VEDAANTA, Harapan bagi Masa Depan

Judul         : VEDAANTA, Harapan bagi Masa Depan

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit     : Pustaka Bali Post

Cetakan     : Cetakan Pertama, 2007

Tebal         : 198 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Vedaanta

 

Manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk yang paling sempurna……..Ya, dia memiliki potensi untuk meraih kesempurnaan, untuk menjadi sempurna. Untuk itu, ia harus bekerja keras. Ia harus membanting tulang. Ia harus berupaya……..

Manusia dilahirkan di bumi bukan untuk mengagung-agungkan langit….. Tetapi untuk merawat bumi…… Untuk mengagung-agungkan langit, ia tidak perlu lahir di bumi. Ia tidak perlu meninggalkan ketinggian langit. Ia bisa mengagung-agungkan langit di langit, dan dari langit. Tidak perlu “turun” ke bumi.

Lain perkara dengan bumi. Manusia dapat merawatnya, juga mematikannya. Dapat memperindahnya, juga merusaknya. Bumi, seolah, telah diamanahkan kepada manusia untuk diurusinya. Amanah yang tidak dipahami oleh manusia sebagai amanah. Amanah yang telah dijadikannya sebuah wacana saja. Sering sekali ia menggunakan kata itu tanpa memahami maknanya.

Manusia ingin memiliki bumi….. Dan keinginginannya itu membutakan dirinya. Ia merusak bumi, menyebabkan peningkatan suhu pada permukaan laut dan mendesak langit untuk memuntahkan kegusarannya.

Agama-agama pun dibaginya menjuadi dua kelompok: Agama-agama Bumi dan Agama-agam Langit. Seolah-olah agama-agama adalah ciptaannya. Sungguh ajaib! Kenapa manusia menjadi arogan?

Para pujangga yang berada di wilayah Peradaban Sindhu – dari Aaryan atau Iran hingga Astraalaya atau Australia – berpendapat bahwa manusia “belum jadi”. Ia masih dalam proses “menjadi” atau “penjadian”. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. Ia lahir bersama benih kemanusiaan. Pun Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya – kemanusiaannya.

Vedaanta, sebagaimana saya memahaminya, adalah Intisari Veda, dan Veda berarti Pengetahuan, atau lebih tepat lagi jika disebut “Kebijakan” yang telah menjadi Pedoman bagi Perilaku Manusia. Jadi, pengetahuan atau kebijakan yang belum atau tidak bisa diterjemahkan dalam keseharian hidup – bukanlah Veda.

Vedaanta memahami agama sebagai Peta….. sebab itu, ia pun tidak mengharamkan “perbaikan” pada peta. Setiap kali seorang Siddharta tercerahkan dan bangkit dalam mkesadaran Buddha, setiap seorang Shankara menjadi Aachaarya, setiap kali seorang Sathyanarayan menjadi Sai – lahirlah pemahaman-pemahaman baru sesuai dengan tuntutan zaman. Sesuai dengan keadaan sosial dan budaya dimana para Avataar dan para Guru lahir.

Tauhid berarti “Kesatuan”. Satu Allah, Hyang Tiada Duanya. Bagi Einstein, Hyang Tiada Duanya adalah Medan Energi Terpadu yang mempersatukan kita semua. Bagi para resi inilah Advaita – Non Dualitas. Ekam Sat – Adalah satu Hyang Memiliki Banyak Sebutan. Vedaanta tidak membedakan antara penemuan Muhammad, pemahaman Einstein dan pencerahan para resi. Semuanya adalah bagian dari Hyang Maha Sempurna. Kesempurnaan itu sendiri. Maka Vedaanta pun memahami betul ketika Isa menyatakan dirinya Sama dengan Bapa Allah di Surga.

Vedaanta memahami ungkapan “Bagaimanapun jua, saya seorang manusia…manusia biasa..” sebagai kekeliruan manusia. Kekeliruan dalam hal mengenali diri. Kekeliruan atau kesalahpahaman tentang jati-diri, yang disebabkan oleh pikiran. Maka, membebaskan diri dari pikiran-pikiran yang keliru itu menjadi tigas awal manusia.

Dharma bukanlah Agama, sebagaimana diartikan secara umum. Dharma adalah esensi dari Agama. Dharma adalah Inti keagamaan. Agama hanyalah sarana untuk menuju Dharmic Way of Life – Kehidupan Sesuai dengan Dharma. Awalnya, Dharma disebut Rta – dan diartikan sebagai Hukum Alam, Hukum Abadi yang Tak Terelakkan. Dalam perjalanannya yang cukup panjang dan mencakup ribuan tahun, Rta dijabarkan lebih lanjut sebagai Dharma. Jika Rta adalah Hukum Alam, maka Dharma adalah Perbuatan yang Sesuai dengan Hukum Tersebut.

Setidaknya sejak 1 juta tahun yang lalu manusia sudah berada di dunia ini…. dalam i juta tahun itu, ia telah mengalami banyak perubahan biologis yang telah mempengaruhi perkembangan otaknya, daya pikirnya. Perubahan-perubahan fisik yang terjadi dalam kurun waktu seratus ribu tahun terakhir sudah tidak terlalu signifikan. Namun perkembangan otak dan daya pikir manusia yang terjadi dalam kurun waktu 10.000 tahun terakhir saja sudah luar biasa.

Para resi beranggapan bahwa evolusi spiritual pun sesungguhnya sudah berjalan setidaknya sejak 10.000-an tahun yang lalu. Kemudian, sejak 5.000-an tahun yang lalu Cakram Evolusi ini berputar sedikit lebih cepat. Kecepatannya bertambah terus……. Dan, saat ini ia telah mencapai tingkat yang belum pernah tercapai sebelumnya. Apa yang terjadi ketika kesadaran manusia meningkat? Ia berhenti memikirkan fisik melulu. Ia berhenti memikirkan dirinya dan keluarganya saja. Ia mulai berpikir tentang Kebenaran Hyang Ada di balik kenyataan fisik. Dan, ia melihat adanya “sesuatu” yang mempersatukan dirinya dengan sesama manusia, dengan sesama makhluk hidup, dengan semesta. Kesadaran ini disebut Raja-Yoga – Pertemuan Agung.

Maka, muncullah keinginan, muncullah hasrat untuk mengabdi pada Wajah-Wajah yang dilihatnya dimana-mana….. Empati – yang sebelumnya hanya dirasakannya saja pada terminal Raja-Yoga – mulai dipraktekkannya dalam keseharian hidup. Demikian ia memasuki terminal berikutnya. Terminal Karma Yoga – Terminal Karya Agung. Seluruh kesadarannyadipusatkannya pada apa yang dikerjakannya. Sehingga hasilnya pun sudah pasti baik. Tidak bisa tidak. Ia bekerja dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa.

Ia melanjutkan perjalanannya dan menemukan bahwa pikiran dan perasaan pun bukanlah dirinya….. Ia adalah Wujud Kebahagiaan Abadi. Sekarang, dirinya berada di terminal Gyanaa Yoga – Pengetahuan atau Kesadaran Agung.

Refleksi atau bayangan bulan di dalam air danau – ada karena adanya bulan. Tiada bulan, tiada pula bayangan. Bayangan itu tidak memiliki eksistensi di luar bulan. Aku ada karena Dia….. Sesungguhnya Dia itulah Aku….. Aku Dia, Dia Aku… Kesadaran seperti ini mengantar kita pada Terminal Terakhir, yang sesungguhnya adalah Tujuan Hidup: Bhakti Yoga – Kasih Agung.

Seorang Bhakta, pelaku Bhakti Yoga, adalah an integrated personality. Dalam diri seorang Bhakta, kita menemukan Raja-Yogi. Karma-Yogi dan Gyaan-Yogi. Ia berhenti “ber” atau “me” ; karena seluruh hidupnya menjadi ibadah dan pelayanan tanpa akhir.

Bagaimana mengenali seorang Bhakta? Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan duka maupun suka – ia tetap sama. Ketenangannya, kedamaiannya, kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu. Ia bebas dari rasa takut. Ia tidak suka menutup-tutupi Kebenaran. Ia akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. Ia bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimistis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; ikhlas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu – tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima Kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan-diri pada-Nya.

Jika kau tidak suka kata Menyepi dalam bahasa Indonesia, maka gunakanlah bahasa Yunani, Metanoia; atau bahasa Inggris, Meditasi; bahasa Arab Muraqabah; bahasa apa saja yang kau sukai.

Para psikolog menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu yang disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: “Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar manusia. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan sesungguhnya bukan saja manusia – itu merupakan kebutuhan dasar fisik makhluk hidup.”

Siapakah aku? Untuk apa aku berada di dunia ini? Aku datang dari mana? Mau pergi ke mana? Jika pertanyaan-pertanyaan semacam ini belum jua menghantui kita – maka jelas kesadaran kita masih berada pada tingkat yang paling rendah. Pada tingkat dimana makan, minum dan seks adalah kebenaran. Dan tidak ada kebenaran lain di luar itu.

Kepulauan Nusantara yang vtelah menjadi rumah bagi ratusan suku dengan beragam tradisi, agama, bahasa, bahkan ras – membutuhkan dasar yang sangat kuat untuk menjadi Satu Negara, Satu Bangsa….. Dan, para founding fathers kita menyimpulkan bahwa hanya Budaya yang dapat dijadikan dasar. Kala itu, ada juga beberapa pemikir, beberapa tokoh bangsa yang menginginkan “Agama” sebagai dasar. Tetapi, setelah perdebatan panjang – hampir semuanya setuju bahwa doktrin atau dogma agama yang sulit diperdebatkan malah akan menimbulkan pertentangan. Doktrin dan dogma masing-masing agama memiliki keunikan tersendiri, dan sulit dipertemukan. Justru nilai-nilai budaya yang universal dan telah menjadi basis bagi pola pikir Manusia Indonesia yang dapat mempertemukan agam0agam itu.

Apa yang sekarang diterjemahkan sebagai perang sesungguhnya hanyalah “penjarahan” – raids. Satu suku menjarah suku yang lain. Satu komunitas menjarah komunitas yang lain. Dan, hasil penjarahan itu, loot itu, yang kemudian dibagikan sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh pihak yang berhasil.

Di tengah konflik dan pertikaian yang terjadi di Poso, di Maluku, dan di tempat-tempat lain – saat ini kita tidak punya pilihan lain kecuali kembali pada Budaya asal Nusantara. Kembali pada Kebijakan Leluhur kita. Kembali pada dasar negara yang dipakai oleh Dinasti Sriwijaya yang berkuasa lebih dari 800 tahun dan Dinasti Majapahit yang dapat bertahan selama 400-an tahun. Dasar ini, Landasan ini yang kemudian ditemukan kembali oleh para founding fathers kita dan dipopulerkan sebagai Lima Nilai Universal – Pancasila.

Ajaran-ajaran yang bersumber dari Veda, dari Kolam Kebijaksanaan Abadi, dari Kesadaran Murni, Ilahi – tidak pernah memaksa kita untuk menerima sesuatu dengan begitu saja. Kita dituntun untuk memahami, baru menerima. Bahkan, untuk meneliti sebelumnya.

Ajaran-ajaran inilah yang sejak lama mewarnai seluruh wilayah peradaban Sindhu, termasuk kepulauan kita. Tidak ada yang menakut-nakuti kita dengan api neraka, tiada pula janji-janji surga. Adalah kesadaran manusia akan Hukum-Hukum Alam, Hukum Aksi-Reaksi, Hukum Sebab-Akibat, Hukum Evolusi Raga dan Jiwa – yang dibangun. Adalah rasa tanggung jawabnya yang dibangun, ditingkatkan. Sehingga ia merasakan kedekatannya dengan alam, dengan lingkungan, dengan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan, bahkan dengan bebatuan. Dengan bintang dan bulan dan langit. Jika kesadaran seperti ini disebut animis, animisme – maka aku bangga akan sebutan itu bagi diriku.

Demi pohon Zaitun, dan Bulan dan Bintang – aku bangga akan sebutan itu. Sebagai animis aku menjadi lembut, aku menjadi lebih peduli terhadap pemanasan global. Aku tidak menjadi teroris. Demi, Ia yang menggenggam Nyawaku dalam Genggaman-Nya – aku bangga disebut animis.

Dalam wilayah peradaban kita, perempuan adalah Wujud ShaktI – Enegi. Ketika “I” dari ShaktI ini bergabung dengan Shava, Jasad – maka jasad yang tak bernyawa itu pun berubah menjadi ShIva!. Shiva adalah Sumber Kebahagiaan. Dan, Kebahagiaan itu ada karena Shakti.

 

Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada Ia yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. Ia telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrata. One, Eka – Satu…… Ia sudah melampaui dualitas. Ia telah menyatu dengan Hyang dicintainya. Ia telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.

 

Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang Head-Oriented, ada yang Heart-Oriented. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada hati melahirkan para seniman, para penyair dan penulis. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung. Adakalanya terjadi tumpang-tindih. Ketika seorang politisi berorientasi pada Hati, maka lahirlah seorang Soekarno. Ia seorang negarawan dengan visi jauh ke depan. Menempatkan seorang Soekarno di Istana Kepresidenan adalah kesalahan bangsa ini. Kesalahan Rakyat Indonesia. Beliau terlalu besar dan istana terlalu kecil. Dinding dan atap istana kepresidenan tidak mampu membatasi gerak-gerik jiwa Soekarno. Maka Sang Jiwa Besar pun berontak. Batas-batas aman politik dilampauinya. Norma-norma baku diplomasi diabaikannya. Dan, banyak pihak yang menjadi gerah. Maka Beliau disingkirkan.

Saya mengakui dan menerima kedua orientasi tersebut. Dua-duanya penting. Kendati demikian, saya juga memiliki visi tentang Manusia Baru, tentang Neo-Man. Dalam visi saya, Manusia Baru adalah Manusia Smpurna dalam pengertian The Total Man. Dirinya “Lengkap”. Manusia Baru tidak diperbudak oleh hati maupun otak. Ia mengendalikan keduanya. Ia tahu persis kapan menggunakan hati, dan kapan mengunakan otak. Ia bukanlah Pembantu hati atau otak, ia adalah Majikan yang mengendalikan keduanya.

 

Kesadaran akan kesatuan yang selama ini menjadi milik segelintir Manusia Sampurna – telah menjadi milik kita semua. Inilah pertanda-utama Zaman Baru. Inilah bekal utama Manusia Baru. Dan, Manusia Baru adalah Kau. Manusia Baru itu adalah Aku. Kita semua adalah Manusia Baru…… Lihat, lihatlah langit diatas – Satu Langit…… rasakan bumi di mana kau memijakkan kakimu – Satu Bumi…….. Perhatikan dirimu. Dan perhatikan pula mereka yang berada disekitarmu – sama-sama Manusia, Satu Umat Manusia…… Berbahagialah bahwa kau lahir dalam masa ini! Rayakan kelahiranmu – Engkaulah Manusia Baru, yang kedatangannya telah diramalkan oleh para Avataar dan Mesias, para Nabi dan Buddha. Engkaulah Manusia Baru yang kelahirannya ditunggu-tunggu oleh jagad-raya……

 

Triwidodo

Desember 2007

AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan. Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern

Judul         :  AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan. Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan     : Cetakan Kedua, 2000

Tebal         : 159 halaman

 

Mutiara Quotation Buku AH!

 

Selokan air kotor di depan rumah anda, air kali dan air sungai yang kadang jernih dan kadang keruh – semuanya sedang menuju laut. Es Dhammo Sanantano – demikianlah Kebenaran itu adanya. Tetapi, sesungguhnya kebenaran tadi masih belum utuh – masih separuh. Seorang Buddha berupaya melihat sisi lain kebenaran, Ia ingin melihat kebenaran seutuhnya.

Dan sisi lain kebenaran yang mereka lihat, sungguh menakjubkan! Air laut menguap dan menjadi awan. Lalu awan berubah menjadi air hujan. Kemudian turunlah air hujan untuk mengisi semua mata air yang ada dan bahkan mengalir kembali lewat selokan air kotor di depan rumah anda ………

Ketahuilah, semuanya ini permainan gila – tak berarti. Tasmaat Jagrutaah, Jagrutaah – oleh karena itu, bangkitlah, sadarlah! Dan seorang Buddha tertawa terbahak-bahak.

Dibekali dengan kesadaran baru tersebut, seorang Buddha mulai merayakan kehidupan. Sesungguhnya, hanya seorang Buddha yang bisa merayakan kehidupan. Bukan mereka yang sering muncul di layar teve. Mereka sekedar senang-senang, sebentar lagi kesenangan mereka juga akan berubah menjadi kesedihan.

Yang bisa membuat anda menjadi seorang selebriti hanyalah kesadaran. Kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri.

Penderitaan Gusti Yesus selalu dibesar-besarkan. Ya, Ia ditahan, disiksa dan bahkan disalibkan, tidak berarti bahwa Ia menderita. Seorang yang menderita tidak dapat memaafkan mereka yang menyebabkan penderitaan terhadap dirinya. Sudah tahu akan disalibkan, Ia masih mengundang para muridnya untuk makan malam bersama. Yesus adalah seorang Buddha, seorang selebriti sejati. Begitu pula dengan Siddharta Gautama dan Kanjeng Gusti Muhammad. Menjelang akhir hayat, selama berhari-hari badan mereka menderita, tetapi perayaan kehidupan berjalan terus. Mereka para selebriti sejati.

Seorang Buddha bisa merayakan hidup setiap saat dan dalam setiap keadaan, karena ia sadar bahwa sesungguhnya kekeruhan dan kejernihan bukanlah dua hal yang berbeda. Air yang keruh akan jernih kembali dan air yang jernih akan menjadi keruh untuk menjadi jernih kembali. Berada dalam kekeruhan – ia tidak akan mengeluh, karena ia sadar bahwa kekeruhan hanya bersifat sementara. Begitu pula di tengah kejernihan, ia tidak akan menjadi senang, lalu angkuh, karena ia sadar bahwa kejernihan pun bersifat sementara,

Siddharta Gautama pernah menemukan jawabannya. Bahwa sebenarnya air keruh dalam selokan tidak pernah berpisah dari air jernih dalam lautan. Dan air jernih dalam lautan juga tidak pernah berpisah dari air keruh dalam selokan. Ada sutra – ada benang yang mengikat setiap intan pengalaman. Lautan pun sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari awan di atas langit. Dan awan pun tidak pernah berpisah dari air dalam selokan.

Sutra ini akan menyadarkan anda kembali bahwa sesungguhnya anda berada di sini untuk mereyakan kehidupan. Bahwa selama ini anda lupa merayakan kehidupan. Dan bahwasanya penundaan perayaan tersebut disebabkan oleh ketidak sadaran anda sendiri.

 

AYAT PERTAMA.

Dalam keadaan di mana segala macam pengalaman terlampaui sudah, Yang Mulia Avalokiteshvara – Sang Boddhisatva – melihat ke bawah. Dan Ia menemukan bahwa bagian-bagian kehidupan yang berjumlah lima itu sesungguhnya tidak ada.

Ketika pencerahan pun terlampaui sudah, Ia menemukan bagian-bagian kehidupan yang berjumlah lima itu sesungguhnya tidak ada. Selama anda membicarakan pencerahan, anda akan membicarakan kebalikannya juga. Selama anda masih membicarakan kesadaran, anda akan membicarakan ketidaksadaran juga.

Lima bagian kehidupan :

  1. Roopa Skandha, yaitu segala sesuatu yang memiliki bentuk, wujud. Termasuk energi, karena energi pun masih memiliki wujud sebagai energi. Termasuk nyawa. Belakangan ini ada penemuan baru. Saat orang dinyatakan mati secara medis terjadi penurunan berat badan sebesar 30-an gram.

  2. Vedanaa Skandha, perasaan anda. Rasa senang, tidak senang dan cuek. Kepedulian, ketidakpedulian dan sikap masa bodoh.

  3. Sangyaa Skandha, sikap mengkait-kaitkan. Sakit flu dengan kehujanan. Karena pernah merasa dimusuhi oleh orang Yahudi, sampai seribu lima ratus tahun kemudian kita menganggap kita masih dimusuhi. Sikap ini yang membentuk persepsi, pandangan kita.

  4. Samskaar Skandha, pikiran dan keinginan. Pola pikir terbentuk oleh pengalaman hidup sehari-hari. Keinginan dalam diri muncul karena interaksi dengan dunia luar. Anda melihat sesuatu, timbul keinginan untuk memilikinya, kemudian mulai memikirkan cara-cara untuk memilikinya.

  5. Vigyaan Skandha, pengetahuan sekaligus kemampuan untuk memilah. Vigyaan juga bisa diterjemahkan sebagai kesadaran. Kendati yang dimaksudkan adalah kesadaran rendah – kesadaran untuk memilih dan memilah.

Berada pada tingkat Avalokita, seorang Boddhisatva melihat bahwa wujud, rasa, keterkaitan atau persepsi, keinginan bahkan kesadaran untuk memilah sesungguhnya tidak ada.

Kelima Skandha masih bermakna, jika anda masih dikuasai mind, pikiran. Apa yang terjadi pada keadaan tidur pulas? Untuk sesaat anda terbebaskan dari mind – dan terbebaskan pula dari wujud, rasa, persepsi, pikiran dan kesadaran untuk memilah. Ini pula yang terjadi dalam alam meditasi, keadaan tidur pula tetapi dengan penuh kesadaran.

Tidur pulas selama 20-an menit saja sudah cukup untuk menyegarkan jiwa dan raga. Para meditator selalu mengalami penurunan waktu tidur dan peningkatan kualitas tidur.

Selama masih berada di bawah, masih mengendarai mobil di jalan raya, anda harus mengindahkan setiap peraturan lalu lintas. Begitu naik pesawat, peraturan-peraturan tersebut sudah tidak perlu diindahkan lagi. Anda harus mengikuti peraturan yang berbeda.

Berada pada tingkat Avalokita, kesdaran rendah yang memilah dan mengelompokkan manusia dalm kotak-kotak agama, suku, ras, bangsa dan lain sebagainya akan langsung lenyap.

Hukum Syariah menyangkut kehidupan sehari-hari, hal-hal yang bersifat lahiriyah, perlu pengembangan atau tidak? Di jaman Nabi, jika ada hal yang membingungkan, para sahabat bisa melontarkan pandangan mereka. Dan Nabi pun bisa memahami dalil mereka.

Masalah kita adalah persepsi yang sudah terlanjur terbentuk. Kita sudah memiliki pandangan bahwa seorang Buddha tidak pernah marah. Lalu kita menggunakan tolok ukur ini untuk menentukan siapa yang bisa disebut Buddha.

Seorang dokter harus mengamputasi salah satu bagian tubuh, untuk menyelamatkan nyawa pasiennya. Apakah ia dijuluki zalim? Krishna bagaikan seorang ahli bedah. Di medan perang Kurukshetra, ia sedang melakukan operasi besar-besaran. Krishna adalah seorang Avalokiteshvara, seorang Buddha. Begitu pula Muhammad dan Isa. Mereka sudah mencapai kesadaran tertinggi. Lalu kenapa harus terlibat dalam perang? Bagi seorang Avalokita, tumor ganas bukan untuk dibenci atau dihindari, tetapi untuk diangkat. Jika ia melakukan bedah dan mengangkat tumor, bukan karena ia membenci tumor. Tetapi karena ia ingin menyelamatkan tubuh.

Alkitab, dalam Perjanjian Baru :

Lalu aku melihat surga terbuka : sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama : “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan matanya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang elah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah “Firman allah”. Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. (Wahyu 19:11-15).

 

Kitab wahyu sedang menjelaskan ciri0ciri para Avalokita, para Mesias, para Avataar, para Buddha mendatang. Berarti para Avalokita masa kini tidak akan menggunakan pedang beneran. Mulut merekalah yang akan mengeluarkan pedang. Pedang kata-kata. Kata-kata yang tajam, keras, ketus, pedas, langsung to the point. Karena selama ini mereka sudah bereksperimen dengan kata-kata lembut dan manis, ternyata tidak berguna.

Para Avalokita masa kini akan menjadi milik dunia. Sesungguhnya ia adalah warga dunia.

Kesadaran seorang Avalokita yang telah melampaui segala macam pengalaman membuat dia melihat kekosongan di balik segala-galanya. Lalu apa yang ia lakukan? Ia tidak akan duduk diam. Ia juga tidak akan meninggalkan arena permainan. Dengan kesadaran baru itu, ia akan terjun kembali dalam arena permainan. Kali ini ia bermain dengan penuh kesadaran dan untuk menyadarkan para pemain lainnya. Kelak para pujangga cina akan menerjemahkan istilah ini dalam bahsa Cina – Kua Shih Yin, yang berarti Ia yang Mendengarkan Jeritan. Mereka melkukan improvisasi yang luar biasa. Sangat indah, sangat manis. Di India dan Tibet, sosok Avalokita digambarkan sebagai seorang pria, sedangkan di Cina, ia diberikan sosok wanita. Sungguh hebat! Karena, Ia Yang Mendengarkan Jeritan haruslah penuh dengan welas-asih. Dan wanita lebih cocok untuk mewakili nilai yang satu ini. Kasih bersifat sangat lembut, sangat feminin.

 

AYAT KEDUA.

Wahai sariputra, sesungguhnya Keberadaan itu tidak ada, dan Kasunyatan itu ada;Kasunyatan tidak berbeda dari Keberadaan, dan Keberadaan tidak berbeda dari Kasunyatan; Keberadaan itulah Kasunyatan, Kasunyatan itulah Keberadaan; begitu pula dengan perasaan, pandangan, pikiran dan pengetahuan.

Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi yang tidak memberikan arti, memberikan makna, hidup ini ibarat lembaran kertas kosong. Yang memberi arti gelisah, karena arti yang ia berikan bermuatan keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi yang belum terpenuhi. Yang tidak memberi arti juga gelisah, karena hidupnya hambar – tawar. Tidak berbumbu sama sekali. Ada kalanya kita memberikan arti yang begitu besar. Setiap partai politik ingin berkuasa tidak ada yang rela berperan sebagai oposisi. Seorang rohaniwan akan menertawakan para politisi. Apa gunanya berebutan kursi? Akhirnya toh tidak akan terbawa, semuanya juga ditinggal kalau mati. Yang beda hanya kursi DPR dengan kapling di surga. Dua-duanya gelisah karena masih kejar-mengejar. Ada yang berpikir dirinya sudah seimbang. Ia sudah menjaga keseimbangan lahiriyah dan batiniah. Tidak bisa. Karena untuk lapisan batiniah, lapisan lahiriah harus terlampaui. Dan yang bisa dikejar hanyalah lapisan lahiriah. Lapisan batiniah tidak bisa dikejar. Masih mengejar kerajaan Allah berarti belum bisa melihat kerajaan-Nya di mana-mana. Anda masih belum meyakini kehadiran-Nya di mana-mana. Jelas anda masih ada di lapisan lahiriah. Yang sudah bisa merasakan kehadiran-Nya di mana-mana akan berhenti mencari, akan berhenti mengejar.

Ketidakwujudan merupakan wujud. Tidak memiliki wujud – itulah wujud-Nya. Renungkan sejenak: Pernyataan bahwa Tuhan itu Ada atau Tuhan Maha Ada sesungguhnya sudah mewujudkan Tuhan.mungkin anda tidak pernah melihat wujud-Nya; Mungkin ada yang pernah lihat wujud-Nya.karena anda tidak dapat melihat wujud-Nya, tidak berarti tidak ada yang bisa melihat-Nya.

Ketika anda mengatakan bahwa Tuhan sesungguhnya itu Ada sesungguhnya anda juga mewujudkan suatu keadaan di mana Tuhan itu ada. Dan keadaan yang anda wujudkan itu sudah jelas lebih luas dan lebih besar dan lebih tinggi dari Tuhan, sehingga Tuhan bisa Ada dalam keadaan tersebut. Bagi mereka yang mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Mereka menolak “cangkir” tetapi tidak menolak adanya meja. Berarti adanya Keberadaan tidak bisa disangkal.

Kesimpulannya, mengatakan Tuhan itu ada berarti mengkerdilkan Tuhan dan meninggikan Keberadaan. Lalu mengatakan Tuhan itu tidak ada sesungguhnya tidak menyangkal Keberadaan – Keberadaan-Nya.

Yang mengenali dirinya, mengenali Tuhan-Nya – demikian kata nabi Muhammad. Adanya diri kita membuktikan adanya Keberadaan.

 

AYAT KETIGA

Dengarkan Sariputra, Hukum-alam itu sesungguhnya bersifat Kasunyatan. Tidak pernah muncul dan tidak akan lenyap. Tidak kotor, juga tidak bersih, tidak berkurang, juga tidak bertambah.

Wacana Sang Buddha ini bukan untuk konsumsi umum. Ia sedang bicara dengan Sariputra, seorang siswa yang sudah matang. Wahai Sariputra, kamu sudah tidak perlu mengikuti peraturan-peraturan lagi. Kamu sudah selesai kuliah.

Segala sesuatu yang ada memiliki awal dan akhir. Hukum dan peraturanpun demikian. Relevan untuk masa lalu, tidak berarti relevan sepanjang masa. Setiap peraturan harus diperbaiki, disempurnakan dari waktu ke waktu.

Bahkan yang berlaku bagi satu kelompok, tidak berlaku bagi kelompok lain. Kita membenarkan bayi pakai diapers, tetapi tidak berlaku setelah usia 3-4 tahun.

Dharma seorang bayi lain, dharma orang dewasa lain, dharma seorang pria lain, dharma seorang wanita lain. Dharma anda lain, dharma saya lain.

Dharma atau Hukum alam berlaku selama anda masih berada dalam alam. Selama anda terikat dengan alam, mau tak mau anda harus tunduk pada hukumnya. Sariputra sudah tidak terikat lagi, sehingga Sang Buddha berkata demikian. Jadilah seorang Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, maka anda tidak perlu dibelenggu dengan ratai peraturan dan hukum.

 

AYAT KEEMPAT

Karena itu, Sariputra, dalam kasunyatan tidak terdapat wujud keberadaan, tidak ada perasaan, tidak ada pandangan, tidak ada pikiran dan tidak ada pengetahuan. Tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, tidak ada jiwa, raga maupun pikiran.tidak ada wujud, tidak ada suara, tidak ada bau, tidak ada rasa, tidak ada (pula pikiran yang memikirkan) dharma.

Dari penglihatan sampai dengan pemikiran – semuanya tidak ada. Tidak ada ketidaktahuan, tidak ada pula kebebasan dari ketidaktahuan. Tidak ada hari tua, tidak ada kematian dan (karenanya) tidak ada (pula) pembebasan dari hari tua dan kematian. Tidak ada penderitaan, tidak ada sebab penderitaan, tidak ada akhir penderitaan dan tidak ada cara untuk mengakhirinya. Tidak ada pengetahuan, tidak ada yang dapat dicapai dan tidak ada yang tidak dapat dicapai.

Bersentuhan dengan lawan jenis, jika yang muncul adalah birahi anda, sesungguhnya anda masih berada pada lapisan kesadaran yang rendah. Apa yang terjadi ketika seorang anak laki menyentuh ibunya? Apa yang terjadi ketika seorang anakperempuan menyentuh ayahnya?

Seks, napsu birahi, bukanlah sesuatu untuk dihindari. Mereka sesungguhnya sangat alami. Seks, napsu birahi muncul dari kesadaran rendah, kesadaran badaniah. Yang harus kita lakukan bukanlah mengharamkan sentuhan dan duduk bersebelahan, tetapi meningkatkan kesadaran diri. Peningkatan kesadaran diri inilah yang disebut Pembangkitan Kundalini dalam tradisi yoga dan tantra. Inilah lapisan-lapisan langit dalam mtradisi sufi. Inilah kasih ilahi yang diwartakan oleh Yesus.

Buddha sedang berupaya menyadarkan anda bahwa kesucian dan ketidaksucian sesuatu disebabkan oleh perasaan, pandangan, pikiran dan nilai yang anda berikan terhadap sesuatu itu. Yang suci bagi sekelompok masyarakat, belum tentu suci bagi kelompok masyarakat lain. Bagi seorang Buddha, semuanya itu adalah produk pikiran. Permainan pikiran dan perasaan dan pandangan dan lain sebaginya. Demikian pula deskripsi-deskripsi anda tentang Tuhan.

Mind – pikiran yang berpikir tentang kebaikan – akan berpikir tentang keburukan pula. Sesungguhnya gesekan-gesekan anatar baik dan buruk itulah yang menciptakan mind. Energi yang terciptakan oleh gesekan-gesekan tersebut melestarikan mind.

Go with the flow – ikuti arus kehidupan. Jangan mengejar pengetahuan, sehingga pada suatu saat nanti kau harus melepaskannya. Anda mengejar pengetahuan, karena anda anggap diri anda belum cukup tahu. Anggapan demikian salah, karena sesungguhnya anda tidak bodoh. Sebenarnya anda tidak kekurangan sesutu apapun juga.

Jiwa yang tak terbebani oleh pengetahuan macam-macam akan terbuka bagi intuisi. Bagi ilham dan wahyu ilahi. Jika anda tidak meyakini hal ini, bagaimana anda bisa meyakini turunnya wahtu pada nabi Muhammad – seorang buta huruf.

 

Suka dan duka, dua-duanya bersifat relatif. Penderitaan disebabkan oleh pikiran. Kebahagiaan juga disebabkan oleh pikiran. Semuanya adalah produk pikiran. Lampailah pikiran, dan semuanya akan terlampaui.

Tetapi untuk melampaui pikiran jangan terjebak lagi dalam permainan pikiran. Jangan menggunakan otak lagi. Pelampauan pikiranpun akan menjadi sebuah tujuan, dan pikiran akan menyesatkan anda. Bravo, selamat, kau telah melampaui pikiran. Padahal yang mengatakan hal itu masih pikiran juga.

 

AYAT KELIMA

Demikian, wahai Sariputra, seorang Boddhisatva yang telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak berkeinginan untuk mencapai sesuatu apaun lagi, “hidup” tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran). Dan karena “hidup” tanpa gangguan, ia tidak akan pernah takut; ia telah melampaui segala macam pengalaman yang bisa menakutkan, sehingga akhirnya ia mencapai Nirvana, Kasunyatan Sejati.dengan cara itulah, para Buddha dari tiga jaman telah dicapainya.

Buddha tidak berkepentingan dengan “agama” Buddha. Yang Ia dirikan, yang Ia bentuk adalah sebuah sangha – paguyuban. Perkumpulan para calon Buddha. Vihara berarti “jalan-jalan” – berjalan. Seorang Buddha tidak pernah statis, tidak pernah berhenti di suatu tempat. Karena itu Ia tidak pernah basi. Ia mengalir terus mengikuti arus kehidupan, arus keberadaan, arus kenyataan.

 

Sebuah paradoks yang indah sekali. Yang sedang mengejar tidak akan mencapainya. Yang berhenti mengejar, malah mencapainya. Kenapa demikian? Karena, yang sedang anda cari sesungguhnya tidak pernah hilang.

Berlapis-lapis pikiran mengurungi kita. Tetapi ada 3 lapisan utama :

  1. Lapisan pertama, adalah yang anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali.

  2. Lapisan kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.

  3. Lapisan ketiga adalah yang anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda – semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.

Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Buddha sedang mengundang anda untuk membebaskan diri dari kurungan. Tetapi anda ragu-ragu. Di dalam kurungan, hidup saya cukup secure. Cukup terjamin. Seorang Yesus sangat persuasif. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin anda bebas dari kurungan. Untuk menerima undangan seorang Buddha, anda haruslah seorang pemberani. Berani loncat keluar dari kurungan.

Tiga jaman berarti masa lalu, masa kini dan masa depan.

 

AYAT KEENAM

Karena itu, ketahuilah : “Pelampauan segala macam pengalaman” adalah cara terbaik, cara yang tak tertandingi, untuk melampaui penderitaan. Demikianlah kebenaran sejati yang hendaknya tidak diragukan lagi. Demikianlah kesimpulan(ku) setelah melampaui segala macam pengalaman. Demikianlah adanya: Terlewati sudah – terlewati dan terlampaui sudah. (sampai pelampauan itu pun) terlampaui pula . Ah, kesadaran yang sungguh luar biasa!. Dan berakhirlah pengalaman ini, (yaitu, pengalaman) melampaui segala macam pengalaman.

Mantra harus diterjemahkan sebagai tantra (metode, cara) atau sebagai yantra (alat untuk melampaui manas, mind, pikiran). Dan caranya hanya satu : pikiran harus dilampaui. Selama ini anda mendandani pikiran. Memperbaiki pola pikir dengan cara berpikir positif, mengendalikan pikiran dengan cara menekan keinginan-keinginan – semuanya tidak berguna. Selama ini, kita sibuk memperbaiki kondisi dalam sel tahanan. Para napi diberi makanan yang bergizi. Selnya dibuat lebih nyaman. Tetapi yang namanya tahanan masih tetap tahanan juga. Para Buddha, para Avataar, para Nabi, para Mesias tidak berkepentingan dengan kondisi dalam sel tahanan. Mereka berkepentingan dengan kebebasan para tahanan.

Tetapi setelah mereka tidak ada dan ajaran mereka dilembagakan, dijadikan agama, tidak ada lagi yang memperhatikan kebebasan jiwa manusia. Mereka menciptakan kurungan-kurungan baru.

 

Triwidodo

Desember 2007

Kerasukan Roh Sang Raja Kambing

 

Pada suatu hari Raja Kambing mengadakan sidang terbatas dengan para pembantu utamanya. Kita dengarkan pembicaraan mereka.

 

Kambing pertama : Sang Raja Yang Mulia, kami melaporkan kondisi lapangan saat ini. Kondisi masyarakat kita di abad milenium ini masih tidak berbeda dengan kondisi manusia yang kalah perang di abad pertengahan. Masih dalam perbudakan. Masyarakat Paduka diperjual belikan, diangkut memakai pickup berdesak-desakan, dan diberi menu harian hanya rumput dan daun-daunan.

 

Kambing kedua : Kecuali kelompok hamba, Paduka, kami tinggal di benua Australia kami diberi konsumsi cukup dan selalu dicukur rapi, potongan bulu tubuh kami dijadikan pakaian wool para selebrities.

 

Kambing ketiga : Nasib kelompok kami lebih parah Yang Mulia, anak-anak kami yang masih muda dipotong, dicincang, ditusuk, dibakar setengah matang, jadi santapan manusia. Mereka bangga merasakan sate kambing muda.

 

Kambing pertama menyahuti : Betul Sang Raja, kaki diikat, leher dikerat, kulit dikelupas dan digambari wayang dan dijadikan pajangan di kamar tamu manusia. Bahkan tulang belulang dengan daging melekat tersisa, dipotong dimasukkan kuah panas dijadikan thengkleng kesukaan mereka. Betul-betul tidak berperikebinatangan.

 

Dengan kepala dingin, Sang Raja bertitah : Sahabat-sahabatku terkasih, cool-man, kalem sedikit dong, kita tidak kalah-kalah banget. Cepat sebarkan instruksi ke semua kelompok kalian. Ketika daging kalian masuk perut manusia, keluarkan energi panas, tingkatkan tekanan darah mereka, buat mereka ketagihan, dan akhirnya biarkan mereka terkena stroke. Minimal tempel darah mereka jadilah lemak di tubuh mereka syukur kalau bisa bermukim di saluran jantung. Biar susah bernapas. Mereka suka mengerat leher kita, buat tenggorokan mereka radang kronis. Mereka suka menggantung kaki kita waktu menguliti, buat kaki mereka terkena asam urat.

 

Kambing pertama : Baik Sang Raja, hamba juga dikenal sebagai Bandot, kubuat juga yang memakanku terpengaruh sifatku, lihat pakaian wanita tersingkap sedikit sudah sakit kepala. Syukur kalau jatuh kesadarannya, biar dia menyesal seumur hidupnya.

 

Sang Raja Kambing : Roh ku sendiri akan masuk ke penguasa-penguasa durhaka, mempengaruhi pikiran dan nafsu mereka, biar mengobarkan peperangan, agar manusia saling membunuh dan merasakan pembalasan kambing-kambing tak berdosa.

 

Tiba-tiba Seekor Kambing berjenggot panjang yang menjadi Penasehat Rohani Sang Raja tertawa penuh makna : Ha ha ha ha, calm-guys, cool please, dengarkan cerita saya. Sudah lama kalian menderita, segala macam kesalahan pun ditimpakan pada saudara kita, Kambing Hitam. Ada dua macam hukum alam, hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Apa pun akibat yang kalian terima disebabkan oleh tindakan kalian sendiri. Terimalah yang terjadi dengan lapang dada, janganlah kalian membuat karma baru. Biarlah Keberadaan mengimplementasikan hukum sebab-akibat kepada mereka. Belajarlah mengampuni manusia. Doakan mereka, agar mereka menjadi sadar, dan bangsa kita, setelah mati akan berevolusi, menitis menjadi mereka. Hening semua …………….

 

Triwidodo

Desember 2007

BHAJA GOVINDAM

Judul         : BHAJA GOVINDAM

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan      : 2004

Tebal          : 345 halaman

 

Pointer Hikmah Buku BHAJA GOVINDAM

 

Mayoritas masyarakat dalam keadaan limbo, tidak berani memilih.

Cara keluar dari alam limbo :

  1. Praanaayam

    1. Praanaa , sumber kehidupan. Energi semesta dan energi dalam diri sebenarnya satu. Energi yang ada dalam setiap makhluk sudah memiliki sifat makhluk tersebut.

    2. Pengendalian diri, pengendalian hidup.

      1. Mengatur napas

      2. Mengatur diet

      3. Memperbaiki pola hidup

    3. Mulai dengan napas. Tarik napas pelan-pelan buang napas sepelan mungkin. 10 menit pagi dan 10 menit sore.

    4. Makan tidak berlebihan dan tidak terlalu sedikit.

    5. Pembagian waktu. 6 jam tidur. 6 jam bekerja. 6 jam keluarga. 6 jam olah diri.

    6. Jangan boros energi.

  2. Pratyahaar

    1. Pembebasan dari nafsu dalam arti luas.

    2. Terapkan prinsip kasih.

    3. Berkarya tanpa berharap.

    4. Kasih pada sesama. Semua dalam alam ini hidup, tidak ada yang mati.

    5. Perhatikan kebiasaan-kebiasaanmu, adakah manfaat bagi evolusi batinmu.

  3. Viveka

    1. Introspeksi diri.

    2. Apa yang sedang kukejar? Sesuatu yang langgeng atau yang semu?

    3. Yang langgeng tidak perlu dikejar, cukup disadari saja.

  4. Japa

    1. Hidup dalam nama-Nya, Maha Pengasih harus melembutkan kita.

    2. Antara jam 4-6 pagi, alam sekitar masih tenang, gelombang otak sedikit banyak terpengaruh alam diluar.

    3. Japa 3-20 menit setiap hari cukup untuk melakukan keseimbangan.

  5. Samadhi

    1. Gunakan segenap energimu untuk mempraktekkannya.

    2. Misalkan menulis.

    3. Sekali-sekali berlatih bersama yang menciptakan pool of energy.

    4. Energi diluar bukan energi meditasi, friksi, konflik, clash of egoes.

    5. Perlu recharge diri sendiri setiap hari dan sekali-sekali renang bersama.

    6. Bila tidak recharging setiap hari, dipengaruhi sumber terdekat. Kebun, pohon, teman terdekat, koran, tivi, kantor.

 

Puisi no 1.

Hubungan antar murid, sering tidak harmonis karena menggunakan cara lama, menggunakan kabel kepercayaan dan cuaca kesetiaan. Murid melupakan satelit guru.

Murid dapat mengakses kebijakannya setiap saat. Govinda, adalah gembala hewan-hewan dalam diri. Manusia tidak bisa bebas dari instink hewani, kalau bebas ya berarti mati. Instink makan minum seks, tidur adalah instink hewani.

Tuhan tidak bertentangan dengan hewan dan dengan insan. Sifat hewani yang terlihat pada diri si Fulan, juga terdapat dalam diri si penglihat. Sifat hewani bisa dilokalisir, lewat kama sutra, jadilah hewan bersama pasanganmu, sehingga tidak mencemari masyarakat. Seorang meditator masih mempunyai sifat hewani. Penjinakan adalah proses sepanjang usia.

 

Puisi ke 2

Kita perlu melepaskan keterikatan dari harta benda, membebaskan diri dari hawa nafsu, menjernihkan pikiran, memejamkan mata, duduk bersila, berupaya mengurangi siklus napas.

Makhluk seperti mereka sebenarnya lalu lalang sepanjang hari manusia, hanya pada waktu malam hari, suasana lebih tenang dan kita dapat merasakan energi mereka.

Biasanya siklus napas kita antara 15-18 siklus per menit, atau kondisi alpha. Apabila napas kita lebih besar dari 4 siklus per menit, kita tidak dapat merasakan mereka. Untuk berkomunikasi siklus napas kita harus lebih kecil dari 1 siklus per menit. Adakalanya pada waktu terjaga waktu malam, siklus napas berkurang secara alami, energi mereka pun terasa. Dengan berdoa siklus napas kita bertambah dan kita pindah gelombang. Yang bergentayangan tidak terasa lagi.

Kalau kita asyik berpikir kadang diluar hujanpun kita tidak sadar. Lewat meditasi kita membersihkan otak. Dekonditioning. Detoksifikasi. Para teroris, insting hewani mereka dipertahankan, mereka belajar agama, membunuh juga demi agama. Dekonditioning dulu.

Irama dan nada tertentu ditambah syair yang memiliki arti dapat dengan mudah mempengaruhi roh gentayangan.

Kita pikir kehadiran kita membahagiakan Murshid? GR, Gedhe Rasa. Ada atau tidak ada kita Murshid tetap bahagia.

Seseorang tidak bisa membantu, apalagi melindungi manusia lain. Tuhanlah satu-satunya yang membantu. Kita hanya dapat melayani.

Medan energi di kota-kota besar sangat meterialistis.

 

 

Puisi ke 3

Buah dada itu terbuat dari apa? Daging dan lemak. Atau pun bayangkan itu milik ibumu. Dan hawa nafsumu akan berkurang.

Apa yang kita dapatkan dari rasa kepemilikan dan hawa nafsu. Kita merasa memiliki, merasa enak, tetapi hal itu tidak akan kita bawa mati.

 

Puisi ke 4.

Pada saat ajal tiba tak ada sesuatupun yang membantu, kecuali asma Allah.

Alam sungguh berirama, pohon-pohon tua yang lebat, getaran suara makin pelan, lembut dan halus. Nada keberadaan terdengar lebih jelas oleh roh. Pohon tua menghibur roh.

Jangan mencari kepastian di dunia, dunia sendiri tidak stabil, tidak pasti. Badan yang kuanggap sebagai aku, berubah setiap saat. Pikiran yang kuanggap aku juga berubah setiap saat. Selama manusia tidak mau menerima perubahan akan selalu gelisah.

 

Puisi ke 5

Kali memasuki dunia melalui beberapa pintu

  1. Pintu pertama, pintu judi. Perhatikan hadiah-hadiah oleh bank, mall, dan lain-lainnya.

  2. Pintu kedua, pintu mabuk, mabuk harta, mabuk tahta, mabuk wanita, mabuk spiritual juga.

  3. Pintu ketiga, pintu zinah, merampas hak orang, memaksakan kehendak diri termasuk zinah.

  4. Pintu keempat pintu pembunuhan.

Kali memperkirakan dua per tiga penduduk dunia sudah dapat dipengaruhinya. Tetapi dia minta satu pintu lagi.

  1. Pintu kelima, pintu harta berlebihan. Harta harus mengalir.

 

 

Puisi ke 6

Jangan membanggakan badanmu. Jangan sombong. Tuhan tidak tersanjung oleh pujian kita, tidak terhina bila tidak dipuji.

Menyebut nama Tuhan membangkitkan ketuhanan dalam diri. Govinda, hanya engkau yang mampu menjinakkan hewan dalam diriku. Gopala, pertahankan kejinakannya. Maadhava, madhusudhana, membunuh raksasa dalam diri.

 

Puisi ke 7

Di waktu kecil mengejar mainan, di usia remaja mengejar lawan jenis, di usia tua mengejar obat, kau gelisah.

Keterikatan, mengapa selalu mencari keluar? Mengikat dengan Govinda membebaskan diri dari keterikatan.

Parikesit melihat sapi berdiri diatas satu kaki. Sapi dharma, akhlak.

a. Kaki pertama adalah tapa, pengendalian diri. Hancur karena tanpa pengendalian diri.

b. Kaki kedua kesucian, pikiran, ucapan dan tindakan. Gugur karena keterikatan.

c. Kaki ketiga welas asih. Hilang karena hawa nafsu.

d. Kaki keempat kebenaran.

 

Usahakan menghindari kusang. Lebih baik kurang gaul daripada salah gaul.

Let me share with you a secret, anda dapat sewaktu-waktu menentukan datangnya masa kebenaran bagi diri anda, kapan saja. Yang penting kesadaran serta keadaan otak anda. Saat anda tersenyum otak dalam keadaan tenang tidak?

a. Mawar membangkitkan semangat

b. Melati menenagkan pikiran

c. Cendana spiritual

d. Lavender keseimbangan

demikian juga aroma, musik, tarian, dapat membantu meningkatkan kesadaran.

 

Puisi ke 9

Jangan sampai di ashram malah membuat keterikatan-keterikatan baru.

Bergaul dengan mereka yang berjiwa keras akan mengeraskan hati kita. Benda-benda keras membutuhkan pengikat, air atau angin tidak membutuhkan pengikat.

Tahap kesadaran shankara

a. pergaulan baik

b. bebas dari keterikatan

c. melihat lebih jernih

d. melihat kebenaran secara utuh.

Menikmati hidup dalam segala keadaan. Hidup di dunia tapi tidak terikat dengannya.

 

Puisi ke 12

Orang yang terlalu cepat dan terlalu sering tergoda adalah orang yang berkeinginan banyak. Ingin uang, surga, kenikmatan dan lain-lainnya. Sedikit demi sedikit sang kala merampas nyawamu, tetapi keinginanmu tetap menggunung.

 

Puisi ke 15

Beban yang kita rasakan, adalah karena keinginan kita sendiri. Kurangilah beban keinginan.

Kita mungkin mempunyai keinginan anak cucu menjadi orang saleh, tetapi dalam dirinya ada keinginan dasar ingin membunuh, sebaiknya lembutkan dulu jiwanya. Atau dia akan membunuh demi agama.

cabang avidya

a. tamisra, amarah

b. andastamira, kematian adalah titik akhir

c. tamas, tidak mengenali diri

i. apa yang kumiliki

ii. nama keluarga

iii.kedudukan sosial

iv.jabatan

v. badan, pikiran, perasaan

d. moha, keterikatan dengan benda

e. maha moha, keterikatan pada kenikmatan

i. makan

ii. Tuhan

iii. surga

Yang diajak master adalah para pemain kawakan yang sudah saatnya naik kelas.

Pergi ke tempat suci untuk mensucikan diri bukan untuk cari pahala.

 

Puisi ke 17

Kesadaran diperoleh lewat perjuangan, bukan hanya dengan baca buku dan ketemu orang suci

 

Puisi ke 27

  1. Nyanyikan lagu kehidupan

  2. Selalu mengingat nama-Nya

  3. Lihatlah wajah-Nya di mana-mana

  4. Hati-hati dengan pergaulan

  5. Berbagilah dengan mereka yang kurang beruntung

 

Triwidodo

September 2007

Antara Blok M – Ciledug

 

Temanku punya cerita

Temannya temanku punya mobil istimewa

Kehandalan mobilnya diakui seluruh dunia

Diuji-coba di Bumi Jakarta

Blok M – Ciledug dua jam juga

 

Hambatan di dunia begitu nyata

Pengetahuan boleh luar biasa

Terpuruk juga di alam nyata

Mengapa pula membusungkan dada?

 

Sudahlah Gusti

Diri bersyukur atas segala yang ada

Apa pun yang terjadi, akibat dari tindakan sendiri

Cara menyikapi, itulah yang masih kita punyai

 

Terima kasih Guru

Kucoba cerna buku-bukumu

Rasanya masih banyak yang terlepas juga

Otakku ada batasnya, perasaanku ada lingkup kepekaannya

 

Untuk pasrah pun perlu perjuangan nyata

Sudahlah Guru, Engkau lebih tahu

Berkahmu kuharap selalu

 

Triwidodo

Desember 2007

Antara Manusia dan Pandawa Lima

 

Di tengah malam, diriku terbangun

Sadari keadaan sebentar, terus pikiranku entah kemana

Pikiranku selalu bekerja

Memikirkan yang telah lalu dan mereka-reka yang akan datang

Perlu perjuangan untuk hidup dalam kekinian

 

Diriku ingat dan bersyukur, satu masalah berat sudah terselesaikan

Baru saja kusadari, Keberadaan hanya kupakai sebagai alatku

Diriku melangkah angkuh di dunia, bertemu kesulitan baru teringat Dia

Baru kusadari, Keberadaan kupakai sebagai alatku saja

 

Teringat cerita tentang Pandawa Lima di zaman Hastina

Habis semua dimeja judi, dicurangi para Kurawa

Dengan sedikit yang tersisa terusir dari istana

Tetapi selamat juga berkat tuntunan Sri Krishna

 

Usiaku sudah direbut Sang Kala, entah berapa tahun masih tersisa

Penglihatanku ditarik dengan paksa, semakin tebal lensa kacamata

Rambutku dicurangi, tinggal sedikit warna hitam yang masih ada

Kulit haluskupun direnggut juga

 

Asam urat dijejalkan dalam kakiku

Radang memerah sudah mulai krasan di tenggorokanku

Belum sadar juga aku

Diriku ditipu oleh Sang Waktu

 

Gusti, sangat aneh Gusti

Setiap saat lihat orang mati

Masih juga tak melihat kenyataan, kitapun juga antri

Dunia begitu memikat, membuat orang lupa diri

 

Wahai Guru

Pandawa Lima selamat berkat dituntun Sri Krishna

Diriku pun masih kecil Guru, baru belajar melangkah

Tuntunlah Guru

Hasratku dapat berjalan mantap

 

Sudah lama aku jatuh bangun – jatuh bangun

Engkau tahu caranya agar diriku selalu bangun

Tuntunlah kami

Pandulah kami

 

Triwidodo

Desember 2007

SABDA PENCERAHAN

Judul         : SABDA PENCERAHAN

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan      : Kelima, 2004

Tebal          : 158 halaman

 

Pointer Hikmah Buku SABDA PENCERAHAN

Ketika Bapak Anand Krishna berumur 14-15 tahun, beliau belajar Kristen dan Katholik, dan kemudian diminta memilih salah satu, tetapi beliau tidak mau. Beliau juga tidak paham, kenapa seseorang meninggalkan lembaganya dan masuk lembaga baru untuk kawin? Kemudian ada perubahan-perubahan diantaranya, dari hasil konsili Vatican ke 2, keselamatan di luar gereja pun diakui.

Beberapa pandangan Bapak Anand Krishna diantaranya, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak bisa membunuh jiwa. Selanjutnya, barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikuti aku tidak layak bagiku. Kemudian, Gusti Yesus yang bersemayam dalam diri kitalah yang penting. Disalib atau tidak, tidak penting.

Mereka yang mendatangi Gusti Yesus terdiri dari beberapa kelompok :

  1.  
    1. Mereka yang ingin tahu saja

    2. Mereka yang mengharapkan kesembuhan

    3. Mereka yang mengharapkan mukjizat

    4. mereka yang mengharapkan keselamatan

    5. Mereka yang ingin belajar. Inilah kelompok para murid.

Gusti Yesus tidak mencari masa seperti terungkap di film-film. Beliau menghindari masa dan naik ke atas bukit. Yang tertinggal hanyalah calon murid dan kemudian akan ada penyaringan.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya kerajaan surga. Menyadari keterbatasan, kekecilan terhadap Allah. Melepaskan rasa kepemilikan. Segala sesuatu dalam alam termasuk diri dimiliki oleh Allah. Tadinya terikat pada rumah dan keluarga, sekarang terikat pada lembaga dan umat. Arogan? Merasa istimewa? Bukannya harus melepaskan lembaga tetapi melepaskan kepemilikan.

Berbahagialah orang yang berduka cita. Karena mereka akan dihibur. Berduka cita karena merindukan Tuhan. Berduka citalah karena hidup terlewatkan begitu saja. Tanpa kesadaran. Tanpa pencerahan.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Yang dimaksudkan bumi adalah pikiran.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Sesuai hukum alam, tanpa kasih tidak akan ada kemurahan hati.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena ia akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak2 Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan surga.Kesadaran mereka menjadi milik dunia. Mereka akan selalu ada. Mereka telah mewarisi kerajaan surga.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Jangan kamu menyangka bahwa aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai. Melainkan pedang. Sebab aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya. Anak perempuan dari ibunya. Menantu perempuan dari ibu mertiuanya. Dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada aku ia tidak layak bagiku. Barangsiapa mengasihi anak laki2 atau perempuan lebih daripada aku ia tidak layak bagiku. Barang siapa tidak memikul salibku dan mengikutiku ia tidak layak bagiku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Ia datang memisahkan kita dari belenggu kita.

Kasihililah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi. Ia tidak menggunakan neraka tapi yang terendah. Ia telah menjanjikan kerajaan surga jauh sebelum disalibkan. Apa gunanya pergi ke tempat ibadah kalau tidak terjadi perubahan dalam diri kita?

Aku berkata kepadamu sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar firman janganlah berzinah. Tetapi aku berkata kepadamu setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Segala sesuatu di dunia mulainya dari pikiran. Tindakan terjadi beberapa saat kemudian. Apabila kita mengawasi pikiran kita, tidak akan terjadi penyelewengan. Ujung-ujungnya kita kembali ke kata kunci kesadaran.

Kamu telah mendengar firman mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu.

Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam darimu. Jangan bereaksi terhadap kejahatan. Dengan melakukan aksi reaksi kita tidak akan bebas dari lingkaran setan.

Kamu telah mendengar firman kashilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi aku berkata kepadamu kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Yesus menggunakan istilah ia yang mengenal Allah, maksudnya ia yang menyadari kehadiran Allah pada setiap saat dan disetiap tempat. Orang seperti inilah yang biasa disebut seorang spiritual.

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka. Karena jika demikian kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi itu akan membalasnya kepadamu.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Telapak kaki kita berhubungan langsung dengan bumi. Unsur yang paling penting dalam berdoa adalah ketenangan. Wudhu memberikan relaksasi. Reseptif. Energi alam mulai mengalir dan mengisi kita. Energi alam menekan energi lama yang kotor ke bawah dan mendesaknya ke tanah lewat telapak kaki yang tanpa alas. Sehingga setiap saat kita berdoa, terasa lebih segar bersemangat. Apabila lebih dari satu orang mengalami relaksasi total pada saat yang sama. Energi alam yang mengguyuri tempat itu semakin terasa. Demikian apabila di antara mereka ada yang sakit atau sedang kacau pikirannya, dia akan ikut terguyuri juga, dan ikut merasakan manfaatnya.

Tempat-tempat ibadah seharusnya dijaga kebersihannya, karena dapat digunakan sebagai pusat-pusat energi. Tempat-tempat demikian dapat dijadikan sentra-sentra sinkronisasi antara energi manusia dan energi alam. Apabila hal ini diperhatikan, kesadaran akan meningkat. Lebih peduli terhadap lingkungan.

Lagipula, dalam doamu itu janganlah bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka banyaknya kata-kata doa mereka akan dikabulkan.

Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah namamu, datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu. Di atas bumi seperti di dalam surga. Bagi Gusti Yesus, Tuhan tidak hanya Pencipta. Pencipta lagu setelah mencipta menjual ciptanya selesai. Pencipta tidak selalu memelihara ciptaannya. Tidak harus mengurusi ciptaannya. Ciptaan terjadi dalam diri-Nya. Ia merupakan katalisator. Tuhan bukan hanya Pencipta tetapi Bapa.

Berikan kami rejeki pada hari ini. Rejeki secukupnya. Bagi kita segala sesuatu harus berkelimpahan, kalau demikian maka kita bukan murid Gusti Yesus.

Dan ampunilah kesalahan Kami. Seperti kamipun mengampuni mereka yang bersalah kepada kami. Segala sesuatu dalam alam ini bekerja dengan timbal balik. Sebab akibat, aksi reaksi. Apapun yang terjadi sepenuhnya kesalahan kita sendiri.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan. Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Yang jahat tidak di luar kita. Pikiran kacau, rasa takut, kegelisahan itulah yang jahat. Untuk melepaskan diri dari si Jahat, alihkan kesadaran yang dapat mengikat kita. Yakni dunia ini. Alihkan ke yang dapat membebaskan Kesadaran Tertinggi.

Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapa-Mu di Sorga akan mengampuni kamu juga. Tuhan merupakan echo, gaung, gema. Berhati-hatilah dengan ucapan, pikiran dan tindakan Anda. Ucapkan kata benci dan yang menggaung kembali juga benci, benci, benci. Maafkanlah dan anda akan dimaafkan pula. Sekali dimaafkan, kesalahan akan diulangi lagi. Sekali salah langsung diperingatkan. Itulah penuh kasih. Agar tidak jatuh terperosok.

Sebab itu janganlah kamu kawatir dan berkata :

a. Apakah yang akan kami makan?

b. Apakah yang akan kami minum?

c. Apakah yang akan kami pakai?

Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Sebab itu, janganlah kamu khawatir akan hari esok. Karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.Kekhawatiran mereka menunjukkan kepercayaan mereka hanya menyentuh kulit saja.

Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halngi. Mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti nitulah, yang empunya Kerajaan Surga.Jangan anggap sebagai pencipta, pemelihara, anggaplah sebagai Ibu, sebagai Bapa ataupun Kekasih. Yesus menganjurkan hubungan antara orang tua dan anak. Seorang anak masih tulus, jujur, sederhana, polos. Karena usia dan kepolosan itu, ia menjadi tanggungan orang tua sepenuhnya. Berapapun usia Anda, di hadapan Tuhan, anda selalu kecil. Anda tetap tetap juga seorang anak.

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Apa yang anda tanam itulah yang anda panen. Hukum karma yang absolut tidak dapat diganggu gugat. Apa peran doa dan sembahyang? Mempersiapkan anda memasuki alam kesadaran. Anda menjadi meditatif dan setiap perbuatan anda diwarnai oleh warna khas kesadaran. Juga membantu melewati masa-masa kritis. Apa yang dilakukan kini memperbaiki masa depan.

 

Triwidodo

November 2007