Percakapan Antara Benteng Yang Kokoh Dengan Jalan Setapak


 

Pada suatu hari di zaman dahulu, ada seorang pengembara yang berjalan melintasi hutan yang luas, melewati jalan setapak. Setelah beberapa lama, sampailah dia di sebuah jalan desa. Kemudian jalan desa tersebut diikutinya terus hingga sampai kepada jalan yang lebih besar lagi, dan akhirnya tiba di depan sebuah benteng batas kota yang kokoh. Sambil duduk istirahat di dalam benteng, Sang Pengembara merenung. Di dalam pikiran Sang Pengembara tersebut berkecamuk pembicaraan antara Sang Jalan Setapak dengan Sang Benteng yang kokoh. Mari kita dengarkan pembicaraannya.

 

Sang Benteng Berbicara : Sahabatku Jalan Setapak, masih krasankah tinggal di hutan yang sepi? Jarang dilewati manusia dan masih banyak binatang buasnya? Lihatlah aku, Raja membuatku untuk mengamankan rakyatnya dari gangguan serangan musuh. Di benteng ini kami mempunyai lumbung persediaan makanan yang dipakai kala pintu gerbang ditutup guna menghindari musuh yang sedang menyerang.

 

Sang Jalan Setapak menyahut : Ya harus krasan sahabatku, aku mempunyai tugas sebagai sarana transportasi dan komunikasi antara dua tempat di desa. Manusia membuatku agar isolasi daerah tertutup menjadi terbuka. Apakah Penguasa bentengmu begitu takut terhadap serangan dari luar?

 

Sang Benteng : Ide membuat benteng ini sekarang sudah dikembangkan manusia, mereka membuat benteng diri agar imannya tidak terpengaruh keadaan di luar yang merongrong. Mereka mebuat benteng ideologi agar pemikiran luar tidak merusaknya. Orang tua membentengi anak-anaknya dengan membatasi buku yang dibaca anaknya, agar tidak terjerumus ke hal yang tidak berguna.

 

Sang Jalan Setapak : Sahabatku, aku dikaruniai kemampuan untuk melihat ke depan. Ke depan desa-desa yang kuhubungkan semakin berkembang, komunikasi lebih intensif, dan ditingkatkanlah aku menjadi jalan desa. Bahkan aku melihat desa-desa yang kuhubungkan berkembang menjadi perkotaan dan aku ditingkatkan lagi menjadi jalan aspal dan pada suatu hari aku menjadi jalan berhotmix. Sebaliknya, kulihat benteng memang berguna pada waktunya, tetapi sulit juga mempertahankannya. Benteng Berlin yang kokoh tinggal cerita. Benteng Tembok besar di China hanya menjadi tempat wisata. Kemudian internet sudah menembus benteng-benteng negara, benteng rumah tangga, anak remaja di depan komputer on-line sudah mengetahui berita di ujung dunia sana.

 

Sang Benteng : Ya kuakui, manusia kadang juga membuat benteng yang tidak terlihat, untuk mengamankan kelompoknya. Benteng kepercayaan, benteng suku, benteng kelompok elite dan lain-lain.

 

Sang Jalan Setapak : Sahabatku, yang kau maksudkan kotak-kotak yang dibuat lembaga untuk mempertahankan keberadaan mereka? Selama kotak-kotak tersebut berkembang mengikuti zaman aliran zaman it’s okay. Tetapi kalau mereka dikaitkan dengan ikatan yang baku akan sulit juga. Dunia selalu berkembang. Ilmu pengetahuan maju pesat. Dulu, Galileo mengatakan bumi mengelilingi matahari, dan dia dihukum oleh lembaga yang pemahamannya belum semaju dia. Mungkin saja hal-hal lain akan diketemukan. Mungkin saja Peraturan-Peraturan untuk manusia suatu saat harus diterjemahkan sesuai perkembangan zaman. Esensi nya oke, tetapi penerjemahan dalam kehidupan sehari-hari harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

 

Sang Benteng : Terima kasih sahabatku, kau mengingatkan sebuah peraturan yang luwes yang memuat esensinya dan peraturan pelaksanaan harus memungkinkan perubahan di kemudian hari untuk menghadapi perkembangan zaman. Semoga manusia mendengarkan pembicaraan kita dan mereka tidak hidup terkotak-kotak yang akan menyebakan mereka semakin stress. Terima kasih.

 

Triwidodo

Desember 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: