan kemudian, kala para pria Dwaraka mengadakan pesta mabuk-mabukan di pantai, Setyaki dan Kertamarma saling mengolok tentang perang Bharatayuda. Setyaki dikatakan membunuh Burisrawa yang sedang bermeditasi memulihkan ketenangan setelah tangannya dipanah Arjuna, sedangkan Kertamarma dikatakan membantu Aswatama membunuh Drestayumna, Srikandi dan anak-anak Pandawa yang sedang tidur lelap. Olok-olok tersebut berbuntut perkelahian. Dan, perkelahian tersebut merembet ke seluruh warga pria Dwarka. Mereka pada mengambil bilah-bilah logam di pantai sebagai senjata. Akhirnya, semuanya tewas saling bunuh, tak ada satu pun yang selamat.

Baladewa datang ke tempat kejadian dan melihat semua dinasti Yadawa telah binasa dan ia pun segera pergi ke hutan. Sri Krishna kemudian berpesan kepada pelayannya agar melaporkan kejadian tersebut ke Pandawa di Hastina dan dia mengikuti Baladewa ke hutan. Sri Krishna melihat Baladewa duduk dalam posisi yoga dan tak lama kemudian dari mulutnya keluar asap putih berbentuk Nagasesa yang menuju ke arah samudera. Baladewa telah mengakhiri hidupnya.

Sri Krishna duduk dalam posisi yoga, dan seorang pemburu bernama Jara dari kejauhan melihat Sri Krishna seperti rusa emas yang sedang beristirahat. Jara memanah kaki rusa emas yang ternyata adalah Sri Krishna. Panah tersebut menyebabkan kematian Sri Krishna. Sebagian orang bercerita bahwa Sri Krishna sebagai titisan Wisnu, kala menjadi Sri Rama pernah memanah Subali dan kini menerima akibatnya. Sebagian orang lainnya bercerita, bahwa  Jara mempunyai makna usia tua, dan Sri Krishna meninggal karena usia tua. Bagaimana pun tubuh yang terbuat dari materi alam akan kembali ke alam, sedangkan ruhnya kembali ke Hyang Widhi. Seminggu setelah meninggalnya Sri Krishna Negeri Dwaraka mengalami bencana tsunami dan tenggelam ke laut.

Dalam Bhagavad Gita 2: 27-28 disampaikan, ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? Yang diketahui manusia hanya antara lahir dan mati saja. Kita ini sebenarnya hanya alat-Nya, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugas-Nya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendak-Nya.

 

Arjuna pergi ke Madura menengok Prabu Basudewa, kakak ibundanya, dan Sang Prabu meninggal dunia setelah kedatangan Arjuna. Kemudian, Arjuna melanjutkan pergi ke Dwaraka mengumpulkan para wanita dan anak-anak yang selamat untuk dibawa ke Hastina. Dalam perjalanan rombongan tersebut dirampok dan Arjuna tidak dapat berbuat banyak karena kesaktiannya mendadak sirna.

Sesampai di Hastina, Arjuna menyampaikan hasil perjalanannya, yang membuat semua Pandawa berduka. Setelah menobatkan Parikesit sebagai raja Hastina, Pandawa beserta Drupadi dan seekor anjing melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci dan akhirnya ke naik ke gunung Himalaya mempersiapkan kematian mereka.

Dalam buku “Kematian, Panduan Untuk Menghadapinya Dengan Senyuman”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Ketika masih memiliki badan, kau menyia-nyiakannya untuk mengejar hal-hal yang serba semu. Kau tidak pernah mempersiapkan dirimu untuk sesuatu yang pasti terjadi, yaitu maut. Apabila kau hidup dalam ketidaksadaran, kau akan mati dalam ketidaksadaran pula. Lalu, sia-sialah satu masa kehidupan. Kau akan memasuki lingkaran kelahiran dan kematian lagi……….. Diantara sekian banyak ketidakpastian dalam hidup ini, mungkin hanya “kematian” yang merupakan satu-satunya kepastian. Aneh, selama ini kita sibuk mengejar ketidakpastian. Dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk sesuatu yang sudah “pasti”. Sesungguhnya, mempersiapkan masyarakat untuk “menerima” kematian adalah tugas agama dan para praktisi keagamaan. Tugas ini sudah lama terlupakan, karena para praktisi keagamaan pun tidak sepenuhnya memahami proses kematian. Lalu, penjelasan apa yang dapat mereka berikan? Yang dapat mereka lakukan hanyalah menteror manusia, mengintimidasi dan menakut-nakutinya dengan ancaman api neraka atau alam kubur yang sunyi sepi……..

 

Satu per satu Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima meninggal di perjalanan dan tinggal Yudistira dan anjingnya. Sampai di Puncak Gunung, Yudistira bertemu Bathara Indra yang mengajaknya naik kereta ke kahyangan, akan tetapi anjingnya tidak diperbolehkan ikut. Yudistira bersikeras tidak mau pergi ke kahyangan bila anjingnya tidak ikut. Akhirnya sang anjing diperbolehkan naik kereta dan segera menghilang di perjalanan. Dikisahkan bahwa anjing tersebut merupakan simbol dari dharma manusia. Hanya dharma yang mendampingi ke kahyangan, saudara dan istri pun ditinggalkan di dunia.

Bapak Anand Krishna pernah memberi nasehat…… Kematian adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Mau jungkir balik seperti apa pun, setiap yang lahir mesti mati. Apa yang menyertai kita saat itu? Dhammapada 16: 219/220 menjelaskan bahwa saat itu yang menyertai kita “hanyalah” kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup. Bagi Buddha “perbuatan baik” bukanlah sekedar “amal saleh” – tetapi amal-saleh yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Seperti itu juga yang dikatakan oleh Sufi Besar Rumi, bukan sekedar bersedekah, tetapi memastikan bahwa uang yang kita peroleh untuk menjalani hidup dan bersedekah pun kita peroleh dengan cara yang baik, dan tidak menyakiti, mencelakakan, menipu atau memeras orang lain. (Dhammapada 16:219/220: Setelah lama seseorang pergi jauh dan kemudian pulang ke rumah dengan selamat, maka keluarga, kerabat dan sahabat akan menyambutnya dengan senang hati. Begitu juga, perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan akan menyambut pelakunya yang telah pergi dari dunia ini ke dunia selanjutnya, seperti keluarga yang menyambut pulangnya orang tercinta).

Demikian contoh nasehat Bapak Anand Krishna yang menyampaikan keuniversalan ajaran-ajaran agama. Di Anand Ashram berkumpul orang-orang dari berbagai suku, etnis,agama, profesi,usia dan semuanya dapat saling mengapresiasi perbedaan dan bersama-sama memberdaya  diri. Sayang model kebersamaan ini sering disalahpahami oleh beberapa kelompok yang tidak senang Indonesia bersatu. Silakan lihat….

http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

 

Kala sampai di surga, Yudistira kaget karena yang nampak hanya Duryudana dan para Korawa. Yudistira minta dipertemukan dengan para saudaranya dan Bathara Yama mengajaknya ke Neraka. Yudistira melihat semua saudaranya di neraka dan memilih berada di neraka. Setelah sepertiga belas hari di Neraka, Bathara Yama dan Indra datang menjelaskan bahwa neraka maupun surga adalah maya, ilusi dari pikiran Yudistira sendiri, yang percaya bahwa para kesatria harus masuk neraka dulu sebentar sebelum masuk surga. Wujud manusia Yudistira kemudian lenyap dan berubah menjadi dewa. Demikian pula para Pandawa dan semua kerabatnya……

Setelah Bhagawan Abyasa menutup kisah Mahabharata, beliau merenung, teringat saat Bathara Narada datang dan memberi nasehat seminggu setelah Sri Krishna wafat. Kisah kepahlawanan Mahabharata akan memberi semangat umat manusia masa depan untuk menegakkan dharma. Akan tetapi Bathara Narada mengatakan bahwa Abyasa tak akan puas, masih merasa ada yang kurang. Hal tersebut terjadi karena Abyasa belum menulis tentang kitab tentang pustaka keilahian, the book of God, kisah bhakti manusia terhadap Hyang Widhi……. Sang Bhagawan duduk hening dan larut dalam meditasinya. Beliau melihat kejadian masa lampau saat banyak Avatara turun ke dunia. Sejak saat itu, Bhagawan Abyasa mulai menulis kitab Bhagavata Purana…….. Sampai jumpa di renungan-renungan Bhagavatam…….

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni 2011

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 220 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: