Sesajen di bawah pohon tua di dekat mata air, syirik atau arif

 

Lima puluh tahunan yang lalu di dusun-dusun sekitar Solo, masih sering dijumpai sesajen berupa kembang setaman yang diletakkan di bawah pohon tua dan besar yang tumbuh dekat sendang atau mata air. Dipandang sebagian orang sebagai perbuatan syirik, maka kebiasaan menghormati pohon tua tersebut sudah jarang dilakukan, seiring pula dengan berkurangnya pohon-pohon di sekitar sendang dan menyusutnya volume air di sendang. Dibalik sesajen tersebut mungkin tersembunyi suatu kearifan lokal yang kurang dipahami bahkan oleh si pembuat sesajen sendiri.

Penemuan Dr. Masaru Emoto, bahwa air mempunyai kesadaran, membentuk hexagonal yang cantik ketika mendapat vibrasi kasih dan rusak bentuknya ketika mendapat vibrasi negatif dapat memperjelas fenomena alam. Benda di alam ini mengandung 5 unsur elemen alami, ruang, angin, api, air dan tanah. Adonan jumlah elemen tiap benda berbeda. Tanaman yang sebagian besar kandungannya berupa air, jelas akan terpengaruh oleh vibrasi negatif ataupun positif sesuai dengan penemuan Dr. Masaru Emoto.

Seorang Amerika menghubungkan kedua elektrode ”lie detector” pada sebatang bunga Adhatoda Vasica, kemudian menyiramkan air pada bagian akar bunga, setelah itu dia menemukan pena elektronik dari lie detector dengan cepat menggoreskan suatu garis lengkung. Garis lengkung ini persis sama dengan garis lengkung dari otak manusia ketika dalam waktu yang sangat pendek mengalami suatu rangsangan maupun kegembiraan. Selanjutnya, dia meletakkan dua tanaman dalam pot dan salah seorang siswa diminta menginjak-injak salah satu tanaman sampai mati, dan kemudian tanaman yang masih hidup dipindah ke dalam ruangan dan dipasangi lie detector. Empat orang siswa diminta masuk ruangan satu per satu. Ketika giliran siswa kelima, siswa yang menginjak tanaman masuk ke dalam, belum sampai berjalan mendekat, pena elektronik segera menggoreskan suatu garis lengkung, suatu garis lengkung yang terjadi saat manusia merasa ketakutan. Luar biasa, tanaman mempunyai emosi, tanaman mempunyai kesadaran.

Vibrasi kasih terhadap tanaman, seperti menyiram dan memberi pupuk, memberikan pengaruh positif. Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga volume air di mata air tetap. Pembabatan pohon membuat volume mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air krasan singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan volume air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat makhluk yang serakah, air sudah tidak krasan lagi di gunung, di musim penghujan langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersisa, kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan. Leluhur kita menghormati seluruh alam. Menghormati pohon dengan sesajen nampak seperti perbuatan syirik, akan tetapi tujuannya adalah mulia bagaimana menjaga kelestarian alam, agar pohon tidak dibabat semena-mena. Dari pengetahuan kita belajar bahwa semua benda hidup punya usia. Bagian terkecil suatu benda adalah atom dimana terdapat elektron yang selalu bergerak mengelilingi inti. Benda yang dianggap matipun sejatinya ada gerakan didalam atom-atomnya. Ya Tuhan, Ya Rabb, jernihkan pandanganku sehingga aku bisa melihat wajah-Mu di Timur di Barat dan di mana-mana. Tuhan ada dimana-mana sehingga kita harus menghormati seluruh alam ini. Kesalahan dilakukan ketika kita bertindak tidak selaras dengan alam. Terima kasih Guruji yang mengingatkan kita semua untuk bertindak selaras dengan alam.

 

Triwidodo

September 2007.

Kalender Jawa dan Pengaruh Alam Terhadap Manusia

Dasar pembuatan Kalender

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan matahari (kalender solar) dan gerakan bulan (kalender lunar). Ada juga kalender yang tidak berdasarkan gerakan benda langit dan hanya berupa penghitungan matematis seperti Kalender Pawukon. Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender solar mempunyai rentang waktu 365.242819 hari untuk setiap putaran, yang dibulatkan menjadi 365 ¼ hari, sehingga dalam 1 tahun ada 365 hari dan setiap empat tahun ada tahun kabisat yang berumur 366 hari. Kalender lunar mempunyai rentang waktu 354.36707 hari yang dibulatkan dalam Kalender Jawa menjadi 354 3/8, sehingga 1 tahun Jawa ada 354 hari dan dalam 8 tahunan (windu) ada 3 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Dalam perkiraan Kalender Hijriah 1 tahun dibulatkan menjadi 354 11/30 yang artinya dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Kalender Gregorian (Kalender Tahun Masehi yang dipakai secara internasional) dan Kalender Jawa dihitung berdasarkan matematis, sedangkan Kalender Hijriyah dan Kalender China menggunakan cara astronomis dengan melihat posisi bulan.

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pasar yang terdiri dari 5 hari pasaran. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender solar.

Pengaruh bulan dan matahari terhadap manusia

Para nenek moyang mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Hukum sebab-akibat akan mempengaruhi, yang diujudkan dalam posisi benda-benda langit terhadap suatu kejadian. Setiap kejadian pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh alam lainnya. Kombinasi dari pengaruh matahari (ada 7 hari mulai Senin hingga Minggu) dan pengaruh bulan (ada 5 hari pasar, Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon), diamati dalam jangka waktu lama. Ada 35 kombinasi, dan waktu 35 hari dimana hari dan hari pasar berulang disebut ”satu lapan”. Dari intuisi para nenek moyang tersebut muncullah ramalan tentang potensi sifat seseorang berdasar hari kelahiran atau ”weton”. Orang yang lahir hari Minggu Wage akan mempunyai potensi tabiat dasar yang dipengaruhi oleh posisi matahari pada hari Minggu dan posisi bulan pada hari pasaran Wage. Waktu jam kelahiran juga berpengaruh, seperti Presiden Pertama RI yang bangga disebut sebagai Putera Sang Fajar karena lahir pada waktu matahari akan terbit. Disebutkan juga dalam dongeng-dongeng lama bahwa hujan, guntur dan kejadian alam lain juga mempengaruhi kelahiran. Untuk menghormati hari kelahiran, Orang Jawa biasa berpuasa apit weton yaitu puasa satu hari sebelum, pada, dan sesudah weton. Pada saat hari weton suami atau weton istri diusahakan tidak berhubungan badan. Ada yang berpendapat bahwa masa bayi di dalam kandungan adalah 280 hari, atau 9 bulan 10 hari, sama dengan 8 ”lapan” (8×35 hari). Apabila sel telur berhasil dibuahi benih pada hari weton, maka anak yang lahir akan sama weton dengan orang tuanya, yang menurut pengamatan biasanya menjadi kurang akur pada saat dewasa.Sebagian yang lain berpendapat agar tidak berhubungan badan pada hari weton untuk menghormati diri kita sendiri. Kebersihan dan penempatan ari-ari atau placenta bayi juga berpengaruh, sehingga ari-ari selalu dicuci sampai bersih. Ada bayi yang ari-arinya dipersembahkan kepada hewan-hewan air di Kali atau Bengawan yang merupakan penghormatan kepada Penguasa Unsur Air, ada juga yang dipersembahkan kepada hewan-hewan dalam tanah dengan jalan dipendam di halaman rumah yang merupakan persembahan kepada Penguasa Unsur Bumi. Diatas tempat memendam dinyalakan ”teplok”(lampu minyak tanah) yang selalu dijaga dan menyala selama ”selapan” agar tidak ada hewan luar yang mengganggu dan merupakan persembahan kepada Penguasa Unsur Api. Apapun semuanya dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa. Agar anak yang lahir akur dengan saudaranya, maka ari-arinya ditaruh dalam kendil (tembikar dari tanah liat) yang sama, dengan cara ari-ari anak pertama ditaruh dalam kendil dan dipendam dalam tanah. Setelah diperkirakan unsur-unsurnya sudah terurai maka kendilnya diambil, dibersihkan, dan disimpan untuk dipakai anak yang lahir selanjutnya. Potongan ari-ari dari Pusar Bayi juga disimpan sebagai obat kalau Si Bayi menderita sakit. Ari-ari dipahami sebagai sel induk, sel asal sang bayi yang akhirnya berkembang menjadi tubuh dengan organ lengkap. Pada waktu pembuatan anak yang diistilahkan dengan mengukir, sering dipasang gambar tokoh yang diidolakan orang tua, misalnya Gambar Bung Karno. Mereka yakin gambar tersebut akan mempengaruhi sifat anak yang sedang diukir. Vibrasi pikiran kedua orang tua kepada Sang Idola dapat mempengaruhi telur dan sperma yang akan bertemu.

Bumi terdiri dari 70% air demikian pula tubuh manusia juga mengandung 70% air. Masuk diakal kalau bumi dipengaruhi oleh posisi benda-benda langit, demikian pula manusia. Saat ini akibat ulah manusia, terjadi pemanasan global yang mengakibatkan bumi mencari keseimbangan, sehingga terjadi perubahan iklim. Demikian pula tindakan tidak selaras manusia dengan alam akan mengakibatkan perubahan keseimbangan dalam diri manusia. Terima kasih Guruji yang dengan penuh kasih menyelaraskan kita semua dengan alam.

 

Triwidodo

Agustus 2007.

Makna Ritual Slametan

 

Bukan pesta dan bukan doa bersama.

Beberapa orang makan bersama belum dinamakan slametan, masih disebut pesta makan. Banyak orang berdoa bersama tanpa makan, juga belum dinamakan slametan. Selanjutnya, kalau hanya ada makanan yang didoakan tanpa dimakan dinamakan sesajen, belum slametan juga. Pada waktu slametan, sejumlah orang duduk melingkar bersila di atas tikar, berdoa bersama, kemudian di tengah lingkaran terletak nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, dan dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama.

Bentuk bulat lingkaran yang universal.

Bulan yang bulat mengedari bumi membentuk jejak berbentuk lingkaran, demikian pula bumi mengelilingi matahari menuruti rute berbentuk lingkaran. Semua roda kendaraan berbentuk lingkaran. Siklus kehidupanpun dapat digambarkan sebagai lingkaran dimana setelah titik akhir akan kembali ke titik awal. Air di laut menguap membentuk awan yang akhirnya turun menjadi hujan. Air hujan yang berkumpul di bumi lewat sungai-sungai akan mengalir menuju laut, sehingga terjadi siklus hidrologi. Biji mangga berkembang menjadi pohon yang berbunga, berbuah yang mempunyai biji dan bijinya akan menjadi pohon mangga lagi, yang kembali akan berbunga, berbuah, berbiji dan seterusnya. Kupu-kupu bertelur, telurnya menjadi ulat, yang kemudian menjadi kepompong dan bermetamorphose menjadi kupu-kupu yang akhirnya bertelur lagi. Sperma dan ovum bertemu menjadi bayi yang kemudian menjadi manusia dewasa. Manusia dewasa berhubungan dengan pasangannya, dimana sperma akan bertemu ovum dan menghasilkan bayi lagi. Pengalaman mangga, kupu-kupu dan manusia selama hidup akan mempengaruhi generasi berikutnya. Sebuah siklus kehidupan dan evolusinya. Pada tanaman yang tidak bergerak, evolusi tergantung kondisi lingkungan alam dan campur tangan manusia. Pada binatang yang dapat bergerak, evolusi tergantung lingkungan alam, akan tetapi dia dapat berpindah tempat. Pada manusia, evolusi dapat dilakukan dengan penuh kesadaran.

Komunikasi dalam formasi lingkaran.

Ada formasi orang dalam pertemuan yang mempengaruhi tingkat komunikasi. Apabila seorang guru berdiri di depan kelas dan murid-murid duduk dalam beberapa baris, maka yang berada pada baris belakang akan mendapatkan komunikasi yang kurang dibanding dengan yang duduk di baris depan. Pada waktu pertemuan dengan formasi setengah lingkaran atau huruf U, pimpinan rapat memberikan interaksi yang sama dengan semua anggota rapat. Dalam diskusi study circle semua peserta duduk dalam formasi lingkaran, sehingga muncul perasaan dan perhatian yang setara. Energi yang didapatkan seakan terfokus di tengah lingkaran. Pada waktu sinkronisasi dalam formasi lingkaran, tangan kanan membuka ke atas berhubungan dengan tapak tangan kiri teman yang duduk di sebelah kanan, tangan kiri membuka kebawah berhubungan dengan tapak tangan kanan teman yang duduk di sebelah kiri, secara menerus sehingga semua orang yang duduk melingkar terhubungkan melalui tangan. Energi dari tangan kiri teman yang duduk disebelah kanan diterima tangan kanan melewati leher menuju otak kiri, bergerak ke otak kanan turun lewat leher ke tangan kiri dan disalurkan ke tangan kanan teman yang duduk di sebelah kiri dan seterusnya. Terbentuklah rantai energi yang dahsyat yang mempercepat penyelarasan pikiran. Apabila sinkronisasi dilakukan di berbagai tempat pada waktu yang sama dengan fokus yang sama, hasilnya akan luar biasa. Hampir setiap ritual semua agama dilakukan orang-orang secara bersama-sama dengan waktu yang sama sehingga diharapkan pengaruhnya akan sangat besar.

Slametan.

Vibrasi doa yang terarah ke nasi tumpeng berbentuk kerucut berwarna putih atau kuning, di kelilingi urap daun berwarna hijau, beralas daun pisang berwarna hijau dan sebagai alas ”tampah” bambu kecoklatan berbentuk lingkaran, dengan telur rebus terpotong kelihatan putih dan kuningnya. Warna-warna tersebut akan memperkuat energi. Warna merah cabai di puncak tumpeng akan meningkatkan energi, selain juga merangsang perut jadi lapar. Dapat kita lihat banyak restauran cepat saji dengan latar belakang berwarna merah. Warna kuning, mengikis ketegangan dan meningkatkan perasaan senang. Warna hijau, melembutkan hati dan berkaitan dengan jantung dan kasih. Warna Coklat merupakan warna bumi tempat semua makanan tersebut tumbuh. Warna putih mengandung campuran berbagai warna.

Selain doa yang diniatkan, dalam slametan secara tersirat ada manifestasi rasa syukur kepada Dewi Sri, Sang Pemberi Rejeki lewat alam. Kedua telapak tangan terbuka ke atas menerima energi dari alam semesta. Humming suara Ammmmmm-inn yang penuh kebahagiaan. Ada 3 kriteria getaran suara yang berpengaruh, yaitu tentang nyaringnya, tinggi suaranya dan nadanya. Pada waktu slametan, suara doa yang lembut, nada yang rendah, dan berirama seperti lagu akan menenangkan pikiran. Setelah doa selesai, kedua telapak tangan yang sudah penuh energi disapukan di wajah dengan fokus diantara kedua alis mata, akan mempengaruhi pusat energi kebijakan.

Wahai keberadaan, makan ini dari-Mu, kekuatan mencerna makan ini dari-Mu, doa ini juga dilakukan tubuh yang juga dari-Mu. Slametan ini merupakan persembahan bagi-MU.

 

Triwidodo

Juli 2007.

Gamelan dan spiritualitas

Gamelan berasal dari kata dalam bahasa Jawa ‘gamel’, yang berarti melakukan, mengerjakan. Gamelan khas Jawa Tengah terdiri dari kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan ketuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter dan suling. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Sri Paduka Maharaja Dewa Buddha membuat gamelan “Lokananta” pada tahun 167 berwujud “wilahan yang terbuat dari gangsa sejenis bambu” yang sekarang disebut demung. Selanjutnya seiring berjalannya waktu dilakukan penambahan alat berupa rebab, gong, kendang, ketuk kenong, kempul dan gambang. Sekitar abad ke 12, setelah meninggalnya Prabu Airlangga, Prabu Lembu Amiluhur yang berputra Raden Panji Inu Kertapati melengkapi dengan bonang dan saron serta menambah dasar-dasar nada atau laras. Pada zaman Majapahit, gamelan juga digunakan sebagai alat musik untuk pelaksanaan ritual. Selanjutnya pada zaman Mataram gamelan mulai dibuat menggunakan bahan dasar logam.

Penalaan dan pembuatan gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan di Jawa menggunakan cara penalaan slendro dan pelog. Gamelan selalu digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang dan tari tradisional Jawa. Jenis gendhing yang dipakai untuk mengiringi wayang kulit tergantung dari tahapan dalam pagelaran wayang kulit yang dimulai sekitar jam 21.00 dan berakhir sekitar jam 06.00 pagi. Gendhing Pathet Nem disuarakan antara pukul 21.00-24.00, mengiringi gambaran yang melambangkan masa kanak-kanak Sang Satria pemeran utama. Gending Pathet Sanga digunakan antara pukul 24.00-03.00, mengiringi penggambaran Sang Satria yang mulai mencari Guru untuk belajar ilmu pengetahuan. Dalam tahapan ini disampaikan wejangan oleh Dewa, Prabu Kresno atau Semar. Gending Pathet Manyuro, dimunculkan antara pukul 03.00-06.00 mengiringi cerita yang memperlihatkan Sang Satria yang telah memiliki pengetahuan memberantas ketidakadilan sehingga kehidupannya berbuah kebahagiaan. Dalam mengiringi tarian sakral seperti tarian ritual agung Bedhaya Ketawang, pada waktu latihan tari yang diadakan pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) maupun pada waktu pergelaran, semua penari dan pemain gamelan beserta suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci (tidak sedang haid). Hal-hal tersebut menunjukkan kesakralan musik gamelan.

Ada beberapa perangkat gamelan yang dianggap sebagai pusaka, diantaranya adalah Kyai Sekati yang dipergunakan dalam acara Sekaten. Sekati sendiri berasal dari kata Suka Ati yang merupakan irama musik ritual yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Oleh Sunan Kalijaga dimaknai sebagai Syahadat Ain (sekaten), sebagaimana kata Kalimasada yang berasal dari Kali Maha Usada dimaknai sebagai Kalimah Syahadat.

Di dalam tubuh manusia terdapat irama yang harmonis, seperti halnya alam semesta yang juga berirama. Nada-nada alam semesta yang tertangkap oleh kepekaan rasa diungkapkan menjadi nada-nada Gamelan. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritual. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Sang Maha Pencipta, bahasa pertama yang menjadi asal muasal kehidupan. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan negara.

Dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, Judith Becker menemukan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, elemen Gamelan digunakan sebagai pemujaan kedalam dan keluar diri. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada Gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Musik Gamelan sebagai yantra, alat, dapat membantu tahapan meditasi sebelum mencapai keadaan samadhi. Lewat musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan pikir, pembeningan hati dan pemurnian jiwa sehingga muncul penyembuhan psikologis.

Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi air, sehingga musik yang indah akan membuat air membentuk kristal hexagonal yang indah. Memahami bahwa baik manusia, hewan dan tanaman mengandung air, maka suara musik akan mempengaruhi semua makhluk hidup. Organ-organ manusia mempunyai getaran dengan berbagai frekuensi. Walau frekuensi yang dapat didengar manusia berkisar 20 Hz-20 KHz, frekuensi suara berbagai alat gamelan sangat bervariasi dan memungkinkan terjadinya frekuensi yang sama dengan organ tubuh. Bila getaran suara Gamelan mempunyai frekuensi yang sama dengan suatu organ tubuh yang lemah, maka resonansi yang terjadi dapat memperkuat dan menyembuhkan organ yang bersangkutan. Musik yang harmonis juga akan mebuat sapi merasa tenang dan mempengaruhi sistem kelenjar yang berhubungan dengan susu. Selanjutnya, getaran frekuensi tinggi dari Gamelan akan merangsang ‘stomata’ tanaman untuk tetap terbuka, meningkatkan proses pertumbuhan. Bunga-bunga yang beraneka warna pada umumnya mempunyai panjang gelombang sama seperti panjang gelombang warnanya. Suara alat-alat musik yang bervariasi panjang gelombangnya dapat mempengaruhi organ yang sama panjang gelombangnya.

Dalam suatu pergelaran Gamelan, beragam alat dengan beragam nada mempunyai peranan yang sama, asalkan semuanya mengikuti satu irama kesepakatan, sehingga dapat menciptakan komposisi yang indah dan harmonis. Suatu pengimplementasian dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu kesatuan jua.

 

Triwidodo

Juli 2007.

Secara “ilmiah” pun kita semua satu

Setiap atom milikku adalah milikmu

Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup 1022 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 1022 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom milikku adalah atom milikmu. Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi, berasal dari cahaya Matahari. Hakekatnya kita semua adalah satu.

 

Pada waktu kita ”sehat” kita semua adalah satu

Sewaktu tubuh kita sehat, tidak ada keluhan, nyaman dan penuh vitalitas, kita merasa tubuh kita adalah satu. Baru setelah ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi. Kita baru bilang gigi (bagian dari tubuhku) sakit. Rasa keterpisahan terjadi ketika kita sedang tidak sehat. Keterpisahan kita dengan seluruh mahluk apakah juga karena kita tidak sehat?

 

Emosi dan pikiran manusia

Emosi bersifat langsung spontan, merasa dan bereaksi. Pikiran bekerja tidak langsung, selalu memeriksa arsip ingatan yang sangat kaya, dan membanding-bandingkan. Emosi memberikan gejolak perasaan, sedangkan pikiran ingin mengulangi yang menyenangkan dan cemas kalau tidak terulang. Hanyalah dengan keheningan, diluar emosi dan pikiran kita dapat ”pasrah” dan berbahagia.

Kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, manas dan isa. Manas, pikiran. Isa, esa, satu,Tuhan. Kalau manusia sudah mengalahkan pikiran, tinggal Isa, menjadi Esa, satu. Pikiran membangun ego yang membuat keterpisahan dengan yang lain. Semua bentuk apapun juga yang bergerak di Alam Semesta ini, hidup di dalam Yang Maha Esa.

Evolusi spiritual manusia akan meningkatkan kesadaran dari perilaku kebinatangan, ke perilaku kemanusiaan menuju ke perilaku yang lebih tinggi. Mungkinkah ada hubungannya dengan pusat kesadaran dasar yang tempatnya paling bawah yang berhububungan dengan bumi. Meningkat ke kesadaran kasih yang sudah naik di dada, dimana diri masih ada dalam bentuk mental. Selanjutnya, naik ke tahap pembersihan menuju pusat kesadaran kebijaksanaan dan spiritual? Apakah juga ada hubungannya dengan getaran emosi yang diakibatkan membukanya mulut dengan suara”eeee” yang bervibrasi dengan tubuh bagian bawah. Kemudian mulut ditutup sedikit menimbulkan suara”uuu” yang bervibrasi dengan daerah dada. Selanjutnya mulut ditutup dengan suara”mmm” yang bervibrasi di kepala?

Guru, kami tidak tahu. Kami sering tidak peduli tentang pikiran dan emosi, kami pasrahkan diri kepadaMu. Kami yakin padaMu. Terima kasih Guru, kasihMu sangat luar biasa.

 

Triwidodo

Desember 2006

Kesadaran Raja Puranjana

Keterbatasan Indriya

Apa yang kita rasakan benar, tidak sepenuhnya benar. Tanah yang kita injak nampak datar, bumi yang kita diami terasa diam, dua rel sejajar bersatu di titik pandang yang jauh. Matahari kelihatan muncul di timur dan tenggelam di barat. Bahkan yang kita anggap benda padat, sebetulnya terdiri dari sejumlah atom yang merupakan kumpulan partikel yang berupa fluktuasi energi yang 99,99996 % berupa ruang hampa. Kita punya keterbatasan. Mata kita hanya dapat melihat dalam batasan tertentu, atau kita akan melihat pertukaran atom di kulit kita dan hilanglah keindahan manusia, karena kita akan melihat manusia seperti yang terlihat di bawah mikroskop . Telinga kitapun hanya dapat mendengar getaran suara dengan batas tertentu, atau kita akan disibukkan keramaian dari bunyi getaran otak sampai getaran geledek di angkasa. Apa yang kita anggap realita kebenaran, belum tentu benar.

 

Kisah Raja Puranjana

Dalam buku Srimad Bhaghavatam diceritakan tentang Raja Puranjana. Raja Puranjana dalam pencariannya meninggalkan sahabat setianya Awijnata, dan menemukan Kota Boghawati yang indah dengan 9 gerbang megah. Di Kota tersebut, dia mengawini Dewi Puranjani yang cantik dan cerdas yang selalu dijaga oleh oleh ular Prajagara yang berkepala 5. Ber tahun-tahun Raja Puranjana hidup berbahagia bersama Dewi Puranjani, menurunkan putra-putri yang gagah dan cantik. Kebahagiaan tersebut berkurang tatkala datang kesadaran bahwa ada perampok sakti Chandrawega dengan 360 anak buahnya yang selalu siap menyerang benteng. Kalau dia tidak waspada, sudah banyak mata-mata menyusup lewat 9 gerbang Kota. Semakin lama merenung, Raja sadar bahwa pada akhirnya akan datang suatu saat dimana benteng Kota akan jatuh juga pada Candrawega yang dengan tegar, sabar menanti penaklukan Kota. Tiba-tiba saja, Raja Puranjana ingat sahabat setianya, Awijnata.

 

Mengikuti pikiran atau pasrah pada pemandu kebenaran

Kota Boghawati adalah tubuh kita dengan 9 pintu yang berhubungan dengan dunia luar, 2 pintu mata, 2 pintu telinga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut dan 2 lubang pembuangan. Dewi Puranjani adalah pikiran yang menikmati kesenangan dari 5 indriya. Chandrawega adalah waktu yang bergerak selama 360 hari yang selalu waspada menunggu jatuhnya benteng tubuh kita. Awijnata adalah diri sejati yang selalu memandu dalam jalan kebenaran.

Haruskah kita mengikuti perjalanan hidup Raja Puranjana? Atau kita siapkan diri kita untuk pasrah kepada Pemandu Kita? Tuhan, semoga kedua mataku tidak melihat hal-hal yang tidak sepantasnya kulihat, kedua telingaku tidak mendengar hal-hal yang tidak sepantasnya kudengar, kedua lubang hidungku tidak mencium hal-hal yang tidak sepantasnya kucium, mulutku tidak mengucap serta makan minum sesuatu yang tidak sepantasnya kuucapkan, kumakan dan kuminum. Demikian juga kedua gerbang lainnya. Guru, pandu kami semua dalam mengarungi hidup ini. Kami semua belum paham tentang kebenaran.

 

Triwidodo

Desember 2006.

Dari getaran pikiran ke kelembutan nurani

Beberapa pusat kesadaran manusia

Dikatakan bahwa pusat pemikiran berada di otak dalam tempurung kepala, pusat energi berada dekat pusar di dalam rongga perut, sedangkan pusat nurani terletak di jantung (terjemahan ”heart” bahasa Inggris, yang kadang diterjemahkan sebagai hati) di dalam rongga dada. Banyak laku untuk mengolah pusat kesadaran tersebut, ada pula yang mengolah keseluruhannya agar lebih efektif. Tempat-tempat pusat kesadaran tersebut amat peka dan kematianpun mudah menjemput di sana.

Pusat perdaran darah

Jantung adalah pusat sistem peredaran darah, trilyunan sel pada tubuh manusia semua berhubungan dengan jantung lewat sistem peredaran darah. Jantung adalah tempat memompa darah bersih dan darah kotor dari seluruh tubuh. Kelembutan getaran kasih di jantung akan mengalir ke seluruh tubuh lewat sistem peredaran darah.

Semenjak bayi di dalam kandungan, jantung sudah berdenyut, bekerja seumur hidup, beristirahat setengah detik antara dua denyutan dan berdenyut kira-kira 10.000 per hari. Organ tubuh yang sangat disiplin dan merupakan pekerja keras.

Bagian kanan jantung mengirim darah bertekanan rendah ke paru-paru, sedangkan bagian kiri memompakan darah bertekanan tinggi ke seluruh tubuh. Kelembutan terjadi disebelah kanan dan ketegasan terjadi di sebelah kiri. Tubuh bagian kanan berhubungan dengan otak sebelah kiri , dan tubuh bagian kiri berhubungan dengan otak kanan.

Jumlah darah yang dipompakan oleh jantung disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Jantung berdenyut 70 kali per menit dalam keadaan normal. Pada saat berolahraga dan otot memerlukan oksigen banyak, jantung berdenyut sampai 180 kali per menit. Apabila jantung tidak menyesuaikan diri dengan kebutuhan tubuh, keseimbangan akan terganggu dan tubuh dapat cedera. Jantung bekerja dengan luwes demi kesehatan tubuh kita.

Saat kita tidur maupun terjaga, sistem saraf kita dengan sendirinya mengatur jumlah darah yang dipompa dan kecepatan pemompaannya. Sistem syaraf otonom. Dalam keadaan ”deep-sleep” dimana tidak ada aktifitas pikiranpun, jantung tetap bekerja. Terima kasih jantungku, kekasihku, yang selalu bekerja dan memperhatikan diriku.

Antara seks, ”cinta” dan kasih

Kesadaran seks memikirkan kepuasan sendiri, tidak peduli kepada pihak lain, dan banyak dipengaruhi oleh insting rendah seperti yang dilakukan binatang. Di tahap berikutnya, kesadaran cinta sudah mengusahakan keseimbangan antara memberi dan menerima. Perhitungan untung rugi pikiran bekerja disini. Kalau kamu dipukul balaslah yang setimpal. Selanjutnya, kesadaran kasih bermakna lebih banyak memberi daripada menerima. Logika untung rugi pikiran sudah ditinggalkan. Kalau kamu dipukul, memaafkannya adalah perbuatan mulia. Memaafkan dengan ikhlas, merupakan aktifitas hati, pikiran sudah diistirahatkan. Di dalam ikhlas terkandung makna kesabaran, kepasrahan, dan penerimaan, dan pendekatan diri kepada Tuhan.

Dewi Kunthi menumpahkan kata hatinya pada Krishna : ”Krishna, aku orang bodoh, tidak tahu Jnana Yoga, tidak tahu Karma Yoga, tidak tahu Raja Yoga, yang kuminta hanya anak-anakku Pandawa semoga dalam keadaan ”bermasalah” di dunia ini agar dapat selalu dekat dengan-Mu. Dekat dengan-Mu adalah segalanya”.

Terima kasih Guru, kami ingin ”dekat” dengan-Mu.

 

Triwidodo

Desember 2006.