Puasa Mendekatkan Diri Kepada-Nya

  

Sambil menunggu saatnya isteri buka puasa, tindakan yang sering dilakukan istrinya, seorang suami mengajak isterinya duduk di beranda, berbicara dari hati ke hati.

Sang Suami: Mi, aku baru saja surfing di internet. Menurut buku 2nd Brain, Perut dapat diibaratkan sebagai otak kedua. Aktifitas perut akan mempengaruhi aktifitas fisik, psikis maupun spiritual. Selama perut beristirahat dari mencerna, maka aktifitas perut digunakan untuk memperkuat sinyal-sinyal otak di kepala. Bersatunya otak di kepala dan otak di perut dapat membangkitkan potensi-potensi diri lebih cepat dan mudah. Keadaan relaksasi mudah tercapai. Program afirmasi, memasukkan informasi pada rileksasi. Memperbaiki conditioning mind dengan created mind, mudah dilakukan pada waktu puasa.  

 

Sang Istri: Para Mpu di zaman dahulu, biasa berpuasa dulu untuk menghasilkan Karya Luar Biasa. Para pendekar melakukan puasa sebelum mendapatkan kesaktian. Agama melatih manusia dengan puasa untuk pengendalian diri. Latihan meditasi pun disarankan dalam keadaan perut kosong setelah makan sekitar  empat jam. 

Sang Suami: Benar Mi, setelah 4 jam, perut mulai kosong dan sari makanan yang dibawa ke otak berkurang. Pikiran  membutuhkan energi dari sari makanan. Ketika banyak energi pikiran mudah menjadi liar. Ketika sari makanan tidak ada, pikiran lebih mudah dikendalikan. Puasa yang lebih utama adalah puasa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan diri. Jangan makan berlebihan, jangan pula menahan lapar mati-matian. Sebaiknya makanan yang masuk 70% berupa cairan dan sisa 30% dengan makanan padat. 

Sang Istri: Tontonan dan bacaan yang masuk lewat mata pun perlu dijaga. Berita tak keruan lewat telinga pun perlu dikendalikan. Mulut yang sibuk ngerumpi pun perlu dipuasakan. Demikian pula kaki tangan, tindakan juga jangan dibiarkan bebas tanpa pengendalian. Puasa atau pengendalian diri diperlukan dalam semua bidang. 

Sang Suami: Guru mengistilahkan pause, berhenti sejenak. Berdoa, sembahyang berhenti sejenak dari kesibukan mengejar dunia. Menyanyikan tembang suci, istirahatkan pikiran sejenak dari berpikir yang tak pernah berhenti. Menarilah dan berhenti memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang. Perhatikan napas, berhenti sejenak dan hidup dalam kekinian. 

Sang Istri: Benar Pah, pikiran kita suka melayang kemana-mana. Gejolak emosi membuat kita merana. Kita berpikir kita sudah berpuasa. Padahal belum apa-apa. Saat berpuasa, sesungguhnya kita berupavasa – berdekatan dengan Ia yang kita kasihi. Puasa bagaikan date sama pacar. Saat itu, makan, minum, tidur dilupakan semua. 

Sang Suami: Hari Sabat adalah hari untuk beristirahat. Setiap minggu kita juga diberikan libur untuk istirahat sejenak. Setiap tahun kita diberikan cuti yang bisa kita manfaatkan untuk retreat. Pensiun pun juga masa istirahat dari kerja untuk dunia, agar kita bisa mempersiapkan diri sewaktu-waktu dipanggil menghadapnya. Raja-raja di zaman dulu pun banyak yang setelah lama memegang mahkota. Meninggalkan kerajaan dan hidup sebagai pendeta di dusun yang kecil jauh dari kebisingan kota, mendekatkan diri kepada-Nya.  

Sang Isteri: Kita akan meneladani mereka setelah Papa pensiun dari kerja? 

Sang Suami: Mi, aku pun sudah merasa tua, tubuhku secara alami mengalami degradasi. Pekerjaan di kantor aku sudah tidak se prima waktu dulu lagi. Berjalan-jalan mengikuti kegiatan ashram pun sudah tidak memaksakan diri. Biarlah yang muda yang masih prima yang aktif mengikuti. Menemukan Guru di paruh baya pun sangat aku  syukuri. Sudah delapan belas tahun aku hidup tanpa limpa. Biarlah diri ini mempelajari karya Guru, biarlah diri mencoba memahami petunjuk Guru, menulis hanya merupakan katarsis, pengeluaran isi bawah sadar diriku. Menulis sebatas kemampuan diri. Bagi yang membaca semoga Keberadaan memberkatinya, semoga semakin semangat memberdaya dirinya. Akan kulakukan, sampai saatnya tiba diriku dipanggil kembali Gusti. 

Sang Isteri mengelus kaki suaminya yang sedang kambuh asam uratnya, setetes air mata membasahi pipinya.  

Sang Isteri: Terima kasih Gusti aku akan mendampingi suamiku dimana pun dia berada. 

Triwidodo

Maret 2008.

Iklan

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun

Sambil menunggu waktu dimulainya latihan meditasi, seorang psycholog berbincang-bincang dengan seorang dokter. Pembicarannya nampak serius. Mari kita dengarkan pembicaraan mereka.  

Sang Psycholog: Sebetulnya manusia itu makhluk bebas. Yang bebas untuk memilih keputusan yang baik bagi dirinya sendiri. Artinya kita akan merasa suka atau duka pada saat ini, sangat tergantung kepada persetujuan kita. Kalau kita tidak menyetujui untuk mengalami depresi maka depresi itu akan segera menghilang dari pikiran kita. Kadang-kadang kita memang ingin mengalami depresi sehingga membiarkan persepsi kita mengarah ke keadaan depresi. 

Sang Dokter: Terima kasih sahabat. Seperti penjelasanmu saat lalu bahwa kita melakukan reaksi terhadap persepsi kita yang sebenarnya bukan realita sesungguhnya? Map is not the Territorry. Dengan merubah persepsi (reframing) kita akan mendapatkan hasil perasaan yang lain. Rasa adalah reaksi tubuh terhadap pikiran kan? Artinya kita bisa berpikir positif agar kita dapat bahagia? 

Sang Psycholog: Memang bukan saja karena tingkat persetujuan kita atas masalah tersebut, tetapi juga karena perbedaan cara memaknai masalah. Ada yang lamarannya kepada suatu perusahaan tidak diterima merasa gagal dan depresi, ada pula yang menganggap pekerjaan itu mungkin memang belum pas, belum tentu cocok dengan dirinya. Ada pula yang tetap santai dan berusaha melamar pekerjaan kepada perusahaan lainnya. Inilah yang disebut internal representation. Persepsi masing-masing orang berbeda terhadap suatu masalah yang sama.  

Sang Dokter: Tetapi dalam keadaan sakit parah, hampir sekarat, ilmu-ilmu itu belum tentu membantu. Karena ketakutan dasar manusia adalah takut untuk mati. Seorang wanita yang sudah berusia 70-an tahun mengaku bahwa ia takut mati. Wanita itu dengan penuh kesadaran mengungungkapkan rasa takutnya. Melihat usianya sudah berapa kali dia menyaksikan kematian. Diapun tahu setiap orang pasti mati. Dia masih takut juga. Mungkin kita bisa menggunakan ilmu para ahli Neuro Language Programming untuk keperluan spiritual.  

Sang Psycholog: Benar juga, itulah sebabnya kita mencari seorang Guru. Kita perlu pemandu yang sudah mengetahui Kebenaran, Kebahagiaan Sejati. Begitu kita memahami tentang Kebahagiaan Sejati, Kesadaran Murni, kemudian kita dapat mengkondisikan agar selalu terjadi persepsi tentang Kesadarn Murni. Bukankah ini selaras dengan menerapkan created mind untuk memperbaiki conditioning mind dari ilmu Bodhi Chitta nya Yang Mulia Atisha? 

Sang Dokter: Benar sahabat. Guru mengingatkan kita yang selalu mengucapkan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, tetapi seperti robot. Guru mengingatkan, Berhenti sejenak, renungkan – yakinkan kita bahwa kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dengan hati yang diselimuti takut kalimat tadi kehilangan maknanya. Kita pun perlu memahami makna La Illah Illallah. Tidak ada sesuatu kecuali Allah. Semuanya diliputi Allah. 

Sang Psycholog: Terima kasih sahabat. Ya, kami ingat, apabila ada yang mendapatkan promosi atau diangkat sebagai Kepala Daerah perlu kita kirimkan ucapan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, semua berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah. Sahabat, sudah waktunya latihan mari kita masuk ke Aula As-Salam. 

Triwidodo

Maret 2008.

Meningkatkan kesadaran dengan Memperbaiki Persepsi

Sepasang suami istri mengadakan perjalanan ke luar kota. Di dalam bis Patas yang sejuk dan penumpang yang tidak begitu banyak terjadilah dialog yang menarik. Mari kita simak pembicaraan mereka. 

Suami: Seandainya kita ditanya, saat ini waktu yang menyenangkan tidak. Kita seakan menjawab spontan, saat ini sangat menyenangkan. Nampaknya kita tak sempat berpikir, menjawab spontan, tetapi sebetulnya yang menjawab adalah pikiran bawah sadar kita. Seperti halnya pada waktu makan, kita tidak berpikir lagi tangan mana yang digerakkan, apakah nasi diambil dulu atau lauk yang terdekatnya. Tindakan yang diulang-ulang menimbulkan kebiasaan. Kebiasaan yang mendarah daging menjadi perilaku atau karakter kita. Karakter asalnya dari pikiran juga, akan tetapi sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar kita. Itulah sebabnya ada yang bilang hidup kita adalah manifestasi dari pikiran kita. Yang jelas bukan pikiran sadar. Apakah pikiran bawah sadar, supra sadar atau kesadaran murni biarlah mereka para ahli yang memikirkannya. 

Istri: Kalau demikian, apakah kita ini sebenarnya terpenjara oleh pikiran bawah sadar kita? 

Suami: Benar, tergantung yang disimpan dalam bawah sadar itu benar atau tidak? Hampir semua yang berada dalam pikiran kita adalah persepsi, bukan realitas. Apa yang kita percayai dan bahkan kita yakini sebenarnya bukan realitas itu sendiri. Hanya merupakan sebuah peta dan  bukan kondisi realita di lapangan. Manusia, sesungguhnya, bereaksi terhadap persepsinya, bukan terhadap realitasnya. Kabar baiknya adalah bahwa kita dapat memperbaiki persepsi untuk meningkatkan kesadaran. 

Istri: Luar biasa! Yang kita anggap benar adalah persepsi kita tentang kebenaran. Kerangka kita. Dengan pengalaman yang lain, lingkungan yang lain, pengaruh orang yang lain, persepsi kita akan berbeda. 

Suami: Benar, kalau kita memahami ini, kita akan memahami perilaku orang lain. Dalam setiap tindakan selalu dikandung maksud yang baik bagi dirinya. 

Istri: Problemya adalah, dalam ketidaktahuan mereka berselisih. Pertanyaan saya, seandainya kita memahami kebenaran yang murni, maka kita akan bisa merubah diri kita, kita dapat memberdaya diri kita dengan pemahaman yang benar. Melakukan pemahaman yang benar tersebut dalam keseharian. Sehingga menjadi kebiasaan, menjadi perilaku yang benar. 

Suami: Kebenaran yang kita punyai sangat relatif. Hanya para Nabi, para Avatar, para Master, para Wali yang sudah mengalami Kebenaran yang mengetahui yang sebenarnya. Sehingga peran Guru adalah sangat mutlak. Guru yang sudah mengalaminya. Dengan tingkat pemahaman kita, kita akan menemui Guru yang sesuai bagi perkembangan diri kita. 

Istri: Latihan relaksasi, afirmasi pada saat kita kondusif dan cleansing, apakah akan membantu kita meningkatkan kesadaran kita? 

Suami: Nampaknya demikian, Guru telah memberikan bermacam latihan secara langsung ataupun lewat buku-buku beliau. Mari kita melaksanakannya, dan menerapkan pemahaman beliau dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Guru dilimpahi keluhuran, kemuliaan, kesehatan dan usia yang panjang. Amin.  

Bis memasuki sebuah terminal dan penumpang mulai penuh, dan berakhirlah pembicaraan mereka. Keduanya menutup mata dan mengatur napas. 

Triwidodo

Maret 2008.

Kasihilah Diriku! Bukan Maksudku Menyengsarakanmu

 

Tersebutlah kisah tentang pemanasan dunia

Temperatur cenderung meningkat di bumi dan juga air laut di samudera

Air jauh lebih cepat menguap menjadi awan tebal di angkasa

Hujan turun menjadi lebih lebat dibanding sebelumnya

Akibat pemanasan dunia

Sebagian es di kutub meleleh juga

Permukaan air laut menjadi lebih tinggi

Kalau saja terus dibiarkan tetap terjadi

Tak sampai setengah abad banyak sekali pulau tergenangi

Manusia di seluruh dunia akan mengungsi ke tempat lebih tinggi

Kesemrawutan akan terjadi

Keributan masyarakat dunia sudahlah pasti

 

Pencairan es di kutub merubah gerakan angin di dunia

Beberapa topan dan badai sering menimpa

Masyarakat semakin sengsara

Ingin menyalahkan siapa?

Seluruh dunia harus kompak melakukan penyelamatan dunia

 

Dahulu di atas gunung dengan hutan belantara yang nyaman

Air biasa menginap berbulan-bulan

Membasahi bumi lebih lama merupakan dharma air yang harus dijalankan

Kini habis dibabat tak ada hutan di perbukitan

Kedatangan air ditolak, disuruh pergi membawa tanah bebutiran

Air yang mengalir di permukaan berwarna kecoklat-coklatan

Dilepaskan di sungai menjadikan pendangkalan

Perjalanan air pun melambat terjadi banyak hambatan

 

Di daerah datar Aku ingin segera pergi menuju tujuan

Menuju samudera raya nan luas tak terperikan

Untuk mendapatkan kelegaan setelah penat memikirkan masyarakat yang tak peduli lingkungan

Keserakahan manusia menyempitkan sungai yang kujadikan tempat perjalanan

Aku terpaksa meluap menggenangi daratan

Aku terperangkap dalam permukiman

Aku tidak ingin menggenangi aspal dan merusak jalan

Bukan maksudku merendam mobil merusak mesin kendaraan

Sumpah! Aku tidak suka juga masuk kamar tidur kamu sekalian

 

Di puncak gunung kembalikan tempat kesukaanku hutan yang rindang

Lebarkan sungai beri aku jalan yang lapang

Aku menikmati dunia yang sejuk nyaman

Sebagian dariku di kedua kutub biarlah berupa es jangan cairkan

Agar temperaturku di laut tidak naik lagi

Agar tidak terpaksa menguap menjadi awan di langit tinggi

Aku juga tak ingin permukaanku di laut meninggi

Aku tidak suka bila banyak pulau kugenangi

 

Kutunggu tindakanmu sahabatku, tindakan yang penuh kesadaran

Alam ini pada dasarnya diliputi Tuhan

Semua benda merupakan proyeksi Keberadaan

Aku ingat kata Guru kalian

Hanya pikiran insan yang bisa menjadi tempat tak ber-Tuhan

Jangan biarkan pikiranmu mengikuti ketidaksadaran

Biarkan nurani di relung hati nan suci yang mengendalikan pikiran

 

Triwidodo. Maret 2008.