Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kelima)


Satsang Malam Kedua di atas House-Boat

 

Catatan Kecil Kelima

            Sangat sulit membebaskan diri dari keterikatan terhadap lidah. Keterikatan yang cukup  berat, itulah sebabnya konon sebelum meninggal banyak orang yang meminta masakan tertentu. Organ pengecap di lidah mungkin hanya merupakan sebuah ilusi tetapi pengaruhnya dapat menghidupkan perekonomian. Semua Rumah Makan baik tingkat Warteg sampai yang berkelas Internasional, keberlangsungan kehidupannya tergantung dari organ lidah manusia.

            Seorang pilot itu harus menurunkan posisi dirinya mengambil penumpang dan untuk mengangkatnya menuju tujuan.Seorang Guru TK harus menyampaikan pengetahuan berdasarkan tingkat kemampuan murid TK-nya. Seorang Master harus menurunkan kesadarannya untuk dapat berkomunikasi dengan pengikutnya.

 

British Menu dan Pejaja Barang memakai perahu

            Selesai perjalanan dari New Delhi-Srinagar dan berkunjung ke rumah Profesor Fida Hassnain, rombongan meneruskan perjalanan ke Danau Dal dan menginap di house-boat. Pada malam pertama menginap tersebut, setelah selesai mandi, makan malam sudah disiapkan oleh Moh. Asyik. Selama perjalanan di Kashmir dan Leh menu makan siang atau makan malam selalu terdiri dari:

  1. Soup.
  2. Lauk utama misalnya Chicken atau Lainnya.
  3. Dua macam sayur misalnya green beans dan Broccoli
  4. Tea/Coffee.
  5. Desert atau buah.

Pengaruh British Menu terasa, bumbunya pun tidak terlalu banyak seperti makanan India. Menu India yang pas bagi lidah Jawa adalah Chicken Tandhuri, ayam bakar.

            Sangat sulit membebaskan diri dari keterikatan terhadap lidah. Keterikatan paling berat, itulah sebabnya konon sebelum meninggal banyak orang yang meminta masakan tertentu. Salah satu teman kami, Pak Marhento berkata, seandainya semua orang bisa melepaskan keterikatan terhadap selera yang tertanam di bawah sadar, semua warung akan tutup dan perekonomian akan melambat. Ada benarnya, bila orang tidak mempunyai keterikatan terhadap rasa dan selera lidah bagaimana Rumah Makan, Mbok Berek, Suharti, Ponyo, Gumati, KFC, Pizza dan lain-lain akan gulung tikar. Iklan Biskuit Roma, Coklat, Susu berbagai merek akan berantakan semua. Keberadaan hanya memberikan organ pengecap di lidah yang mungkin hanya sebuah ilusi tetapi pengaruhnya menghidupkan perekonomian. Guruji, Gusti, rasa itu bagi kami masih nyata bukan ilusi, pernah didepan kami tersedia masakan Thali di Restoran India, dan yang 100 % habis hanya yogurt dinginnya. Memang kami baca Terjemahan Buku Vasishta Yoga tentang ilusi, tetapi dalam praktek ilusi sebuah kecapan lidah pun terasa berat. Yang Mulia Atisha mengajarkan agar kita menekankan semua ini hanya mimpi, hanya mimpi, tetapi makan masakan yang bukan masakan Indonesia pun amat berat. Guruji, bimbing kami.

            Sehabis makan malam, kami rombongan enam orang tinggal di house-boat Firdaus yang terpisah dua unit house-boat dari tiga house-boat yang lain. Tiga house-boat yang lain terhubungkan dengan satu dermaga. Bagi rombongan kami, walau terpisah hanya dua house-boat untuk berkumpul kami harus naik shikara, perahu dayung khas Danau Dal. Membayar shikara untuk jarak dekat hanya sekitar Rp. 20.000, tetapi pada waktu malam hari menunggu shikara yang lewat perlu puluhan menit.

            Pada malam pertama menginap, setelah makan malam kami mengobrol di ruang keluarga, sambil melihat televisi. Akan tetapi para penjaja barang dagangan datang dengan beberapa perahu dan menggelar barang dagangannya sehingga ruangan penuh berupa barang jajaan. Kami tidak sempat tenang, dan karena belum mood, kami masuk kamar masing-masing dan mengobrol.

 

Mendatangi Satsang Untuk Mempertahankan Kesadaran

            Esoknya, kami diberi tahu semalam ada satsang dan bahkan dijemput dengan shikara dan dikatakan kami berenam sudah tidur kecapaian. Baru terpisah dua  house-boat saja, kami sudah melalaikan adanya Guruji, apalagi kalau jaraknya jauh dan lama tidak ke Ashram. Kontak dengan dunia, bagi kami memang memerosotkan kesadaran, sehingga kami perlu datang rutin ke Ashram, ke satsang yang penting untuk mempertahankan kesadaran. Jelas lain dengan Guruji, yang datang ke dunia ini untuk meningkatkan kesadaran kita. Beliau memang menurunkan kesadaran agar dapat berhubungan dengan kita dan mengajaknya naik dan terbang. 

            Oleh karena itu pada malam kedua, kami semua makan malam dengan cepat dan segera naik shikara berkumpul dengan teman-teman lainnya. Memang kami berenam menunggu, karena teman-teman lain sedang makan malam dan kami menyaksikan pemandangan malam hari yang indah di Danau Dal. Kami ingat Guruji pernah bekata, jangan menanyakan pertanyaan duniawi kepada Beliau, pertanyaan duniawi membebaninya. Tetapi pertanyaan apa yang harus kami siapkan, kami masih kental duniawi. …….. bila seorang yang masih berada dalam wilayah Hukum Aksi-Reaksi dan menanyakan sesuatu sama saya – jawaban saya sudah pasti berbeda dari jawaban yang saya berikan kepada orang lain yang sudah berada diluar wilayah itu. What i say unto Thee, is meant for Thee. Apa yang aku katakan kepadamu, hanya berlaku bagimu.
           
Pada waktu satsang, kami semua diminta sharing. Di pulau Jawa pedalaman, sebagian orang  tua seangkatan kakek kami dan sudah lebih banyak saat ini, yang mempercayai bahwa Sadapalon, Semar akan datang lagi untuk membawa kebenaran, membawa agama Budhi, agama kawruh agama pengetahuan. Bukan agama baru tetapi pengetahuan untuk menjalankan agama dengan lebih baik. Kami ingat penjelasan Prof. Fida Hassnain, bahwa pada setiap kaum terdapat kepercayaan masyarakat tentang akan datangnya Mahdi, Mesias yang ditunggu-tunggu. Selanjutnya kami sharing tentang Bodhidharma yang lama menghadap tembok untuk mempelajari dialek China. Menyampaikan lewat penterjemah sangat riskan, masalahnya bukan penguasaan bahasa, akan tetapi  tingkat kesadaran penterjemah yang mungkin berbeda sehingga tidak semua esensi dapat dapat disampaikannya dengan benar. Jauh di dalam hati kami, kami ingin pemandu yang berbahasa Indonesia, kami sulit menyerahkan keyakinan ini kepada mereka yang mengaku paham dalam agama yang bahasanya kurang kami mengerti. Bahasa agama adalah bahasa hati, dan bukan percaya membuta. Terima kasih Guruji.

            Tanggapan Guruji, Bahasa itu memang penting, beliau menyitir ucapan Baba, seorang pilot itu harus menurunkan posisi dirinya mencapai penumpang untuk mengangkatnya menuju tujuan. Beliau mengingatkan ungkapan, …… pada hari ini telah kusempurnakan agamamu, agar dapat menjadi pedoman bagimu. Mungkin kata-kata yang kami tulis kurang tepat, tetapi intinya sebelumnya, belum ada kitab yang ditulis dalam bahasa ini. Kita tidak perlu berdebat, karena persepsi stiap orang memang berbeda, tetapi pendapat Guruji itulah yang sesuai dengan diri kami.

            Mas Zembry, sharing tentang kita datang untuk merasakan, mengalami. Guruji menanggapi  memang demikianlah sebenarnya. Belajar bisa dari internet, tetapi proses pengalaman harus dialami secara pribadi. Guruji menjelaskan tentang Rozabal, tentang jalan yang bernama Isamarg, tentang perkampungan yang disebut Isabagh di Kashmir yang erat kaitannya dengan Gusti Yesus. Ma Archana membacakan tulisan Kata Pengantar oleh Prof. Fida Hassnain yang membuat kami semua berbahagia. Menurut Guruji, Prof. Fida Hassnain menulis terlampau tinggi dan bisa terjadi pemaknaan yang menyulut kontroversi di Indonesia. Ibu Pertiwi, sebagian pandangan putera-puterimu terlalu sempit, terlalu menganggap kebenaran harus sesuai konsep mereka. Tetapi kawallah Guruji dalam menyampaikan kebenaran. Om Prthvi Santi Om Svaha. Energi Kashmir memang luar biasa. Banyak tempat-tempat Ziarah Orang-Orang Suci. Mengalami energi ini penting bagi para komandan. Kami berbahagia melihat teman-teman yang muda-muda, layaklah mereka mendapatkan pasopati, senjata penakluk kebinatangan dalam diri. Energi yang penting bagi Ashram. Semoga teman-teman dapat berjuang sepenuh tenaga. Bagi kami yang sudah lebih dari setengah abad, diajak Guruji pun sudah sangat membahagiakan, biarlah kami terus menulis saja.

            Mengenai Semar, beliau menyinggung sedikit tentang Sapta Rshi. Menurut kepercayaan Hindu, masing-masing Kota mempunyai Pelindung, dan Semar adalah Pelindung di Indonesia. Dari internet dapat diperoleh informasi yang mungkin saja belum tepat. Dibawah The Highest Creative Intelegent terdapat Sapta Rshi yang pekerjaan mereka memberikan bantuan untuk Jiwa-Jiwa agar dapat kembali ke sumbernya. Mereka mempunyai pekerja 144.000 Rishi. Ketujuh Rshi ini berbeda-beda karena perolehan sumbernya berbeda dan sebagian Rishi telah diganti karena yang bersangkutan telah melanjutkan perjalanannya. Yah, mungkin ada sedikit kesamaannya dengan kepercayaan adanya malaikat.

 

Tentang Krishna Murti dan Osho

            Krishna Murti dan Osho adalah tokoh-tokoh spiritual yang handal, malang melintang dalam dunia spiritual. Nama putera Bunda Bumi ini sangat harum semerbak, pengikutnya menyebar ke seluruh planet ini, dan tulisan-tulisannya banyak digunakan sebagai rujukan. Enam atau tujuh bulan sebelum meninggalkan dunia, mereka terserang depresi. Ternyata pengetahuan, usaha keras nampaknya sulit juga mengubah dunia. Kesadaran manusia cenderung menurun. Krishna Murti meninggal karena penyakit Kanker. Osho di akhir hayatnya mengubah-ubah panggilan. Pertama agar dipanggil Rajnees saja kemudian Osho Rajnees, dan terakhir Osho saja. Mystic Rose, Laughing Meditation oleh sebagian orang dijelaskan dengan berbagai teori. Padahal setelah kita berupaya sekuat tenaga dan hasilnya belum memuaskan, sudah hopeless, maka yang kita punyai tinggal tertawa. Dan tertawa itu membuat kita tetap sehat. Mengapa depresi dapat menyerang mereka yang sudah berkesadaran tinggi, Guruji menambahkan sebagai alasan untuk meninggalkan dunia. Dalam hati kami semua terbersit kekhawatiran, Guruji sudah all-out, ratusan judul buku , ratusan artikel dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, ribuan satsang, vihar, jalan kemana-mana. Kita semua perlu all-out agar Guruji berbahagia. Semoga Bunda Bumi melancarkan pekerjaannya. Semoga Bunda Alam Semesta mengawal tugas pilihannya. Menyelesaikan Karma Bhoomi-nya. .

            Pak Marhento menanyakan penjelasan bahwa kita di dunia ini untuk menyelesaikan karma kita. Kemudia kita mendengar tentang quantum-leap yang dalam sekejap langsung meningkatkan kesadaran kita. Guruji menjelaskan, kita harus menyelesaikan karma kita. Dan penyelesaian karma di dunia ini memakan waktu l;ama. Akan tetapi penyelesaian karma di alam lain waktunya bisa saja sangat singkat. Mungkin saja mimpi pun dapat menyelesaikan karma kita dengan cepat.

            Guruji, kami ini belum tahu apa-apa. Seandainya kami berangkat sendiri ke Kashmir, kami sudah balik-kucing, melihat banyaknya militer di Airport Srinagar dengan senjata siap tembak. Kami pun tidak tahu tempat mana yang lebih penting. Tanpa penjelasan Guruji, kami buta dan mungkin saja kami terpengaruh oleh beberapa mandala yang mungkin kurang sesuai bagi perkembangan kesadaran kami. Kami pun belum tahu apa-apa, pada waktu menulis kisah yang kelima ini sudah keluar Heart to Heart Guruji tertanggal 26 Mei 2008.  Kami quote Heart to Heart dalam karakter miring.

            Gifts from Kashmir:

 

  1. I was tending my lamb… I thought tending the animal was the same like attending to the Master. Wasn’t I doing His work? Ah, I was wrong.
  2. In my arrogance, I thought I could help others. My Master reminded me, “You wretched, how can you help? ‘You’ who thinks of helping others, stands to be helped.”
  3. It was always easier for me to communicate with people outside the commune. So, I mingled more with the outsiders than the commune members. I thought they were dumb. Then, one day my Master warned me, “Then, you better be an outsider too.”
  4. I was so influenced by the world and its ways that I began to copy them indiscreetly. Before long, and before I could realize it, I became one of them: Cunning. My Master did not sympathize, “You bought the cunningness, now exhaust it first so you can come back to me.”
  5.  It took me many, many years to realize that I was always comfortable with people who would feed my ego. My Master said, “Yes, yes, a beggar is always asking for his bowl of ego to be filled with more ego.”

 

30 Mei 2008

            Kemarin sehabis tugas mengadakan acara kantor tentang Hari Air Dunia di Kota Kendal yang dihadiri Bapak Gubernur Jawa Tengah, kami segera balik ke Semarang untuk bersama-sama teman-teman mengikuti bedah buku Be Happy oleh Guruji di Jogya Expo Center yang dimulai pukul 19.00. Luar biasa, yang hadir sangat antusias. Guruji kelihatan muda dan penuh energi. Cinta memang membuat manusia lebih sehat. Pukul 21.30 kami semua limapuluhan orang dari Center Joglosemar mengikuti Satsang dengan Guruji. Kami sempat diminta sharing perjalanan ke Leh oleh Guruji kepada teman-teman semua. Pukul 23.00 baru selesai dan sepanjang jalan ke Semarang kami semua tidak tidur seakan mendapatkan limpahan energi dari Guruji. Pukul 02.15 kami baru sampai Semarang. Hitung-hitung malam ulang tahun kami yang ke lima puluh empat yang jatuh pada hari ini. Terima kasih Guruji.

 

Triwidodo.

Mei 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: