Membersihkan Noda Diri

 

Seorang anak remaja, sepulang sekolah curhat kepada ibunya. Sambil makan siang terjadilah dialog antara anak dan ibunya.

 

Sang Anak: Bu, sekali-sekali aku merasa sedih, frustrasi. Kadang, seperti tadi di sekolah, aku disalahkan dan dipojokkan teman-teman atas kesalahan yang sebetulnya bukan hanya kesalahanku saja. Aku mencoba sabar. Guru pun kadang-kadang keliru memarahi muridnya yang bersalah, aku pernah jadi kambing hitam, mau protes tidak berani. Aku ingat kata ibu, mekanisme alam itu sangat cermat. Kesalahan yang pernah kita lakukan akan mendatangkan akibat kemudian. Penderitaan yang kita terima adalah akibat perbuatan kita sendiri di masa lalu. Sehingga aku tetap bersabar dan kulalui juga susah dan senang yang silih berganti.

 

Sang Ibu: Nak, kamu sudah lebih maju dibanding ibu. Baru setelah tua dan bertemu Guru ibu dan ayahmu mengerti hukum karma. Kamu masih muda sudah mengertinya.

 

Sang Anak: Terima kasih Bu, tetapi kalau demikian kita yang hidup di dunia ini membuktikan bahwa kita melakukan kesalahan di masa lalu dan sekarang menjalani masa hukuman? Bukankah demikian? Orang yang membanggakan diri dan merasa suci sebenarnya belum suci. Kalau sudah suci tidak perlu lahir lagi di dunia?

 

Sang Ibu: Nak, kamu pernah membersihkan lantai keramik yang kena noda kan? Kita membersihkannya dengan cairan kimia yang keras dan sikat yang kasar. Apabila lantai bisa bicara, mungkin ia akan mengeluh, “Aduh-aduh sakit, pelan-pelan dong”. Tetapi lihat hasilnya, lantai bisa bersih dari noda. Pikiran-pikiran liar, emosi-emosi terpendam mengotori jiwa kita. Tuhan adalah sang pembersih. Allah Maha Membersihkan, Memurnikan, Menjernihkan. Untuk membersihkan noda-noda jiwa kita, kadang-kadang Tuhan menggunakan cairan kimia keras penderitaan.

 

Sang Anak: Maksud ibu, penderitaan yang kita alami merupakan proses pencucian jiwa kita?

 

Sang Ibu: Guru berkata, Dunia lebih cocok disebut Pusat Rehabilitasi. Programnya disesuaikan agar setiap jiwa menjalani program pembersihan dan pengembangan. Kelahiran di lingkungan tertentu, orangtua, saudara , negara pun bukan tanpa rencana. Sahabat dan musuh juga ada alasannya. Rintangan, tantangan, kesulitan dan persoalan

dimaksudkan demi pembersihan dan pengembangan jiwa. Menyalahkan orang lain, mencari kesalahan, mengeluh dan kecewa berlebihan berarti kita belum menyadari program dari Keberadaan.

 

Sang Anak: Terima kasih Bu, semoga pemahaman ini memberi semangat kepadaku selagi aku merasa menderita. Sebelum bertemu Guru, ibu dan ayah adalah Guruku.

 

Triwidodo

Februari 2008.

Iklan

Tukarkanlah Semua dengan Mutiara

 

Kerajaan Allah bagaikan seorang pedagang bijaksana

Menjual semua dagangannya

Ditukar dengan sebutir mutiara

Mencari sesuatu yang lebih berharga

Yang bisa bertahan lama

Tidak dimakan kutu dan serangga

 

Guru menganjurkan pengalihan kesadaran segera

Sekarang pun kita sadar juga

Hanya saja kesadaran yang sedang mengalir ke bawah

Aliran kesadaran ini harus diubah

Sebelum habis dan musnah

Dari menuju bawah aliran diganti

Mengarah ke atas sepenuh hati

Dari kesadaran hewani masuk ke kesadaran insani

Dari kesadaran insani menuju kesadaran Ilahi

 

Proses penukaran harus segera dilakukan

Kesadaran bisa hilang lenyap dirampas keduniawian

Dunia ini tidak abadi

Tukarkan dengan Kebahagiaan Sejati

Kesadaran Murni yang Abadi

 

Triwidodo

Februari 2008.

Majikan, Pelayan dan Tamu-Tamu Undangan

 

 

Seorang tuan rumah sedang menunggu kedatangan para tamunya. Ia telah mempersiapkan makan malam. Lalu Ia menyuruh pembantunya untuk menjemput para Tamu Undangan. Si Pembantu mendatangi orang pertama.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda.

Orang Pertama: Tetapi, aku harus menemui beberapa pedagang malam ini. Sampaikan penyesalanku kepada Majikanmu bahwa aku tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Si Pembantu pergi dan mendatangi mendatangi orang kedua.

 

Pembantu: Majikanku menyuruh aku untuk menjemput Anda.

 

Orang Kedua: Aku baru saja membeli rumah, dan hari ini sangat sibuk. Aku tak punya waktu.

 

Selanjutnya Pembantu itu mendatangi orang ketiga.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda untuk datang ke pestanya.

 

Orang Ketiga: Seorang temanku akan nikah dan aku harus membantunya. Tolong sampaikan kepada majikanmu bahwa aku tidak bisa hadir.

 

Kemudian Pembantu itu mendatangi orang keempat.

 

Pembantu: Aku disuruh Majikanku mengundang Anda datang ke pestanya.

 

Orang Keempat: Aku baru saja membeli properti, dan harus menagih sewanya. Tolong sampaikan kepada Majikanmu bahwa saya tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Akhirnya Pembantu itu kembali ke rumah Majikannya.

 

Pembantu: Mereka yang Tuanku undang tidak akan hadir. Mereka memberi berbagai alasan.

 

Majikan: Pergilah ke jalan raya dan undanglah siapa pun yang kau temui. Ajak untuk makan malam.

 

Guru menulis dalam bukunya, Demikian Sabda Gusti Yesus kepada murid-muridnya dalam salah satu kisah di Injil Thomas. Kita menolak undangan Allah yang disampaikan lewat Yesus, lewat Muhammad, lewat Siddharta, lewat Zarathustra, lewat Krishna, lewat Lao Tze. Kita menolaknya karena kita memiliki kesibukan lain. Kesibukan duniawi tidak akan pernah terselesaikan.

Setiap kali, seorang Master selalu berusaha untuk mencari mereka yang dianggapnya layak dan cukup matang, tetapi justru mereka ini menolak undangannya. Lalu tidak ada jalan lain kecuali mengundang setiap orang yang ditemuinya di jalanan. Di antara mereka, mungkin ada satu-dua orang yang matang, yang layak untuk sesuatu yang lebih berharga. Mari kita semua mengadakan introspeksi dan mengucapkan puji syukur terhadap Guru kita.

 

Triwidodo

Februari 2008.

Berbahagialah Mereka Yang Hatinya Disakiti

 

Terbaca dalam Layang Jayabaya

Ketika janin mendekati sembilan bulan umurnya

Gusti membuat rasa,

Didalam budi ada intelegensia

Didalam intelegensia ada nurani atau rasa

Didalam rasa ada sukma

Di dalam sukma Gusti berada

 

Pikiran dikendalikan oleh rasa

Pikiran liar dijinakkan oleh rasa

Tetapi hati yang merupakan sumbernya rasa

Apabila disakiti, siapa yang dapat mengobatinya

Hanya kesadaran yang dapat mengobati hati

Dan, Gusti, Keberadaan adalah Kesadaran Murni

 

Gusti Yesus telah bertitah

Mereka yang disakiti hatinya berbahagialah

Karena sesungguhnya merekalah yang mengenali Allah

 

Berulang-ulang Guru mengatakan

Banyak jalan satu tujuan

Menuju Kesadaran murni atau Keberadaan

Beragama telah tahunan

Belum juga mengenali Keberadaan

Setelah hati berkali-kali disakiti

Setelah babak belur berulang kali

Hanya kesadaran yang dapat mengobati

Dan, Gusti, Keberadaan adalah Kesadaran Murni

 

Triwidodo

Februari 2008.

Majikan, Pelayan dan Tamu-Tamu Undangan

 

Seorang tuan rumah sedang menunggu kedatangan para tamunya. Ia telah mempersiapkan makan malam. Lalu Ia menyuruh pembantunya untuk menjemput para Tamu Undangan. Si Pembantu mendatangi orang pertama.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda.

Orang Pertama: Tetapi, aku harus menemui beberapa pedagang malam ini. Sampaikan penyesalanku kepada Majikanmu bahwa aku tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Si Pembantu pergi dan mendatangi mendatangi orang kedua.

 

Pembantu: Majikanku menyuruh aku untuk menjemput Anda.

 

Orang Kedua: Aku baru saja membeli rumah, dan hari ini sangat sibuk. Aku tak punya waktu.

 

Selanjutnya Pembantu itu mendatangi orang ketiga.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda untuk datang ke pestanya.

 

Orang Ketiga: Seorang temanku akan nikah dan aku harus membantunya. Tolong sampaikan kepada majikanmu bahwa aku tidak bisa hadir.

 

Kemudian Pembantu itu mendatangi orang keempat.

 

Pembantu: Aku disuruh Majikanku mengundang Anda datang ke pestanya.

 

Orang Keempat: Aku baru saja membeli properti, dan harus menagih sewanya. Tolong sampaikan kepada Majikanmu bahwa saya tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Akhirnya Pembantu itu kembali ke rumah Majikannya.

 

Pembantu: Mereka yang Tuanku undang tidak akan hadir. Mereka memberi berbagai alasan.

 

Majikan: Pergilah ke jalan raya dan undanglah siapa pun yang kau temui. Ajak untuk makan malam.

 

Guru menulis dalam bukunya, Demikian Sabda Gusti Yesus kepada murid-muridnya dalam salah satu kisah di Injil Thomas. Kita menolak undangan Allah yang disampaikan lewat Yesus, lewat Muhammad, lewat Siddharta, lewat Zarathustra, lewat Krishna, lewat Lao Tze. Kita menolaknya karena kita memiliki kesibukan lain. Kesibukan duniawi tidak akan pernah terselesaikan.

Setiap kali, seorang Master selalu berusaha untuk mencari mereka yang dianggapnya layak dan cukup matang, tetapi justru mereka ini menolak undangannya. Lalu tidak ada jalan lain kecuali mengundang setiap orang yang ditemuinya di jalanan. Di antara mereka, mungkin ada satu-dua orang yang matang, yang layak untuk sesuatu yang lebih berharga. Mari kita semua mengadakan introspeksi dan mengucapkan puji syukur terhadap Guru kita.

 

Triwidodo

Februari 2008.

Tuan Tanah dan Para Petani Penyewa

 

Kalian yang memiliki sepasang telinga hendaknya mendengarkan kisah ini

Demikian Gusti Yesus selalu memulai kisahnya

Demikian Guru menulis dalam bukunya

Tentang salah satu kisah berharga

Dari Injil Thomas, kisah ini bermula

 

Seorang Tuan Tanah menyewakan kebun anggurnya

Para petani bercocok tanam dan membayar dengan hasil panennya

Seorang Hamba diutus untuk mengambil apa yang menjadi haknya

Para petani malah beramai-ramai menganiaya

Dalam keadaan sekarat, Sang Hamba pulang ke rumah dan lapor kepada Majikannya

Kamu mungkin tidak dikenali mereka

Dikirimlah seorang Hamba lainnya

Dia pun mendapat perlakuan sama

Lalu Ia mengutus anak-Nya

Mereka mesti menghormati Sang Putra

Para petani mengenali dia dari ciri-ciri yang dipunyainya

Tetapi, nasib sama menimpa anak-Nya

Mereka malah membunuh dia

 

Guru berkata,

Gusti Yesus bicara tentang dirinya

Setiap Master selalu bicara dari pengalaman pribadinya

Orang yang sibuk mengutip ayat-ayat suci

Esensi agama masih jauh dari diri.

Gusti Yesus tahu persis apa yang dapat terjadi terhadap diri pribadi

Kendati demikian ia tidak akan berkompromi

Kebenaran tidak akan ditutup-tutupi

Ia menyampaikan dengan cara dia sendiri

 

Triwidodo

Februari 2008.

Keteladanan Anak Kecil

 

Seorang Ayah dan anaknya memperhatikan kepolosan adiknya yang masih kecil. Dia tidak malu pakaiannya dilepas dan dimasukkan kedalam ember berisi air hangat. Semua orang akan berbahagia melihat si adik kecil begitu ceria dimandikan Ibunya. Kesempatan itu dimanfaatkan Sang Ayah menasehati anaknya.

 

Sang Ayah: Tidak salah kan, Gusti Yesus meminta kita meneladani kepolosan anak kecil?

 

Sang Anak: Betul Yah, kepolosan anak kecil mengundang kebahagiaan semua orang yang melihatnya. Alangkah bahagianya apabila semua orang dapat ceria begitu bertemu kita.

 

Sang Ayah: Apabila kamu sanggup menelanjangi diri sendiri dan menginjak-injak pakaianmu seperti yang dilakukan adikmu, maka kamu akan melihat-Nya dan kamu tidak takut, tidak malu lagi. Begitu tulisan Guruku dalam salah satu bukunya.

 

Sang Anak: Malu dong Yah, masa sudah besar melepaskan sendiri pakaian di depan orang lain, kita mungkin dianggap sudah agak miring.

 

Sang Ayah: Bukan telanjang yang tersurat, tetapi yang tersirat. Sanggupkah manusia melepaskan arogansi, keangkuhan, jabatan, kekayaan dan ketenaran serta menginjak-injaknya? Berdiri telanjang di tengah dunia?

 

Sang Anak: Sangat sulit Yah, ego kita melarang kita melepaskan atribut-atribut yang telah diberikan kepada kita.

 

Sang Ayah: Sanggupkah kita melepaskan conditioning yang melekat pada diri kita? Conditioning pertama, yang melekat pada diri kita sebagai sifat bawaan kita yang merupakan obsesi-obsesi kita di kehidupan sebelumnya. Conditioning kedua, yang melekat karena obsesi-obsesi kita di kehidupan ini. Conditioning ketiga, aturan, dogma yang diberikan masyarakat kepada kita.

 

Sang Anak: Mohon bimbingan Ayah, tidak mudah menjadi anak kecil yang polos.

 

Sang Ayah: Mulailah dengan niat yang mantap untuk meniti ke dalam diri, bersikaplah terbuka terhadap kebenaran baru, akan datang mekanisme alam untuk memandumu. Guru pun akan mendatangimu.

 

Triwidodo

Februari 2008.