Percakapan Tawon dan Pohon Randu Alas


 

Diujung sebuah desa tumbuh sebatang pohon Randu Alas yang sudah tua, pohon itu disayangi warga se desa, dijaga dan tidak ditebang oleh mereka. Kapuk yang dihasilkannya sudah dimanfaatkan sebagai bantal dan guling warga se desa. Bijinya sudah tersebar di segenap pelosok desa dan menumbuhkan banyak pohon randu baru yang sudah menginjak dewasa. Kayu randu dewasa yang lunak mudah diukir oleh pengrajin ukir-ukiran sebagai tambahan penghasilannya. Sekelompok tawon suka bermukim di dahannya. Pada suatu pagi yang cerah terdengar percakapan Sang Pohon Randu dengan Sesepuh Tawon yang dihormati seluruh warganya. Mari kita dengarkan pembicaraannya.

 

Sang Pohon Randu Alas berucap : Wahai Sesepuh Tawon yang tinggal di dahanku aku sudah melihat berpuluh-puluh kali wargamu membesarkan tawon di kayuku, aku bahagia dapat menyediakan tempat bagi kelompokmu, tapi kali ini tolong jelaskan secara rinci mengapa kau meletakkan larva dalam lubang kecil. Hanya ada satu jalan keluar dari lubang itu. Lubang itu pun dijaga ketat tawon dewasa. Setiap kali larva berusaha keluar dari lubang, selalu didorongnya untuk masuk kembali. Mungkin pengetahuan ini akan berguna bagi umat manusia di kemudian hari.

 

Sang Sesepuh Tawon menjawab : Kami melakukan hal demikian secara turun-temurun sesuai instink dan intuisi kami. Menurut penjelasan di buku “Atmabodha”, seluruh kesadaran larva terfokuskan pada tawon. Hasratnya untuk bebas dari lubang menyala-nyala. Dia melihat sepasang sayap yang dimliki oleh tawon dewasa. “Seandainya aku bersayap, aku pun bisa terbang keluar dari lubang ini. Aku bisa bebas”. Tak lama kemudian, tumbuhlah sepasang sayap dan larva menjadi tawon. Sepasang sayap bukan pemberian siapa-siapa. Dia malah didorong masuk lubang terus-menerus. Itulah tugas Guru, tugas Pemandu, dia harus mendorong atau malah menyengat muridnya. Tidak boleh ada rasa kasihan. Bila seekor tawon mengasihani larva dan mengeluarkannya dari lubang, maka ia akan melakukan pembunuhan terhadap calon tawon. Yang ada rasa kasih bukan rasa kasihan yang penting bagaimana caranya agar larva berkembang.

 

Sang Pohon Randu Alas : Luar biasa, Sang Guru ataupun “Orang Tua” harus membuat kondisi yang memungkinkan si murid atau si “anak” memaksimalkan potensi yang ada. Saya juga melihat burung rajawali perkasa yang tidak selalu melindungi anak-anaknya dengan mengeraminya. Setelah mereka cukup kuat Sang Anak justru didorong dari pohon di puncak tebing tinggi. Sang anak rajawali terpaksa mengepak-kepakkan sayapnya dan berhasil, tambahlah satu ekor rajawali muda.

 

Sang Sesepuh Tawon : Manusia ibarat larva yang takut mendapatkan kebebasan abadi. Dia mencari kebahagiaan luar seperti keluarga, kekayaan dan kedudukan, padahal dia tahu yang di luar tersebut tidak ada yang abadi. Bagaimana dia mencapai kebahagiaan abadi dengan menggunakan sarana yang tidak abadi? Dia memerlukan seorang Pemandu yang sudah mencapai kebahagiaan abadi. Dia melihat “sayap” yang dimiliki Sang Pemandu. Hasratnya untuk bebas dari lubang dunia fana menyala-nyala. Dia yakin diapun akan mempunyai “sayap” seperti Sang Pemandunya.

 

Sang Pohon Randu Alas : hanya dengan memakai kesadaran pikiran dia tidak akan dapat mengeluarkan “sayap”. Pikiran harus dilampauinya, intuisi dan intelegensia pun dilewatinya, setelah kesadarannya mencapai kesadaran murni, barulah dia sadar bahwa dia sebenarnya mempunyai “sayap” itu. Dan kesadaran itu harus dipeliharanya setiap saat. Laku dia sehari-hari selalu berdasarkan pemahaman kesadaran tersebut, sebuah perjuangan yang berat. Semoga kesadaran manusia meningkat tidak hanya berkutat dalam instink hewani, makan, minum, seks dan kenyamanan belaka. Semoga.

 

Triwidodo

Desember 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: