Hubungan Harmonis Antar Umat Beragama Pandangan Sejuk Islam Menurut Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA


Agama dan Wanita nampaknya tidak pernah menjadi kawan yang baik. Hal demikian terjadi karena pemahaman yang diberikan kepada masyarakat dipengaruhi oleh persepsi yang bias bahwa pemimpin adalah laki-laki. Kepemimpinan laki-laki banyak disalah dipahami. Dalam intepretasi (pemahaman) yang tepat di bahasa Arab bahwa laki-laki itu adalah mitra dari perempuan. Bukan pemimpin terhadap perempuan. Justru sifat feminin dalam agama seperti kasih sayang dan menghormati orang lain kurang dihayati…….

 

Dalam Rangka Pembukaan Monumen Global Harmony, Ashram Ubud sekaligus International Bali Meditators’ Festival  2012 (20-23 September 2012) yang dilakukan oleh Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) turut hadir beberapa perwakilan dari berbagai agama. Disamping 24 workshop tentang berbagai latihan meditasi diadakan beberapa panel diskusi tentang global harmoni. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA (Chairperson of Indonesia Conference on Religious and Peace) adalah salah seorang pembicara yang menyampaikan The Importance Inter-Religion Dialoguefrom a Moslem Perspection.

 

Beliau menyampaikan ada 3 contoh tindakan Nabi yang patut diteladani dalam berhubungan dengan umat lain: Perjanjian Hudaibiya, Piagam Madinah dan Pesan Nabi dalam Haji Wada’ (perpisahan). Ini yang sering kurang dipahami oleh Umat Islam yang melakukan tindakan kekerasan terhadap umat lain.

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Nabi dengan perwakilan Keyakinan Lain (dalam hal ini Quraisy) bahwa siapa pun yang ingin mengikuti Nabi atau Keyakinan Lain diperbolehkan secara bebas.

Berkaitan dengan hubungan antar manusia, Nabi sudah mengimplementasikan prinsip-prinsip persamaan dan penghormatan kepada manusia dalam masyarakat Madinah yang sangat heterogen sebagaimana tertuang dalam “Piagam Madinah”. Piagam tersebut pada intinya menggarisbawahi lima hal pokok sebagai dasar bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pertama, prinsip persaudaraan dalam Islam (ukhuwah Islamiyah), semua umat Islam dari berbagai latar belakang dan dari berbagai suku pada hakikatnya bersaudara. Kedua, prinsip saling menolong dan melindungi, penduduk Madinah yang terdiri dari beragam suku, agama, dan bahasa harus saling membantu dalam menghadapi lawan. Ketiga, prinsip melindungi yang teraniaya. Keempat, prinsip saling kontrol. Kelima, prinsip kebebasan beragama.

Khusus tentang prinsip kebebasan beragama dijelaskan dalam Al-Qur’an, seperti QS. Al-Baqarah, 2:256 (tidak ada paksaan dalam beragama); al-Kafirun, 1-6 (pengakuan terhadap pluralisme agama); Yunus, 99 (larangan memaksa penganut agama lain memeluk Islam); Ali Imran, 64 (himbauan kepada ahli kitab untuk mencari titik temu dan mencapai kalimatun sawa’); dan al-Mumtahanah, 8-9 (anjuran berbuat baik, berlaku adil, dan menolong orang-orang non-Muslim yang tidak memusuhi dan tidak mengusir mereka). Sayangnya, ajaran Islam yang mengedepankan nilai-nilai humanisme, pluralisme, dan inklusifisme itu tidak banyak disosialisasikan di masyarakat sehingga tidak heran jika wajah masyarakat Islam di berbagai wilayah tampak sangar dan tidak bersahabat, sangat jauh dari potret yang ditampilkan umat Islam generasi awal, khususnya di masa Nabi dan Khulafa Rasyidin, yang dikenal penuh toleransi, persahabatan, dan persaudaraan.

Pada saat melakukan Haji Perpisahan (Haji Wada’) di Padang Arafah, Nabi mendeklarasikan agama rahmatan lil alamin yang mendukung prinsip Hak Asasi Manusia tentang perlindungan jiwa, harta dan kehormatan manusia.

 

Dalam kesempatan tersebut Ibu Musdah Mulia juga menyampaikan bahwa Agama dan Wanita nampaknya tidak pernah menjadi kawan yang baik, yang mendapat applause dari seluruh peserta. Hal demikian terjadi karena pemahaman yang diberikan kepada masyarakat dipengaruhi oleh persepsi yang bias bahwa pemimpin adalah laki-laki. Beliau menjelaskan tentang kepemimpinan laki-laki yang banyak salah dipahami. Dalam intepretasi (pemahaman) yang tepat di bahasa Arab bahwa laki-laki itu adalah mitra dari perempuan. Bukan pemimpin terhadap perempuan. Dalam sejarah Rasullah, dalam kehidupan berkeluarga nabi Muhammad dan Siti Khadijah, justru Khadijah-lah yang menjadi pemimpin dalam keluarga karena ia yang mengatur keuangan keluarga dan mencari nafkahnya. Bahkan Rasullah selalu berdiskusi dengan istrinya Khadijah ketika akan mengambil sesuatu keputusan. Dalam ajaran Islam, baik perempuan maupun laki-laki harus menjadi khalifah fil ard yaitu pemimpin umat. Dalam tata bahasa Arab, kata khalifah tidak menunjuk pada jenis kelamin atau kelompok tertentu. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi yang sama dan akan mempertanggungjawabkan kekhalifahannya di hadapan Allah SWT.

 

Hanya satu kata kunci yang memungkinkan manusia bisa mempertanggungjawabkan segala peran dan fungsinya baik sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Kata kunci itu adalah ketakwaan, bukan keutamaan nasab, bukan jenis kelamin tertentu, dan bukan pula kemuliaan suku, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”QS.Al Hujarât : 13

 

Presiden Barrack Obama selalu terkenang dengan kehidupannya di Indonesia kala usianya 7 tahun (sekitar tahun 1968) dan tinggal dikawasan Menteng Jakarta dimana masyarakat pada saat itu saling hormat-menghormati agama lain. Dalam buku “The Gospel Of Obama”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna Bekerjasama dengaYayasan Anand Ashram, 2009, Bapak Anand Krishna menyampaikan kepada Presiden Obama bahwa sewaktu Obama masih kecil di Indonesia masyarakat  saat itu menjunjung tinggi semua agama………. Indonesia pada masa kanak-kanak Anda, Bapak Presiden, merupakan masyarakat yang menjunjung tinggi religiusitas, spiritualitas, dan nilai-nilai universal yang terkandung dalam semua agama. Perbedaan dalam dogma, doktrin, dan ritual diakui, dihargai, dan diapresiasi. “Dulu” kami tidak membiarkan perbedaan itu menjadi halangan dalam berinteraksi sosial. Kami menghargai keragaman sistem agama sebagai titian jalan menuju tujuan akhir yang tunggal dan sama, Tuhan, atau Ketuhanan. Kami rutin berdoa atau tidak, kami taat dalam menjalani ritual atau tidak, kami peduli satu sama lain. Kami mengasihi satu sama lain. Tidak menjadi masalah jika tetangga kami seorang Kristen atau Konghucu, Muslim atau Yahudi, Hindu, atau Buddha, kami benar-benar berbagi kenikmatan. Para penganut kepercayaan dan agama-agama Iokal dihormati sebagai “sesepuh” masyarakat. Sebagian dari praktik agama mereka diadopsi ke  dalam agama “yang lebih muda” dan terintegrasi ke dalam sistem keyakinan dan ritual mereka. Saat ini, situasi yang dialami penganut kepercayaan dan agama-agama lokal di Indonesia tidak jauh lebih baik. Sebagian di antaranya dituduh dan divonis sesat oleh lembaga agama yang dibiayai abdi negara, sehingga memberikan jalan bagi para radikal untuk menghancurkan harta benda mereka……

 

Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Pertikaian antara umat beragama yang masih sering terjadi, semata karena tidak adanya penerimaan. Kita belum cukup membuka diri terhadap perbedaan. Belum cukup meapresiasi perbedaan. Kenapa? Karena masih adanya rasa iri di dalam diri kita: Jumlah umatku tidak bertambah, sementara jumlah umat dia bertambah.  Karena adanya kompleks superioritas: Agamaku lah yang terbaik. Kemudian, terjadilah persaingan. Dan, persaingan adalah benih bagi pertikaian, pertengkaran – perang!  Setiap agama menerima Kedamaian sebagai Nilai Luhur, bahkan Nilai Kemanusiaan yang Tertinggi. Damai dengan sesama manusia, Damai dengan Alam Semesta, dan Berdamai dalam Tuhan, dalam Kasih-Nya. Namun, adalah kenyataan yang tak dapat dinafikan pula bahwa agama lebih sering menjadi, atau dijadikan alasan untuk berperang. Para pelaku agama, para praktisi agama sering melupakan tujuan mereka beragama………

 

……… Namun, dibalik “toleransi” itu, dibalik “pembukaan diri” itu – masih tersisa pandangan primordial “Bagaimana pun jua, akulah yang terbaik!” Dengan cara pandang seperti itulah, manusia modern tengah mengupayakan kerukunan. Hasilnya – kerukunan yang semu. Pemerintah boleh membuat undang-undang atau peraturan kerukunan antar umat beragama – dan kerukunan pun dapat dipaksakan. Tetapi, untuk sesaat saja. “Sesaat” itu barangkali sebulan atau setahun – tetapi tak akan bertahan lama. Toleransi, apalagi toleransi yang masih menyimpan arogansi, bukanlah landasan yang kuat bagi kerukunan. Kerukunan yang tercipta hanyalah kemunafikan terselubung. Toleransi macam itu hanyalah emosi sementara. Saat ini pasang, sesaat kemudian surut. Adalah “Apresiasi” atau “Saling Menghargai”, “Saling Memahami” – Pengertian – yang dapat menjadi landasan bagi Kerukunan. Landasan yang kuat. Pengertian dalam hal ini bukanlah sebuah pikiran belaka. Tetapi, pengertian yang muncul dari nurani, dari sanubari, dari rasa terdalam. Pengertian yang lahir dari kecerdasan. Pengertian yang muncul dari kesadaran………

 

Di Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia……. Ini adalah model Indonesia Baru di masa mendatang.

Boleh jadi pandangan Pak Anand Krishna tentang kebhinnekaan, kasih dan anti kekerasan tersebut mengusik beberapa gelintir oknum, sehingga beliau mengalami kezaliman peradilan di Indonesia.

Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.”……..

Setelah beberapa kelompok yang dianggap sesat seperti kelompok Lia Eden, kelompok-kelompok kecil lainnya, kemudian Ahmadiyah dan saat ini Syiah, Anda dapat menjadi korban berikutnya untuk di-anandkrishna-kan. Bersuaralah!!!!

Silakan membaca artikel…….. Bubarkan Saja Pengadilan Negeri Jaksel Implikasi Yurisprudensi Atas Putusan Mahkamah Agung

http://hukum.kompasiana.com/2012/09/25/bubarkan-saja-pengadilan-negeri-jaksel-implikasi-yurisprudensi-atas-putusan-mahkamah-agung/

Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/ dan

 

Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri. Ubah nasib dan bersuaralah!!!!

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 268 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: