5 Steps to Awareness, 40 Kebiasaan Orang yang Tercerahkan

Judul                : 5 Steps to Awareness, 40 Kebiasaan Orang yang Tercerahkan

Pengarang       : Anand Krishna

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : 2006

Tebal               : 162 halaman 

Mutiara Quotation 5 Steps Awareness 

Segala pengetahuan yang kami peroleh lewat Guru kami, Shivasoma berasal dari Guru Besar Bhagavan Shankara yang selalu dikerumuni oleh para pencari Kebenaran (Indravarman – Raja Sriwijaya, terjemahan bebas salah satu prasasti abad ketujuh atau delapan Masehi, ditemukan di Kambodia). 

Keinginan kita untuk masuk surga membuktikan bahwa kita tidak puas dengan keadaan kita sekarang. Barangkali, kita menganggap diri kita berada dalam neraka. Kita menginginkan perubahan. Baik, bila perubahan mendasar seperti itu yang kita kehendaki, kita inginkan, mari kita mati terlebih dahulu. Lepaskan segala yang lama. Bebaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat diri kita dengan masa lalu. Maka, saat itu pula terjadilah perubahan yang kita inginkan, kita dambakan, kita kehendaki. 

Bila kita menginginkan sesuatu yang baru, yang lama sudah harus dilepaskan. Tidak bisa tidak. Pelepasan inilah kematian. Siapkah Anda untuk melepaskan yang lama? Siapkah Anda untuk mati? Bila jawabannya ya, kata-kata akhir Shankara, Sang Mahaguru, yang dirangkum dalam Sadhana Panchakam ini memang dimaksudkan untuk Anda.  

LANGKAH PERTAMA 

1. Pelajarilah Veda setiap hari

Veda berarti pengetahuan, pengetahuan yang senantiasa berkembang, pengetahuan yang maju dan memajukan. Pengetahuan yang tidak kaku, tidak baku, pengetahuan yang tidak mengerdilkan jiwa. Mempelajari Veda berarti mempelajari diri, mempelajari potensi diri, kemampuan diri, melakukan instrospeksi diri dan evaluasi diri. Berbeda dengan pemahaman umum, Veda bukanlah sekadar kumpulan buku-buku yang disucikan oleh kalangan tertentu. Veda adalah kesucian itu sendiri, yang pengetahuan tentangnya kemudian dibukukan. Pengetahuan tentang diri itulah Veda. Itulah pengetahuan sejati. Itulah kesucian.Mempelajari Veda dan berbagai Kitab Suci, bila tanpa menyelam ke dalam diri, hanya memberi kita kesibukan baru. Pikiran dan intelek terhibur. Pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ditindaklanjuti dengan praktek, dengan laku. 

2. Laksanakan dengan baik apa saja yang dianjurkan olehnya

Ada dua hal yang penting dalam ayat ini.Pertama, bertindaklah sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh Veda, oleh pengetahuan sejati yang berasal dari dalam diri. Ikutilah suara hatimu.Kedua, laksanakan dengan baik. Tidak cukup menjaga kesucian setiap tindakan. Tidak cukup pula memastikan kebaikan setiap tindakan. Setiap tindakan yang baik dan suci pun masih harus dilaksanakan dengan baik. 

3. Jadikan setiap tindakan sebagai persembahan kepada Yang Maha Kuasa

Dari pagi hingga malam, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, sejak membuka mata, hingga memejamkannya, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, hingga kegiatan-kegiatan besar dan penting, lakukan itu sebagai persembahan. Bukan hanya makanan dan minuman, tetapi bacaan, pikiran, perasaan … persembahkan semuanya kepada Dia … namun, sebelumnya bertanyalah kepada diri sendiri. Patutkah kupersembahkan semua itu kepada-Nya? Persembahkan apa yang Anda miliki, termasuk segala kebencian yang selama ini bersarang di dalam hati. Ya Allah, hanyalah ini yang kumiliki… berkenanlah untuk menerima. Dan, Anda akan kaget sendiri bahwa dalam kejujuran itu kebencian Anda seketika berubah menjadi cinta. Aksi bom bunuh diri bukanlah persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Para pembom melakukannya demi surga, demi mati syahid, demi para provokator yang meracuni otak mereka. 

4. Bebaskan pikiranmu dari segala macam keinginan

bukan saja keinginan untuk mendapatkan sesuatu di dunia, keinginan untuk mendapatkan surga, mati syahid, untuk menemukan Tuhan pun masih keinginan. Keinginan untuk menemukan Tuhan justru menghilangkan Tuhan dari hidup kita, karena kita tidak dapat menemukan sesuatu yang tidak hilang. Persembahan haruslah tanpa pamrih. Ibadah haruslah untuk memuliakan-Nya. Sujud semata-mata karena terpesona oleh Kebesaran-Nya.Berkaryalah dengan penuh semangat, dan yakinilah kebijakan-Nya. Ker5aguan kita, kebimbangan kita adalah dosa terbesar. Itulah kesalahan terbesar. Karena dalam keraguan itu kita menyangsikan kebijakan-Nya. Karena dalam kebimbangan itu kita tidak percaya pada ketentuan-Nya bagi kita. 

5. Bersihkan dirimu dari segala macam dosa

Dosa berarti kesalahan, kekhilafan. Biasanya jiwa yang ragu dan khilaf adalah jiwa yang kehilangan arah, maka tindakannya sudah pasti salah. Kekacauan pikiran menyebabkan tindakan yang salah, keliru dan tidak pada tempatnya. Dunia ini ibarat pusat rehabilitasi, dimana setiap jiwa sedang mengalami program pembersihan, pelurusan, atau apa saja sebutannya. Keberadaan kita di dunia ini semata untuk menjalani program yang paling cocok bagi pembersihan dan pengembangan jiwa. Kecocokan program pun sudah dipastikan oleh Keberadaan dengan melahirkan kita dalam keluarga tertentu, di negara tertentu, ditambah dengan berbagai kemudahan lainnya, termasuk lingkungan kita, para sahabat, anggota keluarga dan kerabat kita, maupun lawan atau musuh kita. Berbagai rintangan, tantangan, kesulitan, dan persoalan yang kita hadapi dimaksudkan demi pembersihan jiwa dan pengembangan jiwa kita sendiri, karena itu, mencari kesalahan dan menyalahkan orang lain atas kejadian-kejadian yang menimpa diri kita adalah dosa. Silahkan berupaya untuk keluar dari masalah, untuk menyelesaikan perkara, tetapi bukan dengan mencari kambing hitam, bukan dengan cara menyalahkan orang lain. Membersihkan diri dari segala macam dosa berarti membebaskan diri dari segala yang membebani jiwa; beban pahala, maupun beban dosa itu sendiri. 

6. Ketahuilah bahwa segala kenikmatan yang kau peroleh lewat indramu diselimuti oleh duka

Mempercayai kenikmatan yang kita peroleh lewat indra, dan menganggap bahwa kenikmatan itu menghasilkan suka adalah kesalahan atau kesalahpahaman kita. Kenikmatan yang diperoleh indra adalah hasil interaksi kita dengan hal-hal di luar diri, dengan pemicu luaran. Tanpa pemicu tidak ada kenikmatan. Kenikmatan lewat panca indra tidak mungkin bertahan lama. Sesaat ada, sesaat lagi tidak ada. Saat ini suka, sesaat kemudian duka; bahagia dan sengsara. Demikianlah satu pengalaman menggantikan pengalaman yang lain. Inilah samsaara, pengulangan yang tak berkesudahan. Kata sengsara dalam bahasa kita berasal dari samsara, pengulangan yang menjenuhkan, membosankan, menyengsarakan. 

7. Temukan Diri-mu dengan upaya sungguh-sungguh

Inilah jihad sesungguhnya: jihad untuk mempertemukan kita dengan diri sendiri. Inilah yang mendatangkan kebahagiaan, karena mempertemukan kita dengan Sumber Segala Kebahagiaan di dalam diri kita; kebahagiaan yang tidak membutuhkan pemicu-pemicu dari luar; kebahagiaan yang kekal abadi, sekekal diri kita seabadi jiwa kita. Kebahagiaan itulah jati diri kita. Itulah sifat dasar kita.Apa yang disebut jati diri sesungguhnya bukanlah jati dirimu atau jati diriku, tetapi hanya jati diri. Jati diri adalah esensi kehidupan. Titik awal dan titik akhir kehidupan. Dua tetapi satu, karena kehidupan melingkar.. dan titik darimana ia berawal juga menjadi titik dimana ia berakhir untuk memulai kembali perjalanannya. Kita memperoleh kesan bahwa jarak antara titik awal dan sekaligus titik akhir itu merupakan lingkaran kehidupan yang sangat luas, padahal keluasan itu hanyalah ilusi. Keluasan itu hanyalah ciptaan satu titik. Dalam satu titik pula kita bertemu.Saya bertemu dengan Anda; Anda bertemu dengan saya. Kita semua bertemu dengan semua. Kendati demikian, sesungguhnya pertemuan itu pun sekedar ilusi, karena kita tidakpernah berpisah. Kita dipersatukan oleh titik awal sekaligus titik akhir itu. Titik yang sama mempersatukan kita dengan jagat raya. Marilah bersungguh-sungguh, karena kita membutuhkan energi luar biasa untuk menemukan kembali apa yang sesungguhnya tidak pernah hilang itu. Karena kehilangan itu terjadi dalam pikiran kita. Kehilangan itu adalah ilusi pikiran kita. Untuk menemukan kembali apa yang terasa hilang itu, kita harus menaklukkan perasaan kita sendiri. Kita harus mengoreksi sendiri pikiran kita.

Berupayalah dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten. Jangan menyerah dalam perjalanan. Lanjutkan perjalanan Anda, pencarian Anda, perjuangan Anda. Apa yang Anda rasakan sebagai kegagalan hanyalah sebuah pengalaman saat Anda berhenti sebentar. Anda tidak bisa gagal karena Anda tidak bisa berhenti lama-lama. Roda Sang Kala berputar terus. Anda tidak bisa berhenti. Pemberhentian Anda pun hanyalah sebuah ilusi. 

8. Jangan diperbudak oleh keterikatanmu

Janganlah berhenti mengalir. Mengalirlah terus, berjalanlah terus, berkaryalah terus, janganlah engkau duduk diam.Janganlah terikat dengan dunia benda, dengan timbunan harta yang telah Anda kumpulkan, dengan kawan dan lawan, dengan keluarga dan kerabat. Gunakan apa yang telah diberikan kepada Anda tanpa keterikatan. Cintai keluarga Anda tanpa keterikatan. Hadapilah musuh-musuh Anda tanpa rasa benci, karena kebencian pun merupakan salah satu bentuk keterikatan. Kebencian pun dapat memperbudak dan melemahkan jiwa. 

Pengetahuan Sejati Tat Tvam Asi: Itulah Kau

Shvetaketu, berbagai cabang ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Ia yang tak terdengar? Mersakan Ia yang melampaui segala macam rasa? Dan, mengetahui Ia yang berada di atas segala macam pengetahuan? Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai?Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau. Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama dan sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat. Contoh lain, emas. Kita menggunakannya untuk membuat berbagai macam perhiasan. Setiap perhiasan beda bentuknya, beda pula sebutannya,namun bahan bakunya tetap satu dan sama. Beda rupa dan nama adalah pemberian manusia; buatan kita. Nama dan rupa berasal dari manusia. Bahan baku bersifat alami. Nama dan rupa berbeda dan dapat berubah. Bahan bakunya tetap sama, tidak ikut berubah.Shvetaketu, janganlah kau terjebak oleh lembaran kitab. Pengetahuan yang kau peroleh dari kitab hanyalah satu sisi dari dari Pengetahuan Sejati. Keseluruhannya hanya untuk menyadarkan dirimu bahwa masih ada yang jauh lebih tinggi, lebih penting, lebih mulia. Sesuatu yang tak tertuliskan, tak terjelaskan lewat kata-kata. Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat yang Satu itu. Segala sesuatu dalam alam ini berasal dari Yang Satu Itu.Untuk memahaminya, pelajarilah dirimu. Shvetaketu, gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Tvam Asi – Itulah Kau. Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu!

LANGKAH KEDUA 

9. Bersahabatlah dengan Para Bijak

Seperti ayat-ayat lain, ayat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang sedang menjalani pelatihan rohani. Bukan mereka yang merasa sudah menjalaninya. Bukan mereka yang sudah menganggap dirinya sudah cukup bijak. Ayat -ayat ini dimaksudkan bagi mereka yang btidak angkuh, yang siap menundukkan kepala, dan mau belajar.Setiap orang yang emosinya tidak bergejolak. Setiap orang yang dapat berpikir dengan jernih dan tidak terbawa amarah, setiap orang yang bertindak sesuai dengan kesadarannya, bukan karena hasutan orang, bukan , bukan karena dipengaruhi orang. Selain itu seorang bijak adalah setiap orang yang dapat mendengarkan suara hatinya. Setiap orang yang dapat membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.Bersahabatlah dengan para bijak, karena hanya mereka yang dapat membangkitkan semangat untuk mengabdi dan berbhakti. 

10. Mengabdilah selalu pada Yang Mahamemiliki

Janganlah engkau goyah dari imanmu itu, dari pengabdianmu itu,,, Dari Iman pada Pengabdian itu sendiri! Seorang pelayan boleh goyah. Seorang pembantu tidak perlu beriman. Tetapi seorang pengabdi yang telah menyerahkan dirinya haruslah beriman. Kita bisa beragama tanpa beriman, namun untuk melakoni agama, kita harus beriman. Sekian banyak orang tanpa iman mengaku diri mereka beragama. Masyarakat menerima pengakuan mereka, lembaga-lembaga terkait, bahkan instansi pemerintahpun mengakui mereka beragama, namun laku mereka bertentangan dengan ajaran agama. Mereka bukanlah pengabdi. 

11. Kembangkan nilai-nilai luhur seperti kedamaian dan lain-lain

Shankara memberikan ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang, dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat bekerja dengan damai, dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya.Jiwa yang damai adalah jiwa yang telah bersentuhan dengan Kebenaran, dengan Kasih, dengan Yang Maha Bajik dan Bijak. Kepercayaan Shankara pada kedamaian sungguh luar biasa. Ia melihatnya sebagai lahan basah dan subur dimana tumbuh-tumbuhan air akan tumbuh sendiri. Tidak ada sesuatu yang mesti dilakukan lagi. Just sit and watch it grow, duduk dan saksikan pertumbuhan nilai-nilai luhur di dalam diri. Syaratnya hanya satu: pastikan bahwa lahan jiwa kita basah. Hati kita berlembab karena damai, karena kedamaian. 

12. Hindari segala kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu

Janganlah memboroskan energi dengan memikirkan hasil akhir. Pusatkan seluruh kesadaran pada apa yang sedang kita lakukan, pada karya itu sendiri, maka hasilnya sudah pasti baik.Seorang pengabdi tidak pernah memikirkan hasil akhir. Ia sudah puas dengan kesempatan untuk mengabdi yang diperolehnya. Seorang anak kecil perlu diming-imingi dengan hadiah dan gula-gula supaya ia menyelesaikan pekerjaan rumah. Seorang dewasa tidak membutuhkan iming-iming seperti itu. Ia melakukan tugasnya, ia menunaikan kewajibannya atas kesadaran sendiri.Seorang saadhaka, seorang true seeker, pencari sejati tidak membutuhkan iming-iming surga dan gula-gula peri berdada telanjang untuk meneruskan pencariannya. Ia sudah puas dengan kenikmatan yang diperolehnya dari pencarian itu sendiri. 

13. Berlindunglah pada seorang Guru Sejati

Berlindunglah sebagaimana Anda berlindung di bawah pohon yang lebat dari hujan gerimis dan terik matahari. Berlindunglah sebagaimana Anda berlindung di dalam rumah dari badai di luar. Kita semua mencari perlindungan dari seorang Guru bila evolusi batin kita terancam berhenti. Menurut Imam Besar Al-Ghazali, dengan berlindung pada seorang Rasul, kita sedang membudidayakan kelahiran Rasul di dalam diri manusia. 

14. Layani Teratai Kaki-Nya setiap hari

Kaki Guru diibaratkan sebagai bunga teratai. Seorang Guru tidak tercemar oleh lumpur dunia di sekitarnya. Ia tumbuh dari lumpur, tetapi tidak berlumpur. Ia berada dalm dunia, tetapi keduniawian tidak menyentuhnya. Berhadapan dengan seorang Guru, saya memang kecil. Saya harus di bawahnya, supaya aliran kebijakan serta kasihnya dapat menyirami saya. Berlindunglah pada seorang Guru Sejati dan melayaninya siang dan malam, supaya kita makin dekat dengan Zat Yang Maha agung Itu. 

15. Bersembahlah kepada OM yang Kekal Abadi

Om adalah sebuah kata generik, sebuah formula, rumusan seperti H2O. Anda boleh menyebutnya air, water, tirta, banyu – apa saja tidak menjadi soal. Perbedaan nama tidak mengubah zatnya. Bahkan sebenarnya Om bukanlah sebuah kata, tetapi sebuah Suara; Suara abadi, Getaran-Getaran Ilahi yang mengelilingi semesta dan menyelimutinya. Om berada dan di luar dan di dalam diri kita, namun aku yang kecil ini hanya bisa berada di dalam-Nya. Saat kita sadar akan Keberadaan kita di dalam-Nya, kita menyatu dengan-Nya. Saat itu, kita adalah Om… Kita dapat memahami hal ini; kita dapat menyatu dengan-Nya, namun kita tak mampu menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Saat itu waktu terlampaui, kata Isa, Sang Masiha. Waktu itu terjadilah Mi’raj bagi nabi Muhammad. Waktu itu Siddharta berubah menjadi Buddha, dan Lao Tze menemukan Tao. 

16. Dengarkanlah dengan baik pernyataan-pernyataan Upanishad

Kitab-kitab yang biasa disebut Upanishad, belasan dari ratusan yang pernah ada, merupakan hasil dari upanishad. Upanishad berarti duduk bersama. Duduk bersama mereka yang telah melihat, telah menyaksikan kebenaran. Pernyataan Upanishad berarti Pernyataan mereka yang telah menyaksikan Kebenaran. Mereka yang telah menyaksikan Kebenaran disebut Rishi – Ia yang telah melihat.  

Bersama para Dewa, Manusia, dan Raksasa: Jagalah Pergaulanmu!

Suara pertama diterjemahkan para Dewa sebagai dam atau Pengendalian Diri. Dewa atau Malaikat tercipta dari Cahaya atau Nur. Mereka dalam pandangan manusia Hindia zaman dahulu, berasal dari siklus penciptaan sebelumnya. Sang Keberadaan mengangkat mereka untuk tugas-tugas tertentu. Mereka ibarat para menteri. Antara lain, mereka juga bertugas untuk menuntun dan mengarahkan para pejalan, para pencari. Sesungguhnya bagi setiap orang yang berkuasa dan sedang menikmati kekuasaan, kekayaan, kedudukan serta ketenarannya harus belajar mengendalikan diri. Namun lain dewa, lain manusia. Ia menerjemahkan suara itu sebagai datta – memberi. Dengan cara memberi dan berbagi, manusia belajar untuk tidak menjadi egois, tidak hanya mementingkan diri. Kesimpulan para raksasa atau danawa lain lagi: dayaa – kasihanilah, kasihilah. Tumbuh kembangkanlah nilai yang satu ini di dalam diri. Kalian memang kuat, penuh tenaga, namun janganlah menggunakan kekuatan dan tenaga itu untuk mencelakakan makhluk lain.Dulu, kita masih bisa memilih: mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam setiap insan. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur dam, datta, dan dayaa, pengendalian diri, membari atau berbagi, dan mengasihani. Bila bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu-nafsu rendahan, senang memberi atau berbagi, dan mengasihi tanpa memandang bulu, ciumlah tangan dia. Bertekuk-lututlah kehadapannya. Ia adalah Insan Kaamil, Manusia Sempurna.  

LANGKAH KETIGA 

17. Senantiasa renungkanlah makna dan pernyataan tersebut

Kalau kita simpulkan pembelajaran kita sampai di sini, inilah langkah praktis yang harus kita tempuh. Pertama: Temukan mereka yang telah menyaksikan-Nya.Kedua: Duduk bersama mereka, dengarkanlah pengalaman mereka.Ketiga: Hayati, renungkan makna dari apa yang telah kau dengarkan.Merenungkannya sesekali saja tidak cukup. Kita dituntut untuk merenungkannya setiap saat, senantiasa. Pikiran kita, perasaan kita suka jalan-jalan. Bila tidak diberi pekerjaan, mereka akan melakukan apa saja. Senantiasa renungkanlah makna dari pernyataan-pernyataan tersebut supaya otak dan hati kita tersibukkan olehnya. Supaya mereka tidak berkeliaran.Renungan pertama: Aku telah menyaksikan Kebenaran Yang Satu Itu!Renungan kedua: Tiada suatu pun Kebenaran di luar-Nya.Renungan ketiga: Kebenaran itu pula yang meliputi alam semesta.  

18. Berlindunglah pada Kebenaran Yang Satu Itu

Setiap kali bersujiud, bila kita masih menganggap bahwa Dia yang kita sujudi lain dari Dia yang mereka sujudi, aku belum menyaksikan Kebenaran. Kita masih terjebak dalam bayang-bayang-Nya. Kita masih hidup dalam maya, dalam hijab, dalam ilusi. Selaput ketidaktahuan masih menghalangi penglihatan kita. 

19. Hindarilah perdebatan yang tidak berguna

Untuk apa berdebat dengan mereka yang tidak mau tahu? Bila seseorang belum tahu, tidak tahu, dengan senang hati ia akan mendengarkan ulasan Anda. Sedangkan bila orang tidak mau tahu, ulasan Anda hanya akan mengundang perdebatan. Janganlah menyia-nyiakan tenaga untuk berdebat. Besok belum tentu kita memiliki tenaga yang sama seperti hari ini. Tenaga prana atau life force bagaikan tabungan, bekal yang kita peroleh dari Keberadaan. Beriritlah dalam penggunaannya. Janganlah memboroskan energi yang sangat berguna itu.

20. Ikuti petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi

Shruti berarti Yang Terdengar. Shruti yang dijelaskan lewat kata-kata sangat bergantung pada kemampuan berkata-kata Sang Penerima, Sang Pendengar. Bila kita terpaku pada kata-kata yang sudah tertulis, esensi Shruti itu sendiri hilang. Kita sudah tidak memiliki semangat untuk mendengarnya sendiri. Ikuti petunjuk Shruti yang mengajarkan diskriminasi, yaitu mengasah kemampuan kita untuk menentukan sendiri tindakan mana yangbtepat dan mana yang tidak tepat.  

21. Senantiasa beradalah dalam Kesadaran Ilahi

Sadarkah kita bahwa kita tidak berada di luar-Nya? Kita tidak bisa di luar-Nya. Kesadaran Ilahi meliputi keseluruhan diri kita. Aku berasal dari-Nya, dan aku akan kembali kepada-Nya. Kepercayaan itu membebaskan diri kita dari rasa takut terhadap neraka.  

22. Lepaskan Kesombongan

Apa yang kita sombongkan? TK adalah masa lalu kita juga. Sebagaimana universitas adalah masa depan mereka. Hanya beda waktu dan jarak. Apa yang perlu disombongkan? Penampilan, badan, pengetahuan, kedudukan, ketenaran – semuanya akan tertinggal di dunia ini.  

23. Bebaskan dirimu dari anggapan keliru badan inilah dirimu

Kita senang karena merasa berhasil dan menang. Kita sedih karena merasa gagal dan kalah. Siapa yang merasakan keberhasilan dan kegagalan? Panca indera kita. Apakah panca indra itu satu-satunya kebenaran diri kita? Adakah kebenaran lain yang lebih tinggi di balik panca indra yang kita miliki? Dimanakah kita sebelum kelahiran kita? Di mana pula kita nanti setelah kematian? Apakah kelahiran badan menandai kelahiran kita? Apakah kematian badan mematikan diri kita? 

24. Tinggalkan keinginan untuk berdebat dengan para bijak

Tindakan-tindakan kita memang salah semua, karena kita bertindak dengan kesadaran yang salah. Kesadaran kita masih terfokus pada badan. Badan adalah kendaraan yang diberikan kepada kita. Gunakanlah badan ini untuk mencapai tujuan. Sementara kita menganggap badan sebagi tujuan. Berbahagialah bila bertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasehat. Jangan membantahnya. 

Mempertahankan Kesadaran: Sulit, tapi Tidak Mustahil!

Awalnya, Keberadaan itulah yang ada. Unsur-unsur dasar dalam alam ini: tanah, air, api, angin, dan ruang kosong atau langit, semuanya berasal dari Keberadaan itu.

Dunia benda ini, segala yang terlihat maupun tak terlihat oleh mata, semuanya berasal dari Keberadaan. Dan, setiap kita btertidur – tertidur lelap tanpa mimpi – kita kembali menyatu dengan Keberadaan yang adalah Kebenaran Sejati dibalik segalanya, yang menjadi dasar bagi segalanya. Madu terbuat dari sari sekian banyak bunga… bunga-bunga yang berbeda warna, bentuk, dan nama. Sari setiap bunga ada di dalam madu, namun mereka tidak bisa berkata lagi, aku sari bunga mawar, aku sari bunga melati. Dalam keadaan tidur lelap tanpa mimpi, bagaikan sari setiap bunga, kita menyatu dengan Keberadaan. Saat itu, tidak ada lagi perbedaan antara jiwa yang menghuni manusia atau hewan. Saat terjaga, identitas badan kembali berperan. Identitas berdasarkan nama dan rupa kembali memisahkan manusia dari makhluk lain.Kita semua tanpa kecuali, setiap saat ke luar dari alam kesadaran murni Keberadaan dan memasukinya kembali, namun kita tidak menyadarinya. Persis seperti seorang pejalan kaki yang melewati jalan raya di mana terpendam harta karun di bawah jalan. Ia melintasi jalan itu tetapi tidak menyadari keberadaan harta karun itu. 

LANGKAH KEEMPAT 

25. Dalam keadaan lapar kau tersembuhkan dari berbagai penyakit

Puasa adalah satu-satunya cara untuk mengistirahatkan mekanisme tubuh kita. Khususnya mekanisme atau sistem pencernaan. Saat tidur pulas tanpa mimpi, kita terbebaskan dari pikiran. Demikian pula saat meditasi. Pada saat itu pun proses pencernaan tidak pernah berhenti. Badan butuh istirahat, dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan puasa. Energi yang dibutuhkan badan dan diperolehnya lewat makanan dan minuman, digunakan pula oleh otak untuk berpikir dan jiwa untuk merasakan sesuatu. Karena itu, saat badan berpuasa, pikiran dan perasaan pun ikut berpuasa. Saat berpuasa, tubuh memperoleh kesempatan untuk melakukan pembersihan dalam rumah. Ia mengeluarkan racun-racun yang tersimpan dalam rumahnya. Saat itu ia tidak terbebani oleh pekerjaan pencernaan, maka keseluruhan energinya dipusatkan untuk pembersihan.Masih ada empat indra lainnya yang suka makan dan minum dan membutuhkan puasa juga. Mendengar dengan teling. Melihat dengan mata. Mencium dengan hidung. Merasakan dengan kulit. Setiap indra yang melakukan kegiatan makan dan minum juga membutuhkan puasa. 

26. Makanlah setiap hari apa yang kau peroleh dengan mudah, dan anggaplah makanan sebagai obat

Yang dimaksud di sini adalah kemudahan alami. Sesuatu yang kita peroleh dengan mudah dari alam Indonesia menjadi obat bagi penyakit lapar kita, orang Indonesia. Anggaplah makanan yang Anda makan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit lapar.  

27. Janganlah kau meminta makanan yang lezat

Ketergantungan pada kelezatan menyengsarakan manusia. Ia menjadi kebiasaan yang sulit diatasi. Karena itu jangan lupa bahwa makanan sekedar obat untuk menyembuhkan penyakit lapar. Obat tidak perlu lezat. Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena keduanya itu adalah urusan badan. Bila kita tidak memahami hal itu, dan saat ajal tiba pun masih mengharapkan kelezatan dan kenikmatan, maka kita sudah pasti lahir kembali untuk mengharapkan kelezatan dan kenikmatan.Kendati demikian, tidak mengharapkan kenikmatan dan kelezatan juga tidak selalu menolak keduanya. Terimalah apa yang diberikan Keberadaan. Jangan mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, karena sesungguhnya harapan itulah yang menciptakan ketergantungan.

28. Puaslah dengan apa saja yang kau peroleh atas kehendak-Nya

Tidak mengharapkan kenikmatan dan kelezatan, tetapi menerima apa saja yang kita peroleh atas Kehendak-Nya – inilah esensi spiritualitas. Para teroris dan para agamawan sempit memang suka memaksakan kehendak. Mereka tidak memahami kedamaian dan kesejukan agama. Mereka mungkin rajin membungkuk, tetapi sesungguhnya belum bisa menundukkan ego.Beragam budaya dan adat istiadat dengan coraknya masing-masing adalah Kehendak-Nya. Semua itu tak akan bertahan bila tidak dihendaki-Nya.

29. Terimalah setiap pasangan pengalaman yang tampak bertentangan: panas-dingin dan lain sebagainya

Mahaguru Shankara mengajak kita untuk menerima setiap pengalaman seutuhnya. Suka tanpa duka tidak utuh. Panas tanpa dingin tidak utuh. Hitam tanpa putih tidak utuh. Penerimaan semacam itu membebaskan kita dari rasa kecewa, karena suka tidak bisa eksis tanpa duka. Tumpukan duka yang makin tinggi itulah yang kemudian runtuh dan menciptakan kelegaan, atau suka. Kemudian, bila suka pun menumpuk terus, kita menjadi jenuh dan mengalami duka.

30. Hindarilah pembicaraan yang tidak berguna

Pembicaraan yang tidak menunjang perkembangan jiwa tidak berguna. Bila pengulangan nama Tuhan pun kita lakukan secara mekanis, itu tidak berguna lagi. Pendekatan psikologis repetitif dan intensif perlu dan berguna. Pengulangan seperti itu bukanlah pembicaraan yang tak berguna. Justru kita perlu menyisihkan energi untuk pembicaraan berguna seperti itu.

31. Janganlah kau terikat

Jangan terikat dengan salah satu pengalaman. Jangan terikat dengan obyek-obyek tertentu yang memicu pengalaman itu, karena obyek-obyek itu bersifat sementara, tidak langgeng. Saat itu memang masih ada, sesaat kemudian belum tentu ada. Keterikatan kita pada pengalaman-pengalaman atau obyek-obyek itu hanya akan membawa penderitaan.

32. Lindungilah dirimu dari jala kebaikan orang lain

Ada yang sedang memancing dengan alat pemancing dan cacing sebagai umpan. Ada pula yang melemparkan jala kebaikan dan berusaha untuk menangkap kita. Kita harus menolak keduanya. Jala kebaikan tidak lebih baik daripada alat pemancing yang menggunakan cacing sebagai umpan. 

Dengan Semangat dan Ketekunan: Kesadaran Dapat Dipertahankan!

Kata kunci untuk mempertahankan kesadaran ialah kerja keras. Dan, untuk bekerja keras tentunya dibutuhkan semangat dan ketekunan. Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktifitas kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bermalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka. Hasil perbuatan mereka di masa lalu. Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah. Kehendak adalah will power bukan keinginan. Will power berarti keyakinan pada diri sendiri, pada kemampuan diri dan kesiapsediaan untuk berkarya atas dasar kemampuan itu.Kebahagiaan Sejati datang dari  sesuatu yang tak terbatas, sementara kenikmatan adalah hasil dari perbuatan terbatas. 

LANGKAH KELIMA 

33. Hidup ceria dalam keheningan dirimu

Bukan hidup ceria di tengah hutan, bukan hidup ceria di luar keramaian dunia, tetapi hidup ceria di tengah keramaian dunia, di dalam pasar dunia dengan mempertahankan keheningan dirimu. Keceriaan berasal dari dalam diri kita. Keceriaan adalah sebuah sikap, suatu sifat. Kita tidak tergantung pada orang lain untuk bersikap ceria. Sikap itu adalah milik kita sendiri. Kita boleh miskin, tidak berduit, orang susah di mata orang kaya, tetapi tetap ceria.  

34. Tenangkan pikiranmu dalam kesadaran Ilahi

Kejahatan dan kebaikan adalah produk pikiran. Bila kita harus berpikir untuk berbuat baik, suatu waktu kita pun pasti berpikir untuk berbuat jahat. Kemudian kita kan terombang-ambing antara kedua tepi itu. Keadaan itu yang menyebabkan kegelisahan. Bagaimana menenangkan pikiran? Dengan menghanyutkan pikiran kita dalam Kesadaran Ilahi. Bagaimana menghanyutkan pikiran? Dengan meniti ke dalam diri, karena Kesadaran Ilahi tidak berada di luar diri. Tempat-tempat ibadah di luar itu sekedar cermin untuk mengingatkan kita akan keadaan diri kita yang sebenarnya. Hening, kosong, plong, namun tidak hampa, tidak sepi. Dalam keheningan itulah terjadi Pertemuan Agung. Kita pun akan merayakan pertemuan itu bersama Krishna yang ceria, Isa yang bercanda, dan para Buddha yang cerah. 

35. Saksikan Sang Aku yang meliputi segalanya, sadarilah kehadiran-Nya

Bila kita belum mampu menyaksikan kekuasaan-Nya di atas bumi sebagaimana di dalam surga, di lapisan langit yang tertinggi di atas sana, kita belum menjadi saksi. Kita baru tahu. Walau mengaku beriman, para hamba non-saksi seperti ini sesungguhnya belum beriman, karena iman tanpa kesaksian juga tidak memiliki arti. Melihat Percikan Api Ilahi dalam diri setiap orang sebagaimana kita lihat dalam diri kita, itulah maksud penggalan ayat kelima ini. Melihat Nur yang sama, Cahaya yang sama, melihat Keilahian dan Kemuliaan yang sama; Keindahan yang sama; Kebenaran yang sama. Kau tidak terpisah dari diriku, aku tidak terpisah dari dirimu – kita semua dipersatukan oleh Yang satu Itu. Oleh Ia Yang Tak Terbagi. 

36. Sadarilah bahwa alam yang serbaterbatas ini hanyalah proyeksi dari Sang Aku

Persis seperti bulan terproyeksikan dalam wadah berisi air. Bulan juga terproyeksikan, bayangannya terlihat dalam air di kolam, di sungai, di cermin. Proyeksi-proyeksi tanpa batas itu tidak mengurangi bulan. Ia tetap utuh, tak terbagi. Sadarilah bahwa alam yang serbaterbatas ini hanyalah proyeksi dari sang Aku. Dalam air keruhpun bulan terbayang, tapi air itu tidak layak untuk diminum. Sekali lagi, tidak perlu memusuhi, mencela, menghujat, atau mencaci maki air keruh dan kekeruhan. Sadari bahwa Sang Aku tidak ikut menjadi keruh karena air keruh atau wadah yang kotor, namun air keruh dan kekeruhan haruslah dihindari. 

37. Atasi pengaruh tindakanmu di masa lalu dengan memperbaiki tindakan-tindakanmu di masa kini

Bagaimana cara mengatasinya?Pertama, dengan tidak mengulangi kesalahan dan kekeliruan yang kita lakukan di masa lalu.Kedua, dengan belajar dari kegagalan-kegagalan di masa lalu.Ketiga, dengan memperbaiki tindakanku di masa ini, supaya kegagalan yang sama tak terulangi di masa depan. Ya, dulu kita bangsa yang besar. Selama ribuan tahun kita menguasai perdagangan rempah-rempah. Kemudian, agama dijadikan faktor pemecah belah. Nusantara yang satu terbagi-bagi. Dalam seratus tahun lebih sedikit, kekuasaan dan kejayaan selama hampir dua ribu tahun lenyap tanpa bekas. Adakah suatu pelajaran yang kita petik dari kesalahan masa lalu itu? Sayang sekali, rupanya kita tidak belajar dari masa lalu kita. Karena itu, kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama. 

38. Dengan kebijakan (pemahaman yang benar), hendaknya kau membebaskan diri dari akibat-akibat yang masih dapat terjadi di masa depan

Tidak semua benih yang ditanam langsung tumbuh, bertunas dan berbuah. Ada yang membutuhkan waktu beberapa bulan. Ada yang berbuah setelah beberapa tahun. Sanchita adalah karma-karma dari masa lalu; akumulasi dari masa lalu, yang saat ini baru berbuah. Buahnya disebut Praarabdha. Sesuatu yang sudah tidak mungkin dielakkan. Kendati demikian, kita masih memiliki pilihan – yaitu memetik panen dengan mengaduh-aduh atau dengan girang, dengan bersuka cita, dengan menyanyi dan menari. Taruhlah panennya tidak sesuai dengan harapan – tak apa. Saat itu kita masih belum mahir dalam seni cocok tanam, maka tanaman kita di masa depan sudah pasti lebih baik.Tetapi jangan lupa pula masih ada Sanchita Karma yang barangkali belum berbuah. Karma-karma tersebut adalah Agami Karma – karma yang akan datang. Kita tidak dapat mengubahnya, namun dengan memahaminya, kita menjadi tenang. Kita akan menghadapinya dengan tenang. Kita tak akan terbawa arus, tak akan hanyut dalam suka maupun duka yang berlebihan. 

39. Alami dan habisilah Praarabda, hasil dari perbuatanmu di masa lalu

Tidak perlu menyombongkan diri atas keberhasilan kita hari ini. Keberhasilan kita adalah karena kerja keras kita kemarin. Tidak perlu juga berkecil hati atas kegagalan yang menimpa diri kita, karena kita masih bisa berbuat baik untuk memastikan hasil yang lebih baik di masa depan. Terimalah suka dan duka sebagai duka. Positif sebagai positif dan negatif sebagai negatif. Bila kita berpikir positif melulu dan menolak negatif, atau dalam keadaan duka pun kita cengengesan cengar-cengir, kita menolak prarabdha. Kita menolak pelajaran yang hendak diberikan-Nya.  

40. Setelah itu, hiduplah dalam kesadaran Akulah Dia

Setelah itu, setelah mendalami, menghayati dan mencontohi 39 kebiasaan orang yang tercerahkan….. Setelah itu, hiduplah dalam kesadaran Ilahi. Sesungguhnya, setelah itu Kesadaran Ilahi datang sendiri. Persoalannya bukanlah setelah itu hidup dalam Kesadaran Ilahi, tetapi mempertahankan Kesadaran Ilahi. Orang-orang zaman dahulu tidak membedakan agama langit dari agama bumi. Keduanya adalah agama, dan agama hanyalah jalan menuju Tuhan, menuju pencerahan. Perkara langit bumi menjadi tidak relevan. 

Kesadaran Rohani: Awal Perjalanan, Bukan Tujuan

Lima Butir Pencerahan :

  1. Kenalilah dirimu
  2. Jagalah pergaulanmu
  3. Pertahankan kesadaranmu
  4. Tekun dan bersemangatlah selalu
  5. Berkaryalah sesuai dengan kesadaranmu.

 Kesadaran Rohani: Awal Perjalanan, Bukan Tujuan 

Saat masih muda, masih bersemangat,aku ingin mengubah dunia.

Aku berjuang dan berdoa:“Ya Allah, berilah aku kekuatanuntuk mengubah keadaan dunia.”

Namun, aku gagal

Dunia masih tetap sama. 

Memasuki usia senja,dengan sisa tenaga yang masih kumiliki,

doaku kuubah sedikit:“Setidaknya, Rabb, berilah aku kekuatan untuk mengubah mereka yang berada di sekitarku.”

Ah, aku tetap gagal.

Tak seorang pun dapat ku ubah. 

Sekarang, ketika Malaikat Mautsudah di depan mata,

aku hanya dapat mohon:“Ya Allah, Ya Rabb,berilah aku kesadaran untuk mengubah diriku!” 

diambil dari 5 Steps to Awareness

Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Bapak Anand Krishna 

Triwidodo

Februari 2008

Iklan

Pemabuk

Pada suatu malam, sehabis menengok seorang kerabat teman yang meninggal, dua orang sahabat berjalan kaki pulang menuju rumah. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang anak muda yang berjalan terhuyung-huyung, membawa botol dalam keadaan teler. Sambil jalan menepi menghindari, terjadilah dialog diantara keduanya. 

Sahabat pertama: Yang namanya mabok, lupa akan dirinya dan juga merugikan orang lain. Sebaiknya kita menghindari orang yang sedang mabok. 

Keadaan hening sebentar, kemudian suara sahabat kedua memecah keheningan,  

Sahabat kedua: Sahabat, aku baru saja mendapat ilham, aku merasa dipermalukan oleh Yang Maha Kuasa, aku baru saja sadar bukankah kita ini juga sedang mabuk? Mabuk duniawi?  

Kembali, keadaan hening sebentar, dan terdengar napas panjang kedua sahabat itu. 

Sahabat pertama: Betul sahabat, kita tadi menengok orang yang meninggal, bukankah kita pun akan mengalaminya? Setiap hari yang kupikirkan hanya harta, usaha keras cari harta, malu juga aku, demi harta kadang aku melakukan hal yang tidak sepantasnya. Bukankah itu mabuk harta? Setiap saat menghitung untung rugi, kadang lupa diri dalam mencari harta? 

Sahabat kedua: Demikian pula aku, sahabatku, selama ini aku mencari tahta, kedudukan wakil rakyat di kabupaten. Dengan segala cara aku berusaha mencapainya. Dalam ketidaksadaran kusingkirkan rivalku, kusuap beberapa tokoh berpengaruh. Dalam kedudukan yang terhormat aku memandang rendah para pejabat lain. Aku mabuk tahta saudara. Jelas aku telah merugikan banyak pihak. 

Sahabat pertama: Bagaimanapun juga keluarga kita masih baik. Lihat Pak Amat Ruzak, keluarganya berantakan, dia mabok wanita, tidak teringat anak istri, bahkan merusak rumah tangga orang lain, lupa agamanya melarang berzina. 

Sahabat kedua: Aku ingat kata pak Kamil, berzina itu artinya menikmati sesuatu yang bukan haknya. Menggunakan uang negara, uang perusahaan itu berzina. Memaksakan kehendak sendiri, orang lain dipaksa mengikutinya itu berzina. Bukankah kita juga melakukan hal yang hampir sama? 

Sahabat pertama: Betul sahabat, aku juga ingat kata pak Kamil, berusaha mendapatkan sesuatu yang besar tanpa usaha sepadan itu termasuk judi. Hadiah yang diundi pada shopping mall, pada bank, pada voucher. Masyarakat kita menunggu door price dari suatu pertunjukan, kebanyakan dari masyarakat kita juga sudah tersusupi niat untuk berjudi. Masyarakat kita telah melakukan hal-hal yang tercela. 

Sahabat kedua: Teman-teman kita yang berusaha menegakkan agama mereka dengan segala cara, mungkin juga sedang mabok. Memaksakan kehendak, sedangkan orang lain punya hak sendiri. Merasa benar sendiri, bukankah yang Maha Benar hanya Tuhan. Tidakkah sadarkah mereka? Merasa sudah menjadi Tuhan? 

Sahabat pertama: Pak Kamil memang Guru bijak, beliau bilang masakan khas Indonesia adalah gado-gado. Kubis, taoge, kacang panjang, tomat, tempe dan tahu goreng, telor rasanya masih utuh, tidak di blender. Pengikatnya adalah bumbu kacang. Raja-raja Sriwijaya dan Majapahit menerima semua agama, putra-putri mereka kawin dengan berbagai bangsa. Mereka melaksanakan Bhinneka Tunggal Ika, pengikatnya saripati budaya, yang kita sebut Pancasila. 

Sahabat kedua: Sahabatku tapi bukankah Pak Kamil juga mabok Ilahi? Setiap tindakannya dijadikan persembahan. Semua kejadian di syukurinya. Dia ceria dari dalam, kebahagiaannya bukan berasal dari hasil di luar. Kebahagiaan yang muncul dari dalam. 

Sahabat pertama: Ya tetapi mabok Pak Kamil tidak merugikan orang lain, mabok pak Kamil menyadarkan kita, dia menunggu kita, sampai kapan kita menyerah pada dunia dan mengikuti jalannya. Beliau sadar akan jatidirinya. Aku mulai sadar dan aku mulai menganggap beliau sebagai Insan Kamil, sebagai Guruku. Baiklah sahabatku, kita sudah sampai rumahku aku masuk dulu. Selamat malam. 

Sahabat kedua: Selamat malam juga sampai bertemu besok siang waktu pemakaman alamarhum. 

Triwidodo

Februari 2008

Dialog Seorang Ibu dengan Anak Gadisnya, sak durunge ora ana, banjur ana, akhire ora ana maneh

 

Seorang Ibu menghibur anak gadisnya yang sedih ditinggalkan pacarnya, mari kita dengarkan nasehat ibunya.

 

Sang Ibu: Ndhuk, Nenek kamu dulu mengajari ibumu demikian. Segala sesuatu di dunia ini tadinya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya tidak ada. Bapak-Ibumu kawin dengan modal nol, kemudian punya beberapa rumah dan kendaraan. Sehingga ketika tiba waktunya untuk menjual rumah membiayai kalian, kami tidak merasa keberatan. Sak durunge ora ana banjur ana akhire ora ana maneh. Mengapa disedihkan?

 

Sang Gadis: Betul Bu, saya juga sudah belajar memahami itu. Saya perhatikan waktu melakukan napas perut. Tadinya perut kempis lalu sesaat nampak mengembung kemudian kempis lagi.

 

Sang Ibu: tadinya bayi hanya bisa tiduran, selanjutnya dituntun, belajar jalan dan dapat berjalan mantap. Setelah mulai tua, karena sakit, jalan kembali dituntun dan akhirnya hanya dapat berbaring di tempat tidur menunggu waktu ajal. Awalnya kita disuapi, kemudian berkembang sampai dapat makan sendiri untuk akhirnya kita disuapi lagi.

 

Sang Gadis: Betul Bu, waktu masih bayi kita tidak punya gigi, dan berkembang sampai punya gigi lengkap, untuk akhirnya seperti Eyang Buyut Putri yang sudah kehilangan semua giginya.

 

Sang Ibu: Ndhuk, itulah sifat dunia, tidak ada yang abadi. Bapak, ibu, kau sendiri tidak abadi. Kalau kita terikat dengan sesuatu yang tidak abadi kita akan dikecewakan. Sudah waktunya kita mencari kebahagiaan abadi. Sebetulnya bukan mencari tetapi menemukan kembali sumber kebahagiaan sejati. Itulah yang disebut Kesadaran Murni. Ada beberapa lapisan kesadaran manusia, pertama lapisan fisik, kedua lapisan energi, ketiga lapisan mental emosional, keempat lapisan intelegensia dan kelima lapisan kesadaran murni. Itu dijelaskan pada buku Seni Memberdaya Diri 1 tulisan Bapak Anand Krishna.

 

Sang Gadis: Jadi kita harus memberdaya diri kita sendiri agar tidak tergantung pada orang lain atau pun hal-hal luaran? Terus siapa yang melatih dan memandu kita dalam pemberdayaan diri?

 

Sang Ibu: Kalau diri kita telah siap, membuka diri, alam semesta akan mendatangkan Guru yang akan meningkatkan kesadaran kita. Kelihatannya sudah tidak gundah lagi ya? Semoga Hyang Widi memberkati kita semua.

 

Triwidodo

Januari 2008

Kesadaran Rohani: Awal Perjalanan, Bukan Tujuan

 

Saat masih muda, masih bersemangat,

aku ingin mengubah dunia.

Aku berjuang dan berdoa:

Ya Allah, berilah aku kekuatan

untuk mengubah keadaan dunia.”

Namun, aku gagal

Dunia masih tetap sama.

 

Memasuki usia senja,

dengan sisa tenaga yang masih kumiliki,

doaku kuubah sedikit:

Setidknya, Rabb, berilah aku kekuatan

untuk mengunabh mereka

yang berada di sekitarku.”

Ah, aku tetap gagal.

Tak seorang pun dapat ku ubah.

 

Sekarang, ketika Malaikat Maut

sudah di depan mata,

aku hanya dapat mohon:

Ya allah, Ya Rabb,

Berlah aku kesadaran untuk

mengubah diriku!”

 

diambil dari 5 Steps to Awareness

Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Bapak Anand Krishna

Gramedia Putaka Utama 2006