Antara Sun Tzu, Bhagavad Gita dan Kearifan Leluhur


Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana hukum yang berlaku adalah fight or flight, melawan untuk keluar sebagai pemenang, atau melarikan diri dari medan laga agar selamat. Dengan konsep dasar itu ia menyusun Seni Perang, untuk memberi kemenangan. Saat ini banyak  anggota masyarakat dengan antusias menerapkannya dalam bisnis.

            Di lain pihak, Leluhur kita mempunyai pedoman bahwa Sopo sing nandur bakal ngundhuh, barangsiapa yang menanam benih akan menuai buah tanaman tindakannya. Bagi yang melihat dari kulitnya, bertindak dengan segala cara agar berhasil tuntunan Sun Tzu adalah semacam menanam benih, sehingga hasil akhir kemenangan adalah buah yang wajar dari sebuah tindakan yang penuh perhitungan. Akan tetapi tidak demikian, Leluhur kita mempunyai istilah panen wohing panggawe, menuai hasil akibat buah tanaman tindakan. Semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan hasil di belakang hari. Proses yang penuh tipu muslihat mungkin mendatangkan keberhasilan dalam jangka relatif singkat. Akan tetapi, tindakan penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tersendiri dalam jangka panjang. Manusia perlu mempertimbangkan semua pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga tidak akan kecewa ketika tiba saatnya menuai hasilnya di kemudian nanti. Oleh karena itu kearifan para Leluhur kita lebih mendekati kearifan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita adalah sebuah benih yang akan mendatangkan buah kepada kita pada suatu saat kemudian.

            Bagi Sun Tzu, kemenangan harus menjadi tujuan utama. Memenangi peperangan menyangkut disiplin pantang mundur. Hasil akhir kemenangan sebagai tujuan. Manajemen yang diambil berdasarkan sasaran akhir kemenangan. Dalam kalimat yang lebih tegas, yang penting menang walau dengan segala macam cara. Kiranya sudah jelas kebijakan Sun Tzu, landasan perang bagi dia adalah tipu muslihat. Seorang pengikut Sun Tzu tidak akan memarahi anaknya yang suka menyontek saat ujian. Itu adalah kemahiran dia. Anaknya akan dimarahi dia jika tertangkap, karena hal itu menunjukkan kelalaiannya. Pertanyaannya adalah, apakah hal ini sesuai dengan nilai-nilai budaya yang ada di Nusantara?

            Dalam Bhagavad Gita, kebijaksanaan Sri Krishna lebih terfokus pada proses,  pada pikiran, ucapan dan tindakan, bukan pada hasil. Manajemen berdasar proses. Kalau dalam setiap proses disadari masing-masing akibat yang akan terjadi, dengan membuat cheklist tindakan yang “benar”, maka hasil akhir adalah keniscayaan yang akan terjadi sebagai akibat dari semua proses tindakan. Dalam menghadapi hidup ini, yang penting adalah menyadari setiap proses, setiap pikiran, ucapan dan tindakan yang dilakukan, apa pun hasilnya akan datang kepada manusia sebagai akibat dari proses yang telah dijalaninya. Budaya Nusantara lebih selaras dengan kebijakan Sri Krishna. Yang penting adalah karya, karma, perbuatan bukan hasil akhir yang berupa materi. Leluhur kita mempunyai semboyan Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, tidak memikirkan hasil akhir  dari keinginannya, tetapi giat berkarya dengan semangat persembahan. Hasil sudah merupakan keniscayaan sebagai akibat dari tindakan yang dijalani.

            Paduka Sri Mangkunegara IV menyampaikan beberapa tingkatan persembahan dalam kehidupan spiritual. Pertama adalah Sembah Raga. Manusia menggunakan raga ini sebagai persembahan. Dalam hal ini termasuk berkarya dengan menggunakan raga sebagai persembahan. Kedua adalah Sembah Cipta. Melakukan persembahan pikiran, diawali dengan cara pengendalian hawa nafsu, sehingga dapat berpikir dengan jernih. Ketiga adalah Sembah Jiwa. Mempersembahkan jiwa dengan selalu sadar, eling, ingat dan waspada. Hidup dengan penuh kesadaran, sesungguhnya segala sesuatu diliputi Tuhan. Yang ada hanyalah Tuhan, tidak ada yang lain. Keempat adalah Sembah Rasa. Sembah yang yang dilakukan mereka yang telah mencapai kesadaran murni, telah mencapai pencerahan yang kesadarannya telah melampaui lapisan raga, lapisan pikiran atau mental, dan lapisan intelegensia atau nurani.

            Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna juga memberi penjelasan tentang Karma Yoga, cara menuju Tuhan melalui perbuatan, Gyana Yoga melalui perenungan, Dhyana Yoga melalui meditasi dan Bhakti Yoga melalui bhakti, persembahan.

            Terdapat banyak pilihan jalan, diantaranya dengan cara Sun Tzu, Sri Krishna, jalan para Leluhur ataupun jalan-jalan yang lain. Yang kesemuanya bermuara kepada peningkatan kesadaran.  Pada akhirnya manusia perlu kembali kepada jati dirinya. Siapakah Aku? Alam semesta dan semuanya ini diliputi Tuhan, tidak ada yang lain selain diri-Nya.

 

Triwidodo

Mei 2008.

Iklan

4 Tanggapan

  1. Pak Tri, saya lalu membayangkan andakan si Sun Tzu itu dipertemukan dengan njenenganipun Yudhisthira, kira- kira apa yang terjadi. Ooops…..!, nggak kalo di adu sama Risang Moho Patih Sengkuni kira kira siapa yang bakal kena tipu duluan …. eh, dunia ketoprak juga ada provokator ulung di jamannya, pelakunya namanya Atemo Koro, …..hayo siapa ne yang bakal ter – “blethuk”
    Serat Jamus Kalimasada yang konon menjadi totemnya Pendawa mudah saja dikasihkan orang lain,
    (ini Kalimasada yang “genuin” lho Pak…, bukan yang biasa “diplesetke” dhalang moderen menjadi serat kalimat syahadat, kalo itu mah ….., mesthinya malah kudu di serah-serahkan orang lain, biar menyebar …. tidak di cekethem sendiri) kembali si Yudis, bahkan konon Dhiajeng Drupadi –garwa padmi–nya juga pernah di hibahkan tanpa syarat ……,
    Kelihatannya masing masing saling menempuh jalannya sendiri sendiri (meskipun banyak tuntunan, ajaran dan ……..sekolahan) karena megabdi kepada tujuan dan kadar kesadaran diri nya dibumbui jamannya, –anut mring jaman kelakone–, mungkin disana sangking laparnya atau angkara murkanya harus “nyerbu” atau “nyolong bukan miliknya tanpa ijin” untuk bisa makan atau menambah kepemilikan, sedang kita cukup bertapa, mati pun masuk sorga, konon nanti di sorga juga bisa memethik buah apapun yang di inginkan — dan disana banyak bidadari– kendati itu juga bukan miliknya, tapi kita di beri haknya..???…(bedane apa seh wong melik iku nggendhong lali ). kalau di dunia Sri Paduka Mangkunegara tentunya cukup “Sapa Temen Bakal Tinemu” wong kita itu kalau perang semboyannya juga “Nglurug Tanpa Bala” (sekarang mleset blanja tanpa sangu…… bon ! ) tapi yang jelas mau nglurug harus pikir pikir, hla wong di situ juga ada rambu, “menang ora kondhang kalah ngisin-isini”

    Repotnya Pak Tri….. saya sulit memahami apakah Kesadharan itu terbentuk dari asuhan (lebih dari pendidikan) atau memang DNA nya seperti itu wong tentang swarga saja misalnya, Terminal kesadarannya dah beda, kita kepinginya masuk sorga, sedang sun tzu dkk penginnya sorga kita miliki ……., (yen perlu di tuku wae …. biar sudah matipun dikirimin duit ….. he he he ….) dos pundi niki Pak Tri., amrih becike.
    Salam Anget.

  2. Terima kasih Pak Dirmawan,
    Mohon maaf baru balas, 2 minggu ini kami ikut rombongan ke Kashmir lihat “silk road”. Konon untuk memahami dasar tindakan seseorang kita perlu melihat latar belakang masyarakat pada saat itu. India pada waktu itu terdiri dari beberapa raja, sedangkan raja yang besar disebut maharaja. Demi perdamaian ada seseorang perempuan yang bersedia bertindak sebagai mandala hidup pemersatu. Konon demikianlah Drupadi, juga Amrapali di zaman Buddha yang lebih kemudian. Geisha pun kalau dirunut bukan hanya dicari yang cantik dan bodoh. Bagi penganut Sufi, tujuan tidaklah begitu penting dibanding perjalanan. Setiap orang sedang menempuh perjalanannya lewat jalan yang berbeda-beda. Mungkin ada yang lewat jalan berbatu penuh lubang jebakan, tetapi semua sedang berjalan menuju kesempurnaan. Lebih penting merasakan perjalanan dan bertindak setiap saat penuh kesadaran. Terima kasih.

  3. have a look at jaiva dharma. its much more detailed meaning of what the bhagavad gita is about.

    • Thanks Brother, it is based on Anand Krishna’s book of “The Gita Management” in bahasa…. The author talks about a management by Gita….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: