Percakapan di Taman Safari


 

Dua orang hutan berdiskusi di Taman Safari

Orang hutan pertama :

Kita perlu mensyukuri karunia, kebutuhan kita tentang makan, minum, berkelompok dan berhubungan lain jenis telah dicukupi. Kebutuhan utama kita, rupanya juga menjadi standar kebutuhan manusia yang merasa lebih tinggi derajatnya.

Orang hutan kedua :

Wait! Ada kekurangan sedikit tentang hutan tempat kita tinggal. Masih belum seperti hutan perawan di Surga Kalimantan sebelum disentuh manusia.

Orang hutan pertama :

Kau panggil mereka manusia? Mereka panggil diri mereka sendiri manusia, menurut penglihatan batinku mereka tidak nampak sebagai manusia.

Orang hutan kedua :

Exactly! Lihat ada kendaraan pelat nomor B yang mereka sebut Kijang. Didalamnya kulihat mereka semua Beruang, mereka menyimpan energi yang disebut uang, simpanan energi di gedung yang disebut bank banyak sekali.

Orang hutan pertama :

Benar kawan, mereka lupa, mereka akan hidup berapa lama? Bagiku, beberapa dari mereka sejenis dengan Serigala yang serakah, yang selalu mengincar mangsa lainnya.

Orang hutan kedua :

OK! Lihat kendaraan dibelakangnya, mereka idiot, masa kendaraan beroda empat disebut Kuda. Yang mengemudi nampak sebagai Buaya. Sudah banyak Kupu-Kupu Malam disantapnya. Sekarang dia bawa Kembang Desa, nampaknya dia mencintainya. Semoga kasih mengubah kebiasaan lamanya.

Orang hutan pertama :

Look! Agak tertinggal di belakang kulihat Bebek-Bebek yang suka membeo. Mereka naik Zebra. Mereka punya ”mind”, tetapi mereka ”fear” terhadap pemimpin mereka. Mereka belum manusia masih ”pashu”, hewan penakut yang jinak. Para Bunglon juga bersamanya.

Orang hutan kedua :

Yes! Lihat keluarga bahagia dibelakangnya, mereka naik Tiger, mereka alim, sopan, tidak berbuat jahat, mungkin mereka pantas disebut manusia.

Orang hutan pertama :

Belum kawan! Mereka masih punya sifat kehewanan, mereka hanya memperhatikan kesejahteraan keluarga mereka. Mereka belum membaca buku ”Tuanku Rao”. Kebahagiaan mereka akan dirampas ketika negara mereka dikuasai penguasa lalim yang menteror mereka yang berbeda pemahamannya.

Orang hutan kedua :

Sebaiknya mereka ikut pesta ceria di Monas, Kelompok Muda-Mudi Pencinta Bangsa ini mengajak masyarakat mencintai negeri. Semboyan mereka baik ”yuk beresin diri sebelum kita beresin negeri”.

Orang hutan pertama :

Aku melihat mereka belajar dari angsa-angsa di Canada. Sewaktu musim dingin mereka terbang ke selatan mencari tempat lebih panas. Mereka terbang membentuk huruf ”V”. Ketuanya di ujung panah. Dibelakangnya terbang lebih ringan karena udara telah disibak teman dimukanya. Mereka bisa terbang 171% lebih jauh. Suara mereka riuh rendah menyemangati ketuanya. Di Monas seluruh peserta juga ikut bernyanyi dan bertepuk riuh rendah.

Orang hutan kedua :

Burung-burung angsa juga punya rasa kebersamaan tinggi. Begitu salah satu anggotanya jatuh tertembak, dua angsa didekatnya turun mengikutinya. Sampai yang tertembak sembuh atau mati baru naik bergabung dengan rombongan angsa yang lain. Angsa yang bijaksana. Paramhansa.

 

Triwidodo Oktober 2007.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kenapa begini aku cuman mau percakapan ok. hiks hiks hiks hiks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: