Menghormati Simbol-Simbol Agama


 

Pakdhe Jarkoni yang baru saja kledang-kledang, jalan pelan-pelan mau keluar rumah, di depan regol, pintu gerbang dihentikan Pak Sulis yang penganut aliran kepercayaan. Sambil berdiri terjadilah dialog menarik antara mereka.

 

Pak Sulis: Selamat pagi pakdhe, mau tindak-tindak, jalan-jalan ya? Saya mau nanya sebentar, kata orang di rumah pakdhe banyak simbol-simbol agama, kami turut senang pakdhe, tetapi saya mau tahu pandangan pakdhe tentang simbol-simbol agama tersebut.

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut Guru pakdhe, Yang Mulia Buddha setelah mendapatkan pencerahan di Bodhgaya selalu jalan-jalan, vihar ke berbagai tempat. Tindakan dan Ucapan dari Yang Sudah Mendapatkan Pencerahan tersebut menjadi dasar ajaran bagi pengikutnya. Kalau tindakan dan ucapan Beliau selama 50 tahun itu dibukukan akan menghabiskan berapa almari? Bagi pengikutnya, cukup melihat patung Buddha saja, sudah memberikan inspirasi untuk melangkah dalam kehidupan. Rasa yang timbul dari melihat patung saja sudah mewakili ingatan akan ucapan dan tindakan beliau selama 50 tahun. Jadi simbol apa pun apabila dapat meningkatkan spiritual, menurut pakdhe ya alat yang sah-sah saja.

 

Pak Sulis: Sungguh luar biasa Guru pakdhe. Jadi orang bisa menggunakan alat spiritual, patung atau lukisan atau kaligrafi untuk memandu langkahnya dalam menapaki kehidupan. Sebaiknya kita menghormati simbol kepercayaan orang lain kan?

 

Pakdhe Jarkoni: Dirumah Pak Sulis terdapat foto Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia, boleh tidak orang menginjak-injak foto tersebut, kan foto tersebut sebenarnya hanya kertas belaka. Jelas tidak boleh, karena foto itu adalah simbol pemimpin negara kita. Menginjak-injaknya berarti menghina negara kita.

 

Pak Sulis: Di rumah kami, sebagai penganut kepercayaan banyak patung dan pernik-pernik yang merupakan simbol penghormatan kami terhadap Gusti, Pangeran Kang Maha Agung. Ada keponakan kami yang menganggap itu semua berhala, bagaimana kami meng-counter-nya pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut agama pakdhe, Orang mukmin itu adalah orang yang pada waktu berbaring, duduk, berdiri dan berjalan ingat akan Allah swt. Kebanyakan orang itu pada waktu berbaring, duduk, berdiri dan berjalan yang diingat dunia, bahkan yang diingat duit, bagi yang sedang kasmaran, jatuh cinta yang diingat kekasihnya. Bukankah itu semua bukan Allah swt, bukankah itu semua berhala? Bahkan pada waktu sembahyang pun yang diingat urusan dunia, apa itu tidak menyekutukan Allah swt dengan yang lain. Menurut pakdhe itu berhala. Keponakanmu menganggap kata-kata orang yang diseganinya sebagai kebenaran, bukankah keponakanmu menyamakan fatwa seseorang dengan kebenaran Tuhan? Kami belum paham mengenai taqlid buta, tetapi apakah itu tidak menyekutukan Tuhan. Biarlah Tuhan yang menilai. Tenangkan pikiran, agar jiwa menjadi tenang. Kalau jiwa tenang hati nurani akan bersuara. Jangan mencari pembenaran dengan otak atau pikiran, apalagi dengan menggunakan nafsu, biarkan lubuk hati nurani terdalam yang bicara.

 

Pak Sulis: Terima kasih pakdhe, sudah cukup penjelasan pakdhe, kami mau pulang. Mohon maaf mengganggu pakdhe yang mau tindak-tindak, jalan-jalan, vihar. Sampai ketemu nanti.

 

Triwidodo.

Maret 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: