“As Love dwells in every heart, so does Sufi” (Shah Abdul Latief dari Sindhi)

Cited from “Sufi solutions to world’s problem”, (Krishna, Anand. (2008). Sufi Solutions to World’s Problem, Anand Krishna Global Cooperation) page 21 in English dilengkapi dengan terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia

buku Sufi-Solutions-500x500

Cover Buku Sufi Solutions

For Sindhi Sufi Shah Abdul Latief Bhittai (1689-1752) Love and Sufi are synonymous. As Love dwells in every heart, so does Sufi. It is the life force in all beings. Listen to him:

“As breath  pervades everywhere, so Sufis live in every heart”

 

Shah Latief was a Muslim, born in a very respectable Muslim family – yet he was all praise for Nangas or the naked Sindhi Yogis and their practices. He had no political motive behind this, for Sindh was predominantly Muslim. Through his fine poetry and songs, he tried to raise the consciousness of the masses by being provocative at times:

 

Infidel nor Muslims be,

Heaven and hell are not for thee,

Sufis one who says,

“O beloved, make me Thine.”

One is the truth, and one is our Beloved,

Why then fight over names?

 

Once a group of people approached him, “Tell us, O Latief, what are you? Shiah or Sunni? These, as we all know are the two mainstreams in Islam.

Latief asked them back: “Is there anything between the two?”

Someone from the group replied, “Nothing, latief. There is nothing between  the two.”

“Yes, yes, yes, ‘that’ I am… that ‘nothing’ I am.”

Either “Nothing” or “Everything”, “Non-Existance” or “Existence” either Nirvana of Buddhas or Moksha of Rishis….

Indeed without a Sufi Approach one can hardly understand the meaning La illaha, literally meaning “No God”, and Ila Allah, meaning “but” or “only God” – The God, No God, Only God; No God, But God; No God, The God.

 

Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia

 

Untuk Sufi dari Sindhi Shah Abdul Latief Bhittai (1689-1752) Cinta dan Sufi adalah sama. Seperti Cinta yang bersemayam di setiap hati, demikian pula Sufi. Ini adalah daya hidup dalam semua makhluk. Dengarkan dia:

“Seperti napas yang tersebar di mana-mana, demikian pula sufi bersemayam di setiap hati”

Shah Latief adalah seorang Muslim, lahir di sebuah keluarga Muslim yang sangat terhormat – namun dia memuji para Nangas atau Yogi telanjang dari Sindhidan kehidupan mereka. Dia tidak punya motif politik di balik ini, karena di Sindh adalah mayoritas Muslim. Melalui puisi dan lagu-lagu, ia mencoba untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara provokatif:

 

Bukan Kafir atau Muslim,

Surga dan neraka bukan bagimu,

Sufi mengatakan, O Kekasih, buatlah saya milik-Mu.

Dia adalah kebenaran, Dia adalah Kekasihku,

Mengapa kemudian bertengkar memperebutkan nama?

 

Suatu kali sekelompok orang mendekatinya, “Beritahu kami, O Latief, Anda itu Syiah atau Sunni?”  Seperti kita ketahui ini adalah dua golongan utama dalam Islam.

 

Latief balik menanya mereka: “Apakah ada sesuatu di antara keduanya?”

 

Salah seorang dari kelompok itu menjawab, “Tidak ada, latief. ‘Tidak ada’ di antara keduanya. ”

 

“Ya, ya, ya, ‘itulah’ saya … Yang ‘tidak ada’ itu aku.”

 

Entah “Tidak” atau “Segalanya”, “Non-Keberadaan” atau “Keberadaan” baik Nirvana dari Buddha atau Moksha dari Resi ….

 

Sesungguhnya, tanpa Pendekatan Sufi seseorang tidak dapat memahami arti La illaha, yang secara harfiah berarti “Tidak ada Tuhan”, dan Ila Allah, yang berarti “tetapi” atau “hanya Tuhan” – Allah. Tidak ada Tuhan, Hanya Tuhan; Tidak ada Tuhan, Tapi Tuhan; Tidak ada Tuhan, Tuhan.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2008). Sufi Solutions to World’s Problem, Anand Krishna Global Cooperation) halaman 21

Semangat Anak Muda Jogja Membangkitkan Kebijaksanaan Klasik Niti Sastra bagi Manusia Indonesia Masa Kini

1 mendengarkan presentasi

Presentasi Peserta

 

Hari Jadi Anand Ashram ke 25

Memasuki Hari Jadi Anand Ashram yang ke-25, pada tanggal 14 Januari 2015, One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), salah satu sayap Yayasan Anand Ashram bekerjasama dengan Cafe Buku, Taman Bacaan Bende Mataram dan Koperasi Global Anand Krishna mengadakan acara Parade Resensi Buku Budaya, NITISASTRA.

 

Pentingnya Membaca Buku

Menurut Dr. Suriastini, Direktur OEIEF kegiatan yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2015 di Cafe Buku yang berlokasi di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman acara ini berkaitan dengan upaya membangkitkan semangat generasi muda untuk membaca buku. Paling tidak ada 20 manfaat dari membaca buku, diantaranya: meningkatkan kemampuan otak; meningkatkan kemampuan analisa; meningkatkan konsentrasi; menurunkan stress; menumbuhkan kemampuan menulis; mendukung kemapuan berbicara di muka umum; serta sarana refleksi dan pengembangan diri.

Buku (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) dipilih sebagai benih kesadaran yang perlu ditanamkan kembali kepada generasi muda untuk menghargai Warisan Klasik Leluhur yang masih relevan hingga kini.

1 foto bersama peserta dg Direktur OEIF Pak Bram, Pak Tri dan staf OEIEF

Foto Bersama

Membentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme

Dr. Sayoga, Ketua Yayasan Anand Ashram berpesan perlunya kita menggali dan menerapkan kebijaksanaan dari khazanah Musantara sebagai upaya nyatamembentengi diri agar tidak terjebak dalam budaya materialisme. Para pemuda perlu memperhatikan pemberdayaan diri, kesehatan mental, emosional dan jiwa agar tercipta kedamaian hati, cinta kasih terhadap sesama di dalam masyarakat, bangsa dan antar bangsa, sehingga tercipta keselarasan global. Buku Niti Sastra merupakan sumber kebijaksaan klasik yang masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan Manusia Indonesia masa kini.

 

Pandangan Anak Muda Jogja terhadap Niti Sastra

Persepsi setiap orang pasti dipengaruhi oleh pandangan hidup mereka, yang terpengaruh oleh sifat  genetik bawaan, lingkungan keluarga, pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya sampai dengan saat ini.

Ke 16 (enam belas) peserta yang terdiri dari para pelajar SMA Jogja, paling tidak sudah mewakili sebagian anak muda yang hidup pada masa kini di Jogja. Kita perlu angkat topi kepada wakil generasi muda Jogja yang dalam waktu singkat telah memahami isi buku Niti Sastra. Sinopsis dan presentasi mereka luar biasa.

Setelah membaca beberapa kali buku Niti Sastra, semua peserta menilai bahwa kebijaksaan klasik yang dibuat di zaman Majapahit ini masih relevan hingga kini. Peristiwa yang terjadi di panggung negara kita tidak jauh berbeda dengan pada saat Niti Sastra ditulis. Ternyata dibalik kemajuan yang nampak nyata, perilaku manusia Indonesia tidak banyak berubah dibanding 5 abad yang lalu.

Semua peserta menghargai upaya Bapak Anand Krishna menulis buku Nitisastra dalam bahasa populer sehingga lebih mudah dicerna oleh mereka. Ada beberapa yang pernah membaca Niti Sastra ke Perpustakaan tetapi sulit mencerna. Mungkin hanya Mbak Savitri, salah satu Juri yang juga pengamat dan pelaku budaya Jogja yang dapat memahami bahasa klasik.

Diakui oleh seorang peserta bahwa sebagian teman-teman sebayanya hanya senang membaca hal yang ringan-ringan. Akan tetapi seandainya saja mereka mau membaca buku Niti Sastra ini, teman-temannya akan berubah menjadi lebih bertanggung jawab terhadap keadaan negara kita.

Menurut para peserta, acara presentasi membuat para peserta lebih mendalami buku Niti Sastra dan bagaimana memilih kalimat-kalimat yang akan diungkapkan sebagai presentasi di muka umum. Presentasi semua peserta menjadi sangat menarik dan membangkitkan semangat, karena mereka semua mengutip pesan para Founding Fathers ataupun Nasehat Luhur dalam buku tersebut. Masalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik, diungkapkan oleh sebagian besar peserta dengan penuh semangat.

Kegiatan semacam ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi mereka untuk membaca buku secara benar, membuat catatan dan mengungkapkan atau berbagi/sharing kepada masyarakat umum.

Sepenggal parade resensi buku budaya ini telah memberi sharing nyata terhadap pendidikan generasi muda di negara kita walau dalam lingkup yang masih sangat kecil.

 

Kesan Para Juri

Ada 3 Juri bagi kegiatan parade resensi buku budaya ini yaitu Pak Bram Antareja, Mbak Savitri dan Pak Tri.

Pak Bram Antareja dari Radio Prambors dan Delta FM Jogja adalah dedengkot fotografi di Indonesia tempat para mahasiswa fotografi “ngangsu kawruh” tentang foto. Pandangannya yang holistik dan sangat dalam saat menyikapi kehidupan terungkap dari komentar-komentarnya yang menyentuh. Beliau adalah salah satu seniman yang bertanggung jawab dan selalu berbagi pandangan positif yang membangkitkan semangat bangsa. Di tengah media yang berbagi kecemasan dan negativitas, setiap hari beliau menulis status di twitter hal-hal yang membangkitkan semangat hidup. Foto-fotonya di Instagram dan Face Book selalu di-“likes’ oleh banyak orang. Baginya yang penting moment foto, jepret, merenungkan caption dan foto itu akan mempunyai value.

Mbak Savitri, adalah pengamat dan pelaku  berbagai acara budaya di Jogja. Komunitas seniman dikenalnya dengan baik karena suaminya adalah dosen seni di Solo. Buku-buku Sastra sudah dihayati olehnya, dan dia telah membaca Buku Niti Sastra dalam bahasa Jawa yang kini masih tersimpan di Perpustakaan Pakualaman. Sebagai generasi muda, Mbak Savitri lebih bisa memahami jiwa para anak muda.

Pak Tri, adalah anggota Anand Ashram yang suka menulis di Face Book dan Blog, terutama yang berkaitan dengan kisah-kisah spiritual dan buku-buku Bapak Anand Krishna. Pak Tri sangat mencintai buku-buku Anand Krishna, sehingga ungkapan-ungkapan penting dari buku yang biasanya diberi highlight, di stabilo, ditulis dan dikumpulkannya. Semua buku-buku Bapak Anand Krishna selalu dibacanya berulang-ulang seperti membaca surat seorang kekasih.

Pengamat kehidupan Bram Antareja, Pengamat Budaya Jogja Mbak Savitri, serta Pecinta Buku Anand Krishna Pak Tri kiranya cocok sebagai tim juri Parade Resensi Budaya Niti Sastra ini.

Dalam #InnerJourney di sebutkan bahwa walau mengawali tindakan meniti ke dalam diri dari titik yang berbeda-beda pada akhirnya mereka semua tidak mungkin bila tidak bertemu, karena tujuannya hanya satu.

Oleh karena itu tidak ada yang aneh, bila dalam menilai ketiga aspek: kesesuaian dengan isi buku; tatabahasa; dan presentasi, hasil ke-3 Juri tidak jauh berbeda dan bisa dikatakan mendekati sama.

Oleh karena itu ditetapkan:

Juara 1 adalah Ayyasi Izaz Almas, SMA N 1 Bantul

Juara 2 adalah Novembria Shindi Pawestri, SMA 6 Yogyakarta

Juara 3 adalah Via Alfian Ika Agustina, SMA 11 Yogyakarta

1 para juara dan para Juri

Para Juara berfoto bersama dengan para Juri

Menanam Benih Kesadaran

Mungkin dalam diri setiap peserta sudah ada genetika bawaan dari para nenek-moyang mereka di Zaman Majapahit yang terbawa hingga kini, sehingga Niti Sastra bukan hal yang “asing” bagi mereka.

Bagaimana pun semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra sudah membaca buku Niti Sastra dengan cermat. Dan, benih-benih kesadaran yang ditanamkan kembali dalam buku tersebut akan dapat memberdayakan diri mereka. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat, agar benih kesadaran ini berkembang menjadi pohon yang kuat dan berbuah.

Semoga semua peserta Parade Resensi Budaya Niti Sastra, dikemudian hari dapat berkembang menjadi manusia-manusia bijak yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terima kasih One Earth Integral Education Foundation (OEIEF), terima kasih Anand Ashram.

1 kak Mira

foto 11

1 Mbak Savitri

1 Pak Bram Antareja

1 nbernyanyi bersama

Catatan Akhir Tahun 2014: Selalu Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

happy new year 2015

Happy New Year di Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja (foto Mas Tunggul)

 

Melihat layar lewat Skype

Belasan orang memandang layar besar yang dihubungkan dengan kabel ke laptop yang sudah terkoneksi lewat Skype. Dan terpampanglah gambar Anand Asram Ubud, Anand Ashram Sunter di Hall Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja. Semua orang berteriak bahagia, inilah adalah ungkapan spontan yang membahagiakan dan membangkitkan semangat di akhir tahun 2014.

Kala Bapak Anand Krishna muncul dan menyapa di layar, hati semua orang berbunga-bunga, inilah saat yang ditunggu di penghujung tahun 2014 ini.

Diawali dengan agnihotra, chanting, bhajan, makan bihun bersama dan dilanjutkan mendengarkan kisah Shri Sai Satcharita semua orang menunggu detik-detik yang berbahagia lewat koneksi dengan Anand Ashram Ubud.

Sebuah momen yang perlu dirayakan untuk mengakhiri tahun 2014. Terima kasih kepada semua teman-teman yang mempersiapkan sehingga acara ini terlaksana. Terima kasih Bapak Anand Krishna yang telah berbagi kasih dengan teman-teman di Bali, Jakartaa dan Jogjakarta.

 

Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

Kitab suci yang tebal dari penganut Sikh ( dan menurut pencatat bisa diperluas dengan seluruh kitab yang disucikan) hanya memuat 3 kata: Selalu Ingat Tuhan; Selalu bekerja keras sekuat tenaga tanpa pamrih; dan Selalu berbagi berkah.

Pernyataan Bapak Anand Krishna ini menghunjam dalam dalam diri.

  1. Selalu Ingat Tuhan.
  2. Berkarya Tanpa Pamrih
  3. Berbagi Berkah.

 

Sudahkah dalam satu tahun 2014 kita semua melaksanakan hal tersebut? Siapkah di tahun Baru 2015 kita melakukan hal tersebut!

Kalau hanya memikirkan kepentingan keluarga, kepentingan “family”, semua hewan pun sudah melakukan hal yang sama. Sebagai manusia kita berkarya mestinya bukan hanya untuk kepentingan keluarga, akaan tetapi untuk kepentingan umum, kepentingan umat manusia dan bahkan bagi seluruh makhluk.

Atithi Devo Bhava, tamu yang tidak diundang adalah Tuhan. Sudahkah kita melakukan hal demikian? Tamu yang datang dengan pemberitahuan lebih dahulu adalah “family”.

Bapak Anand Krishna menyampaikan tidak ada seorang tamu pun yang datang ke rumah orang tuanya yang pulang tanpa minum atau makan sesuatu. Ibu beliau selau menjamu semua tamu.

Pak Anand juga menyampaikan kisah Shirdi Baba yang berjanji akan berkunjung ke rumah seseorang pengikutnya. Sang pengikut telah mempersiapkan hidangan untuk Sang Guru yang akan mengunjunginya. Jam 12 tepat sesuai sesuai rencana, Shirdi Baba belum datang juga. 10 menit kemudian datang seorang peminta-minta. Dan sang tuan rumah menolaknya, “Guru saya akan datang, tunggulah setelah datang dan kau akan saya berikan hidangan!”

Ditunggu sampai jam 4 sore Sang Guru tidak datang juga. Dan, temannya menghadap Shirdi Baba dan menanyakan mengapa beliau tidak hadir ke rumah sahabatnya. Dia menyampaikan bahwa sang tuan rumah dan para sahabat sudah menunggu. Shirdi Baba berkata, “Saya sudah datang dan kalian tidak mengenaliku!.”

Atithi Devo Bhava, sang peminta-minta yang datang setelah jam 12 seharusnya dianggap Tuhan yang datang, tetapi sang tuan rumah dan para sahabatnya belum bisa mempraktekkan nasehat tersebut.

Kisah tersebut menyentuh hati nurani terdalam, apa yang sudah kita lakukan selama ini. Adakah nasehat yang sudah dihayati dipraktekkan dalam kehidupan nyata?

Bahkan apabila kita tidak memiliki sesuatu apa pun, kita masih bisa memberikan sebuah senyuman. Bapak Anand Krishna juga berkisah bahwa Giam lo ong, Sang Yama  itu ibarat tulang foto yang tidak tahu kapan mengambil gambar, menjepret kita. Saat menjepret itulah napas yang kita tarik dihembuskan untuk yang terakhir kalinya. Mengapa kita tidak selalu senyum sehingga saat dijepret kita dalam keadaan tersenyum? Hehehe bila kita selfie dengan tongsis, kita bisa mempersiapkan diri saat kita diambil gambarnya, akan tetapi Sang Yama tidak tunduk pada keinginan kita!

 

Perjalanan Kembali ke Solo dan Perjalanan Kehidupan

Pulang dari Center di Jogja, saya istri dan Mas Rahmad mengendarai kendaraan pelan-pelan, karena banyak sekali sepeda motor dan mobil berlalu lalang pada dini hari setelah Pk. 00 tersebut.

Saya mengendarai sendiri, karena teman yang biasa menyetir Solo-Jogja pp sedang sakit. Di sepanjang jalan, kita melihat kembang api sekali-sekali menghiasi langit. Suara knalpot motor meraung-raung dan beberapa anak muda tanpa helm menarik perhatian pengendara lainnya.

Sampai di dekat kompleks Candi Prambanan jalan menjadi macet, mungkin lebih dari setengah jam. Sudahkah mereka yang memenuhi jalan di tahun baru tersebut selalu mengingat Tuhan! Apa yang dipikir oleh mereka? Ada pasangan muda yang naik motor membawa bayi mereka menyelinap kerumunan mobil dan motor. Apakah ini juga tindakan ingat Tuhan? Apakah mereka yang merayakan akhir tahun ini melakukan tanpa pamrih? Ataukah hanya menyenangkan keinginan panca indra serta pikiran dan perasaan?

Mungkin mereka juga telah berbagi berkah kepada tukang penjual terompet dan kepada stasiunSPBU dengan membeli bahan bakar. Mungkin mereka telah berbagi berkah dengan membeli kembang api yang mahal dan tidur di hotel berbintang. Untuk kepentingan pribadi, family atau untuk kemanusiaan?

Hidup  adalah sebuah perjalanan. Seperti perjalanan dari Solo ke jogja dan kembali lagi ke Solo. Sudahkah sepanjang perjalanan kehidupan kita lalui dengan melakukan tindakan: “Selalu ingat Tuhan, Bekerja keras tanpa pamrih pribadi, dan berbagi berkah yang diberikan kepada kita?

Semoga!

Yuk!Brbagi Kasih dg Donor Darah|JOGJA|pk09-12|Sabtu,03/01/15|di AKC Joglosemar|info:081805844014

donor darah 3 Jan 14

Yuk!Brbagi Kasih dg Donor Darah|JOGJA|pk09-12|Sabtu,03/01/15|di AKC Joglosemar|info:081805844014

Blog Baru: Gita Kehidupan Sepasang Pejalan

1 foto thailand 2009

Ingin tahu Biografi Penulis

https://triwidodo.wordpress.com/

dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

diusianya yang menginjak 60 tahun mulai menulis otobiografi dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang dijalaninya.

Silakan Baca:

http://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/

 

Terima kasih

 

Perkawinan Sati Mahadeva, Teladan dari Seorang Panembah

sati kawin mahadeva sumber www metromasti com

Gambar Sati Mahadeva menikah sumber www metromasti com

Bhagavad Gita 4:24 : “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mempersembahkan hidupnya pada Mahadeva

Kisah Sati mencintai Mahadeva sejak kecil adalah sebuah pelajaran bagi manusia yang selalu minta harta benda, kekuasaan,  dan ketenaran dari Tuhan. Padahal kesemuanya itu tidak ada yang abadi, tidak sesuatu pun dapat membahagiakan manusia selamanya. Yang abadi adalah Dia, maka fokus manusia seharusnya bukanlah pada milik-Nya akan tetapi pada Dia Hyang Maha Memiliki. Inilah contoh yang diberikan Sati bahwa dia tidak tergoda oleh kemewahan istana orang-tuanya, tidak tergoda oleh kekuasaan yang dimilikinya sebagai putri seorang Prajapati, bahkan Sati tidak tertarik kepada para Raja dan Pangeran yang disodorkan ayahandanya sebagai calon suaaminya. Sati hanya mendambakan Shiva sang Mahadeva. Dalam kisah memang digambarkan bahwa Sati maupun Mahadeva berwujud manusia, akan tetapi itu adalah contoh bagaimana seorang manusia yang sungguh-sungguh sangat mencintai Gusti Pangeran.

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jalan yang dilakukan Sati adalah lewat persembahan. Tindakan Sati meninggalkan istana untuk hidup di pertapaan tempat pemujaan Shiva di tengah hutan adalah sebagai persembahan. Tidakan Puasa Sati, untuk mengurangi konsumsi makanannya juga dilakukannya sebagai persembahan. Bertahun-tahun Sati menjalani hal demikian dan dia selalu mengurangi konsumsi makanannya sehingga akhirnya dia hanya makan satu helai daun sehari.  Puasa digunakannya untuk mendekatkan diri pada Hyang Maha Kuasa.

 

Sati memberikan keteladana bagaimana menjadi ‘Murid’

“Seorang ‘Murid’, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki ‘murad’ atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiranNya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan kesungguhan Sati, maka Shiva sang Mahadeva tergerak menemui Sati . Shiva menyelesaikan tapanya yang bahkan tidak tergerak saat dirayu Sang Kamadeva melalui gadis jelita Vasantha ciptaan Brahma. Vasantha sendiri adalah nama dari musim semi, musim yang membuat manusia berbahagia.

Shiva sang Mahadeva tergerak menyelesaikan tapanya dan menemui Sati yang telah mempersembahkan hidupnya kepadanya. Dikatakan bahwa Tuhan bersemayam dalam dada seorang panembahnya.

Saat Sati menyampaikan keinginan untuk menjadi istrinya, Mahadeva menyanggupinya dan berjanji akan segera meminangnya ke istana orang tuanya.

 

Shiva menikahi Sati

“Diriku ini Milik-Mu. Inilah penyerahan diri. Inilah keikhlasan dan kepasrahan diri yang sempurna. Tanpa embel-embel. Inilah cinta yang tak terbatas, dan tanpa syarat. Cinta seperti ini adalah suatu ‘kejadian’ yang jarang terjadi. Inilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh jiwa. Inilah kejadian yang dapat mengantar jiwa pada tahap evolusi berikutnya, tempat ia ‘menjadi’cinta. Tahap pertama adalah penyerahan diri: ‘Aku milik-Mu’. Inilah ‘kejadian’ awal. Saat kejadian ini, ego kita sudah knock out, flat on the ground. Ia sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia sudah tidak berdaya. Diri-Mu adalah Milikku. Inilah langkah kedua setelah penyerahan diri. Setelah penyerahan diri, sekarang pernyataan kepemilikan diri. Aku telah menjadi milik Gusti Pangeran, sekarang Gusti Pangeran menjadi milikku. ‘Cintaku untuk-Mu semata untuk Melayani-Mu’ tak ada kepentingan pribadi, tak ada tuntutan birahi, tak ada urusan kepuasan diri. ‘Harapanku padaMu’, bukanlah supaya kau membalas cintaku, tapi ‘semoga Kau berkenan atas ungkapan kasihku padaMu’. Cinta macam apakah ini? Inilah Cinta Sejati, inilah Kasih Ilahi. Nafsu birahi selalu menuntut, cinta penuh emosi memberi, tapi selalu mengharapkan balasan/imbalan. Cinta sejati adalah ungkapan kasih ilahi yang selalu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut sesuatu. Ia tidak mengharapkan imbalan. Ia tidak peduli akan balasan.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati merasa sangat bahagia dan pulang ke istana menunggu pinangan Shiva. Ibu Sati sangat senang bahwa tapa Sati telah berhasil. Akan tetapi Prajapati Daksha, sang ayahanda yang angkuh merasa tidak senang. Baginya Shiva adalah pertapa pengembara yang kotor yang tinggal di hutan dan berkawan dengan binatang. Bajunya pun hanya kulit harimau, bagaimana dia bisa menjadi menantu seorang Prajapati yang gemerlapan?

Sati sangat yakin pada kekuasan Shiva dan bila pernikahan itu harus terjadi maka tidak ada satu orang pun yang dapat menghalanginya. Shiva segera menemui Brahma dan mengatakan bahwa dia telah menemukan calon istri yang sempurna dan dia memutuskan untuk segera menikahinya. Brahma sangat senang dan berkata itu adalah harapan semua dewa. Brahma berjanji segera mengatur pernikahan sesegera mungkin.

Brahma segera ke istana Daksha, dan menyatakan bahwa tapa Sati telah berhasil dan Shiva akan meminangnya. Daksha tidak berkutik terhadap ayahandanya yang telah memberikan kekuasaan kepadanya sebagai prajapati. Mau tidak mau Daksha menyetujui permintaan Brahma.

Para dewa kemudian berkumpul di Kailasha dan mengucapkan selamat kepada Shiva. Shiva kemudian pergi ke istana Daksha ditemani Brahma, Vishnu dan para dewa lainnya. Dan pernikahan pun terjadi dengan sangat meriah.

Pernikahan Shiva Sati dirayakan pada bulan baru di bulan Februari yang disebut Mahashivaratri. Februari adalah bulan dimana Bunda Alam Semesta mengundang manusia untuk menabur benih. Bumi telah merasakan musim dingin yang lama dan sekarang adalah waktu untuk menabur benih, memulai kehidupan baru, musim semi yang baru.

 

Jalan Peningkatan Kesadaran Manusia

“Ketika kesadaran manusia meningkat, terbersihkanlah jiwanya, dan terkendalilah pikirannya. Atau sebaliknya, ketika jiwa manusia terbersihkan, dan pikiran terkendalikan, terjadilah peningkatan kesadaran. Anda boleh mulai dari ujung mana saja. Hasilnya sama. Upayakan peningkatan kesadaran, maka jiwa menjadi bersih dan pikiran terkendali. Upayakan kebersihan jiwa dan kendalikan pikiran, maka kesadaran mengalami peningkatan. Dari ujung manakah semestinya kita memulai? Terserah, dari yang mana saja. Mengupayakan kebersihan jiwa dan pengendalian pikiran adalah jalur meditasi. Inilah jalur perenungan, yang dalam bahasa sufi disebut jalur fiqr atau tafakkur. Sementara itu, mengupayakan peningkatan kesadaran adalah jalur cinta murni. Sesungguhnya bukan peningkatan kesadaran yang diupayakan oleh seorang pecinta, tapi pemindahan kesadaran. Ia memindahkan fokusnya dari dunia benda ke Hyang Mahamenawan. Jalur kedua ini adalah bagi para pecinta tanpa syarat, mereka yang tidak membutuhkan imbalan. Jika Anda belum siap dan menyalahartikan luapan emosi sebagai cinta sejati, Anda akan kecewa karena jalur ini adalah jalur tanpa tuntutan. Sementara, emosi Anda masih menuntut. Janganlah menggunakan jalur ini jika Anda belum memiliki cinta sejati terhadap Hyang Mahamenawan. Lebih baik menggunakan jalur pertama, jalur meditasi.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Sati Mahadeva bukan hanya memberikan teladan bagaimana seseorang yang selalu melakukan persembahan dapat mencapai apa yang dinginkannya, akan tetapi sudah berada dalam dekapan-Nya pun seseorang bisa lengah sehingga menjauhi-Nya. Silakan ikuti kisah selanjutnya.

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/10/perkawinan-sati-mahadeva-teladan-dari-seorang-panembah/

Mahadeva: Kelahiran Bunda Alam Semesta sebagai Sati Putri Daksha

sati mahadev sumber www bolegaindia com

Gambar Sati Mahadeva sumber www bolegaindia com

“Penciptaan, Pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendak-Nya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendak-Nya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Anak Keturunan Brahma di Dunia

Sesuai dengan tugasnya untuk mencipta, Brahma mulai  menciptakan 4 Rsi: Sanaka, Sananda, Sanatana and Sanat-kumara dan minta mereka membuat anak keturunan untuk menyebar ke dunia. Keempat-empatnya menolak karena tidak tertarik berkeluarga dan fokus menjadi bhakta Vishnu. Brahma menahan kemarahannya dan sebagai akibatnya keluarlah Rudra lewat keningnya. Rudra menjadi Prajapati tetapi melakukan banyak kesalahan sehingga dia disuruh bertapa.

Brahma kemudian menciptakan Narada, Vasishtha, Bhrgu, Daksha, Kratu, Pulaha, Pulatsya, Angira, Atri dan Marici. Selanjutnya lahirlah Dharma, Adharma, Kardama dan banyak putra-putra lainnya. Kemudian Brahma menciptakan pasangan Swayambu Manu dan Satarupa. Dari mereka lahirlah 3 putri Akuti, Prasuti, Devahuti serta dua putra Priyavatra dan Uttanapada.  Akuti menikah dengan Ruchi putra Brahma, Dewahuti dengan Kardama putra Brahma dan Prasuti dengan Daksha Putra Brahma. Anak-keturunan Swayambu Manu semuanya mendiami dunia.

 

Pasangan Shiva Inkarnasi Parashakti

“Pengetahuan tentang Ia Hyang Melampaui Wujud adalah Pengetahuan Sejati. Hati-hati, jangan pula menyalahartikannya sebagai ‘Hyang Tak Berwujud’. Sebab itu, di awal tadi saya memilih untuk menerjemahkan Nirguna sebagai ‘Hyang Melampaui Wujud’. ‘Hyang Melampaui Wujud’ tidak berarti, ‘tidak boleh punya wujud’. Kita tidak bisa menyuruh Gusti Pangeran, ‘He, kalau sudah Tak Berwujud, ya tetap Tak Berwujud saja ya. Jangan lagi Berwujud!’ Kita tidak bisa memerintah Gusti Pangeran seperti itu. Suka-suka Dia. Kalau Dia mau mengungkapkan keberadaan-Nya lewat wujud; jika Dia ingin menunjukkan wajah-Nya kepada seorang pencinta, seorang bhakta, seorang panembah – kita tidak bisa melarang-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Konon Shiva berada dalam meditasi yang sangat dalam. Brahma yang muncul di tempat meditasi Shiva bersama Kamadeva Putra Brahma berkata, “Kamadeva kau harus menemukan cara agar Shiva menyelesaikan meditasinya!” Kamadeva menyanggupi asal Brahma menciptakan gadis cantik terlebih dahulu. Brahma kemudian menciptakan Vasanthi dan Malayani. Kamadeva berupaya membangunkan Shiva dibantu kedua gadis cantik tersebut tetapi Shiva tetap tidak tergerak. Malayani kemudian diajak pergi oleh Brahma. Dan, setelah beberapa lama Kamadeva pun tetap tidak berhasil dan kembali menghadap Brahma.

Brahma kemudian meminta bantuan Vishnu, dan Vishnu mengatakan agar Brahma langsung menemui Shiva. Sebelum minta Shiva menikah maka Brahma diminta berdoa kepada Parashakti, Bunda Alam Semesta agar Dia berkenan lahir ke dunia sebagai istri Shiva. Brahma kemudian minta pasangan Daksha dan Prasuti bertapa mohon perkenan Bunda Alam Semesta lahir ke dunia sebagai putri mereka.

Dalam Srimad Bhagavatam, dikisahkan Vishnu beberapa kali mewujud di dunia. Demikian pula Shiva pun mewujud sebagai Rudra Putra Brahma. Inkarnasi Dewa lahir di dunia untuk melenyapkan kejahatan, melindungi orang-orang saleh dan menemui “para pencari” untuk memberikan kedamaian dan sukacita kepada mereka.

Dikisahkan Daksha dan Prasuti bertapa selama 3.000 tahun dan Bunda Alam Semesta menemui mereka. Bunda berkenan akan lahir sebagai putri mereka dengan syarat, bahwa bila Daksha tidak menghormati sang dewi, maka Dia akan kembali ke Parabrahma.

Dari rahim istri Daksha lahir 60 anak perempuan. 10 putri menikah dengan Dharma. 13 putri menikah dengan Kashyapa. 27 putri menikah dengan Chandra. Masing-masing 2 putri menikah dengan Bhootan, Angirasa dan Krishashwana dan sisanya menikah dengan Tarkshya. Generasi penerus mereka menjadi penduduk bumi.

Kemudian Daksha dan istrinya berdoa lagi dan lahirlah Sati. Setelah Sati dewasa datanglah Brahma dan Narada dan mereka berkata kepada Sati bahwa keinginan rahasia yang disembunyikan dalam pikiran Sati untuk menjadi istri dari Shiva akan terlaksana.

 

Kejelitaan Sati dan Arogansi Prajapati Daksha

“Evolusi Spiritual adalah evolusi dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Inilah evolusi yang sedang kita jalani saat ini. Ketidaksadaran memisahkan kita dari alam semesta, makhluk-makhluk lain bahkan dari sesama manusia. Kesadaran mempertemukan kita dengan alam semesta, makhluk-makhluk lain maupun dengan sesama manusia. Ketidaksadaran menciptakan kesombongan, arogansi seolah kita Mahatinggi, Mahabesar, Mahaterpilih, dan sebagainya. Kesadaran menciptakan keselarasan, keserasian, dan keharmonisan. Sesungguhnya tiada perbedaan antara kita. Kita semua satu adanya. Ketidaksadaran menciptakan jurang pemisah antara sesama makhluk sedangkan Kesadaran menciptakan jembatan untuk mempertemukan kita.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati tumbuh menjadi gadis jelita dan Daksha mulai berpikir bagaimana mungkin putri yang sangat cantik jelita kawin dengan pria yang selalu memakai baju harimau dan tinggal di hutan. Dalam kisah selanjutnya akan disampaikan perjalanan spiritual Daksha dari ketidaksadaran menuju kesadaran.

Sati minta pada sang ibu untuk mengajari bagaimana bermeditasi pada Shiva. Siang malam Sati bermeditasi pada Shiva.

Dikisahkan para dewa datang ke Kailasha menghadap Shiva, Sang Mahadewa dan mengatakan bahwa para asura di dunia sedang berkembang pesat. Mereka menguasai seantero dunia. Mereka mengingatkan bahwa adalah tugas Shiva untuk mendaur ulang, menghancurkan mereka. Brahma berkata bahwa walaupun mereka bertiga (Brahma, Vishnu dan Shiva) adalah satu, akn tetapi mereka mempunyai tugas masing-masing. Brahma mencipta, Vishnu memelihara, sedangkan Shiva mendaur ulang. Brahma dan Vishnu sudah punya istri, akan tetapi Shiva belum. Shiva mengatakan bahwa dia selalu bermeditasi, jadi untuk apa punya istri?

Atas bujukan Brahma yang kreatif, maka Shiva bersedia menikah, tetapi dengan syarat hanya dengan wanita yang bisa mewujud menjadi orang yang berbeda. Setiap kali Shiva bermeditasi maka istrinyapun juga bermeditasi. Vishnu dan Brahma senang dan berkata bahwa mereka sudah menemukan pasangan yang cocok yang merupakan inkarnasi dari Bunda Alam Semesta bernama Sati. Shiva setuju.

Ikuti kisah selanjutnya!

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/07/mahadeva-kelahiran-bunda-alam-semesta-sebagai-sati-putri-daksha/

 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 343 pengikut lainnya