Asu Rebutan Balung, Anjing Berebut Tulang


 

Jalan-jalan

Pagi, siang dan sore jalan-jalan

Melihat sekelompok anjing berebut tulang

Yang terkuat yang menang

Tulang digigit dibawa pulang

Jalan tengadah dada membusung, akulah Sang Pemenang

Pemenang baginya

Bagi kita manusia?

Cakar-cakaran demi sepotong tulang? Pantaskah mereka?

 

Manusia pun berebut duniawi

Saling jegal, saling jebak berebut yang tak abadi

Yang menang, memamerkan keberhasilan diri

Jalan tengadah, dada membusung, akulah Sang Pemenang

Pemenang baginya

Bagi para Wali? Bagi para Santo,Santa, Yogi dan Buddha yang suci?

Cakar-cakaran demi duniawi? Pantaskah kami?

 

Kalau hanya demi makan, minum, seks dan kenyamanan

Bukankah mirip dengan hewan?

Potensi kasih dalam diri belum terungkapkan

Padahal itulah yang membedakan

 

Asu rebutan balung, anjing berebut tulang

Manusia melihat dirinya sendiri di sana

Haruskah ikuti mereka?

Lupakan kasih di dalam dada?

 

Triwidodo

Februari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: