Otobiografi Paramhansa Yogananda

Judul                : Otobiografi Paramhansa Yogananda,                         

                          Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik

Pengarang       : Anand Krishna

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Cetakan Kedua 2002

Tebal               : 556 halaman 

Mutiara Quotation Buku Otobiografi Paramhansa Yogananda 

Paramhansa Yogananda adalah seorang Yogi India pertama yang pergi dan menetap di Barat, guna menyebarkan ajaran-ajaran rahasia yoga. Dari Barat ilmu itu menyebar ke pelosok dunia. Kalau buku ini memaparkan kisah nyata mengenai banyak orang suci dari berbagai tradisi, itu dimaksudkan untuk membuka mata kesadaran dan hati kita terhadap kedahsyatan sebentuk yoga yang mereka praktekkan.Kriya Yoga yang ia ajarkan akan mempercepat evolusi kesadaran kita. Tidak hanya sekadar evolusi – mungkin lebih tepat dikatakan mutasi, mengingat betapa dahsyat pengaruh Kriya terhadap perluasan kesadaran, yang tak pelah juga mempengaruhi tubuh kita. Dan untuk membuktikan kebenaran ajarannya, selagi masih hidup ia mengatakan bahwa setelah mati, tubuhnya tidak akan membusuk sekurang-kurangnya selama 20 hari, tanpa balsem, tanpa ramuan pengawet apa pun. Dan benar, tim dokter yang terus menyelidiki jasadnya sama sekali tidak menemukan gejala pembusukan, atau degradasi sel, sampai jasad itu dikremasi.Karena itu, tidak heran bahwa karya ini menjadi klasik, dan sudah terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia, serta telah diterjemahkan ke dalam tak kurang dari dua puluh bahasa. 

Cerita tentang Mojud, pegawai kecil yang jujur. Sewaktu masih kecil, ia disuruh memilih antara Setan dan Tuhan. Lantas, ia disuruh memilih antara Sorga dan Neraka. Sekarang antara yang benar dan tidak benar. Sungguh memuakkan. Dan akhirnya, ia berontak, “Allah, Tuhan – hanya untuk inikah aku berada di dunia ini? Setiap hari hanya menghadapi itu. Inikah kenyataan hidup? Ada, Mojud. Ada satu orang yang telah melampaui dualitas antara yang benar dan yang tidak benar. Nabi Khidur – Beliaulah satu-satunya manusia yang telah melampaui dualitas. Beliau dalam ketauhidan Allah.Dan, bagaimana aku menemukan beliau – ke mana aku harus mencarinya?Itu susahnya. Beliau tidak bisa dicari. Apabila kamu sudah siap, Beliau akan menemui kamu sendiri. Kamu tidak perlu mencarinya ke mana-mana.Kejenuhanmu – itulah persiapan yang kau butuhkan. Semakin jenuh kamu, semakin semakin siap pula kamu. Setiap orang yang sedang meniti jalan ke dalam diri pada suatu ketika akan menemukan bahwa “Kebenaran” Itu Satu Adanya. Dan bahwa jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran – apa pun nama yang Anda berikan kepada Yang Satu Itu – merupakan jalan pribadi. Sempit – begitu sempit, sehingga Anda harus melewatinya seorang diri. Anda tidak bisa bergandengan tangan dengan siapa pun.  Permukaan permata memang memiliki banyak sisi, dan setiap sisi menambah keindahannya. Para saintis, para ilmuwan melihat permukaan yang indah itu. Mereka terpesona. Setiap sisi melahirkan satu cabang ilmu. Dan setiap cabang ilmu diminati oleh sekian banyak orang. Sebaliknya, seorang mistik, seorang yogi, seorang sufi memasuki inti permata itu sendiri dan menemukan Yang satu Itu. 

Saya adalah seorang pengembara, dan tidak akan pernah berhenti mengembara. Saya bukan seorang pencari, karena tidak perlu ada yang dicari. Berhenti sudah pencarian saya. Tetapi berjalan terus pengembaraan saya. Ceramah-ceramah yang saya berikan, buku-buku yang saya tulis, tidak dimaksudkan untuk menambah wawasan Anda. Jika hanya itu yang terjadi, saya akan sangat sedih! Saya sedang menggoda Anda, supaya Anda terangsang untuk menjadi pengembara seperti saya. Cukup sudah pencarian Anda. Apalagi yang Anda cari? Sekarang tiba saatnya untuk merayakan kehidupan. Untuk mengembara dan meyebarluaskan “Berita Baru” – bahwa “yang perlu ditemukan” sudah Anda temukan. 

Lewat karya klasik yang saya sadur ini, saya ingin menggelisahkan Anda! Saya ingin membuat Anda sadar akan hidup yang lebih berarti, lebih bermakna. Kehidupan Anda selama ini tidak berarti, sangat tidak bermakna. Terombang-ambing antara suka dan duka, antara panas dan dingin, antara benar dan tidak benar – puaskah anda dengan kehidupan seperti itu? Kebimbangan Mukunda kecil untuk pergi ke Himalaya. Pendeta berkata, kamu tidak boleh melarikan diri dari tanggung jawabmu. Apabila kamu meninggalkan keluargamu, hutang piutang karmamu dengan mereka  tidak terselesaikan dan keinginanmu untuk memperoleh pencerahan tidak akan tercapai. Saat itu, dia mengingat kembali ucapan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, seseorang yang memusatkan kesadarannya pada-Ku akan terbebaskan dari belenggu-belenggu karma. 

Swami Kebalananda, aku merasa beruntung sekali. Selama hampir sepuluh tahun, aku tinggal di Benares. Dan selama itu pula, hampir setiap sore aku mendatangi padepokan beliau( Lahiri Mahasaya). Beliau jarang bicara. Kalaupun berbicara, kalimatnya singkat sekali. Berada bersama beliau, dekat beliau – sudah cukup. Diajak bicara atau tidak sudah tidak penting lagi. Apabila aku menemui kesulitan dalam latihan-latihan saya, yang kulakukan hanya satu – bermeditasi, memusatkan kesadaranku pada kaki beliau. Dan pertanyaanku akan terjawab, kesulitanku akan teratasi. Seorang Master sejati bagaikan Rumah Tuhan – pintumya terbuka lebar bagi para muridnya. Mukjizat-mukjizat Lahiri Mahasaya menunjukkan bahwa Beliau tidak pernah tergoda untuk menonjolkan kepribadiannya, egonya. Penyerahan diri beliau pada kehendak Ilahi, menyebabkan terjadinya penyembuhan lewat beliau.

Prinsip yang sama ini digunakan juga oleh para praktisi Zen, Tao dan para Sufi. Mereka tidak menggunakan mind, tidak menggunakan konsentrasi dan lain sebagainya. Mereka hanya membuka diri, sehingga menjadi reseptif terhadap energi Ilahi. 

Penyembuhan yang terjadi pada badan kasar, tidak begitu berarti. Bagaimanapun juga, pada suatu ketika badan kasar akan kita tinggalkan. Yang penting adalah peningkatan kesadaran yang terjadi dalam diri para murid beliau. Itulah mukjizat beliau yang sejati.

Berbeda sekali dari para penyembuh masa kini yang sedang ngetrend. Yang dipentingkan hanyalah penyembuhan fisik – peningkatan kesadaran tidak diperhatikan. Bahkan tidak jarang, metode-metode penyembuhan yang mereka berikan justru membuat kita semakin tidak sadar, semakin terpaku pada lapisan kesadaran fisik. Kali. Manifestasi Tuhan sebagai Ibu Alam Semesta. Bentuk-Nya menyeramkan, karena ia sedang memusnahkan para raksasa. Yang dimaksudkan dengan raksasa adalah sifat-sifat hewani dalam diri manusia, misalnya keserakahan, keangkuhan dan lain sebagainya. Walaupun wujud-Nya menyeramkan, mata-Nya selalu memancarkan sinar kasih. Ia selalu melindungi mereka yang berserah diri kepada-Nya. Paradoks-paradoks seperti ini ditemukan dalam setiap tradisi.  

Mirabai adalah seorang penyanyi rohani yang akan dikenang sepanjang jaman.

Seandainya mandi di sungai-sungai yang kau anggap suci, dapat mempertemukan aku dengan Tuhan, maka aku akan memilih jadi ikan….

Seandainya membatasi makanan dan hanya makan buah-buahan dapat mempertemukan aku dengan Tuhan, maka aku akan memilih jadi domba, pemakan rumput…..

Seandainya mengulangi Nama-Nya terus-menerus dapat mempertemukan aku dengan-Nya, maka akan kugunakan tasbih raksasa, untuk berzikir pada-Nya.

Seandainya bersujud pada patung dapat mempertemukan aku dengan-Nya, bukit-bukit megah pun akan kusembah…..

Berpuasa atau hanya minum susu, seandainya dapat mempertemukan aku dengan-Nya, maka aku akan memilih jadi anak sapi….

Meninggalkan keluarga dan menjadi selibat, seandainya dapat mempertemukan kamu dengan Tuhan, maka setiap banci bertemu dengan Tuhan.

Tidak temanku, untuk bertemu dengan Ia Yang Adalah Wujud Kasih yang kau butuhkan hanyalah cinta, hanyalah Kasih – itu saja.

Jagadis Chandra Bose. Hasilnya adalah alat cresnograph yang saya rancang. Terbukti bahwa tumbuh-tumbuhan pun memiliki emosi. Mereka mengenali rasa cinta, takut, sakit, suka, duka dan lain sebaginya. Mereka pun tanggap terhadap rangsangan-rangsangan dari luar diri, seperti halnya binatang.Sepertinya ada prinsip universal yang mempersatukan logam, tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang. Semuanya memiliki sifat-sifat yang sama. Semuanya menunujkkan reaksi yang sama terhadap depresi, keletihan dan lain sebaginya.  Apa yang saya lihat memang menakjubkan. Layar di depan saya menunjukkan pertumbuhan salah satu tanaman yang sedang direkam getarannnya, untuk demonstrasi. Beliau menyentuh tanaman itu dengan besi batangan. Tiba-tiba pertumbuhan tanaman berhenti. Setelah besi diangkatnya kembali, pertumbuhan pun berlangsung lagi. Begitu pula efek chlorofarm pada tanaman – getaran-getaran pertumbuhan berhenti, sampai dibaerikan antidote unntuk menghilangkan efek tersebut. Penggunaan pisau untuk memotong salah satu tangkai membuat tangkai itu berhenti bergetar sama sekali. Tangkai itu sudah mati. Percikan chlorofarm pada plat timah juga menunjukkan reaksi yang hampir sama. Setelah beberapa lama efek memudar.

Master Mahasaya. Kita berhenti duduk sebentar di sini. Guru saya (Sri Ramakrishna Paramhansa) selalu menganjurkan meditasi dekat kolam air. Keheningan air mengingatkan kita akan keheningan Tuhan, kelembutan Allah. Seperti pantulan kita dalam air di kolam ini, begitu pula alam semesta hanyalah sebuah pantulan dalam cosmic mind – dalam Pikiran Semesta, dalm Allah. Demikian yang selalu dikatakan oleh guru saya. 

Swami Dyananda. Kalau memang harus mati kelaparan, ya matilah. Tetapi jangan menyangsikan kekuasaan allah. Kekuasaan Dialah yang memberi kehidupan kepada kita – bukan makanan. Dialah yang membaeri kehidupan – Dia pulalah yang akan memeliharanya. Jangan mengira bahwa kau hidup karena makanan, karena uang, atau karena bantuan orang.apabila Ia menarik kembali nyawa pemberian-Nya, maka makanan, uang dan bantuan siapa pun tidak bisa memperpanjang hidupmu.  

Paramhansa Yogananda memberi catatan kaki bahwa menurut para ahli fisiologi, tidur mendengkur merupakan pertanda relaksasi yang amat sangat dalam. Seorang Master akan selalu menimbulkan rasa percaya dalam diri kita. Ia tidak akan menciptakan sandaran-sandaran baru bagi kita. Dengan rasa percaya diri itu, penyembuhan terjadi dengan sendirinya. Demikian pula pengalaman saya selama ini. 

Sri Yustekwar. Guruku selalu mengatakan bahwa dunia ini bagaikan impian Sang Pencipta yang mewujud. Dan karena beliau sudah merasakan kesatuan dan persatuan dengan Sang Pemimpi Ilahi, maka baginya materialisasi dan dematerialisasi menjadi sangat mudah. Bahkan beliau mapu mengubah impian itu sendiri.Ada hukum yang mengatur alam semesta. Yamg bermanifestasi, yang ditemukan dan dijelaskan oleh para ilmuwan disebut hukum-hukum alam. Namun, ada juga hukum-hukum yang bekerja pada tingkat kesadaran rohani, yang hanya diketahui lewat ilmu yoga. Para Master yang sudah cerah mengetahui cara kerja hukum-hukum tersebut. Seorang Kristus, misalnya, dapat menyembuhkan orang yang terpotong kupingnya.  Sentuhan seorang Master dapat meningkatkan kesadaran dalam diri kita. Bagaikan aliran listrik, energi seorang Master dapat langsung mempengaruhi otak kia, sehingga kebiasaan-kebiasaan yang tidak menunjang peningkatan spiritual akan terlepaskan dengan sendirinya. Lupakan masa lalu. Masa lau setiap orang pasti bernoda. Sebelum bersandar sepenuhnya pada kehendak Ilahi, kehidupan manusia selalu terombang-ambing. Yang penting masa kini. Upayamu di masa kini akan menjamin kegemilangan masa depan.  

Shankaracharya, seorang pujangga terkenal, pernah menulis. Dalam keadaan jaga, manusia selalu mencari kepuasan panca indera, lewat obyek-obyek di luar dirinya. Setelah capai, lelah, letih ia akan tertidur. Dan dalam keadaan tidur itu, ia akan memperoleh relaksasi yang berasal dari dirinya sendiri. Betapapun menggairahkannya obyek-obyek di luar diri, betapa pun menyenangkannya obyek-obyek itu – ketenangan, kenyamanan dan relaksasi yang diperoleh dari dalam diri melebihi yang dapat diperoleh dari luar diri. Guru saya tidak pernah membeda-bedakan antara pria dan wanita. Dalam alam tidur, anda tidak tahu lagi, apakah anda pria atau wanita. Sesungguhnya jiwa tidak mengenal perbedaan kelamin. Jiwa adalah bayangan Tuhan, yang tak pernah berubah, tak pernah ternoda. 

Seorang Yustekwar bagaikan radio manusia yang sampurna. Sebagaimana radio bisa menerima siaran dari begitu banyak tempat, begitu pula beliau bisa menerima pengetahuan yang berasal dari sekian banyak pikiran. Pada dasarnya pikiran adalah getaran-getaran halus, dan beliau mengetahui metode untuk menerima pikiran-pikiran tersebut. Bukan cuma alat penerimasiaran, seorang master juga berperan sebagai alat pemancar. Karena itu, beliau bisa mempengaruhi jalan pikiran. Apabila pikiran kita tenang, intuisi kita akan berkembang. Hampir setiap orang pernah mengalami keadaan seperti itu, misalnya munculnya suatu ide secara tiba-tiba atau mempengaruhi pikiran orang lain secara tidak sengaja. Mind yang tenang, pikiran yang tidak liar, ibarat seperangkat alat komunikasi radio yang super canggih, bisa digunakan untuk menerima maupun untuk memancarkan siaran. Radio menggunakan energi listrik, dan daya pemancarnya maupun penerimaannya tergantung pada tingginya daya listrik yang digunakan. Dalam hal manusia, energi yang dipakai adalah energi Niat yang Kuat.  Pikiran-pikiran adalah getaran-getaran yang tersebar di alam raya. Dengan menggunakan kekuatan niatnya, seorang master dapat mendeteksi getaran yang mana saja, pikiran siapa saja – apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Getaran pikiran bersifat universal, bukan individual. Sehingga sebenarnya tidak ada kebenaran yang diciptakan. Kebenanran hanya dirasakan atau ditemukan kembali.  Pikiran-pikiran kacau dalam diri manusia disebabkan oleh penerimaan yang tidak tajam – niat yang kurang kuat.

Tujuan yoga adalah untuk menenangkan danau -pikiran manusia, sehingga Bayangan Ilahi nampak jelas. Tuhan memahami betul perasaan kita. Sebagaimana, Ia memenuhi permintaan saya dan menurunkan hujan kecil, Ia pun memenuhi setiap permintaan setiap orang yang berasal dari hati yang tulus. Ia tidak pilih kasih. Yakinilah belas kasihnya.  Segala sesuatu dalam alam ini saling berkaitan. Dalam hidup sehari-hari, manusia berhadapan dengan dua macam kekuatan. Kekuatan pertama adalah kekuatan gabungan elemen-elemen alami, seperti tanah, air, api , angin dan ruang angkasa, yang ada dalam dirinya. Kekuatan kedua adalah kekuatan alam di luar dirinya. Selama kesadaran manusia masih berada pada lapisan fisik yang bersifat sementara, ia akan selalu dipengaruhi oleh  perubahan-perubahan yang terjadi di bumi dan di langit.  

Astrologi merupakan ilmu untuk mempelajari respons manusia terhadap berbagai rangsangan yang diperolehnya dari planet-planet lain. Bintang-bintang dan planet-planet tidak pilih kasih.mereka tidak bisa membantu, atau mencelakakan manusia. Mereka hanya menjadi sarana bagi terlaksananya hukum sebab-akibat. Seorang anak lahir pada hari dan jam tertentu, dan dipengaruhi oleh bintang tertentu, karena karma dia pada masa yang lalu. Ilmu astrologi dapat menjelaskan pengaruh dari masa lalu, dan kemungkinan apa yang dapat terjadi pada masa mendatang. Namun yang menguasai betul il mu itu, hanyalah segelintir manusia.  Apabila kita menyadari sepenuhnya bahwa perbuatan kita pada masa lalu telah menentukan masa kini, maka dengan perbuatan kita pada masa kini, kita dapat merancang masa depan, sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang manusia juga memiliki akses terhadap kekuatan-kekuatan spiritual, yang tidak terpengaruh oleh bintang dan planet. Mereka yang bertakhayul dan tanpa pengetahuan yang benar, mempercayai ilmu perbintangan menjadi budak para peramal. Seorang bijak akan berhasil menaklukkan bintang-bintang yang mempengaruhi hidupnya. Caranya mudah, ia harus mengalihkan kesadarannya dari ciptaan, ke Sang Pencipta. Pengalihan kesadaran semacam itu – peningkatan kesadaran seperti itu – akan membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh duniawi(Pengaruhbintang, ramalan dan lain sebagainya masih bersifat sangat duniawi, bukan spiritual sama sekali). Peningkatan kesadaran yang terjadi dalam diri manusia akan membuat dia semakin menyadari ketidakterbatasan jiwanya. Sang Aku yang tidak pernah mati, karena tidak pernah lahir. Sang Aku tidak bisa dipengaruhi oleh bintang-bintang.  

Pada dasarnya manusia adalah jiwa yang memiliki badan. Selama ini ia lupa akan identitas diri yang sebenarnya. Dan, karena itu ia terpengaruh oleh dunia benda, oleh hukum alam. Apabila ia menyadari dirinya sebagai Ia Yang Tak Terbatas, ia akan bebas dari pengaruh hukum alam yang terbatas. 

Tuhan adalah Keserasian Abadi. Menyelaraskan diri dengan Tuhan berarti menyelaraskan diri dengan Keserasian Abadi. Ia yang sudah selaras dengan Keselarasan Abadi akan selalu bertindak sesuai dengan hukum alam, sesuai dengan astrologi. Dalam alam meditasi dan doa, ia merasakan kesatuan dengan Kesadaran Murni dan Kesadaran itulah yang menjadi pembimbingnya, pelindungnya. Tidak ada pembimbing atau pelindung yang lebih ampuh, lebih jitu. Selama masih dalam perjalanan, peta jalan masih dibutuhkan. Kalau sudah sampai tujuan, peta bisa ditinggalkan. Doa, kekuatan pikiran, meditasi yoga, bimbingan jimat dan lain sebagainya, bagaikan peta jalan dapat menunjukkan jalan. Bahkan seperti penangkal petir yang dapat melindungi rumah, sarana-srana penunjang tersebut dapat melindungi kuil badan kita. Alam semesta ini penuh dengan bermacam radiasi. Apabila radiasi-radiasi tersebut serasi dengan badan manusia, dan ia tidak mendeteksinya, ya, tidak terjadi apa-apa. Namun, apabila ada radiasi yang tidak serasi dengan badan manusia, badannya mulai mengalami proses disintegrasi. Untuk mencegah efek negatif tersebut, para resi menemukan bahwa metal, permata, bahkan tumbuh-tumbuhan tertentu dapat membantu manusia. Yang penting untuk diketahui adalah: metal, permata, bahkan tumbuh-tumbuhan tidak berguna sama sekali, kecuali dipakai pada badan, sehingga menyentuh badan, khususnya untuk permata, ukurannya pun sangat penting, yaitu minimum 2 karat. Semakin sadar seseorang, semakin halus getaran-getaran dalam dirinya, sehingga ia dapat mempengaruhi alam semesta. Sebaliknya, ia tidak akan terpengaruh oleh fenomena-fenomena yang berubah terus-menerus.  

Berdasarkan pendalamnannya, Sri Yustekwar mengemukakakn bahwa peradaban manusia harus melewati siklus 24.000 tahun. Jangka waktu ini dibagi dalam dua belahan, masing-masing 12.000 tahun. Dan setiap belahan 12.000 tahun terdiri atas empat jaman – jaman besi, perunggu, perak dan emas. Bagaikan putaran roda, siklus ini berjalan terus. Ia yang menyadari jati dirinya berhasil keluar dari siklus kelahiran dan kematian, serta peradaban jaman.  

Hukum Karma atau Hukum Sebab-Akibat tidak bisa diganggu gugat. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Kita tidak dapat menghindarinya. Hukum ini juga tidak mengenal debet-kredit.misalnya anda berbuat baik 8 kali, lantas berbuat jahat 5 kali. Jadi 8 minus 5, masih ada 3 kebaikan. Tidak demikian. Setiap tindakan harus dipertanggungjawabkan. Delapan aksi kebaikan akan menghasilkan 8 kebaikan. Lima kejahatan akan menhasilkan 5 hukuman. Demi mempercepat proses peningkatan kesadaran dalam diri muridnya, seorang master dapat mengambil alih penyakit dan pebderitaan muridnya itu. Namun hal itu dilakukan semata-mata untuk membantu evolusi spiritual dam diri seorang murid. Bukan untuk penyembuhan fisik belaka. Istilah yang digunakan oleh Paramhansa Yogananda sangat hebat: Nirbikalpa Samadhi – keadaan meditatif yang tak terganggu. Seorang master harus sudah mencapai alam meditatif seperti itu. Apa pun yang ia lakukan, akan dilakukan secara meditatif. Keadaan semacam itu hanya bisa tercapai apabila sudah bisa melampaui pikirannya. Istilah yang digunakan oleh Paramhansa Yogananda adalah the breathless state – keadaan tanpa nafas. Ini merupakan kata kias, bahkan bisa disebut kata jebakan. Kata jebakan seperti ini digunakan oleh para resi, para yogi, para begawan sejak dahulu, sehingga mereka yang belum cerah, tetapi mengaku sudah cerah, akan terjebak. Mereka mencari keadaan tanpa napas, lantas menguasai ilmu-ilmu tertentu, sehingga dapat menahan nafas sampai beberapa jam, bahkan beberapa hari. Padahal dengan nafas yang dimaksudkan adalah mind. Keadaan tanpa nafas sebenarnya keadaan tanpa mind.patanyali, sang maestro yang memberikan sistematika kepada ajaran-ajaran yoga, juga sering menggunakan kata-kata jebakan seperti itu. Misalnya Pranayama – pengaturan nafas – padahal yang dimaksudkan beliau adalah pengturan pikiran. Menurut Shankara, Hukum Karma atau Hukum Sebab-Akibat hanya mempengaruhi mereka yang masih hidup dalam ketidaksadaran. Seperti halnya Anda melihat seekor harimau dalam mimpi, lantas Anda ketakutan dan berlari-lari, sampai keringatan, ngos-ngosan. Rasa takut anda memang real, keringat dingin Anda memang real walaupun harimau itu sendiri tidak real, walaupun semuanya itu terjadi dalam mimpi. Lantas bagaimana melampaui rasa takut real yang disebabkan oleh harimau yang tidak real itu? Anda tidak bisa melawan harimau yang tidak real – yang tidak ada. Lagi pula apa gunanya melawan harimau tidak real yang hanya berada dalam mimpi?Solusinya hanya satu: bangunlah, bangkitlah! Mimpi Anda akan berakhir dengan sendirinya. Tidak perlu melawan mimpi. Kesadaran ibarat Alam Jaga. Ketidaksadaran ibarat alam mimpi. 

Sri Shankara.

Bukan pikiran, bukan pula intelek;

Bukan ego, bukan pula yang menyebabkan ego;

Bukan panca indera;

Bukan langit dan bukan bumi;

Bukan cahaya dan bukan angin

– Aku adalah Kesadran Murni, Kebahagiaan yang Kekal Abadi – itulah Aku.

Apa yang disebut prana, energi, bukanlah aku;

Bukan elemen-elemen alami, bukan pula laisan kesdaran dalam diri manusia;

Bukan bada kasat ini

– Aku adalah Kesadaran Murni, Kebahagiaan yang kekal Abadi – itulah Aku.

Tidak ada yang Kusukai, dan tidak ada yang tidak Kusukai;

Tidak serakah, tidak pula bimbang;

Tidak angkuh:

Tidak iri;

Tidak ada keinginan apa pun dalam diriku – sekalipun untuk kebebasan itu sendiri

 – karena Aku adalah Kesadran Murni, Kebahagiaan yang Kekal Abadi – itulah Aku.

Amal saleh dan dosa – dua-duanya telah Kulampauia;

Suka dan duka tidak lagi mempengaruhi Aku;

Ritual dan perjalanan suci, kenikmatan dan rasa nikmat itu sendiri – semuanya sudah Kulampaui

– Aku adalah Kesadaran Murni, Kebahagiaan yang Kekal Abadi – itulah Aku.

Tidak ada lagi rasa takut akan kematian;

Tidak kukenali lagi perbedaan antara kelompok;

Ayah, ibu, sahabat, saudara, guru, murid – tak sesuatu pun yang kumiliki;

Kelahiran dan Kematian tidak kukenali lagi

 – Aku adalah Kesadaran murni – Kebahagiaan yang Kekal Abadi – itulah Aku.

Pikiran telah kulampaui;

Tak berwujud, namun berada dimana-mana;

Tidak terikat, tidak mengenal kebebasan dan tidak bisa diukur

– Aku adalah Kesadran Murni, kebahagiaan yang Kekal Abadi – itulah Aku. 

Pertama tentang hukum karma, ada yang lahir dalam keluarga kaya. Ada yang lahir dalam keluarga miskin. Ada yang lahir sehat, ada yang cacat. Apa sebabnya? Apabila kita percaya bahwa Tuhan adalah Maha Adil, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, lantas kenapa ada yang berbuat baik, tetapi menderita terus? Lantas ada pula yang berbuat jahat, tetapi berjaya terus? Ada yang mengatakan, Tuhan sedang menguji mereka. Ujian macam apa? Apabila betul unian, maka sangat tidak adil. Ada yang diuji dan ada yang tidak diuji. Anda harus meninggalakan konsep-konsep semu, dan berani menerima sesuatu yang baru. Apabila anda belum berani menerima sesuatu yang baru, dan masih nyaman dengan dogma-dogma lama yang sudah tidak relevan, ilmu yang tidak cocok untuk Anda. Anda tidak memperoleh sesuatu apa pun. Anda akan berada di tepi sungai, tetapi tetap haus. Kehidupan ini akan melewati Anda begitu saja!Hukum karma berarti hukum sebab-akibat. Setiap sebab akan berakibat. Kehidupan kita sekarang ini merupakan akibat dari kehidupan yang lalu. Perilaku kita dalam hidup ini akan menentukan kehidupan kita berikutnya. Alam semesta juga mengenal proses daur ulang. Setelah apa yang disebut kematian, roh kita akan memasuki janin yang baru, lahir kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Perjalanan roh adalah perjalanan menuju kesempurnaan, menuju Yang Ilahi, menuju Allah. Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita akan kembali. Konsep kedua yang harus dipahami adalah konsep Mokhsa, Nirvana atau Pembebasan dari iklus kelahiran dan kematian. Kalaupun Anda tidak berupaya, mekanisme alam akan bekerja sendiri, akan mendorong Anda ke depan, sehingga proses penyempurnaan roh, pemurnian diri berjalan terus.Di antara dua ratus juta penduduk Indonesia, kenapa Anda harus membaca buku ini? Renungkan sejenak, mungkin buku ini merupakan buku pertama tentang yoga, yang sedang anda baca. Kenapa Anda tertarik untuk membeli buku ini? Atau mungkin seorang sahabat menghadiahkan buku ini kepada Anda, kenapa? Kenapa harus buku ini, bukan buku yang lain?Tanpa Anda ketahui, mekanisme alam sedang bekerja. Mungkin Anda dilahirkan dalam keluarga yang sangat ortodoks terhadap salah satu kepercayaan, di mana baru membicarakan konsep-konsep lain saja sudah dianggap tahu. Lantas, kenapa Anda tertarik dengan buku ini?Alam yang menentukan segala-galanya dan Tuhan, Allah Yang Menggerakkan Alam Semesta. Tiba sudah waktunya bagi Anda untuk mempelajari sesutau yang baru. Selesai sudah pendidikan dasar. Lanjutkan pelajaran Anda, masih banyak yang harus diraih, perjalanan masih panjang, jangan berhenti!Para Yogi menemukan teknik-teknik tertentu, sehingga proses pelajaran bisa dipercepat. Anda bisa loncat kelas. Mereka menemukan latihan-latihan tertentu yang bisa mengantar Anda ke tingkat Kesempurnaan lebih awal. Untuk itu , tentu Anda harus berupaya dan berupaya keras.Kriya Yoga adalah salah satu teknik di antara sekian banyak teknik yang diberikan oleh para yogi, para master. Apabila Anda mempraktekkannya dengan sunguh-sungguh, perjalanan menuju Kesempurnaan bisa dipercepat. 

Kriya Yoga merupakan suatu teknik psiko fisiologis yang sangat sederhana. Dengan teknik ini, darah manusia mengalami dekarbonisasi, dan disegarkan kembali dengan oksigen tambahan. Atom dari oksigen tambahan ini selanjutnya diubah menjadi aliran kehidupan (prana) yang menyegarkan kembali otak manusia dan sentra-sentra enerji dalam dirnya (spinal center atau chakra). Selain membantu dalam hal terjadinya peningkatan kesadaran, latihan ini juga mencegah terjadinya kerusakanjaringan otot, atau setidaknya memperlamban proses perusakan. Setiap praktisi Kriya Yoga yang telah mencapai tingkat master bisa mengubah setiap sel menjadi energi murni. Elias, Yesus, Kabir dan para master lain menguasai teknik Kriya Yoga atau salah satu teknik yang mirip Kriya Yoga , sehingga mereka dapat lenyap dari pandangan dan muncul di tempat lain, dalam sekejap.Sebenarnya ilmu ini sangat kuno. Lahiri Mahasaya mendapatkannya dari guru beliau, Babaji, yang juga hanya menemukannya kembali.  Teknik yang saya berikan kepada kamu ini, Babaji pernah menjelaskan kepada Lahiri Mahasaya, adalah bteknik sama yang pernah diajarkan oleh Krishna  kepada Arjuna, ribuan tahun yang lalu. Patanjali juga tahu tentang tek nik ini. Begitu pula Yesus, Yohanes Pembabtis, Paulus dan para murid-murid Yesus yang lain. Referensi tentang teknik ini dapat ditemukan dalam Bhagavad Gita. Pendek kata dengan teknik ini, seorang yogi dapat mengendalikan kehidupannya.Patanjali bahkan menyebut kriya yoga dalam karya klasiknya Patanjali Yoga Sutra. Menurut Patanjali, tiga unsur utama dalam kriya yoga adalah kenyamanan fisik, pengendalian pimkiran dan penyelarasan kesadaran dengan getaran-getaran yang dikeluarkan oleh suara Aum. Aum merupakan suara awal yang menggetarkan, menggerakkan alam semesta. Seorang praktisi yoga dapat mendengar suara ini.  

Mendengar. Demikian pula yang dilakukan para resi, para master, para praktisi yoga. Mereka yang belum tahu persis tentang fenomena ini akan menganjurkan pengulangan dan pengucapan aum. Pengucapan dan pangulangan hanyalah pemicu awal. Selanjutnya Anda akan mendengarnya…. 

Seorang praktisi yang mengalami peningkatan kesadaran – atau persatuan dengan Kesadaran Murni, Tuhan – akan merasakan badannya seperti tidak bernyawa, kaku tanpa gerakan. Walaupun demikian, ia tetap sadar akan apa pun yang terjadi atau terasa oleh badannya. Ia tidak kehilangan kesadaran. Selanjutnya, kesatuan dan persatuan semacam ini – yang biasanya hanya terasa dalam alam meditasi – akan ia rasakan sepanjang hari. Dalam keadaan apa pun, ia akan selalu merasakan kesatuan dan persatuan dengan Kesadaran Murni, dengan Tuhan. 

Sri Yukteswar pernah menjelaskan. Kriya Yoga dapat mempercepat evolusi manusia. Para yogi menemukan hubungan erat antara nafas dan kesadaran manusia. Inilah sumbangan India yang palig unik bagi dunia. Nafas yang menghasilakn tenaga kehidupan dan biasanya hanya digunakan bagimkelangsungan hidup sebenarnya masih bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih penting. Evolusi kesadaran manusia merupakan suatu fenomena alami – tanpa diupayakan pun terjadi dengan sendirinya. Dengan latihan Kriya Yoga, kita bisa mmempercepat evolusi tersebut. Evolusi yang terjadi dalam satu tahun dapat dicapai dengan latihan Kriya Yoga selama setengah menit. Latihan selama delapan jam satu hari sama dengan evolusi alami yang dicapai selama dalam seribu tahun! Apabila Anda melakukannya setiap hari selama delapan jam, dalam satu tahun Anda bisa memperoleh manfaat evolusi alami selama 365.000 tahun! Dalam 3 tahun, Anda bisa mengalami evolusi yang secara alami akan menghabiskan waktu 1 juta tahun! Namun demikian, latihan ini harus dilakukan di bawah bimbingan seorang guru yang kompeten. Sebelumnya, seorang guru akan mempersiapkan badan dan otak seorang praktisi.  

Hubungan antara pikiran dan nafas dapat dibuktikan dengan sangat mudah. Dalam keadaan tenang, nafas kita menjadi pelan dan panjang. Dalam keadaan marah, takut dan lain sebagainya, nafas kita menjadi cepat dan pendek. Seekor monyet misalnya bernafas kurang-lebih 32 kali per menit dan ia nampak gelisah, tidak bisa duduk diam di satu tempat. Manusia bernafas rata-rata 18 kali per menit, dan ia lebih tenang daripada monyet. Gajah, kura-kura, ular dan masih banyak binatang lain bernafas lebih pelan dari manusia. Kura-kura misalnya bisa hidup sampai 300 tahun, karena nafasnya jauh lebih panjang dari pada manusia.  Dalam keadaan tidur, kita semua sebenarnya menjadi yogi sesaat. Dalam keadaan tidur, kesadaran fisik terlepaskan dengan sendirinya. Nafas menjadi pelan dan kesadaran atau Aliran Kehidupan kita terpusatkan pada bagian tengah otak. Demikian, kita menjadi tenang, tenteram. Itu sebabnya, setelah bangun tidur, kita biasanya merasa segar. Seorang praktisi yoga dapat melepaskan kesadaran fisiknya dalam keadaan jaga. Ia tidak tergantung pada proses alami yang terjadi dalam keadaan tidur, sehingga ia selalu tenang dan tenteram.seorang yogi dapat memperlambat  pernapasannya. Dan semuanya itu ia lakukan dalam keadaan jaga – sadar sepenuhnya.    

Jadi kamu tidak ingin berbagi rasa. Apabila setiap master berpikir seperti kamu, bagaimana mereka yang ingin belajar? Kesadaran Ilahi bagaikan madu. Organisasi bagaikan sarang. Kedua-duanya penting. Bagaimana kita dapat memperoleh madu tanpa sarang yang menampungnya. Ingat ia yang tidak berumah tangga memperoleh tugas yang lebih berat lagi. Ia harus mengurus keluarga yang lebih besar lagi. 

Badan manusia bagaikan batere yang membutuhkan recharging dari waktu ke waktu – sebagaimana accu, ia butuh diisi lagi. Apabila kita bisa berhubungan dengan Energi Ilahi Yang Tak Terbatas, maka batere badan akan selalu berada dalam keadaan prima. 

Menurut Veda, dunia benda ini digerakkan oleh hukum-hukum maya, hukum relativitas dan dualitas. Tuhan adalah Kehidupan Tunggal, Kesatuan Yang Sempurna. Yang membuat-Nya tidak terasa, tidak terlihat demikian adalah hukum maya, Ilusis Kosmis. Setiap penemuan dalam bidang sains hanya membuktikan apa yang sudah pernah dinyatakan oleh para rishi jaman dahulu.Law of Motion atau hukum gerak yang ditemukan oleh Newton sebenarnya hanyalah penjabaran hukum maya. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Tidak akan pernah ada kekuatan tunggal. Setiap kekuatan pasti ada kebalikannya. Jadi kekuatan itu selalu bersifat ganda.Ambil saja contoh aliran listrik. Elektron dan proton merupakan kekuatan yang saling bertentangan. Bumi kita ini, bahkan atom, bagaikan magnit, memiliki dua kutub: positif dan negatif. Segala sesuatu dalam dunia benda ini memiliki dua sisi yang saling bertentangan. Setiap hukum, entah hukum fisika, kimia ataupun hukum-hukum lain, bekerja pada prinsip dualitas. Itu sebabnya, ilmu fisika tidak akan bisa mengenal hukum-hukum yang melampaui dualitas tersebut. Alam semesta bekerja pada prinsip dualitas. Dan, alam ini tak terbatas, kekal abadi, sehingga sains tidak akan pernah bisa mengungkapkannya secara total. Para ilmuwan hanya bisa menemukan hukum-hukum yang bekerja pada prinsip dualitas tidak bisa melampauinya. Mereka telah menemukan hukum gravitasi. Mereka telah menemukan listrik, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menjelaskan gravitasi itu sendiri sebetulnya apa. Melampaui dualitas dan hukum-hukum yang bekerja dengan prinsip dualitas adalah tujuan hidup manusia. Mereka yang masih terpengaruh oleh maya akan selalu hidup dalam dualitas. Hidup mereka akan selalu terombang-ambing antara dua kutub suka dan duka, pasang dan surut, pagi dan malam, baik dan buruk, kelahiran dan kematian. Siklus ini sangat menjenuhkan. Setelah beberapa ribu kali mengalami kelahiran dan kematian, manusia mulai merasa jenuh. Baru muncul keinginan dalam dirinya untuk melampaui maya, untuk melampaui kelahiran dan kematian, untuk melampaui hukum dualitas. Maya, berarti ilusi atau avidya – ketidaktahuan, kebodohan, ketololan, ketidaksadaran. Ketidaktahuan i ni tidak bisa diatasi dengan analisis intelektual, tetapi hanya dengan suatu pengalaman pribadi, yaitu nirbikalpa samadhi, meditasi. 

Diantara sekian banyak misteri alam semesta, yang paling menakjubkan adalah cahaya. Tidak seperti gelombang suara yang membutuhkan media untuk transmisi, cahaya bisa menembus kehampaan ruang angkasa. Eter yang disebut-sebut sebagai perantara cahaya, sebenarnya hanya suatu hipotesis. Kekeliruan hipotesis itu terbukti dari penemuan-penemuan Einstein. Berarti cahaya sepenuhnya bebas dari ketegantungan pada dunia benda, pada materi.Einstein membuktikan bahwa dengan kecepatannya yang begitu tinggi, 186.000 mil per detik, dalam alam semesta yang senantiasa  sedang berubah ini, cahayalah satu-satunya yang konstan, yang tidak berubah. Setidaknya demikianlah menurut daya pimkir kita yang serba terbatas. Dan, berdasarkan kecepatan cahaya ini, kita menetapkan standar waktu dan ruang. Waktu dan jarak sangat relatif, dan dapat diukur dengan menggunakan standar kecepatan cahaya. Pena Einstein telah mengubah pemikiran manusia. Waktu sudah bukan sesuatu yang kekal abadi lagi. Terbukti sudah bahwa waktu tidak konstan, bahwa waktu itu relatif. Satu-satunya hal yang dapat disebut konstan hanyalah cahaya. Dalam perkembangan selanjutnya, Einstein sudah mulai merimusakan Unified Field Theory – Teori Kesatuan. Hukum gravitasi dan elektromagnetisme bisa diredusir menjadi suatu rumusan tunggal. Demikian, ia mulai mendekati penemuan para rishi zaman dahulu – yaitu hukum maya.  Teori relativitas penemuan Einstein telah mengembangkan teori-teori baru. Ternyata atom bukanlah materi, tetapi energi. Dan energi atom pada dasarnya adalah mind-stuff – pikiran. Bisa dikatakan bahwa dunia benda ini pada dasarnya adalah mind stuff – benda pikiran. Dunia benda, dunia luar hanyalah permainan bayangan belaka. Terbebaskan dari ilusi berarti terbebaskan pula dari substansi. Jadi, sebenarnya substansi itu adalah ilusi yang terbesar. Ternyata atom pun memiliki cahaya sebagai intisarinya. Pengetahuan kita sedang menuju suatu kebenaran non-mekanis. Alam semesta ini lebih mirip dengan suatu pikiran yang maha besar daripada suatu mesin raksasa. Penemuan modern dalam bidang sains mendekati penemuan-penemuan dalam Veda. Intisari atom adalah cahaya. Dengan kecepatannya begitu tinggi, cahaya memang terasa absolut. Kenapa? Karena, tidak ada satu pun benda materi yang bisa mencapai kecepatan setinggi itu. Dan apabila kecepatan benda materi ditingkatkan, sehingga mencapai kecepatan cahaya, maka lahirlah suatu hukum baru – hukum mukjizat.Para master yang bisa menciptakan sesuatu atau melenyapkan sesuatu, sebenarnya menggunakan hukum yang satu ini. Seorang yogi telah melampaui kesadaran jasmani, sehingga hukum gravitasi dan hukum-hukum lain terlampaui pula tidak bisa mengikat dirinya lagi. Ia yang menyadari jatidirinya sebagai jiwa yang melampaui batas waktu dan ruang tidak akan terperangkap oleh hukum yang mengatur waktu dan jarak. Dan seterusnya …….. TriwidodoJanuari 2008

Pelaksanaan program MTDS Joglosemar di Anand Krishna Center Surakarta

Menjalankan peran            

Sesuai dengan kesepakatan teman-teman Joglosemar, selain tetap berusaha memasarkan program MTDS ke yayasan-yayasan sekolah, bisa dimulai kelas kecil dengan mengundang para guru dari berbagai sekolah ke center. Undangan ke berbagai sekolah di Surakarta, diantar Adrian dengan menemui kontak person di masing-masing sekolah. Cukup menegangkan, karena sampai dengan hari Jum’at 18 Januari 2008, baru 2 orang yang menetapkan diri untuk ikut program, padahal hari Saptu dan Minggu libur. Senin siang kami dikabari teman-teman Solo, sudah ada 13 guru yang mendaftar.  Semangat teman-teman Solo, diikuti dengan serangkaian sms dan email ke Koordinator MTDS Joglosemar, Dr. Kikiq, Koordinator AKC Joglosemar Dr. Djoko, mbak Wayan serta mas Yudha.            

Kamis malam, sebelum latihan Semedi 1 di Surakarta, diadakan rapat di Center Surakarta. Mengikuti petunjuk mas Yuda yang ditampilkan lewat layar multimedia, ditetapkan siapa berbuat apa. Tentative Run Down dibahas disesuaikan dengan informasi kehadiran fasilitator pada saat itu. Pembahasan tentang sertifikat pelatihan dan tentu saja pengaturan letak dan meja koperasi dan konsumsi dibahas. Kami semua ingat perkataan Guruji yang berterima kasih kepada semua yang telah melakukan perannya. Ada yang perannya kelihatan seperti para fasilitator, tetapi banyak juga peran yang tidak terlihat, seperti chek sound, pasang spanduk, pembersihan ruang, bahkan cuci piring sebagai peran yang tidak kalah pentingnya.            

Jumat, 25 Januari 2008 malam, teman-teman Solo sudah lengkap, chek persiapan terakhir. Sertifikat sudah dicetak dengan nama peserta. Buku MTDS sudah siap. Pukul 20.00 teman-teman TB dari Jogya datang melengkapi TB dari Semarang yang sudah lebih dulu hadir, dan dilanjutkan dengan penataan sound system serta latihan beberapa lagu untuk keesokan harinya.            

Saptu 26 Januari 2008 pagi hari, ruangan sudah siap, meja pelayanan koperasi, tempat pendaftaran, minuman welcome drink, sudah siap. Kebersamaan sangat terasa, biskuit, buah, tempe, tahu, teh merupakan persembahan dari banyak teman.

            Setiap peserta yang hadir adalah tamu Guruji, maka teman-teman melayani dengan penuh penghormatan.

 Menjelaskan simbol-simbol agama yang di center           

Teman-teman memutar otak bagaimana 20 tamu peserta yang mungkin terkesima dengan simbol-simbol kebhinekaan keyakinan di Nusantara yang dipajang berdampingan, dan bagaimana caranya agar para tamu dapat memahami dalam waktu yang singkat. Di depan tempat pelatihan tertulis ajakan kebersamaan global, SATU BUMI – SATU LANGIT – SATU MANUSIA. Masuk ke ruang dalam terpampang semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA – TAN HANA DHARMA MANGROWA. Lagu-lagu TB bernafaskan kebhinnekaan dan cinta Indonesia. MC menyampaikan bahwa di Anand Ashram, semua teman-teman dari berbagai latar belakang profesi, usia, ras, suku, agama berbeda dan bergandengan tangan berbhakti pada Indonesia. Inilah gambaran masyarakat Indonesia Baru seperti yang diharapkan oleh Guruji Anand Krishna.            

Penjelasan awal dengan memakai multimedia mengawali pesan ini. Lampiran presentasi dalam powerpoint terlampir. Kita lahir dengan sifat genetik bawaan orang tua, kemudian diajari mana yang benar dan mana yang salah           

– oleh orang tua           

– pendidikan           

– lingkungan           

– pengalaman

Sehingga kebenaran menurut kita, sebetulnya adalah produk luar yang sudah menjadi kerangka kita. Kita menjadi paham bahwa orang lain, kerangkanya akan lain. Kalau orang tua kita berbeda, kalau tempat lahir kita di negara yang berbeda, kalau lingkungan dan pendidikan dan pengalaman berbeda, maka kerangka kebenaran kita juga akan beda. Sudah sewajarnya kita menghargai kebenaran menurut kerangka orang lain. Bukan hanya toleransi tetapi apresiasi terhadap keyakinan orang lain.

           

Pentingnya Guru

            Sewaktu Jepang kalah perang dalam Perang Dunia ke II dan banyak pejabat yang melakukan hara-kiri. Yang terpikir oleh Kaisar Jepang hanya satu: “Berapa Guru yang masih kita miliki?” Dan akhirnya saat ini Jepang tampil sebagai negara terpandang di dunia, karena amat menghargai peran Guru. Seorang Guru membantu pembentukan kepribadian manusia. Tahun-tahun awal kehidupan anak manusia hingga usia 12, merupakan usia amat sangat penting, daya serap tinggi dan watak manusia dibentuk pada waktu itu. Guru-guru pada saat tersebut mempengaruhi pembentukan watak manusia.

            Diperlukan “Manusia Baru” untuk membangkitkan kembali martabat bangsa ini. Dan para Guru, memiliki peranan teramat penting. Tetapi, bila Guru sudah terbebani oleh seribu satu macam masalah, bagaimana bisa memikirkan akhlak dan kesadaran anak didiknya.

            Pembentukan karakter baru dimulai dengan pemahaman baru. Pemahaman yang baru diimplementasikan secara nyata dan kemudian diulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang sudah mendarah daging menjadi karakter. Sebetulnya Pendidikan dan Latihan (Diklat), sejalan dengan pemakaian created mind untuk memperbaiki conditioning mind seperti ajaran Bodhi Chitta oleh Atisha. Pemahaman diri sebagai Kesadaran Murni dinyatakan dalam tindakan sehari-hari. Semua conditioning lama dibuang dan kesadaran baru dimasukkan. Kelahiran Baru, kelahiran Kristus di dalam diri terjadi apabila Kesadaran Murni mengisi diri dan conditioning lama terbuang. Pemberian nama Baptis, pemberian nama Muhammad didepan nama, pemberian gelar raja seperti Hamengkubuwono atau Pakubuwono, mempunyai maksud agar berpikir, berucap dan bertindak selaras dengan nama baru dan membuang conditioning lama.

 Pengaruh napas terhadap ketenangan pikiran           

Otak chimpanse dan otak manusia, sebenarnya hampir sama, yang berbeda adalah cara bernapasnya. Siklus napas chimpanse sekitar 32 siklus per menit, sedangkan manusia dalam keadaan normal sekitar 16 siklus per menit. Semakin kecil siklus, pikiran akan semakin tenang.            

Hampir setiap orang, pernah mengalami keadaan munculnya suatu ide secara tiba-tiba, atau mempengaruhi orang lain secara tidak sengaja. Mind yang tenang, pikiran yang tidak liar, ibarat seperangkat radio yang canggih. Bisa digunakan untuk menerima atau memancarkan siaran.  

 

Pelatihan oleh para fasilitator

            Mas Agung mengawali dengan menjelaskan tentang nafas perut, kejernihan pikiran dan self empowerment. Di telapak tangan terdapat banyak saraf-saraf yang berhubungan dengan otak. Bertepuk tangan sangat penting. Latihan yang dipandu mas Agung dapat mengangkat suasana para peserta untuk merasakan manfaat latihan.

Pak Djoko, menjelaskan tentang situasi dan solusi bagi para guru dan menyampaikan bahwa kegalauan pikiran akhirnya menjadikan tubuh menderita sakit. Obat hanya menyembuhkan penyakit, tetapi terapi MTDS menghilangkan sebab datangnya penyakit. Peserta melakukan latihan humming dengan sepenuh hati.

Pak Tri memandu tentang latihan therfa. Trauma, kekecewaan disimpan di bawah sadar dalam limbik bukan hanya peristiwanya, tetapi juga emosi negatifnya. Apabila tidak dikeluarkan semakin menumpuk dan itulah salah satu sebab makin tua menjadi semakin emosian. Sampah emosi tersebut harus secara periodik dikeluarkan.

Mas Kikiq menjelaskan tentang Self of Relaxation Technique. Karet yang ditarik bisa menjadi putus, bisa pula balik kembali. Ketenangan yang didapatkan setelah latihan sederhana sangat luar biasa. Penjelasan tentang pasien yang berobat kepadanya sangat menarik.

Peran The Torch Bearer sangat berarti, lagu-lagunya membangkitkan suasana dan seluruh peserta menari menyanyi dan tepuk tangan bersama.

Dari permintaan pelatihan yang mencakup murid dengan dana yang terjangkau, sampai gelang kristal yang dipakai pak dokter

            Tanya jawab dilakukan sebagai sesi akhir dari program pelatihan. Hampir semua penanya menyampaikan apresiasi terhadap pelatihan program. Mereka menanyakan sebaiknya mulai kapan seseorang berlatih meditasi, dan sangat antusias ketika suatu saat akan ada program taruna yoga. Beberapa guru mengungkapkan sebaiknya bukan hanya para guru, para muridpun perlu latihan belajar tanpa beban stress. Mas Kikiq menjelaskan tentang manfaat kristal bagi dokter yang setiap saat menghadapi pasien yang menderita penyakit. Memory komputer yang kalau berujud buku perpustakaan akan memerlukan beberapa ruangan, hanya disimpan dalam chip (kristal) yang amat kecil. Jam tangan tidak memakai baterai AA yang besar cukup quartz yang kecil sekali untuk menjalankannya. Tanya jawab yang dijadwalkan satu jam diperpanjang sampai 1 jam untuk memenuhi permintaan para peserta.

 Penghormatan terhadap almarhum H.M. Suharto           

Ketika acara sudah selesai, datang berita bahwa Pak Harto meninggal. Semua yang hadir menyempatkan diri untuk duduk hening dan mendoakan Pak Harto. 

Koperasi 

            Buku-buku, kaos Kau, tas say no to plastic bahkan beras digelar. Yang membeli bukan hanya para peserta, teman-teman dari luar kota pun banyak yang memanfaatkan.

 Evaluasi Pelaksanaan Program           

Tibalah akhirnya evaluasi atas pelaksanaan program. Pak Djoko membacakan satu per satu questioner hasil evaluasi para peserta. Hampir semuanya menyatakan apresiasinya. Ada satu yang menyatakan pelatihan belum menyentuh bagaimana mengajar tanpa stress, tetapi hal tersebut tidak terungkap dalam tanya jawab. Peserta yang menulis tersebut memang tidak  menuliskan data questioner tentang identitas diri, seperti peserta lainnya. Pembahasan mengenai durasi masa pelatihan, disepakati tetap 30 menit per pelatihan. Disepakati juga, ke depan lebih mengedepankan fasilitator muda agar lebih punya pengalaman. Penjelasan awal sendiri perlu dilakukan oleh fasilitator di tempat tersebut, agar peserta dari kota tersebut mengenal fasilitator di kotanya. Apabila terjadi masalah dalam paparan, misalnya komputer mengalami blocking, sebaiknya MC selain menjelaskan tentang Ashram, juga mempersilahkan TB untuk mengisi waktu. Acara evaluasi ditutup dengan duduk hening bersama.

Terima kasih 

Triwidodo

28 Januari 2008

BHAGAVAD GITA Menyelami Misteri Kehidupan

Judul               : BHAGAVAD GITA Menyelami Misteri Kehidupan

Pengarang       : Anand Krishna

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Cetakan Ketiga 2002

Tebal               : 388 halaman 

Mutiara Quotation Buku Bhagavad Gita 

Bagi Anda, para Arjuna modern. Kurukshetra hanyalah analogi bagi arena perjuangan hidup, di mana anda dapat menggapai pencerahan mengenai misteri hidup ini dan meraih kesempurnaan. Di arena macam apa pun anda berada, Kidung Sang Begawan ini akan menerangi anda dengan cara pandang baru menjalani hidup ini tanpa kecemasan, sampai anda dipeluk oleh Misteri Agung, yang merengkuh segala sesuatu.            

Bhagavad Gita mengajak para pemberani untuk menyelami lautan kehidupan ini. Memang ada tuntunan-tuntunan praktis. Namun yang paling penting adalah keberanian Anda untuk mengarungi lautan kehidupan. Bhagavad Gita mengajak Anda untuk menikmati hidup ini. Bhagavad berarti Mulia dan Gita berarti lagu, nyanyian. Nynyian Mulia itulah Bhagavad Gita.           

Membaca cerita Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, namun panggungnya tetap sama. Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari.            

Masyarakat kita sakit. Penyakit utama kita kompleks inferioritas. Selama kita tidak percaya diri, selama itu pula kita akan sibuk mengumpulkan berbagai atribut tambahan untuk meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita lebih unggul dari yang lain.            

Para Kaurawa takut akan popularitas Pandava. Pandava harus diasingkan. Para Kaurava beranggapan bahwa masa pengasingan selama belasan tahun akan membuat para Pandava terlupakan oleh rakyat. Cara-cara klasik ini sampai saat kini pun masih digunakan. Kita selalu takut akan persaingan, karena kita tidak percaya pada diri sendiri. Untuk menghilangkan persaingan, kita akan melakukan apa saja; kita akan menghalalkan apa saja.            

Orang yang gila kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Perlombaan, persaingan itu sifat-sifat hewani. Manusia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik.            

Kekuatan fisik, kekuasaan materi tidak begitu penting. Kemampuan untuk berpikir secara jernih itu lebih penting. Anda boleh mewarisi kekayaan dan ketenaran orang tua, tetapi bila tidak dapat berpikir secara jernih, semuanya akan hilang, lenyap. Krishna ibarat akal-sehat, iberat cara berpikir yang jernih. Di mana ada keberanian, di mana ada akal sehat atau pikiran yang jernih, di situlah adanya keberhasilan atau sukses.            Apabila Anda menjadikan Krishna sais Kereta Kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah mengalami kegagalan. Saat ini, kita menempatkan Nafsu Birahi kita, Keserakahan kita, keangkuhan kita, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan. Apabila anda menempatkan akal sehat dan pikiran jernih pada posisi sais, hidup anda akan berubah menjadi suatu lagu yang indah.            Ada perbedaan yang jelas antara Kasih dan Kasihan. Kasih adalah sesuatu yang timbul tanpa alasan. Dalam rasa Kasihan, ego kita, keangkuhan kita masih tetap ada. Sewaktu memberikan sedekah keangkuhan tetap ada: aku yang memberikan sedekah itu, aku yang membantu pembangunan tempat ibadah, aku melayani mereka yang susah. Kasih adalah pelepasan keangkuhan. 

II. SAMKHYA YOGA           

Samkhya berarti pengetahuan, bukan ilmu pengetahuan yang dapat diperoleh di sekolah, melainkan pengetahuan yang hanya diperoleh dari pengalaman sendiri. Bukan sekadar pengetahuan, melainkan intuisi, suara hati nurani Anda. Pengetahuan yang sejati itulah Samkhya. Yoga berarti penyempurnaan. Penyempurnaan dapat juga diperoleh lewat jalan pengetahuan yang benar atau sejati – right knowledge.           

Bagi seorang prajurit, membunuh di medan perang adalah dharmanya, kewajibannya dan oleh karena itu tindakannya mulia. Bagi seorang awam, pembunuhan tidak akan pernah lepas dari hukuman , apa pun alasannya. Jangan menghakimi orang lain; mungkin apa yang ia lakukan dalam posisinya, merupakan tindakan yang tepat baginya.            

Kasih Anda terhadap istri, terhadap kekasih, terhadap anak-anak Anda belum tentu kasih. Hanya sepanjang mereka patuh terhadap Anda. Ego Anda puas, Anda memiliki mereka. Rasa kepemilikan bukan kasih. Anda tidak memberikan kebebasan kepada mereka.            

Kesadaran dulu, baru moralitas. Seseorang yang sadar dengan sendirinya akan menjadi moralis, tetapi seorang moralis belum tentu sadar. Sadar akan hakikat dirinya, sadar akan kemampuan dan keterbatasan dirinya, sadar akan lingkungan, sadar akan kewajibannya terhadap keluarga, perusahaan di mana ia bekerja – sadar akan segala sesuatu.           

Pertama-tama sadarilah kelemahan anda. Sadarilah kekacauan pikiran anda, sadarilah kekacauan pikiran anda, sadarlah bahwasanya Anda sakit, setelah itu carilah seorang dokter, seorang pembimbing yang kompeten, dan penyembuhan pun akan terjadi.           

Pada dasarnya manusia memiliki dua pandangan tentang kehidupan : yang satu menganggap kehidupan sebagai garis, kadang vertikal, kadang horisontal, namun sebagai garis – sesuatu yang datar. Yang lain menganggap kehidupan sebagai lingkaran: kita harus berakhir pada titik permulaan, untuk membuat lingkaran yang sempurna. Pihak yang pertama ini adalah pihak yang bermasalah, yang merasa harus mengejar waktu, karena ia mulai dari satu titik dan harus berakhir pada titik lain. Selain itu, karena ujung pangkalnya pun tidak terlihat, ia gelisah. Kapan ia mati, ia pun tidak tahu. Karena itu ia berpacu dengan waktu.           

II.14 Apabila indera kita berhubungan dengan obyek-obyek duniawi, kita mengalami rasa suka dan rasa duka, rasa panas dan rasa dingin. Namun ketahuilah Arjuna, bahwa rasa itu sendiri tidak langgeng, tidak permanen, sesaat ada, sesaat kemudian tidak ada. Jangan gelisah, terimalah semuanya dengan penuh kesabaran.              

II.15. Ia yang tetap seimbang  dalam suka dan duka, ia yang menerima kedua-duanya tanpa rasa gelisah, dialah yang manusia yang sejati, dialah yang berhak atas kehidupan abadi.

Yang selalu memburu kemenangan, akan selalu kecewapula, karena tidak ada satu pun orang yang selalu menang. Pasang surut merupakan irama kehidupan. Rasa takut yang paling mengerikan, yang selalu menghantui kita, adalah rasa takut akan kematian. Begitu kita melampaui rasa takut akan mati, kita berada di luar jangkauan maut. Kematian pun akan kita terima dengan tangan terbuka.           

Proses daur ulang berjalan terus. Jangan menangisi kematian bijiyang ditanam. Biji harus mati sebagai biji, untuk melahirkan pohon yang rindang. Namanya berbeda, bentuknya berbeda – tetapi apakah betul-betul berbeda? Bukannnya pohon merupakan pemekaran biji.           

II.19. Ia yang menganggapNya sebagai pembunuh dan ia yang menganggapNya terbunuh – kedua-duanya dungu, karena dia tak pernah membunuh, juga tidak pernah terbunuh.

Yang menghuni badan ini kekal, abadi adaNya. Pada dasarnya, Kau – aku yang menghuni badan ini tak ternodakan. Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Begitu kau sadar, kau dapat mengkoreksi dirimu. Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadarnNya, dalam kesadaran Aku yang sejati, dalam kesadaran Ia. Pada kesadaran Itu, seseorang tidak dapat menjadi khilaf lagi. Ia tak membunuh, juga tak terbunuh.            

II.20. Dia tidak pernah lahir, Dia tidak pernah mati pula. Penciptaan dan pemusnahan tidak terjadi dalam DiriNya. Tak terbataskan oleh kelahiran dan  kematian, Kekal, Abadi, Langgeng dan YangSelalu Ada – Dia tidak ikut musnah dengan raga.

Tuhan adalah Katalisator. Anda yang menciptakan nasib Anda setiap saat. Apa yang Anda tanam, itu juga yang Anda hasilkan. Tuhan tak ternodakan oleh kekacauan yang terjadi di mana-mana. Ia katalisator. Kehadirannya sudah cukup untuk terjadinya penciptaan. Entah penciptaan itu terjadi dalam kandungan ibu, di luarkandungan disebabkan sperma ayah, atau dengan cara kloning. Anda tidka mempersalahkannya lagi. Apapun yang terjadi adalah atas kehendakNya.           

II.21. Ia yang mengenal dia, sebagai Yang Tak Termusnahkan, Abadi, Tak Terlahirkan dan Tak Berubah – bagaimana ia dapat membunuh seseorang dan bagaimana pula dapat menjadi sebab pembunuhan.            

II.22. Ibarat seseorang melepaskan pakaian lama dan memakai pakaian baru, begitu pula Dia meninggalkan badan yang lama dan memasuki badan yang baru.           

II.28. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal-mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahan terasa Nyata, dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas, apa gunanya kau bersedih hati.

Bukan hanya makhluk-makhluk hidup. Tetapi setiap keadaan – segala sesuatu dalam dunia ini, bahkan alam semesta ini – hanya terlihat Nyata untuk sesaat, pada saat pertengahan. Pada saat anda tarik napas, sadrlah bahwa udara yang tak terlihat, tak nyata, memasuki badan menjadi nyata untuk sesaat: perut anda kembung. Dan begitu Anda melepaskan napas, kembali tak nyata lagi.           

Dalam sandiwara kehidupan ini, kadang-kadang sang Sutradara menyiapkan pemeran cadangan. Apabila terjadi sesuatu pada seorang pemain utama, pemeran cadangan yang sudah stand by ini baru diangkat ke atas panggung.           

II.38. Dengan menganggap sama suka dan duka, keberhasilan dan kehilangan, kemenangan dan kekalahan, bertempurlah! Demikian kau akan bebas akan bebas dari dosa.

Krishna menganjurkan: Lupakan tujuan, selama kita masih memikirkan tujuan, kita tidak dapat melibatkan diri kita sepenuhnya dalam usaha kita.            

II.47. Berkaryalah sebatas kemampuanmu, namun jangan selalu memikirkan hasil akhirnya. Jangan pula bermalas-malasan dan duduk diam.           

II.48. Berkaryalah tanpa keterikatan, wahai Arjuna. Jangan terpengaruh oleh kegagalan maupun keberhasilan. Itulah pencerahan.           

II.52 Apabila langit pemahamanmu terbebskan dari awan delusi, kau tak akan terpengaruh oleh apa yang kau dengar dan apa yang akan kau dengar.

Pada dasarnya kita tidak percaya pada diri. Kita selalu mengejar konfirmasi dari orng lain tentang diri kita.apabila kita dapat penghargaan, kita menjadi bahagia. Lalu penghargaan itu yang menjadi penentu identitas kita. Awan delusi berarti awan yang menyebabkan penglihatan kita tidak jelas. Awan jabatan, awan kekuasaan, awan kekayaan – sesaat ada, sesaat lagi tidak ada.           

II.53 Apabila pikiranmu sudah bebas dari konflik-konflik pendapat, dan telah menjadi tenang serta tenteram, ketahuilah bahwa kau telah mencapai Pencerahan.

Bebaskan diri Anda dari segala macam pendapat. Jangan mengasosiasikan diri Anda dengan pendapat-pendapat orang lain. Anda sudah cukup menjadi diri Anda sendiri.           

II.55 Krishna menjawab: Apabila seseorang telah melepaskan segala macam keinginan dan puas dengan dirinya sendiri, dialah yang dapat disebut bijak.           

II.56 Ia yang pikirannya tak tergoyahkan dalam keadaan duka, ia yang tidak mengejar suka, ia yang bebas dari rasa takut dan amarah ialah manusia yang cerah.

Ia yang cerah sudah bebas dari rasa takut dan lain sebagainya, karena ia sibuk bekerja. Ia telah sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan hari ini. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bernostalgia tentang masa lalu atau memikirkan masa mendatang.           

II.57 Orang yang tercerahkan tidak terikat pada apa pun, dimana pun; ia tidak kegirangan apabila memperoleh kebahagiaan, dan tidak pula kecewa apabila menghadapi yang tidak baik, yang jahat.           

II.58 Bagaikan seekor penyu yang dapat menyembunyikan badannya, seorang bijak dapat menyembunyikan panca inderanya dari obyek-obyek duniawi.           

II.59 Seseorang yang tengah mengupayakan pengendalian diri, akan berhasil menjauhkan diri dari obyek-obyek duniawi; namun keinginan-keinginannya tetap ada. Akhirnya, ia pun akan musnah apabila memperoleh pencerahan.           

II.60 Panca indera yang terangsang dapat pula menjatuhkan mereka yang tengah berupaya untuk memperoleh kesadaran.           

II.61 Ia yang telah mengendalikan dirinya, ia memfokuskan kesadarannya pada Aku dan menganggap Aku sebagai tujuan utama. Demikian ia tak akan pernah kehilangan kesadarannya.

Apabila kita mulai melihat Aku ini dibalik segala sesuatu, dibalik setiap nama dan rupa dan apabila kesadran semacam itu dapat dipertahankan setiap saat, maka itulah pencerahan.           

II.62 Keterlibatan diri dengan obyek-obyek duniawi menyebabkan keterikatan. Keterikatan membuahkan keinginan dan dari keinginan timbul amarah.           

II.63 Amarah membuat penglihatan manusia menjadi kabur. Demikian daya ingatnya hilang, akal sehatnya hilang dan pada akhirnya ia musnah.

Anda boleh menikmati dunia ini, tetapi jangan terlibat. Hiduplah seperti bunga teratai, yang lahir dari lumpur, hidup dalam kolam yang kotor, tetapi dapat mempertahankan keindahannya. Ia tidak ikut jadi kotor. Kita hampir setiap saat ikut jadi gila, dengan dunia yang gila ini. Kita ikut jadi edan, dalam zaman edan ini.             

II.64 Ia yang bijak, hidup di tengah-tengah obyek-obyek duniawi, namun panca inderanya terkendali. Ia bebas dari rasa suka dan rasa benci. Oleh karenannya, ia memperoleh ketenangan jiwa.            

II.65 Jiwa yang tenang tidak lagi mengenal duka. Ia yang tenang selalu berada dalam keadaan seimbang.

Krishna sedang memberikan pelajaran meditasi kepada Arjuna. Ia sedang mengingatkan kembali prinsip dasar meditasi. Pertama-tama rileks – tenangkan pikiran.           

II.66 Ia yang tidak tenang pikirannya, mustahil memasuki alam meditasi, dan ketahuilah bahwa tanpa meditasi, kedamaian tidak dapat diperoleh. Tanpa kedamaian atau ketenteraman jiwa, tidak ada kebahagiaan.

Kita mengharapkan kebahagiaan yang langgeng dari obyek-obyek duniawi yang tidak langgeng. Itu mustahil.            

II.67 Seperti perahu tanpa kendali, yang dihanyutkan oleh badai, begitu pula ia yang panca inderanya tak terkendalikan, akan kehilangan kemapuannya untuk memilah mana yang baik, mana yang tidak baik bagi dirinya.           

II.68 Pemahaman, pengertian serta penglihatan dia selalu jernih, yang sudah dapat mengendalikan panca inderanya.           

II.69 Malam bagi mereka yang tidak sadar, merupakan siang bagi mereka yang sadar. Saat itu mereka dalam keadaan jaga. Dan pada saat mereka yang belum sadar dalam keadaan jaga, seorang yang bijak berada dalam keadaan tidur.

Ada yanga tersurat, ada yang tersirat. Yang tersirat, hal-hal yang bersifatkan duniawi dan sementara, yang membuat mata mereka yang belum sadar menjadi silau, tidak akan dapat mengganggu seseorang yang telah mencapai kesadaran.           

II.70 Ia yang penuh dengan keinginan tidak akan pernah mendapatkan kedamaian. Namun ia yang bagaikan lautan luas tidak terpengaruh oleh begitu banyak sungai-sungai yang memasuki dan bersatu dengannya. Ia akan memperoleh rasa damaiyang sejati.           

II.71 Ia yang tidak lagi mengharap-harapkan sesuatu, ia bebas dari segala macam keinginan dan tanpa rasa angkuh serta kepemilikan, ialah yang bisa memperoleh kedamaian sejati.           

II.72 Inilah Kesadaran yang Tertinggi, wahai arjuna. Setelah mencapai kesadaran ini, seseorang tidak akan bingung lagi. Apabila saat kematian pun tiba, seseorang yang berada dalam kesadaran semacam ini akan menyatu dengan sumbernya. 

III. KARMA YOGA           

Karma berarti tindakan, perbuatan. Dan setiap tindakan merupakan aksi, merupakan sebab yang akan membawakan akibat. Kita harus bertindak dengan sangat bijaksana, dan setrusnya kita tidak perlu mengkawatirkan akibatnya.

III.1 Arjuna menayakan: Krishna, di satu pihak kau simpulkan bahwa mencapai kesadaran tinggi, memperoleh pencerahan adalah tujuan utama kita. Namun di pihak lain kau ingin melibatkan aku dalam perbuatan yang keji ini. Mengapa demikian.

III.2 Sesungguhnya, aku justru lebih bingung. Jelaskan padaku, Krishna, cara mana yang lebih baik bagiku? Dengan cara mana aku dapat mencapai Kesadaran yang Tertinggi itu?

III.3 Krishna menjawab: Ketahuilah Arjuna, memang ada dua cara untuk mencapai Kesadaran yang Tertinggi itu. Bagi para pemikir, kuanjurkan melewati Jalan Pengetahuan yang akan menghasilkan pencerahan dan bagi mereka yang aktif, kuanjurkan melewati Jalan Karma, berkarya.

III.4 Sesungguhnya, seseorang tidak dapat berhenti berkarya, walaupun ia menghindari segala macam aktivitas, Ia juga tidak dapat mencapai Kesadaran Tetrtinggi dengan melepaskan segala aktifitas.

III.5 Tidak ada seorangpun yang dapat berhenti bekerja, karena alam dan sifat dasarnya akan selalu mendorong dia untuk bekerja.

III.6 Mereka yang munafik memang tampaknya duduk diam, tidak bekerja, tetapi pikiran mereka masih melayang-layang ke setiap penjuru, membayangkan kenikmatan-kenikmatan duniawi.

III.7 Ketahuilah, arjuna, bahwa ia yang telah berhasil mengendalikan panca inderanya dan berkarya tanpa keterikatan – ia yang unggul.

III.8 Lakukan apa yang telah menjadi kewajibannya, karena berkarya lebih baik daripada duduk diam malas-malasan, apabila kau berhenti berkarya, kau tidak akan dapat memelihara, merawat tubuhmu sendiri.

III.9 Seluruh dunia ini terikat dengan Hukum sebab dan Akibat. Tidak ada yang luput dari tindakan, kecuali mereka yang melakukan segala sesuatu mereka yang bertindak dengan menganggap pekerjaannya sebagai persembahan. Oleh karena itu, berkaryalah Arjuna dengan menganggapnya sebagai persembahan.

III.10 Ketahuilah, Arjuna, bahwa umat manusia ini diciptakan sebagai persembahan. Dan pada saat itu Sang Pencipta mengatakan bahwa dengan Persembahan segala kebutuhan manusia akan terpenuhi.

III.11 Jagalah kelestarian alam sekitarmu dan alam akan menjaga kelestarianmu. Demikianlah, dengan saling membantu, kau akan memperoleh kebahagiaan yang tak terhingga.

Tidak cukup melayani Tuhan yang abstrak di tempat-tempat ibadah kita. Lihatlah Tuhan di sekitar Anda. Layanilah Dia, di mana pun Anda menyadari kehadiranNya.

III.12 Apabila kau menjaga kelestarian alam sebagai persembahan, kekuatan-kekuatan alam ini pun akan memberimu, apa yang kau inginkan. Sebenarnya, ia yang menikmati pemberian alam, tanpa mengembalikan sesutu, ibarat seorang maling.

III.13 Ia yang berkarya dengan semangat persembanhan dan menikmati hasilnya, ia yang memperoleh rejeki dengan cara demikian, terbebaskan dari segala macam dosa. Tapi mereka yang memperoleh rejeki dengan cara hanya mementingkan diri sendiri, sebenarnya menikmati dosa-dosa mereka sendiri.

III.14 Ketahuilah bahwa badan manusia ini terbuat dari apa yang ia makan, dan makanan disebabkan oleh hujan. Hujan ditentukan oleh kepedulian manusia terhadap lingkungan serta perbuatan manusia sendiri.

III.15 Tindakan manusia ditentukan oleh pengetahuan yang sejati, oleh kesadaran, dan kesadaran ini sendiri bersifat langgeng. Demikian sesungguhnya tindakan dengan penuh kesadaran semacam itulah yang disebut Persembahan.

III.16 Apabila seseorang tidak mengikuti prinsip hidup semacam ini, dan hanya mementingkan materi, sebenarnya hidup dia tidak berarti sama sekali.

III.17 Tetapi Ia yang selalu puas dengan apa adanya, puas dengan dirinya sendiri dan kesadarannya terpusatkan pada dirinya sendiri pula, sebenarnya baginya sudah tidak ada kewajiban lagi.

III.18 Manusia seperti itu bertindak tanpa keinginan untuk memperoleh sesuatu. Ia juga tidak merasa kehilangansesuatu, apabila ia tidak bertindak. Ia tidak bersandar pada siapa pun untuk sesuatu.

III.19 Bertindaklah sesuai dengan tugasmu, tanpa keterikatan. Demikian kau akan mencapai Kesadaran yang tinggi itu.

III.20 Banyak contoh dari sejarah yang menunjukkan bahwa tindakan dengan cara demikian dapat menghasilkan kebahagiaan yang tak terhingga. Dengan bertindak dengan cara demikian, kau juga akan menjadi panutan bagi orang banyak.

III.21 Karena apa pun yang dilakukan oleh para pemimpin, selalu dijadikan panutan, dicontoh oleh mereka yang  berada di bawah.

III.22 Sesungguhnya, Arjuna, tidak ada sesuatu yang tidak pernah kulakukan, tidak ada sesuatu pula yang masih harus kulakukan, namun tetap saja, aku berkarya.

III.23 Apabila aku berhenti berkarya, banyak sekali yang akan mencontoh aku.

III.24 Aku akan mengacaukan tatanan masyarakat. Aku akan membingungkan mereka dan menjadi sebab bagi kemerosotan.

III.25 Mereka yang belum mencapai pencerahan, bekerja karena keterikatan. Sebaliknya, mereka yang telah mencapai pencerahan tetap juga bekerja, namun tanpa keterikatan apa pun. Mereka bekerja supaya dicontoh oleh masyarakat luas.

III.26 Mereka yang bijak hendaknya tidak membingungkan mereka yang bodoh, dengan penggunaan kata-kata yang sulit dipahami. Hendaknya para bijak menjadi teladan dan inspirasi bagi mereka untuk diteladani.

III.27 Terdorong oleh sifat dasar alam ini sendiri, setiap orang terlibat dalam pekerjaan. Namun ia yang penglihatannya kabur karena keangkuhan, merasa bahwa yang bekerja adalah dia.

III.28 Mereka yang jernih penglihatannya memahami bahwa, terdorong oleh sifat dasar mereka masing-masing, panca indera tertarik pada benda-benda duniawi. Dengan pemahaman seperti itu. Ia tidak melibatkan dirinya lagi.

III.29 Mereka yang tertipu oleh sifat dasar alam yang selalu berubah-ubah ini menyebabkan keterikatan pada dirinya sendiri. Hendaknya mereka yang bijak tidak membingungkan mereka yang belum dapat menerima hal ini.

III.30 Berkaryalah demi Aku, pusatkan pikiranmu pada Aku. Bebas dari harapan, ketamakan, dan kegelisahan, libatkan dirimu dalam perang ini.

III.31 Mereka yang menjalani kehidupan demikian, akan terbebaskan dari segala macam keterikatan, betapa pun salahnya jalan hidup mereka sebelumnya.

III.32 Tetapi mereka yang tidak juga menjalani hidup mereka dengan cara demikian, sesungguhnya mereka sangat bodoh, mereka tidak dapat melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, hidup mereka terlewatkan tanpa arti.

III.33 Mereka yang bijak sesungguhnya mengikuti sifat alamiah mereka sendiri. Segala sesuatu dalam hal ini dikendalikan oleh alam sendiri. Sesungguhnya kita tidak dapat memaksakan sesuatu.

III.34 Ketertarikan dan kebencian panca indera terhadap benda-benda duniawi ini sangat alami. Oleh karena itu, jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh panca inderamu.

III.35 Menunaikan kewajibanmu sebatas kemampuanmu lebih baik daripada melaksanakan sesuatu yang bukan menjadi tugasmu. Lebih baik menemukan ajal, sambil melaksanakan tugas sendiri, karena melakukan sesuatu yang tidak menjadi kewajibanmu hanya akan menciptakan rasa takut.

III.36 Arjuna bertanya: Memang benar apa yang kau katakan, Krishna, namun mengapa manusia masih juga tetap tersesat dan berjalan pada jalur yang salah, walaupun ia sadar akan kesalahannya? Seolah-olah mereka diseret untuk melakukan yang tidak benar.

III.37 Krishna menjawab: Karena keinginannya, karena api ketamakan yang disebabkan oleh sifata dasar manusia yang kedua, sifat agresifnya. Ketahuilah bahwa sifat itu yang menjadi musuh manusia.

III.38 Sebagaimana api tak terlihat karena asap dan cermin karena debu, atau bayi karena kandungan – begitu pula kesadaran mereka tertutup karena ketamakan mereka sendiri.                        

III.39 Pengetahuan yang sejati tertutup di balik api nafsu, yang merupakan musuh utama manusia.

III   40 Kesadaran manusia dapat ditutupi oleh tirai-tirai panca indera, pikiran, dan intelek.

III.41 Kenadalikan panca inderamu, demikian kau dapat membuka tirai-tirai yang menutupi penglihatan serta kesadaranmu.

III.42 Panca indera disebut-sebut lebih berkuasa daripada raga ini; Namun pikiran yang menguasai panca indera dan Intelek menguasai pikiran dan yang lebih tinggi dari intelek adalah kesadaranmu sendiri, dirimu sendiri.

III.43 Kenalilah sang Aku yang bersemayam dalam dirimu sebagai yang Tertinggi. dengan cara pengendalian diri oleh dirimu sendiri, kau akan melampaui segala macam keinginan yang sangat sulit untuk dilampaui. 

IV. GYAN KARMA SANYAS YOGA 

IV.1-3 Krishna bersabda: ajaran-ajaran ini pernah kuberikan kepada begitu banyak orang, pada masa lampau, dan mereka meneruskannya kepada yang lain. Namun sejak berapa lama, ajaran ini sempat terlupakan. karena itu sekarang kujelaskan kepadamu, Arjuna, karena kau sahabatku, siswaku.

IV.4. Arjuna menanyakan: Krishna, kelahiranmu jauh setelah nama-nama yang kau sebutkan tadi, bagaimana dapat kau berikan ajaran itu kapada mereka?

IV.5 Krishna menjawab: Sesungguhnya, Arjuna, aku dan kamu telah lahir beberapa kali. aku ingat semuanya, kau tidak mengingatnya.

IV.6 Walaupun Aku tak pernah lahir, tak pernah musnah, menguasai segalanya, namun tetap juga – mengikuti hukum alam – aku tetap menjilma.

IV.7 Setiap kali, apabila terjadi kekacauan dalam keseimbangan dan ketidakseimbangan merajalela, Aku akan muncul.

IV.8 Untuk melindungi yang berguna dan untuk memusnahkan yang tidak berguna, serta untuk mengembalikan keseimbangan, Aku muncul dari masa ke masa.

Begitu Anda bimbang, Anda kehilangan keseimbangan, pejamkan mata Anda, alihkan kesadaran Anda pada diri Anda, dan Anda akan terkejut, Aku yang dimaksudkan Krishna akan muncul dan membimbing Anda. dalam Aku itu Anda bersatu, menyatu dengan alam semesta.   Anda bersatu, menyatu dengan yang Anda sebut Tuhan – dan Anda akan mulai mendengar suara gaib-Nya. Suara gaib itu, bukan gaib sesungguhnya. suara itu berasal dari nurani Anda sendiri. di situlah Tuhan bersemayam. ia setiap saat bersedia membimbing Anda. Anda hanya harus melakukan satu hal. Duduk diam sejenak, biarkan suara halus hati nurani itu terdengar.  

IV.9-10 Bebas dari nafsu, rasa takut dan amarah, hidup dalam Aku dan berlindung pada Aku, mereka yang telah memperoleh pencerahan, pada akhirnya mencapai Kesadaran Tertinggi – Kesadaran Sang Aku sejati.

IV.11 Apa yang kau kehendaki dari Sang Aku yang sejati ini, akan kau peroleh.

IV.12 Apabila kau menginginkan keberhasilan dalam dunia ini, kau akan memperolehnya dengan sangat gampang lewat kerja keras. Kekuatan-kekuatan alam akan membantumu.

IV.13 Berdasarkan pekerjaan serta sifat masing-masing, manusia dibagi dalam empat golongan utama, namun pembagian seperti itu pula sebenarnya tidak mempengaruhi Aku.

IV.14 Pekerjaan, ataupun hasil dari pekerjaan itu sendiri, sebenarnya tidak bisa mempengaruhi sang Aku yang sejati ini. Ia yang telah mencapai Kesadaran Tertinggi akan Sang Aku ini tidak akan terikat pada pekerjaannya.

IV.15 Walaupun tidak terikat pada pekerjaan, mereka yang bijak tetap juga berkarya. Teladanilah mereka dan berkaryalah sebagaimana mereka berkarya.

IV.16 Mereka yang bijak pun sering sekali bingung, berkarya itu sebenarnya apa dan tidak berkarya itu bagaimana. Hal ini akan kujelaskan padamu sekarang, sehingga kau terbebaskan dari kebimbanganmu.

IV.17 Kita harus dapat memilah, apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita hindari. Kita juga harus tahu apa yang disebut tidak bekerja itu Sesungguhnya, hal ini sangat dalam artinya.   

IV.18 Ia yang melihat pekerjaan dalam tak bekerja dan melihat tak bekerja dalam pekerjaan, adalah seorang yang bijak.

IV.19 Mereka yang bekerja tanpa rencana, tanpa mengharapkan hasil akhir, mereka yang bekerja dengan penuh kesadaran, adalah orang-orang yang bijak.

IV.20 Demikian, walaupun terlubat dalam pekerjaan, sesungguhnya mereka tidak bekerja, karena mereka tidak terikat pada hasil pekerjaan mereka. Mereka selalu puas dengan apa pun yang mereka miliki, apa pun yang mereka dapatkan.

IV.21 Memang raga mereka bekerja, namun karena pikiran mereka terkendalikan dan rasa kepemilikan telah ditinggalkan, mereka bebas dari segala sesuatu yang menggelisahkan.

IV.22 Mereka bebas dari segala macam dualitas(tidak lagi memikirkan keberhasilan dan kegagalan, namun tetap bekerja dan menerima apa pun yang ia peroleh dengan senyuman pada bibirnya), tanpa rasa iri, selalu berada dalam keseimbangan. Mereka tidak lagi terikat pada pekerjaan mereka.

IV.23 Ia yang tidak terikat dan bebas (dari segala macam keinginan dan harapan) dan yang bekerja dengan menganggap pekerjaannya sebagai persembahan, tidak ada lagi hukum karma yang dapat membelenggunya.

IV.24  Persembahan itu adalah Tuhan; apa yang dipersembahkan itu Tuhan pula, yang mempersembahkannya juga Tuhan dan dipersembahkan kepada Tuhan. Ia yang merasakan Kehadiran Tuhan di balik apa saja yang ia kerjakan, pada akhirnya mencapai Kesadaran tertinggi – Kesadaran Tuhan itu sendiri.

IV.25 Ada yang mempersembahkan benda-benda alam kepada kekuatan-kekuatan alam, namun ada pula yang mempersembahkan kesadaran rendah akan dirinya kepada sang Aku dalam Kesadaran Sejati.

IV.26 Ada yang mengendalikan panca inderanya, ada juga yang mempersembahkan benda-benda duniawi kepada panca inderanya.

IV.27 Ada yang mempersembahkan kegiatan-kegiatan serta kehidupan mereka kepada api pengendalian diri, yang terciptakan oleh Pengetahuan yang sejati.

IV.28 Ada yang bersembah lewat harta, lewat tapa brata, lewat pengorbanan, lewat penolakan akan benda-benda duniawi, lewat mempelajari kitab-kitab suci dan lain sebagainya.

IV.29 Ada juga yang bersembah dengan cara mengendalikan napas mereka (konsentrasi).

IV.30 Ada yang berpuasa atau mengendalikan makanan mereka. Mereka semua sesungguhnya sedang melakukan persembahan.

IV.31 Mereka yang menjalani kehidupannya sebagai persembahan adalah orang-orang yang mencapai Kesadaran Tertinggi.

IV.32 Ada begitu banyak cara persembahan. sadarlah akan hal ini dan kau akan terbebaskan dari segala macam keterikatan.

IV.33 Per5sembahan pengetahuan lebih tinggi nilainya daripada persembahan materi, karena segala tindakan kita berpusatkan pada pengetahuan.

IV.34 Berupayalah untuk memperoleh Pengetahuan yang sejati. Untuk itu, rendahkan dirimu dan belajarlah dari mereka yang telah memperolehnya.   

Dan seterusnya …………. 

Triwidodo

Januari 2008

ATISHA Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif

Judul                : ATISHA Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif “draft”

Pengarang       : Anand Krishna

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Cetakan Ketiga 2003

Tebal               : 269 halaman 

Mutiara Quotation Buku ATISHA (Seni Memberdaya Diri 3)            

Mereka yang mau membuka mata dan mau sedikit saja merenungkan hidup mereka, akan melihat berbagai kebetulan yang sebenarnya merupakan desain Sang Keberadaan, untuk membawa mereka sampai pada saat ini. Bagi yang reseptif, Sang Keberadaan akan terus menghamparkan berbagai kesempatan untuk membawa mereka naik dalam evolusi diri mereka.           

Dengan meditasi, kita dapat melampaui mind. Justru melampaui mind – transcending the mind – itulah meditasi. Terlampauinya mind pun bukan tujuan terakhir. Dalam keadaan itu pun, sesungguhnya kita masih hidup dalam dualitas. Kita hidup dalam salah satu keadaan, yaitu dengan mind dan tanpa mind. Atisha mengajak kita untuk melampaui dualitas ini. Bahkan mengajak kita melampaui meditasi itu sendiri. Meditasi bagaikan obat. Apabila sudah sehat, obatpun akan terlepaskan – demikian kata Atisha.           

Lewat buku ini, sekali lagi saya mengetuk pintu hati anda. Saya ingin mengajak atisha memasuki diri anda, jiwa anda. Hanya membuka jendela pikiran tidak berguna sama sekali. Lewat buku ini, saya ingin mengantar pulang Dharmakirti Svarnadvipi, sang Maestro yang selama berabad-abad hidup dalam pengasingan di negeri orang. Ia tidak pernah mengeluh, di sana pun ia bahagia. Tetapi, tegakah kita membiarkan orang tua kita di negeri orang, sementara negeri kita sendiri dipenuhi oleh orang-orang asing.  

Tujuh Butir Pedoman untuk Mengolah Pikiran (Mind). 

BUTIR PERTAMA.

1         First of all, learn the preliminaries! Atisha mulai dengan tiga asumsi awal, yaitu: Pertama – Adanya Kebenaran.Kedua – Mind menghalangi penglihatan kita. Ketiga – Mind bisa dilampaui.inilah hal-hal mendasar – preliminaries –  yang harus kita pelajari terlebih dahulu.

BUTIR KEDUA.

2         Regard all phenomena as dreams! Jangan mengambil sikap, mana yang benar dan mana yang btidak. Apapun yang anda lihat, yang bisa dilihat, apa pun yang anda pikirkan, yang bisa dipikirkan, apa pun yang anda rasakan, yang bisa dirasakan – semua itu hanya mimpi. Jangan berupaya untuk memahami, Atisha tidak bisa dipahami. Atisha harus dilakoni.lakukan 7 hari berturut-turut. Lihat Buku Latihan pertama.

3         Examine the nature of unborn awareness! Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa kesadaran belum tumbuh dalam diri kita. Kesadaran masih merupakan potensi yang terkembang. Kita berpotensi jadi Buddha, mencapai kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu.

4         Let the remedy drop by itself! Biarkan obat itu terlepaskan dengan sendirinya. Jangan melepaskan obat. Tetapi biarkan obat itu terlepas dengan sendirinya. Selama anda berobat, ketahuilah bahwa anda belum sadar. Jangan mencari pembenaran untuk melepaskan latihan (meditasi).

5         Settle in the nature of alaya, the essence! Intisari yang dimaksudkan Atisha, kesehatan diri tidak berasal dari luar. Kesehatan berasal dari dalam diri kita sendiri. Obat dibutuhkan apabila daya tahan tubuh kita melemah. Obat seharusnya membantu terciptanya kembalianti-body yang dapat melawan penyakit. Kendati demikian jangan cepat-cepat melepaskan obat.

6         Between meditation sessions, consider phenomena as phantoms! Yang membuat anda melekat dengan badan kasar, yang membuat anda masih hidup adalah mind. Yang membuat anda gelisah pun juga mind. Tidak bisa mempertahankan keadaan no-mind selama 24 jam sehari. Pada saat anda dalam perangkap mind, anggaplah segala sesuatu sebagai bayang-bayang.Latihlah dirimu untuk mengirim dan menerima, pada saat yang sama. Untuk itu gunakan pernapasan. Berikan yang terbaik dan terimalah yang terjelek. Yang terjeluk harus didaur ulang dan dijadikan baik kembali.

7         Practice sending and taking together. Do this by regulating the breath! Atisha sedang membicarakan prinsip give and take. Hanya saja give and take Atisha berbeda dengan kita. Kita selalu ingin menerima yang terbaik, dan memberi yang kurang baik. Atisha kebalikannya, berikan yang terbaik, terima yang terjelek. Yang terjelek pun harus di olah, di daur ulang dan dijadikan baik kembali. Lihat Buku Latihan Kedua.

8        Three Objects, three poisons, three seed of virtue. Ibarat mobil, mind hanya punya tiga gigi, suka – tidak suka – dan cuwek. Selama ini yang dikerjakan mind hanya tiga pekerjaan itu. Dikuasai mind kita jadi budaknya. Bebaskan diri anda dari mind dengan membuat ketiga pekerjaannya sebagai tiga landasan kebijakan. Suka – sukailah kesadaran. Tidak suka – tidak sukailah ketidaksadaran. Cuwek – cuweklah terhadap yang menghujat anda.

9         Train with slogans, in every mode of bahavior! Jangan melarikan diri dari penyakit. Berusahalah untuk memahami penyakit itu dan menghadapinya dengan kesadaran. Jangan melarikan diri dari suatu keadan. Hadapilah setiap keadaan dengan penuh kesadaran. Lihat Buku Latihan Ketiga.

10         Begin this (Tong-Len/sending and taking) with yourself!  Jangan mulai dari orang lain. Mulailah dari diri sendiri dulu. Sadarilah akan kekotoran diri anda. Terlebih dahulu, urusi diri anda dahulu. Tong berarti memberi. Berikan kasih, sebarkan kasih. Len berarti menerima. Terimalah kebencian, ambillah kebencian. Lihat Buku Latihan Keempat.

BUTIR KETIGA

11         When evil fills the world, transform all bad conditions into the path of bodhi! Atisha tidak menyangkal adanya kejahatan. Atisha juga tidak mengatakan bahwa kejahatan dapat dihindari. Atisha seorang ahli kimia rohani. Berikan kebencian, dan akan diolahnya menjadi kasih. Berikan kemunafikan dan ia akan mengolahnya menjadi kejujuran, ketulusan. Apabila kejahatan menimpa dunia ini, ubahlah keadaan yang tidak menguntungkan menjadi sarana demi terjadinya peningkatan kesadaran.

12        Drive all blames into one! Jangan menyalahkan orang lain. Yang salah hanyalah satu, dan itu diri anda. Lebih jauh lagi, anda harus bisa menemukan sumber masalah. Yang menyebabkan kita mencari pembenaran,ada apa sih sebenarnya? Dan anda akan menemukan bahwa sumbernya adalah ego. Setiap kali ego terusik kita gelisah dan gusar.

13        Be grateful to everyone! Semboyan yang indah sekali – kembangkan rasa syukur. Ada yang menghujat anda, yang mencaci maki anda – balas dia dengan ucapan Terima Kasih. Selesai sudah masalahnya. Lagi pula, setiap kali anda mengucapkan terima kasih, sesungguhnya anda melepaskan mind anda. Mind tidak pernah berterima kasih. Mind selalu  melkukan perhitungan.mind selalu menghitung laba rugi. Bersyukur adalah rasa.

14         To protect shunyata or the state of no-mind, probe through the confusion creataed by the four kayas!  Apabila anda masih menghitung laba-rugi, apabila anda masih mempertanyakan tujuan meditasi, sesungguhnya anda belum ingin mempertahankan Kasunyatan. Burung-burung berkicau tanpa tujuan. Kembang-kembang mekar tanpa tujuan. Sungai-sungai yang mengalirpun tidak bertujuan. Mind selalu mengejar tujuan.

         1. Dharma-kaya. Mind selalu menginginkan status quo.

         2. Nirmana-kaya. Setelah mencapai keadaan no-mind, anda harus bekerja keras untuk menciptakan , nirmana

        sesuatu yang baru. Mind yang kita punyai ini bukanlah ciptaan kita ciptaan masyarakat. Ciptaan orang tua, pengajar

        di  sekolah, lembaga agama, peraturan pemerintah, kondisi sosial ekonomi politik serta budaya setempat. Itulah    

        sebab terjadinya konflik antara rasa dan pikiran. Antara suara nurani dan mind.

    3. Sambhoga-kaya. Kenikmatan Sejati yang dapat diperoleh dari created mind.  

     4. Svabhavika-kaya. Natural, alami.

15    Four practices are the best of methods. Atisha bicara tentang empat kebiasaan yang dianggap sebagai cara terbaik untuk melampaui kebingunan sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

    1. Jadilah pengamat yang baik. Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan.

     2. Menganalisis, mana yang tepat dan mana yang kurang tepat.

     3. Memilih antara yang tepat dan yang kurang tepat.

     4. Melepaskan yang tidak terpilih. Kadang-kadang melepaskan ini sangat sulit. Sudah memiliki baju baru, kita masih

      menjadi kolektor baju bekas. Lihat Buku Latihan Kelima.

16     Whatever situation you are in, join with meditation! Apa pun yang anda lakukan, lakukanlah secara meditative.

BUTIR KEEMPAT

17        Practice the five strengths, the quintessence of heart instructions!

        Lima kekuatan yang berkaitan dengan rasa tersebut adalah:

         1. Kebulatan tekad. Tekad yang kuat tidak berarti anda memikirkan hasil akhir melulu. Tekad yang kuat berarti4             anda melakoni peran anda dengan penuh kesungguhan.

       2. Pengenalan Diri. Yang merasa kuat tidak akan mengejar kekuatan lagi. Yang mengejar adalah mereka yang masih lemah. Padahal menurut Atisha, kelemahan hanyalah buah pikiran.

        3. Benih Kebajikan. Subconscious mind bagaikan rumput liar. Tidak ada jalan lain kecuali membersihkan rumput liar. Anda menyumbang, melakukan bhakti sosial tidak berguna sama sekali, selama subconscious mind memainkan peran utama. Anda malah menjadi arogan.

     4. Mengoreksi Diri.

     5. Dedikasi. Dedikasi menuntut kebesaran jiwa. Berbagi rasa, berbagi pengetahuan, barbagi kesejahteraan dan di atas segalanya berbagi kesadaran. Lihat Buku Latihan Keenam.

18     The instructions for ejection of consciousness at death in the Mahayana are these very five forces. How you practice them is important. Mahayana berarti kehidupan yang tidak mengenal titik akhir. Kereta yang berjalan terus. Pertama, camkan kematian ntidak bisa dihindari. Kedua, kenalilah sifat kematian itu sendiri. Ketiga, hadapilah kematian dengan senyuman. Keempat, jangan takut. Kelima, hadapilah kematian dengan penuh semangat.

BUTIR KELIMA

19         All dharmas lead to one point. Setiap ajaran mengacu pada satu hal, penghapusan ego, rasa angkuh. Itulah intisari ajaran para nabi, mesias, avatar dan Buddha.

20         Understand the principle of two witnesses! Pahamilah prinsip dua saksi. Pada dasarnya manusia hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia mereka yang sedang menyaksikan anda. Lebih dari 16 jam setiap hari, anda hidup dalam dunia mereka. Anda sadar betul gerak-gerik anda sedang diperhatikan. Hampir tidak pernah bisa melakukan apa saja yang anda inginkan. Setiap tindakan disesuikan dengan norma-norma yang ditetapkan masyarakat.apabila anda tidak membebaskan diri dari dunia orang dan tidur selama 7-8 jam setiap hari, anda bisa gila! Dunia kedua adalah dunia kita sendiri. Dunia yang bebas dari intervensi masyarakat.dan satu-satunya wahana yang dapat anda gunakan adalah meditasi. Osho menjelaskan prinsip dua saksi dengan cara yang  berbeda. Menyaksikan pikiran dan melampauinya itulah prinsip saksi pertama. Meditasi pun harus dilampaui. Menyadari Kesadaran Murni inilah saksi kedua.

21        Always maintain a happy frame of mind! Pertahankan pikiran yang ceria. Mind kita saat ini sudah terpola. Kelahiran membahagiakan, kematian membuat sedih, kenaikan pangkat membuat bahagia, kehilangan pangkat menggelisahkan. Perilaku kita sudah terprogram. Membuat kita gampang diperbudak. Manusia harus menjalani proses deconditioning.kebebasan penuh. Sedikitpun conditioning yang tersisa, bisa menjadi virus, menyebar dan mengkondisikan kembali mind anda. Kita harus merubah perilaku. Menciptakan mind yang baru, created mind.

22         Even though distracted, if tou can still practice it, then you are well trained. Keceriaan yang baru harus tahan banting. Jika keceriaannya mengalami pasang surut, apa bedanya dengan mind yang lama. Ucapkan terima kasih kepada setiap orangyang mencaci-maki anda, menghujat anda, menyebarkan cerita-cerita sumbang tentang diri anda, karena sesungguhnya mereka sedang membantu anda. Hanya dengan bantuan merekalah anda bisa melakukan evaluasi diri. Anda bisa menguji ketenangan dan keceriaan diri anda.

Lihat Buku Latihan Ketujuh.

BUTIR KEENAM

23         Always observe the three basic principles! Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan:

         1. Pertama: Kesadaran. Yang bisa menghasilkan kesadaran hanyalah meditasi. Meditasi berarti mengurus diri. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Ini yang disebut Hinayana – sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, hinayana berarti wahana kecil. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai langkah awal, yang paling utama.

        2. Kedua: Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagi rasa. Kasih sayang merupakan buah6             meditasi. Tanpa meditasi yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Ini yang disebut Mahayana

         3. Ketiga: Kebijakan. Dengan hati yang mengasihi, kita menjadi bijak dengan sendirinya. Sentuhan kasih membebaskan anda dari rasa benci, dengki dan iri. Ini yang disebut Vajrayana berarti wahana yang kukuh, kukuh bagaikan senjata vajra, dahsyat bagaikan petir.

24     Change your attitude and maintain it!  Atisha menganjurkan perubahan orientasi – dari pikiran ke rasa. Pengalihan orientasi dari pikiran ke rasa membuat anda lebih lembut, lebih peka. Anda menjadi lebih feminin,lebih reseptif. Anda menjadi lebih halus, lebih cair. Anda menjadi Buddha…. Kendati demikian, perubahan saja tidak cukup. Anda harus bisa mempertahankan perubahan itu. Apa gunanya perubahan yang bersifat sesaat, sementara.

25     Don’t talk about defects! Jangan membicarakan kelemahan diri. Sadarilah kelemahan dir. Atasi kelemahan diri.tidak perlu menangisi nasib atau menyalahkan takdir.

26     Don’t think about anything that concern others! Jangan mengurusi orang lain – urusilah dirimu sendiri. Begitu banyak energi yang kita sia-siakan. Sayang sekali! Seandainya energi yang sama kita gunakan untuk hala-hal yang lebih konstruktif, lebih kreatif, mungkin kita bisa menjadi berkah bagi masyarakat di sekitar kita.

27     Train with the greatest defilements first!  Dengan mengatasi kelemahan-kelemahan utama, the greatest defilements, sesungguhnya kita mengatasi kelemahan itu sendiri. Apa yang menyebabkan kelemahan pun teratasi dengan sendirinya. Lalu, tidak ada lagi yang tidak dapat kita atasi.

28    Abandon any hope of results! Jangan memikirkan hasil akhir. Lepaskan harapan akan hasil. Demikian kata Atisha. Karena ia tahu bahwa setiap karya akan membawa hasil! Lalu apa gunanya buang waktu memikirkan hasil akhir? Yang penting adalah aksi anda, karya anda. Hasil akan datang sendiri. Tidak perlu dipikirkan.

29     Abandon poisonous food! Jangan makan berlebihan. Jangan pula berpuasa berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan akan meracuni sistem anda. Jangan melihat hal-hal yang beracun. Apa yang anda konsumsi lewat mata, dapat mempengaruhi watak anda. Mind pun membutuhkan makanan. Pengetahuan umum, siaran berita, bacaan, diskusi semuanya adalah makanan mind. Waspadailah apa yang anda konsumsi.

30     Don’t be so consistent!  Atisha berkepentingan dengan manusia, dengan individu, tidak dengan dogma, peraturan atau hukum. Itulah sebabnya, ia berani mengatakan janagn menjadi konsisten. Konsisten akan mematikan jiwa anda. Konsistensi memberhentikan proses pemekaran kepribadian.

31     Don’t make wicked jokes! Jangan membual. Jangan nakal. Jangan suka memfitnah orang.

32     Don’t wait for an opportunity!  Kesempatan harus dijemput, harus dicipatakan. Meditasi tidak dapat ditunda. Pelampauan mind tidak bisa ditunda. Kesempatan merupakan produk waktu. Kesempatan hanya bisa terjadi dalam waktu. Sebaliknya meditasi bukan produk waktu. Meditasi tidak terjadi dalam waktu, meditasi melampaui waktu.

33    Don’t hurt other’s feelings! Larangan Atisha adalah demi kebaikan anda sendiri.serangn terhadap badan dan pikiran juga merupakan aksi. Dan setiap akan menimbulkan reaksi, tetapi serangan terhadap rasa akan membawakan malapetaka. Berhati-hatilah, karena rasa merupakan unsur yang paling dekat dengan Tuhan. Setiap serangan yang anda tujukan kepada rasa langsung kena Tuhan. Yang luka bukan hanya orang yang anda hujat. Yang luka adalah Buddha.

34     Don’t transfer the ox’s load to the cow! Jangan mencari kambing hitam. Jangan mencari pembenaran.

35     Don’t try to be the fastest! Lari ya lari, tetapi jangan mengejar kecepatan. Keinginan menjadi tercepat timbul karena ego. Dan, sebenarnya yang ingin Atisha operasi adalah ego kita. Ia tidak berkepentingan dengan cepat lambannya kita berlari.

36     Don’t act with a twist! Jangan berbelit-belit. Jangan licik.

37     Don’t change goodness into evil! Nasihat Atisha ini ditujukan kepada mereka yang sudah menyelami meditasi. Nasihat dia patut diperhatikan. Setelah melampaui mind mind sekali pun, bisa saja kita menjadi sombamg, arogan. Kita bisa menciptakan mind yang baru, yang membuat angkuh. Apabila itu terjadi, kebajikan akan berubah menjadi kejahatan.

38     Don’t seek pleasure at the cost of others! Demi kenyamanan, kenikmatan dan kebahagiaan diri, jangan menyusahkan orang lain. Sesungguhnya, petuah ini bukan hanya nasihat. Petuah ini bisa dijadikan tolok ukur bagi kesadaran diri. Apabila sudah sadar, sudah meditatif, sudah cerah, anda tidak akan berusaha menjatuhkan orang lain.

BUTIR KETUJUH.

39         All activities should be done with one intention. Yang menjadi masalah selama ini adalah definisi tentang kebahagiaan. Yang menjadi masalah selama ini adalah ketidaksadaran kita bahwa kebahagiaan itu berada dalam diri kita juga.  Yang menjadi masalah selama ini  adalah ketidaktahuan kita, sehingga kita mencarinya dari sumber-sumber di luar diri. Renungkan, yang membahagiakan anda bukan orang yang anda temui. Yang membahagiakan anda adalah perasaan anda sendiri – bahwa anda pernah bertemu dengan orang itu. Yang belum memilikinya berpikir harta dapat mebahagiakan mereka. Yang telah memilikinya tahu persis bahwa harta pun tidak selalu membahagiakan. Kebahagiaan berasal dari dalam diri. Kita harus menemukan dalam diri. Caranya dengan meniti ke dalam diri.

40         Correct all mistakes with one intention!  Tujuan anda memperbaiki diri cukup satu – keselamatan dan kebaikan diri anda sendiri. Apa yang menjadi centerpoint ajaran sang acharya, urusi dirimu sendiri. Dan hendaknya tujuan untuk mengurus diri pun hanya satu – menjadi baik. Bukan untuk membuat orang lain menjadi baik. Bagaikan pelita, kebajikan diri anda akan menerangi dunia itu dengan sendirinya.

41         Two things to do, one at the beginning and one at the end. Atisha sedang memberikan latihan – dua latihan: satu untuk pagi dan satu lagi untuk malam. Begitu bangun tidur, perbaruilah komitmen anda terhadap bodhi chitta, sepanjang hari ini aku akan mempertahankan kesadaranku. Apabila malam tiba, lakukan introspeksi. Kesalahan-kesalahan yang kulakukan sepanjang hari ini tidak akan terulangi lagi.

42        Whichever of the two occurs, be patient! Atisha menyarankan kesabaran bukan hanya pada saat kena musibah, jatuh atau gagal, Ia menyarankankesabaran setiap saat. Berhasil atau gagal bersabarlah. Sedih atau senang – bersabarlah. Ketahuilah bahwa roda kehidupan berputar terus. Yang berada di atas akan turun ke bawah. Yang berada di bawah akan naik ke atas.apa punyang terjadio jangan hilang keseimbangan.

43        Observe these two, even at the risk of life! Kesadaran dan Kasih – dwitunggal inilah yang merupakan intisari kehidupan. Apabila anda belum sadar, belum kenal kasih, sesungguhnya anda belum hidup. Karena itu, apabila demi kesadaran dan kasih, anda harus mengorbankan nyawa anda, korbankanlah tanpa ragu-ragu.

44         Learn the three difficulties! Ada tiga penghalang utama:

        1. Pertama: badan. Betapa pun sadarnya anda, ketidaknyamanan badan bisa menjadi  penghalang utama. Apabila8             posisi dudk anda tidak nyaman, apabila anda memikirkan badan melulu, anda tidak akan pernah bisa melampaui9            kesadaran badaniah, kesadaran jasmani.

     2. Kedua: pikiran, mind. Pikiran liar menjadi penghalang utama. Pikiran harus dijinakkan. Dan, setelah menjinakkan pikiran, jangan lupa melampaui pikiran itu sendiri.

     3. Ketiga: rasa. Betapa pun halus dan indahnya, rasa bisa menjadi penghalang utama.

45    Take on three parts of the principal cause! Apa yang dimaksudkan dengan sebab utama. Tindakan anda, ucapan dan pikiran anda bersebab. Aturan main yang melengket pada sebab utama:

   1. Jangan lupa tujuan anda berada di atas panggung sandiwara kehidupan yaitu untuk menghibur. Inilah kesadaran. Aku berlindung pada Kesadaran Murni.

  2. Jangan lupa peranmu, lakonmu. Bermainlah sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Aku akan selalu mematuhi dharma, peran yang diberikan padaku.

   3. Jangan lupa bahwa kau berada di sini untuk menghibur diri dan menghibur orang lain, bukan untuk menyusahkan orang. Mencelakakan orang. Aku selalu memikirkan komunitas.

Mereka yang hanya mempelajari kulit ajaran Buddha menerjemahkan kalimat-kalimat yang indah ini secara sempait sekali. Buddha di terjemahkan sebagai patung Sidharta Gatama. Dharma diterjemahkan sebagai ajarannya sebagaimana mereka pahami. Lalu sangha adalah sekte Buddha sesuai dengan afiliasi dan asosiasi mereka. Ajaran Buddha tidak pernah sesempit itu. Dalam Jangka Jayabaya jika Sabdapalon pernah meramalkan kebangkitan ajaran budhi di tanah air kita, yang dimaksudkan bukanlah agama Buddha yang majelisnya di bawah naungan Departemen Agama RI itu. Yang dimaksudkan adalah pemahaman tentang Bodhi Chitta – ajaran tentang Kesadaran Murni. Dan ketahuilah bahwa suatu saat yang dibicarakan oleh Sabdapalon bisa didatangkan sekarang, saat ini juga! Dengan Bodhi Chitta, dengan kesadaran, mereka yang beragama Islam akan menjadi muslimin dan muslimat yang lebih saleh. Yang beragama Katholik dan Kristen akan menjadi umat yang lebih mengasihi. Yang beragama Hindu dan Buddha menjadi lebih peduli, lebih bertanggung jawab. Ya, benang merahnya adalah kesadaran.

46    Be careful, allow not the three to wane! Jangan sampai kesadaran anda luntur, jangan sampai pula melupakan peran anda dan jangan menyusahkan orang lain.

47    Don’t separate the three! Buddha, Dharma dan Sangha tidak dapat dipisah-pisahkan. Ia bicara tentang kesadaran, perilaku dan kepedulian terhadap masyarakat. 

48     Train without bias in all areas! It is important always to do this pervasively and wholeheartedly. Selama anda belum terbebaskan dari prasangka, dari pendapat-pendapat yang bias, dari prejudice, selama itu pula anda tidak bisa mempraktekkan lo-jong. Bahkan mungkin lebih tepatnya, jika anda mempraktekkan lo-jong , anda akan terbebaskan dari pendapat-pendapat yang bias, dari prasangka, praduga dan prejudice. Pendapat-pendapat bias muncul dari mind. Prejudice dan prasangka timbul dari rasa. Dan, mind kita, rasa kita merupakan produk masyarakat dan lingkungan di mana kita tinggal.   

49     Always meditate on whatever provokes resentment! Para politisi menganjurkan agar kita berhati-hati dan tidak terpancing oleh ulah para provokator. Atisha menganjurkan kebalikannya. Apapun yang membuatmu marah, kesal, bermeditasilah mengenainya.

50     You shoud have no concern for external factors! Jangan memperhatikan kejadian-kejadian di luar diri – demikian abjuran Atisha. Itu sebabnya mereka yang sibuk memperhatikan kejadian-kejadian di luar diri tidak bisa bertahan lama dengan Atisha.

51     This time, practice the main points! Yang penting adalah Bodhi Chitta – kesadaran murni. Yang penting adalah menerjemahkan Bodhi chitta dalam hidup sehari-hari. Yang penting adalah berbagi Bodhi Chitta dengan setiap orang yang menyalami anda, yang anda jumpai dalam perjalanan hidup ini. Inilah hal-hal yang penting.-hal ini.

52     Don’t misinterpret! Jangan mencari pembenaran. Jangan menyalahkan sesuatu untuk membenarkan tindakan anda.demikian maksud Atisha.

53     Don’t vacillate! Jangan terombang-ambing, jangan bimbang, jangan ragu-ragu. Yang membuat anda terombang-ambing, bimbang dan ragu-ragu adalah mind. Melepaskan kebimbangan juga berarti melepaskan mind itu sendiri. Lepaskan sumber keraguan anda, mind anda – demikian nasihat Atisha.

54     Train wholeheartedly! Lo-jong, pelampauan mind, meditasi, bukanlah pekerjaan sambilan. Anda harus mempraktekkannya dengan sungguh-sungguh. Dan di atas segalanya, it’s a full time job! Anda bisa menentukan waktu khusus untuk berdoa, tetapi untuk meditasi, untuk lo-jong, anda tidak bisa menentukan waktu khusus. Anda tidak bisa melampaui mind pada waktu-waktu tertentu, dan tidak melampauinya pada waktu-waktu lain. Meditasi merupakan pekerjaan 24 jam sehari. Dalam keadaan tidur pulas pun, kesdaran anda tidak boleh memudar. Bermimpi pun harus dalammkeadaan sadar. Apabila anda seorang meditator, anda memahami betul maksud saya. Pernahkah anda bermimpi dan dalam mimpi itu sadar sepenuhnya bahwa anda sedang bermimpi? Jika jawabannya ya, anda benar seorang meditator.

Biasakanlah mengucap terima kasih kepada siapapun saja untuk apa saja. Sesungguhnya ucapan terima kasih itu sendiri tidak penting. Yang penting adalah mempertahankan kesadran pada setiap saat. Anda akan kaget, akan surprise bahwa mengucapkan terima kasih beberapa puluh kali setiap hari bisa menciptakan keadaan lo-jong – no-mind. Kuncinya satu kesungguhan anda, ketulusan anda. Sewaktu mengucapkan terima kasih, anda harus betul-betul merasa berterima kasih.jikaanda hanya memakai topeng, kata-kata Atisha ini tidak berguna sama sekali.

55     Free yourself by examining and analyzing! Bebaskan dirimu dengan cara menguji dan menganalisis, mengkaji. Dan kebebasan yang ia bicarakan adalah kebebasan dari mind – lo-jong. Selama ini mind anda sibuk menguji dan mengkaji. Sekarang sebaliknya, anda yang menguji dan mengkaji mind. Untuk menguji danmengkaji mind yang selama ini berkuasa penuh anda harus mengaktifkan sesuatu yang lebih tinggi kekuasaannya. Dan sesuatu itu ada dalam diri anda – Bodhi Chitta.Kesadaran Murni.

Pertama anda menguji dulu, apakah masih terpengaruh oleh subconscious atau tidak? Apabila anda beragama Islam, cobalah membaca Injil. Apakah anda bisa mengapresiasinya sebagaimana anda mengapresiasiAl-Qur’an? Kenapa saya menggunakan agama sebagai sarana untuk menguji kebebasan diri dari subconscious mind? Karena, agama merupakan lapisan suconscious yang paling awal. Begitu lahir, anda langsung memperoleh cap agama. Tidak ada yang menanyakan kepada anda, kamu milih agama mana sih? Tidak ada yang menganggap perlu tunggu sampai anda bisa mempelajari setiap agama dan memilih sesuai keinginan diri. 

56     Avoid self-pity! Dengan memberi sedekah, mungkin anda pikir sedang menyicil ticket untuk masuk sorga. Bagi diri anda, mungkin demikian. Tetapi bagi diri si penerima, sedekah itu justru menyeret dirinya ke dalam kegelapan neraka. Ia semakin tidak percaya diri, semakin tergantung pada belas kasih orang dan kehilangan martabat dirinya. Jangan mengasihani diri. Dan jangan menjadi sebab, jangan menjadi alasan bagi orang lain untuk mengasihani dirinya.

57     Don’t be jealous! Mereka yang cemburu belum bisa disebut meditator. Kalaupun mereka pernah belajar sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan, itu tidak berguna sama sekali. Jelas mereka tidak pernah sungguh-sungguh. Mereka tidak menyelami meditasi dengan sepenuh hati.

58     Don’t be frivolous! Jangan bertindak semberono. Be considerate. Sering sekali diundang makan, kita tidak memperhatikan bahwa masih banyak orang yang belum kebagian. Kita makan sendiri. Orang lain kebagian atau tidak – masa bodoh.

59     Don’t expect applause! Inilah yang terakhir: jangan mengharapkan tepukan tangan. Jangan mengharapkan pujian. Sesungguhnya maksud Atisha adalah jangan mengharapkan sesuatu apa pun.  

Dharmakirti.

Kembalinya Tuan Rumah di Rumah Sendiri. 

Apabila kelima masa gelap itu tiba, inilah cara mengubahnya menjadi jalan Bodhi.

Inilah intisari amrita ajaran lisan yang disampaikan oleh Sang Pujangga dari Svarnadvipa.

Jika kelima inderamu menyeret kamu ke lorong-lorong yang gelap, maka ……… Chekawa sedang bicara dari pengalaman. Walaupun sudah menyelami meditasi dan melampaui mind, panca indera kita masih bisa menyeret kita ke lorong-lorong gelap dan sempit. Chekawa mengatakan bahwa stimuli-stimuli yang kita terima dari panca indera menyilaukan, sehingga mata kita bisa tertutup. Jika itu yang terjadi, jatuhlah kita ke dalam kegelapan ciptaan kita sendiri.Pada saat yang sama, stimuli-stimuli yang kita terima dari panca indera juga bisa menerangi diri kita, membuat kita lebih sadar, sehingga kegelapan diri justru bisa berubah menjadi Bodhi Chitta – Kesadaran diri. Kesadaran Murni. Godaan apa pun yang anda terima dari luar, situasi apa pun yang anda hadapi, bisa anda jadikan pemicu untuk memasuki jalan Bodhi, untuk meningkatkan kesadaran diri. Demikian intisari amrita ajaran lisan yang disampaikan oleh Sang Pujangga dari Svarnadvipa. Amrita berarti Cairan Kehidupan Abadi. Yang ingin dikatakan oleh Chekawa adalah ajaran-ajaran ini dapat membebaskan kamu dari lingkaran kelahiran dan kematian. Kehidupan Abadi berarti Kesatuan dan Persatuan dengan Keberadaan. Tidak lupa Chekawa menegaskan kembali bahwa ajaran-ajaran ini berasal dari Svarnadvipa, dari Sumatera. Dharmakirti kita, Dharmakirti anda dan Dharmakirti saya, sudah tidak tahan menyaksikan ketidakwarasan kita, ketidakwarasan saya dan anda. Ia sudah kembali. Kalaupun anda menolaknya, kali ini ia tidak akan kemana-mana lagi. He has come to stay. Ajarannya tentang Kesadaran Murni akan melanda Persada Nusantara. Apa pun agama yang anda anut, warnailah keyakinan anda, kepercayaan anda dengan kesadaran. Dharmakirti tidak mewakili salah satu agama. Ia mewakili kemanusiaan. Ia mewakili keberadaan. Ia mewakili keindahan. Jika anda masih tetap alergi terhadap dia, apa boleh buat? Boleh-boleh saja anda menolak dia, sebagaimana seorang buta menolak keberadaan matahari. Penolakan anda sangat tidak berarti. Cahaya matahari Dharmakirti sudah mulai menerangi sebagian bangsa kita. Dan ia akan melanjutkan tugasnya – tugas menerangi bangsa ini secara keseluruhan. 

Didorong oleh karma masa lalu, dan kesungguhan hati, aku menghadapi setiap ujian dan hujatan, dan menerima ajaran untuk menjinakkan keangkuhanku. Sekarang, kalaupun mati, aku tidak akan menyesal.

Pertemuan dengan seorang Atisha, dengan seorang Dharmakirti, bukanlah suatu kebetulan. Anda tidak bisa menemui mereka secara kebetulan. Karma anda mempertemukan anda dengan mereka. Perbuatan dan tindakan anda selama sekian banyak masa kehidupan berbuah dan menghadirkan seorang Atisha, seorang Dharmakirti dalam hidup anda. Lalu apa yang anda lakukan? Anda menyia-nyiakan kesempatan itu. Anda tidak sungguh-sungguh menerimanya, mengundangnya untuk bermukim di dalam jiwa anda. Yang anda buka bukanlah pintu hati, tetapi hanya jendela pikiran. Sebagaimana telah anda sai-siakan sebelum ini, masa kehidupan sebelum ini, masa kehidupan sebelum ini pun akan berlalu begitu saja, tanpa terjadinya peningkatan kesadaran sama sekali. Menerima Dharmakirti, menerima Atisha, berarti menerima kritik dan ujian, hujatan, cacian dan makian. Kalau anda belum menerimanya, tunggu dulu! Seorang Dharmakirti, seorang atisha akan mengeruhkan suasana sedemikian rupa, sehingga anda akan menerima semua itu. Seorang master akan merombak total kehidupan anda. Kendati demikian, ia tidak akan memulai pekerjaannya, jika anda belum siap untuk itu. Ia akan menunggu dan ia bisa menunggu untuk waktu yang lama sekali. Begitu anda siap , ia pun akan memulai pekerjaannya. Seorang Dharmakirti, seorang Atisha, tidak puas melihat anda dalam keadaan lumayan. Ia menawarkan kesempurnaan dalam kasunyatan. Sekarang terserah anda. Jika anda menerimanya sebagaimana Geshe Chekawa menerimanya, anda bisa mengatakan apa yang dikatakan oleh Geshe Chekawa.

MEREKA TIDAK SEDANG MENCARI MURID. MEREKA SEDANG MENCARI CALON BUDDHA CALON KRISTUS, CALON AVATAR, CALON WALI. DENGARKAN SERUAN MEREKA. IKUTI MEREKA. DAN HIDUP ANDA AKAN BERUBAH. SEKALI LAGI SAYA KATAKAN, DHARMAKIRTI SUDAH BERADA DI TENGAH ANDA. ATISHA SUDAH MENGANTARNYA PULANG KE TANAH AIR. SADARKAH ANDA AKAN KEHADIRANNYA? MAMPUKAH ANDA MENDENGAR DAN MENERIMANYA? 

Triwidodo

Januari 2008.

Di Kerajaan Dworowati Krishna Mempersiapkan Kami

Anand Krishna Centre Surakarta Berada dekat Mandala Nusantara.

Guruji telah mengungkapkan rahasia Budaya Dvipantera.

Dimuat di Torchbearers’s Newsletter 5, 2007            

Disambut “Sang Hyang Semar” di luar pagar, dihormati “Sri Kresno” begitu masuk halaman, diberi secercah senyuman “Sang Maitreya” dan akhirnya dinaungi daun “pohon Boddhi” sebelum masuk bangunan. Masuk ke ruang dalam ada “Dewa Wisnu” dan “Dewi Sri” di kanan kiri pintu. Di dinding terlihat Kabah yang akbar, Sang Buddha yang tenang, Gusti Jesus yang penuh kasih, Dewi Saraswati yang bersinar, Sang Hyang Semar yang berwibawa serta Kanjeng Ratu Kidulspiritual keraton yang anggun. Sebuah kursi kokoh diapit Bendera Merah Putih dan foto Guruji Anand Krishna diletakkan di bawah lambang Burung Garuda Pancasila.           

Ruangan seluas 92 m2 tersebut digunakan sebagai tempat latihan meditasi Anand Krishna Center Surakarta. Di sebelah kanan ruang tersebut terdapat ruangan seluas 12 m2 yang digunakan sebagai tempat transaksi penyewaan buku spiritual. Berjejer dalam rak-rak perpustakaan, 63 buku Guruji Anand Krishna, 49 buku terbitan One Earth Media dan lebih dari 400 buku pelengkap. Tempat latihan dan perpustakaan tersebut terletak di Jalan Dworowati 33, Kelurahan Kratonan, Kota Surakarta. Dworowati adalah nama kerajaan Sri Kresno dalam pewayangan.           

Di dalam ruang yang sarat dengan berbagai lambang keyakinan tersebut, seorang Ustad dan sembilan santri, bersama sembilan orang teman dan kerabat keluarga, duduk melingkar membaca “Yasin” dan berzikir “Tauhid” mengelilingi meja persembahan berisi nasi gurih, sambal goreng, dengan pisang, ketan, kolak dan apem. Sepuluh tetangga beragama Nasrani duduk diam di ruang depan mengikuti acara peringatan meninggalnya almarhum sang pemilik rumah yang dilakukan setiap tahun. Seandainya kegiatan ritual yang diwarnai tradisi budaya, dan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda tersebut dapat berkembang di seluruh nusantara, alangkah indahnya.           

Setiap Sabtu malam, lebih dari satu tahun, sekitar limabelasan orang, tekun mengikuti program latihan Seni Memberdaya Diri 1. Kebanyakan dari mereka sudah punya latar belakang spiritual dan budaya yang kental. Diperlukan penyesuaian untuk menyelaraskan dengan latihan yang dilakukan di Anand Krishna Center. Latihan pertama, bagaimana merilekskan tubuh,bernapas dengan benar. Latihan ke dua melatih keseimbangan emosi. Walaupun tubuh rileks, emosi mulai seimbang, tetapi gangguan trauma masa lalu masih harus dikeluarkan pada latihan ketiga untuk mendapatkan ketenangan. Selanjutnya, ketenangan akan lebih mantap setelah mempunyai visi kehidupan yang benar dan penuh kasih, yang dilatih pada latihan keempat. Baru latihan kelimamemberi perhatian kepada nafas agar lebih efektif dalam mencapai ketenangan diri. Latihan selalu didahului dengan perenungan sepenggal bab buku Guruji Anand Krishna untuk mencoba menghadirkan dan menyelaraskan diri dengan Sang Murshid. Kemudian setiap hari Selasa atauKamis, sekitar sembilan anak muda yang tegabung dalam The Torchbearers berlatih Bhajan, lagu-lagu yang mengagungkan Tuhan.            

Perkembangan sinergitas antara Jogya, Semarang dan Solo menarik kesadaran teman-teman AKC Solo meluas. Merenungkan buku-buku Guruji Anand Krishna dan beberapa download Upanishad yang ada di perpustakaan untuk memperdalam perenungan, pengetahuan, Jnana Yoga. Mempelajari Bhagavat Gita dan mengikuti semacam program PPSTK (Pusat Pemulihan Stres dan Trauma Keliling) untuk korban gempa di Yogyakarta bagi anggota NIM (National IntegrationMovement) adalah untuk melatih Dharma, Karma Yoga. Latihan pernapasan dengan disiplin, RajaYoga. Berkat kasih Guruji, masalah jarak antar kota untuk melakukan tugas suci dapat kami lalui dengan kekuatan yang berasal dari Sang keberadaan.            

Kesadaran kecintaan terhadap Bumi Pertiwi meningkat setelah mendapatkan pemahaman tentang “Mandala”, titik pusat Nusantara yang perlu di “energized”. Tiga Anand Krishna Center di Jawa Tengah – DIY, mengelilingi Mandala Prambanan, Borobudur dan Dieng. Prambanan berjarak 45 km dari Solo dan 15 km dari Jogyakarta, Borobudur berjarak 30 km dariJogyakarta dan 90 km dari Semarang, dan Dieng berjarak 90-an km baik dari Jogyakarta maupun Semarang. Ada 3 sungai besar yang mengalir di daerah Surakarta, Yogyakarta dan Semarang, Bengawan Solo yang mengalir ke Timur, Kali Progo yang mengalir ke Selatan, dan Kali Tuntang yang pernah dilayari Sultan Pajang Hadiwijoyo (DjokoTingkir) ke Demak yang mengalir ke Utara.

Semoga Mandala yang telah pulih energinya mengalir, memancar ke seluruh Nusantara demi Indonesia Jaya. Selamat Ulang Tahun Anand Ashram. Terimakasih Guruji. 

Triwidodo

Januari 2007

Pengalaman rohani suami istri dalam meniti kehidupan

 

  1. Pemahaman sebagai murid.

Sebetulnya kami berdua belum merasa pantas sebagai murid seorang Anand Krishna karena baru setengah tahun mengikuti meditasi. Tetapi yang jelas pandangan pandangan beliau banyak berpengaruh pada kehidupan keluarga kami. Memang bukan hanya beliau, banyak juga buku buku baik tulisan penulis Indonesia dan luar negeri yang punya pengaruh. Akan tetapi buku karya Bapak Anand Krishna selalu kami baca berulang ulang dan memberi pemahaman hidup yang jelas. Sehingga apakah kami dianggap murid atau tidak, yang jelas beliau kami anggap sebagai guru kami.  

  1. Siapakah Aku?

Waktu aku lahir aku telanjang, lemah, tanpa apa-apa. Baru kemudian aku mulai mengenal ibuku dan semua orang yang menyayangiku. Aku tidak tahu waktu itu apa yang kupikir, mungkin belum berpikir tapi baru dapat merasakan. Aku belum berpikir apakah aku tumbuhan, binatang, manusia atau makhluk halus. Kebudayaan sekitarku membentukku, pendidikan dan pengalaman hidup membentukku. Sehingga aku punya kerangka. Aku laki-laki, berpendidikan, punya suku, punya agama punya pandangan hidup tertentu. Seandainya saja aku lahir di daerah lain, dengan kebudayaan lain, sukuku lain, agamaku juga lain, pandangan hidupku mungkin akan lain. Jadi siapakah aku? Selama ini yang kuanggap aku adalah kerangka berpikirku. Seandainya saja aku dapat menghilangkan kerangka itu dan mengetahui siapa sejatinya diriku?  

  1. Kejadian kritis dalam hidup saya.

Pada saat umur saya 36 tahun, dengan semangat bekerja yang tinggi saya telah diberi tugas sebagai pemimpin proyek di Bireuen Aceh. Pada hari Saptu 7 April 1990, bulan puasa sehabis makan sahur dan belum menginjak waktu subuh, dalam perjalanan dinas ke Banda Aceh saya tertembak. Ada peluru M 16 mengenai mobil dan tiga pecahannya mengenai tubuh saya. Satu pecahan mengenai kulit di pinggang, satu lagi mengenai ujung paru paru dan satu pecahan peluru lagi mengiris limpa saya. Allahu Akbar, refleks teriakan saya, seperti ada cahaya di mata saya, kemudian selama beberapa detik saya tidak bisa melihat apa-apa. Setelah tenang saya minta dibawa ke puskesmas, tapi belum ada yang buka. Perjalanan diteruskan sampai Rumah Sakit Sigli 30 km dari tempat kejadian. Saya mencoba turun dari mobil dan kemudian tidak ingat apa-apa lagi. Katanya saya dibawa dengan ambulan ke Banda Aceh dengan jarak lebih dari 100 km. Kata orang sampai di Banda Aceh tekanan darah saya 60/0 dan mereka tidak berani menggerakkan kereta dorong tempat saya dibaringkan, katanya kalau goyang maka lepas pula nyawa saya. Teman-teman saya sudah siap-siap, karena kejadian pada Hari Saptu, maka sebentar lagi bank akan tutup. Mereka bermusyawarah siapa yang akan membawa ke Solo kalau saya dipanggil pada saat itu.Begitu sadar saya mendengar, mereka bilang : Nyebut! Nyebut! Saya tidak tahu, apa yang harus saya sebut, maksud mereka baik sekali agar saya menyebut Laillaha illalllah, sehingga kalaupun dipanggil Yang Maha Kuasa agar masuk surga. Setelah itu, dalam keadaan setengah sadar saya merasa melayang diatas sungai, saya tidak tahu dan tidak peduli apakah itu roh saya atau saya sedang fly karena minum obat keras penghilang rasa sakit. Yang jelas operasi pengangkatan limpa dan penjahitan paru-paru berjalan sukses. Pada saat kejadian, sebenarnya saya baru saja seminggu sebelumnya mengantar istri dan anak duluan ke Solo agar pada saat lebaran saya pulang sendiri ke Solo dan selanjutnya kembali lagi bersama sama ke Aceh lagi.  

  1. Keyakinan diri.

Pada waktu itu, sebagai insinyur muda yang penuh semangat, buku bacaan saya terutama pengembangan daya  bawah sadar. Sering sekali, bahkan hampir pasti apa yang saya bayangkan dengan jelas akan menjadi kenyataan. Kuakui saat itu pemahaman hidup saya sangat duniawi.  Pada waktu memilih istri, saya juga percaya diri. Setiap ketemu gadis yang  simpatik saya  selalu istikharoh, kalau dia baik bagiku, agamaku, masa depanku dan keluargaku demikian pula aku baginya maka jadikanlah, tetapi kalau tidak baik jauhkanlah.  Akibatnya saya tidak pernah pacaran , agak kaku, pacaran hanya dengan istri  saja. Begitu menikah hampir setiap malam kami berdua berdoa bersama. Ada teman istri yang tanya ke ‘Aki’ orang pintar di Pandeglang, komentar beliau : saya dan istri saya orang baik hanya kurang sholatnya. Sampai sekarang setiap malam kami selalu doa bersama, saya bangunkan istri, kami siapkan meja pendek dihalaman terbuka di depan rumah, tempat kami bersila, berdoa setiap malam 

  1. Beberapa pertanyaan yang mengganjal.
    1. Kalau saya lahir di Amerika, India atau China apakah agamaku masih sama?
    2. Kalau untuk masuk surga harus dengan kriteria yang sama, apakah adil ? yang satu anak berada, lahir di keluarga harmonis, paham bahasa kitab suci, sedang yang lain lahir ditempat lokalisasi dan tidak tahu siapa ayahnya dan kurang pendidikan lagi.
    3. Ataupun yang satu lahir ditempat orang mengetahui agama sedangkan yang lain lahir di tempat yang hampir tidak mengenal agama itu kecuali pengertian yang sedikit dan tidak tepat.
    4. Mengapa ada yang diberi umur 6 bulan dan ada yang 90 tahun, kan yang 6 bulan belum berbuat dosa? Apakah kriteria masuk surga sama?
    5. Mengapa generasi dahulu membabat hutan dan generasi berikutnya mengalami bencana banjir? Semestinya generasi yang membabat hutan itulah yang harus menderita bencana.

 

  1. Istri saya.

Orangnya sederhana tidak pernah menuntut, tidak minta saya agar kaya atau berpangkat, yang penting saya setia. Yang jelas dia begitu sedih sewaktu saya sakit. Kalau orang mempunyai pemahaman bahwa mimpi itu hanya keluar dari bawah sadar kita, tetapi saya  percaya pada mimpi istri saya. Sudah banyak mimpinya yang menjadi kenyataan. Begitu besar pengorbanan istri, walau pendidikannya sarjana istri saya selalu setia  mengikuti saya pindah tugas sehingga rela tidak bekerja dan sejak menikah sampai saat ini kami tidak pernah punya pembantu. Semua kami kerjakan sendiri. Oleh karena itu kami jarang tidur diatas jam sembilan. Anak-anak kami biasa mandiri. Sering ditinggal di rumah sendiri. Akan tetapi setiap saya ada tugas keluar kota atau keluar negeri istri selalu saya ajak.   

  1. Kehausan tentang spiritual.

Walau kami merasa hidup kami bahagia dan diberkahi Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kami selalu haus akan kebijakan selalu mencari mutiara kehidupan. Saya baca buku-buku dan saya cari situs-situs tentang religius terutama yang berbahasa Indonesia, karena kalau yang berbahasa Inggris kami merasa perlu waktu lebih lama untuk mengerti yang sedikit banyak akan mengganggu tugas kami. Kami baca situs tentang Budha, Hindu, Katholik, Kristen, Islam, kata-kata mutiara dan renungan renungan kehidupan. Pada suatu saat, sekitar tahun 1999 ketika saya menginap di rumah kakak ipar sehabis dari toko buku Gramedia saya baca buku karya Bapak Anand Krishna tentang Jaman Edan dan Wedhatama. Malam harinya saya mimpi ada seorang India melihat saya dengan tersenyum. Akhirnya setelah beberapa tahun kemudian saya baru sadar yang tersenyum dalam impian itu Bapak Anand Krishna. Setelah mimpi itu semua buku buku baru karya Bapak Anand Krishna kubaca habis, walaupun masalah latihan meditasi selalu saya lewati. Mungkin kami hanya ingin menyerap pemahaman, kami masih malas. Pada hal ‘ngelmu iku kalakone kanti laku’. Ilmu itu hanya dapat tercapai dengan pelaksanaan tidak bisa hanya dengan pemahaman saja. 

  1. Latihan Meditasi.

Pada bulan Februari 2004 Latihan Meditasi Anand Krishna di Semarang mulai diadakan diadakan di Gapensi yang berjarak 100 m dari rumah kami. Sekitar bulan April 2004 saya diajak istri ke Gapensi karena dia ingin kami ikut meditasi. Saya setuju dan jadilah kami berdua bersama teman yang lain dilatih Pak Dr. Djoko. Pada saat saya menginjak usia 50 tahun ini saya baru mulai latihan meditasi Manajemen Stress. Ada sensasi kelegaan yang kami rasakan. Herannya, setelah mulai meditasi, membaca kembali buku Pak Anand Krishna menjadi lebih jelas. Sehingga ketika ditawari untuk ikut acara Program khusus Sufi Intensif di One Earth Ciawi pada bulan Agustus 2004, saya dengan istri langsung bersedia. Saya jarang menangis, tetapi di One Earth saya gampang menangis, dan begitu terharu melihat anak-anak muda bersahabat erat walau mereka berbeda agama. Latihan-latihan pertama kali terasa aneh, tetapi bagi saya ada benang merah persamaannya diantaranya menurut saya yang masih awam, pada saat latihan pikiran tidak punya banyak kesempatan bekerja, karena ingat napas, napas cepat, atau menari berputar. Bagaimana mau berpikir kalau mau jatuh keseimbangan kita karena berputar. Hanya musik dan afirmasi yang dapat masuk ingatan. Dan apapun latihannya setelah itu ada rasa kelegaan. Ditempat inilah saya juga mulai belajar menggoyang kepala pada saat bhajan.  

  1. Bapak Anand Krishna.

Pada saat ini kalau disuruh tutup mata kami patuh, tetapi pada saat pertam akali di One Earth saya sering tidak patuh sering kuperhatikan wajah Bapak. Pulang dari One Earth kami berdua merasakan perubahan menyolok. Kami lebih tenang, mulai belajar merayakan hidup. Istri kami juga jauh lebih sehat, padahal istri saya mempunyai Thalasemia Minor. Pada waktu kami membaca ‘Soul Quest ‘dalam bahasa Indonesia, kami tahu betul tempat tinggal Bapak Anand Krishna sewaktu di Solo. Kami berdua juga berasal dari Solo. Kami yakin yang beliau ceritakan tentang Bu Sri adalah Eyang Srini, sesepuh spiritual yang sering memberikan lambang-lambang ketika orang yang kesusahan datang mohon petunjuk. Ibu saya dan Ibu istri saya termasuk beberapa orang yang sering mohon petunjuk kepada beliau. 

  1. Pandangan hidup keluarga kami.

Istri saya sangat berbahagia di keluarganya dan ingin membentuk keluarga yang bahagia. Sejak kecil mempunyai keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati dalam hidup ini. Sewaktu kecil sering menatap langit sambil dialog dengan bayang-bayang dilangit. Pada waktu masih sekolah sering puasa 7 hari berturut-turut. Kalau malam sering sholat tahajud walau sholat lain jarang. Pada saat sarjana muda di UNS belum punya pacar, tetapi kepingin ketemu jodoh tidak dengan cara dikenalkan orang lain. Kami ketemu dengan istri pada tahun 1980 di KA Senja Jakarta-Solo. Empat tahun kemudian saya menjadi ‘suami sejati’nya. Dia yakin suaminya akan dikasihi Pangeran. Kelihatannya memang kami dituntun keberadaan untuk sering bepergian yang ternyata merupakan perjalanan spiritual kami untuk menghormati semua agama. Ayah saya pernah ikut perkumpulan Theosofi, sedang ibu saya senang tirakat dan berdoa setiap malam. Kedua orang tua saya juga amat bahagia dalam kehidupan dihari tuanya dan akhirnya melaksanakan shalat. Ayah isteri saya adalah orang paling jujur yang pernah saya temui, dan ucapan katanya selalu benar. Beliau selalu berdoa tiap jam 12 malam, tapi jarang saya lihat shalat. Anehnya beliau kesayangan orang-orang pintar seperti Eyang Nyopit. Bahkan Eyang Kyai Siradj (yang sering dianggap wali) sering mengajak santrinya shalat di rumah Bapak Mertua. Ibu mertua saya kalau berdoa setiap jam 3 malam. Petuah petuah eyang Kyai Siradj amat mempengaruhi kehidupan keluarga mertua saya. Dengan kondisi spiritual demikianlah istri kami dibesarkan. Dan dia yakin setelah ketemu suami sejati nanti akan ketemu guru sejati.   

  1. Latihan Meditasi lanjutan.

Kesempatan berikutnya pada bulan oktober 2004 kami berkesempatan mengikuti Program Khusus Seni Memberdaya Diri 2 dan Reiki  1st degree di Semarang. Kami berbahagia sekali, bersama seluruh teman Anand Krishna Centre dibawah pimpinan Pak Djoko, Ma Jaya dan Erwin Thomas mempersiapkan acara program khusus dan juga acara bedah buku Penggal Kepalamu dan Serahkan pada Sang Murshid di Universtas Diponegoro. Berhadapan langsung dengan Bapak Anand Krishna, Ma Archana, Ma Gyan dan Mbak Wayan,  meningkatkan pemahaman spiritual kami.  Triwidodo

Oktober 2004

Laporan Peliputan Kantor Berita Reuters di AKC Surakarta 17 Januari 2008

Permintaan yang Mendadak           

Kamis 17 Januari pukul 5 sore kami tiba di Center Surakarta. Hal demikian sudah merupakan  kegiatan rutin mingguan kami. Biasanya, kami  bertemu dengan teman-teman untuk latihan bersama Semedi 1 pukul 19.30 dan sebelumnya pukul 18.00 mengadakan sinkronisasi yang dilanjutkan dengan diskusi study circle membahas buku-buku Bapak Anand Krishna.            

Ketika kami datang, mas Budoyo memberitahukan bahwa malam nanti akan ada tim dari Reuters. Dia menjelaskan, Tim dari Reuters ke Solo mencari berita tentang Pak Harto, Museum, dan hal-hal yang ada kaitannya dengan kebudayaan, seperti Kraton dan tempat-tempat spiritual. Oleh Dinas Pariwisata Kota Surakarta mereka juga diminta menghubungi mas Budoyo sebagai koordinator benda-benda seni Kelurahan Kratonan.            

Sekitar jam 2 siang, 5 orang tim Reuters datang ke tempat mas Budoyo, melihat benda-benda seni yang dipajang di sana. Pada saat itu mereka tertegun melihat tulisan besar terpampang di depan tempat latihan Anand Krishna Center “SATU BUMI, SATU LANGIT, SATU UMAT MANUSIA”. Di luar Center ada patung Semar, kemudian di halaman ada Patung Sri Kresna, Dewi Sri, Ganesha dan Maitreya. Juga dilihat mereka ada Mading yang ditempeli Newletters Torch Bearers. Ketika mas Budoyo menyampaikan bahwa tempat ini merupakan Anand Krishna Center Surakarta, anggota Tim Reuters yang berasal dari Solo, mengungkapkan bahwa dia tertarik dengan Tarian Sufi Mehfil yang pernah dipentaskan di nDalem Kemandungan Kraton Surakarta. Mereka menyampaikan ingin menemui kami sore harinya.            

Pukul 17.30, di tengah hujan rintik-rintik, 2 orang dari mereka, mas Andry dan mas Budi kami terima di nDalem tempat Latihan kita. Berikut ini adalah hasil pembicaraannya. 

Kebenaran menurut kerangka pemikiran pribadi           

Sambil melihat lukisan-lukisan besar yang terpajang di dinding, antara lain: Ka’bah, Gusti Yesus, Buddha, Semar, Bodhidharma, Sukarno dan tentu saja Guruji Anand Krishna dan pernik-pernik etnik, payung, bendera serta Garuda Pancasila, mas Andry mohon dijelaskan tentang meditasi. Untuk mengawali, kita perlu memahami dulu, bahwa kita lahir dengan sifat bawaan- genetika, kemudian kita diajari mana yang benar  dan mana yang salah oleh orang tua, lingkungan dan pendidikan. Sehingga, kebenaran menurut kita adalah kebenaran menurut frame kita, yang sebenarnya produk dari luar kita. Orang lain akan mempunyai frame yang lain, di lingkungan lain frame yang terjadi akan lain, kalau kita lahir di Rusia atau Nigeria maka frame kita akan lain. Meditasi akan meluaskan kesadaran kita, sebetulnya kebenaran ini hakikatnya apa? Aku ini sebenarnya siapa. Dengan latihan meditasi, kita menjadi lebih tenang dan berpikir lebih jernih dan kesadaran akan meluas. 

Sex, Cinta dan Kasih           

Mengenai perilaku manusia yang berbeda-beda karena frame/conditioning pemikiran yang berbeda yang telah dipahami mas Andry, kami menyampaikan tingkatan perilaku manusia yang kami dapatkan dari Bapak Anand Krishna. Pertama, mereka yang ingin memuaskan diri sendiri, kepentingan pribadi, menjarah, memaksa kalau ada kesempatan adalah tingkatan “sex”. Selanjutnya, mereka yang sudah mengerti logika, mendapatkan barang dengan membeli, bekerja mendapatkan upah, ada menerima juga ada memberi adalah tingkatan cinta. Ketiga adalah tingkatan lebih banyak memberi, sudah melampaui logika menggunakan kasih. 

Lima Lapisan Kesadaran           

Pertanyaan mengapa berbeda, kami menjelaskan tentang lima lapisan kesadaran yang diolah pada waktu latihan meditasi. Lapisan kesadaran fisik yang dapat kita lihat dengan panca indera. Lapisan kesadaran energi yang dapat kita rasakan, setelah makan, setelah bangun tidur, setelah meditasi terasa penuh energi. Pada waktu sakit terasa energi berkurang. Lapisan kesadaran mental-emosional yang kita rasakan pada waktu asyik membaca, ataupun sedih yang fisik dan energi terabaikan, terkonsentrasi pada bacaan atau kesedihan. Lapisan kesadaran intelegensia, yang didapat dari alam, ataupun dari nurani yang terungkap ketika lebih tenang dan lebih jernih. Terakhir lapisan kesadaran murni, lapisan spiritual. 

Meditasi pelajaran yang berasal dari luar Nusantara?           

Mengenai apakah pelajaran meditasi berasal dari luar Nusantara, kami jelaskan bukan dari zaman dahulu kala, cukup dimulai ketika Sang Dharmakirti, menjadi Guru Spiritual di jaman Sriwijaya sekitar abad ke 11. Guru Atisha, dari India belajar pada Yang Mulia Dharmakirti Svarnadvipi di Suwarnadvipa atau Sumatera. Ajaran Bodhicitta yang didapatkan, dibawa ke India dan disebarkan di daerah Tibet. Y.M. Dalai Lama sangat menghormati Dharmakirti dan Atisha. Ajaran Bodhicitta atau Kesadaran Murni yang telah mendunia ini asalnya dari Nusantara. Dan sekarang telah kembali lagi ke Nusantara disebarluaskan oleh Putera Indonesia, Guruji Anand Krishna. Beliau menyampaikan dengan “bahasa ibu” kita, bahasa tempat beliau dilahirkan. Merupakan berkah mendapatkan penyebar yang mempunyai bahasa sama dengan kita. Bodhidharma harus menghadap tembok bertahun-tahun, mempelajari dialek setempat sebelum menyampaikan ajarannya di China. Seorang penerjemah selain kosa kata bahasanya terbatas juga tingkat kesadarannya mungkin jauh berbeda, sehingga yang disampaikan bisa melenceng dari maksudnya. Kemungkinan latihan-latihan kejawen dan semacamnya juga ada kaitannya dengan peninggalan ajaran-ajaran Sang Dharmakirti. 

Ajaran Kesadaran Murni, Bodhi Chitta.           

Setelah tercapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, maka tiba saatnya untuk membuang conditioning lama, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Memperbaiki mind dengan creating mind dan harus diterapkan dalam keseharian. Sehingga terjadi kelahiran kembali, kelahiran Kristus di dalam diri. Di India ada tradisi seorang diberi nama baru, conditioning Liny Tjeris dibuang dan hidup baru sebagai ma Upasana, conditioning Maya Safira harus dilepaskan dan hidup sebagai ma Archana. Seorang Kristanto harus hilang begitu nama ditambah menjadi Adrianus Kristanto. Dia harus hidup ala Santa Adrianus setelah dibaptis. Hidup dengan Bodhi Chitta. Tradisi di Jawa pun tidak jauh berbeda. Ayah kami bernama Woekirno, setelah kawin namanya menjadi Prawirodharmodjo, selain menjadi putra Eyang Prawiro juga sudah menjadi menantu Eyang Dharmo. Conditioning jomblo Woekirno harus dibuang. Begitu juga Gusti Herjuno Darpito setelah menjadi Raja menjadi Hamengkubuwono X, yang harus berperilaku seperti nama yang baru.Demikian juga seseorang setelah melakukan rukun kelima dan ditambah nama Muhammmad di depannya harus berkesadaran seperti nama barunya. Orang tua kami sendiri begitu senang akan tiga perlindungan Buddha-Kesadaran Murni, Dharma-Peran, dan Sangha-Persatuan, sehingga puteranya dinamakan tiga keselamatan, Triwidodo. He, he, he. 

Belajar sejarah tentang dasar negara.           

Dari Sejarah Indonesia, kita ketahui Kekuasaan Sriwijaya bertahan lebih dari 8 abad, pada saat itu agama tidak dijadikan sebagai dasar negara. Salah satu rajanya bergelar Haji al Sumatrani berkomunikasi dengan Khalifah Umar sebagai dua kepala negara yang bersahabat. Kekuasaan Majapahit bertahan sekitar 4 abad, semboyannya Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrowa, Beraneka tetapi satu, tidak ada dharma yang mendua. Tetapi ketika kita memakai agama sebagai dasar negara, kekuasaan tidak bertahan lama.  

Peliputan latihan Semedi 1.           

Kemudian seluruh latihan diliput dan didokumentasikan oleh Tim Reuters.Penjelasan sekilas tentang latihan pertama, cara rileksasi instant dan bernapas dengan benar. Latihan kedua tentang membudayakan emosi dengan suara e, u dan m. Latihan ketiga tentang membudayakan suara. Latihan keempat membudayakan penglihatan-pandangan hidup, dan memberdayakan kasih. Latihan kelima membudayakan pikiran.            Latihan ketiga yang dilaksanakan sesaat kemudian yang sering disebut katarsis, mempunyai beberapa manfaat yang luar biasa.           

Kekecewaan, trauma disimpan dalam otak bukan hanya peristiwanya tetapi juga emosi negatifnya. Disimpan dalam bagian otak bernama limbik. Itulah sebabnya begitu bertemu orang yang menjengkelkan kita emosi kita keluar lagi. Semakin tua simpanan emosi dalam limbik semakin banyak, sehingga semakin tua biasanya semakin tidak sabaran dan mudah marah. Sampah negatif dalam limbik itulah yang kita keluarkan lewat latihan-latihan.           

Ketika kita bayi dan masih polos, kita keluarkan semua emosi kita. Begitu ibu kita mengajari mana yang baik, mana yang jelek, kita menyesuaikan dengan pandangan tersebut dan sering terjadi konflik, misalkan anak lelaki tidak boleh menangis dan konflik ini disimpan dalam limbik. Dalam perjalanan hidup, pendidikan sekolah, lingkungan, agama menunjukkan kita mana yang benar dan mana yang salah dan apabila terjadi konflik dalam diri, akibat pandangan yang berbeda kita simpan dalam limbik juga. Kita hidup enam belas jam sehari seakan diawasi frame kita, jelas menggelisahkan. Banyak pandangan yang membentuk frame yang berbeda. Kalau kita tidak bisa tidur dan bebas dari pengawasan frame kita,  mungkin bisa gila. Kegelisahan-kegelisahan tersebut semakin hari semakin menumpuk dan dikeluarkan lewat latihan ketiga ini.           

Teman kami yang guru TK menyampaikan setiap anak tidak sama, ada yang bawaannya lembut, ada juga yang mempunyai genetika penuh kekerasan. Pelajaran agama pada waktu dini apabila diberikan pada mereka yang bawaannya keras akan menjadikannya penganut taat yang keras. Katarsis dapat melembutkan sifat bawaan, kekerasan sudah dikeluarkan pada waktu latihan, kalau situasi yang menunjang kekerasan dikurangi maka bawaan kekerasannya akan teregresi.            

Bukan hanya kegelisahan, semua conditioning/frame kita dapat kita keluarkan. Sehingga Kesadaran Ilahi, Bodhi Chitta kan menggantikannya Demikian, laporan kami  

Triwidodo

18 Januari 2008.