Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kedua)


Satu Pilihan Ditetapkan dan Berputarlah Kehidupan

Catatan Kecil Kedua
Banyak orang yang melupakan pengalaman batin yang dialami ketika sedang melakukan suatu tindakan. Menurut mereka hanya pribadi melankolis yang akan mengingatnya, apalagi keinginannya sudah tercapai, untuk apa mengingat-ingat yang telah lalu. Menurut pemahaman kami tentang Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya. Memang akhirnya kami ikut berangkat dengan rombongan ke Kashmir dan Leh India. Tetapi pengalaman dalam memenuhi persyaratan keberangkatan setiap anggota rombongan berbeda-beda. Kami mencoba mengungkapkan perasaan yang kami alami dalam memenuhi persyaratan keberangkatan. Pernik-pernik pengalaman tersebut sangat berharga bagi diri kami pribadi. Terima kasih Guruji.</p>

Latar Belakang Kehidupan Keluarga
Satu bulan sebelum keberangkatan, kami ditelepon Ma Upasana dari Ashram, apakah kami dengan isteri mau mengikuti rombongan perjalanan dipimpin Guruji ke Leh. Dengan penuh kebahagiaan kami menjawab siap. Seingat kami hari itu adalah hari Kamis siang. Kemudian kami ditanya kapan dapat mengantar persyaratan ke Jakarta yang kami jawab diusahakan minggu depannya.
Sebagai latar belakang dapat kami sampaikan bahwa keluarga kami hidup sederhana. Semuanya dikerjakan sendiri tanpa pembantu, anak-anak dididik mandiri. Kami membesarkan semangat anak-anak, bahwa anak burung rajawali tidak selalu dihangatkan dibawah lindungan sayap induknya. Ketika masanya tiba, sang anak rajawali bahkan didorong jatuh ke jurang agar dapat mengepak-ngepakkan sayapnya terbang sendiri. Karena semua dikerjakan sendiri, sehari-hari kami cukup sibuk dan tidak berpikir melantur kemana-mana. Jarang sekali kami tidur di atas jam 10 malam. Akan tetapi kalau sudah dirasa cukup tidur maka jam berapa pun bangun dan bekerja. Pada jam 5 pagi semua anggota keluarga sudah bangun. Televisi pun jarang melihat, hanya anak kami terkecil dan Miminya pada malam hari melihatnya. Kalau surat kabar kami semua membacanya terutama heading yang menarik. Kami berlangganan 3 koran, satu berita kedaerahan dan dua buah lainnya didapat dari kantor.
Selanjutnya, kami tidak takut dikatakan kuper, kurang pergaulan. Kami berdua juga kuper tetapi dengan kuper tersebut kami kurang terjerat perangkap duniawi. Biarlah manusia menganggap kuper, yang penting kita sadar setiap saat dan tidak melakukan perbuatan yang tidak tepat. Masalah jodoh bukan masalah kuper, kita yakin kita akan mendapatkan yang sesuai dengan jiwa kita. Anak-anak sejak kecil terbiasa di rumah asyik dengan kesibukannya sendiri. Sosialisasi hanya ke sekolah dan belajar bersama teman. Sejak kecil mereka sering ditinggal pergi. Ketika istri mengikuti kami pendidikan di Canada anak sulung kami yang berusia 6 bulan harus dititipkan neneknya. Karena kami sering berpindah tugas, anak pertama sejak SMP sudah ikut kakek-neneknya di Solo. Setelah 17 tahun berpindah-pindah tugas di luar Jawa akhirnya kami ditugaskan di Pandeglang Banten dan kami hidup di pulau Jawa kembali. Ketika kami berdua berziarah ke Tanah Suci, anak kami yang bungsu baru berumur 3 tahun dan ditinggal di rumah bersama kakak-kakaknya dan pengemudi kami yang juga merupakan tetangga ikut mengawasinya.
Pada saat ini yang sulung sedang menyelesaikan pendidikannya di Bandung, dan ketika SMA pernah ikut pertukaran pelajar selama setahun di Jepang. Yang kedua masih kuliah di Semarang dan yang ketiga masih SMP di Semarang juga. Setiap Saptu pagi kami berdua pergi ke Solo untuk latihan meditasi Saptu malamnya. Minggu siang ke Jogya Latihan di Anand Krishna Center Joglosemar dan baru Minggu malam sampai Semarang lagi. Anak kami berdua sudah terbiasa ditinggal dan mempunyai kesibukan masing-masing. Untuk keperluan retret ke Ciawi atau ke Bali mereka sudah terbiasa ditinggal, dan kadang-kadang diajak ikut bersama. Kami jelaskan bahwa papa-miminya sedang mengikuti pendidikan kesadaran dan memerlukan disiplin waktu seperti untuk pendidikan sekolah mereka. Untuk keberangkatan ke Leh selama 12 hari kami yakin bagi anak-anak kami tidak ada masalah yang besar.
Mengenai perekonomian keluarga, sejak dua puluh tahunan lalu kami hidup sederhana, dan rejeki lebih diujudkan dalam bentuk tanah dan rumah. Saat ini harganya sudah berkali lipat dan dapat menunjang pendapatan rutin dari pekerjaan untuk pendidikan anak-anak dan pendidikan ruhani kami. Kami berdua mempunyai pandangan bahwa segala sesuatu itu tadinya tidak ada, kemudian ada dan wajar pula untuk kemudian tidak ada lagi. Bukankah kehidupan kita di dunia tadinya juga tidak ada, terus ada dan akan menjadi tidak ada lagi? Kami tadinya tidak punya rumah, kemudian punya beberapa dan untuk keperluan kehidupan wajar pula untuk menjual beberapa darinya. Penjelasan tentang kehidupan menjadi terbuka begitu bertemu dan mengikuti Guruji. Bukankah segala sesuatu yang datang kepada kita adalah akibat perbuatan-perbuatan kita di kehidupan-kehidupan sebelumnya? Kita harus bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. Begitu paham kita mulai hidup dengan penuh kesadaran.

Melampaui Logika
Kembali ke masalah keberangkatan ke Leh. Dua minggu sebelum tawaran Ma Upasana, ada salah satu rumah kami yang akan dibeli oleh pemiliknya yang lama. Putra-putri pemilik lama sudah sukses dan mendukung ibunya untuk membeli kembali rumah lama mereka yang telah dijual 15 tahunan yang lalu. Sang Ibu mohon rumah tersebut jangan dijual ke orang lain, dan beliau akan menyerahkan titipan uang yang nilainya akan cukup untuk keperluan keberangkatan ke Leh. Waktu itu kami memang tidak tahu akan diundang ikut rombongan ke Leh. Karena menggunakan otak, pikiran, pada saat itu kami berjanji tidak akan menjual kepada orang lain, tetapi kami tidak berani menerima titipannya, karena belum jelas kapan mereka akan melengkapinya. Kami takut ada kejadian yang tak terduga yang membuat titipan uang tersebut menjadi bermasalah.
Hari Jumat sore, setelah Kamis ditelpon Ma Upasana, kami ke Solo, dan menanyakan rencana titipan uang untuk pembelian rumahnya. Luar biasa, ternyata uang yang akan dititipkannya sedang dipakai anaknya sebagai pemain bulutangkis nasional ke luar negeri. Kita memang tidak tahu apa yang terbaik bagi kita. Banyak hal terjadi diluar logika manusia. Kami ingat kisah nabi Musa dalam mengikuti perjalanan nabi Khidir yang katanya sering muncul di daerah Sind. Musa tidak dapat mengerti mengapa perahu bagus nelayan dilobangi oleh Khidir. Musa juga tidak habis pikir ketika Khidir membunuh seorang anak. Ketika Khidir merusak rumah yang ditinggali anak yatim, Musa tidak sanggup menahan janjinya untuk tidak bertanya mengapa hal-hal tersebut dilakukan oleh Khidir. Guru lebih tahu dari kita, banyak hal-hal yang seakan-akan melanggar dharma dan tidak dapat kita pahami sesuai logika. Khidir melampaui logika, perahu dilobangi karena perahu yang utuh akan diambil paksa penguasa untuk berperang. Anak yang dibunuh karena kalau hidup akan menjadi anak durhaka yang membunuh kedua orang tua mereka dan merugikan masyarakat. Rumah anak yatim sengaja dirobohkan agar ketika dewasa mereka dapat menemukan harta karun peninggalan orang tua mereka yang masih aman direruntuhan bangunan. Duh Gusti, pengetahuan kami terlalu sedikit, kami pasrah kepada-Mu. Guru, kami mohon petunjukmu.
Pada waktu resesi memang cukup sulit menjual rumah dengan harga wajar. Mereka yang punya duit justru dapat membeli dengan harga yang rendah. Sebulan sebelumnya memang ada yang iseng menawar rumah dengan harga yang rendah. Apabila kami tahu kami akan butuh uang, hal tersebut akan kami tindak lanjuti dengan negosiasi.
Pada hari Saptu datang telpon dari Ma Upasana agar Selasa dapat ke Jakarta. Berarti kami tinggal punya waktu satu hari Senin, pahal Senin pagi ada acara rapat kantor yang harus dihadiri. Minggu itu kami izin tidak latihan di Jogya dan kembali ke Semarang menyiapkan jurus jitu untuk menyelesaikan masalah. Minggu malam kami mengantarkan anak perempuan menghadiri pesta ulang tahun temannya. Pada waktu itu kami sempat mengambil foto dan memfotocopy berkas-berkas arsip yang diperlukan. Passport masih lebih dari 6 bulan masa berlakunya, maka selamatlah. Senin siang kami bersama istri pergi ke toko perhiasan dan mengambil sisa tabungan yang ada terus ke Bank dan menukarkannya dengan uang US $. Untuk sementara masalah terselesaikan. Kami juga telah membeli tiket Kereta Api yang berangkat keesokan hari pukul 5 pagi sehingga jam 11 sudah sampai Jakarta dan jam sebelum jam 14 siang sudah bisa ketemu Ma Upasana. Masalah ijin cuti, bukan masalah sulit karena hubungan yang baik dengan pimpinan dan kolega se kantor.

Satu Pilihan Yang Membuat Beberapa Pihak Mendapatkan Jatah-Nya
Di atas Kereta Api Argo Sindoro, kami merenung, hanya satu pilihan untuk mengikuti Guruji ke Leh dan perekonomian berputar. Tempat Fotocopy, Tukang Foto, Toko Perhiasan, Bank, SPBU, pengemudi kantor yang mengantar ke Stasiun KA, perusahaan Kereta Api, warung makan di Gambir, sopir Taksi, Cafe Makanan di d’Best Fatmawati bahkan operator seluler, semua mendapatkan jatah-Nya. Kami mempunyai rencana setelah selesai urusan dengan Ma Upasana kami akan naik KA ke Bandung menengok anak dan malamnya bisa pulang naik KA ke Semarang. Untuk mengefisienkan waktu kami merencanakan bertemu anak di Stasiun KA Bandung.
Sampai di Gambir pukul 11.00 makan Ketoprak dan langsung menuju Layurveda. Pukul 13.00 ada sms dari Ma Upasana, agar makan siang dulu beliau masih mengikuti Guruji acara di IAIN, kalau sudah lengkap berkas bisa ditinggal di Layurveda. Beliau mengingatkan isian formulir sangat penting dan kalau ada yang salah, urusan visa semua rombongan bisa ter-cancel. Atas berkah Guruji, kami teringat tujuan utama ke Jakarta dan urusan menengok anak ke Bandung kami batalkan. Banyak hal-hal yang berada diluar kendali kita. Tetap tenang dan ambil napas dalam-dalam akan sangat membantu. Semua yang datang adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, yang penting dalam keadaan genting tetap bertindak dengan penuh kesadaran. Segala sesuatu memang harus tetap terjadi, tetapi cara kita me-respond yang membuat perbedaan.

Penyelesaian Karma?
Sekitar jam 15.00 Ma Upasana datang dan memang betul banyak isian formulir visa yang harus diperbaiki. Masalah belum selesai, referensi Bank istri dalam US $ tetapi dalam fotocopynya tidak terbaca US $ nya. Jumlahnya pun hanya sedikit. Dengan berbagai kontak dengan istri, kami berjanji besok pagi Referensi Bank atas nama istri dengan jumlah yang cukup besar dalam rupiah akan kami fax dari Semarang. Waktu sudah menunjukkan pk 15.45, kami buru-buru pamit ke Gambir uantuk mengejar KA jam 16.45. sampai Gambir kami antri di loket, ada petugas menawarkan tiket yang tidak jadi dipakai karena saudaranya batal berangkat, maka keluarlah kami dari antrian, tetapi setelah dichek tiket tersebut bertujuan ke Pekalongan, maka kami tidak jadi membantunya dan kembali masuk antrian. Sementara semuanya OK dan kami naik KA dan mulai kontak dengan istri di Semarang.
Ternyata dua buah Buku Bank istri ditinggal di Solo karena akan ada seseorang yang akan mengontrak rumah di Solo. Mulailah kontak dengan kakak di Solo agar puteranya dapat mengantar buku bank malam itu ke Semarang. Kebetulan puteranya ada ujian keesokan harinya, sehingga kami minta tolong Mas Slamet peserta meditasi sekaligus yang membersihkan Center untuk ke Semarang. Demi keamanan, kami mohon jangan naik sepeda motor malam-malam ke Semarang pulang-pergi. Kami waspada, permainan Gusti masih seru. Pukul 20.00 kami dilapori istri bahwa Mas Slamet naik sepeda motor dengan istri dan anaknya dan sudah sampai di Semarang.
Di perjalanan kami sempat telpon mBak Dewi dari Layurveda, mohon maaf karena terburu-buru sehingga lupa membayar Teh Chai, kami berjanji segera akan menyelesaikannya. Pukul 23.30 kami sampai rumah di Semarang. Luar biasa, permainan Gusti cukup seru. Keesokan harinya, kami mentransfer uang dari Rekening kami ke rekening istri, kemudian memfotocopy dan memfax ke Layurveda. Kebetulan Fax Layurveda kehabisan kertas dan baru bisa dikirim pukul 10.00. Masalah belum juga usai, siangnya kami masih harus menarik uang dari rekening istri lewat ATM karena ada keperluan kantor yang harus ditalangi lebih dahulu. Di kemudian hari kami baru sadar, setelah bertemu seorang Guru penyelesaian karmanya dapat dipercepat. Di dunia ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun tetapi di alam yang lain misalnya di alam mimpi waktu bisa sangat cepat. Ketakutan dalam mimpi pun bisa merupakan penyelesaian karma. Waktu itu relatif. Yah, anggap saja semua permainan seru ini dalam rangka penyelesaian karma. Terima kasi Guruji. Terima kasih Gusti.

Teman Hidup
Tidak semua masalah berupa keuangan, secara kebetulan ada orang yang mengontrak rumah sehingga cukup untuk bekal dalam perjalanan. Di dunia ini uang termasuk energi yang nyata, tanpa uang bagi kebanyakan orang energinya menjadi merosot. Kami berterima kasih kepada Gusti diberi teman pendamping yang sederhana dan spiritual. Walau bagaimana pun uang tetap penting, kebiasaan wanita kalau mau pergi perlu membeli persiapan macam-macam, demikian juga pada waktu pulang perlu membeli oleh-oleh macam-macam. Bukankah kita disarankan menerima pasangan apa adanya. Semuanya sudah ada karmanya. Dan karma merupakan hasil tindakan dan obsesi diri kita sendiri. Di Jawa dikenal sebagai Kanca Urip, Teman Hidup, masing-masing pasangan mempunyai jalan spiritual sendiri-sendiri tetapi mempunyai tugas bersama membina keluarga. Dari segi Tantra perempuan harus mempunyai tingkat spiritual yang lebih tinggi. Bergaul dengan orang-orang berkesadaran lebih rendah saja dapat menurunkan tingkat kesadaran. Apalagi berhubungan suami istri dengan istri yang masih kental duniawinya. Itulah sebabnya Buddha harus meninggalkan keluarganya. Pada suatu saat istrinya juga akan meningkat kesadarannya.
Permainan belum selesai, sepuluh hari menjelang keberangkatan kami diberitahu Ma Upasana semua formulir visa dikembalikan dan harus dilampiri fotocopy Kartu Keluarga dan isian baru, waktu itu hari Jum’at dan diminta Minggu kiriman sudah sampai Jakarta. Kami fotocopy Kartu Keluarga dan dikirim via Tiki dan Pos Express. Saptu siang kami chek ke Layurveda, dan ternyata titipan sudah sampai, kalau belum sampai, Minggu pagi kami harus berangkat ke Jakarta memakai Kereta Api. Kami ingat tulisan Guruji, hidup perlu harapan tetapi jangan berharap, dan tenanglah kami, semua kami pasrahkan kepada Gusti. Sudah 34 buku Guruji yang kami quote kalimat-kalimat yang kami anggap dapat meningkatkan kesadaran kami. Setiap buku ada 6 atau 7 lembar quotation. Kami baca kalimat per kalimat dan kami tulis kalimat per kalimat. Ini cara kami mensinkronkan diri kami dengan Guruji, dan kami mulai karena setiap Saptu sebelum Latihan Semedi 1 di Solo diadakan Study Circle membahas buku Guruji. Mungkin kalau sudah tiba waktunya akan ada cara lain yang lebih tepat untuk mensikronkan diri. Tulisan sudah menurunkan kualitas pemikiran, karena tidak sempurnanya bahasa sebagai pengungkap pemikiran. Penglihatan tentang satu gunung, kalau ditulis tidak akan selesai dalam satu lembar tulisan. Kata yang sama pun mungkin mempunyai pengaruh berbeda terhadap lain orang. Sudahlah Gusti.

Asam Urat Yang Kambuh
Beberapa hari menjelang keberangkatan, kami mendapatkan tugas ke beberapa kota. Pertama kali tentu menyelesaikan pembayaran teh chai ke Layurveda jakarta dan menengok anak di Bandung. Dua hari berikutnya Seminar di Jogya. Pada waktu itu ada teman yang memberikan resep untuk penyakit asam urat yang diperoleh dari bekatul beras organik. Hanya kirimannya baru sampai satu hari menjelang keberangkatan jadi ya sebagian dibawa dalam perjalanan. Tiga hari menjelang keberangkatan, kami mendapat tugas beserta seluruh pimpinan kantor ke Surabaya. Acara yang cukup penting ini berakhir malam hari kedua, sehingga kami dan teman-teman harus naik mobil ke Semarang yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ya pada waktu berangkat ke Jakarta sebenarnya kaki kanan kami sendang ngilu kambuh asam uratnya, kecapekan. Kami pernah bercanda dengan teman-teman di Solo. Tindakan itu dinilai dari niatnya, mungkin tindakannya sama tetapi latar belakang yang mendasarinya bisa berbeda. Sejak bekerja, setiap tahun kami selalu menyembelih korban berupa kambing atau kadang-kadang sapi. Baik untuk diri sendiri, istri dan anak-anak maupun untuk orang tua. Kami lalai merasakan sedihnya banyak kambing yang disayat lehernya dan digantung kedua kakinya untuk dikuliti. Kalau semuanya dilakukan demi menjaga kehidupan banyak orang maka hal tersebut dapat dimaklumi. Akan tetapi kalau membunuh kambing demi kenikmatan lidah hal itu kurang bisa diterima. Kami bercanda itulah sebabnya kami sering terkena sakit radang tenggorokan dan pergelangan kaki sering kambuh asam uratnya. Tubuh ini mempunyai usia, milyaran sel dalam tubuh kita juga mempunyai tugas tertentu dan mempunyai usia. Sel darah putih yang masa hidupnya tiga bulan dapat mati sebelum waktunya apabila ada penyakit yang harus diperanginya. Semoga mereka yang telah kami hilangkan nyawanya dapat melanjutkan evolusinya dengan baik. Semoga semua makhluk berbahagia.

Triwidodo, Mei 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: