Mutiara Quotation Buku Neo Psychic Awareness

 

Judul : Neo Psychic Awareness

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 197 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Neo Psychic Awareness

 

Ilmu medis memiliki standar tertentu untuk kemampuan persepsi kita. Mata mengandaikan gelombang tertentu. Telinga memiliki skala, sehingga hanya gelombang dengan frekuensi tertentu yang bisa didengar olehnya. Hal yang sama berlaku untuk peraba, penciuman, dan perasa.

Manusia memiliki kemampuan luar biasa, yang dalam diri kebanyakan orang masih terpendam sebagai sebuah potensi. Yang dimaksudkan adalah psychic awareness atau kesadaran psikis. Lapisan kesadaran ini sering dikaitkan dengan sesuatu yang berbau mistis, gaib, dan sering disamakan dengan indra keenam.

Buku ini memaparkan bahwa kita bisa mengembangkan kesadaran psikis tersebut, dan terdapat banyak latihan untuk itu. Dengan latihan tersebut akan terjadi perluasan kemampuan indrawi kita, dan sebagai akibat berkembangnya kesadaran psikis kita, kita akan menjadi lebih intuitif, lebih peka, dan dapat menggeser keterbatasan persepsi indrawi kita yang biasa.

Dengan kemampuan yang baru itu, kita juga diajak untuk membangun Indonesia Baru, mulai dengan dan dari diri kita sendiri.

 

Lapisan Kesadaran Psikis.

Perkembangan lapisan psikis membuat kita menjadi lebih intuitif. Tetapi intuisi bukanlah indera keenam, ketujuh, atau entah keberapa. Kita memahami intuisi sebagai hasil dari optimalisasi semua indera; perluasan dari indera-indera yang berjumlah lima itu. Perkembangan lapisan kesadaran psikis menggeser standar-standar buatan manusia. Bila dikaitkan dengan indera penglihatan, mata kita menjadi lebih peka dan dapat melihat lebih jauh, atau melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh umum.

Lapisan kesadaran psikis menggunakan energi di dalm diri kita sendiri untuk perkembangannya. Di sinilah letak perbedaannya antara perkembangan kesadaran psikis dan koreksi terhadap indera. Koreksi terhadap indera dilakukan oleh para ahli media dengan menggunakan alat-bantu, obat-obatan dan lain sebagainya. Perkembangan kesadaran psikis dilakukan oleh diri sendiri. Bantuan dari luar dibutuhkan sekadar untuk mengingatkan diri bahwa kita mampu mengembangkan diri. Karena itu, untuk sementara waktu kita boleh mengartikan perkembangan kesadaran psikis sebagai perkembangan diri. Untuk itu, kita harus mengubah mindset kita: Aku bukanlah panca indera, aku bukanlah badan ini. Diriku bersemayam di dalam badan ini dan menggunakan panca indera untuk keperluannya. Silakan menyebut diri ini jiwa, roh, ruh, soul atau apa saja.terserah. Itulah Aku!

 

Pembersihan Diri

Persis seperti indera fisik, psikis pun membutuhkan pembersihan. Sebagaimana pendengaran Anda terganggu bila telinga Anda penuh kotoran; demikian pun perkembangan kesadaran psikis terganggu, bila diri Anda penuh dengan sampah pikiran dan emosi. Karena itu, demi perkembangan diri, atau lebih tepatnya untuk memfasilitasi perkembangan diri, kita perlu membersihkan diri.

Latihan Pertama hal 4-5.

 

Pengalaman-pengalaman Psikis.

Kebiasaan dalam keseharian kita, ketenangan kita, cara kita menghadapi suatu situasi dapat memfasilitasi perkembangan psikis, perkembangan diri.

  • Kadang dalam keadaan tidur, kita mengalami perluasan kesadaran tanpa disadari. Kita merasa melihat atau mendengar sesuatu, mendengar sebuah dialog misalnya, kemudian kita terjaga dan pengalaman itu kita anggap sebagai sebuah mimpi. Padahal, apa yang kita lihat atau dengar itu barangkali benar-benar terjadi. Dalam keadaan tidur, jiwa kita dapat menembus batas-batas buatan badan, dapat menembus kesadaran jasmani itu sendiri.

  • Kadang kita mengharapkan hubungan dengan seseorang petinggi atau seseorang yang sulit dijangkau, kemudian terjadi sesuatu atau kita berkenalan dengan seseorang yang dapat menghubungkan kita dengan orang itu, padahal kita tidak melakukan sesuatu, tidak berusaha untuk itu… seolah terjadi begitu saja.

  • Sesungguhnya kita semua pun sering mengalami telepati. Anda mengingat seseorang dan tidak tahu cara untuk mengontaknya…. tiba-tiba orang itu mengontak anda.

  • Pengalaman lain lebih sering terjadi: Di suatu pesta atau di tempat umum seperti mal, Anda memerhatikan seseorang bukan kenalan. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan melihat Anda, terjadi kontak mata. Kejadian yang barangkali sudah sering terjadi seperti ini dapat digunakan untuk melatih kemampuan kita bertelepati.

Latihan Kedua hal 9.

Latihan Ketiga hal 10.

Selain clairvoyance, clairaudience dan telepathy, masih ada yang disebut precognition, melihat sesuatu yang akan datang. Banyak orang menggunakan kemampuan precognition untuk meramal. Mereka malah menjadi peramal profesional dan berjalan di tikungan jalan. Tentu saja tidak setiap ramalan mereka tepat, karena precognition bukanlah kemampuan yang melekat pada diri kita 24 jam sehari. Hanya pada saat-saat tertentu, ketika kita dalam keadaan tenang, kemampuan ini muncul ke permukaan.

Banyak sekali dukunj dan peramal yang bhidupnya tidak tenang. Rumah tangga mereka sendiri berantakan. Dalam keadaan seperti itu, jelas mereka tidak mampu mengembangkan kemampuan psikis mereka. Bila masih bertahan sebagai dukun atau peramal, sesungguhnya mereka membohongi diri dan masyarakat.

Ada perbedaan yang jelas antara precognition dan mengetahui masa depan. Precognition berarti kita bicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang pasti, sedangkan mengetahui masa depan berarti kita bicara tentang kepastian tunggal.

 

Otak Manusia.

Dunia medis sudah mengakui kemampuan dan kedahsyatan otak manusia. Diketahui pula bahwa umumnya kita tidak menggunakan lebih dari 5-10% dari kemampuannya. Sisa otak dikaitkan dengan alam bawah sadar.

Kadang kita mengalami sesuatu dan merasakan bahwa pengalaman itu bukan sesuatu yang baru bagi kita… rasanya pernah terjadi, atau setidaknya pernah terpikir sebelumnya; atau pernah terlihat dalam mimpi. Ini yang umumnya disebut sebagai pengalaman deja vu. Bahakan cetak biru keseluruhan hidup kita dengan segala kemungkinannya pun ada di sana. Bahkan, keadaan-keadaan di luar, dalam segala bidang, asal masih ada kaitannya dengan hidup kita, ada pula di dalam cetak biru tersebut.

Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungsi 100%. memang baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, intelegen, makin sharp, makin tajam.

Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang btidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini.

Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Meungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus.

Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang bterjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka.

Latihan Keempat: hal 16-17.

 

Kesadaran Spiritual.

Sampai kini masih banyak terjadi salah kaprah mengenai arti spiritualitas. Sering kali spiritualitas dikaitkan dengan ritual keagamaan, maka timbul ungkapan seperti Spiritualitas Muslim, Spiritualitas Kristiani, Spiritualitas Hindu, Spiritualitas Buddhis, dan entah apa lagi, sehingga spiritualitas pun terkotakkan seperti halnya agama.

Dengan melaksanakan akidah agama. Anda dapat beragama tanpa harus berspiritual. Kita menjadi orang yang dipandang taat beragama, tetapi spiritualitas kita hampa.

Namun, bila Anda berspiritualitas, perilaku kita biasanya secara otomatis menunjukkan keberagamaan, karena ketika spiritualitas atau perkembangan jiwa diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan sendirinya hidup kita akan memiliki warna dan aroma keagamaan atau religiositas, religiusness.

Ketika keberagamaan di dalam diri kita berbuah, terjadilah perkembangan jiwa. Itulah spiritualitas. Namun, keberagamaan tidak selalu berbuah. Ada kalanya perkembangan jiwa tidak terjadi, walau seseorang sudah menjalani disiplin religi sebagaimana dianjurkan sesuai dengan kepercayaannya. Lahan jiwa yang penuh ilalang kebencian, keserakahan, keangkuhan, keterikatan, dan lain sebagainya, tidak layak untuk ditanami sesuatu. Ilalang itu harus dicabut terlebih dahulu. Lahan jiwa mesti dibersihkan dan dipersiapkan supaya cocok untuk ditanami sesuatu.

Rasa jenuh yang kita rasakan terhadap meditasi atau latihan-latihan yang dapat mengantar kita pada lapisan kesadaran yang lebih tinggi harus dipahami sebagai tarikan dari lapisan kesadaran rendah, karena lapisan kesadaran rendah itu tidak pernah lenyap, ia tetap eksis, tetap ada sebagai kesadaran rendah. Bila sudah memasuki Alam Meditasi, kita akan berada di atas alam pikiran dan perasaan. Rasa jenuh atau rasa apa pun tidak muncul lagi, atau tidak terasakan lagi. Meditasi membebaskan kita dari dualitas, dari segala macam dualitas.tidak ada duka, namun suka pun tidak ada, karenakeberadaan suka akan menghadirkan pula duka dalam hidup kita.

Kebhinekaan atau pluralitas merupakan sebuah bkeniscayaan. Adakah dua orang, dua makh;luk, atau dua helai daun yang persis sama? Sama dalam bentuk, ukuran, sifat hingga jumlah sel dan DNA? Tidak ada. Keberadaan, Tuhan, Allah, atau apa pun sebutan Anda menghendaki kebhinekaan. Tidak memahami Kehendak-Nya sama dengan tidak mampu membaca ayat-ayat-Nya yang bertebaran di mana-mana. Menolak Kehendak-Nya sama dengan menolak-Nya.

Jadi, secara ringkas saya akan mengatakan spiritualitas adalah:

  • Kemampuan untuk melihat Yang Tunggal di balik Kebhinekaan, dan

  • Kesadaran bahwa tidak sesuatu pun terjadi di luar Kehendak-Nya, maka Kebhinekaan pun harus dihargai, dihormati, dan diterima sebagai Kehendak-Nya.

Kita sangat bergairah saat mendalami sesuatu yang baru, namun beberapa lama kemudian kegairahan itu mulai melentur. Dalam kaitannya meditasi, kegairahan awal itu biasanya berlanjut hingga tiga bulan saja. Setelah itu, kita membutuhkan disiplin diri, ketekunan, dan barangkali support group untuk membantu kita bertahan, hingga pada suatu ketika timbul kesadaran dari dalam diri dan kesadaran itu menjadi kekuatan diri kita untuk bertahan.. untuk mempertahankan diri itu sendiri.

 

Percaya Diri.

Percaya diri tercermin juga pada penerimaan atas kegagalan dan melampaui rasa kecewa yang disebabkannya dalam sekejap. Ia tidak berhenti, tidak pernah berhenti. Ia bekerja terus. Suatu bangsa menjadi besar karena percaya diri bangsa itu sendiri terhadap nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaanya. Krisis utama yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini sesungguhnya krisis percaya diri, krisis spiritual. Kita sudah melupakan nilai-nilai luhur yang mendasari kebangsaan kita. Nilai-nilai luhur itu tidak diimpor dari Barat, Arab, Cina, maupun India. Milai-nilai luhur itu milik kita sendiri, yang kemudian diterjemahkan, dijabarkan oleh para founding fathers kita dalam lima butir Pancasila. Lihat saja apa yang terjadi pada bangsa kita setiap kali kita melupakan nilai-nilai sendiri dan mulai membanggakan nilai-nilai impor yang tidak sesuai, tidak selaras dengan tabiat bangsa kita.

Manusia bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah hasil dari evolusi panjang yang terjadi dalam alam yang tidak diketahui ujung serta pangkalnya, semesta yang tiada awal dan tiada pula akhirnya. Bukan hanya sekadar kepekaan yang harus dimiliki manusia. Ia harus sadar akan jati dirinya sebagai manusia, sebagai makhluk yang bertanggung jawab untuk memperindah bumi ini, dan oleh karenanya peka terhadap segala sesuatu yang mengotori atau dapat mengotorinya.

Ya, sadar dan peka. Itulah takdir manusia. Bila sekadar kepekaan, makhluk-makhluk lain pun memilikinya… perhatikan burung. Sebelum bertelur, mereka membuat sarang. Untuk itu mereka memilih pohon di mana mereka akan membuat sarang. Pohon pilihan itu hampir dapat dipastikan tidak akan kena petir. Kenapa bisa begitu? Karena setiap pohon mengeluarkan gelombang elektro magnetis yang dapat dideteksi oleh burung. Mereka juga dapat merasakan intensitasnya, sehingga dengan mudah mereka menghindari gelombang yang dapat mengundang petir.

Gajah-gajah di Phuket Thailand meninggalkan kandang mereka dan lari menuju bukit sebelum gelombang tsunami memorak-porandakan seluruh kawasan wisata itu. Fenomena lain yang sangat menarik. Binatang-binatang yang berada di habitat asalnya jarang jatuh sakit. Bila sakit mereka dapat menyembuhkan diri.mereka memiliki kemampuan self healing yang luar biasa. Jauh melebihi kemampuan manusia. Binatang-binatang yang sama, bila dikeluarkan dari habitat asalnya, dikurung di kebun binatang, lebih sering jatuh sakit. Kemampuannya untuk self healing pun berkurang.

Kodrat manusia adalah kepekaan berkesadaran. Itulah potensi diri yang mesti dikembangkannya. Untuk itu manusia harus percaya diri. Ia harus percaya pada ketakterbatasan dirinya. Ia harus melampaui kesadaranjasmani yang serba terbatas, utntuk menggapai kesadaran rohani yang tidak terbatas.

Untuk menjaga kesehatan manusia, akan dibutuhkan lebih banyak sentra meditasi, atau apa pun sebutannya, untuk menemukan jati diri dan mengembangkannya. Saat ini, kita sedang melakukan sesuatu yang baru akan menjadi populer 50-an tahu kemudian. Karena itu, tidak heran bila kita membingungkan beberapa pihak yang tidak mengikuti perkembangan zaman.

Mereka bingung ketika kita bicara tentang kesehatan holistik, meditasi, spiritualitas, dan kemudian mengaitkannya dengan keadaan negara dan bangsa. Mereka tidak sadar bahwa hanya manusia yang segat yang dapat menyehatkan bagsa dan negaranya. Mereka juga tidak sadar bahwa kesehatan holistik tidak hanya menyentuh lapisan fisik saja, tetapi juga lapisan-lapisan lain: mental, emosional, spiritual, bahakan sosial, finansial dan sebagainya. Manusia harus memercayai dirinya sebagai pribadi yang utuh.

 

Pribadi yang Utuh.

Adakah yang salah dengan penanganan kita selama ini? Adakah yang salah dengan pemahaman kita selama ini? Ya, ada. Kita tidak pernah melihat manusia sebagai pribadi yang utuh. Kita memisahkan masa kecil dari masa remaja dan masa remaja dari masa tua. Kita membedakan kelahiran dan kematian seolah keduanya adalah kubu terpisah, yang tidak pernah bertemu. Padahal, seorang anak kecil pun menimpan di dalm sanubarinya, bukan saja keceriaan seorang remaja, tetapi juga kematangan seorang dewasa dan kebijaksanaan orang tua. Seorang remaja pun demikian, masih ada seorang anak dalam dirinya yang ingin bermain, bercanda. Dan, seorang tua pun masih memiliki semangat remaja yang sesungguhnya tidak pernah padam di dalam dirinya. Karena tidak memahami hal ini, kitra sengsara. Kita hidup setengah-setengah. Kita tidak pernah hidup sepenuhnya.

Seorang remaja tengah membunuh anak kecil di dalm dirinya. Seorang dewasa berupaya untuk melupaka keremajaannya. Dan, seorang tua tenggelam dalam ketuaannya. Pertumbuhan adalah esensi masa kecil. Semangat yang membara adalah hakikat masa remaja. Kematangan adalah ciri orang dewasa, dan kebijakan adalah pertanda seorang tua. Kadarnya boleh beda. Kebijakan dalam diri seorang anak kecil barangkali tidak seperti dalam diri orang tua. Barangkali, karena tidak selalu demikian. Kadang-kadang, seorang anak kecil pun terbukti lebih matang daripada seorang dewasa dan lebih bijak daripada orang tua.

Perkembangan pribadi manusia secara utuh, sempurna, tidak akan terjadi bila hanya otaknya yang diasah. Program-program yang banyak disajikan di pasar pun baru menyentuh lapisan otak, walau sudah menggunakan label EQ,SQ, dan entah QQ apa lagi.

Maksud kita dengan perkembangan pribadi secara utuh adalah: otak berkembang, namun kepekaan indera-indera lain pun bertambah. Kepekaan bertambah, namun kesadaran pun meningkat. Bagaimana terjadinya perkembangan itu? Kita memang muali dari otak, karena otak merupakan titik awal. Ya titik awal, bukan titik akhir. Bukan pula satu-satunya titik.

Otak kita mengerjakan lebih dari 15 milyar sel dalam seluruh tubuh kita. Kurang-lebih itulah jumlah sel dalam tubuh manusia. Setiap sel sesungguhnya adalah sebuah electric impulse, percikan listrik yang dapat berubah menjadi rado waves, gelombang suara. Karena itu, hampir semua agama bicara tentang cahaya sebagai awal kejadian. Yang dimaksud sesungguhnya kejadian sebagaimana kita memahaminya selama ini. Pemahaman kita dapat berkembang, sehingga kesimpulan-kesimpulan lama mesti dikoreksi. Electric impulse, rado waves itu seperti petir: pertama kita melihat cahayanya, kemudian mendengar suaranya. Saat melihat cahaya, kita sudah dapat memastikan sesaat lagi akan mendengar suara.

Fenomena petir ini berlangsung pula pada manusia. Setiap pikiran yang muncul dalm otak kita juga merupakan electric impulse. Kemudian electric impulse itu berubah menjadi radoa waves, gelombang suara. Dan, apa yang terpikir pun terucap oleh kita. Namun, ada yang membedakan manusia dengan petir. Ini pula yang membedakan manusia dari hewan. Cahaya maupun suara dalm petir mengkuti hukum alam dengan kecepatan tertentu. Tidak demikian dengan manusia. Jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakannya dapat diubah; dapat diperpanjang; dapat dihapus menjadi nihil aatu tak terbatas.

Manusia yang telah berkembang pribadinya secara utuh dapat mengendalikan pikirannya. Kapan harus diterjemahkannya menjadi ucapan, kapan menjadi tindakan, dan kapan dibiarkan sebagai pikiran saja. Tidak setiap petir pikiran-nya harus bersuara. Ini yang membedakan diri manusia dari manusia-manusia lain yang belum berkembang seutuhnya.

Dalam hal ini perlu diingat bahwa jarak antara pikiran dan ucapan atau tindakan dapat digunakan untuk menimbang dan mengevaluasi keadaan, sehingga kita tidak selalu reaktif seperti binatang – dihantam, mengahntam kembali. Kita menjadi responsif, bertidak secara sadar. Seorang manusia yang berkembang pribadinya secara utuh menjadi responsif.

Hanya orang-orang yang pribadinya sudah berkembang secara utuh yang dapat membantu kita untuk mengembangkan diri kita secara utuh. Berada dekat dengan orang-orang seperti itu, kadang kita tidak perlu menunggu waktu untuk disapa, untuk diajak bicara atau mendengar. Bila electric impulse dalam diri kita bergetar pada gelombang yang sama dengan manusia yang utuh itu, tanpa ucapan pun kita dapat menangkap pemikirannya. Dalam tradisi kuno, ini yang disebut Shaktipaat. Dalam tradisi zen dikaitkan dengan transmisi kesadaran diri Sang Guru kepada siswa yang siap. Shaktipaat bukanlah sebuah ritual, tetapi suatu kejadian yang hanya terjadi bila Guru dan siswa berada dalam gelombang yang sama; ketika keduanya sedang bergetar bersama.

Sungguh setajam apa pun pendengaran seorang siswa, sejernih apa pun penglihatannya, secerdas apa pun otaknya, sehebat apa pun pemahaman serta penangkapannya, dan semahir apa pun seorang guru menyampaikan apa yang hendak disampaikannya, ketika pikiran diterjemahkan menjadi ucapan atau tindakan, terjadilah penurunan kualitas; penurunan derajat; penurunan intensitas; penurunan kedahsyatan yang hanya ada dalam pikiran yang masih berupa electric impulse.

Seorang Guru menyadari keterbatasan itu, maka ia menciptakan keadaan di mana para siswa bisa bertahan dengan penuh kesabaran untuk kejadian itu. Apa pun yang telah disampaikannya lewat wejangan dan tulisan tidak berarti dibanding apa yang ingin disampaikannya lewat transmisi energi, lewat shaktipaat. Kendati demikian, shaktipaat tidak dapat dipaksakan. Memang dapat dipercepat dengan mempersiapkan diri kita supaya bergetar pada gelombang yang sama dengan sang Guru, tapi cara untuk mempersiapkan diri pun diperoleh dari sang Guru, karena ternyata kesadaran kita tidak perlu tinggi untuk berada di gelombang yang sama dengan sang Guru. Kesadaran itu justru meningkat setelah berada di gelombang yang sama. Berada pada gelombang yang sama dengan sang Guru, kita menjadi bagian dari pengembangan dirinya yang tak pernah berhenti. Sang Guru berkembang, kita punikut berkembang. Kita tidak perlu bersusah-payah, tidak perlu melakukan sesuatu kecuali mempertahankan keberadaan kita pada gelombang yang sama dengannya.

Pribadi yang utuh bagaikan bara api. Membara dengan semangat; itulah sifat pribadi yang utuh. Dekati dia, dan kita pasti ikut terbakar. Kemudian tidak ada lagi yang membedakan diri kita dengan dia. Dia bara api, kita pun bara api – sama. Tidak ada yang rendah, tidak ada yang tinggi. Tidak ada guru, tidak ada siswa. Tidak ada murshid, tidak ada murid. Yang ada hanyalah api, api, api.. Api Cinta, Api Kasih, Api Semangat, Api Keutuhan dan Kesempurnaan. Itu saja. Tapi, jangan lupa: Jika pribadi utuh menjadi berkah dan dapat mengutuhkan diri kita, pribadi-pribadi yang btidak utuh pun dapat menjadi serapah dan mengotak-ngotakkan kita. Ini yang lebih sering terjadi di sekitar kita saat ini.

 

Pengaruh Luar.

Saat saya sedang ngegossip dengan penuh semangat, saat itu, electric impulse pikiran saya sudah berubah menjadi gelombang radio, suara. Segala cacian yang saya lontarkan kepada Anda, terdengar jelas oleh setiap orang yang berada di dekat saya. Anda tidak mendengarnya dengan cara itu, karena Anda tidak di sekitar saya. Sesungguhnya Anda tetap mendengar nya dengan cara lain. Radio waves atau gelombang radio adalah energi dan energi tidak pernah musnah. Radio waves yang telah menjelma menjadi suara memang sangat singkat masa hidupnya sebagai suara, namun ia tidak mati. Ia berubah kembali menjadi radio waves dan menuju sasarannya di mana pun sasaran itu (dalam hal ini Anda) berada.

Anda tetap saja mendengarkan setiap cacian yang saya sampaikan, walau dalm bentuk radio waves, bukan dalam bentuk suara. Bila Anda memiliki kemampuan untuk melakukan decoding terhadap radio waves itu, Anda dapt mendengarkan kata yang saya ucapkan. Bila tidak, radio waves itu akan diterima langsung oleh electric impulses dalam diri Anda dan memengaruhinya, maka kadar gula darah Anda pun pasti meningkat, tekanan ikut meningkat… dan telinga Anda memerah. Lain halnya ketika saya sedang memuji atau bercerita tentang Anda dengan semangat positif, dengan cinta, maka terciptalah keadaan hamonious yang luar biasa di dalam diri saya. Irama jantung saya sangat indah. Tekanan darah pun normal, menari-nari ceria, dan electric impulses yang kemudian menjadi radio waves memengaruhi electric impulses di dalam diri Anda secara positif pula. Kesimpulannya, dengan menjelek-jelekkan Anda, sesungguhnya saya mencelakakan diri saya sendiri sebelum mencelakakan Anda. Dengan memuji Anda, saya membahagiakan diri saya sendiri sebelum membahagiakan Anda.

Latihan kelima hal 44.

 

Mengasah Kepekaan Diri.

Menyadari konflik-konflik yang terjadi di dalam diri merupakan cara yang paling efektif untuk membebaskan diri dari segala macam konflik. Dengan cara ini, kita seolah melakukan select all, kemudian tinggal menghapusnya dengan satu perintah delete! Saat ini kita seolah membiarkan konflik-konflik di dalam diri tetap bersarang di sana, karena ada penolakan dari diri kita sendiri untuk melenyapkan semuanya. Penolakan atau keengganan iytu pun sesungguhnya disebabkan oleh konflik. Mau mendalami sesuatu, tapi ada ketentuan yang melarang diriku mempelajari sesuatu dari orang yang beragama lain. Ada keinginan dan ada ketentuan yang berseberangan, maka terciptalah sebua konflik dalam batin.

Dengan penih kesadaran, pelajari alasan-alasan yang menyebabkan konflik di dalam diri, dan kita akan terkejut sendiri. Konflik itu disebabkan oleh orang-orang yang ingin menguasai diri kita dengan memperbudak jiwa kita. Tak seorang pun dapat membebaskan diri kita dari perbudakan itu, bila kita sendiri tidak menghendaki hal itu. Mmemang harus ada modal kepekaan sedikit untuk memahami saat ini kita diperbudak oleh orang-orang, oleh faktor-faktor di luar diri. Dan perbudakan itu dilakukan dengan menciptakan konflik di dalam diri kita.

 

Evaluasi Kepekaan Diri.

Hal 48-52.

Neo Psychic Awareness. Latihan Inti no 1 hal 53 – 59.

 

Pribadi Utuh.

Hanya dengan mengasah otak saja, hanya dengan menimba ilmu saja, hanya dengan membaca berbagai kitab saja, kita tidak menjadi pribadi yang utuh.dengan mengasah otak, kita justru mematikan intuisi di dalam diri. Kita menjadi sangat tergantung pada informasi yang kita peroleh dari luar. Kepercayaan terhadap Sumber segala Informasi yang Ada di dalm diri justru berkurang. Makin banyak informasi yang ada di dalam otak, makin tegang kita saat berpikir. Dalam keadaan tegang itu, informasi yang ada dalam otak diolah, ditimbang, dirumuskan, disimpulkan, dan digunakan sesuai keperluan. Karena itu mau jungkir balik seperti apa pun kecerdasan saya sudah pasti beda dari kecerdasan Anda. Informasi di gudang otak saya dan otak anda tidak mungkin persis sama. Walau belajar dan lulus dari satu sekolah yang sama dengan nilai yang mirip pula, pemahaman saya belum tentu sama dengan pemahaman Anda. Kemampuan otak saya u ntuk mengolah informasi saat saya membutuhkannya pun pasti beda. Karena itu, saya tidak dapat merasakan persatuan dan kesatuan dengan Anda bila landasannya hanyalah ilmu. Dengan memakai otak sebagai dasar , saya tidak dapat berdiri bersama anda di atas panggung yang sama.

Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus.

Kemampuan untuk mengenal fakta datang dari ilmu. Kepekaan untuk melihat kebenaran berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membantu bagi saya semua pintu ilmu.

Ada kalany dalam keadaan terpepet kita menjadi makin peka. Ada kalanya tegang justru membuat kita lebih kreatif. Saya sering merasakannya. Tentu saja bukan sembarang ketegangan, malainkan ketegangan yang datang sendiri. Pribadi utuh, bukanlah orang yang tidak pernah tegang. Pribadi yang utuh adalah orang yang dapat mengubah ketegangan nya menjadi Energi yang Kreatif. Senantiasa kreatif, orisinal, tidak menyontek – itulah tanda-tanda pribadi utuh.

 

Kreatifitas dan Orisinalitas.

Kreatif, orisinal dan tidak menontek.. Kita tidak bisa menjadi kreatif dan orisinal bila masih sering menyontek. Kebiasaan menyontek bahkan dapat melumpuhkan kemampuan kita untuk berpikir dan mencerna informasi yang diperoleh dari luar.

Banyaknya informasi bisa menjadi berkah, bisa juga menjadi serapah, karena tindakan kita sudah hampir pasti sesuai dengan jenis informasi yang ada dalam otak. Dengan memilih ya atau tidak berdasarkan informasi yang ada di dalm otak saja, kita juga tidak menjadi kreatif dan orisinil. Menyontek tetaplah menyontek, walau yang disontek otak sendiri. Informasi di dalam otak itu berasal dari mana? Dari apa yang kita baca, kita lihat, kita dengar – bukankah demikian? Lalu bagaimana menjadi kreatif? Bagaimana menjadi orisinil? Berhentilah menyontek! Ya, behentilah menyontek. Jawabannya sesederhana itu.

Latihan keenam hal 66-67.

Doa.

Bagi saya:

  • Energi yang tercipta dari doa, jauh lebih dahsyat, besar, tinggi dan mulia daripada energi yang tercipta dari otot manusia atau alat-alat buatannya. Karena itu, sungguh patut disayangkan bila energi sedahsyat itu saya gunakan untuk kepentingan-kepentingan yang sepele, untuk keperluan-keperluan yang btak berarti.

  • Doa bukanlah sekadar ritus yang saya lakukan sesuai dengan anjuran agama, tetapi esensi dari agama serta keagamaan saya.karena itu, doa saya sungguh tidak bermakna bila saya hanya melakukannya karena kewajiban. Saya suka berdoa, maka saya berdoa.

  • Doa juga berarti memberkati, bila hidup saya tidak menjadi berkah bagi sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan lingkungan di mana saya berada, sia-sialah doa saya.

  • Doa meningkatkan kesadaran saya, sehingga saya dapat melihat Wajah-Nya di mana-mana.

Di atas segalanya, bagi saya doa adalah napas hidup. Tiada kehidupan tanpa napas, tiada napas tanpa doa.

Bagaimana doa dapat menambah kepekaan diri? Bagaimana doa dapat mengantar kita pada kesadaran lebih tinggi? Jawabannya: dengan mengistirahatkan pikiran. Dengan menciptakan jarak antara pikiran dan tindakan. Kepekaan diri bertambah saat saya menafikan pikiran dengan penuh kesadaran; saat saya istirahatkan pula otak saya. Saat itu, saat berdoa, terjadilah kontak batin antara diri saya dan sang Pribadi Tunggal. Bagaimana terjadinya? Bagaimana prosesnya? Saya tidak tahu. Saya juga tidak mengetahui banyak hal yang lain. Saya tidak tahu bagaimana terciptanya alam semesta. Saya tidak tahu kapan berakhirnya ciptaan ini.

Saat mengaji, membaca kitab suci, melakukan paath atau pengulangan sebagaimana disebut dalam bahasa Sindhi, bahasa ibu saya, saya ingatkan diri saya, Janganlah engkau membacanya seperti novel. Janganlah engkau membacanya hanya karena ingin tahu cerita yang ada di dalamnya. Janganlah engkau tergesa-gesa, terburu-buru, hanya karena engakau ingin tahu akhir cerita. Bacalah seperti engkau membaca surat cinta, karena setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta yang dialamatkan kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha. Maka, pengajian seperti itu, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai.

Para ahli kitab sangat tergantung pada tulisan. Mereka sibuk membaca, menghafal, dan mengutib ayat-ayat suci. Seorang pendoamenjadi suci karena doanya. Karena doa yang keluar dari hatinya, karena jiwanya yang senantiasa berdoa. Para ahli kitab sibuk dengan pembahasan mereka tentang doa. Seorang pendoa tidak memiliki waktu lagi untuk membahas sesuatu yang berada di luar bahasan, yang tidak dapat dibahas.

Latihan Ketujuh hal 73 – 74.

catatan teman Anda akan membuktikan bahwa saat meminta sesuatu, dahi Anda akan penuh kerutan. Berkali-kali kelopak mata pun bergerak. Namun, tidak demikian saat anda mensyukuri segala pemberian-Nya. Wajah Anda tenang, tidak menampakkan tanda-tanda kegelisahan. Hampir tidak ada kerutan di dahi, dan kelpak mata pun hanya sesekali bergerak.

Sesungguhnya setiap pikiran menyebabkan ketegangan, baik pikiran meminta maupun mensyukuri, namun ketegangan yang tercipta karena meminta jauh melebihi yang tercipta ketika kita mensyukuri. Idealnya: Saat berdoa terjadi peningkatan kesadaran sehingga kita dapat menyadari Kehadiran-Nya. Bila itu terjadi, doa anda membawa berkah bagi setiap makhluk… dan Semesta-pun memberkati Anda.

Latihan Kedelapan hal 74 – 75.

 

Latihan Inti no 2 Going beyond Mind.

  1. Kesadaran ada saat kita dalam keadaan jaga, saat otak bekerja, saat pikiran berkuasa.

  2. Kesadaran ada saat kita bermimpi.

  3. Kesadaran juga ada saat kita tertidur lelap, saat gelombang otak hampir datar, saat pikiran tidak terdeteksi.

  4. Namun, di luar tiga keadaan di atas, kesadaran juga ada, malah meluas, saat dalam keadaan jaga, pikiran atau mind manusia sedemikian tenangnya sehingga gelombang otak hampir datar. Inilah Keadaan Keempat, inilah saat kita berada di luar cengkeraman otak, di luar jangkauan pikiran. Inilah saat kita menjadi Raja, menjadi pengendali pikiran atau mind, dan otak.

Lalu apa yang terjadi bila pikiran atau mind sudah terlampaui? Apa yang dialkukan oleh mereka yang konon sudah berkesadaran?

Pertama: Apa yang terjadi? Mereka terbebaskan dari pengendalian oleh mind.mereka keluar dari penjara mind.

Kedua: Apa yang mereka lakukan? Mereka mengamati mind; mereka mengamati keadaan penjara di mana mereka di tahan selama ini.

Karena itu, mereka dapat melihat dengan jelas dan jernih keadaan diri meraka. Mereka dapat memahami sebab atau alasan perilaku mereka selama ini. Kemudian, berdasarkan penglihatan dan pemahaman yang baru itu, mereka pun dapat menguabh keadaan dapat melakukan transformasi atau perombakan total. Mereka dapat memperbaharui mind mereka. Mereka dapat menciptakan mind yang baru, mind berekesadaran.

Selama ini kita hidup dengan mind ciptaan orang, ciptaan masyarakat, ciptaan orang tua, ciptaan keadaan dan lingkungan di mana kita lahir dan tumbuh. Sekarang, saatnya kita memproklamasikan kemerdekaan diri! Kita tidak dapat menguabh keadaan di luar, tidak dapat mengubah masyarakat di sekitar, bila diri kita belum berubah. Perubahan diri dulu, baru perubahan keadaan di luar.

 

Latihan Inti no 3. Sharpening of Intuition.

Latihan ini menambahnkemampuan kita untuk menghayati setiap pengalaman hidup. Tak satu pun pengalaman boleh lolos, karena setiap pengalaman yang lolos akan terulangi lagi. Keberadaan memiliki cara kerja yang sangat rapi. Pengulangan terjadi kerena kita tidak menghayati apa yang terjadi. Bila kita menghayatinya dengan baik, pengulangan pun tak terjadi. Setiap pengulangan menjadi penghalang bagi evolusi manusia. Penghayatan membuat Roda Evolusi bergelinding kembali, berputar kembali. Dalam hal beragama pun itu terjadi. Kita mengulangi segala sesuatu tanpa penghayatan. Karena itu, hasilnya ada di depan mata. Banyak yang beragama, amun sedikit sekali penghayat, sehingga kolusi pun berjalan terus, korupsi pun makin merajalela. Bertambah terus tempat-tempat ibadah, namun sedikit saja hati yang beribadat.

 

Mengenali Konstitusi Diri.

Latihan Kesembilan, Kesepuluh, Kesebelas hal 99 – 91.

 

Vibrating Universe.

Mari belajar untuk bergetar bersama alam. Untuk itu kita harus bersahabat dengan alam, dengan setiap makhluk, dengan setiap manuisa. Kita tidak mungkin selaras dengannya bila tidak selaras dengan semua makhluk. Bagaimana cara bergetar bersama alam? Bagaimana cara menyelaraskan diri dengan semesta? Dengan cara mencintai, menghargai, dan melayani alam ini, dengan cara menhormati dan mengasihi sesama makhluk hidup, sesama manusia.

Latihan Keduabelas hal 97 – 98.

 

Creating Harmony.

Sesungguhnya, getaran-getaran itu menciptakan harmoni, keselarasan, keseimbangan, namun campur tangan manusia menciptakan disharmony, ketakselarasan, ketakseimbangan. Perhatikan alam sekitar: sungai-sungai kecil yang kotor mengalir menuju laut untuk menyatu dengannya – untuk menjadi suci, menjadi bersih olehnya. Kemudian, air laut menjadi uap, membentuk awan, dan turun kembali sebagai hujan, sebagai air hujan yang bersih murni.

  • Kita lupa bahwa keberhasilan adalah kerja keras. Maka kita mencari jalan pintas.

  • Kita lupa bahwa kebahagiaan adalah hasil kepuasan.

Alam sendiri bekerja keras. Ia membutuhkan masa yang begitu panjang untuk berevolusi.

Living in Harmony with Nature berarti hidup patuh pada hukum-hukum alam. Di antara dua yang terpenting, yaitu: 1. Hukum Sebab-Akibat atau Aksi-Reaksi, dan 2. Hukum Evolusi.

 

Membereskan Aku…. Diriku!

Kebhinekaan, pluralitas, pluralisme, atau apa sebutannya adalah sebuah keniscayaan alami, kepastian Ilahi.

 

Sapta Wacana.

  1. Aku Bertanggung Jawab atas Keadaan Negeriku Saat Ini.

Lapisan Kesadaran Pertama, makan dan minumuntuk apa? Untuk menjadi bersemangat. Bertanggung jawab atas setiap kejadian di dalam hidup berarti menerima baik atau buruk, good or bad, semuanya sebagai akibat ulah sendiri. Bila negeriku terpuruk, bukan hanya para pemimpin dan pejabat yang salah, tetapi diriku ikut bersalah. Mereka adalah pilihanku sebagai rakyat Indonesia.

  1. Aku Mempunyai Kemampuan untuk Merubahnya.

Lapisan Kesadaran Kedua Lapisan Enegi. Seseorang yang sadar akan Medan Energi di sekitarnya tidak akan mengemis untuk bantuan, ia yakin pada kemampuan dirinya. Bila keterpurukan terjadi karena ulahnya, ia pun mampu mengubahnya.

  1. Aku Bisa Melakukannya.

Lapisan Kesadaran Ketiga terkait dengan nyali kita yang mendorong kita untuk berbuat. Energi dan semangat yang kita miliki tidak berarti apa pun bila tidak ada nyali untuk berbuat, untuk menggunakan energi dan semangat itu.

  1. Aku Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lapisan Kesadaran Keempat adalah Kesadaran akan Cinta. Kita tidak dapat mengubah keadaan negeri ini bila kita tidak mencintai negeri ini. Para Founding Fathers kita adalah pecinta sejati.

  1. Aku Menyuarakan Tekad Persatuan dengan Jelas.

Lapisan Kesadaran Kelima adalah Kesadaran akan kotoran di dalam diri dan perlunya diri kita dibersihkan. Kita harus membersihkan diri dari berbagai pengaruh dan sikap buruk yang akan mengancam kesatuan wilayah Indonesia, dan membahayakan persatuan bangsa Indonesia.

  1. Aku Melihat Indonesia Jaya.

Lapisan Kesadaran Keenam ini adalah Lapisan Komando, pengendali Kesadaran dalam diri manusia. Jangan ragu, jangan bimbang, jangan khawatir, jangan cemas. Aku melihat Indonesia Jaya.

  1. Damai Indonesia, Amin…

Ketika Sang Maha Ada hendak mengukuhkan sesuatu, Ia menggunakan mulut, tangan, dan kaki salah seorang di antara kita. Bila kita hendak melarutkan kehendak kita ke dalam kehendak-Nya, kita menenggelamkan diri, membiarkan diri kita, aku larut dalam kehendak-Nya. Pada saat itu, terwujudlah kedamaian, terjadilah damai. amin.

Kecongkakan Ego Manusia

Sehabis mendengarkan ceramah agama di TVRI, Pakdhe Jarkoni diskusi dengan keponakannya, Fauzi.

 

Pakdhe Jarkoni: Tadi saya mendengarkan ceramah, bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw  selalu meperhatikan kelestarian alam. Dalam kondisi gawat darurat, kondisi perang pun, Kanjeng Nabi melarang pasukannya merusak tanaman dan juga mencederai anak-anak kecil dan orang tua yang tidak bersalah.

 

Fauzi: Betul pakdhe, dalam prosesi haji pun memotong ranting pun akan dikenai sanksi. Yang kami tidak habis pikir, mengapa Amrozi cs mengatasnamakan Islam dalam membom Bali. Apakah yang kena bom itu orang-orang yang bersalah?

 

Pakdhe Jarkoni: Yah, begitulah orang yang belum sadar. Kadang-kadang orang merasa tindakannya betul, padahal itu sebenarnya hanya persepsi pemikiran seseorang. Kadang dia merasa itu berasal nuraninya, padahal sering hanya merupakan persepsi dalam pikiran bawah sadar. Memang tipis beda antara orang yang merasa beriman dengan orang yang ndhendheng, kepala batu. Kalau berimannya bukan berasal dari hati nurani tetapi hanya  conditioning bawah sadarnya saja ya seperti orang berkepala batu.

 

Fauzi: Maksud pakdhe, orang yang yakin merasa benar, sering hanya terkondisi oleh pikiran bawah sadarnya?

 

Pakdhe: Pemahaman dan tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang mendarah daging sudah membentuk persepsi dalam bawah sadar. Kemudian, dalam kondisi capek yang luar biasa sehabis latihan perang-perangan misalnya, atau habis sujud dalam waktu lama sehingga darah terkumpul di kepala. Kondisi seperti itu hampir sama dengan yang terjadi setelah seseorang katharsis, mengeluarkan banyak uneg-uneg atau traumanya. Dalam kondisi reseptif seperti itu perintah atau pemahaman seseorang yang berwibawa akan diterima dan masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya. Keadaan seperti itu hampir sama dengan keadaan seseorang yang  terhipnotis. Walau pemahaman yang dimasukkan tidak benar pun akan diterima sebagai kebenaran oleh si penerima yang dalm keadaan reseptif tersebut.

 

Fauzi: Repotnya lagi kalau pemimpin yang disegani tadi mempunyai persepsi yang keliru, maka kekeliruan tersebut ditularkan ke orang lain yang tunduk dengannya.

 

Pakdhe Jarkoni: Sebetulnya, karena pemahamannya dalam pikiran bawah sadar, dengan pemicu dan kondisi khusus, pemahaman seseorang dapat berubah juga. Apalagi kalau rasa atau hati nuraninya belum tertutup. Seseorang yang sudah menganggap tindakannya membunuh orang yang tidak berdosa sebagai kebenaran sebenarnya sudah sangat congkak, merasa sudah seperti Tuhan membenarkan tindakannya. Dalam keadaan demikian, Tuhannya adalah Tuhan menurut persepsinya. Bukannya Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Mungkin hatinya orang itu sudah membatu. Sebetulnya kalau pikiran mereka dapat tenang dan tidak bergejolak, suara hati nuraninya akan muncul keluar.

 

Fauzi: Ya, seharusnya seseorang dalam kondisi tenang belajar memahami, bahwa kita lahir dengan membawa sifat genetik. Selanjutnya orang tua, lingkungan, pendidikan membentuk persepsi kita. Jadi yang kita anggap benar adalah benar menurut kerangka persepsi kita. Orang lain dengan sifat genetik dan lingkungan yang lain akan mempunyai anggapan benar menurut kerangka persepsi yang lain.

 

Pakdhe Jarkoni: Dan kita bertindak membunuh orang tidak bersalah dalam ketidaktahuan. Dan setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita akan menyebabkan akibat yang pada suatu saat akan kembali kepada diri sendiri. Aksi akan menyebabkan reaksi, adasebab-ada akibat. Semoga kita semua lekas sadar, dan tidak merasa benar sendiri dan tidak menghakimi orang lain dengan kerangka pikiran kita.

 

Triwidodo

Maret 2008.

Mutiara Quotation Buku Jalan Kesempurnaan Melalui KAMASUTRA

 

Judul : Jalan Kesempurnaan Melalui KAMASUTRA

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Kedelapan 2004

Tebal : 179 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Jalan Kesempurnaan Melalui KAMASUTRA

 

Ada kesan umum yang salah kaprah bahwa seakan-akan Kamasutra adalah literatur pornografi, dan hanya itu. Kesan itu lebih kuat lagi karena film atau buku-buku murahan dalam tema yang sama yang memanipulasi postur-postur senggama. Buku ini lain Penulis menampilkannya dalam keutuhannya sebagai jalan menuju kesempurnaan manusia: melalui seks, menuju cinta, sampai pada kasih, bahkan Anda dapat melanjutkannya sampai pada Kesadaran Kosmos. Seks adalah tahapan atau etape pertama yang amat penting, dan karena itu tidak perlu dihindari atau ditolak. Penolakan terhadapnya hanya akan menghasilkan kerugian besar, kalau bukan membuat kita terobsesi olehnya, dan menjadi mandeg dalam petualangan kita mencari kesejatian diri.

 

Kama berarti keinginan; sedangkan Sutra berarti formula, cara atau metode. Kamasutra tidak semata-mata bicara tentang kepuasan keinginan raga saja. Buku ini bicara tentang manusia seutuhnya, termasuk kepuasan yang didambakan oleh manusia – bukan kepuasan fisik saja, tetapi juga kepuasan mental, emosional, intelektual dan spiritual.

Daya tahan tubuh kaum wanita pun melebihi daya tahan tubuh kaum pria. Hanya mereka yang dapat mengandung selama ber-bulan-bulan. Dalam bahasa sanskrit, istilah yang digunakan untuk wanita adalah Shakti. Shakti berarti kekuatan atau kesaktian. Seorang wanita lebih bisa bertahan hidup sendiri tanpa pasangan. Namun pria, hampir tidak dapat hidup sendiri tanpa pasangan. Mungkin saja ia duda, bujangan, tidak kawin, namun ia akan tetap memiliki pasangan – seorang kawan atau seorang sahabat. Ia tidak dapat hidup sendiri.

Menurut Vatsyayan, Sang Penulis kamasutra, seks bukan untuk memenuhi kebutuhan biologis saja. Kebutuhan biologis, kebutuhan fisik atau tubuh, seks juga harus dapat memuaskan pikiran dan jiwa.

Ada tokoh agama yang mengkritik dan sebagai pembelaannya, ia mengatakan, Apakah binatang membutuhkan pendidikan seks? Kepada mereka tidak pernah diajarkan seks, toh mereka dapat melakukannya. Masa iya manusia membutuhkan pendidikan seks? Dia belum bisa memilah antara kaum manusia dan kaum hewan. Bagaimana dengan belajar jalan? Belajar bicara? Belajar makan? Belajar sopan santun? Bahkan belajar agama?

Kamasutra dan Ajaran-Ajaran Tantra.

Tantra merupakan suatu revolusi dalam bidang spiritual. Tantra berarti latihan, eksperimen atau cara – bereksperimen dengan energi yang berada dalam diri kita sendiri, yang selama ini kita sebut energi seks, untuk meningkatkan kesadaran kita. Itulah tujuan Tantra. Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, tidak dengan terbuka, tetapi secara implisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun pembicaraan tentang seks saja dianggap tabu. Para pendidik agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seka, tidak pernah bicara tentang seks.

Pendirian Tantra lain. Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda.

 

Dari Napsu Birahi ke Kasih Ilahi.

Seks mengawali kehidupan manusia. Sekas merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan kita. Hubungan seks antara kedua orang tua kita melahirkan kita. Kesadaran seks berpusat pada bagian tubuh di bawah pusar. Di atas pusar, sekitar jantung, dada kita merupakan pusat kesadaran cinta. Cinta berkembang di situ. Emosi mulai bergejolak di situ. Anda harus meningkatkan kesadaran Anda sedikit – dari bawah pusar ke atas pusar. Selama kesadaran Anda masih di bawah pusar, Anda belum dapat mengenal cinta. Yang Anda kenal selama ini, hanyalah napsu birahi. Paling atas, sekitar kepala kita, merupakan bersemayamnya Kasih. Demikianlah tingkatan kesadaran setiap manusia. Tingkat awal adalah seks, tengah adalah cinta dan atas adalah kasih. Passion, love, compassion.

Pembagian yang saya lakukan ini berdasarkan pusat-pusat energi yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Ini disebut cakra – lingkaran-lingkaran energi. Sentra-sentra energi yang berada di sekitar pusar, dada dan kepala merupakan sentra-sentra energi penting sekali, yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.

Napsu atau passion hendaknya btidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion , napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila Anda mengasihi setiap makhluk – segala sesutau yang ada dalam alam ini – apabila Anda mengasihi alam semesta ini, Anda adalah seorang buddha, seorang nabi, seorang mesias.

Yakinilah bahwa Anda ditakdirkan untuk mencicipi manisnya kasih dan untuk menyebarkannya. Itulah tugas Anda, tetapi Anda telah melupakannya. Tidak ada tujuan lain dalam hidup ini. Pembangunan Anda dapat ditunda, peningkatan kesejahteraan rakyat dapat ditunda, semuanya dapat ditunda – tetapi kasih tidak dapat ditunda lagi. Anda sedang menuju ambang kehancuran. Pembangunan yang Anda banggakan, teknologi yang Anda banggakan – tidak sesuatu pun dapat menyelamatkan Anda kecuali kasih. Hari ini juga, saat ini juga, detik ini juga, komitmen Anda terhadap kasih harus diperbaharui!

 

Dari Samudera Cinta.

Begitu luasnya lautan Kamasutra – pernah saya coba menyelaminya.

Begitu banyaknya mutiara, begitu banyaknya permata yang tersimpan di dalamnya.

 

Seberapa pun besarnya tangan saya,

betapa pun besarnya genggaman saya,

yang dapat saya ambil

hanya segenggam saja.

 

Segenggam mutiara ini

saya persembahkan kepada Anda, kawan,

Apa yang saya peroleh, apa yang saya dapatkan,

saya bagi dengan Anda.

 

III. Menyelami Kamasutra

Disadurkan dari Teks Asli Berdasarkan Pemahaman Penyadur.

 

Hendaknya seseorang menggunakan cara-cara yang bijak untuk mengumpulkan harta. Setelah mengumpulkan harta, ia baru dapat memenuhi keinginan-keinginan duniawinya. Kamasutra membenarkan pengumpulan harta dengan cara-cara yang wajar, sehingga hidup dapat menjadi perayaan.

 

Meditasi Kundalini Ananda.

Chakra Pertama atau Lapisan Kesadaran Pertama, Kesadaran Dasar Manusia, berkaitan dengan makanan. Begitu seorang bayi lahir, kesadaran awalnya adalah rasa lapar, dan dia mulai mencari makanan. Kesadaran Awal atau Kesadaran Dasar (Muladhar Chakra) ini oleh para praktisi yoga dikaitkan pula dengan pembuangan. Karena itu, secara simbolis diletakkan di sekitar dubur. Ada pemasukan, ada pengeluaran.

Chakra Kedua atau Lapisan Kesadaran Kedua, Kesadaran Diri Sebagai Energi berkaitan dengan seks. Perhatikan, seorang bayi yang kita pikir belum tahu apa-apa masih bisa main-main dengan alat kelaminnya. Karena itu, Lapisan Kesadaran Kedua atau Svadishthana Chakra ini secara simbolik diletakkan di sekitar kelamin.keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran – semuanya masih merupakan pengembangan dari lapisan kesadaran kedua.

Chakra Ketiga atau Lapisan Kesadaran Ketiga berkaitan dengan kebutuhan akan tidur. Bagi binatang, tidur pun sekadar kebutuhan biologis. Lapisan Kesadaran ini disebut Manipura Chakra dan secara simbolik ditempatkan di sekitar pusar. Dalam diri manusia, lapisan kesadaran ini berkembang menjadi kebutuhan akan kenyamanan, bukan sekadar tidur.

Melangkah dari Lapisan Kesadran Ketiga, kita memasuki Lapisan Kesadaran Keempat, atau Anahat Chakra. Dalam lapisan kesadaran ini, kita baru mengenal Cinta. Sesungguhnya byang membedakan kita dari binatang adalah yang satu ini – Cinta. Oleh karena itu, secara simbolik Chakra ini dikaitkan dengan dada.

Lapisan Kesadaran Kelima atau Vishuddha Chakra membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan manusiawi. Vishuddha berarti membersihkan. Berada pada lapisan kesadaran ini, jiwa menjadi semakin bersih. Peletakan simbolik Chakra ini di sekitar leher.

Lapisan Kesadaran Keenam atau Agya Chakra merupakan manifestasi Kesadaran Murni dalam diri manusia, dan dikaitkan dengan suatu titik di tengah-tengah kedua alis mata. Lapisan kesadaran yang satu ini memang mengantar kita pada Kesadaran Ilahi. Agya berarti memerintah. Jika hidup dengan mengindahkan perintah-Nya, tidak ada masalah lagi.

Lapisan Kesadaran Ketujuh atau Sahasrara Chakra, berkaitan dengan perayaan, dengan tarian dan nyanyian. Secara simbolik, peletakannya di atas kepala. Berada pada lapisan kesadaran ini, kita memperoleh keseimbangan diri.

Niat Yang Luhur dan Energi dari Alam Semesta

Ada seorang Guru Sekolah Dasar yang mengajar demi mencari sesuap nasi dan dia pun sebetulnya tidak begitu menyukai pekerjaannya. Ada seorang Guru yang lain yang menguasai ilmu belajar-mengajar dan bekerja secara profesional. Kemudian ada seorang Guru yang lain lagi, yang berpendapat bahwa tugas mengajar murid Sekolah Dasar ini adalah Panggilan Nurani, Sang Guru ingin membentuk kader-kader bangsa, pekerjaan mengajar merupakan persembahan Sang Guru kepada Ibu Pertiwi. Dengan mengheningkan diri sejenak, kita semua dapat merasakan bahwa energi yang paling besar dimiliki oleh Guru Sekolah Dasar yang terakhir.

            Samudera sangat luas, langit, ruang angkasa sangat luas, alam semesta mempunyai karakter yang luas. Niat , tujuan, wawasan yang sempit tidak selaras dengan alam semesta. Bumi menghidupi kita, makanan dan minuman berasal darinya, alat-alat rumah tangga, bahannya diambil darinya.  Sering manusia mengkoyak-koyak lapisan bumi untuk mengambil bahan tambang dari perutnya, Sang Bumi tetap lega-lila, ikhlas melayani. Alam semesta hanya memberi dan tidak meminta. Bumi tidak memperdulikan yang hidup di atasnya sekelompok pemabuk atau teroris, dia tetap berputar pada porosnya dan beredar mengelilingi Matahari. Bila bumi beristirahat sejenak, kehidupan akan musnah. Berniat, bertujuan, berdharma-bhakti tanpa pamrih, tidak membeda-bedakan, tidak pilih kasih selaras dengan alam semesta dan energi alam semesta akan mendukungnya.

            Bertindak berani penuh kejujuran, bertindak berani atas dasar kebenaran selaras dengan alam semesta dan energi alam semesta pun akan menunjangnya. Menurut Tokoh Humanis yang kami hormati, Bapak Anand Krishna, rasa takut adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi yang panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia mestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Rasa takut disebabkan oleh:

  1. Ketidaktahuan tentang potensi diri, potensi manusia.
  2. Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu.
  3. Hilangnya rasa percaya diri.

            Berarti, rasa takut mempengaruhi tiga lapisan diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensi, akal sehat atau pikiran yang jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri. Dengan hilangnya kesadaran dari ketiga lapisan tersebut, manusia kembali menjadi hewan.

            Kita barangkali lupa bahwa aliran listrik kehidupan yang sedang mengalir di dalam diri kita ada di luar juga. Ada energi di dalam diri kita, ada juga energi di luar diri kita. Kita semua sedang berenang dalam Kolam Energi. Ketika air di dalam diri kita berkurang, kita merasa haus dan mencari air. Ketika air dalam pompa sumur kita menyusut, kita harus memancingnya dengan beberapa ember dari luar. Ketika suara dari dalam diri  sendiri tidak terdengar, kita harus memancingnya dengan memasukkan suara Guru, suara Master, suara sang Bijak ke dalam diri. Menyelaraskan diri dengan alam semesta berarti membuka diri terhadap energi alam untuk masuk ke dalam diri. Tuhan, Allah atau Sebutan apa saja yang diberikan kepada Sang Keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus. Kehidupan berjalan terus. Bekerja dan berupaya – kemudian menyerahkan hasilnya kepada Ia Yang Maha Kuasa, tanpa menyangsikan kekuasaan-Nya. Bila kita membuka diri, Energi Agung akan memenuhi diri kita.

            Kita sering tidak sadar banyak pekerjaan kita yang selaras dengan alam dibantu oleh mekanisme alam sesmesta. Sepasang pengantin, berniat membuat keturunan yang saleh, pekerjaan ini selaras dengan alam. Setelah ovum dibuahi sperma maka pekerjaan mengembangkan sel induk, membuat air ketuban, membentuk bakal organ tubuh adalah pekerjaan alam semesta. Karakter yang baik dari calon Sang Bapak dan calon Sang Ibu, sifat genetik mereka, ditambah dengan doa dan tirakat mereka akan membuat alam memilihkan genetik khusus bagi anak yang akan lahir.

            Demikian pula yang terjadi pada siklus kehidupan seekor ulat bulu. Seekor ulat bulu berhasrat meneruskan evolusinya, pasrah sepenuhnya kepada alam semesta, berhenti makan dan berhenti bergerak. Alam lah yang kemudian bekerja melalui 2 hormon, hormon remaja dan ecdysonne yang mengatur prosesnya. Bagi mata telanjang, tampaknya organ-organ dan tissue ulat bulu berubah menjadi sup yang tidak berbentuk. Akan tetapi kedua hormon itulah yang memandu perubahan, ada sel yang mati, ada sel yang mencerna diri, ada juga yang menjadi embrio  mata, antena dan sayap. Terjadilah transformasi yang luar biasa, ulat yang merambat pelan menjadi kupu-kupu cantik yang dapat terbang.

            Kita perlu belajar dari alam. Matahari, bulan, bintang, dan air, angin, api, tanah – adakah satu pun di antaranya yang merasa jenuh? Membersihkan, menyejukkan, membasahi dan melarutkan, menghanyutkan – itulah tugas Air. Sudah jutaan tahun ia melakukan hal itu. Apakah ia pernah mengeluh? Bagaimana pula dengan api? Angin, tanah? Hasil bumi tidak ditelan sendiri oleh bumi. Segala apa yang dihasilkannya adalah untuk makhluk-makhluk hidup. Melihat makhluk hidup bersuka cita, ia pun menari ria. Seisi alam ini berkarya tanpa pamrih, dan, mereka semua puas. Mereka semua bersukacita. Kita perlu belajarlah dari mereka.

            Agar tindakan kita selaras dengan alam semesta dan mendapatkan energinya, kita dapat memetik pelajaran dari alam:

  1. Menghindari keadaan yang tidak menunjang kesadaran, tugas, serta kewajiban kita.
  2. Membebaskan diri dari harapan, keterikatan, keserakahan, ketamakan, dan lain sebagainya.
  3. Berkarya sesuai dengan sifat dan kemampuan, serta dengan semangat persembahan.

 

Triwidodo.

April 2008.

Pemahaman tentang Genom dan Membangkitkan Kembali Penghormatan terhadap Budaya Nusantara

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species  kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

            Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Konsep kebijakan pembangunan Kota Solo saat ini bahwa “Solo Masa Depan adalah Solo Tempo Dulu”, yang maknanya adalah pengembangan kota Solo modern tanpa meninggalkan kekhasan kota Solo sendiri yang memiliki tradisi dan budaya adiluhung, sudah sejalan dengan pemetaan DNA. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa.

            Bung Karno pada tanggal 16 Juni 1958 berpidato yang petikannya sebagai berikut: “Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan dengan saf-safan. Saf ini di atas itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf Pra-Hindu, yang pada waktu itu kita bangsa yang telah berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada jaman Pra-Hindu adalah bangsa yang biadab… Saya lantas gogo – gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting – sedalam-dalamnya sampai menembus jaman imperialis, menembus Zaman Islam, menembus Zaman Hindu, masuk ke dalam Zaman Pra-Hindu. Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjol, lain kali itu yang lebih menonjol. Lima hal inilah: Ketuhanan, Kebangsaan, Perkemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Saya lantas berkata, kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leistar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu-padu”. Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara mengartikan Budaya Nusantara adalah unggulan-unggulan dari setiap budaya yang kemudian digodog, dimasak, dan ditemukan saripatinya yaitu Pancasila. Silahkan kita beragama apapun juga. Akan tetapi sekali-kali jangan mengimport budaya asing. Para Founding Fathers telah mempunyai kebijaksanaan yang selaras dengan penemuan pemetaan genom. Kita melihat bangsa Jepang, Korea, India, dan lain-lainnya, mereka semua menghargai budaya mereka dan mereka semua maju.

            Sekarang sudah terbukti dari penemuan di Bali beberapa waktu yang lalu yang membuktikan bahwa DNA kita ada gen khas Indonesia. Gen-nya gen khas Indonesia. Kita memiliki suatu dasar yang kuat sekali, dasar ini jangan sampai terlupakan. Kalau DNA kita sekarang dipetakan, kita memiliki DNA, memiliki benang merah yang mempertemukan kita semua. DNA Khas Indonesia.

            Sejarah panjang penjajahan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, mempengaruhi DNA kita.Di bawah ini kami ketengahkan pendapat Tokoh Humanis yang sangat kami hormati, Bapak Anand Krishna. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Kita perlu menyadari bahwa manusia Indonesia masa kini pun belum sepenuhnya bebas dari perbudakan. Kita masih sebagai budak, diperbudak oleh ideologi-ideologi semu, diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang, diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi kita tetap juga membisu. Jiwa kita sepertinya sudah mati. Sepertinya kita ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.

            Selama kita masih diperbudak, kita tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu kita harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama kita masih hidup dalam penindasan, kita tidak bisa mengasihi seseorang, kita tidak bisa menghormati seseorang. Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama kita masih belum bebas, selama kita masih terbelenggu, selama itu pula kita masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.

            Kita masih hidup dalam perbudakan. Diperbudak oleh masyarakat, diperbudak oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, juga oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Menghormati Nenek-Moyang kita? Menghormati Warisan Budaya kita?

            Budaya berasal dari dua kata,  Buddhi dan Hridaya, ini adalah bahasa Jawa Kuno. Buddhi adalah pikiran yang sudah jernih, kalau pikiran  belum jernih itu belum disebut Buddhi, ada istilah Budi Pekerti. Hridraya adalah perasaan/hati. Gabungan dari keduanya itu adalah Budaya.

            Segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dalam jangka lama akan menjadi karakter. Nenek Moyang kita mengungkapkan dalam  ungkapan Tresno Jalaran Soko Kulino, Kasih Muncul Akibat Kebiasaan. Kebiasaan seseorang menjadi budak mengakibatkan karakter budak. Bila kita mulai hidup dengan kesadaran bahwa kita merdeka, tidak terbelenggu dan pemahaman tersebut dilakukan sehari-hari maka karakter kita akan berubah menjadi karakter yang tidak terkungkung. Potensi diri, jiwa kebesaran Sriwijaya, Majapahit ataupun Kerajaan lainnya masih ada dalam gen kita, selama ini mereka terdesak oleh belenggu ketakutan, belenggu perbudakan. Kita harus mulai hidup berkesadaran, membuang kebiasaan lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, membuat created mind yang benar untuk memperbaiki conditioning mind yang salah. Sudah waktunya kita lepas dari perbudakan, sudah waktunya kita bebas, sudah waktunya kita menghormati jasa leluhur kita, sudah waktunya kita menghormati Warisan Budaya kita. Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi.

 

Triwidodo.

April 2008.

Mutiara Quotation Buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

Judul              : Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 1999

Tebal              : 141 halaman

 

Mutiara Quotation Buku Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan

 

            Taurat, Injil dan Al-Qur’an merupakan Jari-Jari Allah yang menunjukkan jalan kepada kita semua. Bahkan beberapa butir mutiara di dalamnya akan cukup untuk membekali Anda dalam upaya meniti jalan ke dalam diri, guna menemukan dalam diri Anda sendiri Insan Tuhan.

            Reguklah Air Bening Telaga Pencerahan yang akan menghilangkan dahaga Anda dalam kembara hidup ini!

 

            Apabila kita membaca Taurat dan Injil dan Al-Qur’an, dan kita hanya membacanya, tidak menyelaminya, maka yang akan nampak jelas adalah perbedaan-perbedaannya. Selama ini memang itu yang terjadi. Kita hanya membaca, lantas timbul arogansi kelompok, Aku yang tertua, aku yang terbaik. Kelompok lain mengatakan, Aku yang terbaru, aku yang paling kontemporer, paling baik.

            Pembaharuan, perubahan dan penyesuaian merupakan hukum alam. Manusia tidak dapat menghentikan putaran roda Sang Kala.

 

MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN

Perjanjian Lama Ulangan 5:1-22.

Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul kepada mereka:

            Apabila Anda puas dengan suatu keadaan, Anda akan berusaha untuk mempertahankan keadaan itu. Jelas bahwa Sang Pangeran, Musa tidak puas dengan segala apa yang ia miliki. Rupanya harta-benda tidak mampu memberi nilai tambah kepada kehidupannya. Ia sudah mencapai titik jenuh. Ia sedang mencari makna kehidupan. Ia ingin menemukan suatu yang lebih berharga daripada kerajaan, kedudukan, kekayaan dan ketenaran.

            Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. Ia diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. Ia diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi Ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. Ia ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.

            Tugas seorang Musa memang sangat berat. Ia harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan jiwa mereka yang sudah mati.

 

Tuhan, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeh. Bukan dengan nenek moyang kita Tuhan mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.

            Tuhan, Allah atau nama apa saja yang Anda berikan kepada Sang Keberadaan, merupakan sumber energi yang tak pernah habis, tak kunjung habis. Keberadaan mengalir terus. Kehidupan berjalan terus. Betapa bodohnya manusia yang mengagung-agungkan masa lalu, peraturan-peraturan yang sudah kadaluwarsa dan tidak berani meninggalkan semuanya itu. Setiap peraturan memiliki masa berlaku. Setiap ketetapan bersifat sangat kontekstual; relevan pada masanya tidak relevan sepanjang masa.

            Seorang Musa akan mengalir terus. Ia tidak pernah berhenti. Irama kehidupan seorang Musa harmonis dengan irama Keberadaan. Mendengarkan Suara Tuhan berarti penyelarasan energi Anda dengan dengan Energi Alam Semesta. Keberanian dia menyatakan bahwa Tuhan telah mengikat perjanjian baru dengan mereka yang masih hidup berarti penyelarasan energi anda dengan energi Alam Semesta – merupakan fenomena yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja.

 

Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

            Tuhan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Anda bisa berkonsep ria tentang Tuhan. Anda bisa berfilsafat tentang Tuhan. Apa gunanya? Apakah dengan cara itu Anda bisa merasakan kehadirannya dalam kehidupan Anda sehari-hari.

            Apabila Anda belum sadar bahwa sebenarnya Ia-lah Segalanya dan bahwa Anda merupakanbagian dari-Nya setidaknya jadikan Dia bagian dari hidup Anda.

            Kita harus bertanya kembali pada diri sendiri: apa yang memperbudak kita? Dan bagaimana Tuhan dapat membebaskan kita? Dan, yang mungkin lebih pentinglagi, apakah kita merasa diperbudak? Apabila kita sudah merasa bebas, kita tidak membutuhkan Tuhan lagi. Saya katakan tidak membutuhkan – ya karena Kebebasan Mutlak itulah Tuhan. Apabila kita sudah memilikinya, kita tidak membutuhkan sesuatu lagi.

 

Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.

            Ia yang menyadari Kehadiran Allah menyadari Keberadaan. Ia tidak bisa menyadari sesuatu yang lain. Segala sesuatu yang lain itu juga merupakan bagian dari Keberadaan.

            Di mana ada cahaya, tidak ada kegelapan. Di mana ada Allah, allah lain tidak akan ada. Apabila Anda meng-allahkan kedudukan, meng-allahkan kekayaan, meng-allahkan ketenaran, ketahuilah bahwa Matahari Allah belum terbit dalam kehidupan Anda. Anda masih hidup dalam kegelapan.

            Kesadaran Musa dan Kesadaran Muhammad dan Kesadaran Yesus tidak berbeda. Tidak ada yang kelasnya lebih rendah atau lebih tinggi. Apabila bahasa mereka berbeda, apabila penyampaian mereka berbeda, hal itu disebabkan karena tingkat kesadaran para pendengar mereka.

            Anda mungkin seorang doktor, seorang profesor, tetapi sewaktu berdialog dengan seorang anak Sd, anda harus menyederhanakan bahasa Anda. Perbedaan yang terlihat antara Taurat, Injil dan Al-Qur’an, tidak akan terlihat lagi, apabila Anda menemukan esensinya. Selama Anda masih bergulat pada tingkat syariat, pada tingkat peraturan agama, kulit agama, ya, Anda hanya melihat perbedaan saja. Tetapi begitu memasuki esensi Agama, begitu Anda menemukan nilai spiritual yang terkandung dalam agama itu, perbedaan akan lenyap seketika.

            Kembali ke Musa. Ia harus menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh para mantan budak itu. Tuhan tidak bisa dipahami dengan menggunakan pikiran, logika atau apa yang Anda sebut akal-sehat. Tuhan harus dirasakan. Untuk merasakan Tuhan, kita harus menggunakan jalur rasa itu sendiri. Kasih adalah rasa. Kelak Yesus akan menggunakan jalur Kasih, Cinta. Tetapi, pada zamannya, Musa tidak akan pernah berhasil, apabila menggunakan jalur kasih. Ia terpaksa menggunakan jalur peraturan.

            Orang-orang Israel yang sudah begitu lama diperbudak sudah tidak mengenal kasih lagi. Sesuatu yang harus kita renungkan. Kasih merupakan energi yang bersifatkan expansive – menyebar, melebar. Apabila Anda masih diperbudak, Kasih tidak akan pernah muncul. Kasih dan Kebebasan sebenarnya sinonim – satu adanya. Kebebasan adalah Kasih, Kasih adalah Kebebasan.

            Selama Anda masih diperbudak, Anda tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu Anda harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama Anda masih hidup dalm penindasan, Anda tidak bisa mengasihi seseorang, Anda tidak bisa menghormati seseorang.

            Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama Anda masih belum bebas, selama Anda masih terbelenggu, selama itu pula Anda masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.

            Musa masih sangat relevan. Manusia masih hidup dalam perbudakan. Kadang diperbudak oleh masyarakat, kadang oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, kadang oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Nenek-moyang kita? Warisan budaya kita?

            Meditasi membuat Anda sadar akan jati-diri Anda. Kesadaran mengantar Anda ke pencerahan jiwa. Pencerahan jiwa memperluas pandangan manusia. Ia tidak akan berpikiran picik lagi. Pada etape itu, terjadilah dialog antara manusia dan apa yang Anda sebut Tuhan. Bahkan sebenarnya, pada etape itu jiwa menyatu, bersatu dengan Tuhan, dengan Keberadaan, dengan Alam Semesta.pada etape itu, sangat sulit memisahkan manusia dari Tuhan, Tuhan dari manusia. Pada etape itu sangat sulit memisahkan, yang mana kata-kata manusia, yang mana firman Tuhan. Demikian adanya!

 

BUKU KEDUA

Kerajaan Allah (perumpamaan Yesus dalam Injil)

  1. Benih dan Tanah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Matius.

Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesuadah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Matius 13:3-9).

            arogansi dan kebodohan sebenarnya sinonim. Yang bodoh selalu arogan, yang arogan adalah orang bodoh. Para budak Israel yang dibebaskan oleh Musa dan diajak keluar Mesir masih menyangsikan ketulusan Musa. Mereka bodoh. Sebaliknya, para ahli Taurat yang menganggap diri pandai dan dianggap demikian oleh masyarakat juga menolak Yesus. Karena arogansi mereka.

            Kebodohan kita, arogansi kita, membuat kita menjadi mandul. Bibit yang ditaburkan Yesus tidak dapat tumbuh dan berbuah karena arogansi kita.

 

  1. Tumbuh dengan Kuasa Allah. Perumpamaan Yesus dalam Injil Markus.

Beginilah hal Kerajaan allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi; bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba. (Markus 4:26-29).

            Bekerjalah, berupayalah – dan serahkan hasilnya kepada Ia Yang Maha Kuasa, jangan menyangsikan kekuasaan-Nya. Bukalah hati Anda, dan benih Sabda allah akan tumbuh sendiri dengan kuasa dari Atas. Orang yang membuka diri terhadap Sabda Pencerahan akan melihat hasil yang luar biasa. Sabda itu penuh kuasa, dan kalau kita menyediakan tanah subur untuknya, kita akan memetik panen melimpah: sabar, damai, welas-asih, bela-rasa dan damai.

 

  1. Biji Sesawi dan Ragi. Perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas.

Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya. Ia seumpama ragi yang diambil seorang permapuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. (Markus 13:18,19 & 21).

           

 

  1. Kasih-Mengasihi. Perintah Yesus dalam Injil Yohanes.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34).

 

BUKU KETIGA.

Allah dan Insan Allah (Beberapa Butir Mutiara dari Al-Qur’an).

Allah Maha Ada.

 

Dan kepunyaan allah Timur dan Barat, maka ke mana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah: Ayat 115).

           

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat.. (Al Baqarah: Ayat 186).

            anda tidak harus mencari-Nya. Anda tidak perlu mencari-Nya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran Anda. Sadar akan Kehadiran-Nya, di sini, saat ini. Ia tidak pernah ke mana-mana. Ia Maha Ada. Apabila kita tidak dapat menyadari Kehadiran-Nya, kitalah yang salah. Mungkin mata hati kita tertutup, mungkin pintu jiwa kita terkunci, mungkin batin kita tertidur, sehingga Kehadiran-Nya tidak terasa.  

Mutiara Quotation Buku MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena

Judul              : MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena

Pengarang      : Anand Krishna

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : 2007

Tebal              : 196 halaman

 

Mutiara Quotation Buku MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena

 

            Buku ini berisi ulasan terhadap Injil Maria Magdalena, pesan Isa, Sang Masiha, kepada Maria Magdalena, yang pernah dicatat oleh para pengikut setia, tapi kemudian hilang selama berabad-abad, sampai ditemukan kembali pada tahun 1896 di Cairo, Mesir. Sebagai naskah yang termasuk Injil Apokrif, Berita Baik menurut Maria Magdalena ini tentu berbeda sekali dengan versi ajaran resmi. Kendati demikian, dan tanpa harus mempertentangkannya dengan ajaran resmi itu, kita bisa belajar banyak darinya, guna memperluas dan memperdalam religiositas kita, karena bahkan Uskup Agung Genoa, Jacobus de Voragine, menyebut Maria Magdalena sebagai Illuminata sekaligus Illuminatrix, yaitu Pribadi yang sudah cerah sekaligus mencerahkan. Kendati demikian, barangkali Anda perlu berkonsultasi dengan pembimbing rohani Anda, untuk memastikan apakah Anda perlu membaca buku ini.

 

Miriam yang Dicintai-Nya

            Yesus, sang Guru, ibarat seorang dokter. Setiap orang yang datang kepada-Nya akan diperiksa satu persatu. Kemudian Ia meracik dan memberi obat sesuai dengan penyakit dan kebutuhan masing-masing orang. Karena itu, obat yang diberikan kepada Petrus, belum tentu cocok untuk Maria atau Miriam. Obat yang diberikan kepada Yudas belum tentu cock untuk Yohanes. Ada kalanya Ia hanya memberi vitamin atau obat penenang kepada para penderita penyakit ringan. Resepnya bersifat umum, seperti obat sakit kepala, obat sakit perut dan sebagainya.

            Mayoritas masyarakat dunia sesungguhnya tidak sakit-sakit banget. Mereka membutuhkan obat-obat ringan yang dapat diperoleh secara bebas. Racikan-racikan umum inilah yang kemudian dikumpulkan dalam Alkitab, bagi konsumsi umum. Racikan-racikan khusus di”rahasia”- kan, dalam pengertian “hanya diberikan kepada mereka yang membutuhkannya.”

            ada pesan yang diberikan oleh Sang Guru kepadanya yang harus saya sampaikan lewat buku ini. Pesan itu yang pernah dicatat oleh para pengikut setia, tapi kemudian hilang selama berabad-abad, sampai ditemukan kembali pada tahun 1896 di Kairo, Mesir.

 

Injil Maria Magdalena

Inilah Berita Baik oleh Maria

(Berdasarkan pemahamannya tentang apa yang diterimanya dari Sang Guru, dan saya ulas kembali berdasarkan pemahaman saya tentangnya)

Halaman 1-6: Hilang

 

Halaman 7, ayat 1-2. Apakah Dunia Benda ini? Apakah ia akan bertahan selamanya?

            Selama ini aku percaya pada dunia. Aku bertindak sesuai dengan hukum dan peraturan yang dibuat oleh dunia, oleh masyarakat. Aku berusaha untuk tidak melanggarnya. Aku menjaga keseimbangan antara apa yang disebut duniawi dan ilahi, dan keseimbangan itu kupercayai sebagai agama. Tapi, sekarang…. sekarang aku binging. Melihat kilauan wajahmu, menyaksikan cahaya yang dipancarkan oleh kedua matamu, aku sungguh bingung. Seribu satu pertanyaan muncul dalam benakku. Aku meragukan setiap pengalaman hidupku selama ini. Aku mulai menyangsikan kewarasan diriku sebelum pertemuan hari ini.

            Adakah garis pemisah yang jelas antara kebendaan dan kerohanian? Di manakah kebendaan berakhir dan di mana pula kerohanian bermula?

            Sesungguhnya si penanya sudah sadar bahwa dunia ini tidak akan bertahan selamanya, ia hanya membutuhkan konfirmasi, karena sangat prihatin tentang keberadaan dirinya. Jika dunia ini tidak dapat bertahan selamanya, bagaimana dengan diriku yang hidup dalam dunia ini? Apakah kelahiranku harus berakhir dengan kematian? Itu saja?

            Kematian adalah sebuah keniscayaan yang mematahkan semangat hidup manusia berkesadaran yang tahu bahwa pada suatu ketika dirinya pun pasti mati. Pengetahuan itu, kesadaran itu membuatnya merasa tidak berdaya. Ia mulai berpikir untuk pertama kalinya, Sebenarnya untuk apa hidup ini?

 

Ayat 3-6. Sang Guru Menjawab: Semua yang terlahir, semua yang tercipta, semua elemen-elemen alami saling terkait dan bersatu antara satu dengan yang lain.

            Bagi Sang Guru, baik kelahiran maupun penciptaan adalah urusan alam. Tuhan tidak melahirkan, Tuhan tidak juga menciptakan. Keduanya terjadi karena Tuhan. Elemen-elemen alami yang saling terkait itu pun ada karena Tuhan.

            Elemen-elemen alami menjadi saksi akan Keberadaan Tuhan. Alam ini sendiri adalah bukti akan Kehadirannya. Persis seperti sinar matahari adalah bukti akan kehadiran matahari. Matahari tidak perlu melahirkan sinar. Sinar matahari ada karena adanya matahari. Alam ini ada karena Keberadaan Allah.

            Api terkait dengan tanah, tanah dengan air, air dengan angin, dan semuanya dengan ruang, ruang kosong.

 

Ayat 7-10. Semua yang terbentuk akan terurai; segala sesuatu kembali pada asalnya; dunia benda kembali pada asal benda. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!

            Lima elemen alami, lima elemen dasar atau pokok tersebut ada dalam setiap benda. Adonan atau campuran mereka yang membedakan satu benda dari benda yang lain.

            Apa yang terjadi saat kematian? Proses pernapasan terganggu. Kita tidak dapat bernapas. Sisa napas dalam tubuh kembali kepada asalnya, pada angin, udara dan menyatu dengan alam. Unsur api yang selama ini mengurusi pencernaan, bahkan penglihatan pun kembali pada asalnya, pada elemen api. Tulang-belulang kembali pada tanah. Cairan dalam tubuh kembali pada air. Dan ruang yang selama kita hidup dipakai oleh tubuh menjadi kosong. Apa yang terjadi, jika pada suatu ketika alam atau Maha Alam itu sendiri terurai? Ia pun akan kembali pada asalnya – pada Allah, Tuhan, Gusti, atau apa pun sebutannya. Para ilmuwan menyebutnya Energi.

 

Ayat 11-13. Petrus Bertanya: Hanya Engkau yang dapat menjelaskan segala tentang elemen-elemen alami dan peristiwa-peritiwa di dunia, beritahulah kami, apakah Dosa Dunia itu?

            Barangkali ada yang mencari penjelasan lewat kepercayaan sebagian umat manusia pada reinkarnasi. Oh, itu karena dosa-dosa mereka di masa lalu. Baik, anak-anak itu lahir cacat karena dosa mereka di masa lalu.. dan di masa lalu mereka menikmati hidup atau menderita karena masa sebelumnya…. Ditarik terus ke belakang, kita bertemu dengan Dosa Asal. Petrus, salah seorang murid, mulai menyangsikan cerita tentang Dosa Asal atau Dosa Dunia tersebut. Setiap orang yang percaya pada Cinta dan Kasih sudah pasti menyangsikan cerita tersebut.

            Cinta dalah pekerjaan purna waktu. Pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh jiwa yang sudah matang, sudah dewasa. Jiwa yang masih muda, masih kecil, masih bayi, tidak dapat bekerja. Mereka harus belajar berjalan. Untuk mereka, cerita tentang Adam, Hawa dan Ular itu penting. Cerita itu menjadi sarana bagi mereka untuk belajar berjalan.

            Petrus telah menundukkan kepalanya. Ia mengaku tidak tahu, maka bertanya. Petrus jelas beda dengan para murid yang merasa sudah tahu semua. Mereka bertanya untuk memperoleh konfirmasi; itu saja. Dan, ketika seorang Guru tidak memenuhi harapan itu, mereka malah balik menyerangnya. aneh!

 

Ayat 14-19. Sang Guru Menjawab: Dosa itu tidak ada. Engkaulah yang membuatnya ada karena perilaku serta kebiasaan-kebiasaanmu yang tidak selaras dengan alam. (Ketakselarasan) itulah Dosa.

            Kesalahan itu tidak ada, kecuali kau berbuat salah. Kekeliruan itu sesungguhnya tidak ada, kecuali kau bertindak keliru. Adanya dosa karena adanya tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Dosa disebabkan ketakselarasan kita dengan alam. Setiap tindakan yang tidak selaras dengan alam adalah dosa. Dosa tidak memiliki eksistensi di luar tindakan kita yang tidak selaras dengan alam.

            Dosa = Aku + Tindakan yang tidak selaras dengan alam

            Ia mengajak kita untuk memperbarui hubungan kita dengan Tuhan, dengan landasan Cinta, tidak berlandaskan Dosa dan Penyucian Dosa. Perhatikanlah alam sekitarmu. Belajarlah dari alam. Dari bumi yang selalu memberi walau dieksploitasi, diinjak-injak dan perutnya dikoyak-koyak. Ada langit yang selalu mengayomi, menyirami ketika bumi gersang. Ada ruang, angkasa luas di mana bumi kita berputar tanpa henti. Pernahkah mereka menuntut sesuatu darimu? Mereka memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari kita.

            Itulah pelajaran utama yang dapat kita petik dari alam: memberi tanpa mengharapkan imbalan, memberi tanpa pamrih. Ketika kita memberi dengan sesuatu harapan, kita sudah bertindak tidak selaras dengan alam.

            Pelajaran lain yang dapat dipetik dari alam adalah keluasannya. Langit yang luas, laut yang luas, segalanya luas. Cara berpikir kita yang sempit adalah dosa.

 

Ayat 20-22. datangnya Kebaikan padamu semata untuk menyelaraskan dan mempersatukan dirimu dengan alam sekitarmu.

            Inilah tujuan tunggal datangnya Yesus dalam hidup kita. Dengan cara inilah ia menebus dosa-dosa kita. Ia membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Ia membebaskan kita dari khayalan, dari imaginasi, dari takhayul tentang dosa.

 

Ayat 23-28. Lalu Dia melanjutkan: (Ketakselarasan) inilah yang menyebabkan penyakit hingga akhirnya kau mati. Semua itu terjadi karena tindakanmu sendiri; tindakanmu pula yang telah menjauhkanmu dari Dia. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!

            Ketakselarasan dengan alam membuat kita tidak nyaman, sakit. Ketakselarasan pula yang menyebabkan kalahiran dan kematian. Keselarasan akan membuat kita kekal, abadi – bebas dari kelahiran dan kematian. Keselarasa dengan alam adalah Rencana allah bagi kita – Kehendak Ilahi. Ketakselarasan dengan alam adalah buatan kita.

 

Halaman 8. Ayat 1-3. Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul dalam tubuh.

            Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita. Dan timbul keinginan untuk memilikinya.pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati dan jeroan karena semua itu ada dalam diri kita. Hingga suatu ketika kita jatuh sakit. Karena saat itu kita merasa kehilangan kesehatan.

            Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu – keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya.

 

Ayat 4-6. Aku harus menjelaskan semua ini, supaya kau hidup selaras dengan alam, dan tidak kehilangan keseimbangan.

            Alam dengan seluruh isinya sadar akan perannya masing-masing dalam Jagad Raya. Api berperan sebagai penghangat, pembakar, dan ia tidak pernah melupakan perannya itu. Sebagai energi pun menjaga suhu badan kita. Berada di kutub utara, suhu badan kita tidak ikut turun menjadi minus sekian. Apa yang terjadi jika suhu badan kita menjadi minus 50 atau 60 derajat? Kita sudah pasti mati. Begitu juga air, angin, tanah, dan ruang angkasa berperan sesuai dengan tugas mereka masing-masing, sesuai dengan sifat mereka masing-masing.

 

Ayat 7-10. Dapatkanlah petunjuk dari dalam dirimu sendiri. Siapa yang punya telinga, harap mendengar!

            Apakah kita mendengar suara ketukannya? Kita tidak membutuhkan seorang perantara. Kita tidak membutuhkan seorang perantara. Kita tidak membutuhkan tempat khusus. Kita tidak membutuhkan apa-apa, kecuali diri kita sendiri.

            Sesungguhnya diriku dan dirimu sama. Diri kita satu dan sama. Diri, Aku atau Self ibarat aliran listrik yang mengalir dalm diri kita semua. Ia juga ibarat elektro-magnetis di mana kita berada. Mendengarkan petunjuk dari dalam diri berarti menyelaraskan diri dengan alam dan penyelarasan diri dengan alam adalah keseimbangan yang mesti diraih. Gunakan kedua telingamu. Kedua telinga itu diberikan kepadamu untuk keperluan itu. Untuk mendengar petunjuk yang berasal dari dalam dirimu.

            Kau berangkali lupa bahwa aliran listrik yang sedang mengalir di dalm dirimu ada di luar juga. Ada energi di dalam dirimu, ada juga energi di luar dirimu. Kita semua sedang berenang dalam Kolan Energi. Ketika air di dalam diri kita berkurang, kita merasa haus dan mencari air. Ketika air dalam pompa sumur kita menyusut, kita harus memancingnya dengan beberapa ember dari luar. Ketika suara dari dalam diri  sendiri tidak terdengar, kita harus memancingnya dengan memasukkan Yesus ke dalam diri.

 

Ayat 11-14. Setelah mengucapkan demikian, Ia Yang Terberkati Menyelami Mereka Sambil Berkata: Damai selalu bersamamu – Semoga kedamaian-Ku muncul dan memenuhi dirimu!

            Kumaknai kehadiran sang Guru dalam hidupku bukan untuk menyelamatkan jiwaku, tetapi untuk memberdayakan diriku. Ia senantiasa menuntunku, menasehatiku… Kadang juga menjewer kupingku, meneriakiku, karena aku memang sering bandel, sering bersikap acuh-tak-acuh.

 

Ayat 15-22. Waspadalah selalu, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkanmu dengan pengakuannya: Ia berada di sisni, atau Ia berada di sana. Berpalinglah selalu pada diri sendiri. Anak Manusia berada dalam dirimu. Carilah Dia di dalam diri, karena Siapa pun yang mencari pasti menemukan-Nya.

 

Ayat 23-24. Janganlah berhenti; berjalanlah terus untuk menyampaikan berita baik tentang Kerajaan-Nya!

            Inilah berita baik. Inilah Injil. Inilah gospel. Berita baik, Injil, Gospel bukanlah kitab buatan manusia yang ada ditangan kita. Injil adalah berita baik tentang Anak Manusia yang berada di dalm diri kita: tentang Kemanusiaan yang adalah cerminan Keilahian Allah. Janganlah berhenti; berjuanglah terus untuk menemukan Kemanusiaan alias Keilahian itu di dalm diri sendiri.

 

Halaman 9. Ayat 1-4. Selain dari hukum di mana Aku menjadi saksi, janganlah menerapkan larangan-larangan lain. Janganlah menambah sesuatu pada Hukum Taurat, sehingga kau tidak terikat oleh hukum dan larangan semata.

            Seorang Yesus menjadi saksi bagi pedoman-pedoman yang bersifat sangat universal, berlaku dalam setiap zaman. Dan menjdi saksi bagi suatu pedoman berarti menerjemahkan pedoman tersebut dalam bentuk kerja nyata dalam keseharian hidup. Pedoman bukan peraturan. Pedoman bersifat universal, peraturan bersifat spesifik.pedoman berlaku sepanjang zaman. Peraturan berubah dari zaman ke zaman.

            Yesus menasihati kita untuk tidak terikat oleh hukum dan larangan semata. Tidak berarti Yesus menasihati kita untuk melanggar hukum dan peraturan. Ia menasihati kmita agar kita menjadi sadar. Agar kita berbuat baik bukan karena takut dihukum jika berbuat tidak baik, tetapi berbuat baik karena kita memang baik, karena kebaikan telah menjadi sifat kita.

 

Ayat 5-11. Setelah mengakhiri wejangannya, Ia pergi. Para murid menjadi sedih, berlinangan air mata, mereka berkata: Bagaimana menyampaikan berita baik tentang Kerajaan Anak Manusia kepada mereka yang tidak percaya? Mereka menghukum-Nya karena hal itu, apalagi kita?

            Tidak ada urusan selamat-menyelamatkan. Tidak ada janji surga. Tidak ada apa-apa. Backing dari Sri Paus pun tidak ada. Vatikan belum ada. Gereja belum terbentuk. Rasa takut saat itu sungguh sangat real, sangat menusiawi. Kelemahan mereka masih dapat dipahami.

 

Ayat 12-20. Lalu Maria berdiri, memeluk setiap di antar mereka, dan mulai berbicara: Janganlah berkecil hati, jangan bimbang, karena Rahmat-Nya akan selalu membimbing dan melegakan kalian. Lebih baik memuji Kebesaran-nya, kareana Ia telah mempersiapkan kita semua untuk (pekerjaan) ini. Dia telah memanggil kita untuk menjadi Manusia Sempurna(=Anthropos, Yunani). Demikianlah Maria membimbing hati mereka untuk kembali pada Kebaikan dan mendalami arti setiap kata yang disampaikan oleh Sang Guru.

            Lupakah kita bahwa selama ini kita sudah dipersiapkan untuk tugas ini? Dengan menjalankan tugas ini, sesungguhnya kita tidak membantu orang lain. Kita membantu diri sendiri. Mengembangkan kasih di dalam diri dan menyebarkannya adalah tujuan hidup setiap manusia. Dengan proses inilah kita memanusiakan diri. Dengan cara inilah kita menemukan Sang Anthropops, Sang Manusia Sempurna dalam diri. The Real Superman!

            Saat ini Kesempurnaan itu masih berupa benih di dalam diri kita. Benih ini tidak akan tum uh sendiri jika dibiarkan begitu saja. Benih ini bisa mati. Kedatangan Sang Juru selamat adalah untuk menyelamatkan benih ini. Ia mengingatkan kita untuk cepat-cepat mengurusi diri. Untuk mengurusi benih kesadaran di dalam diri.

            Apa dan siapa yang mesti kau takuti, jika kau betul-betul ingin menyebarkan kasih? Siapa yang akan melarangmu untuk mencintai tetanggamu, mengasihinya tanpa syarat dan tanpa batas? Siapa yang berkeberatan jika kau melayani anak-anak gelandangan atau para yatim-piatu di panti?

 

Halaman 10. Ayat 1-6. Petrus berkata kepada Maria: Kami tahu cinta Guru terhadapmu beda dari cintanya terhadap wanita-wanita lain. Beritahulah kami apa saja yang dapat kau ingat Dari apa yang pernah disampaikan-Nya kepadamu. Sesuatu yang kami belum dengar sebelumnya.

            Petrus dapat merasakan kekuatan Maria. Ia dapat merasakan kekuatan setiap kata yang terucap olehnya. Ia pun sadar bahwa kekuatan itu karena cinta Sang Guru terhadapnya. Pertemuan antara cinta seorang murid dan seorang Guru melahirkan energi yang sungguh dahsyat. Energi itu dapat mengubah langit menjadi bumi dan bumi menjadi langit. Ya, Energi Cinta itu dapat mewujudkan apa saja. Ia dapat menciptakan sesuatu dari yang tidak ada , tidak pernah ada, tiada – Ketiadaan.  

 

Ayat 7-9. Maria menjawab mereka: Baiklah, akan saya sampaikan apa saja yang kalian belum dengar sebelumnya.

            Maria sudah bertemu. Ia berada dalam keadaan Pertemuan Abadi. Ia berada dalam alam yang beda dari alam kita. Apa yang terlihat oleh kita sesungguhnya hanyalah bayangan dia. Apa yang tercium oleh kita hanyalah aromanya. Dan, bayangan ini tidak akan ada untuk selamanya. Aroma ini taka akan bertahan lama.

 

Ayat 10-16. Saya pernah diberkahi-Nya dengan penglihatan dan saya pun menyampaikan kepada Guru: Aku melihatmu,Guru!

Ia menjawab: Terberkatilah dirimu, karena penglihatanmu itu tidak mengganggumu. Di mana ada kesadaran, di sanalah adanya harta karun.

            Selama bertahun-tahun kesadaran kita terfokus pada salah satu arah yang menjadi kiblat kita. Dan, sebagaimana dengan penglihatan kita, kesadaran yang terfokus pada sesuatu pun akhirnya membuyar. Saat itulah terjadi peningkatan kesadaran. Kesadaran kita meluas, dan tiba-tiba saja kita lihat kiblat itu berada di mana-mana. Pada saat yang sama kita menemukan jati-diri kita. Kita menemukan sesuatu yang luar biasa. Kita melihat sesuatu yang tak pernah kita lihat. Kita menemukan diri kita dalam pelukan-Nya.

            Pada saat itu ada tiga kemungkinan yang umumnya terjadi:

  1. bunga yang baru saja mekar menoleh ke kanan dan ke kiri, dan melihat bunga lain mekar bersamanya. Ini yang terjadi dengan Guru Nanak, Sang Guru Sejati, dan ia menari ria.
  2. Bunga yang baru mekar itu melihat bunga-bunga lain yang pernah mekar dan sudah mulai layu.
  3. Bunga yang baru mekar itu tidak menoleh ke mana-mana; ia memperhatikan dirinya saja..

            Sang Guru tersenyum, Maria, kau mengalami apa yang pernah dialami oleh Magadhi – Perempuan Agung yang menolak kerajaan Magadha dan memilih untuk menjadi pengikut Buddha – Amrapali! Sejak itulah sang Guru selalu memanggilnya dengan julukan Magadhi. Perempuan dari Magadha. Saat itu di Timur Tengah tidak ada kota atau dusun dengan nama Magada. Maria sendiri berasal dari kota Bethany. Hingga hari ini pun para teolog masih bingung, kenapa Maria dari Bethany disebut Magdhalena? Apakah Maria dari Bethany dan Maria Magdalena itu satu orang> barangkali mereka dua orang yang berbeda.

            Guru bagaikan katalisator, perantara yang ada dan tidak ada. Ia bagaikan awan yang menyebabkan keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan tidak memberi keteduhan, ia tidak membuat teduh; ia menyebabkan terjadinya teduh, keteduhan. Itulah Guru.

 

Ayat 17-21. Lalu saya bertanya kepada-Nya: Guru, ketika seseorang melihat-Mu dalam penglihatan semacam itu, apakah itu sekadar permainan pikiran, atau betul sebuah penglihatan oleh jiwa?

            Mind adalah gudang thought atau satuan pikiran. Kumpulan dari satuan pikiran membentuk mind, mengkristal menjadi mind. Mind penuh dengan unit-unit kecil pikiran, ditambah dengan keinginan, obsesi, ingatan atau memori , imajinasi, dan masih banyak hal yang lain.

            Maria memahami seluk beluk mind. Ada seorang wanita yang mengaku menerima wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Kenapa? Karena mind-nya memiliki rekaman tentang Jibril.

            Anak-anak kita diracuni dengan memori tentang pertikaian anatar penganut dua agama, maka bertahun-tahun kemudian pun, memori tersebut masih bisa di-recall bersama racun dan kebenciannya. Dan, dengan sangat mudah anak-anak itu bisa disulap menkadi zombie, alat pembunuh, teroris.

 

Ayat 22-25. Sang Guru Menjawab: Penglihatan semacam itu bukanlah permainan pikiran, juga bukan karena jiwa. Ia disebabkan oleh Kesadaran yang mengendalikan keduanya.

 

Halamam 11-14 hilang.

Halaman 15. Ayat 1-12. Dan, Keinginan berkata: Saya tidak melihatmu jatuh, sekarang kau (mengaku telah) bangkit kembali. Kenapa berbohong, bukankah kau milikku?

Sang Jiwa menjawab: Kau tidak melihatku, kau tidak mengenaliku, tapi aku melihatmu. Bagaikan busana, aku bersamamu selalu. Kau saja yang tidak merasakanku.Setelah berkata demikian, Sang Jiwa pun berlalu dengan penuh suka-cita.

            Dialog ini terjadi dalam Lapisan Kesadaran kedua, lapisan di mana keinginan berkuasa. Lapisan sebelumnya adalah Lapisan Gelap Thoughts atau Satuan Pikiran.

            Kegelapan pada Lapisan Pertama ini disebabkan oleh satuan-satuan pikiran yang terlalu banyak, rapat, padat, dan njlimet. Persis seperti awan gelap yang menutupi matahari atau bulan. Sesungguhnya awan gelap itu tidak dapat menutupi matahari atau bulan; ia hanya membatasi pandangan kita, sehingga kita tidak dapat melihat apa yang ada di baliknya.

            Dalam keadaan gelap gulita, Sang Jiwa atau Percikan Kesadaran Murni di dalam diri manusia kadang tersandung, jatuh, tetapi ia cepat-cepat bangkit kembali. Kemudian, muncul keinginan untuk cepat-cepat keluar dari kegelapan. Keinginan ini bukanlah jiwa manusia. Keinginan hanyalah salah satu dari sekian banyak lapisan kesadaran.

            Sang Jiwa adalah kepala rumah tangga. Kesadaran kita sedang melewati setiap kamar. Kadang kita berada dalam kamar anak, dan kamar ini memiliki daya tarik tersendiri. Kita tidak ingin meninggalkan kamar ini. Kamar ini pun seolah tidak rela ditinggalkan.

            Banyak orang yang berhenti pada Lapisan Keinginan. Dari pengemis di pinggir jalan yang menginginkan rezeki untuk hari ini, hingga para motivator paling beken dan berpenghasilan ratusan juta kali lipat, semuanya berhenti di lapisan yang satu ini.

 

Ayat 13-18. Berada pada Alam Ketiga, yang mana adalah Alam Ketidaktahuan, Ketidaktahuan pun menguji Sang Jiwa: Mau ke manakah kau? Dirimu penuh dengan sifat-sifat jahat. Kau tidak dapat melihat kebaikan, karena telah diperbudak oleh kejahaatan.

            Ego manusia sungguh luar biasa! Kadang ia mengaku saleh. Kadang ia mengaku jahat. Kadang ia puas dengan satu hal, kadang dengan hal lain. Ego manusia tidak tahu diri. Ia berada dalam Alam Ketidaktahuan. Ia tidak tahu apa yang dapat memuaskan dirinya untuk selamanya.

 

Ayat 19-25. Sang Jiwa menjawab: Aku tidak menghakimimu, kenapa kau menghakimiku? Kendati terpengaruh (oleh sesuatu), aku tidak mempengaruhimu. Aku tidak dikenali, tetapi aku mengenali diri-sendiri. (Aku tahu) segala sesuatu yang terbentuk akan terurai kembali, baik di bumi maupun di surga.

            Tidak, aku tidak lahir dari dosa. Tidak, aku tidak lahir karena dosa. Aku lahir dari Sang kasih, dari Mahadaya Kasih.. aku akan kembali kepada-Nya. Bersama-sama makhluk-makhluk lain, elemen-elemen alami, bulan, bintang, matahari dan jagad raya ini, aku berasal dari Zat yang satu dan sama – dari Hyang Tunggal.

            Baik dan buruk hanyalah perasaan sesaat. Suka dan duka adalah pengalaman sesaat. Siang malam, panas-dingin, gugur-semi – tak satu pun yang bertahan selama ini. Kendati demikian, di balik semua ini adalah Kebenaran Mutlak yang selalu ada.. Kebenaran yang melampaui segala penjelasan, tidak ada dalam alam ini, tapi alam ini ada karena-Nya!

 

Halaman 16. Ayat 1-4. Terbebaskan dari Alam Ketiga, Sang Jiwa melanjutkan pendakiannya dan sampai pada Alam keempat.

Adalah Tujuh lapisan Alam (yang harus dilewatiSang Jiwa): Yang Pertama adalah Alam Kegelapan;

Ayat 5. Kedua, Alam Keinginan;

Ayat 6. Alam Ketiga adalah Alam Ketidaktahuan.

Ayat 7. Yang Keempat, Alam Kecemburuan yang Membinasakan.

            Rasa cemburu adalah musuh utama kita. Terdorong oleh rasa cemburu, manusia bisa saling membunuh, saling menjatuhkan. Rasa cemburu membuat kita lupa akan segala kenikmatan yang sudah kita miliki. Kita lupa akan berbagai berkat yang telah kita nikmati. Kecemburuan merampas akal budi kita, mengacaukan pikiran kita, membuyarkan pandangan kita, dan hilanglah kemampuan kita untuk membedakan yang tepat dari yang tidak tepat.

 

Ayat 8. Kelima, Perbudakan pada Tubuh.

            Silakan bertubuh, silakan berbadan, silakan menikmati kepemilikan, tapi jangan menjadi budaknya. Jadilah pemilik, the master of your senses, not the slave. Jadilah raja dari panca indra dan pikiran yang kita miliki, janganlah menjadi budak mereka.

            Perbudakan pada tubuh terjadi ketika kita memikirkan makan melulu. Bukan hanya makanan yang masuk ke dalam tubuh kita lewat mulut, tetapi juga yang masuk lewat telinga, lewat hidung, lewat mata, lewat perabaan, lewat getaran-getaran pikiran.

 

Ayat 9. Keenam, Kebijaksanaan yang Memabukkan.

            Istilah kebijaksanaan di sini harus diartikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan yang masih belum berkembang menjadi kesadaran. Pengetahuan yang setengah-setengah inilah yang berbahaya. Pengetahuan seperti inilah yang memabukkan. Para politisi yang btidak berani menolak paham-paham radikal dan ekstrem hanya karena keuntungan sesaat dan kepentingan pribadi atau kelompok adalah orang yang mabuk yang dapat merusak seluruh tatanan masyarakat.

 

Ayat 10-14. Ketujuh, Kebijaksanaan yang menyesatkan. Inilah Tujuh Wujud Kegusaran. Masing-masing mengejar Sang Jiwa dengan berbagai pertanyaan: dari manakah kau berasal, pembunuh? Kemanakah kau mau pergi, gelandangan!

            Kebijaksanaan yang menyesatkan mengintimidasi manusia dengan segala macam siksaan dan penderitaan di neraka; kemudian ia pun menawarkan jasa dan solusi untuk menghindarinya dengan keluarkan tabunganmu!

 

Ayat 15-19. Sang Jiwa menjawab: Terbunuh sudah ia yang menindasku; lenyap sudah ia yang membelengguku; memudar sudah segala keinginanku; sekarang aku bebas dari ketidaktahuan.

            Terbunuh sudah si ego yang selama ini menindasku, aku palsu yang selama ini memperbudak diriku. Lenyap sudah pikiran-pikiran kacau yang selama ini membelengguku. Memudar sudah segala macam keinginan yang selama ini membuat diriku pusing tujuh keliling. Sekarang aku bebas dari ketidaktahuan. Sekarang aku tahu siapa diriku!

            Menerima Yesus sebagai putra Allah sungguh sangat gampang. Menerima diri sendiri sebagai putra Allah sungguh sangat sulit. Tanya kenapa? Karena kita takut  disalibkan seperti Yesus. Kita takut berkorban seperti Yesus.

 

Halaman 17. Ayat 1-8. Saya terbebaskan dari dunia berkat dunia lain; sebuah rancangan telah dihapuskan, oleh kebaikan dari rancangan yang lebih tinggi. Selanjutnya aku beristirahat dalam kedamaian, di mana waktu berhenti dalam keabadian; sekarang aku menuju keheningan itu. Setelah mengucapkan semua itu, Maria diam, hening, karena dalam keheningan seperti itulah Sang Guru berbicara kepadanya.

            Kita tidak mau melepaskan gundu, karena gundu di tangan kita sangat tangible, nyata, dapat dipegang, diraba, dirasakan. Kenapa aku harus melepaskannya demi surga yang tidak nyata, tidak dapat dipegang, tdak dapat diraba maupun dirasakan?

            Bukalah genggam; lepaskan gu du-gundu yang tidak berharga itu.. dan perhatikan alam sekitar. Begitu kayanya alam semesta, dan alam ini diciptakan untuk kita. Kita bisa bermain apa saja, banyak permainan di sini. Kenapa begitu terikat dengan segenggam gundu itu?

            Pikiran-pikiran kacau yang saat ini mengkristal  menjadi mind harus lenyap dulu. Mind harus gugur dulu. Baru setelah itu kita menciptakan mind baru, yang sesuai dengan kesadran kita, yang tidak terpengaruh oleh masyarakat, tidak terpengaruh oleh buku-buku, tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan oleh orang lain; juga tidak terpengaruh oleh keinginan-keinginan kita yang tercipta dari ketaksadaran kita, dari ketidaktahuan kita; mind yang bebas dari belenggu, free!

            Bodhichitta adalah Kesadaran seorang Buddha, kesadaran yang berani, tetapi tidak perlu membuktikan keberaniannya; mind yang tidak lagi membedakan materi dengan energi, dunia benda dari roh; mind yang tidak berkiblat pada arah tertentu, karena ia melihat Wajah Allah di mana-mana.

 

Ayat 9-13. Lalu Andreas mengatakan kepada saudara lelakinya: Apa yang kau pikrkan tentang kata-katanya itu? Saya tidak percaya bila Guru pernah berkata seperti itu. Apa yang disampaikannya itu sangat berbeda dari apa yang telah kita ketahui.

            Andreas tersinggung. Egonya terpukul, karena apa yang disampaikan oleh Maria bukanlah sesuatu yang biasa. Apa yang disampaikannya adalah berita luar biasa. Andreas tidak memahami maksud sang Guru yang disampaikannya lewat Maria. Bukan saja Andreas, para murid lain pun tidak memahami maksudnya. Daftar mereka yang tidak memahami maksud Sang Guru sejak 2.000 tahun yang lalu kian menjadi lebih panjang.

            Kematian Yesus di atas salib tidak bisa membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Tidak, never. Kita masih harus bertanggung jawab terhadap setiap kebaikan dan kesalahan yang kita lakukan. Dengan menjadi Kristen, dan menerima Yesus, janganlah kita berpikir bahwa kita bisa melepaskan diri dari tanggung jawab atas perbuatan kita.

            Bukalah Perjanjian Baru, Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 14:12, so, then every one of us shall give account of himself to God. Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah.

 

Ayat 14-17. Da, Petrus menambahkan: Bagaimana mungkin Guru menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia dan tidak diketahui oleh kita kepada seorang wanita?

            Ego Petrus pun terusik.. ego seorang murid yangvtelah menjadi dasar bagi keamanan kita. Ya, dasar bagi keimanan kita, karena selama ini iman kita berlandaskan pada doktrin, pada dogma tentang Yesus, bukan pada Yesus sendiri.

 

Ayat 18-20. Apakah kita harus meninggalkan kepercayaan kita, dan mempercayai kata-kata perempuan ini? Apa betul Dia menyayangnya lebih dari kita?

            Apakah kita harus meninggalkan kepercayaan kita bahwa materi, benda itu mati dan energi itu hidup? Selama beratus-ratus tahun kita membedakan materi dan energi. Kemudian, Einstein mengatakan, Tidak, keduanya saling terkait. Hukum relativitas mempertemukan keduanya.

            Selama bertahun-tahun kita menganggap diri kita beragama, dan orang lain kafir. Sekarng kita mengatakan, Tidak keagamaan dan kekafiran menyangkut kejiwaan dan tingkah-laku manusia. Keagamaan dan kekafiran seseorang tidak dapat ditentukan dan dibuktikan oleh lembaga buatan manusia. Tuhanlah yang maha menetukan dan maha membuktikan, karena Ia maha mengetahui jiwa manusia.

            Yesus yang dapat menuntun kita dalam keseharian hidup kita sudah pasti bukanlah Yesus yang mati. Dan yesus yang hidup tidaklah membutuhkan perantara untuk berdialog dengan kita. Ia tidak memerlukan balai pertemuan khusus untuk menyelenggarakan pertemuan dengan umatnya. Ia dapat menemui kita di mana pun jua. Tidak jarang ia mendatangi rumah kita masing-masing, dan mengetuk pintu kita. Sayang, banyak di antara kita yang mendengar ketukan itu, tetapi tidak mau membuka pintu.

 

Halaman 18. Ayat 1-6. Mendengar itu, Maria menangis dan mengatakan: Petrus, saudaraku, apa yang engkau pikirkan? Kau pikir aku berkhayal atau mengada-ada tentang penglihatanku, dan berbohong tentang kata Guru?

           

Ayat 7-10. Saat itu Lewi baru menanggapi: Petrus, kamu memang selalu mudah marah. Sekarang, kamu meremehkan kata-kata seorang wanita sebagimana dilakukan oleh mereka yang tidak percaya.

            Di zaman itu semua orang tahu bahwa Maria sangat dekat dengan Yesus yang membuat banyak morang cemburu. Ketika ia membasuh kaki sang Guru dengan air matanya, lalu mengeringkan dengan rambutnya, dan meminyakinya dengan parfum termahal di zaman itu yang harus diimpor dari India, banyak yang cemburu. Kecemburuan itu kemudian mereka bungkus rapi dengan berbagai dalil yang masuk akal. Kenapa harus memboroskan uang begitu banyak untuk meminyaki kaki Guru? Kenapa tidak menyedekahkannya kepada fakir miskin? Ah, Yesus lagi… wanita itu kan tuna susila… Nabi koq mau berhubungan dengan seorang wanita tuna susila?

            Kita lupa bahwa Yesus datang bagi kita yang sakit. Ia datang untuk menyembuhkan penyakit kita. Seorang wanita tuna susila tidak lebih sakit daripada seorang pejabat tinggi yang korup. Dan, seorang pejabat yang korup tidak lebih asusila daripada seorang agamawan yang mengintimidasi umatnya, kemudian menawarkan solusi, supaya tokonya ramai.

            So, Yesus jelas-jelas bukanlah monopoli orang Katolik atau Protestan. Barangkali orang lain, budaya lain, peradaban lain lebih mengenal Yesus daripada saudara-saudara Katolik atau Protestan. Bukan saja lebih lama, tapi mereka mengenalnya lebih dalam, lebih luas.

 

Ayat 11-14. Bagaimana kau dapat meremehkan dan menolak orang yang dihargai oleh Guru? Guru mengetahui dan mengenalnya lebih baik, sebab itu Ia pun mencintainya lebih dari kita.

           

Ayat 15-18. Mari kita berpaling pada diri, dan berusaha untuk menjadi Manusia sempurna, sehingga dapat menyadari Kehadiran Guru, dan tumbuh sebagaimana Ia menginginkannya.

 

Ayat 19-21. Dan melangkah maju untuk meyebarkan berita baik, tanpa menambah satu peraturan, selain apa yang telah disaksikan-Nya.

 

Halaman 19. Mendengar kata-kata Lewi itu, Mereka semua melangkah maju untuk menyampaikan berita baik. Inilah Injil menurut Maria.