Mengubah tiga racun menjadi tiga benih kebijakan


 

Pada suatu pagi yang sejuk di Tawangmangu, dua orang sahabat mengobrol sambil menikmati pemandangan alam yang indah dari teras sebuah rumah. Di depan mereka ada teh panas dan ubi goreng. Setelah diam menikmati kedamaian, terjadilah pembicaraan di antara mereka. Mari kita dengar pembicaraan mereka.

 

Sahabat Pertama: Kawan, saya baru saja dapat insight. Selama ini yang saya hadapi hanya tiga macam keadaan. Keadaan menyenangkan, keadaan tidak menyenangkan dan keadaan cuwek, acuh tak acuh karena kurang ada sangkut pautnya dengan saya. Coba renungkan perbuatanmu kawan?

 

Sahabat Kedua: Sewaktu mengahadapi makanan ada tiga keadaan: senang, tidak senang dan cuwek. Sewaktu ketemu orang, sewaktu bekerja, sewaktu apapun, betul juga hanya ada tiga macam keadaan. Dan kita selalu ingin mendapatkan keadaan senang kan?

 

Sahabat Pertama: Exactly, kita selalu menginginkan keadaan senang selamanya, kalau bisa kesenangan abadi, tetapi apa yang terjadi?

 

Sahabat Kedua: Karena kita menginginkan keadaan senang, selalu saja muncul kepuasan kala terpenuhi dan kekecewaan kala tidak terpenuhi. Jadi senang dan tidak senang selalu berganti. Apakah itu kerjaan si mind? Mind punya gudang pengalaman yang menunjukkan; ini daftar keadaan yang membuat senang; ini daftar keadaan yang membuat tidak senang; ini yang kita cuwek saja. Mind, pikiran menyebabkan keinginan, dan keinginan menyebabkan perbuatan. Perbuatan yang berulang-ulang menjadi kebiasaan, kebiasan lama-lama menjadi karakter. Kita bisa merubah karakter kita?

 

Sahabat Pertama: sukanya mind memang begitu. Kita sekarang sudah dikendalikan, jadi budak mind. Kita senang ataupun tidak senang karena diperintah mind. Mari kita kita beri mind pekerjaan yang disukainya tetapi sesuai maksud kita. Kita berhasrat mendapatkan kebahagiaan abadi. Dan ada tiga keadaan yang hampir mirip; keadaan dalam kesadaran; keadaan dalam ketidaksadaran; dan keadaan yang harus dicuwekin karena kita tidak boleh terpengaruh olehnya.

 

Sahabat Kedua: Maksud Sahabat kita melatih mind. Kalau dalam berkesadaran kita senang. Kalau dalam berketidaksadaran kita tidak senang. Kalau kita dilecehkan orang karena kita berkesadaran, kita cuwek? Luar biasa kawan. Mungkin itu salah satu pesan Guru Atisha, Guru di Tibet yang kesohor yang pernah belajar di Sumatera pada Sri Dharmakirti?

 

Sahabat Pertama: Mari kita mulai melatih. Guruku menyebut itu created mind. Dengan mind yang kita create untuk memperbaiki mind.

 

Sahabat Kedua: Tetapi itu semua cara kita menghadapi dunia luar. Kebahagiaan abadi sendiri kan di dalam. Menurut Guru Atisha yang luar seperti latihan merupakan obat. Kita tidak boleh melepaskan obat, sampai obat itu terlepas sendirinya. Seharusnya obat menguatkan zat antibodi di dalam diri. Sampai diri kita sendiri sehat. Sampai kita bahagia dari dalam dan tidak terpengaruh luaran.

 

Sahabat Pertama: Selama ada Guru, kita dibimbing, dipandu. Untuk menjaga kesadaran kita perlu support group. Sangha. Demi masa, sesungguhnya kita ini selalu dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman – yakin ada Kebenaran; beramal sholeh – melakukan Kebenaran; selalu berbicara tentang kebenaran dan bertindak dengan penuh kesabaran – dalam Kebenaran.

 

Sahabat Kedua: Kok mirip surat Wal Ashri dengan pemahaman yang lain. Terima kasih sahabat.

 

Triwidodo

Januari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: