Ikhlas, Bekal Meniti ke dalam Diri


 

Seorang Bapak yang datang dari luar kota sehabis sarapan dengan putranya di warteg depan kampus, berjalan pelan dengan putranya dan duduk di taman di depan kampus. Di depan padang rumput menghijau mereka mengadakan percakapan.

 

Sang Bapak: Saya percaya, kamu akan lulus pada waktunya, nasib baik menyertaimu sejak kecil. Dalam Bhagavat Gita, Shri Krishna menjamin, mereka yang dalam kehidupannya mencurahkan perhatian meniti ke dalam diri, menuju Dia. Kalau insan ini lahir kembali dia akan lahir di tengah keluarga harmonis yang akan menunjang kehidupan spiritualnya. Dia akan melanjutkan perjalanannya.

 

Sang Putra: Pa, Bekal apa yang harus kita siapkan untuk meniti ke dalam diri?

 

Sang Bapak: Guru yang menulis ratusan buku menyampaikan, Lewat sekian banyak buku selama ini, sesungguhnya pesan ketulusan ini pula yang ingin saya sampaikan. Ketulusan, kesederhanaan, keluguan – nilai-nilai itulah yang dibutuhkan untuk meniti jalan ke dalam diri.

 

Sang Putra: Pa, saya kadang bertemu dengan mereka yang mengaku dirinya tulus, tidak sombong, tidak arogan. Dibanding orang awam mereka memang cukup tulus, tetapi saya melihat dalam pernyataan mereka, sesungguhnya masih belum tulus juga, masih ada sifat arogan yang halus. Mereka masih merasa tulus. Keangkuhan yang halus.

 

Sang Bapak: Bagus, Guru berkata, Diriwayatkan dalam hadis-hadis shahih bahwa pada suatu ketika Nabi Muhammad ditantang, Katakan Muhammad, apa ciri-ciri Allah yang kau anggap Tertinggi adanya? Ketika itu Nabi membisu, tidak menjawab. Karena Tuhan tidak bisa dijelaskan. Allah melampaui segala macam sifat. Bagaimana bisa berciri? Tetapi para penanya mendesak terus, sehingga Nabi memperoleh Surah Al-Ikhlas. Malaikat Jibril yang mewakili Kesadaran Tertinggi dalam nabi Muhammad menurunkan penjelasan yang diberikan lewat surah ini.

 

Sang Putra: Menarik Pa, teruskan! Kata teman saya Syarif, ikhlas berasal dari bahsa Arab. Suku katanya Khalis – yang bersih. Berarti keikhlasan harus berasal dari hati yang bersih, dari jiwa yang murni.

 

Sang Bapak: Dalam kata Ikhlas tersembunyi peta rahasia untuk meniti jalan ke dalam diri. Untuk menyadari Kehadiran Allah dalam hidup, pertama-tama harus ikhlas, tulus. Jangan mencari pembenaran, jangan menutup-nutupi ketidakmampuan. Selama belum tulus, belum menerima “Kehendak Ilahi” di atas keinginan-keinginan duniawi dan kemauan-kemauan insani, maka belum dapat dikatakan ikhlas. Kamu belum siap untuk meniti jalan ke dalam diri. Betul katamu, bahwa mereka yang mengaku dirinya tulus, tidak sombong, tidak arogan sesungguhnya masih belum tulus. Ikhlas itulah latihan olah batin yang paling sulit, karena ikhlas tidak bisa separo-separo. Tidak bisa tanggung. Ikhlas berarti diam dan bergerak hanya karena digerakkan oleh Allah. Surat Al-Ikhlas ini diperuntukkan bagi mereka yang berjiwa tulus. Begitu tulus, sehingga tidak pernah memamerkan ketulusan diri.

 

Sang Putra: Tolong sampaikan intisarinya Pa.

 

Sang Bapak: Saya ingat Pastor de Mello, Kenapa kamu masih senang makan makanan yang dikunyahkan orang lain? Suratnya pendek, kunyahlah sendiri. Selamilah sendiri. Hasil penyelamanmu mungkin berbeda dengan hasil penyelamanku, apalagi dengan penyelaman Guru, tetapi mulai menyelamlah! Ini sudah waktunya kau masuk kampus, Papa akan pergi ke Kantor Pemda Jabar, menyelesaikan tugas papa dan langsung pulang ke daerah. Selamat dan sukses selalu.

 

Sang Putra: Terima kasih Pa, sungkem buat Mimi dan salam buat adik-adik.

 

Triwidodo

Maret 2008.

Iklan

2 Tanggapan

  1. tulisan yg ini juga ok banget mas TRI,
    sekali lagi pandu saya untuk bisa menyelam mas.
    Saya udah sering nyoba tapi nggak bisa tenggelam mas. jadi cuma ngambang doang, padahal maunya amblas sampai ke dasar lho mas. Biarin dech. kena batu cadas yo wis gak paa

    Wassalam wrm wbr
    gmandalan@yahoo.com

  2. Terima kasih, kami juga belum bisa menyelam, kami hanya memberanikan diri terjun mengikuti Guru. Tulisan -tulisan ini semuanya dari Guru dan sebagian besar terdapat dalam kategori Apresiasi Buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: