<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia</title>
	<atom:link href="http://triwidodo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triwidodo.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Dec 2009 10:16:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='triwidodo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/aca10d3d5c3779eabace1c1e7604daa9?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>KAMA</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/12/01/kama/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/12/01/kama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 10:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[secangkir kopi kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[kamasutra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/2009/12/01/kama/</guid>
		<description><![CDATA[Anand Krishna*
(Radar Bali, Rabu 28 Oktober 2009)
http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&#38;view=article&#38;id=237:kama&#38;catid=15&#38;Itemid=56
&#160;
&#160;
&#160;
Perjumpaan pertama kita dengan kata kama kemungkinan besar melalui istilah Kamasutra, karya klasik dari timur, yang lebih sering dikaitkan dengan seks. Kama, sesungguhnya, tak hanya mengacu pada seks dalam arti senggama. Kama lebih tepat didefinisikan sebagai hawa nafsu, atau hasrat.
&#160;
Sutra ialah benang, atau senar. Kata ini dipakai di sini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1251&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anand Krishna*</p>
<p>(Radar Bali, Rabu 28 Oktober 2009)</p>
<p><a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=237:kama&amp;catid=15&amp;Itemid=56">http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=237:kama&amp;catid=15&amp;Itemid=56</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perjumpaan pertama kita dengan kata kama kemungkinan besar melalui istilah Kamasutra, karya klasik dari timur, yang lebih sering dikaitkan dengan seks. Kama, sesungguhnya, tak hanya mengacu pada seks dalam arti senggama. Kama lebih tepat didefinisikan sebagai hawa nafsu, atau hasrat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sutra ialah benang, atau senar. Kata ini dipakai di sini dalam konteks pemain boneka yang memegang bonekanya dengan benang atau senar. Gerakan boneka-boneka itu dikendalikan dan diarahkan. Oleh sebab itu, pemain boneka disebut Sutradhaari, seperti juga Tuhan, Sang Pemain Boneka yang Hebat. Sekarang ini pun, pengarah acara dan film disebut sutradhaar dalam bahasa Sansekerta, atau sutradara dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kamasutra mengimplikasikan bahwa hawa nafsu atau hasrat harus dikendalikan, ditata dan diatur secara memadai. Karena nafsu adalah energi, dan hasrat ialah energi.<span id="more-1251"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada pepatah lama dalam bahasa Sansekerta, “Pemborosan Energi ialah Pemborosan Hidup.” Dikatakan juga bahwa, ” Energi ialah Kehidupan, dan Kehidupan ialah Energi.” Sekecil apa pun, kita semua memiliki  energi itu di dalam diri kita, dengannya kita hidup dan &#8220;membuat&#8221; anak. Energi seksual inilah yang memastikan kelanjutan kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi hawa nafsu, hasrat dan seks semuanya saling terkait. Mereka semua ialah manifestasi energi. Inilah energi yang menciptakan. Dan, energi yang sama pula berada di balik kreatifitas kita di bidang lainnya, termasuk juga  kemampuan untuk menganalisis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang terjadi jika energi ini hanya digunakan untuk aktivitas seksual, misalnya senggama, masturbasi, dll? Tak tersisa lagi energi untuk mengekspresikan kreatifitas kita pada bidang lainnya. Kita bisa jadi tetap produktif, tapi tak lagi kreatif. Kita dapat tetap berpikir, tapi tak dapat berpikir mendalam, menganalisis dan memilah-milah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pun para filsuf yang sibuk berfilsafat tentang hidup kekurangan energi untuk sungguh-sungguh hidup, menikmati dan merayakannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya pernah bertemu dengan beberapa politisi yang begitu larut dalam politik sehingga tak tersisa energi untuk hal lainnya. Kasus ini terjadi juga dengan para profesional di bidang lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah sebabnya kenapa para leluhur menasehati kita untuk mengatur kama secara efektif dan efisien. Tak ada larangan untuk memakai kama untuk aktivitas seksual. Jika kau ingin menjadi Caligula, maka gunakanlah seluruh energimu untuk itu. Tak masalah. Namun, bila kau ingin menjadi kreatif di bidang lain pula, maka moderasi dalam aktivitas seksual akan bermanfaat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sama halnya, jika kau ingin menjadi kaya raya, maka silakan mengarahkan seluruh energimu untuk mencari uang. Jangan pikirkan hal lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hidup menawarkan pilihan yang tak berbatas. Hidup adalah pilihan. Seorang filsuf bisa berfilsafat tentang tak memilih. Tapi itupun sebuah pilihan. Tak memilih atau memilih, dua-duanya adalah pilihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semestinya, kita berpikir mendalam sebelum membuat pilihan. Kita harus menganalisis semua pilihan yang kita miliki, sebelum menetapkan satu pilihan di antara mereka. Ini juga alasan kenapa para siswa di sekolah dinasehati untuk tidak terlibat dalam  kegiatan seksual. Selama seorang siswa masih bersekolah, ia perlu memfokuskan  energinya pada pelajaran dan sekian banyak aktivitas lainnya. Maka, fokus pada seks tidak berguna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang telah saya sampaikan diatas, adalah pedoman. Selanjutnya terserah kita. Bagaimana kita menggunakan energi kita &#8211; bagaimana kita memakai kama &#8211; sepenuhnya menjadi keputusan kita. Kita ialah tuan atas diri kita sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada sebuah fenomena, yaitu ketika kama berbunga, ketika nafsu berubah menjadi kasih. Ini ialah sebuah fenomena universal. Kita semua dapat mengalaminya. Kita semua memiliki potensi untuk mendaki tingkatan yang lebih tinggi dari nafsu dan menggapai kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kau terobsesi dengan kemakmuran diri, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu &#8211; maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mari kita ringkas:</p>
<p>-Nafsu:  Kamu ialah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu selalu menuntut, mengambil, dan menerima.</p>
<p>-Cinta: Kamu dan Aku. Ini saling memberi dan menerima.</p>
<p>-Kasih ialah Engkau segala-galanya. Ia memberi, memberi, dan memberi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada tingkatan nafsu, kama telah melahirkan para Alexander yang haus kekuasaan, para Mahmud dari Ghazna, para Genghis Khan, para Napoleon dan para Hitler.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada level cinta, kita menjumpai para Mahatma Gandhi, para Martin Luther King dan para Mandela. Ini di mana kita peduli pada sesama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada tingkatan kasih, kita bersua denga para Krishna, para Buddha, para Yesus, para Muhammad, dan makhluk spiritual lainnya. Iniah tahapan pelayanan tanpa pamrih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kama ialah purushartha ketiga, atau pilar terpenting nomor tiga dalam struktur kehidupan manusia. Kita sebelumnya telah membahas dua yang pertama, dharma dan artha, atau kebajikan dan kekayaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di atas lapisan kesadaran yang lebih tinggi, kama merubah dirinya menjadi sankalpa, atau kekuatan niat. Lebih jauh tentang itu nanti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara waktu ini dulu, kita berjumpa lagi minggu depan untuk mengeksplorasi purusharta keempat sekaligus terakhir, moksa, kebebasan mutlak, pembebasan, keselamatan, atau apapun sebutan kita untuknya. Sampai jumpa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org, www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1251&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/12/01/kama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Babak Akhir Perjalanan Batin Dewi Sinta</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/30/babak-akhir-perjalanan-batin-dewi-sinta/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/30/babak-akhir-perjalanan-batin-dewi-sinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 21:28:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1249</guid>
		<description><![CDATA[ 

Keheningan bukanlah ketiadaan kebisingan, melainkan ketiadaan pikiran.

*1 Maranatha halaman 89
&#160;

Hati yang tidak tergantung pada sesuatu di luar. Hati yang tidak berdoa untuk meminta, tetapi untuk mensyukuri. Hati yang tidak cengeng. Hati yang ceria; hati yang bersuka-cita; hati yang senantiasa menari dan menyanyi. Hati yang tengah merayakan hidup! 

*2 Neo Psyhic Awareness halaman 27
&#160;

“Hatimu tertutup, bukalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1249&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><em>Keheningan bukanlah ketiadaan kebisingan, melainkan ketiadaan pikiran</em>.</li>
</ul>
<p><sup>*1 Maranatha halaman 89</sup></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><em>Hati yang tidak tergantung pada sesuatu di luar. Hati yang tidak berdoa untuk meminta, tetapi untuk mensyukuri. Hati yang tidak cengeng. Hati yang ceria; hati yang bersuka-cita; hati yang senantiasa menari dan menyanyi. Hati yang tengah merayakan hidup! </em></li>
</ul>
<p><strong><sup>*2 Neo Psyhic Awareness halaman 27</sup></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><em>“Hatimu tertutup, bukalah hatimu, biarlah angin segar memasuki ruang hatimu… biarlah hatimu berlembab…” Mereka yang memahami maksud bisikan dan membuka diri, menemukan cinta, menemukan kasih dalam keterbukaan itu</em>.</li>
</ul>
<p><strong><sub>*3 Ishq Ibadat halaman 4</sub></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li><em>Bukalah hatiku sehingga terdengar suara-Mu yang berasal dari dalam diriku juga. Selama ini yang terbuka hanyalah pikiran kita. Itu pun baru terbuka sedikit saja</em>.</li>
</ul>
<p><strong><sup>*4 Fiqr halaman 81</sup></strong></p>
<p>Di depan rombongan Sri Rama yang menemuinya, Dewi Sinta mengheningkan cipta. Semua yang hadir menunggu dengan penuh kesabaran.  Suasana damai menyelimuti semua insan. Beberapa saat  kemudian Dewi Sinta membuka matanya. Dirinya baru saja mengingat kala berada di pondok sederhana di kaki pegunungan yang indah. Terdengar bunyi burung bersahutan dilatarbelakangi gemericik suara aliran air Sungai Tamsa. Kemudian dia mengucapkan syair ungkapan perasaan dan semua yang hadir menyimak penuh perhatian&#8230;<span id="more-1249"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Kadang kau bergemericik kala tubuh kecilmu melewati sungai berbatu kerikil di dasarnya</p>
<p>Kadang kau nampak berlari cepat kala tubuhmu melewati sungai yang curam kemiringannya</p>
<p>Kadang kau nampak bergolak kala sungai tak mampu memuat tubuhmu yang menjadi raksasa</p>
<p>Kadang kau nampak mengamuk menerobos tanggul yang menjadi reruntuhan</p>
<p>Kadang kau nampak begitu tenang kala bendungan tinggi mengempang tubuhmu di depan</p>
<p>Kadang kau berbau menyengat kala membawa buangan limbah tak bijaksana</p>
<p>Kadang kau keruh berlumpur kala bercampur jutaan butiran tanah gunung gundul tak bersisa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Aku tahu, kau nampak berbeda-beda penampilan karena faktor luar lingkungan</p>
<p>Diri sejatimu tetap jernih, tetap bersih, tetap basah dan tetap memberi kehidupan</p>
<p>Dirimu juga tak pernah lelah, selalu bergerak menuju Samudera Agung sebagai tujuan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Aku terinspirasi oleh dirimu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Mereka yang tidak tahu mengatakan diriku jatuh karena rusa emas duniawi dari Maricha</p>
<p>Mereka menganggap diriku tersiksa di kerajaan Alengka</p>
<p>Mereka menganggap diriku penyebab kemusnahan para raksasa</p>
<p>Mereka mencemoohkan diriku dan minta Sri Rama melakukan Agni Pariksha</p>
<p>Mereka takjub melihat diriku selamat dari api dan menjadi permaisuri Sri Rama di Ayodya</p>
<p>Kemudian kasak-kusuk dan gosip memenuhi seluruh kerajaan</p>
<p>Mengapa Sri Rama tetap menerima diriku seakan tak ada pilihan</p>
<p>Mereka menghormatiku kala diam-diam diriku meninggalkan Ayodya</p>
<p>Sri Rama bisa tercemar kala istrinya yang pernah disekap di Alengka berada di istana</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Mereka tidak tahu jatidiriku</p>
<p>Hanya Sri Rama dan Walmiki yang paham siapa diriku</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masyarakat belum melihat diriku melahirkan Lawa dan Kusa yang perkasa</p>
<p>Mereka belum tahu Lawa dan Kusa digembleng Walmiki yang bijaksana</p>
<p>Lawa dan Kusa akhirnya mengganggu ritual Aswameda</p>
<p>Akhirnya mereka diundang Sri Rama</p>
<p>Kisah Rama Sinta gubahan Walmiki dikumandangkan di istana</p>
<p>Semua yang hadir menangis dan menyadari kesalahan mereka</p>
<p>Mereka merasa bersalah membuat diriku menderita</p>
<p>Sri Rama dan seluruh pembesar kerajaan datang menemui diriku</p>
<p>Aku bilang sudah selesai tugasku</p>
<p>Walmiki sudah mengabadikan kisah cinta abadi Ramayana</p>
<p>Telah musnah para raksasa angkara murka</p>
<p>Anak-anakku pun telah diangkat sebagai putra mahkota</p>
<p>Telah selesai tugasku di dunia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Wahai Sri Rama,</p>
<p>Wahai Guru,</p>
<p>Hanya kalian yang memahami</p>
<p>Bahwa diriku nampak mengalami suka duka silih berganti</p>
<p>Bahwa diriku mengalami hal-hal manusiawi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Air,</p>
<p>Wahai Sri Rama,</p>
<p>Wahai Guru,</p>
<p>Mereka tidak tahu</p>
<p>Dan tak berguna mencoba menjelaskan kepada mereka yang tak tahu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jati diri air hanya jernih, membersihkan, menghidupi dan bergerak menuju Samudera.</p>
<p>Nampak tenang, bergolak, berlumpur dan bau hanya karena karena lingkungan semata</p>
<p>Demikian pula diriku</p>
<p>Nampak mengalami suka duka silih berganti</p>
<p>Hanya karena lingkungan luar sepanjang perjalanan hidup yang harus kualami</p>
<p>Sejatinya aku tidak terikat apa pun juga</p>
<p>Hanya saja kisahku dibumbui pikiran mereka</p>
<p>Sesuai tingkat kesadarannya</p>
<p>Aku selalu bergerak menuju Dia Yang Maha Ada</p>
<p>Semoga demikian adanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Wahai Sri Rama, Kekasihku yang selalu berada di dalam hatiku. Semoga kisah cinta kita abadi. Aku segera kembali ke jatidiriku, bumi yang penuh kasih.“</p>
<p>Dan bumi pun merekah menerima Dewi Sinta yang melompat masuk dan kemudian menutup kembali. Hanya Kisah Ramayana yang tersisa. Entah sampai kapan berada dalam ingatan manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terima Kasih Guru. Guru adalah sumber mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><sup>*1 Maranatha halaman 89</sup></strong> Maranatha, Bersama Anthony de Mello Mabuk Anggur Kehadiran Tuhan, Anand Khrisna, PT Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p><strong><sup>*2 Neo Psyhic Awareness halaman 27</sup></strong> Neo Psyhic Awareness, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*3 Ishq Ibadat halaman 4</sup></strong> Ishq Ibadat Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005</p>
<p><strong><sup>*4 Fiqr halaman 81</sup></strong> Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002.</p>
<p>Informasi buku silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1249/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1249/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1249/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1249&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/30/babak-akhir-perjalanan-batin-dewi-sinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran-pelajaran dari Indonesia untuk India yang sekuler</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/26/pelajaran-pelajaran-dari-indonesia-untuk-india-yang-sekuler/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/26/pelajaran-pelajaran-dari-indonesia-untuk-india-yang-sekuler/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 10:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[secangkir kopi kesadaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1244</guid>
		<description><![CDATA[Senin pukul 3:40 Dinihari
http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=324841435246&#38;id=601700011&#38;ref=mf
Indonesian lessons for secular India
Oleh Tarek Fatah
Terjemahan Rahmad D.
“[Islam] sampai [di Indonesia] melalui perdagangan dan bukannya melalui penaklukkan, melalui pedagang India dan bukannya Arab… Masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1244&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Senin pukul 3:40 Dinihari</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=324841435246&amp;id=601700011&amp;ref=mf">http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=324841435246&amp;id=601700011&amp;ref=mf</a></p>
<p>Indonesian lessons for secular India</p>
<p>Oleh Tarek Fatah</p>
<p>Terjemahan Rahmad D.</p>
<p>“[Islam] sampai [di Indonesia] melalui perdagangan dan bukannya melalui penaklukkan, melalui pedagang India dan bukannya Arab… Masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven dan kata neraka untuk hell. Namun kultur pluralisme dan toleransi seperti ini tidak bisa lagi diterapkan begitu saja. Sekarang ini, Indonesia tengah berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Islam moderat dan Islam radikal yang telah memecah-belah komunitas-komunitas Muslim dari Maroko sampai Mindanao. Para Muslim radikal, mereka yang berusaha mengurusi setiap tetek bengek dalam masyarakat dan negara—sejak dari burqa sampai masalah perbankan—dengan menggunakan hukum syariat memang masih minoritas, namun jumlah mereka terus bertambah. Selain itu orang-orang radikal ini berusaha menambah jumlah mereka dengan kegiatan, organisasi serta keyakinan bahwa sejarah ada di fihak mereka.”<span id="more-1244"></span></p>
<p>22 November 2009</p>
<p>Pelajaran-pelajaran dari Indonesia untuk India yang sekuler</p>
<p>Sadanand Dhume</p>
<p>The Times of India</p>
<p>Jika anda harus mengambil contoh tempat dalam dunia Muslim yang paling rentan terhadap ekstrimisme agama, maka anda akan sulit mendapatkan kandidat lain yang lebih baik dari Indonesia. Negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia ini berada di sisi timur Islam, terpisah oleh ruang dan waktu dari tempat lahirnya agama ini di jazirah Arab.</p>
<p>Islam masuk ke kepulauan Indonesia pada abad ke-12, berakar kuat pada abad ke-15 dan menjadi dominan selambat-lambatnya pada abad ke-17. Secara umum, Islam datang melalui perdagangan dan bukannya penaklukkan, oleh pedagang India dan bukannya Arab. Islam didahului lebih dari satu milenia oleh Hindu dan Buddha, yang salah satu pencapaiannya adalah termasuk candi Borobudur, yang adalah sebuah candi Buddha sangat megah yang dibangun pada abad ke-9.</p>
<p>Sebagaimana yang ditulis oleh seorang antropolog bernama Clifford Geertz yang membandingkan Indonesia dengan Maroko: “Di Indonesia Islam tidak membangun peradaban, ia hanya menghiasi dan melengkapinya saja.”</p>
<p>Di India, Islam orthodoks terkadang berkonflik secara terbuka dengan Hundhu. Tetapi di Indonesia, agama baru ini duduk dengan nyaman di atas landasan ajaran Hindhu-Buddha yang sudah ada sebelumnya. Seperti sebagian besar orang India, dan tidak seperti orang-orang Arab, sebagian besar masyarakat Indonesia tetap meyakini bahwa terdapat banyak jalan menuju Tuhan. Dan tetap demikian sampai baru-baru ini, Islam Indonesia—yang larut dalam budaya musik dan mistisisme—sinonim dengan toleransi. Secara umum satu dari delapan orang Indonesia yang adalah orang Kristen, Buddha, Hindu atau Animis, jarang menghadapi diskriminasi dan kekerasan agama.</p>
<p>Sangat jelas bahwa masyarakat Indonesia tidak menyamakan menjadi Muslim dengan menjadi Arab. Maskapai penerbangan mereka bernama Garuda. Epik nasional mereka adalah Mahabharata. Dalam bahasa Indonesia, mereka memiliki kata surga untuk heaven dan kata neraka untuk hell. Namun kultur pluralisme dan toleransi seperti ini tidak bisa lagi diterapkan begitu saja. Sekarang ini, Indonesia tengah berjuang untuk menyelesaikan konflik antara Islam moderat dan Islam radikal yang telah memecah-belah komunitas-komunitas Muslim dari Maroko sampai Mindanao. Para Muslim radikal, mereka yang berusaha mengurusi setiap tetek bengek dalam masyarakat dan negara—sejak dari burqa sampai masalah perbankan—dengan menggunakan hukum syariat memang masih minoritas, namun jumlah mereka terus bertambah. Selain itu orang-orang radikal ini berusaha menambah jumlah mereka dengan kegiatan, organisasi serta keyakinan bahwa sejarah ada di fihak mereka.</p>
<p>Bagi masyarakat India, drama yang tengah berlangsung di Indonesia ini secara khusus menjadi sangat penting disimak karena konflik yang terjadi di sana baik maupun secara kultur maupun politis adalah sebuah perang antara Islam yang sudah membaur dengan budaya setempat dengan Islam keras yang diimpor dari Arab. Selama 30 tahun terakhir ini, nama-nama Arab telah secara bertahap menggusur nama-nama Sansekerta di taman kanak-kanak. Jumlah wanita berjilbab meningkat sangat pesat di kampus-kampus. Di kantor-kantor, sapaan assalamualaikum telah digunakan sebagai ganti sapaan yang netral secara relijius seperti selamat pagi. Atap masjid bertingkat yang khas jawa telah digantikan dengan gaya atap dengan menggunakan kubah. Untuk pertama kalinya, generasi anak-anak Jawa tumbuh besar dengan menjadi tidak familiar dengan nama-nama Arjuna dan Bhima dari Mahabharata.</p>
<p>Konsekwensi-konsekwensi politis dari perubahan kultural yang luas ini telah tampak di permukaan. Koalisi pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyertakan PKS, sebuah partai kader yang akarnya bisa ditelusuri sampai kepada organisasi terlarang di Mesir, Ikhwanul Muslimin. Tahun-tahun belakangan ini, permintaan bahwa Muslim Indonesia harus mengikuti hukum syariat telah mengemuka.</p>
<p>Di universitas-universitas yang ada di seluruh penjuru negeri, para mahasiswa melaksanakan pengajian di masjid-masjid untuk mempelajari tulisan-tulisan dari tokoh radikal Mesir, Sayyid Qutb, atau menjadi anggota Hizbut Tahris, sebuah gerakan lainnya yang telah dilarang di banyak negara karena seruannya untuk menyatukan seluruh Muslim dalam sebuah kekhalifahan Islam. Jelasnya, hanya satu bagian dari Muslim orthodoks Indonesia saja yang melakukan gerakan-gerakan kekerasan, namun itu cukup untuk menjadikan masa satu dekade yang lalu menjadi yang paling berdarah dalam sejarah negeri ini sejak gerakan anti-komunis tahun 1960. Serangan-serangan teroris—bom Bali dan pemboman hotel di Jakarta—menjadi topik utama surat kabar. Tetapi sesuatu yang lebih buruk terus berlanjut dalam pemantauan Internasioanal. Di Maluku, yang dulunya adalah negeri dongeng rempah-rempah, dampak dari sebuah perang sipil berdarah telah memisahkan antara Muslim dengan umat Kristen dengan batas-batas agama. Di luar pulau Jawa, umat Kristen menghadapi bencana pembakaran gereja-gereja dan intimadasi dari orang-orang militan lokal. Sebagaimana di Pakistan, komunitas kecil Ahmadiyah juga berada dalam ancaman karena telah memisahkan diri dari pemikiran orthodoks Sunni yang diterima secara luas, dengan menyatakan bahwa pendiri gerakan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), menerima wahyu langsung dari Tuhan. Umat Hindu Bali telah memprotes apa yang disebut undang-undang “anti-pornografi”, yang mereka lihat sebagai sebuah usaha untuk memaksakan nilai-nilai orthodoks Islam pada orang-orang non-Muslim.</p>
<p>&#8220;Namun demikian, terlepas dari serangan-serangan dari para radikal ini, Indonesia masih jauh dari kekalahan. Para moderat bisa mengandalkan akar-akar kebudayaan Jawa yang menghujam dalam, hukum perundangan yang non-sektarian dan bisnis yang sekuler serta elit militer maupun para petinggi budaya. Indonesia mungkin masih menepati janjinya sebagai sebuah benteng pertahanan bagi moderasi, sebuah versi Muslim seperti Thailand. Namun jika kita melesuri wilayah negeri ini kita akan dikejutkan dengan hasil yang sangat berbeda, yakni Indonesia di mana Islam radikal terus melanjutkan kiprahnya untuk mencengkeramkan pengaruhnya dalam aspek budaya maupun politis bangsa ini, pendeknya seperti Pakistannya Asia Tenggara.&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1244/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1244/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1244/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1244&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/26/pelajaran-pelajaran-dari-indonesia-untuk-india-yang-sekuler/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dharma Bhakti Teguh Para Garuda</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/23/dharma-bhakti-teguh-para-garuda/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/23/dharma-bhakti-teguh-para-garuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:35:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[garuda]]></category>
		<category><![CDATA[jatayu]]></category>
		<category><![CDATA[sempati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1242</guid>
		<description><![CDATA[Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia. 
Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  + Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia – Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1242&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Kata “manusia” atau “manushya” berasal dari dua suku kata, “manas” dan “ishya”. “Ishya” berarti Keberadaan. “Manas” berarti Pikiran. Apabila Keberadaan atau eksistensi bertemu dengan pikiran, maka lahirlah manusia. </em></p>
<p><em>Apabila manusia melepaskan dirinya dari pikiran, maka ia adalah Keberadaan atau Eksistensi. Keberadaan  <strong>+</strong> Pikiran = Manusia, sebaliknya Manusia <strong>–</strong> Pikiran = Keberadaan. Energi dan apa yang kita sebut “materi” sama-sama merupakan bagian dari Keberadaan. </em></p>
<p><em>Elemen-elemen air, api, udara, tanah, dan lain sebagainya – semuanya merupakan bagian dari Keberadaan. Mengidentitaskan diri kita dengan energi berarti mengidentitaskan diri kita dengan salah satu unsur Keberadaan</em>. <strong><sup>*1 Kundalini Yoga</sup></strong> </p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelahiran Sang Garuda</span></strong></p>
<p>Daksa memberikan putri-putrinya untuk dijadikan istri Resi Kasyapa. Pernikahannya dengan Diti menurunkan Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Perkawinannya dengan Aditi melahirkan Indra dan Vamana. Perkawinannya dengan Dewi Kadru melahirkan para ular dan para naga, sedangkan perkawinannya dengan Dewi Winata melahirkan Aruna dan Garuda. Dari satu kakek yang sama, para cucunya ada yang menjadi tokoh penegak dharma dan beberapa yang lain menjadi pemimpin golongan adharma.</p>
<p>Dewi Winata bersaing dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru melahirkan ribuan butir telur yang menjadi ular dan naga, di antaranya menjadi naga Varuna dan Vasuki. Dewi Winata hanya melahirkan dua butir telur, dan karena lama tidak menetas, yang satu butir dipecahnya sebelum waktunya menetas dan menjadi Burung Aruna yang cacat. Kesalahan tindakannya nantinya harus dibayar dengan menjadi budak beberapa masa. Tugas Dewi Winata adalah memelihara dan membesarkan putra kandung dengan suka cita, akan tetapi karena tindakannya, dia harus merawat ribuan putra ibu lain dengan terpaksa.<span id="more-1242"></span></p>
<p>Pada suatu hari Dewi Kadru bertaruh dengan Dewi Winata, mengenai warna ekor kuda Uchaiswara yang keluar dari samudera ketika para asura dan para dewa bersatu mengaduk samudera untuk mencari tirta amerta. Tirta amerta adalah air kehidupan yang membuat makhluk hidup abadi tak dapat mati.</p>
<p>Para anak-anak ular dan naga memberi tahu ibunya bahwa sang ibu yang memegang taruhan warna ekor kuda tersebut hitam akan kalah, karena sejatinya ekor kuda tersebut berwarna putih. Dewi Kadru minta para anaknya bersatu menutupi ekor kuda agar menjadi nampak berwarna hitam. Naga Varuna, Basuki dan beberapa yang lain menolak dan dikutuk akan mati menjadi hewan persembahan. Para naga yang dikutuk kemudian bertapa mohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk merawat anak-anak putra Dewi Kadru.</p>
<p>Telor Winata lainnya akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia. Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia kemudian mencari ibunya dan akhirnya mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular dan naga. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga sangat lincah di samudera. Akhirnya Garuda bernegosiasi dengan memberikan pengganti untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular dan naga minta barter “tirta amerta”, air yang membuat mereka tidak mati. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan dilewatinya untuk mendapatkan tirta amerta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Benih kasih yang berpotensi menjadi bhakti dalam diri Garuda</span></strong></p>
<p>Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin<em>, fearless and no doubt</em> terhadap Kebenaran. Garuda dalam upaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan keraguan dan ketakutan.</p>
<p>Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak. “Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakan-Mu, saya yakin dan tidak ragu, bila memang tetap mau memberi anugerah, hamba juga tak pantas menolak, berikanlah anugerah lainnya, Gusti”.</p>
<p><em>Bhakti berarti pengabdian tanpa pamrih. Pengabdian yang sesungguhnya merupakan manifestasi Kasih. Tanpa Kasih, kita tidak dapat mengabdi</em>. <strong><sup>*2 Bhagavad Gita</sup></strong></p>
<p>Wisnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda dan minta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak hanya mendapatkan kehidupan abadi, tetapi setiap saat selalu mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta. Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri.</p>
<p>Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan tirta amerta kepada para naga setelah Dewi Winata dibebaskan terlebih dahulu, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga.</p>
<p>Garuda minta Dewi Winata dibebaskan dan para naga diminta mandi dulu untuk membersihkan diri dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Para ular dan naga mematuhi permintaan Garuda, mereka membebaskan Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri.  Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa, sehingga para ulardan naga tak dapat hidup abadi, akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi. Yang menipu akan ditipu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Obsesi Rahwana dalam keduniawian</span></strong></p>
<p>Berbeda dengan Garuda yang taat kepada Sang Gusti, Rahwana tunduk pada ego pribadi. Bagi Garuda, ego hanya semacam tingkat kesadaran yang harus dilampaui, jati dirinya bukan ego, ego hanya salah satu identitas dari tingkat kesadaran bukan jati dirinya. Bagi Rahwana ego adalah dirinya. Seseorang yang kaya, terkenal dan sangat berkuasa, selalu ingin melebarkan kekuasaannya dan ingin mempunyai istri yang sangat luar biasa untuk menyempurnakan kebesarannya.</p>
<p><em>Raksasa adalah makhluk sejenis manusia. Rasa dan pikiran mereka sudah berkembang. Hanya mereka seperti  “bhuta”, seperti “makhluk yang tidak berbadan”, berarti seperti kayu gelondongan yang belum dipahat. Sebenarnya, kita semua ini masih raksasa. Kita-kita ini adalah manusia yang belum menjalani proses finishing dan polishing. Belum terjadi penghalusan dalam diri kita. Kita memang sudah dilahirkan sebagai manusia, tetapi tanpa adanya proses penghalusan itu, jiwa kita, rasa kita, nurani atau intuisi kita, tidak akan berkembang. Suara nurani masih merupakan potensi yang terpendam</em>. <strong><sup>*3 Wedhatama </sup></strong></p>
<p>Nenek moyang kita mengetahui hal tersebut. Rahwana merasa kebahagiaan itu diperolehnya dari luar. Akan tetapi luar itu tak mempunyai batas. Keserakahan itu tak dapat dipuaskan sampai nyawa direnggut dari tubuhnya. Obsesi nya adalah mendapatkan pasangan wanita yang sangat cantik, titisan Dewi Widowati. Rahwana dikisahkan mempunyai kerajaan besar di seberang samudera, akan tetapi dia punya “raksasa connection” yang masih tinggal di hutan di wilayah peradaban manusia.</p>
<p>Pada awalnya Rahwana ingin mendapatkan Dewi Citrawati isteri Prabu Harjuna Sasrabahu. Dewi Citrawati dikenal sebagai titisan Dewi Widowati. Dalam hal ini Rahwana menghadapi dua ksatriya tangguh, pertama Patih Suwanda atau Raden Sumantri dari kerajaan Maespati dan Prabu Harjuna Sasrabahu yang konon merupakan titisan Wisnu. Dalam kisah yang berkembang di India, Harjuna Sasrabahu adalah Raja Kartaviryarjuna, yang merupakan perwujudan Dattatreya, percikan Wisnu.</p>
<p>Patih Suwanda akhirnya dapat dibunuhnya. Kemudian setiap bertarung dengan sang prabu selalu kalah. Maka Rahwana membuat tipu muslihat membuat kabar seakan-akan sang prabu meninggal. Dewi Citrawati sangat sedih dan bunuh diri. Sang prabu terlalu sedih atas kematian istrinya dan meninggalkan istana dan kala bertemu Parasurama, sang prabu dibunuh oleh Parasurama yang juga merupakan titisan Wisnu.</p>
<p>Setelah bertemu Sri Rama, Parasurama mengundurkan diri, sehingga di atas bumi ada dua pemimpin. Kelompok adharma dipimpin Rahwana sudah lama eksistensinya, sedangkan kelompok dharma dipimpin Sri Rama masih baru. Rahwana dan para raksasa berada dalam kelompok “yang tidak sadar”, sedangkan Sri Rama adalah manusia sadar.</p>
<p><em>“Manusia sadar” bagaikan bibit yogurt. Satu sendok teh sudah cukup untuk membuat semangkuk yogurt. Satu orang sudah cukup untuk memancing kesadaran sekelompok manusia. Itu sebabnya setiap agama menganjurkan doa bersama. Itu sebabnya ada tempat-tempat ibadah. Satu manusia sadar yang hadir bisa membantu sekian banyak orang di sekitarnya, kendati orang sadar itu sendiri tidak akan menganggapnya “bantuan”. Dia tidak merasa membantu siapa-siapa</em>. <strong><sup>*4 Narada Bhakti Sutra   </sup></strong></p>
<p>Belasan tahun kemudian, Rahwana mendengar bahwa Dewi Widowati menitis pada Dewi Kausalya puteri Raja Banasura dari Kerajaan Kausala. Dewi Kausalya terkenal sangat cantik, layaknya seorang bidadari.</p>
<p>Dewi Kausalya dikisahkan menderita sakit lumpuh dan sang ayahanda mengadakan sayembara barang siapa yang dapat menyembuhkannya akan dijadikan suami sang putri. Adalah seorang pendeta brahmacari, tidak menikah bernama Resi Rawatmaja adik dari Banasura, seorang ahli pengobatan dapat menyembuhkannya, maka dia akan dinikahkan dengan sang putri.</p>
<p>Pada hari pernikahannya Rahwana datang menyerbu dan membunuh Raja Banasura. Resi Rawatmaja bersama Dewi Kausalya dilarikan oleh Garuda Sempati ke gunung. Rahwana mengejar dan memanah sayap Sempati, dan Sempati jatuh. Sempati memberikan salah satu bulu pusakanya kepada Kausalya yang dapat membawanya terbang kepada Pendeta Dasarata, seorang pendeta sahabat saudara misannya Garuda Jatayu. Rahwana yang marah membunuh Resi Rawatmaja dan menggunduli bulu sempati dan menendangnya hingga jatuh luka parah di Gunung Warawendya. Sebelum meninggal, Resi Rawatmaja mengutuk Rahwana akan mati dibunuh Putra Kausalya.</p>
<p>Dasarata adalah pendeta yang berguru pada Resi Yogiswara dan bersahabat dengan Jatayu, putra Aruna kakaknya Garuda. Dasarata sebetulnya menolak melindungi Kausalya, karena pada zaman itu mereka yang menang perang berhak memegang tahta dan mengawini putrinya. Tetapi datang petunjuk Dewata, putri inilah yang akan menurunkan titisan Wisnu dan meneruskan tahta Kerajaan Kausala yang beribukota di Ayodya. Akhirnya Dasarata mau membantunya.</p>
<p>Pendeta muda Dasarata menciptakan sekuntum bunga sebagai Kausalya tiruan dan diserahkan kepada Rahwana yang mengejar pelarian Kausalya. Rahwana berkenan dan memberikan kerajaan Kausala dengan ibukota Ayodya kepada Dasarata. Dan jadilah Dasarata menjadi raja di Kosala.</p>
<p>Konon Rahwana membawa Kausalya palsu ke Alengka dan begitu sampai di sana sang putri palsu meninggal dunia. Rahwana protes kepada para dewa dan minta Kausalya dihidupkan lagi. Para dewa mengatakan akan ada waktunya Dewi Widowati menitis kembali di dunia, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi Dewi tari sebagai permaisurinya. Tatkala Rahwana diceritai Sarpakenaka, bahwa Dewi Widowati telah menitis ke dewi Sinta, Rahwana berjuang dengan segala cara untuk mendapatkan Dewi Sinta, isteri Sri Rama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sang Jatayu, garuda putra Aruna</span></strong></p>
<p>Jatayu adalah putera dari Aruna dan keponakan dari Garuda. Jatayu adalah sahabat Raja Dasarata ayah Sri Rama.</p>
<p>Tatkala melihat Dewi Sinta dilarikan Rahwana, Jatayu menghadangnya. Dewi Sinta adalah menantu Raja Dasarata sahabatnya. Dan Sri Rama adalah Wisnu yang mewujud untuk menegakkan dharma. Jatayu sudah tua dan kalah melawan Rahwana dan jatuh terluka parah. Jatayu tidak mengeluh dan berkata pelan, “Bagi manusia awam aku kalah bertanding dan mungkin dianggap akan menemui kematian secara sia-sia. Manusia awam tidak tahu bahwa hidup itu untuk menyelesaikan tugas, bermain sebaik-baiknya melakoni peran pemberian Gusti. Saya kalah bertarung, tetapi diri saya menang, dharma dalam diri saya menang melawan ketakutan terhadap bagian adharmik saya. Gusti, jangan ambil nyawaku, sebelum aku bertemu dengan Sri Rama, Gusti yang mewujud, aku akan menceritakan kejadian siapa penculik Dewi Sinta dan aku berbahagia meninggalkan dunia, aku menang terhadap ketakutan yang berada dalam diriku.”</p>
<p>Ketika Sri Rama dan Laksmana menelusuri hutan Dandaka mencari jejak Dewi Sinta, mereka menemukan Jatayu yang luka parah. Setelah menyampaikan pesan terakhirnya, Jatayu lega dan saat menyebut Ram..Ram..Rama, dia menemui kematian.</p>
<p>Lain Jatayu, lain kita manusia awam, setiap saat yang kita pikirkan hanya harta benda duniawi, itulah yang kita ingat menjelang ajal.</p>
<p><em>Apa yang terjadi bila aku mati? Rumahku yang mewah, kendaraanku, tabunganku, usahaku—semoga anak-anakku dapat merawat, memelihara, memperbanyak. Dalam keadaan sekarat pun pikiran seperti itu yang muncul. Harta, uang, fulus&#8230; sepanjang umur itu saja yang kita pikirkan. Saat mati pun pikiran yang sama yang muncul</em>. <strong><sup>*5 Bhaja Govindam </sup></strong></p>
<p>Sri Rama dan Laksmana mengadakan ritual pengabuan sederhana sebagai penghormatan terakhir dan meningalkan tempat tersebut. Banyak ksatria yang mendambakan kematian Jatayu, di saat terakhir menyebut nama Gusti. Obsesi terakhir sebelum kematian menyebabkan jiwa seseorang tertarik gravitasi dan lahir kembali. Akan tetapi yang bila obsesi terakhirnya bertemu Gusti, maka selesailah keterikatannya dengan dunia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kepahlawanan Sempati</span></strong></p>
<p>Sempati adalah salah satu anak Garuda. Rahwana mengejar dan memanah sang burung yang terbang melarikan Resi Rawatmaja dan Kausalya. Sempati jatuh dan bulu burung Sempati dirontokkan semua oleh Rahwana. Akan tetapi Sempati sempat memberikan sehelai bulu burung pusakanya untuk dipegang Kausalya yang dapat menerbangkan sang putri minta perlindungan kepada pendeta muda  Dasarata sahabat Jatayu. Kausalya selamat, akan tetapi Resi Rawatmaja terbunuh dan Sempati yang terluka parah di tendang Rahwana sampai ke gunung Warawendya.</p>
<p>Sempati menghabiskan seluruh hidupnya di Gunung Warawendya dan menunggu datangnya putra Kausalya yang diramalkan sebagai titisan Wisnu yang akan mengalahkan Rahwana.</p>
<p>Hanuman, Anggada, Jambawan dan beberapa kera mencari jejak Rahwana dan mereka sampai di Gunung Warawendya. Mereka baru saja diracun oleh Dewi Sayempraba, raksasa wanita bagian dari jaringan Rahwana-Connection. Dalam keadaan setengah sekarat mereka sampai ke pantai di depan samudera yang luas sekali. Mereka kehilangan jejak Rahwana. Dalam keadaan sekarat, datanglah burung sangat besar yang sedang kelaparan sehingga mereka merasa kematian sudah dekat. Mereka merasa sedang menjalankan tugas Sri Rama, hanya terbersit perasaan kecewa karena gagal dan kematian sudah menjemputnya.</p>
<p>Hanuman, Anggada dan Jambawan juga sudah pasrah, kalau memang mati keracunan, atau dimakan burung yang kelaparan sudah tidak dapat apa-apa&#8230;..  Jambawan berkata, “Sudahlah sahabat-sahabatku, mari kita tiru tindakan ksatria Jatayu yang rela mati demi Sri Rama&#8230;&#8230;.”</p>
<p><em>Begitu kau menerima kematian, kau membuka diri terhadap segala macam kemungkinan. Bicara tentang kematian saja dapat menutup diri seseorang. Manusia tidak berani bicara tentang kematian karena ia takut. Rasa takut menutup diri mereka. Begitu kau menerima kematian, dirimu terbuka lebar dan alam pun mulai mengalir, menyirami jiwamu. Aku berubah total. Esoknya yang Bangun bukan aku yang sama lagi. Benar. Terjadi transformasi kuantum dalam dirimu</em>. <strong><sup>*6 Reinkarnasi </sup></strong></p>
<p>Demi mendengar Jatayu disebut-sebut, bergetarlah dada Sempati. Jatayu adalah saudara misan sepermainan, seperti saudaranya sendiri. Sempati menanyakan perihal Jatayu dan menganggap Hanuman dan sahabat-sahabatnya sebagai sahabatnya. Jatayu yang mempunyai ilmu pengobatan dari Resi Rawatmaja menyembuhkan mereka dari racun yang masuk dalam tubuh mereka.</p>
<p>Sempati memberitahu bahwa Dewi Sinta dibawa Rahwana memakai puspakh, sejenis wahana terbang. Sempati menunjukkan arah Alengka. Sempati sebagai keturunan garuda yang sakti, bisa melihat dari jarak jauh. Silahkan meneruskan perjalanan. Mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Kepasrahan dalam menghadapi kematian telah mengubah Hanuman, Anggada dan Jambawan. Mereka sudah lahir kembali, mereka menjadi manusia yang lain.</p>
<p>Dalam perjalanan, Jambawan meyakinkankan bahwa Hanuman adalah kera yang sakti, sewaktu kecil bisa terbang menuju matahari. Sri Rama memilih Hanuman sebagai komandan pasti mempunyai alasan. Hanuman timbul keyakinannya, melompat dan tiba-tiba terbang ke angkasa, dan semua teman-temannya bertepuk sorak.</p>
<p>Keyakinan seseorang membebaskan dia dari belenggu ketidakmampuan. Gusti Yesus berkata kepada orang buta yang sembuh setelah memegang jubahnya, “Kamu sembuh bukan karena saya, “keyakinan”-mu lah yang telah membantu menyembuhkan matamu.”</p>
<p>Dalam diri Sempati ada benih kekesatriaan burung Garuda. Jatayu sudah meninggal dalam menunjukkan bhaktinya kepada Sri Rama. Bahkan Jatayu tidak mau mati dan menunggu kedatangan Sri Rama. Sebelum akhir hayatnya, Jatayu hanya berpikir untuk bertemu Sri Rama. “Aku pun sudah tua seperti Jatayu, sudah waktunya meninggalkan dunia. “ Dan dengan segenap pikirannya tertuju pada Sri Rama, samar-samar dia melihat Resi Rawatmaja dan Jatayu menjemputnya, mari Saudaraku bersama kita menghadap Gusti&#8230;&#8230;”</p>
<p><em>Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita-bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa.</em><strong><sup> *7 ABC Kahlil Gibran</sup></strong> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Proses Daur Ulang</span></strong></p>
<p><em>Pada dasarnya manusia memiliki dua pandangan tentang kehidupan: Yang satu menganggap kehidupan sebagai garis yang datar. Yang lain menganggap kehidupan sebagai lingkaran: kita harus berakhir pada titik permulaan, untuk membuat lingkaran yang sempurna. Pihak pertama ini bermasalah, yang merasa harus mengejar waktu, karena ia mulai dari satu titik dan harus berakhir pada titik yang lain. Selain itu, karena ujung pangkalnya pun tidak terlihat, ia gelisah. Ia selalu terburu-buru; ia tidak pernah hidup tenang.  </em></p>
<p><em>Pihak kedua melihat kehidupan sebagai lingkaran: kematian bukanlah penghabisan, namun hanya proses daur ulang. Secara ilmiah pun kita mengetahui bahwa dalam dunia ini tidak ada sesuatu yang musnah. Bentuknya dan nama berubah, namun tak pernah musnah. Air bisa berbentuk es atau uap. Uap itu menyatu dengan alam, menjadi awan dan kembali lagi dalam bentuk air. Begitu pula jiwa manusia: lahir, mati dan lahir kembali dan mati lagi. Kehidupan tidak pernah musnah.</em></p>
<p><em>Proses daur ulang kehidupan ini berjalan terus, sampai pada suatu titik di mana jiwa mencapai kesempurnaan, mencapai kekosongan yang absolut  dan menjadi bagian dari alam semesta. Dalam keadaan itu pun, jiwa sebenarnya tidak musnah</em>. <strong><sup>*2 Baghavad Gita</sup></strong> </p>
<p><em>Di Medan perang Kurukshetra, Arjuna bertanya kepada Krishna, Apabila aku mati sebelum memperoleh pencerahan, sebelum sadar sepenuhnya, lalu bagaimana ? Sepanjang hidup aku mengejar. Lantas belum sampai, keburu mati. Bukankah segala jerih payahku sia-sia? </em></p>
<p><em>Tidak Arjuna, usaha serta jerih payahmu tidak akan pernah sia-sia. Setelah mati,kau akan lahir kembali dalam keluarga saleh. Kau akan berada dalam lingkungan yang menunjang evolusi spiritualmu. Kehidupan sekarang merupakan kesinambungan dari masa lalu</em>.  <strong><sup>*8 Atisha</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p><strong><sup>*1 Kundalini Yoga</sup></strong>        Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka</p>
<p>                             Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*2 Bhagavad Gita</sup></strong>        Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.</p>
<p><strong><sup>*3 Wedhatama                 </sup></strong>Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999.</p>
<p><strong><sup>*4 Narada Bhakti Sutra   </sup></strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand</p>
<p>                                Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*5 Bhaja Govindam         </sup></strong>Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*6 Reinkarnasi                  </sup></strong>Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.</p>
<p><strong><sup>*7 ABC Kahlil Gibran       </sup></strong>Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*8 Atisha</sup></strong>                  Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia</p>
<p>                             Pustaka Utama, 2003.                                                              </p>
<p>Informasi buku silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1242&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/23/dharma-bhakti-teguh-para-garuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laporan Pandangan Mata: Silaturahmi Islamic Movement for Non Violence dengan Tokoh Muslim Bali</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-tokoh-muslim-bali/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-tokoh-muslim-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 21:30:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[kelembutan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Amina Wadud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1240</guid>
		<description><![CDATA[Muslihah Razak
http://www.facebook.com/muslihah.razak#/notes/muslihah-razak/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-toko/180518735403
&#160;
Islamic Movement for Non Violence (IMN)
Restoran de Surau Denpasar Bali, 13 November 2009
&#160;
“Inna ad-din &#8216;Inda-Allah Islam: the Way to God is Peaceful Surrender&#8221; with Prof. Amina Wadud
&#160;
Bertempat di Denpasar bali, Islamic Movement for Non Violence atau IMN mengadakan acara silaturahmi dengan tokoh-tokoh muslim Bali, diantaranya Masrur, Ketua MUI Badung, Khabibah Ahmad dari Fatayat NU, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1240&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Muslihah Razak</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/muslihah.razak#/notes/muslihah-razak/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-toko/180518735403">http://www.facebook.com/muslihah.razak#/notes/muslihah-razak/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-toko/180518735403</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Islamic Movement for Non Violence (IMN)</p>
<p>Restoran de Surau Denpasar Bali, 13 November 2009</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>“Inna ad-din &#8216;Inda-Allah Islam: the Way to God is Peaceful Surrender&#8221; with Prof. Amina Wadud</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bertempat di Denpasar bali, Islamic Movement for Non Violence atau IMN mengadakan acara silaturahmi dengan tokoh-tokoh muslim Bali, diantaranya Masrur, Ketua MUI Badung, Khabibah Ahmad dari Fatayat NU, Suri Handayani dari Muslimat NU, Yayuk Herawati dari Forum Majlis Taklim Denpasar, Ariful Akmal dari Religious Affairs Denpasar, dan masih banyak lagi seperti perwakilan dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), perwakilan Himpunan Pengusaha Muslim Bali, perwakilan dari Departemen Agama, dan ada juga dari Universitas Udayana Hadir pula dalam acara tersebut Maya Safira Muchtar sebagai penggagas IMN</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang membuat acara ini lebih special adalah kehadiran tokoh pemikir islam yang kontraversial Prof. Amina Wadud, yang hari itu berbagi dengan kami apa sebenarnya makna dari Inna ad-din &#8216;Inda-Allah Islam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Amina memulainya dengan peringatan agar kita tidak sempit dalam memahami Al-quran karena dalam al-quran sendiri dijelaskan bahwa pesan-pesan Allah tidak hanya didalam a-quran tetapi juga diseluruh alam, tanda-tandanya berada dimana-mana. Dan alquran diturunkan bukan hanya untuk orang-orang yang mengerti bahasa arab saja, ataupun bangsa arab saja tetapi untuk semua ummat manusia<span id="more-1240"></span></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Disinilah pentingnya al-quran tidak hanya dimaknai secara tersurat saja tetapi harus digali makna yang terkandung didalamnya sesuai dengan konteks berlakunya. Sehingga alquran tidak hanya digunakan untuk kelimpok tertentu atau peradaban tertentu saja tetapi benar-benar bisa menjadikan al-quran sebagai cemin dalam perilaku kehidupan sehari-hari.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dalam menerjemahkan al-quran kita membutuhkan hati, pikiran dan perasaan agar bisa memahami pesan yang ingin disampaikan Allah kepada ummat manusia. Dan karena Allah berbicara di al-quran dengan menggunakan bahasa arab, jadi ini juga tentang bagaimana kita memahami bahasa arab.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Bahasa arab sudah ada sebelum adanya alquran maka ini tidak terkait dengan antropogi maupun historis karena banyak sekali kata-kata dalam al-quran yang terkadang tinggi maknanya namun karena kata-katanya terbatas, tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksud. Kita tidak akan memahami apa yang ingin disampaikan oleh Sang Maha Kuasa, tidak akan memahami islam sebagai agama yang universal bila kita memahami alquran hanya dari konteks budaya dan sejarahnya saja.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Memaknai Inna ad-din &#8216;Inda-Allah Islam</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ad-din bukan lah agama secara konstitusi seperti yang kita pahami selama ini tetapi Amina memaknainya lebih jau sebagai hubungan timbale balik, komitmen, kontrak kita semua yang sedang berjalan dengan Sang Pemberi Kontrak yaitu Allah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Arti &#8216;Inda-Allah Islam islam didepan Allah..yg didepan allah itu Islam. Jadi beragama adalah bagaimana kita mencerminkan sifat Allah itu sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari yang tantangannya adalah bagaiman islam menjadi sesuatu yang universal, sehingga kita bisa hidup dengan seluruh ciptaan-Nya, dengan seluruh alam semesta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Seorang muslim yang masih bisa melakukan aksi kekerasan, terror, menghancurkan kedamaian berarti ia belum mencapai keadaan islam secara esensial yaitu perdamaian itu sendiri karena jalan menuju Allah adalah jalan menuju perdamaian , inilah kalau islam hanya dimaknai secara histories dan budayanya saja</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam islam kita diingatkan kembali untuk menuju jalan perdamaian, kita tidak hanya lahir sebagai muslim begitu saja. Tetapi kita punya tanggung jawab, komitmen untuk mencapai Allah dengan mewujudkan perdamaian dimuka bumi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dgn islam Kita diingatkan kembali utk menuju jalan perdamain menujunya. Kita tdk hanya sekedar lahir ya sbg muslim tetatpi kita harus menempuh jalan, komitemen utk mencapai Allah mewujudkan perdamaian di muka bumi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana Memberikan Bekal Kepada Generasi Muda dalam Memahami Agamanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Amina juga memberikan tips dan trik dalam mendidik generasi muda agar ridak terjebak dalam radkalisme apalagi menjadi seorang pembunuh berdarah dingin atas nama agama yaitu dengan 3 cara”</p>
<p>1. Ta’lim yang dimaknai dengan informasi, bisa melalui buku dan lain-lain</p>
<p>2. Tarbiyah, yang berasal dari kata Rabb, Tuhan. Disini sudah mulai ada trainng, disiplin agar bisa mencerminkan ke-Ilahian didalam diri</p>
<p>3. Ta’dib, adab. Yang dimaknai sebagai pengabdian</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ta’ lim saja tidak cukup tetapi anak-anak harus didik dengan penuh compassion, kasih sayang, libatkan anak-anak dengan kegiatan yang bisa memimbulkan empati terhadap sesama seperti di ajak ke para korban teroris. Dengan empati inilah baru mereka bisa menghayati agamanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan Acara</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan dari acara ini selain menyebarkan visi misi IMN untuk menyebarkan islam yang anti kekerasan dan cinta perdamaian lewat diskusi, dialog keilmuan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana terciptanya silaturahmi dan kerjasama dengan tokoh-tokoh muslim terutama dibali, bagaima kita bersama-sama mewujudkan tanggung jawab kita sebagai muslim untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Semoga terwujud.amin</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1240&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/laporan-pandangan-mata-silaturahmi-islamic-movement-for-non-violence-dengan-tokoh-muslim-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelahiran Rahwana Dan Sekelumit Tentang Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/kelahiran-rahwana-dan-sekelumit-tentang-sastra-jendra-hayuningrat-pangruwating-diyu/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/kelahiran-rahwana-dan-sekelumit-tentang-sastra-jendra-hayuningrat-pangruwating-diyu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 21:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[sastrajendra hayuningrat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1236</guid>
		<description><![CDATA[Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1236&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda</em>. <strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong><em></em></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang keluarga para pelaku dalam Ramayana</span></strong></p>
<p>Prabu Dasarata penuh hasrat mendapatkan seorang putra, sehingga mengawini tiga orang wanita yang ternyata tiga-tiganya belum dapat memberikan putra juga. Akhirnya dengan suatu upacara ritual ketiga istrinya melahirkan empat putra. Keempat putranya saling mengasihi.</p>
<p>Kemudian karena sang prabu kalah janji dengan istri ketiga, maka putra terkasihnya Sri Rama harus meninggalkan istana yang menyebabkan kesedihan sang prabu yang membawanya keujung kematian.</p>
<p>Resi Gotama bertapa seratus tahun dengan harapan mendapatkan anugerah isteri seorang bidadari. Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang bersedia menjadi istrinya, akan tetapi dia memiliki cupu manik Astagina yang pada setiap saat konon dapat berhubungan dengan Bathara Surya lewat cupu tersebut.</p>
<p>Pasangan suami istri tersebut melahirkan tiga anak, Guwarsa yang akhirnya menjadi Subali, Guwarsi yang menjadi Sugriwa dan Retno Anjani yang melahirkan Hanuman.  Dua bersaudara Subali dan Sugriwa berseteru hingga akhirnya Subali mati dipanah Sri Rama. Sedangkan Hanuman melakukan <em>“total surender”</em> pada Sri Rama, sang avatara.</p>
<p>Dewi Sukesi, putri raja Alengka Prabu Sumali, seorang wanita yang sangat percaya diri dan bersemangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan pasangan hidup melalui pertarungan antar ksatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih pasangan hidup siapa pun yang dapat menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.<span id="more-1236"></span></p>
<p>Resi Wisrawa adalah seorang raja yang meninggalkan kenyamanan istana demi peningkatan kesadaran. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Dewi Sukesi, akan tetapi ketakutan karena semua ksatria yang datang meminang sang putri dibunuh oleh Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan.</p>
<p>Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Akan tetapi sewaktu menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada Dewi Sukesi, mereka berdua terlena dan melakukan hubungan suami istri. Dari mereka lahirlah Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana. Sarpakenaka yang hiperseks sakit hati dengan Dewi Sinta dan minta sang kakak menculiknya. Kumbakarna tidak menyetujui keserakahan Rahwana memilih makan dan tidur serta tidak mau melihat kesewenang-wenangan kakaknya. Wibisana tidak cocok dengan tindakan kakaknya dan ketika kakaknya menculik istri Sri Rama, ksatria avatara idolanya, maka dia menyeberang ke pihak Sri Rama.</p>
<p>Kisah Ramayana yang berkembang di Nusantara, penuh dengan berbagai karakter pelaku, dengan berbagai hubungan kekerabatan yang bagaimana pun sampai saat ini masih relevan untuk dipetik hikmahnya. Berbagai karakter dan persoalan rumah tangga tersebut terasa dekat dengan DNA bangsa Indonesia. <em>“Setting”</em> panggung dan zaman sudah berubah, akan tetapi karakter para pelaku dan pelbagai permasalahan kekerabatan pada hakikatnya tidak jauh berbeda. Bahkan sampai saat ini masih banyak orang tua yang menamakan anaknya, Rama, Bharata, Laksmana, Sinta, Sita dan lainnya.</p>
<p>Walaupun Epos Ramayana berawal dari India, tetapi begitu sampai Nusantara, nuansanya disesuaikan. Bahkan di India tidak ada satu pun candi dengan relief  batu tentang Ramayana. Hal tersebut menunjukkan betapa tingginya peradaban kita saat itu. Akan tetapi, pada saat ini justru beberapa produk budaya kita, yang secara jujur pernah “kurang mendapat perhatian”, telah dirawat oleh bangsa lain. Semoga putra-putri Indonesia menyadari jati diri budaya bangsa, melestarikannya dan bangkit dari keterpurukannya.</p>
<p><em>Saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup &#8211; bukanlah hubungan horizontal sebagaimana dicekokkan kepada kita selama bertahun-tahun. Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana, di lapisan langit kesekian. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada dimana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita. Dan, hanyalah pemahaman seperti ini yang dapat menyelamatkan kita dari kemusnahan dan kehancuran</em>. <strong><sup>*2 Panca Aksara</sup></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang Resi Wisrawa dan Dewi Suksesi</span></strong></p>
<p>Prabu Sumali, Raja Alengka sadar bahwa sayembara memperebutkan Dewi Sukesi, sang putri dengan cara perang tanding antar ksatriya telah menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Telah banyak ksatria mati di tangan Harya Jambumangli adik, sekaligus patih kerajaan Alengka. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang gadis yang tegas dan dia terlanjur memanjakan dan menuruti apa pun kemauan sang putri. Dewi Sukesi memang berbeda dari Dewi Sinta yang pasrah kepada ayahandanya, Sang Prabu Janaka yang bijaksana untuk mencarikan jodoh baginya.</p>
<p>Resi Wisrawa sedang mengupas ilmu Sastrajendra Pangruwating Diyu di taman keputren bersama Dewi Sukesi. <em>‘Sastrajendra’</em>, Tulisan Agung tersebut tak jauh dari pemahaman tentang manusia itu sendiri, tentang <em>‘gumelaring jagad’</em>, asal-usul jagad, <em>‘sejatining urip’</em>, makna hidup, <em>‘sejatining panembah’, </em>pengabdian kepada Gusti dan <em>‘sampurnaning pati’,</em> kesempurnaan kematian.</p>
<p>Konon Guru adalah seseorang yang mendapatkan pengetahuan langsung dari Keberadaan. Sedangkan murid sejati adalah seseorang yang berkeinginan tunggal atau <em>“murad”</em> untuk mengalami penyatuan dengan Keberadaan, manunggal dengan Gusti. Yoga juga berarti penyatuan dengan Ilahi. Sang murid telah paham bahwa dunia ini hanya ilusi, permainan pikiran, sehingga Keberadaan menghendaki dia bertemu dengan Guru untuk membimbingnya dalam menjalani kehidupan spiritualnya. Sang Guru dan sang murid hanya melaksanakan ridho Sang Keberadaan. Mungkin contoh yang baik hubungan antara Guru dan murid adalah hubungan antara Sri Rama dengan Hanuman. Hanuman pasrah total kepada Sri Rama yang merupakan wujud keilahian. Lain Hanuman lain kita, kepasrahan kita hanya di bibir saja.</p>
<p><em>Ucapan-ucapan seperti, “Aku sudah pasrah. Aku sudah berserah diri sepenuhnya” hanya menunjukkan betapa naifnya kita. Di balik ucapan-ucapan kita seperti itu masih ada keinginan terselubung, untuk menonjolkan diri kita. Kepasrahan kita membutuhkan pengakuan orang lain. Ego kita masih tetap ada. Dan selama masih ada ego, tidak ada cinta, tidak akan ada kasih</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dewi Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami. Mereka menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Sang Keberadaan, belum mencerminkan hubungan antara Guru dan murid.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Terpelesetnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi dalam pengupasan Sastrajendra</span></strong></p>
<p>Beberapa penjelasan Resi Wisrawa, “Pada waktu kita sudah lepas dari keterikatan, kehilangan rasa memiliki, termasuk memiliki diri sendiri, kita masuk dalam “kematian”. Di balik “kematian” itulah justru ada “kehidupan” sejati. Kehidupan yang tidak berawal dan tidak berakhir, yang bebas dari belenggu keterikatan.”</p>
<p><em>Mereka yang jiwanya telah mati sibuk mencari kehidupan. Mereka yang jiwanya hidup mengejar kematian. Suatu paradoks tetapi Begitulah adanya. Apabila anda tidak merasa hidup, Anda akan selalu mengejar kehidupan. Apabila Anda tidak merasa sehat, Anda akan mengejar kesehatan. Apa pun yang Anda rasakan tidak “ada” dalam diri Anda, akan Anda kejar. Anda akan membanting tulang untuk memperolehnya. Sebaliknya, mereka yang merasakan dirinya hidup, mereka yang telah mengenal kehidupan dari dekat, mereka yang telah puas menjalani kehidupan tidak akan mengejar kehidupan lagi. Mereka yang sehat tidak mengejar kesehatan</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>“Kita berada dalam keindahan cinta. Alam semesta ini adalah perwujudan cinta Sang Keberadaan. Manusia, hewan, tanaman tak mungkin ada tanpa cinta. Cinta dan keindahan terdapat dalam naluri, integensia setiap manusia.”</p>
<p>“Ibarat sungai diam yang mengalirkan air yang selalu baru. Bukan jatidiri yang berjalan, tetapi waktulah yang berjalan. Cinta melampaui waktu. Tubuh fisik boleh berubah sesuai usia, akan tetapi cinta itu sendiri abadi. Masa lalu tidak ada, masa depan belum tiba dan yang ada hanya saat ini dan hal ini perlu dirayakan.”</p>
<p>“Dalam cinta itu ada kerinduan, bukan kerinduan terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara, tetapi kerinduan kepada hal yang tidak dimengerti. Kebahagian dalam kerinduan tersebut bukan karena kepemilikan, tetapi karena ridho Sang Keberadaan. Pasrah total terhadap Keberadaan.”</p>
<p><em>Cinta tidak bertujuan, tak akan pernah bertujuan. Mereka yang belum kenal cinta selalu bingung. Mereka tidak dapat membayangkan suatu “tindakan” tanpa tujuan. Cinta yang ada pamrihnya, yang bersyarat, bukan cinta lagi. Lakukan introspeksi diri selama ini apakah Anda mencintai Allah? Jangankan pengorbanan dalam cinta, selama ini mungkin cinta pun belum pernah menyentuh jiwa kita, ruh kita, batin kita. Dan apabila kita belum mencicipi manisnya Kasih Allah, manisnya Cinta Tuhan, selama itu pula kita akan selalu berkiblat pada dunia benda pada segala sesuatu yang fana, yang semu. Berkorban dalam Cinta Allah berarti menolak segala sesuatu yang fana. Dengan Cinta, dan hanya Cinta saja yang dapat menyingkirkan bayangan gelap dari yang bukan Allah itu. Dengan Cinta dan Cinta saja, jiwa manusia dapat memenangkan kembali sumber kesucian itu dan menemukan tujuan utama yaitu penyatuan kembali dengan kebenaran</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong><em></em></p>
<p><em>Cinta, kasih adalah pengalaman tertinggi, terakhir, yang dapat dialami oleh manusia. Setelah itu, apa lagi, what next? Saya tidak tahu. Dalam cinta yang tak terbatas itu, Mansur dan Rabiah menghilang. Dalam kasih yang tak terhingga itu, Isa dan Buddha lenyap tanpa bekas. Mereka tidak kembali untuk menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menyatu dengan cinta, dengan kasih itu sendiri. Apabila Anda mengalami cinta, mengalami kasih, sebenarnya Anda juga sedang mengalami Isa dan Buddha, Mahavir dan Muhammad, Zarathustra dan Nanak. Cinta adalah jalan, sekaligus tujuan. Kasih adalah penuntun yang mengantar kita ke tujuan akhir kita. Dan tujuan akhir itu adalah kasih pula, cinta juga</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong><em></em></p>
<p>“Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, kita harus menggunakan raga. Anakku Sukesi, mari kita kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugas kita mengendalikan keraksasaan, mengendalikan “Diyu” dalam diri!” Dewi Sukesi merasa belum terpuaskan keingintahuannya dan belum mau menyudahi penguraian tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.</p>
<p>Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh syahwat mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kelahiran putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi</span></strong></p>
<p>Mind seseorang berwujud energi, dan energi tidak bisa mati, yang mati hanyalah raganya. Mind yang tak berbadan tersebut akan mencari raga baru untuk melanjutkan obsesi dan menerima akibat dari tindakan yang pernah dibuatnya sesuai aturan alam, hukum sebab-akibat.</p>
<p><em>Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind (MEBESM) yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam MEBESM tersebut. Bahkan, MEBESM bisa memilih tempat dan situasi di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orang tua pun pilihan kita sendiri</em>. <strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong><em></em></p>
<p>Peristiwa terpelesetnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi mengakibatkan kelahiran putra-putrinya. Dikatakan terpeleset, mungkin juga kurang tepat. Mungkin sudah ada cetak biru Keberadaan untuk melahirkan pemimpin para raksasa yang mengumpulkan para raksasa untuk berperang secara frontal. Mungkin perang tersebut berguna untuk pengurangan populasi raksasa guna penyesuaian daya dukung bumi terhadap kehidupan para raksasa.</p>
<p>Apabila Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi tidak terpeleset, mungkin akan  ada skenario lain untuk pengurangan populasi raksasa tersebut. Bagi kita yang penting adalah bahwa kita dapat menarik hikmah dari kisah tersebut demi peningkatan kesadaran. Skenario yang lain tidak perlu diperdebatkan, karena hanya analisa mind belaka.</p>
<p>Yang jelas secara alami, setiap proses produksi selalu menghasilkan <em>“side product”</em> yang harus dibuang. Proses pencernaan juga menghasilkan sampah yang harus dibuang. Membuang <em>“side product” </em>sampah psikis dalam latihan meditasi disebut katarsis, <em>cleansing</em> agar diri tetap sehat. Bahkan dogma-dogma lama yang tersimpan dalam pikiran bawah sadar pun harus di-<em>cleansing</em> agar manusia dapat menerima kemajuan dan hidup dalam kekinian. Pengurangan populasi raksasa atau hewan semacam dinosaurus pun diperlukan dan merupakan <em>cleansing</em> bagi bumi, demi kesehatan bumi. Dan selalu saja setelah <em>cleansing</em> atau katarsis ada rasa kelegaan yang dalam.</p>
<p>Yang jelas kita diminta mengamati sifat “Diyu”, sifat keraksasaan dalam diri, yang masih ada dalam DNA kita, hasil evolusi masa lalu yang sering tidak terkendalikan. Kita telah memilih lahir lagi demi peningkatan evolusi kita. Oleh karena itu jangan hanya berhenti menikmati suka atau duka atas suatu kejadian yang dialami. Di balik setiap kejadian tersirat hikmah atau tujuan atas kejadian tersebut.</p>
<p><em>Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu</em>. <strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong></p>
<p>Dewi Sukesi mengandung akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Dan, kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Kelak Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya.</p>
<p>Wibisana lahir normal, disusui sang ibu dengan penuh kasih dan menjadi lebih lembut. Kejadian di awal kelahiran mempunyai pengaruh besar terhadap seorang anak. Seorang anak yang lahir dari operasi cesar, dia lahir begitu mudah tanpa perjuangan, sehingga jangan sampai masa kanak-kanaknya dimanja, agar dia memiliki daya juang. Bayi yang lahir juga perlu diletakkan agak jauh dari buah dada ibunya, agar dia berjuang mendapatkan air susu pertama. Daya juang tersebut diperlukan dalam kehidupan selanjutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Sifat-sifat Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana</span></strong></p>
<p><em>Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali dan lainnya, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga. Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tentu saja, ini menjadi lapisan pertama kesadaran manusia. Lapisan ini berhubungan dengan bagian otak neo-cortex, sedangkan tiga lapisan pertama berhubungan dengan bagian otak yang mengatur anggota tubuh. Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan</em>. <strong><sup>*4 Si Goblok</sup></strong><em></em></p>
<p>Dalam diri manusia, ada tujuh chakra, akan tetapi putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi nampak lebih menonjol pada chakra-chakra tertentu.</p>
<p>Chakra ketiga, kenyamanan, apabila tak terkendalikan menyebabkan manusia mengikuti ahamkara, ego, ingin menang sendiri. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat rajas yang agresif dan dominasi unsur alami api yang beraura kemerahan.</p>
<p>Chakra kedua berkaitan dengan kreatifitas dan hubungan dengan seks. Sarpakenaka sangat kreatif, sehingga dapat mengubah wujud dirinya menjadi wanita cantik penggoda Sri Rama dan Laksmana. Seandainya saja Sarpakenaka bisa mentransformasikan energi seks menjadi energi yang kreatif, dirinya  akan sangat berguna bagi dunia. Sayangnya dia malah menjadi hiperseks, sudah mempunyai dua suami masih mempunyai PIL (Pria Idaman Lain) Kala Maricha, komandan prajurit andalan Rahwana. Sarpakenaka melambangkan sifat keagresifan dan dominasi unsur api yang beraura kuning.</p>
<p>Chakra pertama berkaitan dengan hal-hal mendasar, misalnya makan dan minum. Kumbakarna selain menuruti hasrat makan minum dan tidur, sebetulnya sudah muncul kesadaran tentang kebenaran. Dia tidak setuju dengan keserakahan Rahwana, tetapi dia tidak berani melawan dan malah melarikan diri dengan cara makan dan tidur. Kumbakarna didominasi unsur tanah beraura hitam yang tamas, malas.</p>
<p>Energi Wibisana, sudah tidak berupa cairan yang mengalir ke bawah perut, tetapi berwujud uap yang mengarah ke atas, mengaktifkan chakra keempat, bersifat satvik, tenang dengan aura putih, dengan dominasi unsur ruang. Wibisana sudah siap menjadi murid Sri Rama yang telah melampaui unsur-unsur alami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Gigih dalam menegakkan dharma</span></strong></p>
<p>Kami kutip nasehat Bapak Anand Krishna dalam buku <strong><sup>*5 be the Change</sup></strong>            </p>
<p><em>Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu.</em></p>
<p><em>Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas.</em></p>
<p><em>Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta. Janganlah mengharapkan pujian dari siapa pun jua. Janganlah menjadikan pujian sebagai pemicu untuk berkarya lebih lanjut. Berkaryalah terus menerus walau dicaci, dimaki, ditolak&#8230;&#8230;.. Berkaryalah karena keyakinan pada apa yang mesti kita kerjakan</em>. <strong><sup>*5 be the Change</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><sup>*1 Medis dan Meditasi</sup></strong>                 Medis dan Meditasi, Anand Krishna bersama Dr. B. Setiawan, PT Gramedia Utama, 2002.<em></em></p>
<p><strong><sup>*2 Panca Aksara</sup></strong>          Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007.</p>
<p><strong><sup>*3 Samudra Sufi</sup></strong>          Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*4 Si Goblok</sup></strong>                Si Goblok Catatan Perjalanan Orang Gila, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2009.</p>
<p><strong><sup>*5 be the Change</sup></strong>         Be The CHANGE, Mahatma Gandhi&#8217;s Top 10 Fundamentals for Changing the World, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008.</p>
<p>Informasi buku silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1236&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/19/kelahiran-rahwana-dan-sekelumit-tentang-sastra-jendra-hayuningrat-pangruwating-diyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nilai Sejati dari “ARTHA”</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/15/nilai-sejati-dari-%e2%80%9cartha%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/15/nilai-sejati-dari-%e2%80%9cartha%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 11:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[secangkir kopi kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[artha]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[dharma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1234</guid>
		<description><![CDATA[Anand Krishna*
(Radar Bali, Rabu 21 Oktober 2009)
http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&#38;view=article&#38;id=235:nilai-sejati-dari-artha&#38;catid=15&#38;Itemid=56
&#160;
&#160;
&#160;
Bagi masyarakat di kepulauan ini, di mana Bali menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, artha, “kekayaan” atau “uang” bukanlah tujuan akhir, tapi sarana untuk mencapai kesejahteraan total. Dan kesejahteraan total bukan sekedar kesejahteraan ekonomi, tapi juga keamanan sosial. Di atas segalanya, artha ialah sesuatu yang memberi makna bagi kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1234&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anand Krishna*</p>
<p>(Radar Bali, Rabu 21 Oktober 2009)</p>
<p><a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=235:nilai-sejati-dari-artha&amp;catid=15&amp;Itemid=56">http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=235:nilai-sejati-dari-artha&amp;catid=15&amp;Itemid=56</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi masyarakat di kepulauan ini, di mana Bali menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya, artha, “kekayaan” atau “uang” bukanlah tujuan akhir, tapi sarana untuk mencapai kesejahteraan total. Dan kesejahteraan total bukan sekedar kesejahteraan ekonomi, tapi juga keamanan sosial. Di atas segalanya, artha ialah sesuatu yang memberi makna bagi kehidupan seseorang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu dari teman saya di Singapura memberi nama perusahaannya Cash dan Gold Pte. Ltd. Nah, “cash” dan “gold” dalam bahasa Inggris tak lagi mempunyai arti lain. Cash ya fulus dan gold ya emas. Tapi di sini, svarna artha, walau berarti sama secara harfiah, “emas” dan “uang,” toh bisa memiliki implikasi makna yang berbeda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Svarna bisa juga berarti kekayaan, kejayaan atau kemuliaan. Emas adalah logam mulia, tapi bisa juga berarti nilai-nilai luhur yang mulia, misalnya kejujuran dan integritas. Bukan hanya materi, karakter pun bisa menjadi sesuatu mulia.<span id="more-1234"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sama halnya, artha tak hanya berarti uang tunai, Jadi Svarna Artha tak selalu Cash dan Gold, uang tunai dan emas. Svarna Artha dapat juga berarti &#8220;rejeki yang mulia&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang idealis bisa jadi berkata, “Uang bukanlah segalanya.” Tapi bagi seorang yang pragmatis, uang ialah sesuatu yang tanpanya, kau tak dapat hidup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah seorang teman saya, berhati Buddhis, setuju dengan kesimpulan Buddha bahwa hidup ialah penderitaan. Semua ini samsara, pengulangan pengalaman yang berakhir pada dukha, atau penderitaan. “Tapi.” ia menambahkan, “dengan uang, kamu dapat memilih bagaimana kamu menderita. Tanpa uang kamu tak bisa.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Acapkali, ia berpergian. Ia terbang dengan kelas bisnis, kadang dengan kelas pertama, dan menginap di hotel bintang 5. Ia selalu ditemani oleh minuman keras kualitas teratas. Dimana pun ia berada, tepat pukul 18.00 ia memasuki Jam Cocktail. Dan ia setuju bahwa “Semua ini hanyalah kenyamanan. Mereka tak membuat saya bahagia. Saya tetap merasa menderita. Saya tetap tak menemukan cinta yang saya cari seumur hidup.Tapi setidaknya saya bisa menderita dengan penuh gaya.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Baik, baik, baik…Ok, kalau itu menyenangkan dirimu, sahabatku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tapi bagi leluhur kita di kepulauan ini, kehidupan semacam itu tiada bermakna. Menderita dengan penuh gaya bukanlah definisi mereka tentang kehidupan yang berarti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hidup yang berarti ialah hidup yang bahagia. Hidup yang bahagia ialah hidup yang ceria, hidup yang berbobot.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kekayaan yang tak menambah kebahagiaan dan keceriaanmu tak bernilai sama sekali. Saya harus menekankan kata “menambah” di sini. Kekayaan tak membuat kamu bahagia, tapi ia dapat menambah kebahagianmu. Kekayaan tak selalu membuatmu penuh keceriaan, tapi ia dapat menambah keceriaan dan kepuasan dirimu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kebahagiaan sejati berasal dari kepuasan diri saat memperoleh rejeki. Letaknya pada perjuangan dan pergulatan untuk memperoleh dan mendepositokan tabungan pertamamu di bank. Kerja keras untuk memperoleh uang itulah yang membuatmu sadar akan  nilai sesungguhnya dari uang, nilai sejati dari kekayaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya bertemu dengan mereka yang mewarisi puluhan juta dollar dan poundsterling dari orang tua mereka. Mereka tak paham nilai uang. Salah satu teman saya selalu mengeluh tentang putranya, ” Mereka tak menghargai uang, mereka membuang setiap rupiah yang saya berikan untuk bisnis. Gampang dapatnya, gampang hilangnya. Mereka tak bisa menghargai apapun.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Teman saya ialah manusia yang merangkak dari bawah. Ia memulai karirnya dengan pekerjaan kasar. Sekarang ia seorang multimilioner, bahkan trilyuner. Tapi ia sangat tak bahagia, sering merasa khawatir: “Apa yang akan terjadi pada kerajaanku yang kubangun ini saat aku tak berada di sini? Sayangnya, ia belum belajar dari pengalaman hidupnya. Ia mulai dengan nol, jadi ia menghargai setiap rupiah yang ia dapat. Anaknya mulai dengan jutaan. Mereka tak perlu berkeringat untuk memperoleh uang. Oleh sebab itu, mereka tak paham tentang arti sesungguhnya dari kekayaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dahulu kala, orang membuat sendiri anggur dari buah-buahan. Jadi kita memiliki pepatah di Timur: “Mereka yang bisa membuat anggur tahu arti sesungguhnya dari anggur.” Orang mengkonsumsi anggur &#8211; mereka bisa jadi sampai mabuk &#8211; tanpa tahu apa sejatinya anggur itu, dan bagaimana ia dibuat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya tak tahu seberapa berartinya pepatah ini bagi mereka yang tak familiar dengan cara berpikir dan pola prilaku orang Timur. Arti di balik pepatah tersebut ialah: “Perjuangan, pergulatan, dan kerja keras untuk memenangkan hidupmu yang membuat kamu menghargai apa yang kamu peroleh.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artha tak hanya fokus pada tujuan saja, tapi juga pada cara mencapai tujuan tersebut. Oleh sebab itu, disarankan bahwa kita memenangkan hidup kita lewat jalan yang tepat dan sesuai dharma. Kamu dapat kaya, tapi pastikan bahwa kekayaanmu tak berasal dari cara yang tak tepat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan merampas hak orang lain, jangan curang, jangan menindas. Kita layak bahagia. Kita layak menjalani hidup yang ceria dan nyaman. Tapi mari pastikan bahwa kebahagiaan kita, keceriaan kita dan kenyamanan kita tak menyebabkan orang lain tak bahagia, menderita dan merasa tak nyaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artha juga mengimplikasikan distribusi kekayaan yang sesuai dharma dan tepat. Selama dua milenia, pajak dianggap sebagai cara untuk mendistribusikan kekayaan. Dan penguasa saat itu dipercayai bertanggungjawab untuk memfasilitasi distribusi tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemerintah dinasehati untuk mendidik rakyat tentang nilai distribusi yang adil. Orang kaya dibuat sadar bahwa “tetangga yang miskin ialah tetangga yang cemburu.” Dan bahwa ” pencuri dan perampok ialah produk dari iri dengki dan keserakahan.” Memang tidak selalu demikian. Tak semua tetangga miskin menjadi cemburu dan berubah menjadi pencuri dan perampok. Kendati demikian, nasehat ini bagus. Sebagai peringatan yang berdampak baik atas kekayaan. Dan mereka akan dengan sukarela berbagi sebagian kekayaan mereka, melalui pajak, seperti halnya sumbangan, untuk memastikan kemananan sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dharma dan artha dan kebajikan dan kekayaan tak bisa dipisahkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka seperti kedua kaki kita. Dengan hanya satu kaki, kita menjadi pincang. Jadi keduanya sama-sama penting. Mereka yang berkothbah tentang kebajikan tapi tergantung pada sumbangan dan “keamanan sosial” bagi hidup mereka, mereka tak memenuhi tujuan kehidupan. Mereka tak memahami arti sesungguhnya dan implikasi dari purushartha, struktur kehidupan manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi artha bukan hanya kekayaan, uang, dollar, euro dan yen, tapi juga kemananan sosial, keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Saya teringat bait puisi terkenal dari WS Rendra yang meninggal beberapa waktu lalu. Ia berkata: (Karena tujuan ekonomis) kecantikan dan alam Bali, keduanya direduksi menjadi sekedar atraksi turis…Pesawat jet siap mendarat di sini, mereka harus mempunyai bisnis dan Bali harus seatraktif mungkin sehingga dapat memikat mereka. Kesenian Bali dan budayanya harus dibungkus seatraktif mungkin sehingga mereka layak jual…Dan bila masyarakat asli Bali miskin, biarkan mereka tetap seperti itu. Kemiskinan mereka menjadi bisnis bagi lembaga seperti Bank Dunia, yang selalu siap menginvestasikan dan membuat uang.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sesuatu yang patut kita renungkan bersama!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org, www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1234/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1234/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1234/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1234&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/15/nilai-sejati-dari-%e2%80%9cartha%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hanuman Sang Duta Pembawa Pesan Ilahi</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/13/hanuman-sang-duta-pembawa-pesan-ilahi/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/13/hanuman-sang-duta-pembawa-pesan-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 01:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[hanuman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1231</guid>
		<description><![CDATA[Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1231&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Perang antara Rama dan Rahwana hanyalah sebuah sandiwara. Banyak sekali diantara kita yang mengira perang itu hanya dongeng berkala, tetapi kurang lebih 8,000 tahun sebelum Masehi, perang semacam itu memang ada dan harus terjadi, untuk membersihkan bumi ini dari ‘sub-human species’ bentuk kehidupan yang terciptakan karena hubungan seksual antar manusia dan binatang. Apa yang kita sebut raksasa atau ‘demon’ itu merupakan jenis kehidupan yang memang harus dilenyapkan. Bagaimana juga yang dilenyapkan hanyalah “bentuk” atau “wujud” kehidupan tersebut. Jiwa mereka, roh mereka justru mengalami evolusi, peningkatan, dan lahir kembali sebagai manusia. Rahwana berperan sebagai raja para raksasa, sehingga ia mampu mengumpulkan mereka di satu tempat, di medan perang. Lalu datang Sri Rama, dan dalam satu minggu, selesailah pekerjaan itu</em>. <strong><sup>*1 Atisha</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Peringatan Alam sebelum bencana tiba</span></strong></p>
<p><em>Yang namanya kebetulan itu memang tidak ada, semuanya merupakan bagian dari cetak-biru yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun, kita dapat menentukan cetak-biru baru untuk masa depan kita. Hal ini perlu direnungkan sejenak</em>. <strong><sup>*2 Reinkarnasi</sup></strong></p>
<p>Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Keberadaan terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera taubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.</p>
<p>Semua tindakan mempunyai akibat masing-masing, akan tetapi sebelum melakukan tindakan yang semakin tidak harmonis dengan alam, kita dingatkan Keberadaan melalui berbagai tahapan peringatan.<span id="more-1231"></span></p>
<p>Demikian pula dengan kejadian bencana banjir. Ketika masyarakat memotong hutan hanya untuk keperluan  rumah tangga, Alam masih memaafkan. Tetapi apabila masyarakat mulai menggunduli hutan, datanglah teguran, sungai yang kotor membawa lumpur akibat bukit yang gundul mulai tererosi. Alam pun menggerakkan lembaga advokasi yang memperingatkan bahayanya menggunduli hutan. Alam masih menunggu agar masyarakat bertobat dengan melakukan reboisasi. Setelah beberapa lama penggundulan hutan berjalan, maka banjir akan datang sebagai hantaman gada dari Alam.</p>
<p>Demikian pula peristiwa Global Warming, Pencairan Es di Kutub, menghijaunya lereng Himalaya yang tadinya selalu diselimuti es, banyaknya badai dan naiknya permukaan air laut, semuanya merupakan peringatan alam. Demikian pula tindakan rekayasa dalam bidang hukum di negara kita yang semakin keterlaluan akan mendapatkan perlakuan yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Hanuman sebagai ‘Utusan’pembawa peringatan</span></strong></p>
<p>Hanuman sebagai duta, utusan pembawa peringatan dari Sri Rama. Hanuman ibarat terompet kerang Wisnu sebelum gada sang Wisnu bekerja.</p>
<p>Hanuman dengan kekuatannya dapat terbang menyeberangi lautan sampai di Alengka. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Sebagian masyarakat tidak setuju dengan keangkaraan Rahwana, tetapi mereka diam membisu. Hanuman menyamar sebagai monyet kecil dan mencari tempat Dewi Sinta. Hanuman melihat Rahwana merayu Dewi Sinta, akan tetapi Rahwana tidak berhasil.</p>
<p>Setelah Rahwana pergi meninggalkan Dewi Sinta, Hanuman menghampiri Dewi Sinta dan menceritakan maksud kedatangannya. Hanuman menyerahkan cincin milik Rama dan menyarankan agar Dewi Sinta terbang bersamanya ke hadapan Sri Rama, namun Dewi Sinta menolak. Ia paham Sri Rama akan datang ke Alengka untuk menghancurkan adharma. Kemudian Hanuman mohon restu dan pamit kepada Dewi  Sinta.</p>
<p>Karena ketahuan pengawal istana, Hanuman dikepung para raksasa . Sambil melarikan diri Hanuman memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh puluhan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit, putra Rahwana dengan senjata <em>‘Bramastra’</em>, senjata Brahma. Senjata itu melilit tubuh Hanuman. Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanuman, Wibisana membela Hanuman agar hukuman bagi Hanuman diringankan, mengingat Hanuman adalah seorang Duta, ‘Utusan’. Seorang ‘Utusan’ yang datang membawa kabar peringatan, agar Rahwana mengembalikan dewi Sinta, atau Sri Rama akan menghancurkan Alengka.</p>
<p>Hanuman hanya dibakar ekornya, akan tetapi dengan ekor terbakar itulah dia melepaskan diri dari bramastra dan membakar sebagian kota Alengka. Bagaimana pun Rahwana tetap tidak mau berubah, dan akan menghadapi datangnya pasukan Sri Rama. Pada akhirnya Rahwana mati bersama kaum raksasa. Demi evolusi manusia, kaum raksasa memang harus mati. Akan tetapi jiwa raksasa tetap terbawa dalam genetik manusia ribuan tahun sesudahnya.</p>
<p>Hanuman adalah pemberi peringatan kepada kaum raksasa dipimpin Rahwana, agar segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. Bila Rahwana dan para raksasa sadar, mengembalikan Dewi Sinta, menegakkan kebenaran, meninggalkan adharma, maka kemusnahan raksasa dapat terhindar.</p>
<p>Dunia ini ada karena ada keseimbangan dari dualitas antara Yin dan Yang, Maskulin dan feminin, malam dan siang, dingin dan panas, lembut dan keras, bahkan dharma dan adharma. Akan tetapi kala adharma meraja lela, sehingga terjadi ketidakseimbangan yang nyata, Keberadaan akan menggunakan cara yang belum kita pahami untuk menyeimbangkannya.</p>
<p>Bersyukurlah karena kita telah diberi peran keberadaan yang patut dibanggakan. Siapa yang mau berperan sebagai Rahwana yang serakah dan kalah? Peran Rahwana sungguh sulit. Tidakkah Rahwana tergerak kala melihat Kumbakarna meninggal, melihat para petinggi Alengka meninggal, kenapa masih meneruskan pertarungan yang memusnahkan semua raksasa, padahal dia belum menikmati Dewi Sinta sebagai isterinya?</p>
<p>Rahwana patuh terhadap peran yang diberikan Keberadaan kepadanya. Rahwana dan Kumbakarna adalah inkarnasi kedua dari Jaya dan Wijaya, penjaga Wisnu di istana Vaikuntha, dan karena kesalahannya harus lahir ke dunia sebagai musuh Wisnu. Sebelumnya mereka lahir sebagai Hiranyakasipu danj Hiranyaksa. Dan di zaman Dwapara Yuga lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra yang setelah mati, mereka kembali menjadi penjaga istana Vaikuntha.</p>
<p><em>Berterimakasihlah pada alam semesta bahwa kau diberi peranan yang membawakan pujian banyak orang. Kasihanilah mereka yang kurang beruntung, yang tidak mendapatkan peranan sebaik peranan kamu. Dan, dibalik semua itu sadarilah adanya tangan Sang Dalang yang menentukan setap gerak-gerikmu</em>. <strong><sup>*3 Reformasi</sup></strong></p>
<p>Hanuman juga merupakan pembawa pesan bagi mereka yang hidup tertekan dalam lingkungan penuh kezaliman. Hanuman memberi ketenangan kepada Dewi Sinta, agar bersabar karena adharma akan dikalahkan. Hanuman membawa ‘ayat cincin’ tanda kebesaran Sri Rama agar Dewi Sinta tetap bertahan dalam kebenaran. Akan ada waktunya mulut para raksasa dikunci dan anggota tubuh mereka diminta menyampaikan apa yang telah diperbuatnya. Mereka akan mendapatkan balasan karma yang setimpal.</p>
<p>Bagi Dewi Sinta cincin Sri Rama merupakan surat cinta, surat cinta yang tidak dibaca melalui mata, indera penglihat, tetapi dibaca melaui mata hati. Bagi Dewi Sinta cincin tersebut adalah bisikan hati Sri Rama.</p>
<p><em>Setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha.&#8221; Maka, pengajian, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai</em>. <strong><sup>*4 Neo Psyhic Awareness</sup></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Latar belakang kehidupan Hanuman</span></strong></p>
<p>Kera adalah binatang yang mempunyai sifat, terampil, lincah, sederhana, kuat dan patuh terhadap ‘majikan’-nya, hanya saja mereka akan kembali ke sifat asalnya ketika berada dalam kelompoknya. Hanuman bukanlah kera biasa. Dia adalah putra Anjani, seorang ibu berwajah kera yang bertapa puluhan tahun, agar mendapatkan keturunan yang mulia. Anjani adalah saudara perempuan dari Subali dan Sugriwa putra dari Resi Gotama dan ibu Windradi.</p>
<p>Beruntunglah Hanuman yang mendapatkan ‘majikan’, ‘guru’ bijak Sri Rama sehingga dia bisa melepaskan ‘kekeraan’-nya.</p>
<p>Konon Hanuman adalah putra dari Bathara Guru. Kisah para leluhur pun sering dibengkokkan. Bathara Guru, Sang Pendaur Ulang sering dikatakan <em>‘cluthak’</em>, suka tergiur wanita cantik yang mandi telanjang, atau pun wanita yang sedang bertapa nungging layaknya Anjani di Telaga Madirda. Sebuah konspirasi untuk menjauhkan diri kita dari dongeng wayang yang telah mendarah daging yang sudah manjadi bagian dari budaya kita.</p>
<p>Bathara Guru disimbolkan dengan lingga dan yoni. Segala sesuatu dimulai dengan bertemunya energi Yin dan Yang. Dari sperma dan ovum. Pertemuannya mungkin fisik, tetapi yang memelihara satu sel inti yang berkembang menjadi tubuh sempurna dengan jutaan sel adalah kekuatan alam pendaur ulang. Seorang ayah dan ibu hanya mempersatukan, memfalitasi pertemuan sperma dengan sel telur. Akan tetapi, fasilitas air ketuban, placenta dan perlengkapannya yang menjaga kehidupan sel telur tersebut adalah ciptaan kekuatan alam, kekuatan sang pendaur ulang. Bahkan dalam kloning pun, tetap ada kekuatan misteri yang mengembangbiakkan dan memellihara sel inti. Pembuat kloning mengambil sel hidup, bukan benda mati dan menghidupkannya. Hidup tetap merupakan misteri. Dan Bathara Guru pun penuh misteri.</p>
<p>Anjani memberdayakan unsur angin, Dewa Bayu, dan melahirkan putra bernama Hanuman yang berbulu putih. Konon, pada saat Hanuman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petir vajra-nya ke arah Hanuman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung.</p>
<p>Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi ngambek dan berdiam diri. Angin tidak bertiup di bumi, dan semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar tidak ngambek. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanuman sehingga kebal dari segala macam senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Hanuman menjadi makhluk yang abadi atau <em>‘Chiranjiwin’</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Pengabdian Hanuman kepada Sri Rama</span></strong></p>
<p>Dalam menjalankan tugasnya melenyapkan adharma, seorang avatara selalu memerlukan beberapa murid sebagai teman seperjalanan. Yang diajak master adalah para pemain kawakan yang sudah saatnya naik kelas. Dewi Sinta yang hilang diculik hanyalah penyebab awal hancurnya adharma. Bagi Hanuman, semua kejadian yang dialaminya berpuncak pada waktu bertemu Sri Rama. Hanuman merasa tugas yang diberikan Sri Rama kepadanya, bukan untuk kepentingan Sri Rama, tetapi untuk meningkatkan kesadaran dirinya. Semua potensi spiritual yang berada dalam dirinya seakan bangkit setelah bertemu Sri Rama.</p>
<p>Hanuman tidak tertarik pada tahta dan kenyamanan.  Hanuman tidak ikut Subali yang menang persaingan memperebutkan tahta terhadap Sugriwa, bahkan Hanuman ikut Sugriwa yang terusir dari istana. Walaupun demikian Hanuman juga tidak bermusuhan dengan Subali, sehingga Hanuman tidak ikut campur dalam perseteruan antara kedua pamannya. Hanuman sudah muak dengan ‘kedunia-kerawian’.</p>
<p>Hanuman telah paham bahwa seseorang lahir dengan sifat genetik tertentu, kemudian sejak kecil dididik orang tua, lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Kerangka kebenaran bagi setiap orang akan berbeda.  Bahkan kedua pamannya Sugriwa dan Subali yang berseteru mempunyai landasan kebenaran masing-masing. Sugriwa merasa benar, karena sesuai pesan Subali apabila darah putih mengalir dari dalam goa ketika Subali bertarung dengan Raksasa Maesasura, berarti Subali mati dan goa ditutup. Sedangkan Subali merasa benar dan menyalahkan Sugriwa, mengapa setelah itu Sugriwa mengambil hadiah Dewi Tara yang sebenarnya diberikan kepada dia yang membunuh sang raksasa.</p>
<p>Hanuman sudah muak dengan dengan kebenaran duniawi, yang bisa dibelokkan sesuai kepentingan masing-masing pribadi. Konon, kemuakan terhadap keduniawian itulah yang membawa Sri Rama bertemu dengannya. Hanuman sudah siap bertemu dengan seorang Guru.</p>
<p>Hanuman mendengar dari ibunya bahwa paman-pamannya Sugriwa dan Subali pada awalnya adalah anak-anak yang baik. Akan tetapi dalam perjalanan hidupnya, godaan dari luar berupa kenikmatan indera dan godaan dari dalam berupa peningkatan ego sering tak terkendalikan.</p>
<p><em>Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian.  Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya—termasuk majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut mind—membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang malam&#8230;.. sepanjang tahun&#8230;..sepanjang hidup</em>. <strong><sup>*5 Bhaja Govindam</sup></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Guru</span></strong></p>
<p>Bertemu Sri Rama, Hanuman mulai paham bahwa Sugriwa mencari Tuhan untuk kepentingan duniawi, pembalasan dendam kepada Subali. Hanuman berdoa semoga dalam perjalanan berikutnya Sugriwa semakin meningkat kesadarannya. Hanuman menjadi paham bahwa Jatayu rela mati demi Tuhan dalam menegakkan kebenaran dengan melawan Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Hanuman bisa menghayati mengapa Subari menunggu bertemu Tuhan, baru rela mati, demikian pula Raksasa Kabandha.</p>
<p>Hanuman merasa beruntung menemukan Guru, dan dia patuh terhadap perintah Gurunya. Akan tetapi Hanuman paham bahwa sebelum kematian datang menjemputnya, dia harus selalu waspada.</p>
<p><em>Keberhasilan seseorang tidak dapat dinilai selama ia masih hidup. Bagaimana ia mengakhiri hidupnya itulah yang menentukan keberhasilannya</em>. <strong><sup>*6 SMS Wisdom</sup></strong></p>
<p>Konon seseorang bisa disebut Guru apabila dia mendapatkan pengetahuan langsung dari Keberadaan. Sekadar membaca dan memahami kebenaran dari catatan belum pantas menjadi seorang Guru. Kemudian seorang Guru juga harus pernah menjadi murid, sehingga dia dapat membina muridnya. Sri Rama pernah berguru kepada Resi Vasishtha dan Resi Wiswamitra, sehingga Sri Rama adalah kriteria Guru yang benar.Selanjutnya, Hanuman melepaskan semua pendapat pribadinya dan patuh terhadap Sri Rama. Hanuman telah mencapai ‘one pointedness’, ‘ekagrata’, seluruh kegiatan hidupnya hanya untuk Sri Rama. Hanuman selalu mengingat Sri Rama di setiap waktu, Hanuman selalu berzikir tentang Sri Rama.</p>
<p><em>Zikir harus diartikan sebagai “kesadaran” yang mewarnai segala aspek kehidupan. Mengingat “Dia” setiap saat dan di setiap tempat. Entah berada dalam kamar mandi atau kamar tidur atau kamar kerja. Allah berada di mana-mana</em>. <strong><sup>*7 Islam Esoteris </sup></strong></p>
<p><em>Zikir : Pengertiannya bukan sekedar zikir bertasbeh pada jam-jam tertentu atau untuk waktu tertentu tetapi, melibatkan Tuhan dalam setiap pikiran, ucapan, dan perbuatan sepanjang hari dan sepanjang malam. Dalam alam mimpi pun, zikir rohani berjalan terus!  Mengenang, mengingat, dan berceritera tentang-Nya sepanjang usia itulah zikir. Senantiasa berupaya untuk memberi-Nya tontonan yang baik itulah zikir. Ya, dia sedang menonton kita apakah kita sudah membawakan peran kita dengan baik? </em><strong><sup>*8 Haqq Moujud <em></em></sup></strong></p>
<p>Guru sebagai wujud ilahi yang hidup jauh lebih sulit daripada seorang suci  yang sudah meninggal dunia. Bila seorang suci sudah mati, maka kita lebih bebas memaknai petunjuk mendiang sang suci.</p>
<p>Konon diceritakan bahwa Musa berjalan mengikuti Khidir dan tidak boleh bertanya mengapa sang guru berbuat sesuatu yang di luar nalar. Pertama, Musa bingung mengapa Khidir melubangi perahu milik orang desa. Bertambah bingung kala Khidir juga merobohkan rumah kosong milik seorang anak piatu, dan bahkan membunuh seorang anak kecil dalam perjalanannya.</p>
<p>Musa baru sadar ketika Khidir memberi penjelasan, bahwa dia melobangi perahu, karena rombongan raja akan datang merampas perahu yang  masih baik, dan selamatlah perahu yang telah dilobangi. Khidir juga menjelaskan bahwa rumah tersebut harus dirobohkan agar pama-paman sang anak tidak menemukan warisan perhiasan yang ditinggalkan orang tua sang anak, sampai sang anak menjadi dewasa dan bisa membangun rumah kembali. Kemudian anak kecil tersebut dibunuh, karena bila menjadi besar dia akan membunuh kedua orang tuanya dan mengganggu orang se desa.</p>
<p>Demikianlah maka Hanuman tidak mempersoalkan mengapa Sri Rama membunuh Subali saat bertarung dengan Sugriwa. Mengapa Sri Rama harus memusnahkan ratusan ribu bangsa raksasa demi istrinya. Bagi Hanuman. Sri Rama memahami kehidupan masa lalu dan masa depan seseorang, sehingga secara utuh tindakan Dia adalah tindakan bijaksana.</p>
<p>Seorang dokter harus mengamputasi salah satu bagian tubuh untuk menyelamatkan nyawa pasiennya. Apakah ia pantas dijuluki zalim? Sri Rama bagaikan seorang ahli bedah. Di medan perang Alengka, ia sedang melakukan operasi besar-besaran. Bagi seorang ‘Avalokita’, tumor ganas bukan untuk dibenci atau dihindari, tetapi untuk diangkat. Jika ia melakukan bedah dan mengangkat tumor, bukan karena ia membenci tumor. Tetapi karena ia ingin menyelamatkan tubuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Beberapa quotation tentang Guru</span></strong></p>
<p>Berapa quotation dari buku Bapak Anand Krishna tentang Guru.</p>
<p><em>Jika memutuskan untuk berguru, bergurulah pada seseorang yang kita percayai 100%. Janganlah berguru pada seseorang karena pengetahuan orang itu. Kita harus berguru karena kepercayaan kita. Berarti “keputusan untuk berguru” harus datang dari diri kita sendiri, kita boleh ada pertimbangan dari luar yang mempengaruhi keputusan kita. Masukan dari luar hanya merupakan bahan pertimbangan. Kita yang mempertimbangkan dan memutuskan. Janganlah berguru pada seseorang hanya karena banyak orang berguru kepadanya. Bila jumlah pengikut menjadi pertimbangan, sesungguhnya kita berguru pada “jumlah”, pada “kuantitas” tidak pada guru. Kita tidak akan memperoleh sesuatu yang berharga</em>. <strong><sup>*9 Life Workbook</sup></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Seorang Guru duduk di tengah. Para siswa duduk melingkar, menghadapinya. Apa arti pola duduk seperti itu? Sang murshid harus menjadi centrepoint hidup kita. Titik tengah kehidupan kita. Dan jangan lupa, yang menjadi centrepoint bukanlah wujud dia. Tetapi apa yang “diwakilinya”. Dan setiap murshid mewakili hanya satu Lembaga – Lembaga Non-Lembaga&#8230;. Kasih. Dengan semangat permainan, berupayalah untuk mencapai titik tengah di dalam diri sendiri. Untuk menemukan kasih di dalam diri sendiri. Guru di luar diri hanya mewakili Murshid di dalam diri setiap murid. Dalam semangat itu, salami setiap teman seperjalanan. Keberadaan mereka sangat membantu. Energi kebersamaan sangat menunjang evolusi batin. Sebaliknya, hindari mereka yang justru menarik Anda ke belakang, karena tidak senang melihat kemajuan Anda. Tidak perlu membenci, tidak perlu memusuhi mereka. Just ignore them. Dicueki saja</em>. <strong><sup>*10 Narada Bhakti Sutra </sup></strong></p>
<p><em>Sang Murshid mengetuk pintu rumah kita. Guru berada di luar pintu&#8230; dan kembali terciptalah dualitas: “Aku sudah bertatap muka dengan Yang Maha Kuasa&#8230;&#8230; apakah aku masih harus berhubungan dengan seorang guru?”&#8230;&#8230;&#8230;.. Seorang guru datang dalam hidup kita bukan karena kehendaknya, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan Seorang murshid atau seorang guru dalam hidup kita “terjadi” karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa kita sujud kepadanya, karena sesungguhnya dengan sujud kepadanya kita sedang sujud kepada-Nya</em>. <strong><sup>*11 Kidung Agung</sup></strong></p>
<p>Terima Kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><sup>*1 Atisha</sup></strong>                   Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.</p>
<p><strong><sup>*2 Reinkarnasi</sup></strong>            Reinkarnasi Melampaui Kelahiran Dan Kematian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1998.</p>
<p><strong><sup>*3 Reformasi</sup></strong>              Reformasi, Gugatan Seorang “Ibu”, Anand Krishna, PT Grasindo, 1998.</p>
<p><strong><sup>*4 Neo Psyhic Awareness                    </sup></strong>Neo Psyhic Awareness, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.</p>
<p><strong><sup>*5 Bhaja Govindam</sup></strong>      Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.</p>
<p><strong><sup>*6 SMS Wisdom               </sup></strong>SMS Wisdom, Anand Krishna.</p>
<p><strong><sup>*7 Islam Esoteris              </sup></strong>Islam Esoteris kemuliaan dan Keindahannya, Anand Krishna dan Achmad Chodjim, Gramedia Pustaka Utama, 2000.</p>
<p><strong><sup>*8 Haqq Moujud               </sup></strong>Haqq Moujud Menghadirkan Kebenaran Sufi dalam Hidup Sehari-hari, Anand Krishna, 2004.<em></em></p>
<p><strong><sup>*9 Life Workbook</sup></strong>        Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>*10 Narada Bhakti Sutra </sup></strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand                                  Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.</p>
<p><strong><sup>*11 Kidung Agung</sup></strong>        Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.</p>
<p>silahkan menghubungi</p>
<p><a href="http://booksindonesia.com/id/">http://booksindonesia.com/id/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1231&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/13/hanuman-sang-duta-pembawa-pesan-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengamati Sifat Sugriwa dan Subali Dalam Diri</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/03/mengamati-sifat-sugriwa-dan-subali-dalam-diri/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/03/mengamati-sifat-sugriwa-dan-subali-dalam-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 02:59:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[ramayana]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[sugriwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak, napas ikut menjadi kacau. Kita cenderung menarik dan membuang napas lebih cepat. Itulah yang saya maksud dengan pemborosan napas. Napas kita menjadi 24 hingga 32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Janganlah mengharapkan kreativitas dari seseorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1229&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak, napas ikut menjadi kacau. Kita cenderung menarik dan membuang napas lebih cepat. Itulah yang saya maksud dengan pemborosan napas. Napas kita menjadi 24 hingga 32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Janganlah mengharapkan kreativitas dari seseorang yang sedang bernapas cepat. Kreativitas adalah hasil pikiran yang tenang, jernih, dan emosi yang stabil. Kedua hal itu merupakan prasyarat utama bagi pengembangan kreativitas diri. Seekor kera bernapas 32 hingga 36 siklus per menit, maka ia tidak sekreatif manusia; padahal anatomi otaknya tidak jauh berbeda dari anatomi otak manusia. Dengan napas normal 15 siklus per menit saja kita sudah dapat berpikir, dan bertindak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Keberhasilan kita selama ini berdasarkan sikluls napas normal tersebut. Kurangi siklus napas Anda, maka Anda dapat menambah tingkat keberhasilan Anda. Dengan mengurangi siklus napas, otak kita dapat mencerna lebih baik, dan dapat berpikir lebih jernih. Ide-ide baru pun muncul, sehingga kita menjadi lebih kreatif. Kreativitas itulah yang membuat kita lebih berhasil!</em> <strong><sup>*1 Life Workbook</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Gelombang otak dan frekuensi napas</span></strong></p>
<p>Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG). Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam EEG adalah hertz.</p>
<p>Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak  berkisar 14 hertz.  Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta.<span id="more-1229"></span></p>
<p>Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik, sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi atau pada waktu akan tidur.</p>
<p>Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi.</p>
<p>Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi ‘<em>deep sleep’</em>, tidur tanpa mimpi, dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz.  Ketika itu terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Ketika sedang sakit, seseorang akan tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pada waktu keadaan koma, gelombang otak berada pada 0.5 hertz. Sebaliknya ketika pikiran begitu kacau, napas begitu tak teratur gelombang otak berada pada kondisi gama, diatas 30 hertz.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Antara manusia dan kera</span></strong></p>
<p>Konon anatomi otak manusia dan otak kera hampir sama, perbedaannya terletak pada cara bernafasnya. Kera bernafas sekitar 32 siklus per detik sedangkan manusia pada saat normal bernafas dengan 14 siklus per detik. Perbedaan nafas itu membuat kera lebih sembrono dan tergesa-gesa mengambil keputusan.</p>
<p>Dalam diri kera masih terdapat sifat bawaan asli hewani,  ‘<em>fight or flight’</em>, berkelahi bila merasa menang atau lari bila merasa kalah menghadapi musuhnya.  Manusia purba pun harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya. Reaksi awalnya adalah <em>‘fight or flight’</em>.</p>
<p><em>Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri dari medan perang, menghindari peperangan. Hukum ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia mesti menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya</em>. <strong><sup>*2 The Gita of Management </sup></strong></p>
<p>Sugriwa dan Subali konon asalnya manusia yang masih memiliki sifat kekeraan. Mereka sudah bertapa selama bertahun-tahun, sudah semestinya mereka melampaui sifat-sifat kekeraan, akan tetapi ternyata sifat kesembronoan dan ketergesaan masih ada dalam diri mereka. Apakah sifat ini juga masih melekat dalam diri kita? Cara pandang kita terhadap peristiwa Sugriwa dan Subali, bisa berbeda, akan tetapi yang penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan kisah tersebut untuk meningkatkan kesadaran diri kita.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Bertemu Hanuman keponakan Sugriwa</span></strong></p>
<p>Dalam pencarian Dewi Sinta, Sri Rama dan Laksmana dihadang Raksasa Kabanda. Kabanda dapat dikalahkan dan Laksmana diminta Sri Rama membuntungi kaki dan tangan Kabanda. Kabanda berkata, “ Wahai Sri Rama, Narayana yang mewujud untuk membasmi adharma. Aku telah berbuat salah dan dikutuk menjadi raksasa, hutang kesalahanku akan terlunaskan kala seorang avatara membuntungi tangan dan kakiku yang telah berbuat kesalahan. Kini aku telah terbebaskan, dan aku akan melanjutkan perjalananku. Mengenai Dewi Sinta, jangan khawatir, Dewi Sinta tidak dapat disentuh oleh Rahwana, kesucian Dewi Sinta akan menyebabkan siapa pun yang berniat tidak baik terhadapnya akan terbakar. Carilah Sugriwa, dia menguasai seluruh hutan ini dan dia dapat membantu menemukan Dewi Sinta.”</p>
<p>Dan Raksasa Kabanda pun meninggal dunia. Kabanda yang percaya kepada ‘Sri Rama’, ‘Dia Yang Berada di Mana-Mana’, menyerahkan anggota tubuhnya untuk tidak mengikuti nafsunya <em>‘mind’</em>-nya lagi.</p>
<p>Selanjutnya, Sri Rama dan Laksmana bertemu dengan Sabari, adik perempuan Resi Matanga. Sabari yang sudah tua renta sebetulnya ingin mati tatkala Resi Matanga mendekati kematian, akan tetapi hal tersebut dilarang oleh sang resi dan diminta menunggu <em>‘darshan’</em>, bertemu dengan Sri Rama. Setelah bertemu Sri Rama, Sabari meninggal dunia. Begitu sabarnya seseorang menunggu bertemu dengan seorang avatar, apakah kita akan punya kesabaran seperti Sabari yang menunggu bertahun-tahun untuk bertemu dengan orang suci? Kesucian kita mungkin telah tertutup karat dunia, sehingga tidak dapat merasakan kebutuhan bertemu orang suci. Kabanda dan Sabari telah mendapatkan kedamaian hati.</p>
<p><em>Kedamaian-Mu adalah ketenangan diriku. Kehendak-Mu menuntut langkahku. Kepasrahan seperti ini “terjadi” bila kita sudah tidak mengejar apa-apa lagi. Tidak “mau” ke mana-mana lagi. Kemauan diri telah hanyut dalam Kehendak Ilahi. Kepasrahan tidak berarti anda duduk diam di rumah. Keledai “badan” masih butuh makan. Keledai “pancaidra” masih perlu dikendalikan. Anda masih menunggangi keledai “kehidupan”. Tetaplah bekerja dan berupaya, tetapi berhenti kejar-mengejar.</em><strong><sup>*3 Fiqr</sup></strong></p>
<p>Di dekat tempat tersebut Sri Rama bertemu Hanuman. Begitu bertemu Sri Rama Hanuman merasa berbahagia, inilah Guru yang selalu ditungguinya selama ini. Beruntunglah Hanuman, bila Kabanda dan Sabari mati begitu bertemu dengan Sri Rama, maka Hanuman justru memulai hidup baru setelah bertemu Sang Guru. Sifat kekeraan hanuman lenyap bila selalu mengabdi kepada Sri Rama, Hanuman menjadi bhakta dari Dia Yang Berada di Mana-mana. Hanuman pasrah kepada kehendak Sri Rama. Setelah memperkenalkan diri, Hanuman menggendong Sri Rama dan Laksmana di pundaknya naik ke bukit Malaya, tempat Sugriwa berada.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Tiga bersaudara Anjani, Subali dan Sugriwa</span></strong></p>
<p>Anjani, Subali dan Sugriwa adalah putra-putri Resi Gotama dengan Dewi Windradi yang sedang meningkat remaja. Pada suatu hari Dewi Windradi menghadiahkan sebuah ‘cupu’ kepada Anjani. Melihat keajaiban cupu tersebut, ketiga bersaudara berselisih memperebutkan barang tersebut. Sang ayah mengambil ‘cupu’ tersebut dan membuang ke telaga Madirda. Kedua kakaknya langsung terjun ke telaga mencari cupu, sedangkan dirinya menunggu di tepi telaga dan karena kepanasan maka dia membasahi mukanya dengan air telaga. Subali dan Sugriwa berubah menjadi kera, sedangkan Anjani, wajahnya berubah menjadi wajah kera.</p>
<p>Bertiga mereka menangis menghadap sang ayahanda yang kemudian memberi nasehat, “Kalian belajar mengendalikan diri, dimulai dari mengendalikan fisik makan dan minum. Kemudian sadarilah dirimu, fisikmu, energi hidupmu, mental emosionalmu, intelegensiamu. Anjani, bersyukurlah, sebagai wanita kau sudah memiliki kelembutan. Bertapalah seperti Kodok di telaga ini. Kodok adalah binatang yang luar biasa. Dia bisa hidup di air dan bisa hidup di darat. Manusia juga hidup di alam kasar ketika jaga.” </p>
<p>“Subali dan Sugriwa, pada suatu saat kalian akan menjadi raja kera. Subali kau akan membantu dunia melenyapkan raksasa berkepala kerbau dan berkepala sapi. Hari ini kalian berselisih memperebutkan ‘cupu’ mainan, karena kalian masih anak-anak menjelang remaja. Pada suatu saat kau akan berselisih dengan adikmu memperebutkan tahta dan wanita, dan kalau sudah ada manusia tampan dengan muka bersinar, terimalah kematianmu olehnya, berbahagialah melepaskan raga di tangan titisan Bathara Wisnu.”</p>
<p>“Sugriwa, kau harus membantu raja titisan Wisnu dalam melenyapkan kaum raksasa yang merupakan campuran antara manusia dan hewan. Demi evolusi, ‘<em>sub human species’</em> itu harus punah.”“Anjani, teruslah bertapa sampai mendapatkan suamimu. Anakmu adalah seorang <em>‘bhakta’</em> dari raja titisan Wisnu. Tugasmu amat mulia melahirkan putra idola alam semesta, nama cucuku ini akan dikenang sepanjang masa.”</p>
<p>Pada umumnya, manusia tak pernah lepas dari keterikatan. Di waktu anak-anak obyek keterikatan adalah mainan, menjelang dewasa obyek keterikatan adalah lawan jenis. Setelah mandiri, obyek keterikatan adalah harta dan tahta, dan di masa tua obyek keterikatan adalah obat-obatan. Bisakah manusia terlepas dari keterikatan?</p>
<p><em>Ini tidak berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Tidak berarti meninggalkan rumah dan menjadi seorang pertapa. Melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Tuhan adalah Pemilik tunggal semuanya ini. Anda ada atau tidak, dunia ini akan tetap ada. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan ego Anda. Tanpa diri Anda pun semuanya akan berjalan biasa, bahkan mungkin lebih lancar</em>. <strong><sup>*4 Kundalini Yoga </sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Perselisihan Sugriwa dan Subali</span></strong></p>
<p>Subali dan Sugriwa mendapat tugas dari para dewa untuk membasmi Maesasura, raksasa berkepala kerbau bersama patihnya Jathasura, raksasa berkepala lembu. Sampai di goa tempat para raksasa tersebut, Subali minta Sugriwa menjaga di depan goa dan berpesan, bahwa apabila dalam perkelahian keluar darah berwarna putih, artinya Subali mati dan goa agar ditutup dengan batu besar, supaya kedua raksasa tidak dapat keluar lagi. Subali yakin darahnya berwarna putih sedang darah para raksasa adalah berwarna merah. Subali telah bertindak sembrono dan melupakan bahwa darah dari otak kedua raksasa tersebut juga berwarna putih.</p>
<p>Bertarunglah Subali dengan kedua raksasa di dalam goa, dan pada saat tersebut Sugriwa mendengar teriakan dari Subali dan kedua raksasa yang diikuti keluarnya darah merah dan putih. Sugriwa juga melakukan ketergesaan dan kesembronoan dengan menutup goa. Mungkin Sugriwa kurang jeli melihat bahwa jauh lebih banyak darah merah dari pada darah putihnya.</p>
<p>Sugriwa kemudian menjadi raja kera dan mendapat hadiah Dewi Tara yang cantik sebagai isterinya. Dan mereka hidup berbahagia. Subali yang berhasil membunuh kedua raksasa segera keluar goa, dan merasa sangat kecewa karena goa sudah tertutup. Subali hidup beberapa lama dalam goa dan akhirnya berhasil keluar dari goa.</p>
<p>Subali mendengar bahwa Sugriwa telah menjadi raja, dan memperoleh hadiah Dewi Tara karena Raksasa Maesasura dan Jathasura telah mati. Kemarahan Subali memuncak, dalam pikirannya Sugriwa telah berkhianat. Saat bertemu Subali, Sugriwa memberikan alasan mengapa menutup goa dengan batu, akan tetapi Subali tidak bisa menerima alasan tersebut, kemudian mereka berkelahi.</p>
<p>Sugriwa kalah dan sembunyi di sekitar Padepokan  Resi Matanga. Sugriwa masih takut bila Subali berniat membunuhnya, akan tetapi dia tahu Subali tidak berani mendekati padepokan Resi Matanga. Subali pernah berkelahi dengan Raksasa Dundubi dan melemparkan mayatnya jauh ke udara dan jatuh di padepokan Resi Matanga. Resi Matanga mengutuk bahwa Subali akan mati bila menginjakkan kakinya di tanah padepokannya. Selanjutnya Subali menjadi raja kera dan memperistri Dewi Tara dan berputra Anggada.</p>
<p><em>Amarah adalah benih kehancuran. Jika tidak cepat-cepat diurusi, diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat. Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah. Akhirnya, hancurlah kita!</em> <strong><sup>*2 The Gita Of Management</sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Bertemu Sugriwa</span></strong></p>
<p>Sri Rama dan Laksmana bertemu Sugriwa dan menceritakan permasalahannya. Sugriwa berjanji akan membantu Sri Rama menuju Alengka, Kerajaan Rahwana, setelah Sri Rama membantunya menaklukkan Subali. Kemudian Sugriwa meminta anak buahnya mengambil selendang yang dijatuhkan Dewi Sinta kala terbang diculik Rahwana.</p>
<p>Ikatan saudara kandung antara Sugriwa dan Subali tidak dapat dibandingkan dengan ikatan saudara antara Sri Rama dengan Bharata, walau mereka berbeda ibu. Sri Rama menerima keadaan dan menyerahkan tahta kepada Bharata, dan Bharata menolak dan hanya mau sebagai wakil sementara dan menempatkan sandal Sri Rama di singgasana, sampai Sri Rama kembali ke istana. Subali merebut tahta dan isteri Sugriwa dan mengusir Sugriwa ke hutan.</p>
<p>Sugriwa juga tidak seperti Bharata yang menolak tahta yang sebenarnya bukan haknya. Sugriwa paham bahwa yang mengalahkan raksasa adalah Subali, yang berhak mendapat hadiah adalah Subali, akan tetapi Sugriwa tetap mau menerima tahta dan hadiah Dewa, dengan alasan Subali telah mati.</p>
<p>Dalam hal ini benar atau salah adalah relatif, menurut pandangan masing-masing. Akan tetapi Sri Rama dan Bharata telah mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan sedangkan Subali dan Sugriwa mengambil langkah yang kurang tepat. Diri kita sedang diuji Resi Walmiki, kita akan bertindak bagaimana bila mengalami peristiwa yang sama.</p>
<p>Epos Ramayana adalah sejarah dengan tambahan ‘bumbu-bumbu penyedap selera’. Karakter para pelaku dimaksudkan untuk menyingkapkan karakter diri pribadi kita menuju peningkatan kesadaran. Dan berbagai karakter tersebut dekat dengan karakter dari genetik kita. DNA kita sesuai dengan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata, akan tetapi secara sistematik ada pihak-pihak yang ingin memisahkan diri kita dengan budaya asal. Seseorang yang tidak menghargai budaya asalnya yang telah berakar sangat dalam, ibarat memotong akar-akar tanaman yang akan menyebabkan berdirinya pohon tidak mantap, mudah terombang-ambing, terpengaruh badai budaya asing, bahkan bisa roboh bila tidak waspada.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kematian Subali</span></strong></p>
<p>Sugriwa menantang Subali dan keduanya bertarung dengan seru, akan tetapi Sugriwa kalah dan melarikan diri. Dengan kecewa, Sugriwa bertanya, mengapa Sri Rama tidak membantunya. Sri Rama berkata bahwa sulit membedakan dua saudara yang sedang bertempur dan menyarankan  agar dalam pertempuran selanjutnya Sugriwa memakai kalung bunga sebagai penanda diri.</p>
<p>Sugriwa kembali menantang Subali dan kembali terjadi pertarungan seru. Kali ini Sri Rama membidikkan panahnya dan Subali terpanah. Dalam keadaan luka, Subali teringat nasehat almarhum ayahnya agar dirinya ikhlas menerima kematiannya oleh seorang Avatara Wisnu. Subali bertanya pelan, “Wahai Sri Rama, mengapa seorang avatara membunuh seorang kera dari belakang, tidak berhadapan muka? Padahal saya tidak pernah punya permasalahan dengan paduka. Saya mohon penjelasan!”</p>
<p>Pertanyaan Subali, adalah pertanyaan kita, mengapa kita yang tidak punya kaitan permasalahan dengan seseorang dizalimi orang tersebut? Mungkin kita kurang beriman kepada ketetapan Gusti. Gusti telah menggunakan orang tersebut sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran kita.</p>
<p>Sri Rama menjawab, “Para raksasa mengganggu para resi di hutan, dan aku tanpa minta ijin Bharata membasmi para raksasa. Melihat tindakan adharma para raksasa, aku langsung menjalankan dharma dengan tegas. Teladanilah Jatayu, dia paham bahwa dia akan kalah dan mati melawan Rahwana. Tetapi dia tidak membiarkan Rahwana menculik Dewi Sinta begitu saja, dia bertarung memperebutkan Dewi Sinta demi kebenaran. Sugriwa akan kalah bertarung melawan Rahwana, akan tetapi dia mengambil selendang yang dijatuhkan Dewi Sinta dan memberitahu ke mana Rahwana pergi. Kau lebih sakti dari Rahwana, dan kau tahu Dewi Sinta diculik dan terbang lewat istanamu, dan kau tidak peduli. Kau membiarkan ketidakbenaran berlangsung, padahal kau mampu menyelesaikannya. Renungkanlah!”</p>
<p>“Kau merasa aku tidak bertindak sesuai kepatutan, memanah dari belakang mereka yang sedang bertarung. Coba renungkan, apakah tindakanmu merebut tahta dan istri Sugriwa sesuai kepatutan?”</p>
<p>Subali sadar dan bersyukur atas penjelasan Sri Rama, di akhir hayatnya di menyebut Ram&#8230;. Ram&#8230;.. dan meninggal dunia.</p>
<p>Kita pun merasa hidup dalam masyarakat yang ruwet yang meninggalkan norma-norma kepatutan. Akan tetapi apakah kita sadar bahwa kita juga berbuat salah dengan ketidakpedulian kita pada waktu dahulu  terhadap ketidakbenaran yang terjadi pada masyarakat kita?</p>
<p><em>Empat butir Kesadaran Awal atau Four Noble Truths ini diterjemahkan menjadi “laku”, praktik, oleh Bodhidharma, dan kita akan melihatnya berikut: Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti&#8230;&#8230; aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan&#8230;&#8230; mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.</em></p>
<p><em>Berhentilah berkeluh kesah, karena apa saja yang terjadi, yang menimpa diri kita, all of it, make sense. Kita memang harus menghadapi semua itu. Sikap nrimo, menerima hidup sebagaimana adanya, dan mengalir bersamanya akan mempermudah entry kita ke alam meditasi. Itu password nya</em>. <strong><sup>*5 Bodhidharma </sup></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Melihat ketidakbenaran yang terjadi di depan mata</span></strong></p>
<p>Bagaimana pun melihat adanya ketidakbenaran yang terjadi di depan mata, minimal kita harus bersuara.</p>
<p><em>Janganlah engkau menyerah sebelum mencoba. Cobalah bersuara… kumpulkan seluruh tenagamu dan bersuaralah dengan jelas. Suaramu akan terdengar, pasti. Kau menjadi pemimpin karena keyakinanmu, semangatmu, suaramu. Percayalah pada dirimu. Sukarno seorang diri, Gandhi seorang diri, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddhartha juga seorang diri. Namun, merekalah yang mengubah dan membuat sejarah. “Barangkali banyak diantara kita takut bersuara.” Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara. Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut mengundang persoalan. Saya pernah membaca di suatu tempat, “Dulu kelompok lain dianiaya, dan aku bungkam. Kupikir aku bukanlah bagian dari kelompok itu. Kemudian kelompokku dianiaya. Namun, sebelum kusadari, penganiayana pun terjadi pada diriku… dan tidak seorang pun maju untuk membantuku, karena semua beranggapan sama seperti diriku, yang dianiaya bukanlah mereka!”</em> <strong><sup>*6 Indonesia Under Attack </sup></strong></p>
<p>Terima kasih Guru. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.</p>
<p><strong><sup>*1 Life Workbook</sup></strong>        Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.</p>
<p><strong><sup>*2 The Gita of Management               </sup></strong>The Gita of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007</p>
<p><em>.</em><strong><sup>*3 Fiqr</sup></strong>                     Fiqr Memasuki Alam Meditasi Lewat Gerbang Sufi, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002.</p>
<p><strong><sup>*4 Kundalini Yoga             </sup></strong>Kundalini Yoga, dalam hidup sehari-hari, Anand Krishna, PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999.</p>
<p><strong><sup>*5 Bodhidharma               </sup></strong>Bodhidharma Kata Awal adalah Kata Akhir, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2005</p>
<p><strong><sup>*6 Indonesia Under Attack                  </sup></strong>Indonesia Under Attack Membangkitkan Kembali Jatidiri Bangsa, Anand Krishna, One Earth Media, 2006.</p>
<p><a href="http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/">http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/</a></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/">http://triwidodo.wordpress.com</a></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo">http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</a></p>
<p>November 2009.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1229&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/03/mengamati-sifat-sugriwa-dan-subali-dalam-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karma</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/02/karma/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/02/karma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 13:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[secangkir kopi kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[radar bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=1227</guid>
		<description><![CDATA[Anand Krishna*
(Radar Bali, Selasa 13 Oktober 2009)
http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&#38;view=article&#38;id=234:karma&#38;catid=15&#38;Itemid=56
&#160;
 Ketika anda menggunakan istilah “Hukum Karma” dalam bahasa Indonesia, lazimnya mengacu pada hukuman. Dalam bahasa Indonesia kata “hukum” memiliki makna ganda. Bisa berarti “hukum” atau bisa juga “hukuman.”
&#160;
Tidak demikian dalam bahasa Bali. Karma bukanlah “hukum” atau “aturan penghukuman.” Karma ialah “aktivitas” atau “tindakan.” Apapun yang anda dan saya lakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1227&subd=triwidodo&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anand Krishna*</p>
<p>(Radar Bali, Selasa 13 Oktober 2009)</p>
<p><a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=234:karma&amp;catid=15&amp;Itemid=56">http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=234:karma&amp;catid=15&amp;Itemid=56</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p> Ketika anda menggunakan istilah “Hukum Karma” dalam bahasa Indonesia, lazimnya mengacu pada hukuman. Dalam bahasa Indonesia kata “hukum” memiliki makna ganda. Bisa berarti “hukum” atau bisa juga “hukuman.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tidak demikian dalam bahasa Bali. Karma bukanlah “hukum” atau “aturan penghukuman.” Karma ialah “aktivitas” atau “tindakan.” Apapun yang anda dan saya lakukan ialah karma. Ini ialah “hukum” dalam pengertian bahwa ini tak bisa dielakkan. Tak ada yang bisa melarikan diri darinya. Ini seperti hukum gravitasi, atau hukum fisika lainnya. Jadi Hukum Karma ialah Hukum Aksi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hukum Karma mengikat kita semua. Apapun yang kita lakukan menjadi sebuah “sebab,” dan setiap “sebab” diikuti oleh “akibat.” Jadi penderitaan kita dimasa kini ialah jumlah dari beberapa sebab dimasa lalu, begitupula dengan kebahagiaan kita. Pada saat yang sama, apa yang kita lakukan hari ini menjadi sebuah sebab bagi keceriaan atau penderitaan esok hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hukum sebab dan akibat menjaga dunia tetap berputar. Hukum menciptakan dualitas penderitaan dan kesenangan, kemuraman dan keceriaan, saat-saat desolasi dan konsolasi.</p>
<p> <span id="more-1227"></span></p>
<p>Jika anda bahagia saat ini, bersiaplah untuk bersedih pada saat berikutnya. Karena tak ada kebahagiaan dan kesedihan yang permanen. Segala sesuatunya berubah. Kehidupan tidak konsisten dan begitupula tindakan kita. Tindakan kita tak selamanya tepat. Kita kadang membuat kesalahan. Kita tak dapat mengharapkan segalanya berjalan lancar sepanjang waktu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika anda menyukai mawar, maka anda juga harus mau menerima durinya. Malam dan siang tak terpisahkan. Perjumpaan dan perpisahan saling mengikuti satu sama lain. Hukum Karma, seperti yang saya katakan sebelumnya, tak terelakkan. Lalu bagaimana kita menghadapi hal ini? bagaimana kita melakukan yang terbaik atas hal ini? Bagaimana kita melakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan sepanjang waktu, untuk menggaransi hanyalah yang terbaik yang menjadi hasilnya?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekitar 5.000 tahun lalu, Krishna mengatakan kepada sahabat ksatria-nya Arjuna di medan perang Kurushetra: “Lupakan hasil, fokus pada apa yang kamu sedang lakukan!” jika Anda menanggapi dengan berkata, “Tapi itu sulit,” maka Anda tidaklah sendirian. Arjuna juga menanggapinya dengan berkata: “Harus ada motivasi!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Tidak,” kata Krishna. “Ia yang termotivasi oleh sesuatu atau seseorang untuk bertindak ialah orang yang lemah. Mereka kekurangan kekuatan dari dalam diri. Mereka orang yang lumayanan. Jadilah seorang ksatria, bukan orang yang lumayanan. Lakukan tugasmu tanpa pamrih, tanpa memikirkan hasil, dan keluarannya. Fokus pada apa yang sedang anda lakukan, bukan pada hasilnya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya bukanlah pemain golf. Saya juga menentang pembangunan lapangan golf di Bali. Membuat lapangan golf di sini tidaklah bijak. Permainan ini ditemukan di Skotlandia, di mana iklim, lanskap dan tanah lapangnya begitu kondusif untuk permainan ini. Bali berbeda sekali iklim, lanskap, tanah lapang dan kecantikan alamnya. Merubah Bali menjadi Skotlandia tentu tidak bijak. Tapi ijinkan saya menggunakan analogi permainan golf untuk menjelaskan “Nishkama Karma,” atau “berkarya tanpa pamrih, tanpa harapan pada hasil atau motivasi apapun.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika anda memukul bola golf, Anda harus memfokuskan segala perhatian pada proses memukul tersebut, dan bukannya pada hasilnya. Jika Anda fokus kepada hasil dan keluarannya, jika Anda fokus kepada lubangnya, maka anda kemungkinan besar justru meluputkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fokus pada apa yang anda lakukan, lakukan yang terbaik. Jangan biarkan dirimu terpecah oleh pikiran dan hasil. Curahkan segala energimu pada apa yang sedang anda lakukan. Dalam melakukan hal ini, anda akan melakukan yang terbaik sesuai kapasitas dan kemampuanmu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah Nishkama Karma, atau bertindak tanpa pamrih tanpa memusingkan hasilnya. Bagi masyarakat Bali jaman dahulu, bukanlah sekedar konsep, tapi sebuah prinsip hidup. Pelukis Bali akan melukis tanpa memusingkan pendapatan finansial, tapi menikmati proses melukis itu sendiri. Sama halnya pematung Bali dahulu kala akan memahat untuk memahat itu sendiri. Dan para artis tersebut menciptakan karya yang luar biasa indahnya &#8211; Keajaiban yang menjadi nyata.  Beberapa diantaranya bahkan sekarang disimpan di museum di luar negri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini hal itu telah berubah. Dollar, poundsterling, euro, dan yen memotivasi para pelukis dan pemahat untuk “memproduksi.” Kreativitas digantikan oleh produktifitas. Seni direduksi menjadi sekedar proses produksi. Artis telah menjadi pekerja dan kuli perdagangan. Sekarang, mereka terpaksa bersaing dengan pekerja dan kuli lainnya di dunia perdagangan. Mereka dikutuk untuk bekerja dengan dan untuk pedagang yang serakah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bali harus memfokuskan kembali potensinya, kekuatan dari dalam dan melakukannya.  Dengan cara ini Bali akan meraih kembali keunikannya yang telah hilang selama bertahun-tahun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nishkama Karma harus sekali lagi menjadi semangat Bali dan masyarakat yang luar biasa di pulau ini. Mari kita bekerja Bali dan melakukan apa yang terbaik sesuai kapabilitasnya, tanpa terpecah atau terpikat oleh pendapatan materi yang cepat didapat tapi hanya sementara.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anda dapat merusak alam dan ekosistem dalam waktu singkat dengan merubah daerah yang subur menjadi lapangan golf. Tapi untuk membenahi ini, anda membutuhkan waktu puluhan tahun. Butuh satu generasi untuk memperbaiki kerusakan yang anda buat hari ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh sebab itu inilah karma buruk saat anda membangun dan mendirikan sesuatu yang tak sejalan dengan alam dan potensimu. Dan sebaliknya juga benar, ketika anda membangun dan mendirikan sesuatu yang selaras dengan alam dan potensimu, anda pasti akan sukses, karena telah melakukan karma baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Percantik Bali &#8211; percantik tempat dimana kamu tinggal; ciumlah kesuburan yang memberkahimu dengan tumbuhan dan nutrisi lainnya. Bersyukurlah kepada Bunda Alam Semesta atas segala pemberian yang dianugerahkan bagimu. Bekerjalah dan lakukan tugasmu dengan semangat ini, dan anda tak akan pernah melenceng. anda akan mengakumulasikan karma baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terakhir tapi penting, apa yang paling penting ialah untuk merubah paradigma lamamu. Bekerja tanpa pamrih. Fokuskan segala energimu pada pekerjaan yang sedang anda lakukan, pada kewajiban yang ada di depan mata &#8211; maka anda tak akan melakukan kesalahan. “Sukses akan mencium kakimu,” seperti tradisi sungkem yang ada di kepulauan ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bekerja tanpa pamrih ialah bekerja untuk keuntungan banyak orang. Bekerja tanpa pamrih ialah berkarya bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan dunia ini &#8211; tempat satu-satunya di mana kita hidup.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Anda boleh berkulit putih atau kuning, coklat atau hitam &#8211; hukum Nishkama Karma berlaku bagi kita semua, untuk anda dan saya. Cobalah ini dan lihatlah yang terjadi pada dirimu betapa lebih banyak kebahagiaan bagimu, betapa banyak keceriaan anda menjadi. Nishkama Karma ialah cara untuk merayakan kehidupan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi www.aumkar.org, www.anandkrishna.org (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/1227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/1227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/1227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/1227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/1227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/1227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/1227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/1227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/1227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/1227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&blog=2236703&post=1227&subd=triwidodo&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2009/11/02/karma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>