Percakapan di Meja Perjamuan


 

Perjamuan masih dimulai satu jam lagi, hidangan-hidangan belum disajikan, hanya piring-piring sendok-garpu-pisau, serbet makan sudah tertata apik. Mereka saling menyapa dan bersilaturahmi. Diantaranya, ada dua piring yang bicara serius. Mari kita dengarkan pembicaraan mereka.

 

Piring pertama : Kita sudah melampaui pikiran dan rasa baik atau buruk, dalam benak kita hanya ada rasa kasih dan pelayanan. Kita tidak terpengaruh, apa yang manusia letakkan di pundak kita, bistik, ikan asin ataupun sambal pedas. Kita tidak marah ada yang malas mencuci diri kita yang habis dipakai. Kita juga tidak tergerak emosi ketika anak kecil sebelum makan mengetuk-ngetuk kita dengan piring dan garpu layaknya kita alat musik saja.

 

Piring kedua : Nanti akan banyak tamu manusia yang duduk di meja perjamuan, aku akan berbagi cerita kejadian yang lalu tentang Paman Serakah Jaya, begitu mereka memanggilnya. Begitu hidangan tersedia, dia mengambil apa yang disukainya, dipenuhi piringnya dengan kesukaannya. Diletakkan di dekat dia agar tamu yang jauh tidak dapat mengambilnya. Dia tidak rela hidangan kesukaannya diambil yang lain. Begitu ada kesukaan lain di ujung sana, tidak malu dia meminta. Sopan-santun dan etika diterjangnya.

 

Piring pertama : Aku pun ingin berbagi cerita tentang pasangan anak muda bernama Mas Bebasiana dan mBak Siti Narimo. Dengan elegan mereka ambil secukupnya hidangan di depan mereka. Tidak ada rasa keberatan hidangannya diambil bergilir teman sebelah. Pun tidak nggege mongso, mempercepat hasrat dengan meminta hidangan yang diseberang sana. Tidak ada keterikatan mereka terhadap hidangan, pun penuh kasih memuji tuan rumah yang menjamunya.

 

Piring kedua : Puji syukur, kita dikaruniai melihat yang berbeda, seandainya saja manusia memperhatikannya. Paman Serakah Jaya terikat dengan dunia fana, nafsu rendah tidak dikendalikannya. Makan adalah keaktifan chakra terendah. Betapa banyak manusia terlena setelah makan kesukaannya, mudah dibujuk rayu agar keluar persetujuannya. Apalagi diiming-imingi seks sesudahnya dijatuhkan juga chakra kedua.

 

Piring pertama : Betul sekali sahabatku, Pasangan Mas Bebasiana dan mBak Siti Narimo memahami Hukum Alam Semesta. Apa yang diterima sudah ada perhitungannya. Ketidakadilan pun diterima dengan lapang dada, manusia tidak tahu kapan ganjaran, akibat dari sebab beberapa masa sebelumnya akan tiba, mungkin saja yang terasa tidak adil, sebetulnya adil juga dalam perhitungan masa yang lama.

 

Piring kedua : Sebagian besar manusia terikat di dunia fana, obsesi-obsesinya bahkan tidak terselesaikan ketika datang jemputan Sang Kematian. Mind atau roh nya belum berbaur dengan alam semesta, egonya memisahkan dirinya dengan yang lainnya. Ketika meninggal dunia, mind yang masih utuh karena ego, akan cari wadah baru menyelesaikan obsesinya.

 

Piring pertama : Beruntunglah mereka yang berusaha tidak terikat dalam Kala Chakra, melampuinya masuk dalam Dharma Chakra. Mereka berkarya seperti bumi dan matahari. Tidak terpengaruh unsur luaran. Usia boleh tua, badan akhirnya di daur ulang kembali ke unsur-unsur semula. Tetapi kasih, keluhuran, kemuliaan tetap abadi sepanjang usia, selama-lamanya. Obsesinya telah mati. Mati sajroning ngaurip. Mati selagi hidup. Melampaui baik-buruk, sisa hidupnya hanya untuk berkarya laksana bumi dan matahari, bermanfaat bagi sesama.

 

Triwidodo

Januari 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: