Segeralah panen sebelum pencuri datang


 

Pada suatu pagi yang cerah, seorang laki-laki berjalan-jalan di tepi hamparan sawah luas yang mulai menguning. Pikirannya masih melayang-layang, ada beberapa hal yang menyibukkan otaknya.

 

Laki-laki tersebut menggumam: Aku ingat buku tulisan Guru. Ketika Maria bertanya, Seperti apa para pengikutmu? Gusti Yesus menjawab, Mereka seperti anak-anak kecil yang tinggal di atas lahan milik orang lain. Kemudian, apabila Pemilik Lahan itu mendatangi mereka dan minta lahannya dikembalikan, mereka akan langsung menanggalkan baju mereka dan langsung mengosongkan tempat itu.

 

Laki-laki tersebut menggumam lagi: Guru telah memberikan ciri-ciri seorang pengikut Gusti Yesus. Pertama, mereka berjiwa tulus, polos lugu seperti anak kecil. Kedua, ia yang sadar bahwa dunia ini bukan miliknya. Ia tidak terikat dengan dunia benda. Ketiga, seorang pengikut siap menghadapi kematian raga kapan saja.

 

Kebetulan, perjalanan laki-laki tersebut melewati seorang petani yang sedang berbicara dengan Petugas Pengawas Lapangan (PPL) yang sedang melakukan pembinaan terhadap petani. Suara mereka terdengar jelas.

 

PPL: Selamat pagi pak, sawahnya sudah siap panen ya? Saya lihat hasilnya akan bagus.

 

Petani: Terima kasih Pak, kami sedang menunggu tenaga-tenaga pemanen yang murah. Kami dengar dari radio dalam beberapa hari ombak akan besar, nelayan tidak berani melaut dan mereka akan kami minta memanen padi kami.

 

PPL: Wah, kebiasaan kita memang ingin cari untung, tetapi kalau ombak yang besar diakibatkan oleh hujan dan angin yang kencang, panenan Bapak akan rusak kena banjir. Belum lagi, kalau kondisi ekonomi sulit akan mengakibatkan banyak pencuri, sudahlah segera panen Pak apa yang ditunggu lagi?

 

Laki-laki tersebut tertegun, secara tiba-tiba terketuk hatinya.

 

Pikiran laki-laki tersebut berkecamuk: Inilah maksud ayat yang kubaca di buku tulisan Guruku. Kehadiran seorang Guru dalam hidup Anda membuktikan bahwa waktu panen sudah tiba. Celakanya kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kita sudah siap. Seperti orang yang kebingungan, kita masih membuang-buang waktu. Masih lihat kiri-kanan, entah apa yang sedang Anda cari. Sampai Guru gregetan, Mana aritmu? Cepat-cepat dipotong dong! Kalau tidak cepat-cepat dipotong, padi anda akan dimakan burung, tikus, pencuri atau banjir. Upaya Anda selama bertahun-tahun akan sia-sia.

 

Kembali laki-laki itu bergumam: Guru, aku sudah jenuh, dunia sudah tidak begitu menarik, teman-teman seperjalananku juga hanya merasa benar sendiri, Aku mohon panduan-Mu.

 

Dan laki-laki itu meneruskan perjalanannya sendiri.

 

Triwidodo

Februari 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: