<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia</title>
	<atom:link href="http://triwidodo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triwidodo.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 21:21:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='triwidodo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://triwidodo.wordpress.com/osd.xml" title="Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia" />
	<atom:link rel='hub' href='http://triwidodo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Serat Wedhatama Mempersatukan Umat Manusia Melalui Pemahaman Body, Mind And Soul</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/29/serat-wedhatama-mempersatukan-umat-manusia-melalui-pemahaman-body-mind-and-soul/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/29/serat-wedhatama-mempersatukan-umat-manusia-melalui-pemahaman-body-mind-and-soul/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 21:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2674</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia mempunyai body atau raga yang berbeda satu dengan lainnya. Enam milyar manusia mempunyai wajah dan penampilan fisik yang tidak sama. Mereka yang lahir kembar pun dengan pengalaman hidup yang berbeda pada akhirnya menunjukkan perbedaan juga. Semua tumbuhan dan hewan pun walau dapat dikelompokkan dari ciri-cirinya, akan tetapi satu-persatu juga berbeda. Mengapa berbeda? Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2674&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/wedhatama.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2675" title="wedhatama" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/wedhatama.jpg?w=468" alt=""   /></a></p>
<p>Setiap manusia mempunyai body atau raga yang berbeda satu dengan lainnya. Enam milyar manusia mempunyai wajah dan penampilan fisik yang tidak sama. Mereka yang lahir kembar pun dengan pengalaman hidup yang berbeda pada akhirnya menunjukkan perbedaan juga. Semua tumbuhan dan hewan pun walau dapat dikelompokkan dari ciri-cirinya, akan tetapi satu-persatu juga berbeda. Mengapa berbeda? Karena pengalaman hidup setiap makhluk tidak sama. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan yaitu Atman, dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Sehingga orang yang berkesadaran fisik akan menganggap bahwa setiap orang itu berbeda-beda.</p>
<p>Selanjutnya, body atau raga itu dikendalikan oleh mental, oleh mind, oleh pikiran. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikirannya. Bila raga atau fisik itu mengalami lahir, tumbuh, berkembang, mandeg dan mati maka tidak demikian dengan mind. Mind adalah energi. Dan, sebagai energi mind tidak mati. Katakanlah seorang pemimpin meninggal, akan tetapi pemikirannya tidak akan meninggal, mind-nya tidak akan meninggal. Mind sendiri terdiri dari conscious mind, subconscious mind dan super conscious mind.</p>
<p>Body dan mind saja dalam diri seseorang tidak cukup, harus ada soul, ruh. Tanpa ruh body hanya berupa jasad mati yang segera didaur-ulang kembali oleh alam menjadi elemen pokok: tanah, air, api, udara dan ruang. Tanah, air, api, udara dan ruang kesemuanya adalah energi dengan kemampatan yang berbeda. Einstein mengatakan E=MC kwadrat, Energi adalah Masa (materi) dalam fungsi kecepatan tertentu&#8230;&#8230;. Selanjutnya, mind pun tanpa body dan ruh tidak bisa berkembang. Semua perbaikan mind harus dilakukan saat body masih ada, atau pada saat masih hidup. Ruh yang terperangkap oleh mind itulah jiwa. Bila mind telah mati, telah tidak punya keinginan, tidak punya keterikatan, maka yang tinggal hanyalah ruh. Istilah “<em>mati sajroning ngaurip</em>”, mati keinginan selagi hidup ada persamaannya dengan <em>jivan mukta</em>. Seorang yang telah bebas dari belenggu pikiran, maka kehendak orang tersebut adalah kehendak-Nya. Keyakinan bahwa apabila ada orang yang menjelang kematiannya mengucapkan la illa ha illallah dia akan bertemu Allah, sebenarnya orang yang akan mati tersebut telah mengalahkan semua obsesi keduniawiannya, baginya yang ada hanya Allah, la illa ha illallah, tidak ada yang lain selain Allah,  maka dia akan menuju Allah.</p>
<p>Bagi mereka yang percaya dengan reinkarnasi atau rebirth ataupun penitisan kembali, maka setelah kematian tubuh, subconscious mind yang penuh obsesi duniawi tidak ikut mati dan akan mencari tubuh baru untuk melanjutkan pemenuhan obsesinya. Seseorang akan lahir kembali setelah mengalami proses &#8220;pengolahan&#8221;. Dan &#8220;pengolahan&#8221; tersebut dilakukan oleh superconscious mind. Lapisan super conscious mind berfungsi seperti accu mobil – dibutuhkan untuk start pertama. Setelah start, energi selanjutnya diperoleh dari bensin. Mereka yang tidak ingin lahir kembali, super conscious mind pun harus dilampaui. Dan harus dilampaui ketika masih &#8220;hidup&#8221;, masih ber-&#8221;tubuh&#8221;. Ditembus, dilewati, dilampaui, apa pun istilahnya, yang jelas super conscious mind harus berhenti bekerja, tidak berfungsi lagi. Demikian, pada saat kematian tidak ada yang dapat mengelola subconscious mind dan tidak terjadi kelahiran kembali.<span id="more-2674"></span></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/borobudur-cross-section.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2676" title="borobudur cross section" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/borobudur-cross-section.jpg?w=300&#038;h=256" alt="" width="300" height="256" /></a></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/prambanan-cross-section.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2677" title="prambanan cross section" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/prambanan-cross-section.jpg?w=276&#038;h=300" alt="" width="276" height="300" /></a></p>
<p>Tiga bagian dari Candi Borobudur Kamadathu, Rupadhatu dan Arupadhatu, semuanya ada kaitan dengan body, mind and soul. Dalam buku “<strong>Bodhidharma</strong><strong>, </strong><strong>Kata Awal Adalah Kata Akh</strong><strong>ir</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Borobudur dan banyak bangunan lain di India, Afganisthan, dan Indocina secara simbolik mewakili tiga alam tersebut. Dalam pemahaman Buddhis, Kamadhatu mewakili Alam Keinginan. Alam Keinginan ini hampir tidak terbatas. Dari dunia di mana kaki kita berpijak, hingga surga tertinggi dalam khayalan, semuanya adalah Kamadhatu. Semua berada dalam satu lapis kama atau keinginan, pikiran… dan bersifat dhatu atau materi. Galaksi mana saja, planet sejauh apa pun bila masih terpikirkan, menjadi bagian dari Kamadhatu. Begitu pula dengan surga yang kita bayangkan penuh kenikmatan dan neraka penuh penderitaan; keduanya berada dalam alam ini. Rupadhatu adalah Alam Rupa atau Wujud Asli. Dalam alam ini, kita baru berkenalan dengan diri sendiri, dengan wujud asli kita. Kesadaran kita tidak lagi mengalir ke luar menggapai galaksi terjauh di luar sana, tetapi terarah ke dalam diri. Arupadhatu adalah Alam Tanpa Rupa, Tanpa Wujud. Bila meditasi pun terlampaui sudah, kita memasuki alam ini. Saat itu kita merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Kendati demikian, alam ketiga ini (Arupadhatu)pun bukanlah Tujuan Bodhidharma. Alam ketiga ini pun harus dilampaui. Setelah melampaui alam meditasi, next what? Sudah Bersatu dengan semesta, so what? Berada dalam alam ini pun, kita masih dapat ber”keinginan” kembali, dan menciptakan Kamadhatu baru bagi diri kita. Berada dalam alam ini, kita masih belum larut, belum hanyut dalam Kasunyatan. Karena itu, Bodhidharma berkata : Tinggal di dalam dunia “berlapis tiga” ini seperti tinggal di dalam rumah yang terbakar… Rumah kesadaran kita sudah pasti runtuh, berkeping-keping, dan itu tinggal tunggu waktu saja&#8230;&#8230;.</p>
<p>Selanjutnya tiga bagian Candi Prambanan (Bhur  mewakili tanah, Bhuvah/atmosfir mewakili air dan Svaha mewakili api), kesemuanya juga ada kaitannya dengan body, mind and soul. Bila kita menjelajah internet maka kita akan tahu bahwa setelah Bhur, Bhuvah, Svah masih ada banyak tingkatan menuju soul, diantaranya Mahah, Janah, Tapah, Satyam&#8230;&#8230;. Bila seseorang telah melampaui kesadaran mental dan mencapai kesadaran murni, ada penjelasan dalam buku “<strong>Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna</strong>”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 yang menyampaikan&#8230;&#8230;. Bhagavad Gita – Nyanyian Ilahi – menjelaskan dengan sangat apik: “Terbakar habis oleh api, sebagaimana kayu menjadi abu; seperti itu pula ‘akibat’ dari segala perbuatan yang di-‘sebab’-kan oleh ketidaktahuan dan ketidaksadaran, terbakar habis oleh nyala api pengetahuan sejati dan kesadaran.” (BAB IV, AYAT 37). Hukum Sebab-Akibat, Gravitas, Ketertarikan Relativitas – semuanya dapat dilampaui. Hukum fisika mengikat fisik kita. Satu-satunya cara untuk melampaui hukum tersebut adalah dengan melampaui kesadaran fisik. Bicara tentang fisik maka pikiran, emosi, perasaan, dan segala tetek-bengek lainnya, termasuk prana, atau energi kehidupan, dan getaran-getaran kasar maupun halus yang merupakan inti atau esensi penciptaan, semuanya adalah fisik, materi, semuanya benda. Hukum fisika adalah hukum kebendaan. Segala sesuatu yang memiliki wujud, rupa, bentuk dan/atau nama adalah benda. Jangankan sesuatu yang dapat diungkapkan atau dijelaskan, sesuatu yang baru terpikir atau terasa pun masih berada dalam alam fisika, alam kebendaan. Alam fisika ini, kebendaan ini, kesadaran jasmani ini hanyalah terlampaui ketika ketidaktahuan kita, kesalahpahaman kita tentang definisi fisik “terbakar habis”. Tidak tersisa lagi. Ketika kita sadar sesadar-sadarnya bahwa apa pun yang terjelaskan, terpikir, dan terasa bukanlah kesadaran. Lain, kesadaran itu apa? Ah! Svaahaa – Ya, itulah!&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Melampaui kesadaran fisik tidak berarti mati atau bunuh diri. Tidak, kita tidak mati. Kita tidak bunuh diri. Kita tetap berada di dunia ini, di alam fisik, tetapi dengan kesadaran baru. Dengan memahami hukum fisika, kita tidak terkecoh lagi. Kita tidak lagi membenarkan kebodohan diri dengan mencari pembenaran, “Ah, aku sudah melampaui kesadaran fisik&#8230;.” “Aku?” Itu kesadaran fisik. Itu pikiran, itu emosi, itu perasaan, itu energi, itu vibrasi. Itu, itu, itu&#8230;. Selama masih ada “aku”sekasar atau sehalus apa pun jua, badan masih ada, fisik masih ada. Hukum fisika masih belum terlampaui. Fisik atau materi adalah ungkapan dari non-fisik, atau nonmateri. Tapi, nonfisik seperti apa? Nonmateri seperti apa? Jika dengan nonmateri yang dimaksud adalah pikiran, atau perasaan, maka menurut Buddha itu pun masih “dhatu”, materi. Titik. Pelampauan kesadaran fisik dalam kehidupan bukanlah suatu pencapaian, tetapi suatu pencarian. Perjalanan panjang yang hanya akan selesai ketika “aku” selesai. Lagi-lagi bukan dalam pengertian “aku” mati, karena “aku” tidak pernah mati. “Aku” hanya meninggalkan badan-”ku”. Badan itu mengalami dekomposisi dan kemudian terurai kembali. Elemen tanah menyatu kembali dengan tanah; api dengan api; air dengan air; udara dengan udara; dan, ruang yang pernah ditempati oleh badan-”ku” terasa kosong&#8230;&#8230;.</p>
<p>Sri Mangkunagoro IV dalam Serat Wedhatama yang telah disajikan dalam kemasan modern dalam buku “<strong>Wedhatama Bagi Orang Modern</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 menyampaikan&#8230;&#8230;. <strong>Pertama Bhoutik atau kesadaran fisik</strong>, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. <strong>Kedua, Daivik atau kesadaran psikis, enersi</strong>. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama.  Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. <strong>Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika</strong>. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak adapat dijelaskan.Menurut Sri Mangkunagoro, <em>sruning brata kataman wahyu dyatmika</em>: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri&#8230;&#8230;..</p>
<p>Dalam buku “<strong>Wedhatama Bagi Orang Modern</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 tersebut juga disampaikan tentang:</p>
<p><strong>Sembah Raga. </strong>Sembah Raga merupakan persembahan yang dilakukan oleh raga, untuk melampaui raga itu sendiri, untuk melampaui kesadaran jasmani. Apabila Sembah Raga belum bisa juga mengantar Anda ke tahap ketenteraman jiwa, ketahuilah bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Cara Anda melakukannya sudah salah. Atau mungkin Sembah Raga yang Anda lakukan, sudah bukan Sembah Raga lagi, tetapi sudah menjadi olah raga.<strong></strong></p>
<p><strong>Sembah Cipta. </strong>Sembah Kalbu atau Sembah Cipta, tidak perlu dan bahkan tidak dapat dipamerkan. Kasih tidak dapat dipamerkan, tidak perlu dipamerkan. Kasih merupakan suatu sifat yang melengket dengan jiwa kita. Menurut Sri Bhagavan, orang seperti itu menjadi narapati. Narapati adalah julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya. Yang dikuasai adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia. Pati berarti raja, penguasa atau  pengendali. Yang dimaksudkan adalah pengendalian diri. Wedhatama Bagi Orang Modern.<strong></strong></p>
<p>Sembah raga merupakan persiapan, sedangkan Sembah Cipta ini sudah mulai memasuki esensi agama. Hasil akhir Sembah Cipta adalah Kesadaran. Bagaimana cara memperolehnya? Yang diolah bukan badan lagi. Membersihkan badan dengan air sudah tidak dapat membantu lagi. Yang harus dibersihkan adalah jiwa. Jiwa yang ditutupi oleh awan ketidaksadaran, kabut kebodohan. <strong></strong></p>
<p><strong>Sembah Jiwa. </strong>Sembah Jiwa berarti menyadari sepenuhnya bahwa Sukma dan Hyang Sukma hanya terlihat berbeda, dan pada hakikatnya tidak berbeda. Selama penglihatan Anda masih terfokuskan pada benda-benda duniawi yang disinari oleh rembulan, selama itu pula Anda belum memahami esensi agama. Begitu Anda melihat ke atas, begitu Anda melihat Bulan, Anda akan sadar bahwa benda-benda duniawi ini tidak akan terlihat , tidak berguna sama sekali , apabila tidak disadari oleh rembulan yang merupakan bagian Bulan yang tak terpisahkan. Kesimpulannya, dalam persembahan ini, Anda masih harus berusaha. Penglihatan Anda masih sempit dan datar harus ditingkatkan. Anda harus melihat ke atas untuk melihat sumber cahaya. Kesadaran Anda harus ditingkatkan. <strong></strong></p>
<p><strong>Sembah Rasa. </strong>Sembah Rasa merupakan hasil akhir perjalanan spiritual kita. Sembah Rasa sudah bukan merupakan proses lagi, tetapi hasil suatu proses<em>, the ultimate experience, the outcome</em>. Kesadaran raga dapat dilewati oleh kesadaran cipta. Kesadaran cipta dapat dilampaui oleh kesadaran jiwa. Tetapi dalam kesadaran jiwa itu, rasa masih ada. Ketenangan, ketenteraman, kesentosaan, kedamaian, semuanya ini merupakan rasa. Pada tingkat Sembah Rasa, rasa pun terlampaui. Bedanya proses ini terjadi sendiri&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Demikian penjelasan Serat Wedhatama mengenai body, mind and soul. Ibarat roda lingkaran dengan porosnya berupa soul-ruh, dengan lapisan mental di lingkaran tengah sedang lapisan fisik berada di lingkaran luar, maka seseorang yang berada di lapisan luar akan merasakan banyak  perbedaan, sedangkan semakin menuju ke dalam diri perbedaannya semakin kecil. Pancaindra menuntut kesadaran mengalir ke luar dan di luar ada berbagai keinginan (arah 360 derajat) yang tidak ada batasnya. Sedangkan bila seseorang meniti ke dalam diri, tujuannya adalah satu dan sama. Pemahaman ini akan mempersatukan umat manusia. Bhinneka Tunggal Ika, nampaknya berbeda tetapi esensinya satu jua&#8230;&#8230;..</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Januari 2012</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2674/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2674&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/29/serat-wedhatama-mempersatukan-umat-manusia-melalui-pemahaman-body-mind-and-soul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/wedhatama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wedhatama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/borobudur-cross-section.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">borobudur cross section</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/prambanan-cross-section.jpg?w=276" medium="image">
			<media:title type="html">prambanan cross section</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyai Lara Kidul Laut Selatan, Candi Kalasan Indonesia dan Dewi Tara Tibet</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/26/nyai-lara-kidul-laut-selatan-candi-kalasan-indonesia-dan-dewi-tara-tibet/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/26/nyai-lara-kidul-laut-selatan-candi-kalasan-indonesia-dan-dewi-tara-tibet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 21:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Nyai Lara Kidul]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2667</guid>
		<description><![CDATA[Membaca artikel di internet “Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java”, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2667&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/ratu-kidul-3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2668" title="ratu kidul 3" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/ratu-kidul-3.jpg?w=468" alt=""   /></a><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/candi-kalasan.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2669" title="candi kalasan" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/candi-kalasan.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" width="300" height="212" /></a></p>
<p>Membaca artikel di internet “<strong>Tara and Nyai Lara Kidul Images Of The Divine Feminine in Java</strong>”, tulisan Roy E. Jordaan, Asian Folklore Studies, Oct 1997, kita akan terbawa oleh gambaran yang menghubungkan antara Candi Kalasan, Ikon Dewi Tara dan Ikon Nyai Lara Kidul. Dan, sebelum membayangkan penampilan Nyai Lara Kidul seperti yang ada dalam benak kita masing-masing: seperti yang berkaitan dengan hal mistis; pencarian jalan pintas dalam mendapatkan kekayaan; tumbal manusia secara berkala untuk dijadikan pekerja Istana Dasar Laut Kidul; atau pun Kanjeng Ratu Kidul yang berhubungan mistis dengan para Raja Surakarta dan Jogjakarta yang merupakan anak keturunan dari Raja Mataram Pertama Panembahan Senopati&#8230;&#8230;&#8230; sang penulis artikel mengambil referensi nama Nyai Lara Kidul, sebagai dewi yang dikenal masyarakat pada zaman Candi Kalasan sedang dibangun. Dewi yang berkaitan dengan Dewi Padi (Dewi Sri) dan Dewi Padi Ladang (dewi Tisnawati) dan juga Dewi yang memberikan kemakmuran kepada masyarakat (Dewi Laksmi). Menurut sang penulis, gambaran tentang ikon Nyai Lara Kidul tersebut pada saat ini telah berubah menjadi seperti yang kita pahami pada saat ini.</p>
<p>Mengenai panggilan Nyai, perlu dimengerti bahwa orang-orang Jawa Kuna merasa dekat bila kekuatan yang dipuja mereka dipanggil sebagai keluarga dekat. Orang Jawa Kuna merasa bahwa sebutan Allah dan Nabi itu jauh, sehingga agar dekat di hati, mereka memanggilnya dengan sebutan Gusti Allah dan Kanjeng Nabi, seperti menyebut raja dan bangsawan kerajaan bagi mereka. Mereka memanggil Tuhan dengan sebutan Gusti Pangeran. Memanggil Dewa, kekuatan ilahi pun dengan sebutan Hyang (Eyang), matahari dipanggil Hyang Surya, bulan dipanggil Hyang Chandra. Memanggil para Wali dengan sebutan Kanjeng Sunan. Memanggil orang yang dihormati sebagai Kyai atau Nyai.</p>
<p>Baik Dewi Tara maupun Nyai Lara Kidul menyukai warna hijau yang merupakan kekuatan jiwa muda. Dewi Tara memegang bunga Utpala (teratai biru, atau teratai malam) yang mekar di waktu malam tidak seperti teratai putih yang mekar di siang hari. Demikian juga Nyai Lara Kidul memegang bunga Wijaya Kusuma yang mekar di waktu malam. Penulis menganggap ada perbedaan antara Nyai Lara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Nyai Lara Kidul adalah Dewi Kesuburan dan Pelindung di zaman dahulu kala. Sedangkan Kanjeng Ratu Kidul adalah shakti/energi para Raja Jawa setelah para Raja Jawa menganut agama Islam. Pada panggung Sangga Buana di Keraton Surakarta digantungkan lukisan yang menggambarkan seorang pria mengendarai ular terbang, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai candra-sengkala (tanda tahun) 1782 M. Akan tetapi bagi sang penulis, ular tersebut ada hubungannya dengan Ratu Kidul. Di Keraton Jogjakarta Kanjeng Ratu Kidul bertemu Sultan di Sumur Gumuling di Taman Sari yang menurut penulis juga ada hubungannya dengan ular. Kanjeng Ratu Kidul menurut penulis adalah Ratu Naga. Sesungguhnya ular ada hubungannya dengan energi kundalini atau shakti yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.</p>
<p>Kita paham bahwa ajaran Buddha sangat adaptatif dengan keyakinan setempat, sehingga di tengah masyarakat perbedaan antara ajaran Buddha, Shiwa dan keyakinan setempat hanya berupa perbedaan formal. Di dalam kenyataan di lapangan, keyakinan tersebut bisa berbaur di tengah masyarakat. Buddha Mahayana dan Vajrayana tidak ragu-ragu menyesuaikan ajaran asli mereka, dengan mengambil alih konsep dan bahkan  ikon dari banyak dewa-dewi dan ikon keyakinan masyarakat setempat. Dewi Tara mempunyai asosiasi dengan Dewi Durga yang merupakan Adishakti  dan juga dengan dewi kepercayaan masyarakat setempat seperti Nyai Lara kidul. Bila di Candi Kalasan terdapat patung Dewi Tara, maka dalam jarak kurang dari 2 km ada Candi Prambanan dengan patung Dewi Durga. Melihat kondisi geografis, nampaknya sungai Opak yang memisahkan Candi Prambanan dengan Candi Kalasan menjadi batas antara kekuasaan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Candi-candi di jawa Tengah seperti Kalasan, Plaosan dan Prambanan, Sambisari dibangun oleh masyarakat campuran antara Shiwa dan Buddha. Bagi mereka Dewi Durga, Dewi Tara, Nyai lara Kidul adalah ikon seorang ibu yang perlu dipuja.<span id="more-2667"></span></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/dewi-tara-tibet.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2670" title="dewi tara tibet" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/dewi-tara-tibet.jpg?w=190&#038;h=300" alt="" width="190" height="300" /></a></p>
<p>Masyarakat pada waktu itu paham bahwa ajaran dan keyakinan itu adalah jalan, sehingga berbeda-beda. Akan tetapi tujuannya adalah Tuhan yang satu dan sama. Bagi masyarakat, Guru Sejati ada di dalam diri, Sri Krishna ada di dalam diri, Buddha ada di dalam diri, Gusti Yesus ada dalam diri, Allah bersemayam dalam hati orang yang beriman. Bila pikiran seseorang telah jernih (pikiran yang jernih adalah buddhi), maka ia akan dipandu Suara Hati Nuraninya dalam menjalani kehidupannya. Dalam buku “<strong>Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan tentang pandangan seorang sufi berasal dari Sindh, Pakistan&#8230;&#8230;.. Idries Shah memang benar – persatuan dan kesatuan semacam ini tidak pernah bisa diterima oleh mereka yang tidak berjiwa Sufi. Para sufi sebaliknya tidak bisa melihat perbedaan. Mereka melihat aliran kesatuan dan persatuan di balik perbedaan yang disebabkan oleh budaya-budaya yang berbeda. Menurut Idries Shah, Rumi telah melampaui batas-batas yang disebabkan oleh kesadaran rendah, kesadaran biasa. Ia telah mencapai kesadaran tinggi, kesadaran luar biasa. Itu sebabnya, olehnya hanyalah kesatuan dan persatuan&#8230;&#8230;..</p>
<p>Putra-putri Ibu Pertiwi saat itu paham bahwa spiritualitas tidak mengenal kotak-kotak ajaran. Mereka tidak mencampur-adukkan agama. Ibu Pertiwi hanya ingin mengajak para pendatang untuk menemukan ‘esensi agama’ atau ‘spiritualitas’ – yang memang satu adanya. Pada saat yang sama, Ibu Pertiwi juga tidak ‘menolak’ agama. Ibu Pertiwi ingin menyadarkan putra-putrinya, juga mereka yang datang ke Nusantara, bahwa Kebenaran Itu Satu Ada-Nya. Islam, Hindu, Buddha, Kristen dan agama-agama lain hanyalah sisi-sisi Kebenaran Yang Satu Itu. Dalam buku “<strong>Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230;. ‘Isme’ hanya bisa terciptakan apabila saya memberikan ‘kredo’ baru. Itu tidak pernah dan tidak akan pernah saya berikan. Saya selalu menganjurkan kepada setiap orang untuk ‘menggali lahan agamanya sendiri’. Gali terus sampai menemukan air kehidupan. Seorang pejabat tinggi negara pernah menyebut upaya seperti ini sebagai upaya ‘menggado-gadokan agama’. Ia sinis. Tetapi ia benar. Gado-Gado adalah masakan khas Indonesia. Dalam gado-gado setiap jenis sayur mempertahankan keasliannya. Tidak terlalu lama dimasak, hanya diseduh, dimasak sebentar. Lantas disirami bumbu kacang. Agama-agama yang berbeda bagaikan jenis-jenis sayur yang berbeda. Bumbu-Kacang, Bumbu-Kasih hanya mempererat hubungan antara mereka&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;Dalam Sutasoma, Mpu Tantular menyatakan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua. Ia tidak menciptakan suatu ‘isme’ baru. Penguasa jaman itu, Hayamwuruk, beragama Hindu. Patihnya, Gajahmada, beragama Buddha. Tidak terjadi sinkretisme. Yang terjadi malah saling apresiasi – bukan sekadar toleransi yang semu. Dan sampai hari ini pun, kita menggunakan buah pemikiran dia untuk mempersatukan bangsa kita, negara kit a, rakyat kita&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;Dalam AI-Qur&#8217;an tertulis: ‘Kuciptakan kalian sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku agar kalian saling mengenal satu sama lain. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa’. Entah berapa kali telah kita baca Firman Allah itu, namun sepertinya tidak pernah kita hayati. Bolak-balik yang kita permasalahkan adalah bentuk luar agama, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Esensi agama tidak bisa dipermasalahkan. Esensi agama adalah &#8220;taqwa&#8221; kepada Allah. Dan siapa yang bisa menentukan ke-&#8221;taqwa&#8221; -an seseorang, kecuali Allah?</p>
<p>Pada masa itu terdapat dua Wangsa, dua Dinasti yang berbeda keyakinan. Kerajaan Mataram Hindu mempunyai raja-raja sebagai berikut: Sanjaya (732-760 M), Rakai Panangkaran (760-780 M), Rakai Pananggalan (780-800 M, Rakai Warak (800-820 M, Rakai Garung (820-840 M), Rakai Pikatan (840 – 856 M), Rakai Kayuwangi (856 – 882 M), Rakai Watuhumalang (882 – 899 M), Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M), Rakai Daksottama (915 – 919 M), Dyah Tulodhong (919 – 921 M), Dyah Wawa ( 921 – 928 M, Rakai Empu Sendok (929 – 930 M):</p>
<p>Pada masa yang sama juga ada Wangsa Syailendra yang beragama Buddha memerintah di dekat wilayah Wangsa Sanjaya. Menurut Purbatjaraka, Keluarga Syailendra adalah keturunandari Wangsa Sanjaya di era pemerintahan Rakai Panangkaran. Adapun Raja-raja yang pernah berkuasa, yaitu : Bhanu (752 – 775 M), Wisnu (775 – 782 M), Indra (782 – 812 M), Samaratungga ( 812 – 833 M), Pramodhawardhani (833 – 856 M): Pramodhawardhani akhirnya menjadi permaisuri raja Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Seorang adik (ada yang menyebutnya anak) Raja Samaratungga bernama Balaputradewa pergi ke Palembang dan akhirnya menjadi Raja di Kerajaan Sriwijaya yang saat itu menjadi daerah kekuasaan Wangsa Syailendra.</p>
<p>Candi Kalasan dibangun pada tahun 778 M pada masa Rakai Panangkaran dan Wisnu berkuasa. Pada Candi Kalasan dipasang ikon Dewi Tara. Kemudian adik Raja Samaratungga yang bernama Balaputradewa setelah pergi dari Jawa akhirnya menjadi Raja Sriwijaya di Sumatera juga memakai ikon Tara di Sriwijaya. Ibu Balaputradewa sendiri bernama Tara adalah putri penguasa Sriwijaya yang merupakan dinasti Soma dan dikatakan menyerupai Dewi Tara sendiri. Dewi Tara menjadi Dewi pujaan Raja Balaputradewa. Tiga abad setelah berdirinya Candi Kalasan, di awal abad 11 Yang Mulia Atisa datang dari India Timur laut dan selama dua belas tahun (1013-1025) tinggal di istana Sriwijaya belajar pada Guru Besar Yang Mulia Dharmakirti. Konon Atisa dan Dharmakirti menjadikan Dewi Tara sebagai obyek meditasi dan konon mereka dapat melihat wajah suci Dewi Tara. Kemudian Atisha pergi ke Tibet untuk  “memberi spirit baru” Buddhisme di sana dan memberikan dorongan untuk penghormatan kepada Dewi Tara, sehingga saat ini dewi Tara menjadi Dewi Nasional Tibet.</p>
<p>Berbicara masalah simbol-simbol untuk meditasi, ada baiknya kita membaca buku “<strong>Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999&#8230;&#8230;&#8230; Simbol-simbol keagamaan seperti salib, kaligrafi dan arca sebenarnya merupakan alat-alat, sarana-sarana untuk meditasi. Para rishi, para bhagavan di pegunungan Himalaya bahkan menciptakan yantra atau alat-alat untuk mengantar kita ke alam meditasi&#8230;&#8230;&#8230; Santo Fransiskus menggunakan “Wujud Yesus” sebagai sarana meditasi. Ia menggunakan “salib” sebagai alat meditasi. Dengan memusatkan kesadarannya pada “Wujud Yesus di atas Salib” ia bisa melampaui “keakuan” -nya. Untuk mencapai “Kesadaran Tinggi” atau “Kesadaran Murni” – yang dalam bahasa gereja disebut “Kesadaran Kristus” – kesadaran-diri yang rendah harus terlampaui. Hari itu, Fransiskusberhasil melampaui dirinya. Ia bersatu, menyatu dengan “Kristus”. Hari itu, Fransiskus menerima “stigmata” – luka-luka suci Yesus. Bukan hanya kesadarannya yang melebur dalam Kesadaran Kristus, tetapi wujud fisiknya pun menyatu dengan Wujud Yesus yang ia jadikan sarana untuk meditasi. Hari itu, kedua tangan Fransiskus, begitu pun kedua kaki dan lambungnya, tiba-tiba mengeluarkan darah segar. Persis seperti yang pernah terjadi pada Yesus di atas salib. Hari itu, Fransiskus lenyap sudah, mati sudah – yang tersisa adalah “Kesadaran Kristus”&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang menyebabkan “luka-luka suci” tersebut? Apabila  Anda menggunakan sebuah “sarana” untuk alam meditasi, pada suatu tingkat kesadaran tertentu, ke- “aku”-an Anda akan melebur, menyatu dengan sarana tersebut. Fransiskus menggunakan “Yesus di atas Salib” sebagai sarana meditasi, sehingga ia melebur, menyatu dengan sarananya itu. Bukan hanya jiwanya saja, tetapi fisiknya pun bersatu dengan “Yesus di atas Salib”. Dan muncullah “luka-Iuka suci” yang kita sebut “stigmata”. Seorang meditator yang menggunakan “bayi Yesus” sebagai sarana meditasinya tentu saja tidak akan menerima “stigmata”. Kendati demikian, devosi dia, pencapaian dia tidak kurang, tidak kalah dari mereka yang memperoleh “stigmata”. Tanda-tanda yang diperolehnya berbeda. Ia akan menjadi polos, tulus dan lugu seperti seorang “bayi”! Mereka yang menjadikan “Bunda Maria” sebagai sarana meditasi akan memperoleh tanda yang berbeda lagi. Mereka menjadi sang at reseptif, feminin, penuh dengan belas kasihan – persis seperti Bunda Maria. Ramakrishna Paramahansa, guru Swami Vivekananda, pernah melakukan eksperimen. Setiap enam bulan sekali, ia mengubah sarana meditasinya. Kadang ia menjadikan zikir Islami sebagai sarananya, kadang mantra Hindu, kadang doa Kristen, kadang pemujaan Parsi. Dan ia menyimpulkan bahwa “pengalaman terakhir”, the ultimate experience yang ia peroleh sama sekali tidak berbeda – persis sama!&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Demikian tulisan seorang awam berdasar referensi yang diperoleh dari internet, semoga menjadi pemicu bagi para sejarawan untuk meneliti kebenaran yang ada dibaliknya.</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Januari 2012</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2667/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2667&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/26/nyai-lara-kidul-laut-selatan-candi-kalasan-indonesia-dan-dewi-tara-tibet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/ratu-kidul-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ratu kidul 3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/candi-kalasan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">candi kalasan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/dewi-tara-tibet.jpg?w=190" medium="image">
			<media:title type="html">dewi tara tibet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencermati Perubahan Karakter Legenda Dewi Feminin Durga Menjadi Bathari Maskulin Ganas Durga</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/23/mencermati-perubahan-karakter-legenda-dewi-feminin-durga-menjadi-bathari-maskulin-ganas-durga/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/23/mencermati-perubahan-karakter-legenda-dewi-feminin-durga-menjadi-bathari-maskulin-ganas-durga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 21:28:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Durga]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2657</guid>
		<description><![CDATA[Membaca artikel The Goddess Durga– in the East-Javanese Period, HARIANI SANTIKO, Universitas Indonesia, Jakarta yang membahas perubahan persepsi dari Dewi Durga di Jawa pada abad 10 ke Bathari Durga pada abad 15, kita bertanya-tanya apakah latarbelakang dari perubahan karakter Dewi Durga tersebut? Dari persepsi awal sebagai seorang dewi yang baik, pembunuh asura jahat Mahisasura (Durga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2657&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga_loro_jonggrang_copy.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2658" title="Durga_Loro_Jonggrang_copy" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga_loro_jonggrang_copy.jpg?w=198&#038;h=300" alt="" width="198" height="300" /></a><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga-relief-2-candi-sukuh.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2659" title="durga Relief 2 Candi Sukuh" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga-relief-2-candi-sukuh.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Membaca artikel The Goddess Durga– in the East-Javanese Period, HARIANI SANTIKO, Universitas Indonesia, Jakarta yang membahas perubahan persepsi dari Dewi Durga di Jawa pada abad 10 ke Bathari Durga pada abad 15, kita bertanya-tanya apakah latarbelakang dari perubahan karakter Dewi Durga tersebut? Dari persepsi awal sebagai seorang dewi yang baik, pembunuh asura jahat Mahisasura (Durga Mahisasuramardini) dan pelindung kesejahteraan dan kesuburan, ke Bathari dengan wajah yang menakutkan dan kecenderungan untuk berbuat jahat yang dipuja para pengikut aliran hitam. Apakah ini sebuah pembunuhan karakter?</p>
<p>Sering disebutkan bahwa energi atau daya gerak itu berasal dari feminin, itulah sebabnya energi disebut Shakti. Tanpa energi, manusia hanya berupa jasad atau mayat. Dewi Durga adalah Shaktinya ShIva. Oleh karena itu “ShIva” ditulis dengan I besar, tanpa I besar (yang bermakna energi) ShIva akan menjadi Shava atau mayat. Seorang ayah bisa memberikan warisan genetik seorang yang cerdas kepada anaknya, tetapi tanpa energi sang ibu anaknya tidak akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam kisah Bharatayuda Arjuna disebut putera Kunti.</p>
<p>Sekarang kita memahami bahwa pada saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”. Yang menggerakkan manusia adalah Shakti yang berasal dari seorang ibu.</p>
<p>Tanpa energi/shakti manusia hanya merupakan jasad. Dan Dewi Durga adalah simbol dari kekuatan shakti awal mula atau adishakti. Matahari bersinar menghidupi manusia di bumi, akan tetapi shakti adalah energi yang membuat matahari bersinar. Shakti ada dalam setiap makhluk hidup.</p>
<p>Dewi Durga adalah kekuatan/energi feminin yang dipuja oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Kahuripan 1009-1042. Kemudian Raja Kertanegara dari Kerajaan Sighasari  juga memuja Kekuatan Feminin Dewi Chamundi salah satu nama dari shakti Shiva. Akan tetapi pada abad 15 ditulislah beberapa kitab antara lain Tantu Panggelaran,  Sudamala, Kidung Sri Tanjung, Korawasrama yang menggambarkan Bathari Durga sebagai Dewi yang berpenampilan mengerikan yang merupakan istri Shiwa yang dikutuk karena berbuat salah. Bahkan Hikayat calon Arang yang menceritakan tentang pemujaan Bathari Durga sebagai kekuatan jahat juga ditulis pada abad ke 16. Pada hal kisah Calon Arang menceritakan tentang Raja Erlangga yang memerintah pada abad 11, bahkan Erlangga sendiri adalah sebagai pemuja Kekuatan feminin Dewi Durga.</p>
<p>Kisah yang dibuat pada abad 15 tersebut ditatahkan pada relief dinding Candi Tegawangi , Candi Sukuh dan Candi Penataran. Sejarawan Soedarmono dari Surakarta pernah menyampaikan bahwa  relief yang di dinding bangunan baru Candi Sukuh tidak sama dengan bangunan utama Candi Sukuh yang berbentuk Piramid terpotong yang usianya jauh lebih tua. Patung Dewi Durga Mahisasuramardini antara lain terdapat di Candi Prambanan, Candi Singhasari, Candi Badhut.<span id="more-2657"></span></p>
<p>Karakter Dewi Durga dari simbol feminin shakti pemberantas kejahatan di abad ke 11 telah terhapus dalam ingatan masyarakat Jawa dan telah tergantikan oleh penampilan Bathari Durga yang ganas dan mengerikan. Sifat feminin dari Durga yang keibuan melindungi semua pemujanya dengan lembut dan pengasih telah digantikan dengan sifat maskulin seorang dewi yang ganas pemangsa manusia dan dipuja oleh pelaku ilmu hitam.</p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga21.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2660" title="durga21" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga21.jpg?w=217&#038;h=300" alt="" width="217" height="300" /></a></p>
<p>Kita paham bahwa sifat keilahian bisa diwakili oleh sifat maskulin seperti Maha Pemaksa, Maha Kuat, Maha Penyiksa dan Maha Penguasa. Akan tetapi sifat keilahian juga bisa diwakili sifat feminin seperti  Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Maaf, Maha bijaksana. Mereka pemuja keilahian  yang bersifat maskulin akan mempunyai ciri aktif, progresif, mandiri dan dominan, sedangkan pemuja keilahian bersifat femininmempunyai sifat pasrah, berserah diri dan penuh kasih. Pasrah jangan diartikan mudah menyerah, akan tetapi menerima apa pun yang harus dihadapi. Pasrahnya Arjuna kepada Sri Krishna berarti Arjuna berperang melawan Korawa dan tidak melarikan diri atau takluk kepada adharma. Mpu Kanwa menulis Kakawin Arjuna Wiwaha pada awal abad 11 diperuntukkan bagi Sri Baginda Prabu Erlangga. Tulisan yang sangat halus dan penuh nasehat ini layaknya seperti ketika Sri Krishna memberi pelajaran kepada Arjuna dalam Bhagavad Gita. Pemahaman Kakawin Arjunawiwaha itu sangat penting sebagai persiapan Sang Prabu Airlangga yang berusaha mempersatukan Jawadwipa. Karena itu di dalam karya agung ini, pemeran utamanya bukan Dewa, tetapi Ksatria Arjuna sebagai gambaran Sang Prabu Erlangga sendiri.</p>
<p>Dari internet kita membaca bahwa Legenda Calon Arang ditulis pada pada Tahun Saka 1462. <a href="http://katawaktu.multiply.com/photos/album/235/Calonarang_at_Bentara_Budaya_Jakarta?&amp;show_interstitial=1&amp;u=%2Fphotos%2Falbum">http://katawaktu.multiply.com/photos/album/235/Calonarang_at_Bentara_Budaya_Jakarta?&amp;show_interstitial=1&amp;u=%2Fphotos%2Falbum</a></p>
<p>Kita dapat mencari korelasi tahun Masehi dari Tahun Saka 1462. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa&#8230;&#8230; Tahun 1625 M adalah tahun Saka 1547.</p>
<p>Penulisan Kisah Calon Arang adalah pada tahun Saka 1462 adalah 85 tahun sebelum tahun Saka  1547 atau 85 tahun dari tahun 1625 M atausekitar tahun 1540 M atau abad 16. Pada saat Calon Arang ditulis Majapahit telah runtuh dan bukan pula ditulis pada zaman Erlangga (abad 11).</p>
<p>Demikian tulisan seorang awam berdasar referensi yang diperoleh dari internet, semoga menjadi pemicu bagi para sejarawan untuk meneliti kebenaran yang ada dibaliknya.</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Januari 2012</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2657/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2657/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2657&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/23/mencermati-perubahan-karakter-legenda-dewi-feminin-durga-menjadi-bathari-maskulin-ganas-durga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga_loro_jonggrang_copy.jpg?w=198" medium="image">
			<media:title type="html">Durga_Loro_Jonggrang_copy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga-relief-2-candi-sukuh.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">durga Relief 2 Candi Sukuh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/durga21.jpg?w=217" medium="image">
			<media:title type="html">durga21</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Masa Kini Tentang Kisah Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Dan Kisah Masyarakat Dalam Zaman Edan</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/18/makna-masa-kini-tentang-kisah-nabi-yunus-dalam-perut-ikan-dan-kisah-masyarakat-dalam-zaman-edan/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/18/makna-masa-kini-tentang-kisah-nabi-yunus-dalam-perut-ikan-dan-kisah-masyarakat-dalam-zaman-edan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 09:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2651</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Nabi Yunus ada dalam berbagai agama. Banyak versi kisah maupun pembahasannya, akan tetapi semestinya esensinya adalah satu jua. Pedoman “Bhinneka Tunggal Ika” digunakan dalam mencari esensi dari banyak versi kisah yang berbeda-beda.  Pada masa kini, para pengguna internet telah mendapatkan kebebasan untuk membaca berbagai versi kisah tersebut dan dengan demikian telah memperkaya wawasan mereka, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2651&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/nabi-yunus2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2653" title="nabi-yunus2" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/nabi-yunus2.jpg?w=300&#038;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Kisah Nabi Yunus ada dalam berbagai agama. Banyak versi kisah maupun pembahasannya, akan tetapi semestinya esensinya adalah satu jua. Pedoman “Bhinneka Tunggal Ika” digunakan dalam mencari esensi dari banyak versi kisah yang berbeda-beda.  Pada masa kini, para pengguna internet telah mendapatkan kebebasan untuk membaca berbagai versi kisah tersebut dan dengan demikian telah memperkaya wawasan mereka, kala mendalami kisah tersebut. Wikipedia menyebutkan bahwa Nabi Yunus, Yunus (Arab), Jonah ( Inggris), Yonah (Ibrani), Ionas (Latin) (sekitar 750 SM) adalah salah nabi yang dikenal dalam berbagai agama. Sudah semestinya Kisah Nabi Yunus mempunyai esensi yang sama bagi berbagai agama. Dalam Al Qur’an Surah Yunus, dikisahkan tentang Nabi Yunus AS dan pengikut-pengikutnya yang teguh imannya. Dalam Alkitab ada Kitab Yunus, yang mengisahkan pengalaman Nabi Yunus, ketika ia mencoba menghindari perintah Tuhan. Nabi Yunus adalah Utusan Ilahi bagi orang Ninawa/Niniweh/Ninevites di daerah Irak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berulang kali Nabi Yunus memperingatkan mereka yang tengah tenggelam dalam perbuatan adharma, tetapi mereka tidak mau berubah, apalagi karena Nabi Yunus bukan dari kaum mereka. Setiap kali adharma merajalela akan ada “Utusan” yang memperingatkan agar masyarakat kembali ke jalan yang benar. Kita juga mengerti bahwa banyak “Utusan” yang bukan penduduk setempat.  Konon Adi Shankara lahir di Kerala (kebanyakan masyarakat bergenetik Melayu atau Malayalam; Nabi Musa konon juga bergenetik Yahudi walau menjadi putra raja Mesir, sehingga bangsa Yahudi saat itu tidak mengetahui bahwa Musa sebangsa dengan mereka; Tokoh Hanuman adalah “Utusan” yang bergenetik “kera” bagi para raksasa yang tinggal di Alengka. Sri Krishna adalah “Utusan” bagi masyarakat adharma Korawa sebelum perang Bharatayuda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Para “Utusan” adalah pembaharu sehingga menyampaikan hal yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat. Nabi Yunus berkata: “Aku hanya mengajakmu beriman dan bertauhid (advaitha/non-dualitas) sesuai dengan amanah Allah yang wajib kusampaikan padamu. Aku hanyalah pesuruh Allah yang ditugaskan mengeluarkanmu dari kesesatan dan menuntunmu di jalan yang lurus. Aku sekali-kali tidak mengharapkan upah atas apa yang kukerjakan ini (berkarya tanpa pamrih/karma yoga). Aku tidak bisa memaksamu mengikutiku. Namun jika kamu tetap bertahan pada kebiasaanmu itu, maka Allah akan menunjukkan tanda-tanda kebenaran akan kata-kataku dengan menurunkan azab yang pedih padamu, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum kamu, yaitu kaum Nuh, Aad, dan Tsamud. Masyarakat menjawab dengan menantang: “Kami tetap tidak akan mengikuti kemauanmu dan tidak takut ancamanmu. Tunjukkan ancamanmu jika kamu termasuk orang yang benar!&#8221; Nabi Yunus tidak tahan lagi dengan kaum Ninawa yang keras kepala. Ia pergi dengan marah dan jengkel sambil meminta Allah menghukum mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepeninggal Nabi Yunus, kaum Ninawa sangat gundah, karena mendung sangat pekat, binatang peliharaan sangat gelisah, dan suara angin bergemuruh. Mereka takut ancaman Yunus benar-benar akan terjadi pada mereka. Akhirnya mereka sadar bahwa Nabi Yunus adalah orang yang benar. Mereka kemudian beriman dan menyesali perbuatan mereka terhadap Yunus. Mereka lari tunggang langgang dari kota mencari Nabi Yunus sambil memohon pengampunan Allah atas kesalahan mereka. Yang Maha Pemaaf-pun mengampuni mereka, dan segera seluruh keadaan pulih seperti sedia kala. Penduduk Ninawa kemudian tetap berusaha mencari Nabi Yunus agar mereka bisa dituntun di jalan yang benar. Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar dan selamat dari bencana alam yang menghampiri mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disebutkan ada makna empat tangan Wisnu sebagai kekuatan pemelihara alam. Empat tangan Wisnu dapat dimaknai sebagai peringatan Yang Maha Kuasa terhadap manusia. Tangan pertama Wisnu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka dimaknai sedang memberi berkah sekaligus memaafkan. Kesalahan awal manusia dimaafkan-Nya, apabila kita segera bertaubat.  Tangan kedua memegang terompet dari kulit kerang, perbuatan salah yang dilakukan terus menerus, diperingatkan-Nya dengan teguran suara yang keras. Tangan ketiga memegang chakra, Keberadaan masih juga memberi waktu untuk bertaubat. Dan, begitu seseorang masih nekat melakukan kesalahan, maka dia akan dihantam gada Wisnu yang dipegang oleh tangan keempatnya.<span id="more-2651"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beruntunglah masyarakat Ninawa yang sadar sehingga selamat setelah mendengar “terompet kerang peringatan yang diberikan Sang Pemelihara Alam” sehingga gada Wisnu tak jadi bekerja. Setelah meninggalkan masyarakat Ninawa, Nabi Yunus pergi ke pantai dan ikut kapal berlayar saat badai dan mendung memenuhi langit. Di tengah samudera, para awak kapal sepakat mengurangi beban dengan membuang salah seorang penumpang dan dari tiga kali undian nama Yunus selalu muncul sehingga Nabi Yunus harus dibuang ke samudera. Nabi Yunus sadar bahwa kehendak-Nya pasti terjadi. Sebuah ikan paus kemudian menelan Nabi Yunus yang terombang-ambing di samudera. Nabi Yunus berdoa dalam perut ikan paus sampai ikan tersebut memuntahkan Nabi Yunus di pantai. Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus bukanlah Nabi Yunus yang lama. Ini adalah Nabi Yunus yang telah dibersihkan/dipurifikasi. Semestinya Nabi Yunus berpuasa di dalam perut ikan dan hanya minum air yang masuk kedalam perut ikan. Nabi Yunus pasrah pada Yang Maha Kuasa. Demikian pula Gusti Yesus pernah dicoba oleh iblis di padang pasir dan tetap berpuasa selama 40 hari, tetap pasrah dan tetap beriman kepada Yang Maha Kuasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibarat memasuki perangkap yang tidak diketahui bagaimana jalan keluarnya, para suci pasrah dan “trust” kepada Yang Maha Kuasa. Seharusnya demikian pula kita yang berada dalam masyarakat yang kacau, membingungkan, serba salah atau”zaman edan” menurut pujangga Ronggowarsito dan kita tidak tahu bagaimana akhir ceritanya. Meneladani para suci semestinya kita tetap pasrah dan trust pada yang maha kuasa. Pasrah atau “nrimo” bukan berarti putus asa, tetapi pasrah dengan “challenge”, menghadapi apa pun yang harus dihadapi. Kepasrahan atau “nrimo”-nya Arjuna kepada Sri Krishna bukan berarti dia meninggalkan peperangan, akan tetapi menerima peperangan yang tak dapat dihindarinya demi penegakan dharma. Arjuna tidak tahu dia akan mati atau tidak dalam perjuangannya. Sri Krishna hanya menasehati, bila kalah dan mati Arjuna akan dikenang sebagai seorang kesatria, sedangkan bila hidup dan melarikan diri Arjuna akan dikenang sebagai pengecut sepanjang masa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam Alkitab (Lukas 11:29-32) disampaikan&#8230;&#8230; Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: &#8220;Generasi ini adalah generasi yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti <strong>Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk generasi ini.</strong> Pada waktu penghakiman, Ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari generasi ini dan Dia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo (Nabi Sulaiman), dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!&#8221;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Generasi saat ini mengacu pada kelompok masyarakat yang pada saat ini kondisinya pun tidak banyak berbeda. Generasi “jahat” menurut Alkitab, “maksiat” menurut Al Qur’an yang maknanya sama dengan “adharma”. Tanda Nabi Yunus bisa dimaknai Yunus yang telah berbeda saat keluar dari ikan paus. Tanda anak manusia untuk generasi ini. Mungkin itu adalah saat Nabi Muhammad SAW bersaksi bahwa tak ada yang lain kecuali Allah, saat Gusti Yesus mengatakan bahwa Bapa dan Aku adalah satu adanya, saat seseorang menyadari siapa jatidirinya. Saat orang sadar bahwa rumahku bukan aku. Aku terpisah dari rumah. Analog dengan pikiranku bukan aku, perasaanku bukan aku. Dan persepsi tentang aku atau “self” tergantung tingkat kesadaran seseorang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam buku “<strong>Shri Sai Sat Charita</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Badan ini ibarat kereta. Kesadaran Diri, ‘Aku Sejati’, ‘Self’, ‘Atma’ adalah pemilik kereta. Intelejensia adalah sais kereta. Mind atau pikiran adalah tali pengendali. Kelima indera adalah kuda yang menarik kereta. Pemicu di luar adalah jalan yang dilewati kereta ini. Pikiran yang lemah, atau kacau membuat kelima indera lepas kendali, dan kecelakaan pun tak terhindari lagi. Bagaimana bisa mencapai tujuan? Karena kecelakaan-kecelakaan yang terjadi inilah, maka ‘aku’ atau atma mesti berulangkali mengalami kelahiran dan kematian. Dan, tidak mencapai tujuannya. Tapi, jika intelejensia mengendalikan pikiran, dan pikiran mengendalikan kelima indera, maka badan ini akan mengantar kita kepada tujuan, yaitu penemuan jatidiri. Itulah Kesadaran Ilahi, itulah Brahma Gyaan………</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam buku “<strong>Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi seseorang yang berkesadaran murni, dia hanya menjalankan Kehendak-Nya dan tidak mengikuti kehendak pikiran pribadinya. Istilah Anak Manusia dalam alkitab bisa berarti manusia yang telah mencapai kesadaran murni. Sehingga apa yang dikatakan adalah ucapan-Nya, dan dia menjadi tangan-Nya, menjadi alat-Nya. Ketika Rasul Paulus berkata bahwa Yesus hadir di dunia sekarang ini. Dia hadir dalam tubuh-Nya. Kitalah tubuh-Nya itu. Rasul Paulus berkata, &#8220;Kristus ada di dalam kamu&#8221;. Kita, adalah perwujudan dari Kristus di tengah dunia sekarang ini. Saat orang-orang melihat kita, mereka seharusnya melihat Yesus. Dengan cara itulah dunia bisa mengenal Dia. Mereka mengenal Dia melalui manusia yang telah mencapai kesadaran murni. Begitulah cara manusia untuk bisa melihat Dia. Itulah makna kelahiran kembali bahwa seseorang sudah pasrah pada-Nya, mengikuti kehendak-Nya, menjalankan apa yang dikehendaki-Nya. Orang-orang yang telah mencapai kesadaran murni , adalah orang-orang yang melihat Dia yang berada di Timur, di Barat dan dimana-mana. Tanda nabi Yunus adalah kebangkitan manusia yang telah mencapai kesadaran murni.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Siapakah kita ini dalam kisah Nabi Yunus tersebut? Mungkin kita menjadi orang-orang Ninawa yang berkubang dalam adharma dan menolak peringatan ilahi. Ataukah kita menjadi masyarakat Ninawa yang sudah sadar dan mengikuti jejak Nabi Yunus, orang yang telah mencapai kesadaran murni. Mungkin juga kita menjadi Nabi Yunus kala bersemangat menyadarkan masyarakat. Atau kita menjadi nabi Yunus yang melarikan diri setelah mengutuk masyarakat yang tetap memilih berkubang dalam adharma. Ataukah kita menjadi nabi Yunus yang yakin akan kehendak-Nya karena tiga kali undian dan tetap saja namanya yang keluar sehingga dia dibuang ke samudera. Atau sudahkah kita dalam kesadaran, pasrah kepada kehendak-Nya seperti Nabi Yunus sewaktu dalam perut ikan. Atau seperti Nabi Yunus yang telah lahir kembali&#8230;&#8230; segala sesuatunya perlu perjuangan dan pemandu ilahi yang handal dalam memberi panduan menuju tujuan&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Dan ada lagi program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Januari 2012</strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2652" title="promosi elearning oneearthcollege" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege1.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2651&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/18/makna-masa-kini-tentang-kisah-nabi-yunus-dalam-perut-ikan-dan-kisah-masyarakat-dalam-zaman-edan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/nabi-yunus2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nabi-yunus2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege1.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">promosi elearning oneearthcollege</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memelihara Nyala Semangat Agar Tidak Bekerja Hangat-Hangat Tahi Ayam</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/07/memelihara-nyala-semangat-agar-tidak-bekerja-hangat-hangat-tahi-ayam/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/07/memelihara-nyala-semangat-agar-tidak-bekerja-hangat-hangat-tahi-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 21:27:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2645</guid>
		<description><![CDATA[Belum genap seminggu tahun 2011 kita tinggalkan dan berita hingar bingar di akhir tahun masih dapat kita baca di arsip berita, akan tetapi sudah tak ada seorang pun yang membicarakannya. Kita sudah lupa masalah seminggu yang lalu, padahal dari segi keuangan pengaruhnya masih terasa ke neraca ekonomi rumah tangga beberapa bulan ke depan. Melupakan masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2645&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/patung-semangat.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2646" title="patung semangat" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/patung-semangat.jpg?w=300&#038;h=293" alt="" width="300" height="293" /></a></p>
<p>Belum genap seminggu tahun 2011 kita tinggalkan dan berita hingar bingar di akhir tahun masih dapat kita baca di arsip berita, akan tetapi sudah tak ada seorang pun yang membicarakannya. Kita sudah lupa masalah seminggu yang lalu, padahal dari segi keuangan pengaruhnya masih terasa ke neraca ekonomi rumah tangga beberapa bulan ke depan. Melupakan masa lalu baik, agar kita bisa terfokus pada apa yang dihadapi saat ini, akan tetapi kita harus mendapatkan pelajaran dari tindakan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan lama di masa mendatang. Bagaimana pun juga komitmen kerja keras, berbuat baik harus tetap diingat dan diimplementasikan serta tidak ikut terlupakan. Kita bisa melihat janji-janji para pemimpin sebelum pemilu yang terlupakan, seperti kita juga perlu merenungi komitmen-komitmen perbaikan kualitas diri yang juga terabaikan&#8230;&#8230;.. Kita lupa bahwa bila kita tidak belajar dari  pengalaman, maka kita akan terpaksa mengulanginya di masa depan. Filsuf George Santayana berkata, &#8220;Mereka yang tidak dapat belajar dari sejarah dikutuk untuk mengulanginya.” Apakah bangsa kita mudah melupakan sejarah dan mengulangi peristiwa yang hampir sama berkali-kali? Apakah kita hanya ingat fakta-fakta tentang sejarah dan tidak belajar sejarah? Sejarawan Arnold Toynbee menegaskan tentang perlunya kita Belajar Dari Sejarah, dan tidak sekedar mempelajari fakta-fakta sejarah. Demikian pula secara individual kita perlu belajar dari sejarah pengalaman pribadi, agar kita tahu potensi yang ada dalam diri dan kita bisa memberdayakan diri sendiri&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Di akhir tahun, kita melihat antrean mobil di pusat keramaian, penuhnya tempat parkir di hotel dan mall, ramainya penerbangan domestik dan internasional serta pesta kembang api di berbagai kota besar di Indonesia, rasanya negara kita sudah sejahtera dan tak banyak masalah yang membelit bangsanya&#8230;&#8230;.. Melihat artikel di media televisi dan koran saat itu, diri kita ikut terseret kesenangan sesaat dan lupa masalah kemiskinan di berbagai daerah, lupa masalah kekerasan yang tengah melanda negeri. Kita mudah lupa walau untuk sejenak saja&#8230;&#8230;&#8230;.. Semangat konsumtivisme, hedonisme, materi dan duniawi, menguasai kehidupan. Televisi mengajarkan setiap hari bagaimana menikmati hidup modern ini, entah dari mana mendapatkan uangnya. Kita bersenang-senang, seolah-olah telah mencapai kesuksesan seperti China, Jepang, dan Singapura. Kita ingin segera menikmati segala sesuatu secara instan tanpa menghiraukan prosesnya. Kita tidak pernah sadar bahwa kita menikmati mobil, pakaian, peralatan rumah tangga, hp, laptop, padahal yang memproses bukan bangsa sendiri. Kita tidak sadar bahwa kenikmatan yang kita rasakan dilakukan dengan cara membayar harga proses yang dilakukan bangsa lain.</p>
<p>Banyak para pemimpin bangsa dan tokoh masyarakat yang meneriakkan semangat baru di tahun baru, salah seorang petinggi negara berkata: “Username dan pasword kita hanya kerja, kerja dan kerja.” Seorang pengusaha kaya yang seniman memberi semangat: “Saya ingin tetap berjuang, lebih baik mati sambil teriak daripada mati menua dan pikun.” Mungkin bagi sedikit orang, mereka bisa melakukan dengan konsisten antara semangat dan praktek di kehidupan nyata&#8230;.. Akan tetapi banyak dari kita yang berjanji untuk melakukan kebaikan di tahun baru&#8230;&#8230; tetapi banyak juga yang skeptis&#8230;.. biasa kita itu bangsa yang hangat-hangat tahi ayam&#8230;. Demikian penilaian sebagian masyarakat terhadap karakter bangsa kita sendiri&#8230;&#8230; Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya pada permulaan.  Lama kelamaan melempem karena tidak tahan berjuang lama. Semangat hanya selagi di depan, sebentar juga adem dengan sendirinya&#8230;&#8230;. hangat-hangat tahi ayam&#8230;&#8230;.. Seminggu setelah semangat yang menggebu-gebu saja sudah bekerja “as usual”&#8230;&#8230;<br />
<span id="more-2645"></span></p>
<p>Kita perhatikan catatan media bangsa kita sangat ribut kala terjadi suatu peristiwa. Semua orang mengemukakan pendapatnya dari ruang sidang pejabat sampai kursi warteg tenda di tepi jalan. Kebanyakan tidak suka kalau pendapatnya dibantah. Apakah semangat baru tersebut bisa konsisten sampai bulan Desember 2012 atau gembos di bulan Februari. Budayawan Yakob Sumardjo punya pendapat mengapa bangsa ini mudah terbakar sesaat?&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Mengapa kita menyukai hangatnya tahi ayam? Suatu persoalan belum selesai diceritakan, sudah beralih pada cerita yang lain. Ini tak lain karena bangsa ini masih hidup dalam kebudayaan lisan. Kita ini belum memasuki periode bangsa literer, bangsa suka membaca. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih mengandalkan epistimologi pengetahuannya, kesadarannya, dari mendengar sampai menonton. Bangsa dengan budaya lisan yang menonjol&#8230;&#8230;&#8230;.. Budaya lisan itu terbatas ruang cakrawalanya, yakni hanya mengenal dimensi ruang dan waktu sesaat. Sikap hidup semacam ini menggantungkan diri pada kesadaran kolektif, bukan solidaritas umum yang universal. Perspektif pandangannya pendek saja, yakni yang terindera. Peristiwa dilihat sebagai peristiwa inderawi. Dia lupa masalah yang panas sehingga menjadi dingin dengan cepat&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;.Budaya ini berbeda dengan mereka yang literer. Manusia literer mampu berpikir abstrak, melihat substansi peristiwa. Cakap dalam melihat hubungan-hubungan peristiwa dalam struktur yang tetap. Orang begini tidak mudah dihasut, karena tidak melihat berdasarkan inderawinya tetapi akal budinya. Mereka mampu mengambil jarak dengan segala sesuatu di luar dirinya. Segala sesuatu dilihat obyektif apa adanya, dan bukan bagaimana nampaknya. Orang-orang ini kritis, berbuat setelah matang pemikirannya karena ia melihat perspektif kemungkinan-kemungkinannya&#8230;&#8230;&#8230;. Manusia lisan mengandalkan kesadarannya diisi oleh radio dan televisi, mengobrol, gosip, SMS, pidato, koran kuning, tabloid, dan gurauan-gurauan. Semua ini gejala-gejala permukaan yang diangkat menjadi persoalan substansial&#8230;&#8230;. Di kampus-kampus, ada saja sebagian mahasiswa cukup menyelipkan selembar buku catatan di saku belakang celananya. Mereka alergi terhadap buku-buku tebal sehingga tak pernah menyentuhnya, apalagi membacanya. Perpustakaan kampus sepi pengunjung, juga dari dosen-dosennya. Komik tebal dan tabloid laku dimana-mana. Bacaan wajib pun malas membelinya. Acara favorit mereka kalau bukan kriminal ya celoteh kaum selebriti. Orang-orang literer menurut hasil penelitian Kooyman di tahun 1970 di Indonesia hanya 2 % saja dari sekitar 100 juta orang dewasa. Sekarang paling banyak 30 % demikian pandangan budayawan Yakob Sumardjo.</p>
<p>Kita telah melupakan ajakan para leluhur. Nenek-moyang kita anggap bodoh dan ketinggalan zaman. Padahal mereka mengutamakan laku, proses. Ngelmu itu harus dilaksanakan dengan laku, tindakan nyata. Kita tergoda untuk masuk jalur instan. Nafsu memetik kenikmatan dengan cara singkat. Padahal kehidupan itu merupakan proses dari laku, dari kerja. Semua produk itu ada prosesnya. Kita bangga mengkonsumsi produk dari proses bangsa lain. Apakah kembang api yang kita nikmati, mobil mewah yang di parkir di hotel berbintang, HP canggih yang menghubungkan relasi kita buatan putra-putri bangsa sendiri?</p>
<p>Tanpa terasa kita telah mengalami ketergantungan pada produk-produk luar. Kita terbiasa dilayani. Apalagi bila sudah tersentuh gengsi, lupa bahwa memakai produk sendiri berarti memberi kesempatan putra-putri bangsa berpartisipasi dalam proses pembuatan produk. Tanpa sadar kita telah terjerumus untuk menggunakan naluri untuk menikmati tanpa peduli prosesnya menguntungkan bangsa atau tidak. Dalam buku “<strong>Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Hewan tidak membutuhkan pendidikan, kecuali bila Anda ingin memaksakan kebiasaan-kebiasaan lain terhadapnya. Kebiasaan-kebiasaan yang tidak natural, tidak alami baginya. Untuk segala sesuatu yang alami baginya, seekor anak hewan tidak membutuhkan pendidikan. Nalarnya sudah cukup. Ia tinggal menggunakan nalarnya&#8230;&#8230;&#8230; Anak manusia  tidak hanya membutuhkan pendidikan, tapi juga perawatan dan pemeliharaan fisik, mental, emosional&#8230;&#8230;. Setiap lapisan kesadaran di dalam diri manusia perlu dirawat dan dipelihara. Dengan cara apa mendidik anak manusia, merawat serta memelihara kesadarannya? Dengan cara “membangkitkan semangat” dalam dirinya; dengan cara memberdayakan dirinya semangat, energi, atau apa pun sebutannya, tidak dapat diperoleh lewat motivasi dari luar. Motivasi pun harus datang dari dalam diri sendiri. Kita harus mampu memotivasi diri sendiri&#8230;&#8230;&#8230;. Sungguh mudah “memperoleh” motivasi dari luar. Tinggal membayar sejumlah uang, menghadiri seminar, atau bahkan cukup dengan membaca salah satu di antara sekian banyak buku yang ditawarkan. Namun, motivasi yang gampang diperoleh itu jga gampang lenyap tanpa bekas. Tetaplah memberdayakan diri dengan motivasi dari dalam diri sendiri untuk melanjutkan perjalanan ini&#8230;&#8230;&#8230;. Mulailah dari saat ini. Janganlah menunda memotivasi diri. peringatan-peringatan persuasif seperti inilah yang dapat mendidik seorang anak. Jangan membebani mereka dengan segudang buku dan peraturan. Semua itu hanya akan melemahkan jiwa mereka. biarlah jiwa mereka bebas untuk berkembang, mengikuti potensi yang sudah ada di dalam diri mereka. kita cukup mengingatkan anak-anak kita: “Berkembanglah! Karena, perkembanganitulah kehidupan.”</p>
<p>Program-program Neo Self Empowerment yang dikelola oleh Yayasan Anand Ashram Center for Holistic Health and Meditation (<a href="http://www.anandashram.or.id/">http://www.anandashram.or.id/</a>) memberikan pengalaman dan pelatihan untuk merasakan sendiri betapa luar biasanya potensi yang terpendam dalam diri setiap orang.</p>
<p>Program-program di Neo Self Empowerment membuat kita bangun, bangkit, menyadari potensi luar biasa yang selama ini terpendam, tersembunyikan atau memang sengaja oleh orang-orang tertentu, lingkungan, keluarga atau bahkan kita sendiri tidak diberdayakan. Banyak sudah seminar motivasi yang mungkin sudah kita ikuti, tetapi mungkin setelah itu kita tidak percaya diri kembali. Kita menjadi tidak berdaya lagi. Itu karena kita hanya mengurus lapisan pengetahuan saja. Kita tahu, tetapi tidak merasakan potensi tersebut. kita harus mengalaminya sendiri, setelah itu semua akan datang dengan sendirinya. Ada beberapa program dari NSE yang ditawarkan sehingga kita mengalami potensi tersebut dan kemudian kita manfaatkan untuk berbagai hal seperti kesejahteraan, kesuksesan, kedamaian, dan kebahagiaan&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Kemudian ada program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based sehingga kita dapat bekerja tanpa pamrih pribadi. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda.</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Januari 2012</strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2647" title="promosi elearning oneearthcollege" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2645&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2012/01/07/memelihara-nyala-semangat-agar-tidak-bekerja-hangat-hangat-tahi-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/patung-semangat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">patung semangat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2012/01/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">promosi elearning oneearthcollege</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan Akhir Tahun: Menjadi Baru Di Tahun Baru</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/31/renungan-akhir-tahun-menjadi-baru-di-tahun-baru/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/31/renungan-akhir-tahun-menjadi-baru-di-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 23:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2635</guid>
		<description><![CDATA[Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan siklus matahari (kalender solar) dan gerakan siklus bulan (kalender lunar). Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan putaran bulan mengelilingi bumi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2635&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/selamattahunbaru1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2638" title="SelamatTahunBaru" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/selamattahunbaru1.jpg?w=300&#038;h=252" alt="" width="300" height="252" /></a></p>
<p>Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan siklus matahari (kalender solar) dan gerakan siklus bulan (kalender lunar). Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan putaran bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan putaran bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender diawali bulan Januari diakhiri bulan  Desember dan kemudian kembali ke Januari lagi. Demikian pula hari kerja, dimulai hari Senin sampai Minggu, dan kemudian kembali ke hari Senin lagi. Hari dimulai dari pagi sampai malam dan kembali pada pagi lagi. Demikianlah kehidupan ini merupakan suatu siklus&#8230;&#8230;&#8230;.. Akan tetapi Sang Kala tidak hanya bersifat siklus, tetapi juga bersifat maju. Kondisi bumi pada tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi akan berbeda dengan tanggal 1 Januari tahun 2012. Berapa banyak manusia yang telah didaur ulang Sang Kala? Berapa banyak peradaban yang lenyap dikubur Sang Kala? Sejarawan Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) mengemukakan teori siklus peradaban lahir-tumbuh-mandeg-punah. Manusia pun mengalami siklus lahir-tumbuh-mandeg-punah. Dan, apa yang dialami manusia tercatat dalam DNA, catatan sejarah genetiknya&#8230;&#8230;&#8230; Sel-sel dalam tubuh kita pun mengalami siklus. Misalnya sel-sel darah putih juga mengalami lahir dan hidup selama lebih-kurang 3 bulan dan bahkan apabila menghadapi musuh penyakit yang menyerang tubuh, mungkin dia akan mati lebih cepat. Setiap sel yang mati akan diganti sel yang baru. Dalam satu tahun sekitar 90% dari trilyunan sel tubuh kita sudah terbaharui. Perbaharuan adalah hal yang alami.</p>
<p>Bagaimana manusia menghadapi siklus tahunan? Seorang anak kelas 2 SD yang terpaksa tinggal kelas, maka dalam satu tahun berikutnya dia harus mengulangi semua mata pelajaran yang pernah diberikan kepadanya sampai dia naik kelas. Sudahkah kita selalu naik kelas baru setiap tahun? Atau masih mengulang di kelas yang lama? Ada seorang teman yang kecanduan merokok dan dia ingin melepaskan dari belenggu rokok tetapi tidak bisa. Bertahun-tahun dia lewati dan dia tidak lulus mata pelajaran melepaskan rokok. Dan, di tahun baru dia harus mengulangi mata pelajaran melepaskan diri dari kecanduan rokok. Demikian juga dengan kita, kita tahu kelemahan diri kita dan kita ingin berubah dan selama kita belum memperbaiki kelemahan tersebut, kita akan tinggal kelas dan harus belajar lagi cara memperbaiki kelemahan sampai lulus dan naik kelas. Sering sampai batas waktu kehidupan berakhir, kita belum juga lulus suatu mata pelajaran kehidupan. Dan bagi mereka yang mempercayai adanya kehidupan yang berupa siklus, maka dia harus belajar mata pelajaran yang sama lagi. Mereka yang percaya adanya siklus kehidupan yakin bahwa fisiklah yang mengalami kematian, akan tetapi pikiran tidak mati, dan perbaikan hanya dapat dilakukan selama seseorang hidup.</p>
<p>Terlalu lama mengulang pelajaran yang sama dapat menyebabkan kita terpola dengan kebiasaan tersebut dan semakin sulit melepaskan diri. Dalam buku “<strong>Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan</strong>”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan tentang terbentuknya synap baru akibat kebiasaan. Terbentuknya synap baru di otak, disebabkan oleh perhatian pada suatu rangsangan atau stimulus, dan pengulangan atau dimunculkannya stimulus tersebut berulang kali. Dalam diri manusia, synap-synap baru merupakan hasil “conditioning” oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, dan pengalaman pribadinya. Dengan begitu terbentuklah sirkuit synap-synap saraf yang lebih permanen, stabil, dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Ia diperbudak oleh “conditioning” tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Oleh karena itu ada nasehat untuk lebih baik “kuper” daripada salah gaul. Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika, oleh uang, atau dalam hal ini berselingkuh, mekanismenya sama : dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani semacam “sexual addict” persis sama dengan “narcotic drug addict”.<span id="more-2635"></span></p>
<p>Selanjutnya kita perlu memahami adanya hukum alam. Dalam buku “<strong>Total Success Meraih Keberhasilan Sejati</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2009 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230;. Alam berjalan dan bertindak sesuai dengan hukum yang sudah ditentukan. Penentunya siapa – silakan  Anda sendiri yang menentukan. Sebutlah Tuhan, Allah, Buddha, Bapa di Surga, Widhi, Tao, atau apa saja – Keberadaan atau Ketiadaan Abadi. Hukum Alam yang paling menonjol adalah:</p>
<p>Hukum Perubahan: Tak ada sesuatu pun yang tak berubah. Segalanya senantiasa berubah. Maka, bila kita tidak ikut berubah, sudah pasti sengsara sendiri. Hukum yang satu ini sangat erat kaitannya dengan Evolusi.</p>
<p>Hukum Evolusi: Kita semua sedang berkembang. Ya, kecepatan kita beda. Namun, perbedaan itu bukanlah karena pilih kasih oleh alam. Perbedaan itu disebabkan oleh kita juga.</p>
<p>Hukum Sebab Akibat: Ada aksi, ada reaksi. Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini adalah hukum fisika. Kita tak dapat mengelakkannya. Karena itu berbuatlah baik, agar hasilnya baik pula.</p>
<p>Dalam hal ini hendaknya kita selalu ingat bahwa alam tidak mengenal “plus-minus”. Setiap aksi yang bersifat “plus” atau baik akan membawa akibat baik. “Minus” atau jelek berakibat jelek pula. Jadi tidak ada hukum pencucian dosa&#8230;&#8230;.</p>
<p>Masalahnya adalah semua tindakan kita merupakan sebuah benih dan kita tidak tahu kapan panen dari hasil tanaman benih tersebut. Benih padi menunggu 3-4 bulan, benih mangga menunggu 5-6 tahun, benih pohon jati menunggu 25-50 tahun, sedangkan benih tindakan kita, kita tidak tahu kapan akan panennya. Yang jelas buah kebaikan/keburukan akan matang pada saatnya. Apa pun yang kita hadapi adalah hasil dari tindakan kita sebelumnya. Bila kita menyadari hal demikian maka kita bisa mulai hidup baru dengan penuh kesadaran tanpa mengeluh apa pun kejadian yang menimpa. Mulai saat ini kita selalu berbuat baik dan di masa depan kita akan selalu mengalami kebaikan. Dalam buku “<strong>The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230;. Kita memahami tanggung jawab kita atas setiap perbuatan, pikiran, dan ucapan kita. Kemudian, rasa tanggung jawab itu memisahkan diri kita dari masa lalu kita. Kita memulai lembaran baru. Inilah hidup baru, kehidupan baru. Yesus menyebutnya “kelahiran kembali”. Memang, sesungguhnya saat itulah : “kita” baru lahir. Saat itulah, kesadaran jiwa baru muncul, baru lahir&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Selanjutnya kita bisa belajar dari cara memasukkan batu, kerikil dan pasir ke dalam sebuah ember. Kita harus memulai memasukan batu-batu yang paling besar sampai satu ember penuh. Baru kemudian kerikil-kerikil kita masukan di antara rongga di antara batu-batu besar. Baru setelah itu pasir kita masukkan ke ember memenuhi rongga-rongga yang masih ada. Bila kita memenuhi pasir dulu satu ember penuh, tidak ada lagi tempat untuk batu dan kerikil. Demikian pula hidup ini, kita harus mengisinya dengan hal-hal yang utama yang merupakan prioritas lebih dahulu. Bila kita mengelola hal yang remeh-temeh  setiap saat, maka kita tidak dapat memperoleh apa yang seharusnya menjadi prioritas. Ada juga hukum pareto bahwa 20% hal pokok itu akan menghasilkan 80% hasil. 20% key person akan menghasilkan 80% keberhasilan.</p>
<p>Leluhur kita menasehati kita untuk memulainya dengan dharma. Seseorang harus tahu apa yang tepat, dan apa yang tidak tepat dilakukan. Dengan pemahaman semacam ini, seseorang harus memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dan keahlian untuk menjalankan bidang tindakan yang dipilih. “Dahulukan yang penting,” begitulah nasehat yang dipopulerkan Stephen Covey. Tanpa kebijaksanaan untuk memilah apa yang tepat dan apa yang tak tepat, kita tak dapat berhasil dalam hidup. Dan untuk mengembangkan kebijaksananaan semacam itu, sangatlah penting bahwa kita memiliki sebuah pikiran yang tajam dan kemauan untuk belajar. Kebijaksanaan ialah buah dari pembelajaran. Kita belajar dari buku. Kita juga belajar dari mengamati orang lain dan pengalaman hidup mereka. Yang terpenting, kita belajar dari pengalaman kita sendiri.</p>
<p>Dalam buku “<strong>Shri Sai Satcharita</strong>” disampaikan bahwa………. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda……..</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.</p>
<p>Seorang Guru menyuruh murid-muridnya menulis nama orang yang dibencinya pada sebutir apel. Bagi yang punya 2 orang yang dibenci, dia menulis nama mereka dalam 2 butir apel. Kemudian sang guru meminta para murid membawa butir apel tersebut kemana dia pergi, tidur pun harus di dekatnya. Dalam waktu beberapa hari semua murid mengeluh apelnya sudah busuk. Sang Guru berkata mengapa para murid membawa kebencian dalam hati, kebencian harus dibuang, karena akan membusuk di dalam diri dan tidak menyamankan diri.  Dalam buku “<strong>Bersama J.P Vaswani Hidup Damai &amp; Ceria</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan perihal Mukjizat Pemaafan&#8230;&#8230;&#8230;. Tanpa ia ketahui, seseorang yang tidak dapat mengendalikan amarah serta kebenciannya akan membahayakan dirinya sendiri. Seseorang yang dapat memaafkan akan memasuki kehidupan baru penuh dengan kedamaian. Memaafkan adalah sebuah hal yang mulia. Sebenarnya yang memaafkan justru mendapatkan imbalan. Pemaafan dapat mengatasi berbagai masalah dalam hidup kita. Amarah tidak bisa diatasi dengan amarah. Amarah hanya dapat diatasi dengan pemaafan. Keinginan untuk rukun dengan mereka yang tidak sepaham dengan kita merupakan hal yang penting. Yang perlu hanya keinginan, karena kerukunan itu sendiri merupakan suatu proses. Saya dapat memaafkan orang lain, namun saya tidak dapat memaksa orang lain untuk memaafkan saya. Pemaafan adalah suatu proses di mana kita menghapus kebencian terhadap orang lain. Seseorang yang tidak dapat memaafkan sebenarnya memusnahkan dirinya sendiri. Sebaliknya seseorang yang dapat memaafkan berada dalam kehidupan yang penuh dengan keberhasilan dan kedamaian. la memasuki kehidupan yang damai. Pemaafan bagaikan sebuah imbalan bagi yang memaafkan. Pemaafan bekerja bagaikan suatu mukjizat. Pemaafan dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan kita&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Selanjutnya kita perlu meneladani para leluhur yang bijak dan para sufi, dalam melakukan perjalanan kehidupan. Dalam buku “<strong>Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama,  2001 disebutkan bahwa&#8230;&#8230;&#8230;.. ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya.</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2012, semoga kita semua dapat memperbaharui diri, memperbaiki kelemahan kita dan menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran&#8230;&#8230;</p>
<p><strong>Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology </strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthcollege.com/"><strong>http://www.oneearthcollege.com/</strong></a><strong> </strong></p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Desember 2011</strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2636" title="promosi elearning oneearthcollege" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege4.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2635/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2635/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2635&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/31/renungan-akhir-tahun-menjadi-baru-di-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/selamattahunbaru1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SelamatTahunBaru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege4.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">promosi elearning oneearthcollege</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangan Yang Melayani Lebih Suci Dari Bibir Yang Berdoa</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/29/tangan-yang-melayani-lebih-suci-dari-bibir-yang-berdoa/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/29/tangan-yang-melayani-lebih-suci-dari-bibir-yang-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 08:03:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2627</guid>
		<description><![CDATA[Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi&#8230;&#8230;.. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya. Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2627&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/starving_children1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2629" title="starving_children" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/starving_children1.jpg?w=300&#038;h=197" alt="" width="300" height="197" /></a><br />
Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi&#8230;&#8230;.. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya.</p>
<p>Di pertengahan bulan Desember 2011 pada halaman FB Bapak Anand Krishna diunggah sebuah video bhajan dari Youtube, KABHI PYASE KO PANI PILAYA NAHIN. Ternyata makna dari bhajan tersebut sangat menyentuh hati&#8230;&#8230;&#8230; Intinya tangan yang melayani lebih suci dari bibir yang berdoa&#8230;&#8230;&#8230;. Ada beberapa bait yang terjemahan bebasnya sangat menyentuh hati&#8230;&#8230;&#8230; Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. Aku pergi ke sebuah pertemuan untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?&#8230;&#8230;&#8230;. Aku pergi untuk mandi pada sungai Gangga di Haridwar Kasi yang suci, sementara aku sedang mandi di sungai Gangga tiba-tiba aku berpikir, aku telah mencuci tubuhku tapi aku tidak mencuci jiwaku, lalu apa gunanya mandi di sungai suci Gangga?&#8230;&#8230;&#8230;. Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230;. Bagi seorang Sri Mangkunagoro, Ngelmu atau “ilmu” atau “pengetahuan” tidak berarti sama sekali, apa bila tidak dapat dipraktekkan dalam kehidupan yang nyata. Ngelmu kang nyata berarti suatu pengetahuan yang dapat dilakoni – suatu yang dapat dijadikan pedoman hidup. Ngelmu kang nyata berarti perlaku, tindakan, perbuatan seseorang yang sadar&#8230;&#8230;&#8230;. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan “ton” pengetahuan. “Sekilo” yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Untuk meningkatkan kesadaran kita perlu mempraktekkan pemahaman yang kita yakini kebenarannya. Pemahaman tersebut perlu dipraktekkan dan kemudian dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan. Dengan terbiasa mempraktekkan akan mengubah karakter kita, sehingga setelah itu kita akan melakukan tindakan berdasar pola pikiran dari karakter baru kita.</p>
<p>Pemahaman yang tidak dipraktekkan, seperti air yang tidak dibiarkan mengalir, akan menggenang dan membusuk. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan&#8230;&#8230;.. Di tengah angin kencang dan badai topan orang bijak menjaga dirinya, dan membantu orang lain. Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Itulah rahasia keberhasilan! Keahlian yang anda miliki dan ilmu pengetahuan yang anda kuasai harus dimanfaatkan, digunakan, diterapkan dalam hidup sehari-hari. Banyak di antara kita yang senang mengoleksi ilmu. Lalu, mereka juga senang memamerkan koleksi mereka. Diberi kesempatan untuk berbicara, mereka memang hebat! Tetapi hidup mereka masih hampa, masih amburadul. Keahlian dan ilmu yang mereka kuasai belum berhasil mengisi hidup mereka sendiri. Belum berhasil membenahi hidup mereka sendiri. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam hidup sehari-hari, tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran diri akan membusuk. Akan mengeluarkan bau tidak sedap&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<span id="more-2627"></span></p>
<p>Tindakan nyata memang lebih mulia daripada doa di bibir belaka. Berikut ini adalah kutipan dari buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011&#8230;&#8230;&#8230;.. “Hands that Help are Better than Lips that Pray”, “Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “&#8230;. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.” Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya. Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”&#8230;&#8230;&#8230;. Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapan-ungkapan yang mirip&#8230;&#8230;&#8230; Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan&#8230;&#8230;.. Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersama-sama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan!&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.</p>
<p>Naluri hewan yang masih ada dalam diri membuat kita hanya mementingkan diri pribadi tanpa peduli pada orang lain. Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap &#8220;cuwek&#8221; terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut &#8220;manusia&#8221;, &#8220;insan&#8221; bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang &#8220;alergi&#8221; terhadap istilah &#8220;Manusia Ilahi&#8221;, &#8220;Manusia Allah&#8221;. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi &#8220;berkah&#8221; bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, U tusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana&#8230;&#8230;</p>
<p>Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006, Bapak Anand Krishna mengingatkan para pembaca tulisannya tersebut&#8230;&#8230;&#8230; Kelahiranmu di masa ini bukanlah untuk mengurusi hal-hal kecil dan sepele yang dapat diurusi oleh siapa saja. Tidak. Kau tidak dilahirkan untuk itu. Kau dilahirkan untuk suatu tugas yang mulia. Kau dilahirkan untuk melayani saudara-saudaramu. Kau dilahirkan untuk menjadi Pembawa Obor Perdamaian dan Pencerahan, Keamanan dan Kesadaran. Kau ditakdirkan untuk menjadi Pembawa Terang … Untuk menerangi setiap hati yang berdebar dalam kegelapan. Inilah tugasmu, inilah tanggungjawab serta kewajibanmu. Kau adalah Terang Dunia, Terang Alam Semesta … cahaya jutaan matahari berada di dalam dirimu. Kau adalah Sumber Cahaya. Bila ada seorang pun yang masih mengeluh bahwa dirinya hidup dalam kegelapan, maka sapalah dia, dekatilah dia. Dengan sekedar sapaan dan pendekatan saja, kau dapat menerangi hidup. Yakinilah sapaanmu, yakinilah pendekatanmu… Dan, dengan keyakinan itu, berkaryalah untuk menunaikan tugas kewajibanmu!&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Situs artikel terkait</p>
<p>http://www.oneearthmedia.net/ind/</p>
<p>http://triwidodo.wordpress.com</p>
<p>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</p>
<p>http://www.kompasiana.com/triwidodo</p>
<p>http://blog.oneearthcollege.com/</p>
<p>http://twitter.com/#!/triwidodo3</p>
<p>Desember 2011<br />
<a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/buku-karma-yoga2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2628" title="buku karma yoga" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/buku-karma-yoga2.jpg?w=468" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2627/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2627&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/29/tangan-yang-melayani-lebih-suci-dari-bibir-yang-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/starving_children1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">starving_children</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/buku-karma-yoga2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buku karma yoga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seberapa Dekat Manusia Dengan Tuhan?</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/26/seberapa-dekat-manusia-dengan-tuhan/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/26/seberapa-dekat-manusia-dengan-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 22:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2563</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang merasa sudah dekat dengan Tuhan, akan tetapi kedekatannya tersebut karena mereka mencintai Tuhan atau karena mencintai diri mereka sendiri dan Tuhan diminta menjadi alat penolong mereka? Pertama, ada manusia yang dekat Tuhan kala dia mendapatkan kesulitan. Kala dia memperoleh kesenangan dia tidak ingat Tuhan. Tuhan dibutuhkan hanya untuk mengeluarkan dirinya dari penderitaan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2563&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/bima_dewa_ruci_by_garang76.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2564" title="bima_dewa_ruci_by_garang76" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/bima_dewa_ruci_by_garang76.jpg?w=217&#038;h=300" alt="" width="217" height="300" /></a></p>
<p>Banyak orang yang merasa sudah dekat dengan Tuhan, akan tetapi kedekatannya tersebut karena mereka mencintai Tuhan atau karena mencintai diri mereka sendiri dan Tuhan diminta menjadi alat penolong mereka? Pertama, ada manusia yang dekat Tuhan kala dia mendapatkan kesulitan. Kala dia memperoleh kesenangan dia tidak ingat Tuhan. Tuhan dibutuhkan hanya untuk mengeluarkan dirinya dari penderitaan. Kedua, ada manusia yang mohon pada Tuhan agar diberikan kemudahan dalam kehidupan agar dia dapat mengabdi kepada Tuhan. Ketiga, ada manusia yang berupaya sungguh-sungguh untuk mengetahui Tuhan. Dia belajar dan meningkatkan kesadarannya agar dapat mencintai Tuhan. Ketiga-tiganya, sebenarnya masih terfokus pada diri mereka, pada ego mereka dan belum terfokus pada Tuhan. Keempat, ada manusia yang mencintai Tuhan dengan sebenar-benarnya. Baginya yang penting Tuhan. Fokusnya sudah tidak kepada dirinya tetapi kepada Tuhan.</p>
<p>Sri Sathya Sai Baba menyampaikan bahwa ada empat tipe “bhakta”: (1) arthi, (2) arthaarthi, (3) jignasu, dan (4) jnani.</p>
<p>Arthi adalah pengabdi tipe pertama, pengabdi yang berdoa kepada Tuhan bila ia berada dalam kesulitan dan mengalami banyak cobaan serta kesengsaraan. Hanya pada saat itu ia ingat kepada Tuhan.</p>
<p>Arthaarthi adalah pengabdi tipe kedua, pengabdi yang memuja Tuhan dan memohon agar diberi kekayaan, jabatan, kekuasaan, umur panjang, keturunan, dan lain-lain yang bersifat keduniawian. Banyak orang yang mendambakan anugerah kekayaan tanpa menyadari bahwa kekayaan sejati adalah kebijaksanaan, bahwa harta sejati adalah tingkah laku yang baik, bahwa permata yang paling berharga adalah watak yang baik. Mereka bernafsu untuk memperoleh kekayaan duniawi, tetapi tidak mengerti arti dan makna dari semua simbol lahiriah benda duniawi tersebut.</p>
<p>Jignasu adalah pengabdi tipe ketiga, pengabdi yang tidak henti-hentinya menekuni asas kerohanian. Di manakah Tuhan? Siapakah Tuhan? Siapakah Aku? Bila sudah masuk dalam tahap jignasu, seseorang akan sibuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan itu untuk memperoleh pengetahuan kerohanian. Tipe ini lebih maju dibandingkan dua tipe sebelumnya.</p>
<p>Jnani adalah pengabdi tipe keempat, pengabdi yang sudah mengetahui kebenaran. Jnana berarti pengetahuan. Apakah pengetahuan duniawi yang dimaksudkan? Tidak! Jnana tidak menyangkut pengetahuan duniawi. Jnana adalah pengetahuan spiritual yang sejati. Jnana berarti kebijaksanaan, ia juga berarti penghayatan kesatuan, pengetahuan yang esa tiada duanya.</p>
<p>Selanjutnya, kita perlu introspeksi diri, kita masih berada di mana? Dalam buku “<strong>The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Kita masih mengejar kemewahan, kekayaan, pujian, dan kedudukan. Kita masih membutuhkan anak, siswa, murid, penggemar, dan sebagainya. Kita belum cukup percaya diri. Tanpa kerumunan massa dan jumlah orang yang menjadi bagian dari kerumunan itu, kita masih menganggap diri kita kurang, lemah, dan tak berdaya. Kita masih belum siap untuk menerima jiwa, menerima energi, menerima spirit. Kita masih menganggap lumpur materi sebagai satu-satunya kebenaran. Tidak berarti ketika kita menerima energi, materi mesti ditinggalkan. Tidak sama sekali. Menerima energi berarti menerima materi sebagai ungkapan terendah dari energi. Materi adalah manifestasi dari energi yang sama. Tapi materi bukanlah satu-satunya ungkapan energi&#8230;&#8230;..</p>
<p>Kita juga masih terobsesi dengan kepemilikan dunia. Dalam buku “<strong>The Gospel of Michael Jackson</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;&#8230; Kita tidak dapat hidup tanpa kepemilikan. Kita bisa saja memilih hidup telanjang di tengah hutan – kita tetap punya badan. Badan ini juga kepemilikan. Kita bisa batasi barang-barang kita, tetapi kita takkan pernah ada tanpa kepemilikan. Yang bisa kita lakukan adalah &#8220;tidak posesif&#8221;. Nikmati apa yang kita punyai. Nikmati semua yang kita dapatkan secara benar, asalkan jangan terobsesi karenanya. Jangan malah kita yang menjadi milik barang-barang kita. Janganlah kita kembangkan rasa kepemilikan yang membuat kita serakah dan selalu ingin yang lain dan yang lebih&#8230;&#8230;..</p>
<p>Kemudian kita mulai melepaskan rasa kepemilikan. Dalam buku “<strong>Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Tenang, santai, rileks – jangan tegang. Milikilah kemewahan tanpa rasa kepemilikan. Nikmatilah keberuntungan kita. Kita belum tahu seni kehidupan. Kita belum tahu cara menikmati kehidupan. Kadang kita menolak Tuhan, kadang kita menolak Setan. Kadang kita malah ingin memiliki kedua-duanya. Kadang kita berada pada ekstrim kiri, kadang pada ekstrim kanan. Kita telah kehilangan keseimbangan. Kita tidak perlu menolak apa pun. Kita tidak perlu mendambakan apa pun. Semuanya datang dengan sendiri, datang pada waktunya. Rasa kepemilikan kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Bagaimana dapat memiliki langit biru, bulan dan bintang, hawa sejuk ataupun angin panas? Apakah kita dapat menentukan kapan Sang Surya harus menampakkan dirinya, kapan Si Bulan harus menghilang dari penglihatan? Terimalah, apa yang diberikan oleh Keberadaan. Penerimaan total seperti ini dapat membuat kita lepas dari rasa kepemilikan. Kita tidak harus melepaskan apa pun. Keinginan untuk pelepasan pun hanya sekadar ilusi dan harus dibuang jauh-jauh. Kita tidak memiliki sesuatu sehingga dapat melepaskannya. Keinginan untuk pelepasan timbul karena kita merasa memiliki. Jangan merasa memiliki dan kita akan menemukan kehidupan baru&#8230;&#8230;</p>
<p>Salah satu program e-learning dari <strong>One Earth College of Higher Learning</strong> (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah program <strong>Neo Transpersonal Psychology</strong> (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah <strong>Neo Interfaith  Studies</strong> (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada satu program lagi yaitu <strong>Ancient  Indonesian History And Culture</strong> (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) yang dimaksudkan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.</p>
<p>Selama ini kita ingin memiliki Tuhan yang senantiasa siap sedia untuk mengabulkan permohonan kita dan bukan mengabulkan permohonan orang lain. Dalam buku “<strong>Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah</strong>” disampaikan&#8230;&#8230;.. Kita ingin &#8220;memiliki&#8221; Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita &#8220;miliki&#8221;! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! &#8220;Keinginanmu untuk &#8216;memiliki&#8217; Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Orang yang sudah menjadi &#8220;milik-Nya&#8221;, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya, tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain, akan &#8220;menjalani&#8221; agama dalam hidup sehari-hari&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Dalam nasehat “<strong>Heart to Heart</strong>” pada tahun 2003, Bapak Anand Krishna menulis&#8230;&#8230;&#8230; Radha dan Meera, &#8220;sama-sama&#8221; mencintai Krishna. <em>And yet, there love was not the same</em>. Tampak sama, namun cinta mereka berbeda. Radha hidup sejaman &#8220;dengan&#8221; Krishna. Meera tidak hidup sejaman, tidak hidup dengan Krishna – ia hidup di &#8220;dalam&#8221; Krishna. Radha ingin &#8220;memiliki&#8221; Krishna. Meera ingin menjadi &#8220;milik&#8221;-Nya. Menghadapi seorang murshid, kita pun dapat memilih: Mau bersikap seperti Radha, atau seperti Meera. aku memilih Meera&#8230;. Penyerahan Diri Meera sungguh tak tertandingi. Ia tidak peduli apakah Krishna &#8220;menerimanya&#8221; atau tidak&#8230; Bagi seorang Meera, yang penting adalah &#8220;penyerahannya&#8221;, &#8220;persembahannya&#8221;. Ia tidak kecewa bila Krishna tidak memperhatikannya: &#8220;Bolehlah kau, wahai Krishna, memutuskan tali cinta dan melupakan diriku – aku tak akan pernah memutuskannya. Aku akan selalu mencintaimu.&#8221; Lain Meera, lain Radha&#8230; Seruling bambu di tangan Krishna pun dapat menggelisahkan dirinya: &#8220;Kau lebih mencintai seruling itu&#8230;.&#8221; Bagi Meera, jangankan seruling bambu, kehadiran Radha pun hanya menambah kegembiraannya. Senantiasa ia bersukacita: &#8220;Krishna, kau sungguh hebat! Kau dapat memikat hati sekian banyak Gopi.&#8221; Tapi, janganlah kau terpengaruh oleh pilihanku&#8230; Pilihanku bagiku, pilihanmu bagimu&#8230;</p>
<p>Dalam buku “<strong>Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan&#8230;&#8230;.. Udhava, salah seorang sahabat Krishna, menganggap diri seorang Gyaani, seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, sejati dan berpengalaman pribadi. Udhava sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Krishna. Dia tidak lagi terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya adalah zat ilahi. Melihat para Gopi di Brindavan menangisi Krishna, karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar, dia merasa kasihan. Dia menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi. “Sadarkah kalian bahwa Krishna adalah avatar? Penjelmaan Ilahi? Lalu apa yang kalian tangisi? Wujud dia dan wujud setiap makhluk. Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati itu, Kebenaran yang ada di mana-mana. Di sini, di sana&#8230;&#8230;.</p>
<p>&#8230;&#8230;..Bagi seorang Udhava, patung dan wujud seorang avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus dilampaui, dilewati. Dia mendesak para Gopi untuk melihat Kebenaran dari sisi yang satu itu, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?  &#8230;&#8230;. “Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Krishna, Krishna, Krishna&#8230;.” Udhava baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udhava masih berada pada tingkat “pelepasan” itu. Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lgi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p><strong>Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology </strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthcollege.com/"><strong>http://www.oneearthcollege.com/</strong></a><strong> </strong></p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Desember 2011</strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2565" title="promosi elearning oneearthcollege" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2563/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2563/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2563&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/26/seberapa-dekat-manusia-dengan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/bima_dewa_ruci_by_garang76.jpg?w=217" medium="image">
			<media:title type="html">bima_dewa_ruci_by_garang76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">promosi elearning oneearthcollege</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Neo Feodalisme Di Tengah Bangsa</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/24/neo-feodalisme-di-tengah-bangsa/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/24/neo-feodalisme-di-tengah-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 21:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2615</guid>
		<description><![CDATA[Budayawan Mochtar Lubis pada tahun 1977 menyampaikan 6 (enam) ciri-ciri manusia Indonesia yaitu: Pertama, munafik atau hipokrit; Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul; Kelima, artistik; dan Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Pada saat ini, tiga dasa warsa sudah berlalu, tetapi nampaknya ciri-ciri tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2615&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/feodal-perkebunan-belanda.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-2616" title="feodal perkebunan belanda" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/feodal-perkebunan-belanda.jpg?w=468&#038;h=197" alt="" width="468" height="197" /></a></p>
<p>Budayawan Mochtar Lubis pada tahun 1977 menyampaikan 6 (enam) ciri-ciri manusia Indonesia yaitu: <strong>Pertama</strong>, munafik atau hipokrit; <strong>Kedua</strong>, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; <strong>Ketiga</strong>, sikap dan perilaku yang feodal. <strong>Keempat</strong>, masih percaya pada takhayul; <strong>Kelima</strong>, artistik; dan <strong>Keenam</strong>, lemah dalam watak dan karakter. Pada saat ini, tiga dasa warsa sudah berlalu, tetapi nampaknya ciri-ciri tersebut belum banyak berubah juga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disebutkan bahwa ciri yang ketiga adalah jiwa feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan bahwa nilai-nilai feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di Nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah. Revolusi kemerdekaan sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia, tetapi nampaknya setelah berjalan beberapa lama, jiwa feodal marak kembali. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif karena seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka selalu benar dalam setiap tindakannya. Mereka tidak berani menyangkal walau perbuatan atasan salah. Sifat feodal juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang setara derajatnya dengan manusia lainnya. Seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan walaupun alasannya benar. Tidak didengarnya suara masyarakat bawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Kini bukan raja lagi yang feodal, tetapi sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur, anggota dewan yang terhormat dan lain-lainnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seorang anggota lembaga negara bersikukuh akan membubarkan institusi pengawasan, mungkin karena institusi tersebut telah berani memanggil para pimpinannya. Para anggota lainnya mungkin juga ada yang tersinggung dengan institusi yang seakan-akan dianggap bawahan tetapi berani mengutak-utik mereka. Pokoknya karena kedudukan mereka tinggi, maka mereka tak mau disalahkan. Bahkan waktu itu ada suara sebagian mereka akan ngambek tak bekerja, walau rumor tersebut tak dilaksanakan. Secara peraturan memang institusi tersebut diperbolehkan memeriksa&#8230;&#8230;&#8230;. Seorang anggota lembaga negara yang lain dalam suatu sidang juga mengusir seorang pejabat negara karena yang diundang dalam dengar pendapat tersebut adalah atasan pejabat tersebut&#8230;&#8230;.. Kita yakin mereka paham bahwa sok kuasa itu tidak benar, mereka pasti mafhum bahwa para diktator yang paling berkuasa pun akhirnya jatuh. Akan tetapi mereka tidak bisa merasa bahwa mereka sudah bertindak sok kuasa. Para leluhur mengkritik para pemimpin seperti itu dengan nasehat “<em>Rumangsa bisa nanging ora bisa rumangsa</em>”, merasa mampu namun tidak bisa merasa bahwa dia sebenarnya tidak mampu. Mereka telah memberlakukan kasta dan yang setingkat dengan mereka adalah pucuk pimpinannya. Dan wakilnya tidak selevel dengan mereka&#8230;&#8230;&#8230;. Bila demikian masyarakat itu levelnya dimana? Banyak sekali kata-kata para petinggi yang menyepelekan suara rakyat. Seorang pimpinan lembaga menolak diadakannya survei untuk mengetahui respon masyarakat soal pembangunan gedung baru, karena menganggap hanya orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa nggak bisa dibawa&#8230;&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam buku “<strong>Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik</strong>”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002 disampaikan……… Pembagian masyarakat dalam empat kelompok – para cendekiawan, para pegawai negeri, para ekonom dan para pekerja atau buruh – merupakan suatu eksperimen yang hanya dilakukan oleh masyarakat India kuno.  Kelak pengelompokan ini akan disebut kasta oleh orang-orang asing, padahal istilah asalnya adalah varna atau “pengelompokan berdasarkan tugas/sifat/potensi”. Kshatriya biasanya diterjemahkan sebagai “satria”, “pendekar” atau “prajurit”. Terjemahan itu tidak tepat. Kelompok Kshatriya adalah kelompok ”pegawai negeri”, baik yang sipil maupun yang militer……….. Pada jaman Mahabharat, sekitar 3.000 tahun S M, sistem ini berjalan baik. Vyaasa atau Abiyasa dalam pewayangan Jawa adalah anak di luar nikah dari seorang wanita penjual ikan dan dari golongan (kasta) Shudra, yang sekarang disalahartikan sebagai golongan terendah. Namun, karena bijak, Abiyasa anak di luar nikah dari kasta Shudra mendapat gelar “Jagad Guru” – guru sejagad. Ia yang menulis epos besar, epos terpanjang dalam sejarah manusia: Mahabharat. Ia pula yang mengedit dan mengumpulkan Veda.………..<span id="more-2615"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonsia , belum merdeka . Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru , rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan , urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan. Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah “kawulo” atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll . Sedang di zaman rezim Orde Lama , rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru rakyat tetap saja diangap sebagai “koor bebek”. Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran . Cara berpikir dalam bidang apapun diseragamkan. Gerakan reformasi telah terjadi . Namun , sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat , kedaulatan rakyat , kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR , MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan . Bukan kedaulatan Rakyat&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“<em>Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely</em>.”&#8230;&#8230;.. Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak menghasilkan korup yang mutlak&#8230;&#8230;.. demikian pendapat  John Emerich Edward Dalberg Acton (1834-1902), atau dikenal sebagai Lord Acton. Ibarat baju boleh berganti, dari baju model bangsawan menjadi baju model pejabat pemerintah, atau baju model pemuka agama, atau baju model wakil rakyat, akan tetapi orang yang memakainya tetap orang yang serupa. Orang yang cenderung korup karena besarnya wewenang kekuasaan yang dipegangnya. Orang yang mempunyai ego, yang suka dipuji dan dipuja, yang suka orang tunduk pada kekuasaannya. Feodalisme adalah sifat manusia yang belum sadar. Dia bisa berkopiah , berkafiyeh, bertopi golf atau bertopi baja tetapi kepalanya masih mempunyai ego yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah para feodal modern mempunyai karakter bawaan demikian atau tadinya hanya berupa potensi dalam diri yang terpicu oleh suasana lingkungan? Para pakar perilaku ingin mengetahui apakah kondisi lingkungan tertentu dapat mempengaruhi moral seseorang. Satu kelas mahasiswa di Universitas Washington melakukan simulasi model perilaku selama dua minggu. Separuh mahasiswa menjadi sipir, penjaga penjara sedangkan separuhnya lagi menjadi narapidana. Belum sampai satu minggu simulasi dihentikan, karena perilaku para sipir sangat keterlaluan, semakin semena-mena, sedangkan para narapidana semakin hari semakin tertekan, depresi berat. Ternyata lingkungan kerja mempengaruhi perilaku. Ini merupakan contoh model penelitian perilaku. Mereka yang mengkritik para pejabat , bila mendapatkan kesempatan menjadi pejabat boleh jadi akan melakukan hal yang sama karena kewenangan yang dimilikinya. Para aktivis mahasiswa setelah menjadi pejabat negara banyak yang melupakan amanat penderitaan rakyatnya. Lingkungan yang materialistis membuat neo feodalisme berkembang, harga diri kalah telak oleh harga kenyamanan duniawi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga masyarakat sadar bahwa mereka yang arogan, yang merasa berkuasa, sebetulnya berada dalam keadaan terbelenggu dan sedang menjadi budak. Mereka yang arogan telah menjadi budak dari hawa nafsunya dan masih terbelenggu oleh kenyamanan sesaat yang fana. Akan ada saatnya mulut setiap orang dikunci dan anggota-anggota tubuhnya akan diminta pertanggungan jawabnya. Leluhur kita memberi nasehat, “<strong><em>Begja-begjane wong lali isih untung sing eling lan waspada</em></strong>”, keuntungan apa pun yang diperoleh mereka yang lupa, masih untung mereka yang sadar dan waspada. Keuntungan dari kenyamanan yang fana yang diperoleh dalam ketidaksadaran akan berakhir pada saatnya, sedangkan keuntungan dari tindakan mulia yang dilakukan dalam keadaan sadar akan abadi selamanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam buku “<strong>Bersama J.P Vaswani Hidup Damai &amp; Ceria</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan……. Jangan menganggap bahwa yang arogan, yang bisa menindas, yang marah-marah itu yang menang. Tidak, ia pun kalah. la sedang diperbudak oleh hawa nafsunya. la sedang dikendalikan oleh naluri hewaninya………. Ada orang yang bertanya kepada seorang bijak, “Apakah yang membedakan seorang manusia dengan binatang?” Sang bijak menjawab, “Pengendalian diri.” Binatang tidak dapat mengendalikan dirinya, harus mengikuti nalurinya. Seorang manusia dapat mengendalikan keinginan-keinginan dan naluri hewaninya bukannya diperbudak oleh mereka. Sayang, banyak di antara kita yang menjadi budak nafsu dan sifat-sifat kebinatangan yang lain…….</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang perlu kita waspadai adalah jangan sampai bangsa kita menerima perbudakan sebagai hal yang biasa. Dalam buku “<strong>Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan</strong>”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. la mulai berkompromi dengan keadaan. la menganggap perbudakan itu sebagai kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. la diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. la diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. la ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas………… Manusia masa lalu masih beruntung. la diperbudak oleh seorang raja atau seorang majikan. Relatif mudah membebaskan manusia dari perbudakan semacam itu. Musa berhasil melakukan hal itu. Keadaan manusia masa kini lebih parah, lebih buruk. la diperbudak oleh suatu sistem-suatu sistem yang membuat dia menjadi mesin. Musa pasti juga heran melihat keadaan para budak. Mereka menderita, tetapi mereka diam. Mereka tidak berani bicara. Mereka tidak berani memberontak. Kenapa demikian? Karena mereka sudah terbiasa hidup dalam perbudakan. Mereka tidak tahu, kebebasan itu apa. Harus ada seorang Musa, harus ada seseorang yang bebas dan memahami arti kebebasan untuk membuat mereka sadar akan perbudakan mereka. Tugas seorang Musa memang sangat berat. la harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan kembali jiwa mereka yang sudah mati. la harus membuat mereka sadar akan arti kebebasan, nilai kemerdekaan………</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang memilih para pemimpin adalah rakyat sendiri. Pilihlah pemimpin yang baik, jangan sampai dalam pemilu atau pilkada, hak memilih yang baik tersebut dilepas demi amplop yang sebentar saja lenyap entah ke mana. Pemimpin yang jelek akan membuat rakyat lama menderita. Kita perlu introspeksi adalah kesalahan kita karena telah memilih para pemimpin, yang menjadi feodal, lupa kacang akan kulitnya, yang menjadi pejabat, lupa masyarakat yang telah memilihnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Desember 2011</strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2617" title="promosi elearning oneearthcollege" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege3.jpg?w=207&#038;h=300" alt="" width="207" height="300" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2615&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/24/neo-feodalisme-di-tengah-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/feodal-perkebunan-belanda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">feodal perkebunan belanda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/promosi-elearning-oneearthcollege3.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">promosi elearning oneearthcollege</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibunda, Ibu Pertiwi Dan Bunda Ilahi, Sebuah Renungan Di Hari Ibu</title>
		<link>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/22/ibunda-ibu-pertiwi-dan-bunda-ilahi-sebuah-renungan-di-hari-ibu/</link>
		<comments>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/22/ibunda-ibu-pertiwi-dan-bunda-ilahi-sebuah-renungan-di-hari-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 22:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwidodo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan diri]]></category>
		<category><![CDATA[anand krishna]]></category>
		<category><![CDATA[ancient indonesian history and culture]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Interfaith Studies]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Transpersonal Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[One Earth College of Higher Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triwidodo.wordpress.com/?p=2609</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kenangan indah tentang almarhumah ibunda sewaktu kami masih kecil. Beliau selalu berpuasa di saat kami dan saudara-saudara kami menghadapi ujian sekolah. Beliau selalu mengingatkan kami untuk bangun pagi, jangan sampai keduluan matahari agar murah rejeki. Dan beliau memberi contoh bangun pagi dengan menanak nasi dan mempersiapkan sarapan bagi putra-putrinya. Setelah semua putra-putrinya berangkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2609&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/ibu_dan_anak.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2610" title="ibu_dan_anak" src="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/ibu_dan_anak.jpg?w=300&#038;h=275" alt="" width="300" height="275" /></a></p>
<p>Ada sebuah kenangan indah tentang almarhumah ibunda sewaktu kami masih kecil. Beliau selalu berpuasa di saat kami dan saudara-saudara kami menghadapi ujian sekolah. Beliau selalu mengingatkan kami untuk bangun pagi, jangan sampai keduluan matahari agar murah rejeki. Dan beliau memberi contoh bangun pagi dengan menanak nasi dan mempersiapkan sarapan bagi putra-putrinya. Setelah semua putra-putrinya berangkat sekolah beliau akan ke pasar berbelanja dan pulang ke rumah memasak lauk-pauk untuk persiapan makan siang. Beliau tidak akan makan siang lebih dahulu sebelum putra-putrinya pulang sekolah. Beliau menunggu putra-putrinya makan siang lebih dahulu. Pekerjaan rutin tersebut tidak pernah membosankan beliau.  Mungkin beliau mencontoh sifat air yang tak pernah bosan dalam rutinitas membersihkan segala sesuatu sejak zaman dahulu sampai akhir zaman. Beliau memberi semangat agar putra-putrinya mau minum jamu pahit, orang yang berani melakoni kepahitan hidup akan sehat sentosa di akhirnya, demikian nasehat beliau&#8230;&#8230; Doa dan kasih seorang ibu yang tulus memperkuat energi dalam diri seorang anak.  Ibu adalah sumber keberadaan kita di dunia dan pemelihara kehidupan kita sampai kita dapat mandiri.</p>
<p>Kata mutiara “surga berada di bawah telapak kaki ibu”, mempunyai kaitan erat dengan seorang  “ibu”. Akan tetapi ada ibu lain yang berada di bawah telapak kaki ibu kita, yaitu Bunda Bumi. Kita mempertahankan hidup dengan sari-sari makanan dan oksigen yang kita peroleh dari Bunda Bumi. Pakaian kita, rumah kita, kendaraan kita, perlengkapan kerja kita, semuanya disediakan oleh Bunda Bumi. Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh Bunda Bumi. Kasih Bunda Bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Enam milyar manusia, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar, trilyunan tanaman, semuanya dihidupi dengan makan dan nafas oleh Bunda Bumi. Ibunda yang mengandung kita, yang menyebabkan kita ada di dunia pun dipelihara oleh Bunda Bumi. Bunda Bumi adalah pemelihara kehidupan kita semua. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang berada dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ibu Pertiwi adalah bagian dari Bunda Bumi yang terkait langsung dengan diri kita yang menghidupi kita dan memelihara diri kita, diri putra-putri Indonesia. Sebenarnya Pertiwi adalah sebutan bagi bumi dari kata Prthvi, putri Prthu. Dalam kisah Srimad Bhagavatam disebutkan bahwa Prthu adalah raja bumi yang amat bijaksana yang bisa menaklukkan bumi sehingga bumi menyediakan diri untuk melayani makhluk hidup yang tinggal di atas dirinya.</p>
<p>Ada satu ibu lagi, Dia yang memberikan kehidupan, yang memberikan zat hidup kepada semuanya. Tanpa kehidupan semua segera didaur ulang oleh alam semesta. Alam semesta pun ada karena Dia. Bunda Ilahi adalah yang memberi kehidupan ini. Orang bisa menyebut Bunda Ilahi dengan berbagai nama, seperti yang telah diajarkan kepadanya tentang nama sebutan terhadap-Nya. Akan tetapi sebagai sumber kehidupan, tak ada salahnya menyebut-Nya dengan Bunda karena kasihnya yang tak  terkira kepada kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita dapat diibaratkan debu dari kaki Bunda Ilahi yang mewujud untuk memelihara dan mengasihi diri kita. Bunda Bumi dan Bunda Kandung kita adalah wujud kasih dari Bunda Ilahi terhadap kita. Semua makhluk menjadi hidup karena karunia kehidupan dari Bunda Ilahi. Menghormati Bunda Ilahi dilakukan dengan jalan melayani kehidupan semua makhluk (yang sama-sama hidup karena-Nya).<span id="more-2609"></span></p>
<p>Telapak kaki merupakan bagian tubuh paling bawah yang bersentuhan dengan bumi, dan merupakan alat untuk melangkah di atas bumi. Telapak kaki ibu melambangkan perjalanan kehidupan seorang ibu. Bagi kaum sufi makna perjalanan itu jauh lebih penting dari pada tujuan. Dengan perjalanan yang benar maka hasil akhir tujuan adalah suatu keniscayaan. Dalam perjalanan itu akan ditemui berbagai peristiwa. Peristiwa yang ditemui harus dijalani dengan kesadaran, agar tidak muncul penyebab baru yang dapat memperlama perjalanan.</p>
<p>Kehidupan sosok ibu merupakan suatu siklus, putaran roda kehidupan. Selama sembilan bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Mungkin seorang ibu tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama sembilan bulan dia melakukan praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Pada tahap ini sebuah janin betul-betul tergantung mutlak kepada Sang Ibu, yang merupakan perwujudan kasih Bunda Ilahi terhadap kita.</p>
<p>Selanjutnya, bagi anak bayi yang baru lahir, payudara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat sang bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali. Pada tahap selanjutnya ketergantungan hidup sang bayi sudah tidak mutlak tergantung pada sang ibu saja. Ketika sang Anak mulai menapakkan kakinya di bumi dan mulai berjalan, dia sudah mulai dapat memenuhi keinginannya dengan mendekati sesuatu dengan kedua kakinya. Tahap berikutnya adalah ketika seorang remaja mulai mandiri, tidak lagi tergantung kepada orang lain. Ketika sudah matang sebagai calon ibu, seorang gadis mengikuti nalurinya untuk melestarikan jenisnya dengan berumah tangga bersama lelaki pasangannya yang dapat mengisi kekurangan pada dirinya. Proses menyatunya dua jiwa lewat hubungan jasmani merupakan peristiwa yang suci.</p>
<p>Kemudian saat terjadi fertilisasi, kedua perangkat kromosom dari ayah dan ibu disatukan.  Sel telur ibu yang mendapatkan perangkat kromosom dari sel sperma ayah, kini menjadi sel dengan 2 set kromosom sebagai sel diploid yang disebut sebagai zigot. Dari sebuah sel zigot inilah yang kemudian mulai berkembang menjadi sebuah organisme baru yang utuh melalui proses yang sangat rumit. Pada saat fertilisasi, sel sperma hanya berkontribusi untuk memberikan materi genetiknya pada sel telur, tidak lebih. Setelah terjadi fertilisasi, seluruh bagian sel sperma terdegradasi, sama sekali tidak terlibat dalam proses embriogenesis. Oleh karena itu, seluruh sel yang dimiliki oleh seorang manusia dia warisi sepenuhnya dari Ibu. Tiap sel yang kita miliki, lengkap dengan perangkat organ yang mengatur kehidupan kita, sepenuhnya berasal dari ibunda. dalam ilmu genetika, hal ini disebut sebagai “Maternal Inheritance”. Demikian uraian salah seorang sahabat kami tentang pengaruh ibu dalam fertilisasi. Dalam kitab Srimad Bhagavatam sering disebutkan bahwa energi atau daya gerak itu berasal dari ibu itulah sebabnya energi disebut Shakti. Tanpa energi, manusia hanya berupa jasad atau mayat. Oleh karena itu ditulis “ShIva” dengan I besar, tanpa I besar (yang bermakna energi) ShIva akan menjadi Shava atau mayat. Seorang ayah bisa memberikan warisan genetik seorang yang cerdas, tetapi tanpa energi sang ibu putranya tidak akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam kisah Bharatayuda Arjuna disebut putera Kunti. Budaya di Padang yang matrilineal mungkin berasal dari zaman Sriwijaya.</p>
<p>Dilihat dari chromosom-nya, pria mempunyai kode XY dan masih membutuhkan X ganda untuk kesempurnaanya. Sedangkan wanita dengan chromosom XX sudah merasa sempurna. Seorang pria yang merasa tidak sempurna, memerlukan sumber kehidupan itu, dan dia mengawini seorang wanita. Seorang duda pun sering masih merasa belum sempurna, sehingga biasanya ingin kawin lagi. Tidak demikian dengan seorang janda, dia merasa sudah sempurna, sehingga sanggup hidup sendirian sampai akhir hayatnya. Sebetulnya kesempurnaan bukanlah suatu benda. Kesempurnaan adalah perasaan, rasa. Bila seseorang merasa sempurna, sempurnalah orang itu. Seorang pria merasa tidak sempurna, hingga suatu saat ia menemukan sumber kehidupan ke- “feminin”-an di dalam dirinya. Kemudian dia merasa sempurna dan tidak akan kawin lagi walau menduda. Kalau seorang pria mulai menggunakan rasa, apalagi nuraninya, dia tidak akan kawin lagi ketika ditinggal mati isterinya.</p>
<p>Ada Ibunda kita, ada Ibu Pertiwi yang merupakan bagian dari Bunda Bumi serta ada Bunda Ilahi. Dan kita juga punya banyak saudara: saudara kandung, saudara satu Ibu Pertiwi, saudara satu bumi dan saudara sesama makhluk hidup. Semoga kita menghormati dan melayani ibu kita dengan menghormati dan melayani saudara-saudara kita semua&#8230;&#8230;.. Selamat Hari Ibu&#8230;&#8230;.</p>
<p>Salah satu program e-learning dari One Earth College (<a href="http://www.oneearthcollege.com/">http://www.oneearthcollege.com/</a>) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (<a href="http://history.oneearthcollege.com/">http://history.oneearthcollege.com/</a>) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (<a href="http://stponline.oneearthcollege.com/">http://stponline.oneearthcollege.com/</a>) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (<a href="http://interfaith.oneearthcollege.com/">http://interfaith.oneearthcollege.com/</a>) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.</p>
<p><strong>Situs artikel terkait</strong></p>
<p><a href="http://www.oneearthmedia.net/ind/"><strong>http://www.oneearthmedia.net/ind/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://triwidodo.wordpress.com/"><strong>http://triwidodo.wordpress.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo"><strong>http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo</strong></a></p>
<p><a href="http://www.kompasiana.com/triwidodo"><strong>http://www.kompasiana.com/triwidodo</strong></a></p>
<p><a href="http://blog.oneearthcollege.com/"><strong>http://blog.oneearthcollege.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><a href="http://twitter.com/#!/triwidodo3"><strong>http://twitter.com/#!/triwidodo3</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong>Desember 2011</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triwidodo.wordpress.com/2609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triwidodo.wordpress.com/2609/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triwidodo.wordpress.com&amp;blog=2236703&amp;post=2609&amp;subd=triwidodo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triwidodo.wordpress.com/2011/12/22/ibunda-ibu-pertiwi-dan-bunda-ilahi-sebuah-renungan-di-hari-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/69a7103adfef97ef641c7a25f43fd989?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triwidodo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triwidodo.files.wordpress.com/2011/12/ibu_dan_anak.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ibu_dan_anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
