Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Ketiga)


Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia

 

Catatan Kecil Ketiga

            Kita perlu belajar dari pandangan masyarakat Kashmir yang tidak mempermasalahkan kepercayaan yang dianut masing-masing orang. Pendapat pengurus house-boat, pedagang asongan, pengemudi pun hampir sama. Menurut  penganut Sufi Prof. Fida Hassnain semboyan mereka adalah One God, One Planet, One People. Memang tidak begitu mudah mengaplikasikannya di Indonesia. Guruji Anand Krishna menemukan semboyan yang cantik dan dapat diterima masyarakat Indonesia saat ini, One Earth, One Sky, One Humand Kind. Menurut pemahaman kami tentang Sufi, tujuan itu kurang penting dibandingkan perjalanannya. Memang visi mereka Satu Tuhan, Satu Planet, Satu Masyarakat, tetapi tentu mereka telah mengalami banyak  kejadian yang mendahului sehingga menelorkan pandangan tersebut. Kemungkinan ada pengaruh dari Jalan Sutera yang membentang dari China ke Laut Tengah dan Timur Tengah dan cabangnya ke Leh dan Kashmir, sehingga terjadi sintesa peradaban Timur dan Barat. Masyarakat Kashmir yang adaptif dapat menampungnya dan merumuskan visinya. Bagaimanapun Pemerintahan India tetap waspada dan sepanjang jalan perbatasan tetap dijaga ketat. Visi yang universal pun perlu dijaga dengan sistem pertahanan yang selalu siap siaga. Walaupun masyarakat Kashmir sebagian besar jenuh dengan kekerasan, tetapi sebagian tetap ingin merdeka bebas dari India dan Pakistan. Terima kasih Guruji.

 

Memenuhi Lebih Dahulu Kebutuhan Chakra Pertama

            Dalam perjalanan penerbangan dari Jakarta ke Bangkok dan India, kami sempat merenung. Kami sering mendengarkan teman-teman yang curhat mengenai perjalanan naik pesawat. Salah satu teman kami di kantor mempunyai trauma takut naik pesawat, begitu masuk pesawat kakinya terasa berat dan badan lemas. Kalau tidak karena tugas kantor dia lebih baik naik KA. Duapuluh tahun silam dia mendapat tugas ke Jepang, diatas laut China Selatan pesawatnya turun secara mendadak, dan masker oksigen jatuh bergelantungan, walau akhirnya pesawat akhirnya bisa naik kembali, trauma yang terjadi tak terhapus. Kejadian kedua yang menimpanya dalam perjalanan Jakarta ke Semarang dengan pesawat yang memakai propeller, di atas Cirebon cuaca buruk dan kopi yang diatas meja bisa jatuh ke hidung. Pramugari yang duduk disebelahnya diam dan pucat. Teman sekantor satunya pernah bertugas di Palu, Sulawesi dengan kejadian yang hampir sama, dan begitu pindah ke Jawa selama 15 tahun tidak mau naik pesawat. Mereka minta saran dan kami sarankan ikut Voice Culturing Semedi 1 untuk menghilangkan trauma. Hanya sekedar naik pesawat, kadang-kadang seseorang harus menderita lama tanpa Pembimbing Spiritual. Takut mati itulah masalahnya. Terima kasih Guruji.

            Begitu take off lancar, mulailah pramugari menawarkan minuman pembuka dan snack  yang dilanjutkan meals utama yang selalu ada pilihannya. Orang senang kalau disuruh memilih, dibandingkan dengan diberi makan lezat tetapi no other choice. Kita merasa dihargai dengan diminta memilih. Agar senang, kebutuhan chakra pertama perlu dipenuhi dulu. Setelah itu tidur yang nyaman dan bacaan atau tontonan yang indah. Untuk memajukan pariwisata, kita perlu memahami kebutuhan lapisan kesadaran fisik, lapisan kesadaran energi, lapisan kesadaran mental emosional dan seterusnya sampai lapisan kesadaran intelegensia dan lapisan Kesadaran Murni. Perlu perhatian urusan perut ke bawah, urusan rongga dada, urusan visi sampai urusan Chakra Mahkota.

            Bagaimana pun kelemahan Pak Harto, beliau memahami kebutuhan dasar manusia. Urusan perut adalah urusan pertama, bahan pokok harus terbeli oleh masyarakat, bukankah harimau yang ganas pun di pertunjukan sirkus tunduk karena urusan chakra pertama. Kebutuhan kedua adalah lapangan pekerjaan. Seseorang yang bangun pagi jam 5 dan pulang kantor jam 5 sore dengan penghasilan yang dapat menghidupi keluarganya, tidak sempat berpikir macam-macam. Seorang yang punya banyak waktu, sedikit penghasilan dan berjam-jam di depan tivi komersial pikirannya menjadi macam-macam. Repetisi iklan ibarat mantra ampuh yang mempengaruhi mind kita. Dan mind kita tidak polos dan sederhana lagi.

 

Waktu yang kondusif

            Dari New Delhi ke hotel jalanan macet, dimanapun juga di kota besar jalanan selalu macet. Itulah sebabnya seniman misalnya pelukis suka tinggal di desa di pegunungan, kalau pun di kota mereka suka bekerja di malam hari yang tenang, keadaan siang dan sibuk kurang kondusif. Retret mulai Jum’at sampai Minggu jauh lebih efektif daripada acara setiap hari dengan jam pendek. Masalah kemacetan transportasi dan pengaruh keramaian pekerjaan berpengaruh. Kalau sudah dapat tenang di keramaian, kalau sudah dapat menikmati perjalanan di kemacetan, kita akan lebih damai. Sebelum itu terjadi bangun pagi lebih awal untuk bermeditasi akan cukup bermanfaat.

            Keesokan harinya adalah perjalanan dari New Delhi menuju Srinagar. Seperti yang terjadi di Indonesia, pesawat domestik pun sering di-delay. Kali ini lebih dari satu jam. Kompetisi diperlukan, no other choice atau tanpa saingan mudah menurunkan kualitas pelayanan. Tetapi mengapa berpikir negatif? Anggap saja cuaca kurang baik sehingga lebih aman dengan sabar sedikit. Hanya dengan merubah persepsi maka keceriaan wajah akan berbeda. Latihan keempat Semedi 1 membudayakan visi dan memberdayakan kasih punya pengaruh yang besar. Menentukan persepsi yang baik adalah hak pribadi kita.

            Turun di Airport Srinagar tidak ada belalai yang menghubungkan pesawat dengan terminal. Kebiasaan yang nyaman membuat kita manja. Cukup jauh juga berjalan dari pesawat ke terminal dan cukup jauh juga berjalan dengan kereta dorong bagasi dari terminal menuju tempat parkir. Kita sering lupa memikirkan Pak Tani di desa tepi gunung yang harus berjalan kaki 2 km untuk mencapai jalan besar dan menunggu bis yang lewat. Semua kebiasaan yang telah menjadi bagian dari bawah sadar perlu di cleansing setiap hari sehingga kita tidak perlu membanding-bandingkan lagi dengan referensi kebiasaan di otak dan muncullah kepolosan seorang anak kecil yang selalu antusias melihat hal yang baru. Ada rasa tidak nyaman untuk keluar dari comfort zone. Lima buah kendaraan yang disiapkan di tempat parkir, semuanya 4-wheel drive sehingga terbersit di benak,  bahwa medan yang ditempuh akan cukup berat.

            Di dalam terminal banyak pasukan militer dan polisi berjaga-jaga. Keadaan seperti ini akan kita temui sepanjang jalan perbatasan. State Jammu & Kashmir di sebelah timur berbatasan dengan Pakistan, di sebelah utara dengan China dan Afghanistan dan di sebelah timur dengan Tibet. Walaupun demikian pandangan mata mereka sama sekali tidak memperlihatkan kecurigaan kepada rombongan, dan bagasi dan jinjingan keluar dengan lancar-lancar saja. Masyarakat Kashmir pada  khususnya dan India pada umumnya percaya semboyan One God, One Planet, One People. Tetapi Pemerintah India waspada pengaruh luar dengan menjaga perbatasan negaranya. Di Indonesia kita punya semboyan yang tertulis dibawah lambang Burung Garuda Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, tetapi Pemerintah kurang menjaganya. Para Founding Fathers akan menangis melihat Semboyan Pemersatu yang diperoleh dari  penelusuran banyak pustaka Nusantara sekarang diabaikan begitu saja.

 

Pandangan seorang sufi Frofessor Fida Hassnain

            Setelah setengah jam perjalanan dari Airport Srinagar sampailah rombongan ke rumah Professor Fida Hassnain. Beliau keluar dan menyambut rombongan dengan ramah. Setelah basa basi dengan Guruji Anand Krishna, beliau diminta menyampaikan apa saja yang berharga untuk rombongan. Tulisan dengan karakter miring tersebut adalah beberapa ucapan beliau yang dapat  kami ingat dan kami terjemahkan langsung dalam bahasa Indonesia.

         Agar kita bisa hidup bahagia, kita harus berpandangan, yang lama telah mati, yang akan datang belum lahir, bahagia adalah saat ini. Kalau bisa setiap hari dianggap ulang tahun. Kalaupun kita mati hari ini, kita pun  perlu tertawa.

Dalam satu tahun, hampir seluruh sel, sekitar 98%  terbaharui. Jadi sampai dengan usia saat ini sudah beberapa trilyun sel yang sudah lahir dan mati dalam tubuh kita. Bagi seluruh sel dalam tubuh kita, mati adalah hal biasa, agar yang baru, yang lebih segar dapat mengganti. Mereka mempunyai kecerdasan, calon sel mata tetap jadi sel mata, tidak jadi sel tangan. Mereka paham tentang ”blueprint” bagi kehidupan mereka. Mereka bekerja dengan tulus. Mereka tidak mementingkan diri, mereka mempunyai tujuan yang lebih tinggi dan mereka tidak takut mati. Setiap saat mereka menjalankan dharma memelihara tubuh kita. Kita punya pikiran dan kekhawatiran yang ditimbulkan dari pikiran itulah membuat tidak bahagia.

         One God, One Planet, One People. Kita mendapatkan pesan dari Tuhan yang sama. Pesan atau kitab bisa berbeda-beda.

Tidak masuk akal Tuhan masing-masing kepercayaan berbeda. Dia penguasa alam, kalau Tuhan tidak satu terus matahari patuh kepada Tuhan yang mana. Ada yang menyangkal, yang disembah mereka adalah Setan. Terus kalau Setan juga berkuasa apakah tidak menyaingi Tuhan? Bumi ini tunduk kepada Tuhan atau Setan. Setan hanya berada di manusia, di pikiran manusia, di nafsu dan hasrat manusia. Dengan mengendalikan nafsu, dengan mengendalikan pikiran kita lepas dari setan. Setan yang membuat was-was, bukankah rasa was-was itu berasal dari pikiran, pikiran bawah sadar. Ketika pikiran berinteraksi dengan tubuh timbullah emosi. Rasa takut pun berasal dari pikiran. Bagi kaum Sufi kadang Allah pun disebut dengan nama Kekasih, jadi dengan sebutan apa pun Dia tetap Tuhan. Tuhan yang sama. Tuhan yang satu.

         Dalam setiap kaum hampir selalu ada kepercayaan tentang Mesias atau Masiha yang akan datang. Sekelompok Muslim mempercayai Isa al Masiha akan turun lagi di akhir zaman. Sekelompok kaum Hindu mempercayai datangnya avatar yang akan datang bernama Kalkhi. Sekelompok Kaum Buddhist percaya akan datangnya Buddha Maitreya.

Sebagian orang Jawa percaya Semar atau Sabdapalon akan datang lagi membawa ilmu pengetahuan ke Nusantara. Sebagian masyarakat percaya akan datangnya Ratu Adil. Mengapa pasif menunggu. Seperti pengemis yang tidak mensyukuri karunia Tuhan dan hanya menunggu uluran tangan orang lain? Sekarang perlu bertindak dengan penuh kesadaran. Kalau sudah banyak orang bertindak dengan penuh kesadaran Semar pun akan datang, Ratu Adil pun akan tiba.

         Tuhan tidak akan menyusahkan kekasihnya. Tuhan akan selalu memberikan makanan dan tempat tinggal. Makanan, pakaian yang bersih untuk raga, badan. Pikiran yang bersih untuk jiwa.

Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita, bukan keinginan atau keserakahan kita. Pada waktu serakah kita lupa Tuhan. Ego mengembang. Makanan akan menjadi organ tubuh, jantung dan otak kita. Vibrasi pakaian akan mempengaruhi diri kita. Kita tidak nyaman setelah mandi dan  memakai pakaian yang ada bekas keringatnya. Pikiran yang datang pun dapat kita pilih bahkan dapat kita saksikan dan thoughts pun menghilang dengan sendirinya. Setiap hari ada lebih kurang 60.000 thought. Kalau perasaan kita tidak nyaman berarti thoughts yang kita pilih tidak benar.

         Pemahaman tentang chakra dan kudalini di sufi pun ada hanya dimulai dari bawah pusar.

Dalam buku Sufi Practices tulisan Prof. Fida Hassnain, beliau menjelaskan Chakra dibawah pusar disebut Nafsi Latifa yang mengendalikan tenaga seks. Diatasnya disebut Rohi Latifa yang mengendalikan system asimilasi pencernaan, di dada disebut Qalbi Latifa tempat kedudukan pikiran dan emosi. Di leher disebut Siri Latifa mengendalikan pernapasan. Kemudian Ajna Chakra disebut Khafi Latifa berhubungan dengan organ perasa dan sahasra Chakra disebut Akhfa Latifa berhubungan dengan mother of the brain.  Menurut beliau warna juga mempunyai makna berbeda bagi orang berbeda.  Tujuan hidup manusia untuk mencapai persatuan dengan Creator.

         Cobalah menarik napas dengan menyebut dalam hati Allah dan keluarkan napas dengan Hu. Seperti menarik napas dengan So dan membuang napas dengan Ham. Coba menarik napas Allah dan tahan sebentar rasakan meresap ke seluruh badan kemudian keluarkan Hu dengan pelan-pelan.Badan akan sehat.

Ya Hu, dalam bahas Inggris O He, dalam bahasa Indonesia Oh Dia. Bagi manusia zat hidup berada di udara, tanpa udara kita pun tinggal menjadi jasad. Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup (10 pangkat 22) atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom (10 pangkat 22) yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom milikku adalah atom milikmu. Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi. Hakekatnya kita semua adalah satu. Tauhid.

         Orang Kashmir itu terbuka dan menampung kebaikan yang datang dan tidak menjelekkan yang lama. Waktu ajaran Buddha datang OK, kemudian ajaran Islam datang OK pula.

Kebudayaan Indonesia pun dapat menampung semua ajaran, demi politik kekuasaanlah beberapa oknum menjelekkan kepercayaan nenek moyang kita. Di India semua peninggalan kebudayaan zaman Hindu, Buddha dan Muslim dipelihara oleh Pemerintah. Mengambil foto dengan blitz pun dilarang, demi kelestarian peninggalan kebudayaan.

         Beliau akan memberikan Foreword bagi buku Guruji Jesus of Kashmir dan akan diserahkan lewat pemandu sebelum rombongan meninggalkan Srinagar.

 

Triwidodo, Mei 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: