Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Keempat)


 

Rozabal

 

Catatan Kecil Keempat

Ketinggian Kota Srinagar yang sekitar 1.730 m di atas permukaan laut membuat suasana yang sejuk dan tidak begitu panas walau di bulan Mei. Danau Dal seluas 18 km2 dan di salah satu teluknya berjajar lebih dari 500 house-boat yang berarsitektur kayu dari Abad Victoria ditambah shikara-shikara, perahu-perahu dayung khas Kashmir yang berlalu lalang sebagai alat transportasi yang menambah kecantikan alam. Di Srinagar terdapat tempat ziarah Hasrat Youza Asuph yang dipercaya sebagai makam Gusti Yesus. Dalam Bavishya Mahapurana yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi terdapat penjelasan tentang Gusti Yesus yang berada di Kashmir.

Masjid pertama di Kashmir Masjid Shah-i-Hamdan dengan arsitektur kayu yang indah terletak di samping kanan sungai Jhelum yang mengalir ke Pakistan. Masjid Jamia dengan arsitektur kayu dengan 370 pilar yang terbuat dari batang pohon pinus utuh dengan bentuk cincin segi-empat dengan taman di tengahnya. Sangat jarang masjid berbentuk demikian, ada yang komentar seperti Hindu Temple di Nepal. Di dekat Danau Dal juga ada Masjid Hasrat Bal yang menyimpan relik rambut Nabi Muhammad. Di tepi Danau Dal naik ke bukit setinggi 304 m berdiri Shankaracharya Temple yang juga terkenal dengan bukit Takht-i-Sulaiman. Peninggalan-peninggalan dari berbagai kebudayaan tersebut ramai dikunjungi Wisatawan dan para Penziarah.

 

Danau Dal

Selama 3 malam rombongan menginap di house-boat di Danau Dal. Danau seluas 18 km2 mempunyai keliling pantai sepanjang 24 km. Sebetulnya ada Danau Naggin yang lebih kecil yang terpisah dari Danau Dal dengan sebuah jalan dan jembatan. House-boat berarsitektur kayu abad Victoria ini dikumpulkan dalam sebuah teluk sehingga tidak mengganggu fungsi Danau Dal. Luas satu unit house-boats dengan klasifikasi superdeluxe sekitar 150 m yang terdiri dari 3 Kamar Tidur dengan kamar mandi di dalam kamar lengkap shower air panas, Ruang Tamu dengan tivi, Ruang Makan, Dapur dan Balkon di luar. Dari balkon pemandangan sangat indah dan kelihatan bangunan Shankaracharya temple di atas bukit.

Bangun pukul 4.00 pagi kami duduk di balkon. Merenung. Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Tidak ada tindakan seorang Murshid tanpa maksud meningkatkan kesadaran disciples-nya. Guruji mengajak rombongan untuk mengalami, merasakan perjalanan. Beliau betul-betul mengantar anak-anaknya. Tidak mungkin rombongan sampai ke Kashmir tanpa bimbingan Guruji. Kalau berangkat sendiri pun kita tidak tahu mana yang penting dan ada kemungkinan kita kan terpengaruh mandala yang mungkin tidak sesuai dengan peningkatan kesadaran kita. Dengan berbagai kesibukan yang luar biasa padatnya dan usia di atas setengah abad, beliau masih sempat menulis ratusan artikel di Harian di Bali, Jakarta Post, ratusan buku bahkan kini sebuah buku tebal berbahasa Inggris yang foreword nya ditulis oleh Prof. Fida Hassnain. Kami telah bukukan tulisan Heart to Heart dari Guruji yang beberapa diantaranya kami bacakan sebelum latihan Semedi 1 di Solo. Cuplikan yang kami tulis dengan karakter miring ini adalah tulisan Guruji bulan Juli tahun 2003 yang menyentuh hati para muridnya.

Beloved,

Hukum Aksi-Reaksi, Sebab-Akibat, berlaku selama kau masih berada dalam wilayahnya. Bila kau sudah keluar dari wilayah itu, maka dengan sendirinya hukum itu tidak mengikat dirimu lagi. Walau, hukum itu masih saja berlaku, masih saja mengikat mereka semua yang berada di dalam wilayahnya.

Sebab itu, bila seorang yang masih berada dalam wilayah Hukum Aksi-Reaksi dan menanyakan sesuatu sama saya – jawaban saya sudah pasti berbeda dari jawaban yang saya berikan kepada orang lain yang sudah berada diluar wilayah itu.

What i say unto Thee, is meant for Thee.
Apa yang aku katakan kepadamu, hanya berlaku bagimu.

Pengalamanmu bagimu, pengalaman itu tidak berguna bagi orang lain. Pengalaman orang lain bagi orang lain, tidak berguna bagimu. Sharing yang kau lakukan hanya akan membingungkan kamu sendiri. Sharing dengan siapa, untuk apa? Apa yang mereka tahu tentang pengalamanmu?
Pengalamanmu unik, kamu belum pernah mengalami sesuatu seperti itu – oleh karena itu jangan pula mencocokkannya dengan pengalaman-pengalamanmu sebelumnya.

Aku sudah mulai memberi apa yang selama ini ingin kuberikan padamu. Berarti, tugasku sudah hampir selesai. Tinggal beberapa hati lagi yang ingin kusentuh. Tinggal beberapa jiwa lagi yang ingin kusalami. Tinggal beberapa sahabat lagi yang ingin kusapa. Yang kumaksud dengan “tugas” bukanlah sesuatu yang harus kulakukan, tetapi sesuatu yang ingin kulakukan. Keinginan yang membuat badan ini bertahan selama ini.

Aku ingin mengajakmu terbang bersamaku. Terbang melampaui lapisan langit tertinggi yang pernah terbayang olehmu. Sore itu, undangan telah kusampaikan….. selanjutnya terserah kamu…… ikut atau tidak…… karena aku menghormati kebebasanmu. Bila kau memutuskan untuk menunda perjalananmu, maka keputusan itu pun akan kuterima. Kelak, kau akan bertemu lagi dengan seorang pengembara seperti anand krishna, dan kau bisa saja melanjutkan perjalananmu dengan dia.

Kepada teman-teman di Bali (saat satsang beberapa hari yang lalu) dan teman-teman di One-Earth (yang menghadiri latihan pertama Zen angkatan ini) yang berkenan untuk membuka diri dan mengundangku masuk ke dalam hati mereka – aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Kasihmu telah membasahi jiwaku, apa yang kuberikan sore itu hanyalah respons terhadap luapan kasihmu.
Aku bersembah sujud pada Ia Yang Berada dan kurasakan Kehadiran-Nya di dalam hati-MU…….

Pranaam, Shata Koti Pranaam

Thy servant – a.k.

Tidak ada kata yang perlu kami tulis sebagai tanggapan atas tulisan beliau, mata ini basah.

Teman-teman yang lain bangun dan kami melihat burung elang mengepak-ngepakkan sayap sebentar untuk kemudian sayapnya melebar tak bergerak melayang ikuti angin. Kami ingin melihat burung King Fisher yang menjadi logo Perusahaan Penerbangan New Delhi- Srinagar, tetapi burung yang konon dapat melihat ikan dari ketinggian 50 m dengan bola mata lonjong itu tidak terlihat. Hanya burung Gagak dan burung gereja yang beterbangan. Kadang diri kami bertanya, Burung dan Tanaman bertindak selaras dengan alam, manusia lah yang bertindak tidak selaras dengan alam, mengapa kita disebut makhluk yang lebih tinggi derajatnya……… Kemudian kami ingat buku Vasishta Yoga, binatang dan tumbuh-tumbuhan sangat menderita karena menganggap semua yang terjadi di alam ini nyata, sedangkan manusia bisa mencapai pemahaman bahwa dunia ini maya, ilusi. Tetapi berapa banyak manusia yang menganggap dunia ini ilusi?

Pertanyaan kami selalu dijawab Guruji lewat Buku, lewat Heart to Heart atau pun lewat Satsang Beliau. Apa lagi yang harus ditanyakan? Yang jelas kami tetap bodoh. Pada waktu semua keluargaku tidur atau di ruang kantor sendirian sambil menulis kami selalu teringat Guruji. Foto Guruji kupasang di lemari kaca dan di laci kantor. Tetapi untuk kedekatan fisik kami biasa-biasa saja. Kami takut, mungkin akan ada yang tidak senang, itu pun bagian dari karma kami. Kami berdua suami istri hanya sepasang orang tua yang sering kambuh asam uratnya yang masuk ke Ashram pun termasuk baru. Menurut pengetahuan, orang yang sudah tua sudah terbentuk mind-nya dan sulit berubah. Itu pun kami sadari. Yang jelas kehidupan keluarga kami sangat berubah, walau masih jauh dari yang diharapkan Guruji.

 

Rozabal

Pagi itu rombongan ziarah ke Rozabal, tempat ziarah Hasrat Youza Asuph yang dipercaya sebagai makam Gusti Yesus. Kami sempat membaca di internet terjemahan cuplikan Bavishya Mahapurana yang ditulis sekitar tahun 100 Masehi. Seorang Raja bertanya kepada seorang suci, sebenarnya ia itu siapa. Dijawabnya bahwa ia dipanggil anak Tuhan, lahir dari rahim seorang perawan, dan juga disebut Isa-Masih. Sebagi seorang perenung, kesadaran kami selalu terlambat. Ketika sampai di houseboat malam harinya, kami baru ingat bahwa kira-kira setahun yang lalu sepulang dari acara di Jogya kami diajak mampir ke Goa Maria Kerep di Ambarawa. Begitu melihat patung Gusti Yesus disalib air mata langsung bercucuran dan hari ini kami dibawa Guruji dengan teman-teman ke makamnya. Gusti, terima kasih.

 

Masjid Ternama di Kashmir

Dari Rozabal, rombongan ziarah ke Masjid Jamia, masjid dengan arsitektur kayu dengan 370 pilar yang terbuat dari batang pohon pinus utuh dengan bentuk bangunan cincin segi-empat dengan taman di tengahnya. Sangat jarang masjid berbentuk demikian, ada yang komentar seperti Hindu Temple di Nepal. Sebuah ide yang berani pada zaman dahulu membangun mesjid yang dari luar hanya kelihatan masjid dari bentuk gerbangnya saja. Masjid Jamia dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1400 Masehi. Dari taman luas di tengah masjid kelihatan benteng peninggalan Kerajaan Srinagar megah di atas bukit. Dari Masjid Jamia, rombongan pergi ke Benteng hanya kami tunggu di mobil, jaga kondisi.

Selanjutnya, rombongan melihat masjid pertama di Kashmir Masjid Shah-i-Hamdan dengan arsitektur kayu yang indah terletak di samping kanan sungai Jhelum yang mengalir ke Pakistan. Dibangun oleh Sultan Sikander pada tahun 1395 yang didedikasikan kepada Mir Sayyid Ali Hamdani, orang suci dari Hamdani, Persia. Mesjid terbakar pada tahun 1480 dan 1731 dan direkontruksi oleh Sultan Hasan Shah setelah kebakaran yang kedua. Rombongan berjalan ke belakang masjid dan beristirahat di bawah pohon chinar yang daunnya mirip Mapple leaf yang kebetulan tersedia tempat duduk yang terbuat dari beton. Rombongan melihat ada batu bata dengan simbol segi enam bintang Daud, seal dari nabi Sulaiman. Seorang anak kecil bersedia difoto bersama Guruji dan Ibu Rani, dan teman-teman seperti anak kecil tadi, minta difoto bersama Guruji. Tempat duduk tersebut berada di tepi sungai Jhelum. Dan kelihatan ada bangunan di bawah yang zaman dahulu mungkin dipakai sebagai tempat berwudhu.

Dari Masjid Shah-i-Hamdan rombongan menuju Masjid Hasrat Bal yang menyimpan relik rambut Nabi Muhammad. Kami sempat melihat ruangan di kiri mimbar yang tertutup jeruji besi. Relik Nabi hanya dikeluarkan setahun sekali pada salah satu acara keagamaan. Di masjid tersebut juga ada gambar silsilah dari keturunan nabi dan bekas kitab Al Qur’an dalam tulisan besar dalam lembaran sebesar koran yang nampak terbakar pada zaman dahulu. Di dalam masjid ada batas perempuan boleh masuk dan kami melihat dua ibu-ibu menangis sambil bersujud di depan pintu pembatas. Di halaman masjid ratusan burung dara berkumpul dan banyak wisatawan yang berfoto bersama mereka.

Di tepi Danau Dal naik ke bukit setinggi 304 m berdiri Shankaracharya Temple yang juga terkenal dengan bukit Takht-i-Sulaiman. Peninggalan-peninggalan dari berbagai kebudayaan tersebut ramai dikunjungi Wisatawan dan para Penziarah. Tiba dijalan masuk penumpang harus keluar mobil dan setelah diperiksa baru boleh naik mobil lagi. Sampai di tempat parkir, banyak sekali polisi dan militer berjaga-jaga. Memotret dilarang dan camera dikumpulkan dijaga kami dan beberapa teman yang tidak naik tangga. Bagaimana naik tangga kalau asam urat sedang kambuh.

Dari Shankaracharya temple perjalanan di lanjutkan ke Nishat Bagh. Taman yang indah, dengan air mancur yang keluar dengan tenaga alam. Taman itu diperuntukkan untuk permaisuri dan para putri raja. Beberapa teman berfoto dengan memakai baju tradisional Kashmir. Hari itu perjalanan selesai dan dilanjutkan pulang ke house-boat.

 

Triwidodo

Mei 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: