Kepolosan dan Kejujuran Anak Bangsa

Lik Darmo yang seniman mengundang pakdhe Jarkoni yang sedang jalan-jalan untuk mampir ke rumahnya. Dengan disuguhi singkong goreng dan teh panas manis yang kenthal pembicaraan mereka menjadi lancar.

 

Lik Dharmo: Pakdhe selalu bicara dasar perjuangan adalah spiritual dulu. Dalam zaman gini, apa masih perlu kejujuran pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Kembali ke tujuan awal, kita perlu membereskan diri sendiri sebelum ikut ngurusin negeri. Hidup itu untuk apa? Benarkah aku bahagia dengan memuaskan panca inderaku? Apakah memenuhi keinginan di luar akan membahagiakanku? Siapakah jatidiriku? Untuk apa aku hidup? Pemahaman tersebut didapatkan ketika kita mulai meniti ke dalam diri. Guru pakdhe mengadakan banyak program untuk memberdaya diri dan juga menulis buku-buku tentang memberdaya diri. Jelek-jelek begini, pakdhe juga membuat blog di internet. Basis blog adalah pelajaran Guru. Percakapan tentang kebangsaan diarsipkan dalam dialog Ibu Pertiwi. Percakapan pakdhe tentang spiritual dikumpulkan dalam Dialog Rasa. Sudah jelas akan banyak kelemahan, tetapi pakdhe akan bisa introspeksi percakapan pakdhe dulu bagaimana dan sekarang bagaimana. Jadi blog tersebut adalah untuk membereskan diri pakdhe. Bagi yang kebetulan membaca dan ingin mendalami lebih lanjut bisa link ke situs guru pakdhe.

 

Lik Darmo: Kembali ke masalah kejujuran pakdhe, apakah kita harus jujur? Tadi jawaban pakdhe agak ngalor-ngidul, ke utara-selatan kurang jelas.

 

Pakdhe Jarkoni: mungkin saja kita memegang erat-erat kebohongan, tetapi kita tetap akan takut ketahuan tentang kebohongan kita. Dengan berbohong kita akan gelisah. Lihat wajahnya orang yang mengatakan spiritual, ada kegelisahan tidak? Mungkin bajunya putih bersih sepanjang lutut, matakakinya kelihatan, tetapi wajahnya jernih tidak? Baju yang paling baik adalah baju iman. Iman itu selaras dengan hati nurani, keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Zaman dahulu untuk menutup kebenaran, buku yang tidak sesuai bisa dibakar, orang-orang diindoktrinasi tentang kebenaran, ditakut-takuti sorga dan neraka. Apakah masih efektif dalam masa seperti saat ini? Kembali duduk tenang, heningkan pikiran, biarkan gejolak pikiran mereda, hati nurani menunggu ketenangan diri baru bersuara. Suaranya sangat lembut. Jadilah seorang yang polos, tulus seperti anak kecil, jangan tidak jujur. Selama ini pikiran menguasai kita, sekarang saatnya hati nurani bicara.

 

Lik Darmo: Menurut pakdhe ada orang yang mengatakan beriman, tetapi tidak keluar dari hati nurani yang tulus. Sebetulnya itu hanya hasil conditioning, pemahaman yang masuk kebawah sadar karena repetitif dan intensif?

 

Pakdhe Jarkoni: Karena itu perlu sekali membersihkan sampah-sampah pikiran yang memenuhi bawah sadar kita. Walau kita mandi bersih sekali, tetapi mandi harus dilakukan secara ruitin kalau tidak bau sampah akan keluar dari diri kita. Proses pembersihan sampah pikiran, menyapu sampah pikiran perlu dilakukan secara rutin. Hanya ketika ada ruang bersih, energi Ilahi akan masuk. Kalau tidak kita keluarkan, maka meditasi atau perenungan justru akan memunculkan sampah keberingasan atau memendam sampah semakin dalam.

 

Lik Darmo: Jadi meditasi pun harus dibarengi pembuangan sampah pikiran?

 

Pakdhe Jarkoni: Menurut cerita pak Guru, Rahwana, Dasamuka penguasa Alengka itu juga suka merenung. Tetapi yang keluar justru keberingasan yang luar biasa. Hati-hati dalam merenung, bisa-bisa yang akan keluar adalah kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Sifat raksasa dalam diri yang terpendam justru keluar. Dalam kondisi tenang afirmasi mempunyai pengaruh luar biasa, bisa merasuk ke dalam bawah sadar. Kalau afirmasinya hal-hal yang bersifat kekerasan, maka kekerasanlah yang merasuki bawah sadar. Dan tanpa sadar kita bertindak sesuai keyakinan yang dipengaruhi oleh bawah sadar kita.

 

Lik Darmo: Sehingga pemimpin-pemimpin yang berpengaruh mempunyai peranan yang penting ya pakdhe. Semoga mereka insaf, sadar. Jangan memberikan pemahaman yang tidak menunjang persatuan, yang memecah belah bangsa, demi keuntungan pribadi atau kelompoknya. Semoga Ibu Pertiwi memberkahi kita semua. Amin.

 

Triwidodo

Maret 2008.

 

 

 

Iklan

Bibit Yogurt Ibu Pertiwi

Pakdhe Jarkoni sedang duduk di teras depan rumah sambil membaca buku Sutasoma ketika keponakannya Fauzi datang dan mengajak ngobrol. Dasar pakdhe suka ngecap, maka asyiklah mereka berdua ngobrol.

 

Fauzi: Kami mendengar berita-berita bahwa pakdhe suka cerita yang membangkitkan semangat kebangsaan. Kebetulan tanggal 20 Mei nanti peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tepat 100 tahun peringatan berdirinya Boedhi Oetomo, Budi Utama. Ada beberapa hal penting yang mendahului kemerdekaan, pertama tahun 1908 berdirinya pergerakan yang bersifat nasional yaitu Budi Utama. Kedua Sumpah Pemuda yang menyatakan kesepakatan 1 bangsa, 1 bahasa dan 1 tanah air Indonesia pada tahun 1928 dan ketiga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Setelah 60 tahun lebih merdeka, keadaan saat ini sangat memprihatinkan. Kita harus mulai dari mana memperbaikinya pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Bagus keponakanku, yang mulai senang belajar sejarah. Seharusnya anak muda belajar sejarah mulai Sriwijaya dan Majapahit. DNA leluhur-leluhur kita pada zaman itu masih terbawa pada diri kita. Kita masih memiliki gen manusia-manusia yang berhasil pada zaman-zaman dulu. Tinggal bagaimana membangkitkannya.

 

Fauzi: Itulah yang kami tanyakan pakdhe.

 

Pakdhe Jarkoni: Belajarlah dari pembuatan yogurt, bibitnya hanya satu sendok teh kecil tetapi susu segelas akan berubah menjadi yogurt semua. Diperlukan beberapa sendok teh Putra-Putri Indonesia yang bersedia menjadi bibit dan satu gelas masyarakat Indnesia akan berubah menjadi baik. Putra-Putri Indonesia yang mencintai Ibu Pertiwi dan rela berkorban demi Ibu Pertiwi. Semoga Fauzi termasuk dalam sendok teh bibit tersebut.

 

Fauzi: Saya juga mendengar Bung Karno pidato, bahwa beliau sebetulnya membutuhkan 100 orang pemuda saja untuk membesarkan negara kita. Kami kira dulu ribuan pemuda juga mendukung Bung Karno, dan semangat Bung Karno telah merasuki jiwa bangsa Indonesia, tetapi mengapa belum berhasil?

 

Pakdhe Jarkoni: Kalau bicara Bung Karno, pakdhe tidak ingin masuk ke dalam politik praktis tetapi membicarakan beliau sebagai tokoh pemersatu bangsa. Mungkin waktu itu kita belum siap. Bung Karno jauh ke depan mendahului masyarakat, bukankah neo-imperialisme yang dibicarakan beliau sekarang menjadi nyata? Pada waktu kita santai, relaks, energi alam akan mulai mengalir dan mengisi diri kita. Kalau 10-20 orang dalam keadaan relaks melakukan sinkronisasi, maka energi yang berkumpul sangat kuat. Keyakinan atau doa mereka akan mempengaruhi masyarakat sekitar. Bukankah hampir setiap orang setiap orang pernah mengalami bahwa pikirannya dapat mempengaruhi pikiran orang lain secara tidak sengaja? Misalnya kita menyanyikan suatu lagu dalam hati dan seseorang yang terinduksi tiba-tiba menyanyikan lagu kita? Semakin banyak orang yang mempunyai niat kuat yang sama, maka niat tersebut seperti virus yang dengan mudah menyebar. Yang penting niat tersebut harmoni, selaras dengan alam dan alam akan membantu.

 

Fauzi: Menurut pakdhe, kalau banyak orang gelisah dan cuek, masabodoh maka energi tersebut memancar keluar dan mempengaruhi masyarakat luas? Ketika nilai tukar rupiah turun, dan banyak orang sms, setiap koran dan tivi memberitakan hal tersebut, maka kondisi kegelisahan tersebut menular dengan cepat dan masyarakat terpengaruh dan menjadi gelisah? Histeria masa?

 

Pakdhe Jarkoni: Benar, hati-hatilah bertindak. Mari kita belajar dari Sejarah, jangan melihat lapis luar, kulit, tentang agama yang dianutnya. Tetapi kedalaman spiritualnya. Raja-raja yang sukses dari Sriwijaya, Majapahit, Kahuripan, Kediri, Singasari , Mataram dan lain-lain kuat landasan spiritualnya sehingga dapat memimpin bangsanya dengan benar. Marilah putra-putri Indonesia sadarlah, kemudian punyailah niat yang kuat untuk membangkitkan Negara kita. Gen-gen kebesaran jiwa yang terbawa dalam diri kita menunggu kesdaran kita untuk memberdayakannya.

 

Fauzi: Terima kasih pakdhe. Indonesia Jaya.

 

Triwidodo

Maret 2008.

 

 

 

Pesan Bhisma di Perang Bharatayuda

Kang Karyo yang hobby nya mendengarkan cerita wayang di radio RRI Surakarta, sangat excited, bersemangat mendengarkan umuk, bualan dari pakdhe Jarkoni tentang Arjuna masa kini, yang mulai menyentuh dasar hatinya. Maka kembalilah Kang Karyo mendatangi rumah pakdhe Jarkoni.

 

Kang Karyo: Kemarin pakdhe bercerita tentang nasehat Prabu Kresno terhadap Arjuna. Bukankah Resi Bhisma, sesepuh Pandawa dan Hastina sebelum meninggal juga memberikan pesan tentang Dharma? Setelah kena anak panah, Resi Bhisma minta diberikan bantal, dan Beliau berkenan dengan persembahan Arjuna yang berupa bantal yang dibuat dari anak-anak panah yang berdiri. Tolong ceritakan pendapat Gurunya pakdhe tentang hal ini.

 

Pakdhe Jarkoni: Resi Bhisma pernah bersumpah untuk setia melindungi Kerajaan Hastinapura. Seiring dengan perjalanan sang kala, negara Hastinapura dipimpin kelompok yang tidak memahami kebajikan. Resi Bhisma tetap memegang sumpahnya ketika Hastina berperang melawan Pandawa. Dalam keadaan terpanah, Resi Bhisma menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira bertanya, Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma.

 

Kang Karyo: Zaman itu luar biasa sportipnya ya pakdhe. Sehabis perang selesai, para Pandawa berkumpul di sekeliling Kakeknya yang di hari pertama perang menjadi Senapati musuh. Nampaknya, Yudhistira belum mengetahui percakapan antara Prabu Kresna dengan Arjuna tentang Dharma ya?

 

Pakdhe Jarkoni: Benar, sehingga Yudhistira bertanya kepada Resi Bhisma. Resi Bhisma menjelaskan, Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma. Dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma.

 

Kang Karyo: Tolong dijelaskan lebih rinci sedikit pakdhe, otak kami belum begitu megang, belum menangkap!

 

Pakdhe Jarkoni: Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian. Persatuan itu unity bukan keseragaman atau uniformity. Persatuan berarti menerima perbedaan. Kemudian menemukan benang merah yang dapat mempersatukannya. Demikian penjelasan Guru yang dapat diingat pakdhe.

 

Kang Karyo: Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai interest, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?

 

Pakdhe Jarkoni: Untuk menetukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri. Jadi semua kembali kepada diri pribadi. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.

 

Kang Karyo: Jadi menurut pakdhe kita sadar dulu baru berjuang demi Ibu Pertiwi?

 

Pakdhe Jarkoni: Di dalam diri kita juga selalu ada perang antara Pandawa melawan Korawa, perang antara Dharma melawan Adharma. Kriteria Dharma jelas Unity and Harmony, Persatuan dan Keselarasan. Dengan Seni Memberdaya Diri kita akan memenangkan dharma dalam diri dan kemudian mulai menyuarakan dharma di luar. Pribadi atau Kelompok apa pun yang tindakannya tidak mengarah kepada Persatuan dan Keselarasan Bangsa, maka itu termasuk Adharma.

 

Kang Karyo: Terima kasih pakdhe. Semoga semakin banyak Putra-Putri Bangsa yang bersemangat melaksanakan Dharma, sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh masyarakat Indnesia. Amin.

 

Triwidodo

Maret 2008.

 

 

 

Kakang Kawah Adi Ari-Ari dan Spiritualitas Orang Jawa (versi ringkas)

 

Para leluhur di Jawa, mempunyai kepercayaan tentang empat saudara (Kakang Pembarep, Kakang Kawah, Adi Ari-Ari, Adi Wuragil) dan satu diri ( Lima Pancer). Saudara-saudara yang empat tersebut menemani pribadi seseorang sepanjang perjalanan hidupnya. Hal tersebut sejalan dengan adanya kepercayaan tentang kekuatan Gusti, Hyang Widi yang selalu mendampingi manusia dan dipersonifikasikan dalam empat Kanda (Dewi Uma, Dewa Iswara, Dewa Brahma dan Dewa Mahadewa) dengan satu musuh (Bathara Kala, ego manusia). Materi/wujud dari keempat saudara pada waktu kelahiran manusia adalah: darah putih (ungkapan belas kasih), bungkus (kekuatan), ari-ari atau placenta (penjaga sukma) dan darah merah (pertahanan dalam bahaya).

 

Dalam Layang Joyoboyo, nama keempat saudara tersebut adalah:

 

  1. Djoborolo (Djibril), yang memberi sabda terhadap manusia,

  2. Mokoholo (Mikahil), yang memberi rasa terhadap manusia,

  3. Hosoropolo (Hisropil), yang memberi ingatan terhadap manusia dan

  4. Hodjorolo (Hijrail), yang memberi bisikan hati terhadap manusia..

 

Mereka “dianggap” sebagai saudara-saudara pribadi yang kasat mata yang membantu kita dalam mengarungi hidup ini. Disebutkan juga, ketika umur janin menjelang sembilan bulan, Gusti, Hyang Widhi mengeluarkan kekuasaannya membuat “rasa” yaitu:

 

  1. Budi, rasanya budi, budi yang halus (di dalam Budi ada Intelejensia),

  2. Intelegensia/Naluri, yang dalam Layang Joyoboyo ditulis sebagai “pikiran”, maksudnya rasanya pikiran, pikiran yang berasal dari dalam yang halus (di dalam intelejensia ada nurani).

  3. Nurani, yang dalam Layang Joyoboyo ditulis sebagai “rasa”. Rasanya rasa, rasa yang halus (di dalam nurani ada sukma),

  4. Kehidupan, rasanya hidup (di dalam kehidupan ada “Aku”).

 

Dengan adanya kekuatan bawaan tersebut, maka manusia tidak perlu takut untuk hidup di bumi. Kita sadari, bahwa kita mempunyai raga dan beberapa kekuatan pembantu yaitu, pikiran, rasa, ingatan dan bisikan hati atau nurani.

 

Kita sering mengidentifikasikan diri dengan raga, kulitku sawo matang tinggi 170 cm, tinggi besar, mata hitam rambut ikal, tampan, cantik. Itu semua adalah ragaku. Tetapi ketika kehidupan meninggalkanku itu semua hanya jasadku. Dan aku bukan jasad.

 

Selanjutnya, kita sering mengidentifikasikan diri dengan pikiran. Aku adalah pikiranku. Memikir memicu keinginan, selanjutnya keinginan memicu ucapan dan tindakan. Dan hasil yang dicapai tidak pernah abadi, kita terjerat dengan kekuatan Sang Kala, sang waktu. Hari ini senang, tetapi ketika kesenangan habis akan timbul kekecewaan, kalaupun tidak tercapai kesenangan juga akan timbul kekecewaan. Seandainya waktu tidak ada atau hanya bersifat ilusi, maka kesenangan dan kekecewaan akan jadi satu. Demikianlah, maka pikiran yang jernih membantu kita dalam melampaui dualitas. Dalam keadaan meditatif kita dapat memperhatikan pikiran, diri menjadi saksi dari pikiran. Pikiran yang jernih dapat digunakan sebagai alat. Tetapi sebelumnya, karena belum sadar, maka kita menjadi budaknya pikiran yang tidak jernih.

 

Emosi bukanlah rasa, emosi muncul ketika pikiran bertemu tubuh. Pikiran yang kuat tentang kemarahan menimbulkan emosi marah yang merupakan reaksi tubuh terhadap pikiran yang akan menyerang. Emosi adalah reaksi tubuh terhadap pikiran. Kala pikiran jernih, emosi tenang, dalam keadaan meditatif, kita dapat memperhatikan emosi. Maka, muncullah nurani, rasa sejati yang penuh kasih.

 

Ketika mencapai kesadaran baru yang lebih tinggi, maka ingatan/pemahaman yang lama harus dibuang dan diri harus dipenuhi dengan ingatan/pemahaman baru. Hal ini sejalan dengan ajaran Yang Mulia Atisha, bahwa setelah tercapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, Bodhi Chitta, maka semua conditioning lama harus dibuang, dan diganti dengan kesadaran baru. Memperbaiki conditioning mind dengan created mind yang harus diterapkan dalam keseharian.

 

Bisikan hati atau nurani membantu diri manusia. Ketika sampai pada suatu kesadaran bahwa yang mengawasi dan membisiki adalah aku, yang diawasi dan dibisiki adalah aku, pengawasan dan bisikan adalah aku, maka diri sudah mencapai kesadaran La Illah Illallah. Tidak ada sesuatu di luar Allah. Yang Ada hanyalah Allah.

 

Bagaimana pun yang penting bukanlah sekedar memahami dan mencapai suatu tingkat kesadaran, akan tetapi bagaimana merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan, itu bukanlah pekerjaan yang ringan, itu adalah jihad yang sejati. Perlu tekad yang kuat sekaligus kepasrahan kepada Gusti, Hyang Widhi. Dalam pandangan-Nya kita ini adalah anak kecil yang baru belajar jalan yang masih tertatih-tatih. Sesuai mekanisme alam, Gusti akan membantu lewat Guru. Semoga Guru berkenan membimbing. Semoga Guru sudi memandu.

 

 

 

Triwidodo

 

Medan Kurushetra di Indonesia Pada Saat Ini

Kali ini kembali Pakdhe Jarkoni berbincang-bincang dengan Kang Karyo yang mempunyai hobby mendengarkan cerita wayang di radio.

 

Kang Karyo: Minggu lalu pakdhe bicara tentang situasi Arjuna yang ragu dan takut untuk berperang melawan Korawa. Hanya setelah mendapat nasehat Prabu Kresno, Arjuna bangkit semangatnya. Pakdhe menyamakan kondisi Arjuna zaman Mahabharata dengan Arjuna-Arjuna  Indonesia masa kini. Terus musuh Arjuna masa kini itu siapa pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Memang musuh Arjuna zaman dulu jelas, nyata, yaitu Kaum Korawa. Musuh Arjuna-Arjuna  masa kini adalah orang kita sendiri: para Pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya, para Agamawan yang mencari kekuasaan dan memecah belah bangsa, para Pendidik yang memperjualkan pendidikan, para Pengusaha yang tega merugikan bangsa demi keuntungan pribadi dan masih banyak lainnya. Hampir di setiap bidang Arjuna-Arjuna masa kini mempunyai musuh.

 

Kang Karyo: Ruwet ya pakdhe, kita sendiri mungkin termasuk juga termasuk Kaum Korawa masa kini. Mana ada orang Indonesia yang tidak terlibat. Mereka yang tinggal di pucuk Gunung pun juga bersalah karena cuek terhadap keadaan negeri kita. Kita diharapkan sebagai Arjuna, padahal dalam diri kita mengandung sifat Korawa juga. Bagaimana solusinya pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Memang harus mulai menspiritualkan diri, memahami bahwa kebahagiaan yang dicari di luar diri tidak akan abadi. Kemudian percaya siapa yang nandur, menanam akan ngunduh, menuai, sehingga sadar dan tidak menanam benih kejelekan. Selanjutnya mulai meniti ke dalam diri, menyadari bahwa aku ini bukan tubuh semata dan kesenangan panca indera tidak abadi. Seterusnya, mulai meyakinkan anggota keluarga inti apa tujuan hidup yang benar. Berterima kasih kepada Ibu Pertiwi dan mulai memperbaiki keadaan sekitar.

 

Kang Karyo: Akan makan waktu lama ya pakdhe? Kita sudah almarhum mungkin usaha belum akan tercapai.

 

Pakdhe Jarkoni: Kang Karyo, bukankah terdapat nasehat agama agar kita bekerja untuk dunia seakan kita hidup selamanya dan bekerja untuk akhirat seakan kita mati besok. Intinya apa? Agar kita selalu berbuat baik, selaras dengan alam, maka kerja untuk dunia atau pun kerja untuk akhirat tetap bekerja penuh kebaikan. Artinya semua pekerjaan kita spiritualkan. Kalau sudah demikian maka untuk agama mana pun intinya sama juga. Intinya adalah menspiritualkan setiap kegiatan. Jadi kalau kita berkarya, sampai mau mati pun tetap berkarya. Kalau bertindak dengan penuh kasih, sampai mau mati pun kita tetap penuh kasih, sehingga kasih akan tetap menjiwai selamanya, abadi.

 

Kang Karyo: Selanjutnya bidang apa saja yang perlu didahulukan?

 

Pakdhe Jarkoni: Jelas kita awali dengan gerakan Cinta Ibu Pertiwi, membangkitkan kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya asal. Kita mulai dengan mulai dengan program memberdaya diri. Agar kita tidak mengalami stress dalam mengarungi hidup ini. Kemudian memberdayakan guru-guru agar dapat mengajar tanpa dihajar stress. Dan yang penting dapat mengapresiasi agama lain. Kita membutuhkan pemuda-pemudi yang berkesadaran sehingga virus-virus kesadaran akan cepat menular. Ingat kan tentang kesadaran kera di suatu pulau di Jepang yang mencuci ketela sebelum makan? Pertama-tama sulit tetapi begitu 30 ekor, 100 ekor, 300 ekor kera tersadarkan maka ratusan kera yang berada di pulau yang lain pun tersadarkan juga. Kami yakin tentang kekuatan energi ini.

 

Kang Karyo: Terima kasih pakdhe, semoga semua warga negara menyadari ke-Arjuna-an dalam diri dan segera menaklukkan ke-Korawa-an dalam diri sebagi modal awal untuk berbhakti terhadap Ibu Pertiwi.

 

Triwidodo.

Maret 2008.

 

 

 

Mengikuti Guru Ketika Naik Gunung atau Ketika Turun Gunung

Lama pakdhe Jarkoni tidak muncul, katanya mesantren, retret di Gunung Salak. Kali ini pakdhe Jarkoni ditanggap, diundang Lik Darmo untuk menyampaikan pengalamannya.

 

Lik Darmo: Pakdhe Jarkoni kelihatannya punya sesuatu yang berharga, tolong bagi dong untuk kami. Mudah-mudahan bermanfaat.

 

Pakdhe Jarkoni: Mohon maaf Lik Darmo, Kritik boleh kan? Panjenengan orangnya alim, hatinya lembut, tidak pernah berbuat merugikan orang lain,  tetapi Lik Darmo tidak begitu peduli pada lingkungan kan?. Di semua  lapisan ada korupsi, keadilan amburadul, kekayaan alam negeri dijarah. Perusahaan multi korporasi menggilas usaha kecil. Paklik tetap tenang, damai dan percaya kepada keadilan Tuhan. Menurut Pak Guru itu kedamaian Lik Darmo masih semu.

 

Lik Darmo: Terus terang saja pakdhe, kami tidak tersinggung, wong kami memang mengikuti Guru yang alim, yang mengerti tentang nature of thing, beliau menjelaskan secara gamblang semua persoalan di alam ini. Kami dapati di kitab-kitab suci juga demikian, apakah kami salah pakdhe. Memang demikian adanya.

 

Pakdhe Jarkoni: Kami baru saja paham bahwa mereka yang sedang naik gunung, pandangannya terfokus ke puncak, kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka yang mengerti hukum alam tersebut disebut Resi. Tetapi ada Resi Drona yang hidupnya dibiayai dengan dana Korawa. Ada Resi Durwasa yang tidak bisa mengendalikan diri dan suka menyumpah.

 

Lik Darmo: Wah, pakdhe ngaget-ageti, membuat kaget, apakah kami mengikuti dan mempelajari ajaran menarik yang menurut pakdhe kurang memperhatikan lingkungan? Ada ego yang kurang terdeteksi, agar kami dapat cepat mencapai puncak?

 

Pakdhe Jarkoni: Mungkin ajaran tersebut lengkap, tetapi yang dipelajari hanya tindakan-tindakan ketika naik gunung. Pelajaran ketika menuruni gunung tidak menarik kita karena penuh resiko. Sebaiknya kita mengikuti para Guru yang sudah mulai turun gunung, mereka melihat keadaan di bawah lebih jelas. Mereka melihat ketidakadilan dengan jelas. Mereka disebut Bhagawan, Maitreya. Kanjeng Nabi Muhammad, Gusti Yesus adalah nasionalis sejati, walau jelas spiritualis, perhatikan ajaran kemasyarakatannya. Prabu Kresno tidak duduk diam menjadi Resi di puncak Gunung, beliau ditengah masyarakat membimbing Arjuna menegakkan keadilan. Kalau semua orang mengikuti resi yang sedang naik ke puncak, maka kedamaiannya yang diperoleh masih semu. Kedamaian itu dimanfaatkan oleh mereka yang mendapatkan keuntungan dari kedamaian semu tersebut. Mungkin Indonsia habis dan terpecah-belah mereka belum sampai ke puncak juga.

 

Lik Darmo: Pakdhe, Gurumu luar biasa, tetapi ada satu pertanyaan bukankah kita tanpa belajar spiritual juga bisa melihat kondisi sekitar dan berusaha memperbaiki keadaan?

 

Pakdhe Jarkoni: Lain sekali Lik Darmo. Arjuna kalau perang berdasarkan keinginan berkuasa belum tentu menang. Arjuna mengerti spiritual dulu baru berperang, dia mengerti dia tidak bisa mati, yang mati hanya tubuhnya. Dia memahami jatidirinya setelah diajari Krishna baru berperang untuk menjalankan dharma. Landasan utama adalah spiritual dulu baru berjuang. Kanjeng Nabi Muhammad mengajari Tauhid dulu baru mengajak berjuang.

 

Lik Darmo: Terima kasih sekali pakdhe, akan kurenungkan dahulu, saya melihat kebenaran. Tetapi terjadi perubahan pandangan yang sangat drastis. Sekali lagi terima kasih pakdhe, lain kali kita bicarakan lagi. Kami perlu minum jamu tolak angin. Tubuhku terasa greges-greges, demam, mendengarkan penjelasan pakdhe.

 

Pakdhe Jarkoni: Baik Lik Darmo, semoga Gusti, Hyang Widhi memberikan dalan padhang, jalan yang terang. Amin. So be it.

 

Triwidodo

Maret 2008.

 

Mass Media Ibu Pertiwi yang Bertanggung Jawab

Lik Darmo yang tersentuh pelajaran Guru pakdhe Jarkoni tentang mengikuti Guru ketika naik gunung atau ketika turun gunung, mendatangi rumah pakdhe Jarkoni.

 

Lik Darmo: Terima kasih pakdhe atas pelajaran Guru pakdhe, kami sekarang mulai memperhatikan sekitar, hal pertama yang kami lihat adalah pengaruh media Tivi dan Koran yang begitu besar. Kami lihat mereka mengekspose masalah korupsi dan KPK, yang bagus bagi negara. Tetapi tayangan-tayangan takhayulnya akan menyesatkan masyarakat. Berita kelompok ekstrem yang dibiarkan pemerintah akan meresahkan masyarakat. Bagaimana pandangan pakdhe?

 

Pakdhe Jarkoni: Zaman ini sering disebut zaman media, kekuasaan bergeser ke mass media yang bisa menjangkau masyarakat luas. Semua penguasa, pengusaha, ilmuwan mendekati media agar kepentingan mereka tertampung. Dampak positifnya jelas banyak. Dampak negatifnya, masyarakat suka berbicara. Yang mengetahui masalah dan yang tidak memahami pun angkat bicara. Tayangan dan berita mass media membuat keriuhan suasana. Dan kegelisahan berita cepat menyebar dan menggelisahkan masyarakat, sehingga mereka semakin stress. Kalau membaca koran pakdhe juga suka bingung, komentar petinggi bisa aneh-aneh dan bertentangan, akibatnya pakdhe pilih-pilih berita dan pilih-pilih orang yang bicara. Akibatnya wibawa media terasa menurun.

 

Lik Darmo: Betul pakdhe, masyarakat cenderung melihat extravaganza, Tukul, ataupun Super Mama yang menghibur. Karena setiap berita tivi isinya kekerasan yang tentu saja tak akan ada habisnya dalam negara berpenduk 250 juta ini. Pakdhe, kalau setiap orang harus mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan sepanjang hidupnya nanti, apakah perusahaan juga harus mempertanggungjawabkan tidakan-tindakannya di depan Tuhan nantinya?

 

Pakdhe Jarkoni: Setiap pikiran, ucapan dan tindakan adalah benih yang pada suatu saat akan berbuah dan hasilnya akan kembali kepada kita. Kapan panennya tidak ada yang tahu, yang jelas bibit jelek berbuah jelek, bibit baik berbuah baik. Kita hidup di Indonesia, makan minum di Indonesia, mati juga di Indonesia. DNA kita juga DNA Indonesia. Mengapa kita tidak peduli dengan negara kita? Mengapa kita hanya berkutat pada kepentingan pribadi dan kelompok saja. Teman saya orang Bali dan dia percaya karma. Dia bicara, kita hidup di negara yang semrawut, karena dari kehidupan-kehidupan kita sebelumnya kita begitu cuek terhadap negeri kita. Kalau sekarang masih cuek, mungkin kita mati dan dilahirkan lagi di negara yang semakin amburadul. Bukan masalah percaya karma atau tidak, tetapi kita memang terlalu cuek. Semoga mass media kita tidak cuek.

 

Lik Darmo: Pakdhe, tetapi bukankah media itu agar bertahan hidup dan berkembang harus selalu memperhatikan pangsa pasar. Kalau masyarakat sukanya hal-hal yang bersifat kekerasan dan polemik maka media terpaksa mengikutinya. Bukankah sudah ada polling, berita atau tayangan apa saja yang paling disukai masyarakat?

 

Pakdhe Jarkoni: Justru kita harus hati-hati terhadap suatu polling, betulkah fair atau mengandung tujuan tertentu? Kita memang kurang cinta terhadap tanah air. Kita lebih mencintai pribadi dan kelompok kita. Kita mau yang aman dan tidak beresiko yang artinya cuek. Kita tidak berani menyatakan banyak negara asing yang berkepentingan agar negara kita tidak kuat. Mereka ingin kita terpecah-belah. Semua provinsi boleh mengeluarkan perda syariat. Dan setelah Aceh, mungkin Bali syariat Hindhu, Papua dan Manado Syariat Kristen, Jogya syariat Kraton, Lebak syariat Baduy, Blora syariat Samin. Rusaklah Indonesia. Lupa akan Undang-Undang Dasar 1945.

 

Lik Darmo: Mengapa kita tidak sadar ya pakdhe, sebagian orang kita digunakan sebagai pion-pion pemecah belah? Kan sudah ada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika?

 

Pakdhe Jarkoni: Kami dengar rumor, mereka mengincar Bali yang penduduknya sebagian besar beragama Hindhu dan punya hubungan internasional yang baik. Pion-pion itu tanpa sadar memanaskan pemuda Bali. Seandainya Bali ingin merdeka, hal tersebut akan didukung masyarakat internasional. Sebagai negara merdeka, Bali punya hak akses ke samudera lepas, sehingga selat diantara Banyuwangi dan Gilimanuk akan menjadi laut internasional dan terbelahlah Indonesia. Armada asing berhak lewat selat tersebut. Namanya rumor, tetapi kenapa kita tidak terketuk? Media diam saja. Kita disebut pakar lack of urgency, kehilangan sense of urgent, ketiadaan kepekaan yang mendesak. Saya ingat pelajaran, pahamilah dirimu dan kau akan memahami alam semesta.

 

Lik Darmo: Bagaimana pakdhe contohnya mempelajari diri?

 

Pakdhe Jarkoni: Ada milyaran sel dalam tubuh kita. Tetapi semua sel bekerjasama. Kaki terantuk batu berita disampaikan berantai ke otak. Darah putih kompak akan selalu menyerang musuh, penyakit. Tidak pernah mereka cuek, ngambek dan demo. Sel yang tidak selaras dengan tubuh, yang tidak mau bekerjasama dinamakan tumor dan kanker. Tumor cuek dan kanker agresif menyerang tubuh. Apakah kita ini merupakan tumor dan kanker bagi Ibu Pertiwi. Sudahlah Lik, mari kita berdoa dan berjuang.

 

Lik Darmo: Berdoa merupakan refleksi dari perjuangan kita. Bukan karena takut resiko, kita lalu berdoa saja. Kalau kita berdoa minta diberikan jalan yang lurus, itu adalah refleksi perjuangan kita yang sedang menapaki jalan yang lurus, yang banyak tantangannya. Itul termasuk jihad. Terima kasih pakdhe.

 

Triwidodo

Maret 2008.