Berbahagialah Mereka Yang Hatinya Disakiti

 

Terbaca dalam Layang Jayabaya

Ketika janin mendekati sembilan bulan umurnya

Gusti membuat rasa,

Didalam budi ada intelegensia

Didalam intelegensia ada nurani atau rasa

Didalam rasa ada sukma

Di dalam sukma Gusti berada

 

Pikiran dikendalikan oleh rasa

Pikiran liar dijinakkan oleh rasa

Tetapi hati yang merupakan sumbernya rasa

Apabila disakiti, siapa yang dapat mengobatinya

Hanya kesadaran yang dapat mengobati hati

Dan, Gusti, Keberadaan adalah Kesadaran Murni

 

Gusti Yesus telah bertitah

Mereka yang disakiti hatinya berbahagialah

Karena sesungguhnya merekalah yang mengenali Allah

 

Berulang-ulang Guru mengatakan

Banyak jalan satu tujuan

Menuju Kesadaran murni atau Keberadaan

Beragama telah tahunan

Belum juga mengenali Keberadaan

Setelah hati berkali-kali disakiti

Setelah babak belur berulang kali

Hanya kesadaran yang dapat mengobati

Dan, Gusti, Keberadaan adalah Kesadaran Murni

 

Triwidodo

Februari 2008.

Iklan

Majikan, Pelayan dan Tamu-Tamu Undangan

 

Seorang tuan rumah sedang menunggu kedatangan para tamunya. Ia telah mempersiapkan makan malam. Lalu Ia menyuruh pembantunya untuk menjemput para Tamu Undangan. Si Pembantu mendatangi orang pertama.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda.

Orang Pertama: Tetapi, aku harus menemui beberapa pedagang malam ini. Sampaikan penyesalanku kepada Majikanmu bahwa aku tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Si Pembantu pergi dan mendatangi mendatangi orang kedua.

 

Pembantu: Majikanku menyuruh aku untuk menjemput Anda.

 

Orang Kedua: Aku baru saja membeli rumah, dan hari ini sangat sibuk. Aku tak punya waktu.

 

Selanjutnya Pembantu itu mendatangi orang ketiga.

 

Pembantu: Majikanku mengundang Anda untuk datang ke pestanya.

 

Orang Ketiga: Seorang temanku akan nikah dan aku harus membantunya. Tolong sampaikan kepada majikanmu bahwa aku tidak bisa hadir.

 

Kemudian Pembantu itu mendatangi orang keempat.

 

Pembantu: Aku disuruh Majikanku mengundang Anda datang ke pestanya.

 

Orang Keempat: Aku baru saja membeli properti, dan harus menagih sewanya. Tolong sampaikan kepada Majikanmu bahwa saya tidak bisa menghadiri pestanya.

 

Akhirnya Pembantu itu kembali ke rumah Majikannya.

 

Pembantu: Mereka yang Tuanku undang tidak akan hadir. Mereka memberi berbagai alasan.

 

Majikan: Pergilah ke jalan raya dan undanglah siapa pun yang kau temui. Ajak untuk makan malam.

 

Guru menulis dalam bukunya, Demikian Sabda Gusti Yesus kepada murid-muridnya dalam salah satu kisah di Injil Thomas. Kita menolak undangan Allah yang disampaikan lewat Yesus, lewat Muhammad, lewat Siddharta, lewat Zarathustra, lewat Krishna, lewat Lao Tze. Kita menolaknya karena kita memiliki kesibukan lain. Kesibukan duniawi tidak akan pernah terselesaikan.

Setiap kali, seorang Master selalu berusaha untuk mencari mereka yang dianggapnya layak dan cukup matang, tetapi justru mereka ini menolak undangannya. Lalu tidak ada jalan lain kecuali mengundang setiap orang yang ditemuinya di jalanan. Di antara mereka, mungkin ada satu-dua orang yang matang, yang layak untuk sesuatu yang lebih berharga. Mari kita semua mengadakan introspeksi dan mengucapkan puji syukur terhadap Guru kita.

 

Triwidodo

Februari 2008.

Tuan Tanah dan Para Petani Penyewa

 

Kalian yang memiliki sepasang telinga hendaknya mendengarkan kisah ini

Demikian Gusti Yesus selalu memulai kisahnya

Demikian Guru menulis dalam bukunya

Tentang salah satu kisah berharga

Dari Injil Thomas, kisah ini bermula

 

Seorang Tuan Tanah menyewakan kebun anggurnya

Para petani bercocok tanam dan membayar dengan hasil panennya

Seorang Hamba diutus untuk mengambil apa yang menjadi haknya

Para petani malah beramai-ramai menganiaya

Dalam keadaan sekarat, Sang Hamba pulang ke rumah dan lapor kepada Majikannya

Kamu mungkin tidak dikenali mereka

Dikirimlah seorang Hamba lainnya

Dia pun mendapat perlakuan sama

Lalu Ia mengutus anak-Nya

Mereka mesti menghormati Sang Putra

Para petani mengenali dia dari ciri-ciri yang dipunyainya

Tetapi, nasib sama menimpa anak-Nya

Mereka malah membunuh dia

 

Guru berkata,

Gusti Yesus bicara tentang dirinya

Setiap Master selalu bicara dari pengalaman pribadinya

Orang yang sibuk mengutip ayat-ayat suci

Esensi agama masih jauh dari diri.

Gusti Yesus tahu persis apa yang dapat terjadi terhadap diri pribadi

Kendati demikian ia tidak akan berkompromi

Kebenaran tidak akan ditutup-tutupi

Ia menyampaikan dengan cara dia sendiri

 

Triwidodo

Februari 2008.