Semua dikembalikan kepada manusia


 

Seorang petani di daerah Undaan, Kudus sedang berbincang-bincang dengan seorang dokter setempat sambil melihat genangan air yang menutupi seluruh tanaman padinya. Banjir semalam membobolkan tanggul sungai Wulan dan banjir melanda pemukiman dan sawah mereka.

 

Petani: Pak Dokter, keluarga saya ini bisa bertahan hidup dari hasil panen sawah di depan itu, sawah saya yang sekarang terendam banjir. Untung anak kami di Semarang mengirimkan beras. Ya kami bersyukur mempunyai anak yang “pangerten”.

 

Pak Dokter: Semua yang kita terima sebenarnya merupakan akibat dari tindakan yang telah kita lakukan sebelumnya. Termasuk mempunyai anak yang sholeh adalah akibat dari tindakan Bapak yang membinanya dari kecil dengan penuh kasih.

 

Petani: Pak dokter kalau tubuh kita ini juga hasil dari sebab tindakan kita, mengapa ada yang orang yang makannya sama dengan kami mempunyai tubuh besar sedang kami tetap “bungkik”, kecil sekali.

 

Pak Dokter: Agak panjang ceritanya pak mengenai asal-muasal DNA. Tetapi ada faktor genetik, faktor keturunan yang mempengaruhinya. Walaupun demikian dalam perkembangannya kita dapat memperbaikinya, coba lihat walaupun Bapak kecil, putera-puteri Bapak dengan makan yang cukup gizi badannya jauh lebih besar dari Bapak. Sesungguhnya badan manusia ini terbuat dari yang ia makan. Dan makanan berasal dari tumbuhan dan binatang, yang untuk hidupnya memerlukan air. Air di permukaan bumi ini pada dasarnya berasal dari hujan. Hujan ditentukan oleh kepedulian manusia terhadap lingkungan. Kembali semuanya adalah ulah manusia juga.

 

Petani: Wah betul Pak Dokter, waktu kecil kami makan seadanya, maklum waktu perang. Pak Dokter, jadi banjir yang kita alami ini disebabkan oleh ulah manusia? Bukan Ujian atau adzab Gusti Allah?

 

Pak Dokter : Jagalah kelestarian alam sekitarmu dan alam akan menjaga kelestarianmu. Demikianlah, dengan saling membantu, kita akan memperoleh kebahagiaan yang tak terhingga. Tidak cukup melayani Gusti Allah yang abstrak di tempat-tempat ibadah kita. Lihatlah Gusti Allah di sekitar kita. Layanilah Dia, di mana pun kita menyadari kehadiran-Nya.

 

Petani: Terima kasih Pak Dokter, dulu kami kira Gusti Allah itu berada di atas sana.

 

Pak Dokter: Itu karena kita mengenal Dia sebagai Pencipta dan Pencipta berada diluar ciptaanya. Hyang Widi meliputi segenap ciptaan-Nya. Kita semua termasuk banjir berada dalam Dia. Banjir bukan ciptaan-Nya, tapi disebabkan ulah manusia yang tidak bisa lepas dari hukum sebab-akibat. Apabila kita menjaga kelestarian alam sebagai persembahan, kekuatan-kekuatan alam ini pun akan memberi apa yang kita inginkan. Sebenarnya, mereka yang menikmati pemberian alam, tanpa mengembalikan sesutu, ibarat seorang maling.

 

Petani: Terus kami ini yang mendapatkan panen dari alam, apa yang harus kami persembahkan?

 

Pak Dokter: Lihatlah segala sesuatu yang diliputi oleh-Nya disekitar kita, misalnya agar air hujan krasan tanamlah pohon. Kemudian agar air tidak langsung luber ke permukaan bumi buatlah sumur resapan sederhana di pekarangan. Selanjutnya jangan menanam pohon di tanggul sungai yang akan membahayakan tanggulnya. Itu beberapa bentuk persembahan kepada alam yang diliputi oleh-Nya. Ia yang berkarya dengan semangat persembahan dan menikmati hasilnya, ia yang memperoleh rejeki dengan cara demikian, terbebaskan dari segala macam dosa. Tapi mereka yang memperoleh rejeki dengan cara hanya mementingkan diri sendiri, sebenarnya menikmati dosa-dosa mereka sendiri.

 

Triwidodo

Januari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: