Pandangan Para Ulama Founding Fathers Terhadap Pancasila


 

Fauzi keponakan pakdhe Jarkoni adalah mahasiswa yang bersemangat. Setelah mendapatkan beberapa pidato Bung Karno tentang Pancasila, kembali dia bertandang ke rumah pakdhe Jarkoni.

 

Fauzi: Pakdhe, terima kasih atas pemberian beberapa pidato Bung Karno. Luar biasa, dasar negara tersebut dapat mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia yang amat beraneka ragam. Bagaimana pandangan pakdhe tentang pemikiran khilafah Islam, bersatunya negara-negara Islam dalam satu kekhalifahan?

 

Pakdhe Jarkoni: Mari kita lihat di Timur Tengah dengan jernih. Semua negara di sana beragama Islam, tetapi banyak negara yang bahkan tidak bersahabat. Di dalam satu agama pun ada beberapa pendapat, bukankah perbedaan antara Shiah dan Sunni pada zaman dahulu memakan banyak korban? Karena yang jadi panglima adalah kekuasaan bukan agamanya. Agama dijadikan alat untuk menggapai kekuasaan. Bukankah berapa khalifah sesudah nabi juga terbunuh, padahal agamanya sama. Karena apa? Karena perebutan kekuasaan, bukan agamanya yang salah, tetapi pemimpin yang menyalahgunakan agama. Renungkanlah. Jernihkan pikiranmu.

 

Fauzi: Pakdhe bagaimana pandangan para ulama zaman dulu terhadap Pancasila?

 

Pakdhe Jarkoni: Hamka dalam risalahnya yang bernama”Urat Tunggang Pancasila” menyatakan pendapatnya, bahwa bagi tiap-tiap orang yang beragama atau tiap-tiap orang yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan lagi, karena Sila yang empat daripada Pancasila sebenarnya hanyalah akibat saja daripada Sila yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Marilah kita perhatikan sabda Nabi yang beliau kutib untuk menyatakan tafsir daripada Perikemanusiaan: “Yang sebaik-baiknya manusia ialah yang banyak manfaatnya kepada sesama manusia.”

 

Fauzi: Bagaimana pandangan Moh. Natsir pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Moh. Natsir dalam pidatonya di Pakistan Institute of International Affairs di Karachi pada tanggal 9 April 1952, mengatakan: “Indonesia tidak memisahkan Agama dari Kenegaraan. Dengan tegas, Indonesia mewujudkan Tauhid dan percaya kepada tuhan Maha Esa itu sebagai tiang turus dari Pancasila – Kaedah yang Lima – dan dianut sebagai dasar rohani, akhlak dan susila oleh Negara dan Bangsa Indonesia.”

 

Fauzi: Jadi bagaimanapun ada perbedaan antara Islam di Indonesia dengan di negara lainnya? Maksud kami esensinya sama, tetapi budaya kita memang tidak sama dengan budaya negara lain?

 

Pakdhe Jarkoni: Kadang-kadang, dikatakan sebelum ada Islam, masyarakatnya masih jahiliah. Pendapat itu betul untuk di Arab pada zaman nabi, tetapi di Indonesia, sebelum Islam kita sudah maju budayanya. Pancasila digali dalam sekali sampai masa pra-Hindu. Dan pada waktu itu nenek moyang kita, leluhur kita sudah berbudaya. DNA nenek moyang kita masih mengalir dalam diri kita, itu tidak dapat kita pungkiri.

 

Fauzi: Terus bagaimana pendapat para ulama Founding Fathers kita tentang tetangga mereka yang berbeda agama?

 

Pakdhe Jarkoni: Hamka berpedoman pada sabda nabi yang tadi pakdhe katakan: “Yang sebaik-baiknya manusia ialah yang banyak manfaatnya kepada sesama manusia”. Selanjutnya beliau juga menyatakan: “Masuk neraka wailun, walaupun dia sembahyang tunggak-tunggik, ditambahnya sembahyang lima waktu dengan segala sembahyang sunat, kalau dihambat-hambatnya bertolong-tolongan, bantu-membantu, gotong-royong… Walaupun katanya dia percaya kepada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bohong kepercayaan itu kalau dia menyakiti jirannya (tetangganya).

 

Fauzi: Terima kasih pakdhe, semoga amal ibadah para Founding Fathers diterima Allah swt, dan kami sebagai generasi penerusnya mendapatkan bimbingan dan perlindungan-Nya. Amin.

 

Triwidodo.

Maret 2008.

Iklan

2 Tanggapan

  1. Ada yang perlu kita renungkan kembali tentang sejarah bangsa kita, Indonesia. Bahwa, negeri kita, Indonesia ini, didirikan oleh mayoritas tokoh umat Islam, ya Bung Karno, Bung Hatta dll. walau aliran politiknya berbeda. Pendiri bangsa ini pula yang menyetujui landasan moral kebangsaan dan kenegaraan berdasarkan lima sila yang kita kenal dengan Pancasila.

    Disaat negeri kita ini sedang berada dalam kasus besar, yakni menjadi suatu negara federal atau serikat, maka kembali peran para tokoh umat Islam tercatat dalam sejarah bangsa kita. Inilah yang sering kita lupakan, dimana Partai Islam, MASYUMI telah menjadi sponsor kembalinya ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 3 April 1950 terkenal dengan MOSI INTEGRAL

  2. Visi para founding fathers sama, Indonesia merdeka dan masyarakat sejahtera. Tidak ada clash of vision. Bagaimana cara mencapainya, masing-masing mempunyai ego, yang terjadi adalah clash of ego. Dan saat ini ada 200 juta lebih ego di Indonesia. Para founding fathers dulu punya tenggang rasa, sedangkan saat ini para pemimpin merasa paling benar sendiri. Sudah tidak ada rasa persaudaraan. Yang ada hanya rasa persaudaraan di antara umat. Padahal disebutkan bahwa semua orang dalam kerugian kecuali mereka percaya, yang saling menasehati dalam kebenaran, dan yang saling menasehati dalam kesabaran. Visi Indonesia makmur sejahtera berkeadilan yang kita jadikan kepercayaan. Kemudian para pemimpin bicara kebenaran dan bicara dalam kesabaran. Selama pemimpin mengikat persaudaraan dalam konteks ketiga hal tersebut maka Indonesia tidak rugi. Semua manusia di Indonesia dengan berbagai kepercayaan adalah satu saudara dan semuanya putera Ibu Pertiwi. Sayangnya ada yang merasa yang bersaudara hanya yang satu umat saja. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: