Dongeng Tentang Sutradara

Dongeng Tentang Sutradara

Kali ini pakdhe Jarkoni berbincang ria dengan mbah Urip, yang diwaktu mudanya menjadi pemain kethoprak Singabudaya, kethoprak keliling ndesa. Dasar pakdhe Jarkoni seneng mengorek pengalaman dan mbah Urip memang seneng diajak bicara, merasa diuwongke, dimanusiakan.

Pakdhe Jarkoni: Sugeng enjang mbah, Selamat pagi. Menurut mbah Urip, bagaimana hubungan pemain kethoprak dengan sutradaranya mbah?

Mbah Urip: Saya akui, sebagai pemain utama, kami sering bangga kalau mendapat perhatian pemirsa. Seandainya saya diblondrongke, didorong ke jurang oleh sutradara kita sering lupa, apalagi kalau ternyata, arahan sutradara menyebabkan pemirsa terkesima. Arahan sutradara sudah menjadi perilaku saya. Kan menurut nak Jarkoni, yang menyenangkan itu ingin terus kita ulang agar kita senang?

Pakdhe Jarkoni: Maturnuwun mbah. Kami dengar dari dongeng Pak Guru yang waskitha, ternyata pada waktu Perang Dunia I, baik pihak Perancis dan Inggris mendapatka dana pasokan senjata dari seseorang yang sama. Perang Dunia II juga kisahnya karena ekonomi juga, mereka yang ingin untung ngompori. Perang saudara di suatu negara pun, kedua belah pihak membeli senjata. Dan penjual senjata di dunia ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Mbah Urip: berdasarkan dongeng Pak Gurumu, ketegangan di Indonesia juga dikompori mereka yang ingin mendapatkan keuntungan? Weleh-weleh aku akan mendongeng cucucuku, jangan-jangan yang mencarikan ayat keras pun dari pengompor. Merknya apa nak? Kompor Gas mestinya, bukan areng seperti tungku mbah Urip.

Pakdhe Jarkoni: Mbah, menurut analisa, mengapa mereka selalu ngebom Bali, karena di sana mayoritasnya beragama Hindhu dan punya hubungan internasional yang baik. Kalau masyarakat sana terkompori dan pengin merdeka, maka dukungan internasional akan besar. Hormatku kepada saudara-saudaraku di Bali, DNA kebesaran jiwa masih tersimpan rapi di dada mereka. Banyak teman-temanku dari Bali, Hindhu sebenarnya bukan Agama, Sanatana Dharma. Kebenaran yang bersifat terbuka, tidak mempunyai lingkup sempit yang terbatas.

Mbah Urip: dan Setelah Bali, Aceh, Papua, Menado, semua ingin merdeka? Sangat-sangat berbahaya. Menangislah, Roh Gadjahmada dan Roh Bung Karno pun tidak dapat tenang di alam sana. Kapan ya mereka menitis kembali?

Pakdhe Jarkoni: Sebagai negara merdeka Bali berhak punya Lautan internasional, jalan keluar ke Samudera luas. Selat pendek antara Banyuwangi-Gilimanuk menjadi perairan internasional. Armada-armada Raksasa dari negara manca berseliweran di sana. Gusti, ampuni kami. Virus-virus berbahaya sudah memasuki tubuh kita. Jumlahnya tak besar memang, tetapi mereka dibiarkan. Para Kesatria acuh demi kekuasaan. Para wakil terbius kemewahan. Lebih dari 80% virus memang hanya mengikut saja. Bangkitlah virus-virus berkesadaran, cukup 10% virus baik dan tubuh kita kembali sehat, ingatlah Yakult. Masih saja diam dengan berbagi pertimbangan? Pantas beberapa pakar bilang kita telah kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang mendesak. Lack of Urgency. Bangkit saudara-saudaraku arwah para founding fathers kita bersimbah air mata. Tahun 1908 Kebangkitan Nasional, tahun 1928 Sumpah Pemuda, tahun 1945 Indonesia Merdeka dan saat ini Pemuda-Pemudi kita asyik berchatting-ria. Bangun! Air bah bencana sudah sedada!

Triwidodo
Maret 2008.

Iklan

Perang Modern

Dasar Pakdhe Jarkoni sudah pensiun, setiap hari acaranya adalah tindak-tindak (jalan-jalan). Di depan rumah Lik Bagio, pakdhe diajak diskusi. Dasar pakdhe suka ngecap, diskusi ya diladeni.

Lik Bagio: Kami mendengar dari Kang Karyo, pakdhe ngerti tentang budaya. Ada perubahan to pakdhe antara dulu dan sekarang?

Pakdhe Jarkoni: Dulu waktu Alengka dikalahkan Rama, Rama tidak menganeksasi. Adiknya raja yang lama Gunawan Wibisana diangkat sebagai raja yang baru. Murni demi kebenaran. Sewaktu zaman Firaun, Romawi, Jengis Khan negara yang kalah perang dilucuti, semua waga negaranya dijadikan budak.

Lik Bagio: Maksud pakdhe, seandainya di zaman pertengahan, Indonesia yang kini rada kalahan ngajak perang, kalau kalah kita jadi budak juga? Bodo tenan, bodoh amat sing pengin mendirikan negara ala abad pertengahan.

Pakdhe Jarkoni: Betul, nggak ada lik Bagio, pakdhe pun juga budak, tidak bisa tindak-tindak. Sekarang perang sudah modern, sudah beradab kata para pemikir.

Lik Bagio: Artinya kita tidak takut lagi dijajah secara fisik. Aman to pakdhe.

Pakdhe Jarkoni: Oalah lik, panjenengan, Tuan-Tuan, Puan-Puan lupa ya dengan Bung Karno. Sejak zaman dulu Bung Karno telah mengingatkan tentang neo-kolonialisme, penjajahan zaman baru. Pak lik sibuk HP, yang untung siapa, lebih dari 50% ke negara manca. Itu pembicaraan paklik direkam 6 bulan, kita kok ribut intel asing, suara pemimpin kita sudah direkam semua. Kemudian, pak lik minum air kemasan yang diambil dari mata air dengan proses alami. Air Indonesia, yang kerja orang Indonesia, yang minum orang Indonesia, lebih kurang 40% harga sebagai keuntungan masuk kantong pengusaha manca. Supermarket kecil-kecil yang menjamur dikuasai orang manca negara. Listrik, pertambangan, angkutan bahkan bank-bank, kalau ditelusiri yang memiliki siapa?
Pak Guru pernah cerita tentang Indonesia on Sale.

Lik Bagio: Edan tenan, awake dewe, kita ini, keenakan, ibarat kodok berendam di air hangat, lupa air semakin hangat semakin panas, tiba-tiba mlonyoh, hancur terebus. Pak Guru itu siapa? Yang membuat pakdhe mampu ngecap?

Pakdhe Jarkoni: Kalau pakdhe memang kecap no 1, tetapi sesungguhnya semua pakdhe dapatkan dari Pak Guru. Mari sebelum tiba saatnya mati hancur, bangkit! Mulai dari mana? Dari diri kita sendiri. Setelah itu mari kita sebarkan virus kesadaran. Potensi Sriwijaya dan Majapahit masih tersimpan dalam DNA kita. Menunggu untuk dibangunkan. Mari kita pelajari sejarah seperti ajakan Bung Karno. Apa yang menyebabkan leluhur kita dulu jaya. Selamat bangkit Putra-putri Sriwijaya dan Majapahit. Ibu Pertiwi sudah lama menunggumu!

Triwidodo
Maret 2008.

Bangkitlah Wahai Arjuna

Di Jawa ada istilah Jarkoni, bisa berujar tidak bisa nglakoni (melaksanakan). Mulai hari ini Pakdhe Jarkoni mulai menulis pengalamannya. Semuanya hanya dongeng (dipaido keneng, didebat boleh), dan karena dongeng jangan dibaca sambil kening berkerut. Nggak usah dikerutkan kalau sudah tua seperti Pakdhe Jarkoni keningnya akan berkerut sendiri. Disebut Pakdhe, saudaranya Ayah yang lebih tua. Hari ini Pakdhe menemui Kang Karyo yang suka mendengarkan wayang di radio budaya FM.

Kang Karyo: Wah semalam saya mangkel banget sama Arjuna. Sudah Pandawa dicurangi. Kakaknya diajak main dhadhu kalah, taruhannya istana, mereka nurut menaati perjanjian dengan dalih berjiwa kesatria? Istri dipermalukan, hidup terlunta-lunta di hutan belantara. Kok waktunya minta meminta haknya kembali, pertimbangan Arjuna sejuta bahasa.

Pakdhe Jarkoni: Pakdhe hanya melihat dari kacamata riben, negara kita juga mengalami hal sama. Kebanyakan warga melihat kecurangan, dipermalukan semena-mena, keadilan meraja lela. Raksasa Suap, Sogok, Pelicin dari Korawa berpesta pora. Tetapi para Arjuna kita juga mempunyai pertimbangan sejuta bahasa.

Kang Karyo: Arjuna berkata, kita sadar, Korawa tidak, saya tidak cari kuasa, mereka saudara kita juga. (Kang Karyo setengah berteriak) Wong mereka diajak damai tidak mau. Getem-getem , marah aku. Jujur saja Arjuna kau takut. Untung ada Krishna, yang dengan bijak memandunya.

Pakdhe Jarkoni: Demikian juga para kesatria Indonesia, ada saja alasan untuk tidak bergerak padahal kehancuran negara diambang mata. Getem-getem aku. Jujur saja para Kesatria kau takut. Krishna adalah pikiran yang jernih, yang tidak berlepotan kenikmatan panca indera semata.

Kang Karyo: Mungkin juga Arjuna sudah terbiasa hidup sengsara di hutan belantara. Sudah acuh terhadap dunia, sudah terlena dalam kesengsaraan.

Pakdhe Jarkoni: Tindakan yang dilakukan berulang-ulang, atau ketidakacuhan yang lama, akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang mendarah daging akan menjadi perilaku atau karakter kita. Kalau negara kita terbiasa mengemis lama-lama karakternya menjadi pengemis. Hanya Krishna, pikiran yang jernih, kesadaran dalam bentuk pemahaman. Pemahaman yang dipraktekkan dalam keseharian. Dilakukan secara berulang-ulang sampai kita mendapatkan karakter baru. Tidak mudah merubah perilaku lama yang tidak baik menjadi perilaku baru yang baik, itulah jihad yang sejati. Kelahiran kembali dengan kesadaran baru.

Kang Karyo: Untung Krishna mengingatkan, Bangkitlah wahai Arjuna. Tanpa kau perangi mereka juga akan mati. Tetapi perangmu adalah sebagai dharma para kesatria. Kamu akan mati sebagai cacing atau tikus kamu tetap mati. Jadilah alat Alam Semesta. Dan kau akan hidup selaras dengan Alam Semesta.

Pakdhe Jarkoni: Ayo yang merasa sebagai Kesatria Indonesia, bangkitlah. Kelahiranmu di tanah ini bukan tidak berarti. Kang Karyo ikut memelopori sebagai Pencinta Budaya Nusantara.

Triwidodo
Maret 2008.