Antara Alat dan Tujuan Hidup


 

Ketika putra-putrinya sudah tidur, sepasang suami istri berdialog di beranda muka rumahnya, lampu sengaja dimatikan, suasana malam itu tenang dan damai. Mari kita dengarkan percakapan mereka.

 

Suami: Saya baru saja membaca tulisan tentang Jepang. Pada zaman dahulu kala, sebagian pimpinan masyarakat Jepang selalu memohon kepada Amaterasu Omikani, Dewa Surya. Permintaan mereka ada tiga yang utama, yaitu samurai, permata dan cermin. Samurai mencerminkan kekuasaan, orang yang punya kuasa dapat memerintah orang berduit dan para cerdik pandai untuk mendukung agar pemerintahan berjalan dengan baik. Permata melambangkan kekayaan, para konglomerat yang patriotik dengan kekuatan real-power, real-energy uangnya dapat mempengaruhi yang punya kekuasaan dan yang punya otak encer untuk menyejahterakan negara. Cermin diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan, kecerdasan dan skill. Para cerdik pandai dengan ilmu pengetahuannya dapat meyakinkan mereka yang punya kuasa dan yang punya uang untuk mengikuti kebijaksanaannya agar pemerintahan berjalan dengan baik.

 

Istri: Bukan hanya dalam bidang pemerintahan, bukankah masing-masing pribadi pun dalam mengarungi kehidupan juga mempunyai keinginan yang sama untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan dan ilmu pengetahuan? Kebanyakan dari kita lupa diri, dan ketiga-tiganya kita jadikan tujuan, kita mati-matian mengejarnya. Padahal mereka pun sebenarnya cuma alat untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan yang membuat mereka bahagia. Apa gunanya mendapatkan alat kalau kita tidak bahagia? Bagi mereka sudah mendapatkan kebahagian sejati, kebahagiaan dari dalam diri, ketiga-tiganya dapat dimanfaatkan bagi kepentingan sesama.

 

Suami: Memang kita sering lupa kepada tujuan yang sebenarnya, dan alat kita jadikan tujuan. Guru berkata, badan ini pun hanya wahana yang harus dirawat dan dijaga. Pengemudinya adalah jiwa. Jiwa mengemudikan wahana dalam perjalanan menuju kesempurnaan.

 

Istri: Ya kita terlena, mengidentitaskan diri sebagai badan, kenikmatan badan kita anggap sebagai kebahagiaan kita. Keinginan panca indera kita anggap sebagai keinginan kita. Obsesi otak kita anggap sebagai obsesi diri kita. Mereka semua hanya wahana, bukan diri kita yang sebenarnya, bukan jati diri.

 

Suami: Tetapi tanpa wahana kita tidak dapat menuju kesempurnaan. Sebaiknya kita tidak memisahkan mereka. Kita jangan memisahkan badan dengan jiwa. Umumnya, badan terbentuk karena jiwa yang belum sempurna. Ada yang memisahkan bumi dengan langit. Langit itu nampak karena adanya bumi. Ada yang memisahkan akhirat dengan dunia, sehingga mengejar akhirat melupakan dunia. Akhirat itu ada karena ada dunia. Semuanya adalah kesatuan, kesatuan Semesta.

 

Angin berhembus pelan, daun-daun bergemerisik dan kedua suami istri tersebut masuk ke dalam rumah.

 

Triwidodo

Februari 2009.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: