Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kelima)

Satsang Malam Kedua di atas House-Boat

 

Catatan Kecil Kelima

            Sangat sulit membebaskan diri dari keterikatan terhadap lidah. Keterikatan yang cukup  berat, itulah sebabnya konon sebelum meninggal banyak orang yang meminta masakan tertentu. Organ pengecap di lidah mungkin hanya merupakan sebuah ilusi tetapi pengaruhnya dapat menghidupkan perekonomian. Semua Rumah Makan baik tingkat Warteg sampai yang berkelas Internasional, keberlangsungan kehidupannya tergantung dari organ lidah manusia.

            Seorang pilot itu harus menurunkan posisi dirinya mengambil penumpang dan untuk mengangkatnya menuju tujuan.Seorang Guru TK harus menyampaikan pengetahuan berdasarkan tingkat kemampuan murid TK-nya. Seorang Master harus menurunkan kesadarannya untuk dapat berkomunikasi dengan pengikutnya.

 

British Menu dan Pejaja Barang memakai perahu

            Selesai perjalanan dari New Delhi-Srinagar dan berkunjung ke rumah Profesor Fida Hassnain, rombongan meneruskan perjalanan ke Danau Dal dan menginap di house-boat. Pada malam pertama menginap tersebut, setelah selesai mandi, makan malam sudah disiapkan oleh Moh. Asyik. Selama perjalanan di Kashmir dan Leh menu makan siang atau makan malam selalu terdiri dari:

  1. Soup.
  2. Lauk utama misalnya Chicken atau Lainnya.
  3. Dua macam sayur misalnya green beans dan Broccoli
  4. Tea/Coffee.
  5. Desert atau buah.

Pengaruh British Menu terasa, bumbunya pun tidak terlalu banyak seperti makanan India. Menu India yang pas bagi lidah Jawa adalah Chicken Tandhuri, ayam bakar.

            Sangat sulit membebaskan diri dari keterikatan terhadap lidah. Keterikatan paling berat, itulah sebabnya konon sebelum meninggal banyak orang yang meminta masakan tertentu. Salah satu teman kami, Pak Marhento berkata, seandainya semua orang bisa melepaskan keterikatan terhadap selera yang tertanam di bawah sadar, semua warung akan tutup dan perekonomian akan melambat. Ada benarnya, bila orang tidak mempunyai keterikatan terhadap rasa dan selera lidah bagaimana Rumah Makan, Mbok Berek, Suharti, Ponyo, Gumati, KFC, Pizza dan lain-lain akan gulung tikar. Iklan Biskuit Roma, Coklat, Susu berbagai merek akan berantakan semua. Keberadaan hanya memberikan organ pengecap di lidah yang mungkin hanya sebuah ilusi tetapi pengaruhnya menghidupkan perekonomian. Guruji, Gusti, rasa itu bagi kami masih nyata bukan ilusi, pernah didepan kami tersedia masakan Thali di Restoran India, dan yang 100 % habis hanya yogurt dinginnya. Memang kami baca Terjemahan Buku Vasishta Yoga tentang ilusi, tetapi dalam praktek ilusi sebuah kecapan lidah pun terasa berat. Yang Mulia Atisha mengajarkan agar kita menekankan semua ini hanya mimpi, hanya mimpi, tetapi makan masakan yang bukan masakan Indonesia pun amat berat. Guruji, bimbing kami.

            Sehabis makan malam, kami rombongan enam orang tinggal di house-boat Firdaus yang terpisah dua unit house-boat dari tiga house-boat yang lain. Tiga house-boat yang lain terhubungkan dengan satu dermaga. Bagi rombongan kami, walau terpisah hanya dua house-boat untuk berkumpul kami harus naik shikara, perahu dayung khas Danau Dal. Membayar shikara untuk jarak dekat hanya sekitar Rp. 20.000, tetapi pada waktu malam hari menunggu shikara yang lewat perlu puluhan menit.

            Pada malam pertama menginap, setelah makan malam kami mengobrol di ruang keluarga, sambil melihat televisi. Akan tetapi para penjaja barang dagangan datang dengan beberapa perahu dan menggelar barang dagangannya sehingga ruangan penuh berupa barang jajaan. Kami tidak sempat tenang, dan karena belum mood, kami masuk kamar masing-masing dan mengobrol.

 

Mendatangi Satsang Untuk Mempertahankan Kesadaran

            Esoknya, kami diberi tahu semalam ada satsang dan bahkan dijemput dengan shikara dan dikatakan kami berenam sudah tidur kecapaian. Baru terpisah dua  house-boat saja, kami sudah melalaikan adanya Guruji, apalagi kalau jaraknya jauh dan lama tidak ke Ashram. Kontak dengan dunia, bagi kami memang memerosotkan kesadaran, sehingga kami perlu datang rutin ke Ashram, ke satsang yang penting untuk mempertahankan kesadaran. Jelas lain dengan Guruji, yang datang ke dunia ini untuk meningkatkan kesadaran kita. Beliau memang menurunkan kesadaran agar dapat berhubungan dengan kita dan mengajaknya naik dan terbang. 

            Oleh karena itu pada malam kedua, kami semua makan malam dengan cepat dan segera naik shikara berkumpul dengan teman-teman lainnya. Memang kami berenam menunggu, karena teman-teman lain sedang makan malam dan kami menyaksikan pemandangan malam hari yang indah di Danau Dal. Kami ingat Guruji pernah bekata, jangan menanyakan pertanyaan duniawi kepada Beliau, pertanyaan duniawi membebaninya. Tetapi pertanyaan apa yang harus kami siapkan, kami masih kental duniawi. …….. bila seorang yang masih berada dalam wilayah Hukum Aksi-Reaksi dan menanyakan sesuatu sama saya – jawaban saya sudah pasti berbeda dari jawaban yang saya berikan kepada orang lain yang sudah berada diluar wilayah itu. What i say unto Thee, is meant for Thee. Apa yang aku katakan kepadamu, hanya berlaku bagimu.
           
Pada waktu satsang, kami semua diminta sharing. Di pulau Jawa pedalaman, sebagian orang  tua seangkatan kakek kami dan sudah lebih banyak saat ini, yang mempercayai bahwa Sadapalon, Semar akan datang lagi untuk membawa kebenaran, membawa agama Budhi, agama kawruh agama pengetahuan. Bukan agama baru tetapi pengetahuan untuk menjalankan agama dengan lebih baik. Kami ingat penjelasan Prof. Fida Hassnain, bahwa pada setiap kaum terdapat kepercayaan masyarakat tentang akan datangnya Mahdi, Mesias yang ditunggu-tunggu. Selanjutnya kami sharing tentang Bodhidharma yang lama menghadap tembok untuk mempelajari dialek China. Menyampaikan lewat penterjemah sangat riskan, masalahnya bukan penguasaan bahasa, akan tetapi  tingkat kesadaran penterjemah yang mungkin berbeda sehingga tidak semua esensi dapat dapat disampaikannya dengan benar. Jauh di dalam hati kami, kami ingin pemandu yang berbahasa Indonesia, kami sulit menyerahkan keyakinan ini kepada mereka yang mengaku paham dalam agama yang bahasanya kurang kami mengerti. Bahasa agama adalah bahasa hati, dan bukan percaya membuta. Terima kasih Guruji.

            Tanggapan Guruji, Bahasa itu memang penting, beliau menyitir ucapan Baba, seorang pilot itu harus menurunkan posisi dirinya mencapai penumpang untuk mengangkatnya menuju tujuan. Beliau mengingatkan ungkapan, …… pada hari ini telah kusempurnakan agamamu, agar dapat menjadi pedoman bagimu. Mungkin kata-kata yang kami tulis kurang tepat, tetapi intinya sebelumnya, belum ada kitab yang ditulis dalam bahasa ini. Kita tidak perlu berdebat, karena persepsi stiap orang memang berbeda, tetapi pendapat Guruji itulah yang sesuai dengan diri kami.

            Mas Zembry, sharing tentang kita datang untuk merasakan, mengalami. Guruji menanggapi  memang demikianlah sebenarnya. Belajar bisa dari internet, tetapi proses pengalaman harus dialami secara pribadi. Guruji menjelaskan tentang Rozabal, tentang jalan yang bernama Isamarg, tentang perkampungan yang disebut Isabagh di Kashmir yang erat kaitannya dengan Gusti Yesus. Ma Archana membacakan tulisan Kata Pengantar oleh Prof. Fida Hassnain yang membuat kami semua berbahagia. Menurut Guruji, Prof. Fida Hassnain menulis terlampau tinggi dan bisa terjadi pemaknaan yang menyulut kontroversi di Indonesia. Ibu Pertiwi, sebagian pandangan putera-puterimu terlalu sempit, terlalu menganggap kebenaran harus sesuai konsep mereka. Tetapi kawallah Guruji dalam menyampaikan kebenaran. Om Prthvi Santi Om Svaha. Energi Kashmir memang luar biasa. Banyak tempat-tempat Ziarah Orang-Orang Suci. Mengalami energi ini penting bagi para komandan. Kami berbahagia melihat teman-teman yang muda-muda, layaklah mereka mendapatkan pasopati, senjata penakluk kebinatangan dalam diri. Energi yang penting bagi Ashram. Semoga teman-teman dapat berjuang sepenuh tenaga. Bagi kami yang sudah lebih dari setengah abad, diajak Guruji pun sudah sangat membahagiakan, biarlah kami terus menulis saja.

            Mengenai Semar, beliau menyinggung sedikit tentang Sapta Rshi. Menurut kepercayaan Hindu, masing-masing Kota mempunyai Pelindung, dan Semar adalah Pelindung di Indonesia. Dari internet dapat diperoleh informasi yang mungkin saja belum tepat. Dibawah The Highest Creative Intelegent terdapat Sapta Rshi yang pekerjaan mereka memberikan bantuan untuk Jiwa-Jiwa agar dapat kembali ke sumbernya. Mereka mempunyai pekerja 144.000 Rishi. Ketujuh Rshi ini berbeda-beda karena perolehan sumbernya berbeda dan sebagian Rishi telah diganti karena yang bersangkutan telah melanjutkan perjalanannya. Yah, mungkin ada sedikit kesamaannya dengan kepercayaan adanya malaikat.

 

Tentang Krishna Murti dan Osho

            Krishna Murti dan Osho adalah tokoh-tokoh spiritual yang handal, malang melintang dalam dunia spiritual. Nama putera Bunda Bumi ini sangat harum semerbak, pengikutnya menyebar ke seluruh planet ini, dan tulisan-tulisannya banyak digunakan sebagai rujukan. Enam atau tujuh bulan sebelum meninggalkan dunia, mereka terserang depresi. Ternyata pengetahuan, usaha keras nampaknya sulit juga mengubah dunia. Kesadaran manusia cenderung menurun. Krishna Murti meninggal karena penyakit Kanker. Osho di akhir hayatnya mengubah-ubah panggilan. Pertama agar dipanggil Rajnees saja kemudian Osho Rajnees, dan terakhir Osho saja. Mystic Rose, Laughing Meditation oleh sebagian orang dijelaskan dengan berbagai teori. Padahal setelah kita berupaya sekuat tenaga dan hasilnya belum memuaskan, sudah hopeless, maka yang kita punyai tinggal tertawa. Dan tertawa itu membuat kita tetap sehat. Mengapa depresi dapat menyerang mereka yang sudah berkesadaran tinggi, Guruji menambahkan sebagai alasan untuk meninggalkan dunia. Dalam hati kami semua terbersit kekhawatiran, Guruji sudah all-out, ratusan judul buku , ratusan artikel dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, ribuan satsang, vihar, jalan kemana-mana. Kita semua perlu all-out agar Guruji berbahagia. Semoga Bunda Bumi melancarkan pekerjaannya. Semoga Bunda Alam Semesta mengawal tugas pilihannya. Menyelesaikan Karma Bhoomi-nya. .

            Pak Marhento menanyakan penjelasan bahwa kita di dunia ini untuk menyelesaikan karma kita. Kemudia kita mendengar tentang quantum-leap yang dalam sekejap langsung meningkatkan kesadaran kita. Guruji menjelaskan, kita harus menyelesaikan karma kita. Dan penyelesaian karma di dunia ini memakan waktu l;ama. Akan tetapi penyelesaian karma di alam lain waktunya bisa saja sangat singkat. Mungkin saja mimpi pun dapat menyelesaikan karma kita dengan cepat.

            Guruji, kami ini belum tahu apa-apa. Seandainya kami berangkat sendiri ke Kashmir, kami sudah balik-kucing, melihat banyaknya militer di Airport Srinagar dengan senjata siap tembak. Kami pun tidak tahu tempat mana yang lebih penting. Tanpa penjelasan Guruji, kami buta dan mungkin saja kami terpengaruh oleh beberapa mandala yang mungkin kurang sesuai bagi perkembangan kesadaran kami. Kami pun belum tahu apa-apa, pada waktu menulis kisah yang kelima ini sudah keluar Heart to Heart Guruji tertanggal 26 Mei 2008.  Kami quote Heart to Heart dalam karakter miring.

            Gifts from Kashmir:

 

  1. I was tending my lamb… I thought tending the animal was the same like attending to the Master. Wasn’t I doing His work? Ah, I was wrong.
  2. In my arrogance, I thought I could help others. My Master reminded me, “You wretched, how can you help? ‘You’ who thinks of helping others, stands to be helped.”
  3. It was always easier for me to communicate with people outside the commune. So, I mingled more with the outsiders than the commune members. I thought they were dumb. Then, one day my Master warned me, “Then, you better be an outsider too.”
  4. I was so influenced by the world and its ways that I began to copy them indiscreetly. Before long, and before I could realize it, I became one of them: Cunning. My Master did not sympathize, “You bought the cunningness, now exhaust it first so you can come back to me.”
  5.  It took me many, many years to realize that I was always comfortable with people who would feed my ego. My Master said, “Yes, yes, a beggar is always asking for his bowl of ego to be filled with more ego.”

 

30 Mei 2008

            Kemarin sehabis tugas mengadakan acara kantor tentang Hari Air Dunia di Kota Kendal yang dihadiri Bapak Gubernur Jawa Tengah, kami segera balik ke Semarang untuk bersama-sama teman-teman mengikuti bedah buku Be Happy oleh Guruji di Jogya Expo Center yang dimulai pukul 19.00. Luar biasa, yang hadir sangat antusias. Guruji kelihatan muda dan penuh energi. Cinta memang membuat manusia lebih sehat. Pukul 21.30 kami semua limapuluhan orang dari Center Joglosemar mengikuti Satsang dengan Guruji. Kami sempat diminta sharing perjalanan ke Leh oleh Guruji kepada teman-teman semua. Pukul 23.00 baru selesai dan sepanjang jalan ke Semarang kami semua tidak tidur seakan mendapatkan limpahan energi dari Guruji. Pukul 02.15 kami baru sampai Semarang. Hitung-hitung malam ulang tahun kami yang ke lima puluh empat yang jatuh pada hari ini. Terima kasih Guruji.

 

Triwidodo.

Mei 2008.

Iklan

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Keempat)

 

Rozabal

 

Catatan Kecil Keempat

Ketinggian Kota Srinagar yang sekitar 1.730 m di atas permukaan laut membuat suasana yang sejuk dan tidak begitu panas walau di bulan Mei. Danau Dal seluas 18 km2 dan di salah satu teluknya berjajar lebih dari 500 house-boat yang berarsitektur kayu dari Abad Victoria ditambah shikara-shikara, perahu-perahu dayung khas Kashmir yang berlalu lalang sebagai alat transportasi yang menambah kecantikan alam. Di Srinagar terdapat tempat ziarah Hasrat Youza Asuph yang dipercaya sebagai makam Gusti Yesus. Dalam Bavishya Mahapurana yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi terdapat penjelasan tentang Gusti Yesus yang berada di Kashmir.

Masjid pertama di Kashmir Masjid Shah-i-Hamdan dengan arsitektur kayu yang indah terletak di samping kanan sungai Jhelum yang mengalir ke Pakistan. Masjid Jamia dengan arsitektur kayu dengan 370 pilar yang terbuat dari batang pohon pinus utuh dengan bentuk cincin segi-empat dengan taman di tengahnya. Sangat jarang masjid berbentuk demikian, ada yang komentar seperti Hindu Temple di Nepal. Di dekat Danau Dal juga ada Masjid Hasrat Bal yang menyimpan relik rambut Nabi Muhammad. Di tepi Danau Dal naik ke bukit setinggi 304 m berdiri Shankaracharya Temple yang juga terkenal dengan bukit Takht-i-Sulaiman. Peninggalan-peninggalan dari berbagai kebudayaan tersebut ramai dikunjungi Wisatawan dan para Penziarah.

 

Danau Dal

Selama 3 malam rombongan menginap di house-boat di Danau Dal. Danau seluas 18 km2 mempunyai keliling pantai sepanjang 24 km. Sebetulnya ada Danau Naggin yang lebih kecil yang terpisah dari Danau Dal dengan sebuah jalan dan jembatan. House-boat berarsitektur kayu abad Victoria ini dikumpulkan dalam sebuah teluk sehingga tidak mengganggu fungsi Danau Dal. Luas satu unit house-boats dengan klasifikasi superdeluxe sekitar 150 m yang terdiri dari 3 Kamar Tidur dengan kamar mandi di dalam kamar lengkap shower air panas, Ruang Tamu dengan tivi, Ruang Makan, Dapur dan Balkon di luar. Dari balkon pemandangan sangat indah dan kelihatan bangunan Shankaracharya temple di atas bukit.

Bangun pukul 4.00 pagi kami duduk di balkon. Merenung. Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Tidak ada tindakan seorang Murshid tanpa maksud meningkatkan kesadaran disciples-nya. Guruji mengajak rombongan untuk mengalami, merasakan perjalanan. Beliau betul-betul mengantar anak-anaknya. Tidak mungkin rombongan sampai ke Kashmir tanpa bimbingan Guruji. Kalau berangkat sendiri pun kita tidak tahu mana yang penting dan ada kemungkinan kita kan terpengaruh mandala yang mungkin tidak sesuai dengan peningkatan kesadaran kita. Dengan berbagai kesibukan yang luar biasa padatnya dan usia di atas setengah abad, beliau masih sempat menulis ratusan artikel di Harian di Bali, Jakarta Post, ratusan buku bahkan kini sebuah buku tebal berbahasa Inggris yang foreword nya ditulis oleh Prof. Fida Hassnain. Kami telah bukukan tulisan Heart to Heart dari Guruji yang beberapa diantaranya kami bacakan sebelum latihan Semedi 1 di Solo. Cuplikan yang kami tulis dengan karakter miring ini adalah tulisan Guruji bulan Juli tahun 2003 yang menyentuh hati para muridnya.

Beloved,

Hukum Aksi-Reaksi, Sebab-Akibat, berlaku selama kau masih berada dalam wilayahnya. Bila kau sudah keluar dari wilayah itu, maka dengan sendirinya hukum itu tidak mengikat dirimu lagi. Walau, hukum itu masih saja berlaku, masih saja mengikat mereka semua yang berada di dalam wilayahnya.

Sebab itu, bila seorang yang masih berada dalam wilayah Hukum Aksi-Reaksi dan menanyakan sesuatu sama saya – jawaban saya sudah pasti berbeda dari jawaban yang saya berikan kepada orang lain yang sudah berada diluar wilayah itu.

What i say unto Thee, is meant for Thee.
Apa yang aku katakan kepadamu, hanya berlaku bagimu.

Pengalamanmu bagimu, pengalaman itu tidak berguna bagi orang lain. Pengalaman orang lain bagi orang lain, tidak berguna bagimu. Sharing yang kau lakukan hanya akan membingungkan kamu sendiri. Sharing dengan siapa, untuk apa? Apa yang mereka tahu tentang pengalamanmu?
Pengalamanmu unik, kamu belum pernah mengalami sesuatu seperti itu – oleh karena itu jangan pula mencocokkannya dengan pengalaman-pengalamanmu sebelumnya.

Aku sudah mulai memberi apa yang selama ini ingin kuberikan padamu. Berarti, tugasku sudah hampir selesai. Tinggal beberapa hati lagi yang ingin kusentuh. Tinggal beberapa jiwa lagi yang ingin kusalami. Tinggal beberapa sahabat lagi yang ingin kusapa. Yang kumaksud dengan “tugas” bukanlah sesuatu yang harus kulakukan, tetapi sesuatu yang ingin kulakukan. Keinginan yang membuat badan ini bertahan selama ini.

Aku ingin mengajakmu terbang bersamaku. Terbang melampaui lapisan langit tertinggi yang pernah terbayang olehmu. Sore itu, undangan telah kusampaikan….. selanjutnya terserah kamu…… ikut atau tidak…… karena aku menghormati kebebasanmu. Bila kau memutuskan untuk menunda perjalananmu, maka keputusan itu pun akan kuterima. Kelak, kau akan bertemu lagi dengan seorang pengembara seperti anand krishna, dan kau bisa saja melanjutkan perjalananmu dengan dia.

Kepada teman-teman di Bali (saat satsang beberapa hari yang lalu) dan teman-teman di One-Earth (yang menghadiri latihan pertama Zen angkatan ini) yang berkenan untuk membuka diri dan mengundangku masuk ke dalam hati mereka – aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Kasihmu telah membasahi jiwaku, apa yang kuberikan sore itu hanyalah respons terhadap luapan kasihmu.
Aku bersembah sujud pada Ia Yang Berada dan kurasakan Kehadiran-Nya di dalam hati-MU…….

Pranaam, Shata Koti Pranaam

Thy servant – a.k.

Tidak ada kata yang perlu kami tulis sebagai tanggapan atas tulisan beliau, mata ini basah.

Teman-teman yang lain bangun dan kami melihat burung elang mengepak-ngepakkan sayap sebentar untuk kemudian sayapnya melebar tak bergerak melayang ikuti angin. Kami ingin melihat burung King Fisher yang menjadi logo Perusahaan Penerbangan New Delhi- Srinagar, tetapi burung yang konon dapat melihat ikan dari ketinggian 50 m dengan bola mata lonjong itu tidak terlihat. Hanya burung Gagak dan burung gereja yang beterbangan. Kadang diri kami bertanya, Burung dan Tanaman bertindak selaras dengan alam, manusia lah yang bertindak tidak selaras dengan alam, mengapa kita disebut makhluk yang lebih tinggi derajatnya……… Kemudian kami ingat buku Vasishta Yoga, binatang dan tumbuh-tumbuhan sangat menderita karena menganggap semua yang terjadi di alam ini nyata, sedangkan manusia bisa mencapai pemahaman bahwa dunia ini maya, ilusi. Tetapi berapa banyak manusia yang menganggap dunia ini ilusi?

Pertanyaan kami selalu dijawab Guruji lewat Buku, lewat Heart to Heart atau pun lewat Satsang Beliau. Apa lagi yang harus ditanyakan? Yang jelas kami tetap bodoh. Pada waktu semua keluargaku tidur atau di ruang kantor sendirian sambil menulis kami selalu teringat Guruji. Foto Guruji kupasang di lemari kaca dan di laci kantor. Tetapi untuk kedekatan fisik kami biasa-biasa saja. Kami takut, mungkin akan ada yang tidak senang, itu pun bagian dari karma kami. Kami berdua suami istri hanya sepasang orang tua yang sering kambuh asam uratnya yang masuk ke Ashram pun termasuk baru. Menurut pengetahuan, orang yang sudah tua sudah terbentuk mind-nya dan sulit berubah. Itu pun kami sadari. Yang jelas kehidupan keluarga kami sangat berubah, walau masih jauh dari yang diharapkan Guruji.

 

Rozabal

Pagi itu rombongan ziarah ke Rozabal, tempat ziarah Hasrat Youza Asuph yang dipercaya sebagai makam Gusti Yesus. Kami sempat membaca di internet terjemahan cuplikan Bavishya Mahapurana yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi. Seorang Raja bertanya kepada seorang suci, sebenarnya ia itu siapa. Dijawabnya bahwa ia dipanggil anak Tuhan, lahir dari rahim seorang perawan, dan juga disebut Isa-Masih. Sebagi seorang perenung, kesadaran kami selalu terlambat. Ketika sampai di houseboat malam harinya, kami baru ingat bahwa kira-kira setahun yang lalu sepulang dari acara di Jogya kami diajak mampir ke Goa Maria Kerep di Ambarawa. Begitu melihat patung Gusti Yesus disalib air mata langsung bercucuran dan hari ini kami dibawa Guruji dengan teman-teman ke makamnya. Gusti, terima kasih.

 

Masjid Ternama di Kashmir

Dari Rozabal, rombongan ziarah ke Masjid Jamia, masjid dengan arsitektur kayu dengan 370 pilar yang terbuat dari batang pohon pinus utuh dengan bentuk bangunan cincin segi-empat dengan taman di tengahnya. Sangat jarang masjid berbentuk demikian, ada yang komentar seperti Hindu Temple di Nepal. Sebuah ide yang berani pada zaman dahulu membangun mesjid yang dari luar hanya kelihatan masjid dari bentuk gerbangnya saja. Masjid Jamia dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1400 Masehi. Dari taman luas di tengah masjid kelihatan benteng peninggalan Kerajaan Srinagar megah di atas bukit. Dari Masjid Jamia, rombongan pergi ke Benteng hanya kami tunggu di mobil, jaga kondisi.

Selanjutnya, rombongan melihat masjid pertama di Kashmir Masjid Shah-i-Hamdan dengan arsitektur kayu yang indah terletak di samping kanan sungai Jhelum yang mengalir ke Pakistan. Dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1395 yang didedikasikan kepada Mir Sayyid Ali Hamdani, orang suci dari Hamdani, Persia. Mesjid terbakar pada tahun 1480 dan 1731 dan direkontruksi oleh Sultan Hasan Shah setelah kebakaran yang kedua. Rombongan berjalan ke belakang masjid dan beristirahat di bawah pohon chinar yang daunnya mirip Mapple leaf yang kebetulan tersedia tempat duduk yang terbuat dari beton. Rombongan melihat ada batu bata dengan simbol segi enam bintang Daud, seal dari nabi Sulaiman. Seorang anak kecil bersedia difoto bersama Guruji dan Ibu Rani, dan teman-teman seperti anak kecil tadi, minta difoto bersama Guruji. Tempat duduk tersebut berada di tepi sungai Jhelum. Dan kelihatan ada bangunan di bawah yang zaman dahulu mungkin dipakai sebagai tempat berwudhu.

Dari Masjid Shah-i-Hamdan rombongan menuju Masjid Hasrat Bal yang menyimpan relik rambut Nabi Muhammad. Kami sempat melihat ruangan di kiri mimbar yang tertutup jeruji besi. Relik Nabi hanya dikeluarkan setahun sekali pada salah satu acara keagamaan. Di masjid tersebut juga ada gambar silsilah dari keturunan nabi dan bekas kitab Al Qur’an dalam tulisan besar dalam lembaran sebesar koran yang nampak terbakar pada zaman dahulu. Di dalam masjid ada batas perempuan boleh masuk dan kami melihat dua ibu-ibu menangis sambil bersujud di depan pintu pembatas. Di halaman masjid ratusan burung dara berkumpul dan banyak wisatawan yang berfoto bersama mereka.

Di tepi Danau Dal naik ke bukit setinggi 304 m berdiri Shankaracharya Temple yang juga terkenal dengan bukit Takht-i-Sulaiman. Peninggalan-peninggalan dari berbagai kebudayaan tersebut ramai dikunjungi Wisatawan dan para Penziarah. Tiba dijalan masuk penumpang harus keluar mobil dan setelah diperiksa baru boleh naik mobil lagi. Sampai di tempat parkir, banyak sekali polisi dan militer berjaga-jaga. Memotret dilarang dan camera dikumpulkan dijaga kami dan beberapa teman yang tidak naik tangga. Bagaimana naik tangga kalau asam urat sedang kambuh.

Dari Shankaracharya temple perjalanan di lanjutkan ke Nishat Bagh. Taman yang indah, dengan air mancur yang keluar dengan tenaga alam. Taman itu diperuntukkan untuk permaisuri dan para putri raja. Beberapa teman berfoto dengan memakai baju tradisional Kashmir. Hari itu perjalanan selesai dan dilanjutkan pulang ke house-boat.

 

Triwidodo

Mei 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Ketiga)

Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia

 

Catatan Kecil Ketiga

            Kita perlu belajar dari pandangan masyarakat Kashmir yang tidak mempermasalahkan kepercayaan yang dianut masing-masing orang. Pendapat pengurus house-boat, pedagang asongan, pengemudi pun hampir sama. Menurut  penganut Sufi Prof. Fida Hassnain semboyan mereka adalah One God, One Planet, One People. Memang tidak begitu mudah mengaplikasikannya di Indonesia. Guruji Anand Krishna menemukan semboyan yang cantik dan dapat diterima masyarakat Indonesia saat ini, One Earth, One Sky, One Humand Kind. Menurut pemahaman kami tentang Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya. Memang visi mereka Satu Tuhan, Satu Planet, Satu Masyarakat, tetapi tentu mereka telah mengalami banyak  kejadian yang mendahului sehingga menelorkan pandangan tersebut. Kemungkinan ada pengaruh dari Jalan Sutera yang membentang dari China ke Laut Tengah dan Timur Tengah dan cabangnya ke Leh dan Kashmir, sehingga terjadi sintesa peradaban Timur dan Barat. Masyarakat Kashmir yang adaptif dapat menampungnya dan merumuskan visinya. Bagaimanapun Pemerintahan India tetap waspada dan sepanjang jalan perbatasan tetap dijaga ketat. Visi yang universal pun perlu dijaga dengan sistem pertahanan yang selalu siap siaga. Walaupun masyarakat Kashmir sebagian besar jenuh dengan kekerasan, tetapi sebagian tetap ingin merdeka bebas dari India dan Pakistan. Terima kasih Guruji.

 

Memenuhi Lebih Dahulu Kebutuhan Chakra Pertama

            Dalam perjalanan penerbangan dari Jakarta ke Bangkok dan India, kami sempat merenung. Kami sering mendengarkan teman-teman yang curhat mengenai perjalanan naik pesawat. Salah satu teman kami di kantor mempunyai trauma takut naik pesawat, begitu masuk pesawat kakinya terasa berat dan badan lemas. Kalau tidak karena tugas kantor dia lebih baik naik KA. Duapuluh tahun silam dia mendapat tugas ke Jepang, diatas laut China Selatan pesawatnya turun secara mendadak, dan masker oksigen jatuh bergelantungan, walau akhirnya pesawat akhirnya bisa naik kembali, trauma yang terjadi tak terhapus. Kejadian kedua yang menimpanya dalam perjalanan Jakarta ke Semarang dengan pesawat yang memakai propeller, di atas Cirebon cuaca buruk dan kopi yang diatas meja bisa jatuh ke hidung. Pramugari yang duduk disebelahnya diam dan pucat. Teman sekantor satunya pernah bertugas di Palu, Sulawesi dengan kejadian yang hampir sama, dan begitu pindah ke Jawa selama 15 tahun tidak mau naik pesawat. Mereka minta saran dan kami sarankan ikut Voice Culturing Semedi 1 untuk menghilangkan trauma. Hanya sekedar naik pesawat, kadang-kadang seseorang harus menderita lama tanpa Pembimbing Spiritual. Takut mati itulah masalahnya. Terima kasih Guruji.

            Begitu take off lancar, mulailah pramugari menawarkan minuman pembuka dan snack  yang dilanjutkan meals utama yang selalu ada pilihannya. Orang senang kalau disuruh memilih, dibandingkan dengan diberi makan lezat tetapi no other choice. Kita merasa dihargai dengan diminta memilih. Agar senang, kebutuhan chakra pertama perlu dipenuhi dulu. Setelah itu tidur yang nyaman dan bacaan atau tontonan yang indah. Untuk memajukan pariwisata, kita perlu memahami kebutuhan lapisan kesadaran fisik, lapisan kesadaran energi, lapisan kesadaran mental emosional dan seterusnya sampai lapisan kesadaran intelegensia dan lapisan Kesadaran Murni. Perlu perhatian urusan perut ke bawah, urusan rongga dada, urusan visi sampai urusan Chakra Mahkota.

            Bagaimana pun kelemahan Pak Harto, beliau memahami kebutuhan dasar manusia. Urusan perut adalah urusan pertama, bahan pokok harus terbeli oleh masyarakat, bukankah harimau yang ganas pun di pertunjukan sirkus tunduk karena urusan chakra pertama. Kebutuhan kedua adalah lapangan pekerjaan. Seseorang yang bangun pagi jam 5 dan pulang kantor jam 5 sore dengan penghasilan yang dapat menghidupi keluarganya, tidak sempat berpikir macam-macam. Seorang yang punya banyak waktu, sedikit penghasilan dan berjam-jam di depan tivi komersial pikirannya menjadi macam-macam. Repetisi iklan ibarat mantra ampuh yang mempengaruhi mind kita. Dan mind kita tidak polos dan sederhana lagi.

 

Waktu yang kondusif

            Dari New Delhi ke hotel jalanan macet, dimanapun juga di kota besar jalanan selalu macet. Itulah sebabnya seniman misalnya pelukis suka tinggal di desa di pegunungan, kalau pun di kota mereka suka bekerja di malam hari yang tenang, keadaan siang dan sibuk kurang kondusif. Retret mulai Jum’at sampai Minggu jauh lebih efektif daripada acara setiap hari dengan jam pendek. Masalah kemacetan transportasi dan pengaruh keramaian pekerjaan berpengaruh. Kalau sudah dapat tenang di keramaian, kalau sudah dapat menikmati perjalanan di kemacetan, kita akan lebih damai. Sebelum itu terjadi bangun pagi lebih awal untuk bermeditasi akan cukup bermanfaat.

            Keesokan harinya adalah perjalanan dari New Delhi menuju Srinagar. Seperti yang terjadi di Indonesia, pesawat domestik pun sering di-delay. Kali ini lebih dari satu jam. Kompetisi diperlukan, no other choice atau tanpa saingan mudah menurunkan kualitas pelayanan. Tetapi mengapa berpikir negatif? Anggap saja cuaca kurang baik sehingga lebih aman dengan sabar sedikit. Hanya dengan merubah persepsi maka keceriaan wajah akan berbeda. Latihan keempat Semedi 1 membudayakan visi dan memberdayakan kasih punya pengaruh yang besar. Menentukan persepsi yang baik adalah hak pribadi kita.

            Turun di Airport Srinagar tidak ada belalai yang menghubungkan pesawat dengan terminal. Kebiasaan yang nyaman membuat kita manja. Cukup jauh juga berjalan dari pesawat ke terminal dan cukup jauh juga berjalan dengan kereta dorong bagasi dari terminal menuju tempat parkir. Kita sering lupa memikirkan Pak Tani di desa tepi gunung yang harus berjalan kaki 2 km untuk mencapai jalan besar dan menunggu bis yang lewat. Semua kebiasaan yang telah menjadi bagian dari bawah sadar perlu di cleansing setiap hari sehingga kita tidak perlu membanding-bandingkan lagi dengan referensi kebiasaan di otak dan muncullah kepolosan seorang anak kecil yang selalu antusias melihat hal yang baru. Ada rasa tidak nyaman untuk keluar dari comfort zone. Lima buah kendaraan yang disiapkan di tempat parkir, semuanya 4-wheel drive sehingga terbersit di benak,  bahwa medan yang ditempuh akan cukup berat.

            Di dalam terminal banyak pasukan militer dan polisi berjaga-jaga. Keadaan seperti ini akan kita temui sepanjang jalan perbatasan. State Jammu & Kashmir di sebelah timur berbatasan dengan Pakistan, di sebelah utara dengan China dan Afghanistan dan di sebelah timur dengan Tibet. Walaupun demikian pandangan mata mereka sama sekali tidak memperlihatkan kecurigaan kepada rombongan, dan bagasi dan jinjingan keluar dengan lancar-lancar saja. Masyarakat Kashmir pada  khususnya dan India pada umumnya percaya semboyan One God, One Planet, One People. Tetapi Pemerintah India waspada pengaruh luar dengan menjaga perbatasan negaranya. Di Indonesia kita punya semboyan yang tertulis dibawah lambang Burung Garuda Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, tetapi Pemerintah kurang menjaganya. Para Founding Fathers akan menangis melihat Semboyan Pemersatu yang diperoleh dari  penelusuran banyak pustaka Nusantara sekarang diabaikan begitu saja.

 

Pandangan seorang sufi Frofessor Fida Hassnain

            Setelah setengah jam perjalanan dari Airport Srinagar sampailah rombongan ke rumah Professor Fida Hassnain. Beliau keluar dan menyambut rombongan dengan ramah. Setelah basa basi dengan Guruji Anand Krishna, beliau diminta menyampaikan apa saja yang berharga untuk rombongan. Tulisan dengan karakter miring tersebut adalah beberapa ucapan beliau yang dapat  kami ingat dan kami terjemahkan langsung dalam bahasa Indonesia.

         Agar kita bisa hidup bahagia, kita harus berpandangan, yang lama telah mati, yang akan datang belum lahir, bahagia adalah saat ini. Kalau bisa setiap hari dianggap ulang tahun. Kalaupun kita mati hari ini, kita pun  perlu tertawa.

Dalam satu tahun, hampir seluruh sel, sekitar 98%  terbaharui. Jadi sampai dengan usia saat ini sudah beberapa trilyun sel yang sudah lahir dan mati dalam tubuh kita. Bagi seluruh sel dalam tubuh kita, mati adalah hal biasa, agar yang baru, yang lebih segar dapat mengganti. Mereka mempunyai kecerdasan, calon sel mata tetap jadi sel mata, tidak jadi sel tangan. Mereka paham tentang ”blueprint” bagi kehidupan mereka. Mereka bekerja dengan tulus. Mereka tidak mementingkan diri, mereka mempunyai tujuan yang lebih tinggi dan mereka tidak takut mati. Setiap saat mereka menjalankan dharma memelihara tubuh kita. Kita punya pikiran dan kekhawatiran yang ditimbulkan dari pikiran itulah membuat tidak bahagia.

         One God, One Planet, One People. Kita mendapatkan pesan dari Tuhan yang sama. Pesan atau kitab bisa berbeda-beda.

Tidak masuk akal Tuhan masing-masing kepercayaan berbeda. Dia penguasa alam, kalau Tuhan tidak satu terus matahari patuh kepada Tuhan yang mana. Ada yang menyangkal, yang disembah mereka adalah Setan. Terus kalau Setan juga berkuasa apakah tidak menyaingi Tuhan? Bumi ini tunduk kepada Tuhan atau Setan. Setan hanya berada di manusia, di pikiran manusia, di nafsu dan hasrat manusia. Dengan mengendalikan nafsu, dengan mengendalikan pikiran kita lepas dari setan. Setan yang membuat was-was, bukankah rasa was-was itu berasal dari pikiran, pikiran bawah sadar. Ketika pikiran berinteraksi dengan tubuh timbullah emosi. Rasa takut pun berasal dari pikiran. Bagi kaum Sufi kadang Allah pun disebut dengan nama Kekasih, jadi dengan sebutan apa pun Dia tetap Tuhan. Tuhan yang sama. Tuhan yang satu.

         Dalam setiap kaum hampir selalu ada kepercayaan tentang Mesias atau Masiha yang akan datang. Sekelompok Muslim mempercayai Isa al Masiha akan turun lagi di akhir zaman. Sekelompok kaum Hindu mempercayai datangnya avatar yang akan datang bernama Kalkhi. Sekelompok Kaum Buddhist percaya akan datangnya Buddha Maitreya.

Sebagian orang Jawa percaya Semar atau Sabdapalon akan datang lagi membawa ilmu pengetahuan ke Nusantara. Sebagian masyarakat percaya akan datangnya Ratu Adil. Mengapa pasif menunggu. Seperti pengemis yang tidak mensyukuri karunia Tuhan dan hanya menunggu uluran tangan orang lain? Sekarang perlu bertindak dengan penuh kesadaran. Kalau sudah banyak orang bertindak dengan penuh kesadaran Semar pun akan datang, Ratu Adil pun akan tiba.

         Tuhan tidak akan menyusahkan kekasihnya. Tuhan akan selalu memberikan makanan dan tempat tinggal. Makanan, pakaian yang bersih untuk raga, badan. Pikiran yang bersih untuk jiwa.

Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita, bukan keinginan atau keserakahan kita. Pada waktu serakah kita lupa Tuhan. Ego mengembang. Makanan akan menjadi organ tubuh, jantung dan otak kita. Vibrasi pakaian akan mempengaruhi diri kita. Kita tidak nyaman setelah mandi dan  memakai pakaian yang ada bekas keringatnya. Pikiran yang datang pun dapat kita pilih bahkan dapat kita saksikan dan thoughts pun menghilang dengan sendirinya. Setiap hari ada lebih kurang 60.000 thought. Kalau perasaan kita tidak nyaman berarti thoughts yang kita pilih tidak benar.

         Pemahaman tentang chakra dan kudalini di sufi pun ada hanya dimulai dari bawah pusar.

Dalam buku Sufi Practices tulisan Prof. Fida Hassnain, beliau menjelaskan Chakra dibawah pusar disebut Nafsi Latifa yang mengendalikan tenaga seks. Diatasnya disebut Rohi Latifa yang mengendalikan system asimilasi pencernaan, di dada disebut Qalbi Latifa tempat kedudukan pikiran dan emosi. Di leher disebut Siri Latifa mengendalikan pernapasan. Kemudian Ajna Chakra disebut Khafi Latifa berhubungan dengan organ perasa dan sahasra Chakra disebut Akhfa Latifa berhubungan dengan mother of the brain.  Menurut beliau warna juga mempunyai makna berbeda bagi orang berbeda.  Tujuan hidup manusia untuk mencapai persatuan dengan Creator.

         Cobalah menarik napas dengan menyebut dalam hati Allah dan keluarkan napas dengan Hu. Seperti menarik napas dengan So dan membuang napas dengan Ham. Coba menarik napas Allah dan tahan sebentar rasakan meresap ke seluruh badan kemudian keluarkan Hu dengan pelan-pelan.Badan akan sehat.

Ya Hu, dalam bahas Inggris O He, dalam bahasa Indonesia Oh Dia. Bagi manusia zat hidup berada di udara, tanpa udara kita pun tinggal menjadi jasad. Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup (10 pangkat 22) atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom (10 pangkat 22) yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom milikku adalah atom milikmu. Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi. Hakekatnya kita semua adalah satu. Tauhid.

         Orang Kashmir itu terbuka dan menampung kebaikan yang datang dan tidak menjelekkan yang lama. Waktu ajaran Buddha datang OK, kemudian ajaran Islam datang OK pula.

Kebudayaan Indonesia pun dapat menampung semua ajaran, demi politik kekuasaanlah beberapa oknum menjelekkan kepercayaan nenek moyang kita. Di India semua peninggalan kebudayaan zaman Hindu, Buddha dan Muslim dipelihara oleh Pemerintah. Mengambil foto dengan blitz pun dilarang, demi kelestarian peninggalan kebudayaan.

         Beliau akan memberikan Foreword bagi buku Guruji Jesus of Kashmir dan akan diserahkan lewat pemandu sebelum rombongan meninggalkan Srinagar.

 

Triwidodo, Mei 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kedua)

Satu Pilihan Ditetapkan dan Berputarlah Kehidupan

Catatan Kecil Kedua
Banyak orang yang melupakan pengalaman batin yang dialami ketika sedang melakukan suatu tindakan. Menurut mereka hanya pribadi melankolis yang akan mengingatnya, apalagi keinginannya sudah tercapai, untuk apa mengingat-ingat yang telah lalu. Menurut pemahaman kami tentang Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya. Memang akhirnya kami ikut berangkat dengan rombongan ke Kashmir dan Leh India. Tetapi pengalaman dalam memenuhi persyaratan keberangkatan setiap anggota rombongan berbeda-beda. Kami mencoba mengungkapkan perasaan yang kami alami dalam memenuhi persyaratan keberangkatan. Pernik-pernik pengalaman tersebut sangat berharga bagi diri kami pribadi. Terima kasih Guruji.</p>

Latar Belakang Kehidupan Keluarga
Satu bulan sebelum keberangkatan, kami ditelepon Ma Upasana dari Ashram, apakah kami dengan isteri mau mengikuti rombongan perjalanan dipimpin Guruji ke Leh. Dengan penuh kebahagiaan kami menjawab siap. Seingat kami hari itu adalah hari Kamis siang. Kemudian kami ditanya kapan dapat mengantar persyaratan ke Jakarta yang kami jawab diusahakan minggu depannya.
Sebagai latar belakang dapat kami sampaikan bahwa keluarga kami hidup sederhana. Semuanya dikerjakan sendiri tanpa pembantu, anak-anak dididik mandiri. Kami membesarkan semangat anak-anak, bahwa anak burung rajawali tidak selalu dihangatkan dibawah lindungan sayap induknya. Ketika masanya tiba, sang anak rajawali bahkan didorong jatuh ke jurang agar dapat mengepak-ngepakkan sayapnya terbang sendiri. Karena semua dikerjakan sendiri, sehari-hari kami cukup sibuk dan tidak berpikir melantur kemana-mana. Jarang sekali kami tidur di atas jam 10 malam. Akan tetapi kalau sudah dirasa cukup tidur maka jam berapa pun bangun dan bekerja. Pada jam 5 pagi semua anggota keluarga sudah bangun. Televisi pun jarang melihat, hanya anak kami terkecil dan Miminya pada malam hari melihatnya. Kalau surat kabar kami semua membacanya terutama heading yang menarik. Kami berlangganan 3 koran, satu berita kedaerahan dan dua buah lainnya didapat dari kantor.
Selanjutnya, kami tidak takut dikatakan kuper, kurang pergaulan. Kami berdua juga kuper tetapi dengan kuper tersebut kami kurang terjerat perangkap duniawi. Biarlah manusia menganggap kuper, yang penting kita sadar setiap saat dan tidak melakukan perbuatan yang tidak tepat. Masalah jodoh bukan masalah kuper, kita yakin kita akan mendapatkan yang sesuai dengan jiwa kita. Anak-anak sejak kecil terbiasa di rumah asyik dengan kesibukannya sendiri. Sosialisasi hanya ke sekolah dan belajar bersama teman. Sejak kecil mereka sering ditinggal pergi. Ketika istri mengikuti kami pendidikan di Canada anak sulung kami yang berusia 6 bulan harus dititipkan neneknya. Karena kami sering berpindah tugas, anak pertama sejak SMP sudah ikut kakek-neneknya di Solo. Setelah 17 tahun berpindah-pindah tugas di luar Jawa akhirnya kami ditugaskan di Pandeglang Banten dan kami hidup di pulau Jawa kembali. Ketika kami berdua berziarah ke Tanah Suci, anak kami yang bungsu baru berumur 3 tahun dan ditinggal di rumah bersama kakak-kakaknya dan pengemudi kami yang juga merupakan tetangga ikut mengawasinya.
Pada saat ini yang sulung sedang menyelesaikan pendidikannya di Bandung, dan ketika SMA pernah ikut pertukaran pelajar selama setahun di Jepang. Yang kedua masih kuliah di Semarang dan yang ketiga masih SMP di Semarang juga. Setiap Saptu pagi kami berdua pergi ke Solo untuk latihan meditasi Saptu malamnya. Minggu siang ke Jogya Latihan di Anand Krishna Center Joglosemar dan baru Minggu malam sampai Semarang lagi. Anak kami berdua sudah terbiasa ditinggal dan mempunyai kesibukan masing-masing. Untuk keperluan retret ke Ciawi atau ke Bali mereka sudah terbiasa ditinggal, dan kadang-kadang diajak ikut bersama. Kami jelaskan bahwa papa-miminya sedang mengikuti pendidikan kesadaran dan memerlukan disiplin waktu seperti untuk pendidikan sekolah mereka. Untuk keberangkatan ke Leh selama 12 hari kami yakin bagi anak-anak kami tidak ada masalah yang besar.
Mengenai perekonomian keluarga, sejak dua puluh tahunan lalu kami hidup sederhana, dan rejeki lebih diujudkan dalam bentuk tanah dan rumah. Saat ini harganya sudah berkali lipat dan dapat menunjang pendapatan rutin dari pekerjaan untuk pendidikan anak-anak dan pendidikan ruhani kami. Kami berdua mempunyai pandangan bahwa segala sesuatu itu tadinya tidak ada, kemudian ada dan wajar pula untuk kemudian tidak ada lagi. Bukankah kehidupan kita di dunia tadinya juga tidak ada, terus ada dan akan menjadi tidak ada lagi? Kami tadinya tidak punya rumah, kemudian punya beberapa dan untuk keperluan kehidupan wajar pula untuk menjual beberapa darinya. Penjelasan tentang kehidupan menjadi terbuka begitu bertemu dan mengikuti Guruji. Bukankah segala sesuatu yang datang kepada kita adalah akibat perbuatan-perbuatan kita di kehidupan-kehidupan sebelumnya? Kita harus bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. Begitu paham kita mulai hidup dengan penuh kesadaran.

Melampaui Logika
Kembali ke masalah keberangkatan ke Leh. Dua minggu sebelum tawaran Ma Upasana, ada salah satu rumah kami yang akan dibeli oleh pemiliknya yang lama. Putra-putri pemilik lama sudah sukses dan mendukung ibunya untuk membeli kembali rumah lama mereka yang telah dijual 15 tahunan yang lalu. Sang Ibu mohon rumah tersebut jangan dijual ke orang lain, dan beliau akan menyerahkan titipan uang yang nilainya akan cukup untuk keperluan keberangkatan ke Leh. Waktu itu kami memang tidak tahu akan diundang ikut rombongan ke Leh. Karena menggunakan otak, pikiran, pada saat itu kami berjanji tidak akan menjual kepada orang lain, tetapi kami tidak berani menerima titipannya, karena belum jelas kapan mereka akan melengkapinya. Kami takut ada kejadian yang tak terduga yang membuat titipan uang tersebut menjadi bermasalah.
Hari Jumat sore, setelah Kamis ditelpon Ma Upasana, kami ke Solo, dan menanyakan rencana titipan uang untuk pembelian rumahnya. Luar biasa, ternyata uang yang akan dititipkannya sedang dipakai anaknya sebagai pemain bulutangkis nasional ke luar negeri. Kita memang tidak tahu apa yang terbaik bagi kita. Banyak hal terjadi diluar logika manusia. Kami ingat kisah nabi Musa dalam mengikuti perjalanan nabi Khidir yang katanya sering muncul di daerah Sind. Musa tidak dapat mengerti mengapa perahu bagus nelayan dilobangi oleh Khidir. Musa juga tidak habis pikir ketika Khidir membunuh seorang anak. Ketika Khidir merusak rumah yang ditinggali anak yatim, Musa tidak sanggup menahan janjinya untuk tidak bertanya mengapa hal-hal tersebut dilakukan oleh Khidir. Guru lebih tahu dari kita, banyak hal-hal yang seakan-akan melanggar dharma dan tidak dapat kita pahami sesuai logika. Khidir melampaui logika, perahu dilobangi karena perahu yang utuh akan diambil paksa penguasa untuk berperang. Anak yang dibunuh karena kalau hidup akan menjadi anak durhaka yang membunuh kedua orang tua mereka dan merugikan masyarakat. Rumah anak yatim sengaja dirobohkan agar ketika dewasa mereka dapat menemukan harta karun peninggalan orang tua mereka yang masih aman direruntuhan bangunan. Duh Gusti, pengetahuan kami terlalu sedikit, kami pasrah kepada-Mu. Guru, kami mohon petunjukmu.
Pada waktu resesi memang cukup sulit menjual rumah dengan harga wajar. Mereka yang punya duit justru dapat membeli dengan harga yang rendah. Sebulan sebelumnya memang ada yang iseng menawar rumah dengan harga yang rendah. Apabila kami tahu kami akan butuh uang, hal tersebut akan kami tindak lanjuti dengan negosiasi.
Pada hari Saptu datang telpon dari Ma Upasana agar Selasa dapat ke Jakarta. Berarti kami tinggal punya waktu satu hari Senin, pahal Senin pagi ada acara rapat kantor yang harus dihadiri. Minggu itu kami izin tidak latihan di Jogya dan kembali ke Semarang menyiapkan jurus jitu untuk menyelesaikan masalah. Minggu malam kami mengantarkan anak perempuan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Pada waktu itu kami sempat mengambil foto dan memfotocopy berkas-berkas arsip yang diperlukan. Passport masih lebih dari 6 bulan masa berlakunya, maka selamatlah. Senin siang kami bersama istri pergi ke toko perhiasan dan mengambil sisa tabungan yang ada terus ke Bank dan menukarkannya dengan uang US $. Untuk sementara masalah terselesaikan. Kami juga telah membeli tiket Kereta Api yang berangkat keesokan hari pukul 5 pagi sehingga jam 11 sudah sampai Jakarta dan jam sebelum jam 14 siang sudah bisa ketemu Ma Upasana. Masalah ijin cuti, bukan masalah sulit karena hubungan yang baik dengan pimpinan dan kolega se kantor.

Satu Pilihan Yang Membuat Beberapa Pihak Mendapatkan Jatah-Nya
Di atas Kereta Api Argo Sindoro, kami merenung, hanya satu pilihan untuk mengikuti Guruji ke Leh dan perekonomian berputar. Tempat Fotocopy, Tukang Foto, Toko Perhiasan, Bank, SPBU, pengemudi kantor yang mengantar ke Stasiun KA, perusahaan Kereta Api, warung makan di Gambir, sopir Taksi, Cafe Makanan di d’Best Fatmawati bahkan operator seluler, semua mendapatkan jatah-Nya. Kami mempunyai rencana setelah selesai urusan dengan Ma Upasana kami akan naik KA ke Bandung menengok anak dan malamnya bisa pulang naik KA ke Semarang. Untuk mengefisienkan waktu kami merencanakan bertemu anak di Stasiun KA Bandung.
Sampai di Gambir pukul 11.00 makan Ketoprak dan langsung menuju Layurveda. Pukul 13.00 ada sms dari Ma Upasana, agar makan siang dulu beliau masih mengikuti Guruji acara di IAIN, kalau sudah lengkap berkas bisa ditinggal di Layurveda. Beliau mengingatkan isian formulir sangat penting dan kalau ada yang salah, urusan visa semua rombongan bisa ter-cancel. Atas berkah Guruji, kami teringat tujuan utama ke Jakarta dan urusan menengok anak ke Bandung kami batalkan. Banyak hal-hal yang berada diluar kendali kita. Tetap tenang dan ambil napas dalam-dalam akan sangat membantu. Semua yang datang adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, yang penting dalam keadaan genting tetap bertindak dengan penuh kesadaran. Segala sesuatu memang harus tetap terjadi, tetapi cara kita me-respond yang membuat perbedaan.

Penyelesaian Karma?
Sekitar jam 15.00 Ma Upasana datang dan memang betul banyak isian formulir visa yang harus diperbaiki. Masalah belum selesai, referensi Bank istri dalam US $ tetapi dalam fotocopynya tidak terbaca US $ nya. Jumlahnya pun hanya sedikit. Dengan berbagai kontak dengan istri, kami berjanji besok pagi Referensi Bank atas nama istri dengan jumlah yang cukup besar dalam rupiah akan kami fax dari Semarang. Waktu sudah menunjukkan pk 15.45, kami buru-buru pamit ke Gambir uantuk mengejar KA jam 16.45. sampai Gambir kami antri di loket, ada petugas menawarkan tiket yang tidak jadi dipakai karena saudaranya batal berangkat, maka keluarlah kami dari antrian, tetapi setelah dichek tiket tersebut bertujuan ke Pekalongan, maka kami tidak jadi membantunya dan kembali masuk antrian. Sementara semuanya OK dan kami naik KA dan mulai kontak dengan istri di Semarang.
Ternyata dua buah Buku Bank istri ditinggal di Solo karena akan ada seseorang yang akan mengontrak rumah di Solo. Mulailah kontak dengan kakak di Solo agar puteranya dapat mengantar buku bank malam itu ke Semarang. Kebetulan puteranya ada ujian keesokan harinya, sehingga kami minta tolong Mas Slamet peserta meditasi sekaligus yang membersihkan Center untuk ke Semarang. Demi keamanan, kami mohon jangan naik sepeda motor malam-malam ke Semarang pulang-pergi. Kami waspada, permainan Gusti masih seru. Pukul 20.00 kami dilapori istri bahwa Mas Slamet naik sepeda motor dengan istri dan anaknya dan sudah sampai di Semarang.
Di perjalanan kami sempat telpon mBak Dewi dari Layurveda, mohon maaf karena terburu-buru sehingga lupa membayar Teh Chai, kami berjanji segera akan menyelesaikannya. Pukul 23.30 kami sampai rumah di Semarang. Luar biasa, permainan Gusti cukup seru. Keesokan harinya, kami mentransfer uang dari Rekening kami ke rekening istri, kemudian memfotocopy dan memfax ke Layurveda. Kebetulan Fax Layurveda kehabisan kertas dan baru bisa dikirim pukul 10.00. Masalah belum juga usai, siangnya kami masih harus menarik uang dari rekening istri lewat ATM karena ada keperluan kantor yang harus ditalangi lebih dahulu. Di kemudian hari kami baru sadar, setelah bertemu seorang Guru penyelesaian karmanya dapat dipercepat. Di dunia ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun tetapi di alam yang lain misalnya di alam mimpi waktu bisa sangat cepat. Ketakutan dalam mimpi pun bisa merupakan penyelesaian karma. Waktu itu relatif. Yah, anggap saja semua permainan seru ini dalam rangka penyelesaian karma. Terima kasi Guruji. Terima kasih Gusti.

Teman Hidup
Tidak semua masalah berupa keuangan, secara kebetulan ada orang yang mengontrak rumah sehingga cukup untuk bekal dalam perjalanan. Di dunia ini uang termasuk energi yang nyata, tanpa uang bagi kebanyakan orang energinya menjadi merosot. Kami berterima kasih kepada Gusti diberi teman pendamping yang sederhana dan spiritual. Walau bagaimana pun uang tetap penting, kebiasaan wanita kalau mau pergi perlu membeli persiapan macam-macam, demikian juga pada waktu pulang perlu membeli oleh-oleh macam-macam. Bukankah kita disarankan menerima pasangan apa adanya. Semuanya sudah ada karmanya. Dan karma merupakan hasil tindakan dan obsesi diri kita sendiri. Di Jawa dikenal sebagai Kanca Urip, Teman Hidup, masing-masing pasangan mempunyai jalan spiritual sendiri-sendiri tetapi mempunyai tugas bersama membina keluarga. Dari segi Tantra perempuan harus mempunyai tingkat spiritual yang lebih tinggi. Bergaul dengan orang-orang berkesadaran lebih rendah saja dapat menurunkan tingkat kesadaran. Apalagi berhubungan suami istri dengan istri yang masih kental duniawinya. Itulah sebabnya Buddha harus meninggalkan keluarganya. Pada suatu saat istrinya juga akan meningkat kesadarannya.
Permainan belum selesai, sepuluh hari menjelang keberangkatan kami diberitahu Ma Upasana semua formulir visa dikembalikan dan harus dilampiri fotocopy Kartu Keluarga dan isian baru, waktu itu hari Jum’at dan diminta Minggu kiriman sudah sampai Jakarta. Kami fotocopy Kartu Keluarga dan dikirim via Tiki dan Pos Express. Saptu siang kami chek ke Layurveda, dan ternyata titipan sudah sampai, kalau belum sampai, Minggu pagi kami harus berangkat ke Jakarta memakai Kereta Api. Kami ingat tulisan Guruji, hidup perlu harapan tetapi jangan berharap, dan tenanglah kami, semua kami pasrahkan kepada Gusti. Sudah 34 buku Guruji yang kami quote kalimat-kalimat yang kami anggap dapat meningkatkan kesadaran kami. Setiap buku ada 6 atau 7 lembar quotation. Kami baca kalimat per kalimat dan kami tulis kalimat per kalimat. Ini cara kami mensinkronkan diri kami dengan Guruji, dan kami mulai karena setiap Saptu sebelum Latihan Semedi 1 di Solo diadakan Study Circle membahas buku Guruji. Mungkin kalau sudah tiba waktunya akan ada cara lain yang lebih tepat untuk mensikronkan diri. Tulisan sudah menurunkan kualitas pemikiran, karena tidak sempurnanya bahasa sebagai pengungkap pemikiran. Penglihatan tentang satu gunung, kalau ditulis tidak akan selesai dalam satu lembar tulisan. Kata yang sama pun mungkin mempunyai pengaruh berbeda terhadap lain orang. Sudahlah Gusti.

Asam Urat Yang Kambuh
Beberapa hari menjelang keberangkatan, kami mendapatkan tugas ke beberapa kota. Pertama kali tentu menyelesaikan pembayaran teh chai ke Layurveda jakarta dan menengok anak di Bandung. Dua hari berikutnya Seminar di Jogya. Pada waktu itu ada teman yang memberikan resep untuk penyakit asam urat yang diperoleh dari bekatul beras organik. Hanya kirimannya baru sampai satu hari menjelang keberangkatan jadi ya sebagian dibawa dalam perjalanan. Tiga hari menjelang keberangkatan, kami mendapat tugas beserta seluruh pimpinan kantor ke Surabaya. Acara yang cukup penting ini berakhir malam hari kedua, sehingga kami dan teman-teman harus naik mobil ke Semarang yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ya pada waktu berangkat ke Jakarta sebenarnya kaki kanan kami sendang ngilu kambuh asam uratnya, kecapekan. Kami pernah bercanda dengan teman-teman di Solo. Tindakan itu dinilai dari niatnya, mungkin tindakannya sama tetapi latar belakang yang mendasarinya bisa berbeda. Sejak bekerja, setiap tahun kami selalu menyembelih korban berupa kambing atau kadang-kadang sapi. Baik untuk diri sendiri, istri dan anak-anak maupun untuk orang tua. Kami lalai merasakan sedihnya banyak kambing yang disayat lehernya dan digantung kedua kakinya untuk dikuliti. Kalau semuanya dilakukan demi menjaga kehidupan banyak orang maka hal tersebut dapat dimaklumi. Akan tetapi kalau membunuh kambing demi kenikmatan lidah hal itu kurang bisa diterima. Kami bercanda itulah sebabnya kami sering terkena sakit radang tenggorokan dan pergelangan kaki sering kambuh asam uratnya. Tubuh ini mempunyai usia, milyaran sel dalam tubuh kita juga mempunyai tugas tertentu dan mempunyai usia. Sel darah putih yang masa hidupnya tiga bulan dapat mati sebelum waktunya apabila ada penyakit yang harus diperanginya. Semoga mereka yang telah kami hilangkan nyawanya dapat melanjutkan evolusinya dengan baik. Semoga semua makhluk berbahagia.

Triwidodo, Mei 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kesatu)

Catatan Kecil

            Pengetahuan hanya memuaskan otak dan pada saat ini informasi detailnya dapat diperoleh di internet. Akan tetapi sekedar pengetahuan terasa kering, diperlukan pengalaman ruhani yang lembab yang membangkitkan rasa. Perjalanan harus dialami, dirasakan. Bagi kaum Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya. Dari Srinagar dapat terbang langsung ke Leh tetapi tidak dapat merasakan kerasnya perjalanan sepenggal Jalan Sutra. Jalan yang pernah ditempuh Alexander Yang Agung dengan pasukannya dari Macedonia sampai hulu sungai Jhelum yang mengalir ke Kashmir, Jalan yang dilewati Bhiksu Tong Sam Cong dengan kuda putihnya mencari Kitab Tripitaka selama 16 tahun perjalanan pulang pergi dari Chang’An di China, dan perjalanan Gusti Yesus mungkin dengan keledainya ke Leh dan Srinagar. Perjalanan ke Vihara Hemis untuk  dapat merasakan betapa beratnya Guruji tujuh belas tahun yang lalu dengan kondisi parah, Hb dibawah 5 untuk mendapatkan penerangan dan kesembuhan di sana. Catatan ini akan dilengkapi dengan perjalanan ruhani secara lebih detail. Semoga bermanfaat. Terima kasih Guruji.

 

Beberapa Catatan Penting Perjalanan

            Berdasarkan Sensus tahun 2001 Jumlah Penduduk di India 1,028 Milyar masih dibawah RRC yang saat ini mempunyai penduduk terbesar di dunia dengan penduduk sekitar 1,2 Milyar. Daerah Kashmir dan Leh berada di State Jammu & Kashmir. Ibu kota Jammu & Kashmir adalah Srinagar yang berjarak 630 km dari New Delhi. Jumlah penduduk Jammu & Kashmir berdasar Sensus 2001 adalah 10,1 juta orang yang tersebar dalam 14 District, semacam kabupaten/kota di Indonesia. Jammu & Kashmir adalah mahkota atas India dan dikenal sebagai Surga Dunia. Di Utara berbatasan dengan Afghanistan dan China. Di Timur dengan Tibet, di Barat dengan Pakistan dan dibagian Selatan dengan State Himacal Pradesh dan Punjab.

            Perjalanan dimulai dari Jakarta naik pesawat menuju Bangkok yang memakan waktu selama lebih kurang 3,5 jam. Di Bangkok stop-over sekitar 2,5 jam dan melanjutkan penerbangan menuju New Delhi yang memakan waktu sekitar 3,5 jam. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok, sedangkan perbedaan waktu antara Jakarta dan New Delhi sebesar 1,5 jam. Dari Bandara Internasional New Delhi ke hotel yang berada di pinggiran kota New Delhi ditempuh selama lebih kurang 1 jam perjalanan memakai bis.

            Keesokan harinya naik bis menuju Bandara New Delhi untuk melakukan penerbangan domestik ke Srinagar selama lebih kurang 1,5 jam. Dari Bandara Srinagar naik mobil four-wheel drive ke rumah seorang Master Sufi, Profesor Fida Hassnain, pengarang belasan buku dan pensiunan Direktur Arsip, Arkeologi, Riset dan Museum State Jammu & Kashmir. Beliau diinisiasi sufi oleh Hazrat Hayat Bouman seorang mistik perempuan yang memiliki silsilah daqri Pir-o-Murshid Hazarat Inayat Khan.

            Selama 2 hari 2 malam di Srinagar, Kashmir melihat Jesus Tomb yang dikenal sebagai Rozabal, kemudian ke Masjid Jamia yang berdiri atas 387 tiang kayu tanpa sambungan. Masjid Pertama di Kashmir, masjid Shah-i-Hamdan yang penuh arsitek dan ukiran kayu kuno. Selanjutnya ke Masjid Nishat Bagh yang terbuat dari Marmer yang menyimpan rambut Nabi Muhammad. Perjalanan dilanjutkan ke Shankarachrya Temple yang sebelumnya dikenal sebagai Takht-i-Suliman. Tempat yang pernah dikunjungi Guru Besar Shankara ini juga pernah dikunjungi Nabi Sulaiman. Di sore hari menikmati keindahan Mughal Garden, taman yang dibuat salah seorang Raja Kashmir. Keesokan harinya pergi ke Resor Gulmarg yang mempunyai fasilitas Kereta Gantung untuk melihat salju di musim panas. Untuk kemudian ziarah ke makam Rishi Baba seorang sufi Muslim yang mempunyai beberapa murid Hindu. Dan berakhirlah perjalanan di Kashmir dan akan dimulai perjalanan berat ke Leh.

            Perjalanan darat memakai 5 mobil Shree-Toyota Innova dimulai pagi hari. Jalan perbatasan  ini dibawah pengelolaan  Border Road Organization yang berada dibawah Komando Militer. Kendaraan harus berhenti di beberapa pos pemeriksaan Polisi dan Militer. Bahkan kadang pada saat tertentu menunggu sekitar 2 jam sewaktu dilakukan latihan militer. Dengan melewati tebing yang curam dan beberapa bukit es yang berliku-liku sampailah di Resor Sonmarg. Di depan penginapan terdapat banyak kuda untuk keperluan wisata. Di belakang hotel mengalir sungai Sind yang jernih. Jarak antara Srinagar dengan Sonmarg hanya 84 km, tetapi diperlukan pengemudi yang handal untuk melalui jalan licin tepi bukit yang berkelak-kelok.

            Keesokan harinya perjalanan lebih dahsyat, karena harus melalui jalan paling berat dan Zojila Pass di ketinggian 3.527 m di atas permukaan air laut. Zojila Pass yang tinggi dan dingin disebut Pintu Gerbang Ladakh, nama sebuah District yang beribukota di Leh. Rombongan bermalam di kota kecil Kargil yang hanya berjarak 121 km dari Sonmarg.

Menurut penduduk setempat Kota Kargil dan Kota-Kota sepanjang Srinagar-Leh hanya mempunyai akses selama 5-6 bulan. Penginapan-penginapan dibuka tanggal 15 April dan ditutup September-Oktober. Pada waktu musim dingin jalan perbatasan ditutup karena licin, berbahaya dan hanya ada militer dan polisi yang selalu siap siaga. Di Kargil sudah mulai kelihatan perkebunan Apricot dan Aple. Bukit-bukit pun mulai menghijau, Global Warming menyebabkan kondisi cuaca yang lebih hangat dan banyak bukit mulai menghijau.

            Keesokan harinya dimulai lagi perjalanan yang lebih berat, banyak jalan yang belum beraspal dan harus melewati selokan-selokan yang diakibatkan salju yang mencair. Beberapa Excavator membersihkan salju dan kendaraan harus menunggu. Dalam perjalanan berhenti sebentar  di tepi jalan untuk melihat perkampungan Buddhist di Mulbek yang berada di tengah perkampungan besar Muslim. Perjalanan juga berhenti sebentar untuk masuk Vihara Chamba dengan patung Maitreya setinggi 12 meteran yang dipahat di atas bukit batu. Selanjutnya perjalanan melewati Pass tertinggi Srinagar-Leh yaitu Fotula Pass di ketinggian 4.583 meter. Daerah ketinggian tersebut dikenal masyarakat sebagai Nami Kha La, Pillar to the sky, Nam adalah langit, Kha adalah gunung, La adalah pass. Perjalanan berhenti untuk makan siang di Vihara tertua Lamayuru. Dalam bahasa Tibet tempat itu adalah disebut tempat Lama Yung Dung Thapa Ling. Vihara ini ditemukan oleh Lama Rinzen Zangpo yang mempunyai sisilah dari Guru Tilopa dan Muridnya Naropa. Dipercaya Naropa pernah melakukan meditasi di sana. Perjalanan dihentikan untuk menginap di Uletokpo Camping Ground. Di sebelah tempat camping mengalir sungai Indus yang menuju ke Pakistan.

            Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya ke Vihara Alchi, satu-satunya vihara yang terletak di daerah datar di Ladakh. Vihara didirikan oleh Lama Rinzhen Zangpo seorang Lama Penterjemah yang sering melakukan perjalanan ke Kashmir dan mengajak pekerja-pekerja Kasmir mendirikan Vihara. Selanjutnya perjalanan menuju Vihara Likir yang tersebunyi di antara gunung. Dikenal sebagai Klu-Khil, Ular, dipercaya masyarakat bahwa Raja Naga pernah tidur di sana. Ditemukan oleh Lama Lhawang Chosje pada tahun 1028. beliau mengajarkan aliran Kadampa yang merupakan ajaran yang diberikan oleh Yang Mulia Atisha. Sebelum Yang Mulia Atisha menyebarkan ajaran di Tibet, beliau belajar pada Yang Mulia Dharmakirti Svarnadvipi di Pulau Sumatera pada zaman Sriwijaya. Pada tahun 1470 ajaran Kadampa dikonversikan menjadi ajaran Gelukpa oleh Tsong Khapa sebagai lanjutan dari aliran Kadampa. Perjalanan dilanjutkan dan menginap di Leh.

            Pagi-pagi berangkat ke Vihara Thiksey untuk mengikuti acara ritual pagi. Di salah satu ruang seorang Bhiksu membaca mantra dan memukul semacam gong yang diikuti oleh dua orang bhiksu memakai topi khas Tibet dengan jambul seperti topi Romawi kuno hanya terbuat dari kulit domba, meniup terompet diatas Vihara. Suaranya terdengar sampai perkampungan di bawah bukit. Kemudian rombongan mengikuti atau lebih pantas menyaksikan acara ritual berdoa dan sarapan bersama para bhiksu.

            Perjalanan dilanjutkan ke biara paling terkenal di daerah Ladakh, Biara Hemis. Biara Hemis adalah biara terbesar di Ladakh. Dipercaya bahwa Padma Sambhawa membawa agama Buddha dari India ke Tibet dan mendirikan Vihara Hemis. Dipercaya orang bahwa Gusti Yesus pernah ke Vihara ini. Catatan-catatan tentang Gusti Yesus diperkirakan disimpan di Vihara ini.

            Guruji Anand Krishna bertemu Lama yang menyembuhkan penyakitnya dan menyuruh pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan Karma Bhuminya juga di Biara ini. Ketenangan dan energi luar biasa terpancar di Vihara yang terletak di ketinggian pegunungan Himalaya. Jumlah oksigen yang tipis, membuat orang lebih meditatif dan kurang bicara. Dapat dijelaskan bahwa  bagi mereka yang menginap beberapa hari di Vihara, dan bermeditasi di sana akan mendapatkan ketenangan. Sebagaimana kita ketahui, energi otak diperoleh dari sari makanan dan oksigen. Setelah berpuasa sekitar empat jam, ditambah oksigen yang tipis di ketinggian, pikiran tidak begitu liar lagi. Pada saat demikian lebih mudah bagi seseorang untuk  mendapatkan getaran pikiran yang sinkron dengan alam semesta, dan terbukalah dirinya. Puji Tuhan Guruji telah mendapatkan penerangan dan kesembuhan di sana. Vihara yang tadinya terletak di tepi Sungai Indus ini didirikan dengan tujuan agar para bhiksu mandiri dengan lahan pertanian yang cukup luas dan di tengah perkampungan penduduk.

          Selesai dari Vihara Hemis perjalanan dilanjutkan ke Mahabodhi International Meditation Centre. Guruji pernah memutuskan menjadi Bhiksu di tempat ini dan diinisiasi oleh Ven. Bikkhu Sanghasena dengan nama Anomadassi sebelum ketemu Lama Pemandu Beliau di Biara Hemis. Meditation Centre yang luas ini mempunyai beberapa program yang dalam 17 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Ada program Meditasi, Program Pendidikan, Program Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Klinik Berjalan, Pendidikan Bhiksuni, Program Lansia, Program Remaja, Program Lingkungan dan lain-lain. Desember 2005, ketika ikut rombongan Guruji ke Varanassi sempat melakukan peninjauan ke Mahabodhi Temple dan melihat sekelompok anak muda menari dalam lingkaran menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air seperti kegiatan Pesta Rakyat. Pada waktu itu juga sempat melakukan doa di Birla Temple di New Delhi yang juga merupakan kegiatan Mahabodhi International Meditation Centre dengan nuansa ritual spiritual. Di Sore hari melihat Shanti Stupa di puncak bukit di Leh yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya ke Vihara Shankar.

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan ke Khardongla Pass yang merupakan Pass tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.127 m yang telah dicatat dalam Guinees Book of World Records. Persiapan matang perlu dilakukan karena di ketinggian tersebut oksigen sangat tipis dan membuat kepala pusing. Khardongla Pass ini merupakan jalan yang harus dilewati ke Nubra yang bisa diteruskan ke China.

          Kita mengenal perjalanan ke Barat oleh Bhiksu Tong Sam Cong. Jalan yang dilalui melalui Khardongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass menuju Kashmir. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui “Jalan Sutra Utara”. Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film “Kera Sakti”. Bhiksu Tong Sam Cong melakukan perjalanan dari Chang’An, Anxi, Tashkent, Samarkand, Leh, Tibet, Bodhgaya, terus ke India Selatan sampai ke Kancipuram. Kemudian kembali ke Utara ke Kashmir, Kashgar, dan Anxi untuk kembali ke Chang’An. Perjalanan bhiksu Thong Sam Cong yang digambarkan menaiki kuda putih ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 627 sampai dengan tahun 643.

            Alexander Yang Agung pada tahun 330 BC juga pernah melakukan perjalanan sejauh 20.000 miles dari Macedonia ke Punjab.  Setelah lewat Bactria, dan berhenti sebentar di Kabul, meneruskan perjalanan sampai sungai Jhelum di hulu Kashmir dan tentaranya menolak meneruskan perjalanan ke India.

            Gusti Yesus juga dipercaya melakukan perjalanan ke Kashmir lewat Jalan Sutra bahkan dipercaya makamnya berada di Kashmir. Jalan Sutra di mulai dari Chang’An di China, ada cabang dari Kashgar kemudian turun ke arah Selatan ke Leh dan Srinagar. Dari Kashgar ke Barat, Samarkand, Bokhara, Merv, Persia, Mesopotamia bertemu dengan Laut Tengah di Antioch dan Tyre. Rute ini digunakan untuk kepentingan perdagangan dan perpindahan penduduk oleh Bangsa Mesir, Irael, Arya dan lainnya.

            Keesokan harinya melakukan penerbangan dari Leh menuju New Delhi. Di Delhi ziarah ke makam Hazrat Inayat Khan, Bahai Temple, Birla Temple dan sight seeing di New Delhi.

            Keesokan harinya pulang menuju Jakarta.

 

Antara Sun Tzu, Bhagavad Gita dan Kearifan Leluhur

Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga agar selamat. Dengan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kemenangan. Saat ini banyak  anggota masyarakat dengan antusias menerapkannya dalam bisnis.

            Di lain pihak, Leluhur kita mempunyai pedoman bahwa Sopo sing nandur bakal ngundhuh, barangsiapa yang menanam benih akan menuai buah tanaman tindakannya. Bagi yang melihat dari kulitnya, bertindak dengan segala cara agar berhasil tuntunan Sun Tzu adalah semacam menanam benih, sehingga hasil akhir kemenangan adalah buah yang wajar dari sebuah tindakan yang penuh perhitungan. Akan tetapi tidak demikian, Leluhur kita mempunyai istilah panen wohing panggawe, menuai hasil akibat buah tanaman tindakan. Semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan hasil di belakang hari. Proses yang penuh tipu muslihat mungkin mendatangkan keberhasilan dalam jangka relatif singkat. Akan tetapi, tindakan penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tersendiri dalam jangka panjang. Manusia perlu mempertimbangkan semua pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga tidak akan kecewa ketika tiba saatnya menuai hasilnya di kemudian nanti. Oleh karena itu kearifan para Leluhur kita lebih mendekati kearifan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita adalah sebuah benih yang akan mendatangkan buah kepada kita pada suatu saat kemudian.

            Bagi Sun Tzu, kemenangan harus menjadi tujuan utama. Memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Hasil akhir kemenangan sebagai tujuan. Manajemen yang diambil berdasarkan sasaran akhir kemenangan. Dalam kalimat yang lebih tegas, yang penting menang walau dengan segala macam cara. Kiranya sudah jelas kebijakan Sun Tzu, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Seorang pengikut Sun Tzu tidak akan memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Anaknya akan dimarahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya. Pertanyaannya adalah, apakah hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara?

            Dalam Bhagavad Gita, kebijaksanaan Sri Krishna lebih terfokus pada proses,  pada pikiran, ucapan dan tindakan, bukan pada hasil. Manajemen berdasar proses. Kalau dalam setiap proses disadari masing-masing akibat yang akan terjadi, dengan membuat cheklist tindakan yang “benar”, maka hasil akhir adalah keniscayaan yang akan terjadi sebagai akibat dari semua proses tindakan. Dalam menghadapi hidup ini, yang penting adalah menyadari setiap proses, setiap pikiran, ucapan dan tindakan yang dilakukan, apa pun hasilnya akan datang kepada manusia sebagai akibat dari proses yang telah dijalaninya. Budaya Nusantara lebih selaras dengan kebijakan Sri Krishna. Yang penting adalah karya, karma, perbuatan bukan hasil akhir yang berupa materi. Leluhur kita mempunyai semboyan Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, tidak memikirkan hasil akhir  dari keinginannya, tetapi giat berkarya dengan semangat persembahan. Hasil sudah merupakan keniscayaan sebagai akibat dari tindakan yang dijalani.

            Paduka Sri Mangkunegara IV menyampaikan beberapa tingkatan persembahan dalam kehidupan spiritual. Pertama adalah Sembah Raga. Manusia menggunakan raga ini sebagai persembahan. Dalam hal ini termasuk berkarya dengan menggunakan raga sebagai persembahan. Kedua adalah Sembah Cipta. Melakukan persembahan pikiran, diawali dengan cara pengendalian hawa nafsu, sehingga dapat berpikir dengan jernih. Ketiga adalah Sembah Jiwa. Mempersembahkan jiwa dengan selalu sadar, eling, ingat dan waspada. Hidup dengan penuh kesadaran, sesungguhnya segala sesuatu diliputi Tuhan. Yang ada hanyalah Tuhan, tidak ada yang lain. Keempat adalah Sembah Rasa. Sembah yang yang dilakukan mereka yang telah mencapai kesadaran murni, telah mencapai pencerahan yang kesadarannya telah melampaui lapisan raga, lapisan pikiran atau mental, dan lapisan intelegensia atau nurani.

            Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna juga memberi penjelasan tentang Karma Yoga, cara menuju Tuhan melalui perbuatan, Gyana Yoga melalui perenungan, Dhyana Yoga melalui meditasi dan Bhakti Yoga melalui bhakti, persembahan.

            Terdapat banyak pilihan jalan, diantaranya dengan cara Sun Tzu, Sri Krishna, jalan para Leluhur ataupun jalan-jalan yang lain. Yang kesemuanya bermuara kepada peningkatan kesadaran.  Pada akhirnya manusia perlu kembali kepada jati dirinya. Siapakah Aku? Alam semesta dan semuanya ini diliputi Tuhan, tidak ada yang lain selain diri-Nya.

 

Triwidodo

Mei 2008.

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH

 

Judul : ISHQ ALLAH Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi dan Lahirnya

Cinta Ilahi

Pengarang : Anand Krishna

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : 2005

Tebal : 153 halaman

 

Mutiara Quotation Buku ISHQ ALLAH

 

Legenda adalah wahana yang luar biasa untuk memasuki wilayah rohani. Dan, kali ini disajikan bagi Anda, para pembaca, petualangan cinta, dari khasanah legenda rakyat Sindh, yang memberi terang rohani kepada masyarakat itu sejak abad kelima belas. Judulnya Mumal Rano.Buku ini adalah bagian dari trilogi

  • Ishq Allah

  • Ishq Ibaadat

  • Ishq Mohabbat

 

Hati-hatilah, kau memasuki wilayah terlarang. Kau harus membedakan antara”aku”-mu, cinta dan Dia. Ada tiga macam cinta, ishq mijazi atau nafsu birahi. Ada ishq hakiki atau cinta sejati, dan ada ishq ilahi atau cinta yang kau tujukan kepada Allah semata.

 

Sumro berarti pahlawan. Hamir sumro dalam kisah ini bukan saja seorang pahlawan, tetapi juga seorang hamir, amir, penguasa. Bila kepahlawanan bertemu dengan kekuasaan, apa lagi yang perlu diragukan? Namun, Hamir Sumro tetap ragu-ragu.

 

Tepi Sungai Kak sudah di depan mata. Pantai seberang sudah tak jauh lagi. Hamir Sumro pun sesungguhnya sudah dalam perjalanan menuju Kak, dan Kak berarti debu – ia sudah dalam perjalanan menuju kedebuan diri.ia sudah dalam perjalanan menuju kefanaan abadi, untuk mencapai kebakaan kekal. Ia juga sangat beruntung, dapat bertemu dengan seorang Murshid, seorang Guru. Sang Fakir itulah Pembawa Berita dari nseberang sana, namun ia masih tetap ragu-ragu. Ya, Hamir Sumro ragu-ragu, maka ia menoleh ke arah sahabta karibnya, Rano.

 

Rano berarti pecinta, lover. Ia bukanlah seorang pahlawan seperti Sumro. Ia bukanlah seorang hamir, seorang penguasa. Ia hanyalah seorang rano, seorang pecinta.

 

Seolah Hamir pun sadar. Hanyalah cinta seorang Rano yang dapat mempertemukan dirinya dengan Mumal. Ya, ia ingin bertemu dengan Mumal, dengan sang Jelita. Itulah arti kata mumal – jelita, cantik, lembut.

 

Sesungguhnya Sang Fakir tengah menantang Hamir Sumro untuk melanjutkan perjalanannya. Peringatan yang diberikannya bukanlah untuk mematahkan semangat. Sayang Hamir Sumro tidak memahami maksud sang Fakir. Ia ragu-ragu, bimbang.. dan, dalam keraguannya, ia lupa bahwa dirinya adalah seorang pahlawan, seorang penguasa. Di hadapan Rano, sang Pecinta, kepahlawanan dan kekuasaan Hamir Sumro menjadi tak berarti.

 

Fakir: Aku tak memiliki tujuan, Rano. Jalan inilah tujuanku. Berjalan itulah tujuanku. Berjalan sambil memberi peringatan kepada setiap pejalan: Hindari Mumal, hindari Kak, bila kau tak ingin kehilangan segala yang kau miliki.

 

Untuk bertemu dengan Mimal, kita harus jadi seorang pecinta. Kekuatan dan kekuasaan belaka tak dapat mengantar kita kepada Mumal. Cinta merupakan syarat utama, syarat mutlak. Tak ada tawar-menawar lagi di sini.

 

Kemudian, setelah bertemu dengan Mumal, apa yang terjadi setelah pertemuan itu? Kita kehilangan segala yang kita miliki, termasuk identitas diri yang kita peroleh dari dunia. Seperti Sang Satria yang berasal dari Mendhra, kita kehilangan pasukan, kedudukan, kesatriaan… kita menjadi seorang fakir, miskin, melarat – tanpa kepemilikan.

 

Jalur Sutera Cinta, Jalan Menuju Allah bukanlah jalan biasa. Bila siap kehilangan segala demi cinta-Nya, lanjutkan perjalananmu, Bila tidak, urungkan niatmu.

 

Jiwa dapat merasakan cinta, tetapi hanya raga yang dapat bercumbuan dengan cinta. Selama kita berada dalam kesadaran rohani, cukuplah cinta yang dirasakan. Dalam keheningan diri, dalam kasunyatan abadi, dalam kebenaran hakiki, diri kita pun larut, hanyut… Segala keinginan sirna… Untuk merasakan cinta atau mohabbat, mahabah – nafsu, nafs atau kesadaran jasmani memang harus dilampaui. Tapi setelah merasakan cinta dan kembali pada kesadaran jasmani, timbul rasa rindu yang akan mencabik-cabik jiwa kita, membakar raga kita. Kita ingin merasakan dengan badan apa yang pernah kita rasakan dengan roh kita. Keadaan ini memang tak dapat dipahami oleh mereka yang belum pernah merasakan cinta, yang masih bergulat dengan nafsu.

 

Seorang pecinta tidak puas dengan mohabbat. Mohabbat sangat lembut, hanya dapat dirasakan dalam keheningan diri, oleh mereka yang telah mencapai kekhusyukan jiwa yang sampurna. Setelah merasakan mohabbat, seorang pecinta menjadi liar. Ia terobsesi dengan Yang dicintainya. Ia ingin bercumbuan dengan-Nya di tengah keramaian dunia. Ia menjadi seorang Aashiq. Mohabbat berubah menjadi Ishq – Cinta yang dinamis, agresif. Karena itu tingkah laku para pecinta sulit dipahami oleh mereka yang belum kenal cinta.

 

Ia yang kita cintai,kita muliakan, tidak puas dengan surat-surat yang diterimanya. Pertemuan dengan pengantar pun tidak memuaskan dirinya. Ia ingin bertemu dengan pengirim… Dan, saat terjadi Pertemuan Agung itu pengantar pun harus menyingkir.

 

Kita cepat puas, terlalu cepat puas. Kadang, menerima surat saja sudah puas. Kadang, pertemuan dengan pengantar sudah memuaskan. Bahkan, sering kali, membaca surat-surat-Nya, sudah memuaskan kita. Kenapa? Karena kita malas melakukan perjalanan yang terasa tak bertujuan. Atau, mungkin kita takut – takut larut, takut hanyut di dalam-Nya. Takut melepaskan aku untuk menyatu dengan-Nya…

 

Kebingungan Rano sungguh rohani. Istana pun berhala. Yang kita sebut rumah-Nya pun sesungguhnya hanyalah tumpukan batu… terbuat dari pasir dan tanah, mirip bangunan-bangunan lain di dunia.

 

Yang kita sebut istana atau Rumah-Nya pun sesungguhnya adalah bangunan buatan manusia. Taruhlah yang membuat beberapa orang luar biasa, sesungguhnya mereka pun orang – manusia, insan-insan Allah.

 

Sudah ratusan, bahkan ribuan kali kita mengunju8ngi istana-Nya, tapi kerinduan kita tetap tak terobati. Kita masih rindu, karena kita belum pernah menatap wajah Mumal.

 

Demi matahari, bulan dan bintang, demi pepohonan dan bebatuan ciptaan-Nya, jutaan kali kita bersaksi bahwa kita telah melihat-Nya, tapi,sesungguhnya kita baru melihat istana-Nya, itu pun barangkali. Kita tak pernah berjumpa dengan Mumal.

 

Janganlah puas dengan luapan emosi yang kita rasakan saat melihat istana-Nya, saat berada di depan rumah-Nya. Pertahankan kerinduan, masuki istanan-nya, rumah-Nya… seperti Rano.

 

Dalam kegagapan saya, saya hanya dapat bercerita tentang terjadinya Pertemuan Agung. Apa yang terjadi dalam pertemuan itu, tak dapat saya ceritakan. Saya dengar banyak sekali binatang buas yang dijumpai Rano dalam tahap akhir perjalanannya menuju istana. Ada hewan berkepala lima, panca indera….. Ada nafsu, ada amarah, ada keserakahan, ada keterikatan, ada pula keangkuhan. Ada pula yang bercerita bahwa sesungguhnya Rano tak pernah berjalan menuju istana. Setidaknya tahap akhir perjalanan itu tak pernah terjadi, karena istana itu lenyap sebelum terjadinya Pertemuan Agung.

 

Entah, kisah mana yang benar? Rano berjalan menuju istana, atau tidak, entah! Yang pasti, Pertemuan Agung itu terjadi. Tapi, dari mana saya tahu? Bagaimana saya ketahui bahwa Pertemuan Agung itu sungguh terjadi? Saya tahu tentang pertemuan itu setelah bertemu Rano. Ya, setelah bertemu dengan dia dalam perjalanan pulang.

 

Ada yang sudah puas mendengar Kesaksian seorang Saksi. Ada yang belum dan ingin menyaksikan sendiri. Kelompok pertama yang puas mendengar kesaksian adalah para agamawan. Kelompok kedua yang ingin menyaksikan sendiri adalah para rohaniwan.

 

Namun, munculnya keinginan untuk menyaksikan pun terpicu oleh kesaksian-kesaksian yang pernah kita baca, kita dengar sebelumnya. Karena itu, agama harus dilewati, dilakoni – tidak dilepaskan. Seperti halnya kita tak pernah melepaskan jalan, kita hanya mengakhiri perjalanan bila sudah mencapai tujuan. Ya, kita tak pernah melepaskan jalan, karena jalan itu masih ada, tetap ada. Dan, jalan itu menghubungkan tujuan kita dengan segala yang ada di luar.

 

Bila sudah sampai di tujuan, tak ada sesuatu pun yang perlu kita lepaskan. Berada di sana kita begitu sibuk merayakan hidup, sehingga tidak punya waktu lagi untuk memikirkan apa yang perlu dilepaskan, apa yang tidak. Dalam perayaan, segala-galanya terlepaskan dengan sendiri, kau tak perlu melepaskan sesuatu pun. Yang tersisa hanyalah perayaan, hanyalah Pertemuan Agung dengan Sang Khalik.

 

Keraguannya terhadap keberhasilan cinta itu menjadi penghalang. Sesungguhnya pertemuan dengan seorang saksi saja sudah cukup untuk turut menyaksikan, karena seorang saksi senantiasa tengah menyaksikan. Namun, kita harus bertemu, tak cukup membaca tentang dirinya lewat kisah-kisah yang sudah tertulis.

 

Inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh seorang Master, seorang Sadguru, Guru Sejati, Bagaimana? Sekian banyak orang yang datang dan bertanya. Apa itu meditasi? Sang Guru membisu, ia tidak mau jawab. Seorang murid bertanya. Kenapa Guru, kenapa kau membisu? Apa salahnya menjelaskan apa itu meditasi?

Sang Bhagavan menjawab, Apa gunanya menjelaskan apa itu cahaya, kepada orang-orang buta? Menjelaskan cahaya kepada orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar penjelasan, sekadar pengetahuan sering kali membuat kau merasa tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat?

Kebutaan itu harus diobati dulu. Kemudian, penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Kita dapat melihat sendiri.

Saat ini, kita terbebani oleh penjelasan, oleh pengetahuan. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah cukup. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya sungguh tidak cukup, bahkan tidak berguna. Pengetahuan tentang meditasi pun tidak berguna, apalagi pengetahuan tentang cinta – tidak bermakna. Sang Buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri.

Kemudian, masih bersama Sang Guru, siswa tadi melihat ada seorang yang datang. Dia adalah seorang pencari, seorang talib, bukan talib-taliban, tetapi Talib Sejati, Talib yang tidak menodai makna Talib. Aku sulit bermeditasi, teach me how to meditate. Ajarkan padaku, bagaimana bermeditasi…

dan, Sang Guru pun melirik ke siswanya, Ia siap… Kemudian ia memanggil orang itu, Datanglah dekat aku… Maka, terjadilah meditasi Dekati aku… dan terjadilah meditasi.

 

Lain bahasa Siddharta, lain pula bahasa Isa. Siddharta berkata, Dekati aku. Isa berkata, Ikuti aku. Kata Mustafa, Aku rasul. Kata Mansur, Aku kebenaran. Krishna berseru, sesungguhnya Aku dan kamu sama, Aku tahum kau tidak tahu.

 

Tunggu sebentar Rano. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri. Lagi pula aku harus membawa sedikit bekal untuk perjalanan.

Tunggu sebentar, tunggu sebentar, kemudian sebentar berubah menjadi dua bentar, tiga bentar, dan seterusnya. Kita sering mendengar, Aku memang senang sekali dengan hal-hal spiritual, dengan segala yang berbau rohani… tapi tunggu sebentar; biarlah aku selesaikan dulu tanggunganku. Dan, tanggungan itu tak pernah selesai. Karena yang menanggung adalah diri kita sendiri. Yang harus diselesaikan bukan tanggungan, melainkan diri sendiri.

Bila sudah mau bertemu Mumal, persiapan apalagi yang kita butuhkan? Bila kita ingin mengakhiri perjalanan, bekal apa pula yang kita bicarakan?

Aku ingin menyucikan dulu diriku sebelum bertemu dengan-Nya, katanya. Aku ingin mensucikan diucapkan seolah kita bisa menyucikan! Bila aku bisa menyucikan, bahkan, bila aku tahu apa itu kesucian, kenapa harus menodai diri?

Saat kau mengambil air untuk menyucikan diri, kata Guruku dulu, sadarlah bahwa Yang Maha Menyucikan hanyalah Dia, Dia, Dia… Atas nama Dia, demi kasihnya, basuhilah dirimu dan biarlah Dia yang menyucikan dirimu. Maha Besar Allah, Maha Suci Rabb, sesungguhnya tanpa air dan pasir pun Ia dapat menyucikan diri kita, membersihkan diri kita. Air yang kita ambil sekadar untuk mengingatkan noda-noda yang menempel pada jiwa kita, akan ketakberdayaan kita untuk menyucikan dirimu. Karena itu, berdoalah selalu, Ya Allah, Ya Rabb, atas Nama-Mu Yang Maha Suci, sucikan diriku. Sesungguhnya, niat kita untuk menyucikan diri itu pun muncul berkat Kesucian-Nya, semata-mata atas Kehendak-Nya.

 

Wuzu dalam bahasa Urdu atau wudhu sebagaimana kita menulisnya di Indonesia hanyalah sarana, jelas bukan tujuan. Ibadah pun adalah sarana, bukan tujuan. Yang sedang kita tuju adalah Dia, Dia.. Dan, sarana-sarana itu penting bagi kita, karena kita belum sampai di tujuan. Pernahkah terpikir, sarana apa lagi yang kita butuhkan bila kita sudah sampai di tujuan?

Bila kita memahami Saksi. Kesaksian, dan Yang Disaksikan sebagai Tri-Tunggal – tiga tapi satu, satu tapi tampak tiga – kita sudah sampai! Bila belum, kita belum sampai..

Sesungguhnya Hamir Sumro sudah sampai, hanya saja tidak sadar bahwa dirinya sudah sampai. Sesungguhnya kita pun sudah sampai, hanya saja tidak sadar – persis seperti Hamir Sumro. Kelahiran kita sebagai manusia membuktikan pencapaian kita. Ketaksadaran kita disebabkan oleh kegagalan kita mempertahankan kemanusiaan diri. Kembali pada khitah asal kita, kembali pada takdir kita, maka terselamatlah jiwa kita saat itu juga.

 

Kadang kita masih tidak meyakini ketulusan hati pemandu kita. Kadang kita malah menyangsikan ketulusannya. Namun, bagi seorang pemandu, kesiapan diri kita untuk dipandu sudah cukup. Ia menawarkan jasanya tanpa syarat, tanpa keharusan untuk mempercayai ketulusannya.

Seorang pemandu, seorang Guru Sejati menerima kesiapan diri kita, walau persiapan kita masih belum matang, masih mentah dan jauh dari sempurna.

Sesungguhnya Guru adalah Govind, Govind adalah Guru seperti dinyatakan oleh Kabir. Guru itulah yang sedang kita cari. Ia yang sedang kita cari telah datang dalam wujud Guru kita!

Ia yang telah menyaksikan-Nya, menjadi bukti nyata akan kesaksiannya. Berhentilah mencari bukti-bukti lain. Apalagi bila kita mencari bukti-bukti itu dari mereka yang belum pernah menyaksikan-Nya. Untuk apa mencari bukti di luar diri. Keberadaan kita sudah merupakan bukti akan Kehadiran-Nya!

 

Rano tak akan menunggu lama untuk kita. Ia sedang dalam perjalanan pulang, dan ia mengajak kita pulang bersamanya. Terimalah undangannya, pulanglah bersama dia. Entah kapan lagi kita bertemu dengan seorang Rano. Entah kapan lagi kita menerima undangan serupa.

Seorang Rano tak akan lama bersama kita. Tak bisa, karena dunia kita menggerahkan jiwanya. Kita tak mampu menghadirkan Mumal dalam dunia ini, karena secara kolektif kita masih berpikir bahwa dunia ini adalah dunia kita dan Mumal berada di luar dunia. Secara kolektif kita masih mencarinya di luar sana. Kesadaran kolektif kita membuat gerah para Rano. Mereka tak mampu bertahan lama di sini, karena kesadaran kita juga yang tidak menunjang kehadiran mereka.

 

Kita sering lupa bahwa Yang Maha Mencipta juga Maha Memelihara. Lupa bahwa Yang Maha Memelihara juga Maha Mendaurulang. Kita lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa Kehendak-Nya.

Bila Sumro siap, sudah pasti ada yang diutus untuk memandunya. Bila suatu bangsa siap, datanglah pemandu. Sungguh malang bangsa yang tidak dikirimi utusan atau pemandu lagi.

Sungguh malang umat yang dibiarkan berjalan sendiri tanpa panduan, atau barangkali setiap bangsa, setiap umat, tidak hanya pernah, namun selalu dikirimi utusan. Lain perkara bila justru ada yang menolak, tidak menerima kiriman-Nya.

 

Mumal belum mengutus Rano. Rano memaksakan kehendaknya, maka ia harus berpisah dari Mumal. Kadang, dalam ketidaksadaran kita membenarkan perpisahan itu. Kita pikir diri kita sudah siap berjalan sendiri..

Berjalan sendiri? Setelah bertemu dengan Mumal, masih adakah sesuatu di dalam diri kita yang dapat berjalan sendiri? Masih adakah sesuatu yang terpisah dari Mumal? Masih adakah diri kita? Masih adakah aku, kau?

Bila aku masih ada, sesungguhnya pertemuan dengan Mumal sudah berakhir. Kita mengakhirinya sendiri dengan memunculkan diri kita.

 

Hidup bebas dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Jiwa kita jauh luas daripada dunia di mana kita tinggal. Dunia kita sangat sempit, dan menyesakkan jiwa. Bila ingin hidup bebas, kita harus membiarkan jiwa kita mwnciptakan du nia baru, dunia yang luas di mana ia dapat bernapas lega.ini yang sedang dikerjakan oleh para nabi, utusan, mesias, avatar, dan buddha. Mereka sedang menciptakan dunia baru di mana mereka dapat bernapas lega. Ya, di mana mereka dapat bernapas lega. Dan bila kita hidup sezaman dengan mereka, kelegaan itu akan kita rasakan.

Hidup sezaman tidak harus diartikan dalam satu masa yang sama.. bila hidup sezaman dengan mereka yang tidak hidup dalam satu masa yang sama? Sulit bagimu, bukalah mata hatimu. Di sekitarmu pasti ada seorang Rano.. pasti. Berusahalah untuk hidup bersamanya, dan yang harus merasakan kebersamaan bukan saja ragamu, tapi jiwamu.

 

Pertemuan agung adalah Hak dan Takdir kita semua. Tak ada kekuatan di dunia maupun di luar dunia yang dapat menghalangi Pertemuan itu, karena Kekuatan Tunggal sendiri menghendaki pertemuan itu. Maka siapa yang dapat menghalanginya? Ya, kita dapat menundanya.

Dan, selama ini kita telah menunda pertemuan itu. Kita, pikiran kita, kemalasan kita telah menunda pertemuan yang seharusnya sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam ketaksadaran kita, ingatan tentang pertemuan yang pernah terjadi kita anggap cukup. Kadang bacaan tentang pengalaman seorang Rano dari masa silam sudah memuaskan kita.

Kita malas, kita takut, kita ragu… kita tidak berani melangkah menuju Kak. Kita tidak berani menafikan diri secara total, tidak menyisakan apa-apa. Karena apa-apa yang kita rasa kita miliki saat ini kita anggap sangat berarti, sangat bermakna.

 

Sesungguhnya Rano membohongi mereka. Tidak ada jalur alternatif, tidak ada jalan singkat. Sesungguhnya tak ada jalan, yang dibutuhkan hanyalah kesadaran akan keberadaan Kaka, dan kita akan berada di Kak dalam sekejap itu pula. Rano membohongi mereka, supaya mereka melepaskan peta dan bersedia melangkah, untuk meniti jalan ke dalam diri. Peta memang baik untuk dipelajari, tapi mempelajari peta saja tak dapat mengantar kita ke tujuan.

 

Di awal perjalanan, kita harus membedakan Kak dari pantai seberang ini di mana kita tinggal. Dunia adalah dunia, dan akhirat adalah akhirat. Dunia untuk sesaat, akhirat untuk selamanya. Tapi, apa iya, apa betul akhirat untuk selamanya? Bila memang demikian, bagaimana Rano bisa kembali dari akhirat dan berbicara tentang akhirat? Bagaimana ia dapat menyampaikan berita tentang akhirat?

 

Ia yang sedang berupaya untuk mendamaikan dunia sesungguhnya terjebak dalam permainan ego-nya sendiri. Damaikah diri kita sehingga kita ingin mendamaikan dunia? Damaikah diri kita sehingga kita dapat mendamaikan dunia? Dalam kedamaian diri kita, dunia menjadi damai. Bila kita mengaku sudah damai dan masih melihat ketakdamaian dalam dunia, sesungguhnya kita sendiri belum damai. Ketakdamaian dunia hanya terlihat bila diri kita belum damai.

Saat diri kita menjadi damai, saat kita berdamai dengan diri sendiri, niat untuk mendamaikan dunia pun sirna. Karena, saat itu kita tak mampu melihat ketakdamaian lagi. Yang terlihat hanyalah kedamaian, kedamaian, kedamaian.

Untuk mendamaikan dunia, terlebih dahulu kita harus damai dulu. Pada saat itu, kita akan mendengar bisikan Mumal, Lakoni hidupmu untuk menghiburku.melakoni hidup demi Mumal, untuk menghibur-Nya, dapat disimpulkan sebagai hidup penuh arti atau hidup sia-sia – peduli amat! Kita bisa dianggap Duta Damai atau Pembawa Kekacauan – untuk apa dipikirkan?

 

Kita boleh membantu, boleh melayani, tetapi janganlah membiarkan emosi kita terlibat. Keterlibatan kita secara emosional menjatuhkan derajat kita… kemudian kita tak dapat lagi mengangkat diri yang jatuh. Untuk mengangakat mereka yang jatuh, mereka yang berada di bawah, kita harus berada di atas. Untuk membantu mereka yang tidak sadar, kita harus dalam keadaan sadar. Untuk membantu mereka yang hanya dalam duka, kita harus berada di atas perahu suka. Untuk membantu, yang kita butuhkan bukanlah rasa kasihan, tapi kasih.

 

Logat mereka berbeda; bahasa mereka beda; penampilan para utusan pun berbeda-beda. Beda pula cara merayu Rano. Kadang, ia diberi nasehat; kadang diberi peringatan; kadang dirayu; kadang ditegur; kadang dimarahi; kadang disayang. Setiap cara melahirkan satu paham, satu agama… Itulah kisah di balik kelahiran agama-agama dunia.

 

Dunia kita ada karena Dia ada. Semesta ada karena Allah ada. Kak ada karena Mumal ada. Renungkan: Kata Dunia dapat kita ganti dengan Alam Semesta atau pun Kak. Kata Dia dapat kita ganti dengan Allah atau Mumal. Tapi kata ada tak dapat kita ganti. Bila kata ada kita ganti, kalimat kita akan kehilangan arti. Ketahuilah ada itulah Yang Maha. Allah Ada. Bapa di Surga Ada. Sang Hyang Widi Ada.Tao Ada. Buddha Ada… Ini Ada. Itu Ada. Sebutan bagi Yang Ada dapat berubah, tapi Yang Ada tak pernah berubah.

 

Persis ini yang terjadi setiap kali Ia mendatangi kita dengan busana yang berbeda, padahal busana hanyalah bagian kecil dari Kebenaran Diri-Nya. Kita terjebak dalam perbedaan yang disebabkan oleh busana, busana pakaian, busana badan, busana bahasa, busana budaya, busana adat-istiadat. Ironisnya, dalam keterjebakan itu kita masih bersikukuh bahwa hanyalah diri kita yang benar, hanyalah diri kita yang mengenal Kebenaran Yang satu Itu!

 

Menerima Semesta sebagai wujud Allah tidak berarti menolak Yang Tak Terwujud. Menerima Semesta berarti menerima semua – menerima Wujud dan Yang Tak Terwujud. Rano menerima seekor unta milik Mumal, tetapi menolak Mumal. Menerima Onta tidak salah; menolak Mumal adalah kesalahan. Seorang pecinta menerima Kekasihnya sebagai satu keutuhan, karena Sang Kekasih memang Utuh Ada-Nya. Ia Tak Terbagikan.

 

Pertanyaan kesalahan apa masih berasal dari ego manusia. Penjelasan apa pun tak membantu. Saat bertanya bagaimana memperbaiki kesalahan, kita sudah menyadari kesalahan diri. Kemudian jawaban yang kita peroleh baru membantu.

 

Kesiapan diri Rano, kesadarannya mengundang bantuan. Dan, bantuan bisa berupa apa saja.. Berupa sosok seorang Murshid, berupa kicauan burung, berupa suara alam. Wujud bantuan memang beda, bisa berbeda, namun apa yang terjadi lewat bantuan selalu sama…

 

Untuk kesekian kalinya biar saya ulangi lagi. Jumlah orang yang mengikuti kita tidak membuktikan pencapaian kita.kuantitas tidak membuktikan kebenaran kita.

 

Agama-agama kita pun masih sibuk mempersoalkan Wujud dan Tanpa Wujud. Angin berwujud atau tidak? Tapi angin berada di dalam wujudmu, berarti Yang Tak Berwujud pun dapat berada di dalam wujud.