‘Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus’ dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

 

‘Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus’

Ihdinash shiraathal musta’iin. Ayat ‘Tunjukilah Jalan yang Lurus’, dalam Surat Al Faatihah ayat 6, mempunyai kaitan erat dengan beberapa keadaan. Pertama, adanya keyakinan terhadap Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang selalu memberi petunjuk atau hidayah. Kedua, manusia sedang melakukan perjalanan hidup dan setiap saat dihadapkan pada arah jalan yang bercabang dan harus membuat pilihan antara yang lurus dan jalan yang tidak lurus. Ketiga, secara tersirat manusia harus memahami tujuan perjalanan hidup itu sebenarnya kemana?

 

Kesadaran akan Kebenaran

Surat Al Faatihah membuka kesadaran bahwa adalah benar ada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kepada-Nya manusia menyembah dan mohon pertolongan. Kemudian manusia sadar ada jalan lurus dan jalan tidak lurus. Jalan lurus adalah jalan manusia yang mendapat karunia, sedang jalan yang tidak lurus dapat menjadikan manusia tersesat atau dimurkai-Nya. Kesadaran ini harus selalu dijaga setiap saat, agar manusia tetap berada di jalan yang lurus. Apabila manusia menyadari sedang berbelok dari tujuan, segera dia harus bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus dan yakin Allah Maha Mengampuni hambanya.

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan abadi, tujuannya adalah kebahagiaan abadi. Sedangkan makhluk itu tidak pernah abadi, yang abadi hanya Dia Yang Maha Abadi. Adalah sulit dinalar kalau manusia mencari hal-hal yang tidak abadi untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Kemelekatan manusia terhadap hal duniawi yang tidak abadi menyebabkan manusia lalai dan mengambil jalan yang berbelok.

 

Pilihan Jalan Amal, Dharma yang Lurus

Setelah manusia sadar tentang kebenaran, apabila dihadapkan pada suatu pilihan dia harus mempertimbangkan kebenaran sebagai landasan pemilihan. Manusia selalu dihadapkan antara pilihan yang menyenangkan inderawi sesaat atau pilihan yang akan menguntungkan akhirnya walau tampaknya kurang enak. Mahasiswa bisa memilih, happy-hour menghabiskan waktu bersenang-senang tanpa belajar. Bisa juga memilih belajar di perpustakaan dikelilingi gunungan buku text-book yang menjemukan. Kalau si mahasiswa sadar, paham akan kebenaran, dia akan memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus. Apabila si mahasiswa lalai sehingga mengikuti syahwat berhepi-ria, dan datang kesadaran, dia harus segera kembali ke Jalan Amal, Dharma yang lurus.

Seandainya manusia sadar dalam sholatnya, sadar tentang makna Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sadar bahwa setiap sholat selalu mohon petunjuk jalan yang lurus, insya Allah dia tetap terjaga untuk memilih jalan yang lurus. Mereka yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya, sebetulnya telah lalai dalam shalatnya.

 

Menjaga Kesadaran

Dalam surat Al Ashri, dinyatakan bahwa setiap waktu manusia selalu berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beramal sholeh, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Ini adalah suatu anjuran agar tidak merugi, manusia harus membuat persaudaraan, sangha, support-group yang terdiri dari mereka yang beramal sholeh untuk memelihara kesadaran. Anjuran sholat berjamaah, bukan berarti setelah sholat bersama, bahkan ada yang terlambat satu rakaat terus bubar. Kalau terjadi hal demikian, maka makna berjamaahnya kurang maksimal. Saling nasehat menasehati dalam kebenaran, merupakan hal penting dalam ikatan persaudaraan. Problemnya adalah bahwa masing-masing insan merasa telah benar, apalagi yang telah fasih berbahasa Arab. Padahal syarat dalam support-group tersebut adalah hanya diperuntukkan bagi mereka yang beramal sholeh, mereka yang selalu memilih Jalan Amal, Dharma yang lurus.

Catatan Kecil

Istilah bahasa Sansekerta, sengaja dimunculkan agar para pembaca dengan berlatar belakang bermacam-macam agama dapat saling memahami dan menghormati demi Indonesia tercinta. Semoga kita selalu sadar akan petunjuk-Nya yang tidak henti-hentinya mengetuk hati nurani kita.

Damai, Rahmat dan Berkah untuk semua makhluk-Nya.

 

Triwidodo

Juni 2008.

Iklan

Rileks, Pasrah dan Keselarasan dengan Alam Semesta

Gelombang otak dan frekuensi napas

            Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG). Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam EEG adalah berapa bunyi tut dalam satu detik. Satu bunyi tut sama dengan satu putaran per detik atau 1 hertz.

            Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak  berkisar 14 hertz.  Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta.

            Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik, sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi atau pada waktu akan tidur.

            Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi.

            Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi deep sleep, tidur tanpa mimpi, dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz.  Ketika itu terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Ketika sedang sakit, seseorang akan tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pada waktu keadaan koma, gelombang otak berada pada 0.5 hertz. Sebaliknya ketika pikiran begitu kacau, napas begitu tak teratur gelombang otak berada pada kondisi gama, diatas 30 hertz.

Pikiran Bawah Sadar

            Seperti halnya gunung es, yang nampak di atas permukaan laut lebih kecil dibanding yang berada dibawah permukaannya, demikian pula pikiran pada waktu kita terjaga, conscious mind  lebih kecil daripada pikiran bawah sadar, subconscious mind. Perbandingan antara  conscious mind dan subconscious mind kira-kira 12% berbanding 88%.

            Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari pikiran bawah sadar. Hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi bagian dari bawah sadar dan sulit dihilangkan.

            Pada waktu napas lebih tenang dan memasuki kondisi theta, pikiran menjadi kreatif dan inspiratif. Afirmasi dalam kondisi ini masuk bawah sadar, dapat mengubah citra diri, mengubah kebiasaan, menanamkan pikiran tertentu dan menetapkan tujuan.

Kondisi Gelombang Pikiran yang Selaras dengan Alam

            Gelombang elektromaknetik mampu merambat pada permukaan bumi. Secara matematis dapat dihitung bahwa, keliling bola bumi sekitar 40.000 km, sedangkan kecepatan cahaya adalah sekitar 300.000 km/detik. Frekuensi gelombang elektromaknetik bumi adalah kecepatan cahaya (300 km/detik) dibagi panjang perambatan gelombang elektromagnetik (40.000 km) =  7.5 hertz. Berarti dalam 1 detik cahaya (gelombang elektromagnetik) akan mengelilingi bumi 7.5 kali. Tentu saja perhitungan ini tidak akurat sekali, gelombang pikiran bumi diperkirakan antara 7-8 hertz. Pada waktu seseorang tenang, rileks maka gelombang otaknya dapat selaras dengan gelombang pikiran bumi. Keadaan ini adalah yang paling penuh misteri, disinilah biasanya akan terjadi keadaan metafisika dari orang yang bersangkutan.

Kedekatan dengan Guru

            Seorang Guru, seorang Master, seorang bijak, napasnya tenang dan dengan mudah memasuki kondisi alpha dan theta. Ada teknik MIRM (Masukan Informasi melalui Rileksasi Meditasi), conscious mind dibuat tenang, hening dan badan rileks, disertai background musik yang tenang lembut. Pada waktu demikian concious mind  menjadi sangat waspada. Dalam waktu demikian, Guru mengucap verbal, memberi masukan informasi yang konstruktif, realistik, universal. Masukan informasi ini akan disimpan seluruhnya pada pikiran bawah sadar.

            Ketika seseorang tegang, penuh upaya, aliran energi melamban, bahkan tidak mengalir. Menjadi rileks adalah terbuka sedang menjadi tegang adalah tertutup. Berada dekat Guru, apabila gelombang otak selaras dengan gelombang otak Guru, akan terjadi perubahan luar biasa, quantum leap . Bersikap terbuka dan rileks secara intelektual dan emosional, kemudian berada di sekitar Guru, saat mendengar, berbicara, mengikuti berbagai hal yang dia ucapkan, memperbesar potensi terjadinya quantum leap. 

Sinkronisasi dan Berdoa Bersama

            Unsur yang paling penting dalam berdoa adalah ketenangan. Pada waktu tenang, kita menjadi reseptif dan energi alam mulai mengalir dan mengisi kita. Energi alam menekan energi lama yang kotor ke bawah dan mendesaknya ke tanah lewat telapak kaki yang tanpa alas. Sehingga setiap saat kita berdoa, terasa lebih segar dan bersemangat. Pada waktu sinkronisasi, apabila lebih dari satu orang mengalami relaksasi total pada saat yang sama, energi alam yang mengguyuri tempat itu semakin terasa. Demikian apabila di antara mereka ada yang sakit atau sedang kacau pikirannya, dia akan ikut terguyuri juga, dan ikut merasakan manfaatnya.

            Tempat-tempat ibadah seharusnya dijaga kebersihannya, karena dapat digunakan sebagai pusat-pusat  energi. Tempat-tempat demikian dapat dijadikan sentra-sentra sinkronisasi antara energi manusia dan energi alam. Apabila hal ini diperhatikan, kesadaran akan meningkat, dan lebih peduli terhadap lingkungan.

Kepasrahan Membuat Rileks

            Ketidak pasrahan diri kepada suatu pihak biasanya disebabkan karena tidak adanya keyakinan akan adanya kebenaran pada pihak tersebut.  Adanya kepasrahan berarti adanya keyakinan tentang kebenaran. Kemampuan kita pasrah menjadikan kita mampu melihat kebenaran pada semua, tidak ada monopoli kebenaran, selanjutnya menjadikan kita mampu melihat Tuhan di timur, di barat dan dimana-mana. 

            Dalam Kitab Suci disebutkan : “Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”  Selaras dengan Alam Semesta.

 

Triwidodo.

Juni 2008.

Di Bawah Telapak Kaki Ibu, Pancaran Kasih Tak Berkesudahan

 

Ibu, telapak kaki, dibawah telapak kaki dan kasih tak berkesudahan

Kata mutiara ‘surga di bawah telapak kaki ibu’, mempunyai kaitan erat dengan makna ‘ibu’. Akan tetapi ada hal yang sering luput dari perhatian yaitu makna ‘telapak kaki’ dan makna yang ada ‘dibawah telapak kaki’ yaitu bumi. Secara tersirat pun jelas terdapat ungkapan pemahaman kasih tanpa kekerasan. Pemahaman sekelompok manusia yang mengkaitkan pemaksaan kehendak dengan jalan kekerasan dan mengkaitkannya dengan surga perlu dicermati dengan teliti.

Telapak kaki merupakan bagian tubuh paling bawah yang bersentuhan dengan bumi, dan merupakan alat untuk melangkah di atas bumi. Telapak kaki ibu melambangkan perjalanan kehidupan seorang ibu. Bagi kaum sufi makna perjalanan itu jauh lebih penting dari pada tujuan. Dengan perjalanan yang benar maka hasil akhir tujuan adalah suatu keniscayaan. Dalam perjalanan itu akan ditemui berbagai peristiwa. Peristiwa yang ditemui harus dijalani dengan kesadaran, agar tidak muncul penyebab baru yang dapat memperpanjang perjalanan. Tindakan kekerasan untuk memenuhi kebutuhan ego akan menimbulkan penyebab baru yang akan memperpanjang perjalanan.

Bumi yang berada dibawah telapak kaki adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk yang hidup di atasnya. Sifat kasih bumi begitu tulus, begitu ikhlas, tidak mengharapkan imbalan apa pun juga dari yang dihidupinya.

 

Perjalanan kehidupan seorang ibu

Kehidupan sosok ibu merupakan suatu siklus, putaran roda kehidupan. Selama sembilan bulan sebagai janin, bayi tinggal tenteram dalam rahim ibunya dan segalanya telah tercukupi. Mungkin seorang ibu tidak banyak tahu mengenai teori kasih, tetapi selama sembilan bulan dia melakukan praktek mengasihi janin yang berada dalam kandungannya. Pada tahap ini sebuah janin betul-betul tergantung mutlak kepada Sang Ibu, dengan bantuan alam tentunya.

Selanjutnya, bagi anak bayi yang baru lahir, payudara ibu adalah sumber kehidupannya. Masalah apa pun yang dihadapi, saat sang bayi berada di dekat payudara ibunya, dia akan tenang kembali.

Pada tahap selanjutnya ketergantungan hidup sang bayi sudah tidak mutlak lagi tergantung pada sang ibu saja. Ketika sang Anak mulai menapakkan kakinya di bumi dan mulai berjalan, dia sudah mulai dapat memenuhi keinginannya dengan mendekati sesuatu dengan kedua kakinya. Tahap berikutnya adalah ketika seorang remaja mulai mandiri, tidak lagi tergantung kepada orang lain.

Ketika sudah matang sebagai calon ibu, seorang perawan mengikuti nalurinya untuk melestarikan jenisnya dengan berumah tangga dengan lelaki pasangannya yang dapat mengisi kekurangan pada dirinya. Proses menyatunya dua jiwa lewat hubungan jasmani merupakan peristiwa yang suci. Ketika sang mempelai perempuan berniat mempunyai keturunan dan ketika sel telurnya dibuahi sperma, maka proses berkembangnya janin, bukan lagi tugas seorang ibu. Berkembangnya satu sel induk menjadi janin, fasilitas air ketuban dan lain-lainnya menjadi urusan alam.

Dalam perkembangan hidupnya seorang anak manusia mempunyai kebutuhan dasar hampir sama dengan hewan yaitu makan, minum, seks dan tidur yang nyaman. Ketika seseorang menjadi ibu maka kasihnya tumbuh kepada sang anak, baik ketika masih berupa janin maupun anak dewasa. Kasih seorang ibu terhadap putranya berjalan searah, memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari anaknya. Perbedaan antara manusia dan hewan adalah bahwa rasa kasih manusia bisa berkembang sehingga dia dapat mengasihi semua makhluk, sedangkan hewan mempunyai keterbatasan untuk itu.

 

Bumi, ibu semua makhluk yang penuh kasih

Semua makhluk yang hidup di bumi ini dipenuhi kebutuhan hidupnya dari lahir sampai mati oleh bumi. Makanan, minuman, keperluan hidup semua diperoleh dari bumi. Kasih bumi terhadap semua makhluk hidup berjalan searah. Dia tidak mengharapkan apa pun dari makhluk yang dihidupinya. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya olehnya. Bahkan napas kehidupan pun disediakan oleh bumi. Enam milyar manusia, milyaran trilyun sel makhluk hidup, trilyunan tanaman, trilyunan binatang ber sel satu sampai binatang besar semuanya dihidupi makan dan nafasnya oleh bumi. Bumi selain memberikan kehidupan juga terus berputar agar kehidupan dunia dapat berkelanjutan. Apabila bumi berhenti berputar sekejap saja, musnahlah semua makhluk yang hidup di atasnya.

 

Bumi merupakan makhluk yang hidup

Suhu badan kita 37 derajat Celcius. Apabila diluar badan temperaturnya tinggi, badan akan mengeluarkan keringat agar suhu badan tetap stabil. Apabila di luar dingin, kulit tubuh akan mengerut dan mengeluarkan panas agar suhu badan tetap stabil juga. Bumi pun mempunyai suhu tertentu, suhu bumi berkisar 13 derajat Celcius. Apabila di luar panas, es di kutub akan mencair dan menjaga suhu bumi agar stabil, kemudian apabila di luar dingin, air laut akan membeku dan mengeluarkan panas untuk menjaga suhu bumi tetap stabil.

Kadar oksigen di atas permukaan bumi sekitar 21%, kalau oksigen terlalu besar, mudah terjadi kebakaran hutan dan kehidupan punah. Juga kalau oksigen kurang dari 21%, oksigen akan cepat habis untuk bernapas semua makhluk dan makhluk pun akan punah. Kandungan garam di laut pun selama ribuan tahun berkisar 3.4%.

Para manusia yang mengakibatkan global warming, ibarat sel kanker dalam tubuh manusia yang tidak selaras dengan tubuh dan mempependek usia tubuh. Tindakan manusia yang tidak sesuai dengan alam akan memperpendek usia bumi.

Seperti halnya puluhan trilyun sel pada tubuh manusia yang hidup pada tubuh manusia dan dihidupi manusia, seluruh makhluk di atas bumi pun hidup di atas bumi dan dihidupi bumi. Milyaran planet seperti bumi pun keberadaannya dihidupi oleh matahari dan planet semacam lainnya. Demikian seterusnya, dan semuanya dihidupi oleh Bunda Alam Semesta.

 

Perjalanan rasa kasih manusia hingga mencapai rasa kasih abadi

Kasih seorang ibu dapat berkembang dalam diri setiap orang untuk mengasihi putranya dan meningkat hingga mengasihi semua makhluk. Ketika manusia mengasihi semua makhluk seperti kasih bumi terhadap semua makhluk, maka pada saat demikian seseorang sudah selaras dengan alam, jiwanya menyatu dengan alam semesta. Hanya apabila pria ataupun wanita dapat memberikan kasih tanpa pamrih dapat dikatakan selaras dengan alam semesta. Keselarasan dengan alam semesta akan mendekatkan diri kepada Ilahi, Bunda Alam Semesta. Surga.

 

Triwidodo.Juni 2008.

Hambatan di Dalam dan di Luar Diri Terhadap Mereka yang Berjalan Mengikuti “Guru”

 

Masyarakat katak di dalam sumur dan burung pembawa berita

Ada cerita spiritual yang patut dihayati. Sebuah Katak Kecil Cerdas lahir dan dibesarkan di dalam sebuah sumur. Bapak-ibu, kakek-nenek, pemuka, tokoh mayarakat katak menjelaskan bahwa dunia ini adalah sumur ini, mereka tidak dapat lepas dari sumur ini, usaha keluar sumur ini adalah sia-sia. Itulah batas kesadaran masyarakat katak, mind mereka terbatas. Sang Katak Kecil Cerdas paling suka mendengarkan cerita burung yang walaupun jarang, tetapi kadang ada juga yang mampir di atas sumur. Mendengarkan ocehan Burung Pembawa Berita, Sang Katak Kecil Cerdas merenung, mempertanyakan apakah dunia ini hanya terbatas dalam sumur? Tetapi pertanyaannya itu di simpan dalam hati, dia tidak mau bertentangan dengan masyarakat katak dalam sumur. Sampai pada suatu hari, seekor burung besar datang hinggap di atas sumur. Melihat perhatian Sang Katak Kecil Cerdas tentang dunia yang mungkin ada di luar sumur, Sang Burung mengajaknya naik ke punggungnya untuk melihat dunia luar. Sang Katak Kecil Cerdas melepaskan keragu-raguannya, mengikuti panggilan jiwanya, tubuhnya meloncat ke punggung Sang Burung Pemandu dan terjadilah loncatan kuantum, perubahan kesadaran. Dia akhirnya melihat Gunung dan Samudera luas di luar lingkungan sumurnya.

 

Mind membelenggu kesadaran manusia

Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan khas atau karakter yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan yang dilakukan berulang kali membentuk synap-synap saraf baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari Otak Bawah Sadar manusia. Sirkuit synap-synap saraf otak hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya. Menghadapi segala sesuatu yang datang kepadanya, manusia langsung bereaksi bahkan sebelum mereka menyadarinya. Thoughts yang datang langsung dilempar secara terburu-buru dan mind yang terkondisi yang bereaksi.

 

Pikiran, tubuh dan jiwa yang belum terfokus

Selama ini manusia membiarkan pikiran, mind yang berkuasa. Tubuh, body juga dibiarkan menuruti panca indera dan pikiran yang kondisinya belum tentu sehat. Jiwa, soul, nurani, hati yang letaknya lebih dekat ke jantung, sering dipinggirkan oleh otak yang jumawa. Setiap hari saat melangsungkan kehidupan, pikiran menarik pada suatu arah, hati menarik ke arah lain. Ketika mencoba melakukan apa yang bersumber pada hati, pikiran merecoki dengan logika untuk tidak melakukan hal tersebut. Ini menimbulkan ketidaknyamanan tubuh dan ia ingin istirahat, melepaskan ketegangan, tidur, melupakan pertentangan antara pikiran dan hati. Hanya manusia yang bisa mengharmoniskan antara pikiran, hati dan tubuh yang dapat hidup selaras dan berbahagia. Latihan meditasi dapat membantu memfokuskan ketiga bagian tersebut. Belenggu conditioning mind tersebut harus didobrak oleh mereka yang berani, dengan dipandu oleh seseorang yang diyakini telah mendapatkan pengetahuan mengenai hal ini. Keyakinan terhadap Sang Pemandu tersebut harus melibatkan kefokusan antara pikiran, hati dan pikiran. Itulah yang dialami Katak Kecil Cerdas untuk mengikuti Sang Burung Pemandu keluar dari kungkungan sumur yang lama.

 

Masyarakat dan Lingkungan Yang Masih terbelenggu Kondisinya

Berbahagialah Sang Katak Kecil Cerdas yang keluar dari belenggu sumur. Dalam kehidupan nyata mereka yang cerdas dan mengikuti Guru Pemandu akan mendapatkan banyak tentangan dari masyarakat dan lingkungan. Masyarakat dengan belenggu mind-nya sulit menerima adanya seorang Guru Pemandu yang telah melampaui mind-nya, mereka selalu membuat perbandingan dengan diri mereka sendiri. Masyarakat akan menghalang-halangi baik karena rasa sayangnya pada seseorang agar jangan tersesat, atau pun agar seseorang tetap berpegang teguh pada keadaan seperti seseorang bertemu seorang Guru Pemandu. Kejadian ini selalu terjadi sejak zaman dahulu kepada pengikut Orang Suci.

Pertama kali perlu dipahami, bahwa manusia lahir dengan membawa sifat genetik dari warisan leluhurnya lewat kedua orang tuanya. Orang tua, lingkungan, pendidikan membentuk kerangka kebenaran bagi dirinya. Kalau seseorang lahir di lingkungan berbeda, orang tua yang berbeda, pendidikan yang berbeda maka kerangka kebenarannya akan berbeda. Sesorang yang lahir di pedalaman Kalimantan seandainya dia lahir di Tibet akan mempunyai kerangka kebenaran yang berbeda. Pemahaman akan kerangka kebenaran ini akan membuat keterbukaan, penghormatan terhadap kerangka kebenaran orang lain dan mulai meniti ke dalam diri untuk mencari kebenaran sejati.

 

Menaklukkan ego di dalam dan melepaskan belenggu keterikatan di luar

Jalan menuju Kebenaran adalah melalui hati. Melampaui hubungan pikiran-tubuh. Carilah dan anda akan menemukan, mintalah dan ia akan diberikan, ketuklah dan pintu akan dibukakan. Pikiran atau ego tidak bisa ditaklukkan dengan mudah. Ini karena ia menjadi bagian integral dari diri. Seseorang yang lemah dan mudah mengalah kepada ego, akan mengikuti pola-pola rutin yang telah membelenggunya. Peran Guru sangat penting. Hambatan di dalam diri adalah ego, sedang hambatan di luar adalah belenggu keterikatan di masyarakat. Ditengah masyarakat yang belum terbuka dan belum dapat menerima kebenaran pandangan pihak lain, selalu saja ada kelompok masyarakat yang merasa benar dan memaksakan pemahaman kebenarannya untuk diikuti yang lain. Keadaan akan semakin parah apabila beberapa pihak membiarkannya demi kepentingan politik atau kekuasaan. Tidak mudah melepaskan diri dari belenggu. Kembali peran Guru menjadi sangat penting.

 

Triwidodo.

Juni 2008.

Kebenaran Semu Akibat Belenggu Conditioning

 

Sekelompok masa melakukan tindak kekerasan terhadap sebuah kelompok lain yang sedang berkumpul dengan tujuan damai. Pemicunya adalah fatwa tentang “kebenaran”. Apakah kebenaran yang diyakini ini benar berdasarkan pandangan politis yang berujung kekuasaan ataukah suatu tindakan yang bersifat benar, tulus dan keluar dari hati nurani? Penyelesaian oleh yang berwenang pun terperangkap dalam kebenaran menurut kerangka tertentu. Kebenaran itu sebenarnya apa? Apakah kita semakin jauh terpeleset dari kebenaran dan terperangkap dalam belenggu kebenaran semu?

Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan khas yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan yang dilakukan berulang kali membentuk synap-synap saraf baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari Otak Bawah Sadar manusia. Sirkuit synap-synap saraf otak hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jati diri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, yang tertinggal adalah synap-synap baru yang masih labil, yang muncul lenyap, thoughts. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian.

Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-lain, mekanismenya sama : dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh instink hewani atau property addict persis sama dengan narcotic drug addict. Kecanduan kekerasan pun juga keadaannya tidak jauh berbeda.

Menurut ilmiah, kebenaran bagi yang mengeluarkan fatwa, kebenaran bagi yang mempraktekkannya dengan kekerasan adalah hasil conditioning bawah sadar. Perilaku ini dimanfaatkan oleh mereka yang mendapat keuntungan dari hal tersebut. Bahkan, sebagian oknum membuat conditioning bagi kepentingan mereka. Fatwa merupakan conditioning bagi mereka yang meyakininya.

Menurut beberapa pakar, fatwa pada dasarnya adalah sebuah konsep Islam yang perannya baru datang agak belakangan. Di masa Nabi, istilah “fatwa” secara teknis tidak pernah dikenal. Ada sebuah hadis Nabi yang cukup terkenal, yakni “Istafti qalbak” (mintalah fatwa dari hatimu), hadis ini menegaskan karakter fatwa yang personal dan individual, dan bukan proyeksi sebuah lembaga.

Setelah kerajaan Islam semakin besar, khususnya setelah memasuki abad ke-8, fatwa mulai dilembagakan dan memainkan peran penting. Dalam sejarah Islam, sering terjadi perkaitan antara agama dan politik, antara ulama dan penguasa. Di masa silam, adalah lumrah menyaksikan kerjasama antara ulama dan penguasa untuk mengefektifkan sebuah fatwa.

Menurut beberapa pakar, ketidak-beranian masyarakat mengambil keputusan dan menanti fatwa adalah gejala “ketidakdewasaan moral”. Menanyakan hukum mengenai segala sesuatu menandakan bahwa masyarakat tidak berani berpikir sendiri. Mereka memandang bahwa hukum adalah sesuatu yang tertera dalam teks Kitab Suci, sementara hasil penalaran manusia bukan dianggap sebagai suatu hukum yang mengikat. Karena orang-orang yang dianggap sebagai ahli tentang teks agama adalah para ulama, maka mereka selalu berpaling kepada ulama untuk menanyakan segala hal. Kalau sudah demikian, maka kualitas ulama itulah yang menjadi titik persoalan. Bagaimana para ulama mempergunakan hati nuraninya.

Sangat penting bagi manusia untuk mengembangkan kesadaran moral yang tinggi, mendalam, dan penuh tanggungjawab. Hal itu tak bisa lain kecuali jika masyarakat terus mengasah agar nuraninya berkembang dengan sehat. Nurani yang sehatlah yang akan menjadi pemandu bagi seorang beriman. Sehingga masyarakat dapat melaksanakan Hadis Nabi yang terkenal, “Istafti qalbaka”, mintalah fatwa pada nuranimu sendiri. Manusia tidak boleh taqlid membuta.

Manusia harus mempertanggung-jawabkan semua tindakan anggota tubuh pada hari pembalasan. Pikiran, ucapan, dan perbuatan yang telah dilaksanakan mempengaruhi dunia, dan kita tidak dapat mengembalikan dunia menjadi seperti sebelum terjadinya perbuatan kita. Kebenaran yang diyakini mestinya adalah kebenaran nurani, bukan kebenaran conditioning pikiran. Dia bersemayam dalam hati nurani hamba-Nya yang beriman, bukan dalam pikiran manusia yang penuh rekayasa. Hati nurani adalah kalbu tempat dimana tidak ada belenggu conditioning. Hari pembalasan adalah pasti, adanya sebab-akibat adalah pasti, dan kepastian itu muncul dari naluri, intelegensia hati nurani, agar manusia berintrospeksi, mengendalikan nafsu dan jiwanya kembali dalam keadaan tenang.

Dalam konteks keterkaitan ilmiah, maka hubungan antara agama dan politik harus kita waspadai sehingga ia tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu kriteria yang mudah dikenali agar dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari adalah dengan menghindari penggunaan kekerasan. Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi. Penggunakan simbol-simbol agama untuk hal demikian bisa sangat menyesatkan.

 

Triwidodo.

Juni 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Ketujuh)

 

Bhinneka Tunggal Ika

 

Catatan Kecil Ketujuh

Di Kota Kargil yang kecil yang terletak diantara Srinagar dan Leh, di batas kotanya terdapat tulisan diatas pasangan batu dengan huruf yang besar Unity in Diversity is our Faith, yang mengingatkan kita dengan semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika. Bedanya nampak jelas bahwa masyarakat di Jammu dan Kashmir memang tidak mempermasalahkan keyakinan setiap orang. Di Indonesia sebagian masyarakat hanya berbasa-basi. Keangkuhan tentang kebenaran yang dipilihnya, seakan-akan dia seperti Dia Yang Selalu Benar. Toleransi itu dapat berarti saya yang benar, tetapi kamu begitu tidak apa-apa lah. Bagi suatu kelembagaan agar bertahan memang harus mempertahankan kebenaran pendapat kelembagaannya. Padahal tidak ada sesuatu yang abadi, semuanya berubah, hanya Dia yang abadi. Kelembagaan dan kemudian kekuasaan politis membuat friksi-friksi di masyarakat. Tidak dapatkah kata toleransi diganti apresiasi? Jelas tidak boleh bagi lembaga yang mapan.

 

Vihara Buddhis di tengah Perkampungan Muslim

Di depan hotel, dibalik perkampungan penduduk terdapat sungai Indus dan hanya berjarak dua ratus meter terdapat bangunan pengambilan air untuk keperluan irigasi pertanian. Irigasi tersebut untuk mengairi tanaman apple dan apricot dan semacam tanaman untuk penghijauan.

Selepas Kota Kargil mas Yuda berbicara di tengah kesunyian. Tiba-tiba datang pikiran kepada beliau, “Kita ini sering lupa kerjasama”….. Ego kita terlalu besar. Banyak konflik di kita yang terjadi karena kita ingin memiliki Guruji. Saling berlomba-lomba menarik perhatian Guruji. Rasa iri hati, menyepelekan yang lain, sebetulnya berasal dari ego. Guruji adalah untuk kita semua. Kami mendengarkan dengan seksama, kami yakin tidak ada sesuatu yang kebetulan. Kami diminta melihat kesetiaan mas Wito, yang care sekali terhadap Guruji. Kepatuhan mas Yuda, sehingga tidak tenang melihat kala melihat kendaraan Guruji tidak berhenti, mengapa ada kendaraan rombongan yang berhenti, dan keluar mobil. Mereka memang luar biasa. Kami membenarkan pendapat Mas Yuda, kami yakin Guruji telah mengetahui segalanya. Dan tindakan, ucapan dari Guruji adalah semata-mata demi peningkatan kesadaran kita. Bumi, matahari, alam semesta juga tidak membeda-bedakan, kasihnya tulus terhadap semua manusia. Seorang yang selaras dengan alam semesta akan penuh kasih terhadap sesama.

Kecintaan terhadap alam oleh Pak Hari, memang luar biasa. Beliau tidak mau tidur di perjalanan. Sudah lama menjadi pendaki gunung dan pecinta alam, memahami untuk mendaki Himalaya diperlukan persyaratan-persyaratan yang cukup berat. Kini beliau langsung melewati pegunungan Himalaya, tustelnya tidak berhenti memotret. Mungkin puluhan ribu gambar telah direkamnya.

Ada satu teman sekamar kami yang kadang juga semobil dengan kami menggantikan mas Wito yang bertukar tempat. Namanya Sugandi, bujangan ini polos dan sering dipanggil teman-teman Gandhiji, Bapu. Kami juga banyak belajar dari teman satu kamar ini. Ketika kecil, Mas Gandi sering sakit, sehingga mempunyai perhatian yang besar terhadap meditasi dan kesehatan. Sebelum ikut Guruji ke China beberapa tahun sebelum perjalanan ke Leh ini, mas Gandi sedang sakit, tetapi mimpi Guruji meminta dia harus ikut. Di atas pesawat suhunya mencapai 38 derajat Celsius. Ketika teman-teman lain turun di Bandara Beijing dan melanjutkan perjalanan, dia ditahan petugas kesehatan China karena suspect flu burung. Mas Gandi yang tidak mengerti Bahasa China dan belum menguasai Bahasa Inggris pada saat itu hanya ikut petugas saja. Dari bandara dia dibawa mobil ke luar kota lebih dari satu jam. Dia bercerita bahwa dia ingat banyak desas desus tentang orang-orang yang diambil organnya di China. Memang belum tentu benar, tetapi khawatir tetap menghantuinya. Tetapi mau apalagi….., lari? Malah semakin kacau. Kalau membayangkan Mas Gandi saat itu memang agak lucu, sudah bingung tetapi tetap polos. Semua orang menyenanginya karena kepolosannya. Akhirnya sampailah dia ke bangunan seperti rumah sakit. Diajak masuk kamar disuntik, diberitahu sesuatu, tetapi dia hanya diam saja, tidak ngerti bahasanya. Akan tetapi ada seorang yang kelihatannya menguruskan segala sesuatunya, bahkan akhirnya memberinya surat dan mengantarkannya ke airport, walau sang penolong tidak dapat menunggunya. Dari bahasa Tarzan, mas Gandi tahu sang penolong ada urusan dan dia hanya diantarkan ke tempat penerbangan. Akhirnya mas Gandi naik pesawat yang juga tidak tahu ke mana, tetapi turun dari pesawat sudah ada yang menjemput dan diantarkan ke rombongan. Mungkin perjalanan ke China untuk menyelesaikan utang-piutang, sebab-akibat yang pernah dilakukannya. Sampai sekarang pun dia tidak tahu nama orang yang menolongnya. Tidak ada suatu yang kebetulan, kita pernah menolong tanpa berkenalan dengan orang yang kita tolong dan kita pun akan ditolong orang yang tidak mengenal kita. Mas Gandi sangat care pada kami yang tua, dan dapat memaklumi tidur dengan orang tua yang suka mendengkur dan bau minyak gosok di kamarnya. Terima kasih teman-teman semua, terima kasih Guruji.

Keyakinan masyarakat Kargil tentang kebhinnekaan, dibuktikan dengan adanya Vihara Buddhis di tengah perkampungan Muslim di daerah Mulbek. Suasananya tenang-tenteram saja. Rombongan kemudian berhenti di Vihara Chamba dengan pahatan Buddha Maitreya di bukit batu setinggi 15 meteran. Maitreya dipercaya sebagai Buddha yang akan muncul di masa yang akan datang. Diperkirakan pahatan Maitreya ini dibuat pada abad pertama setelah masehi. Di dalam vihara tersebut terdapat foto adik Dalai Lama. Selepas kargil kita sering melihat bendera warna-warni dipasang dengan tali di atas rumah atau vihara ataupun di Pass. Menurut pengemudi kami, masyarakat percaya bahwa tubuh kita itu terdiri dari 5 elemen alami dengan simbol warna yang berbeda-beda. Unsur bumi atau tanah dengan simbol warna kuning. Unsur air dengan simbol warna hijau, unsur api dengan simbol warna merah. Unsur angin dengan simbol warna biru dan unsur langit atau awan atau ruang dengan simbol warna putih. Mereka percaya bahwa tubuh yang sakit disebabkan keberadaan suatu unsur yang tidak seimbang, maka mereka memasang bendera berwarna-warni yang berkibar-kibar ditiup angin untuk mengembalikan kesehatannya. Bendera selain dipergunakan untuk kesehatan juga dimaksudkan untuk menyeimbangkan elemen di dalam diri agar kesadaran dapat meningkat. Di depan vihara, ataupun di tengah lapangan luas selalu terdapat stupa. Stupa yang berbentuk setengah bola tertelungkup, di atasnya terdapat tiang berwarna merah atau kuning dan diujungnya terdapat simbol bulan sabit menghadap ke atas dan matahari bulat diatasnya. Di perjalanan kami juga bertemu dengan kelompok banyak jurang yang berwarna-warni. Ada biru, merah, hijau coklat, kuning, karena batuan yang terlihat berbeda struktur dan asalnya. Mengapa mereka berkumpul di suatu tempat, kami tidak dapat menjawabnya.

Dalam perjalanan kita melewati Fotula Pass 4.583 m yang dipenuhi salju. Sebelumnya perjalanan melalui Namikala Pass 3.719 m. Dinamakan Namikala, pillar to the sky, pilar ke langit. Rombongan sempat berfoto sebentar di kedua pass dan para pengemudi meneriakkan mantra-mantra di puncak terbuka. Memang di daerah pass selalu dipenuhi salju. Suasana yang dingin, pitih bersih, oksigen yang tipis, membuat pikiran tenang, tidak suka bicara dan ingat kebesaran alam. Akhirnya rombongan berhenti di Vihara Lamayuru. Vihara dalam bahasa Ladakh adalah gompa. Lamayuru adalah vihara buddhist Tibet di Kargil, Ladakh Barat di ketinggian 3.510 m. Vihara yang ditemukan oleh Lama Ringzhen Zangpo yang mempunyai silsilah dari Guru Tilopa dan muridnya Naropa. Mahasiddhacarya Naropa selama beberapa tahun melakukan meditasi di sana. Lamayuru adalah vihara terbesar dan tertua di Ladakh yang dihuni sekitar 150 bhiksu.

Rombongan makan di luar vihara dengan meja panjang di ruang terbuka. Jelas makanannya nikmat dan British menu. Di perjalanan kami kembali termenung, kami mengkaji Buku Tulisan Guruji, Isa Sang Masiha dan kami dibawa ke Rozabal, kami menyalin quotation buku Tantra Yoga dan kami dibawa ke tempat meditasi Naropa. Terima kasih Guruji. Teringat salah satu quotation di buku tersebut….. Rileks – sebuah kata yang indah. Seorang Mursyid tidak akan pernah memaksa para murid untuk berlatih. Bolak-balik dia akan mengajak untuk bersantai – rileks. Latihan-latihan yang dia berikan hanya untuk mencapai keadaan rileks itu. Dan apabila para murid sudah mencapainya, maka latihan pun harus dihentikan. Lepaskan segalanya, kamu sudah cukup berlatih. Latihan-latihan itu untuk mengantar kamu kepada sang Guru. Sekarang engkau sudah berhadapan dengan dia. Mau berlatih sampai kapan? Rileks…. kalau sudah duduk bersama pacar jangan membaca kamasutra. Do something! Rileks dan mapankan dirimu dalam kemurnian, kejernihan yang tak pernah tercemar. Mapankan keyakinanmu bahwa engkau tak akan tercemar lagi. Bahwa sesungguhnya engkau tak pernah tercemar. Selama ini, engkau pikir engkau tercemar……….

Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan ke Uletokpo. Uletokpo merupakan tempat camping yang indah untuk memperhatikan bintang-bintang di langit. Penginapan terdiri dari tenda-tenda permanent dengan dua tempat tidur, tanpa lampu di dalam tenda, penerangan dengan lilin. Untuk mandi dan ke toilet harus berjalan ke luar tenda dan disediakan banyak kamar mandi berjajar. Karena udaranya dingin maka disediakan selimut yang sangat tebal. Di samping tempat camping mengalir sungai Indus. Suara gemericik air tidak pernah berhenti, mengalir di saluran kecil di pinggir lokasi camping.

Pagi hari kami bangun dan ke luar tenda. Bernapas cleanching sebentar dan mengatur napas, tiba-tiba suatu pikiran menyelinap. Semua makhluk di atas bumi ini dipelihara kehidupannya oleh Bumi. Makan-minum, keperluan hidup bahkan napas kehidupan disediakan bumi. Kami ingat tulisan Deepak Chopra. Tubuh kita terdiri dari sekitar 60 trilyun sel dan mereka semua lahir, hidup, mati, makan sari makanan dan bernapas dari oksigen yang disediakan tubuh kita. Jangan-jangan demikian pula analognya tubuh kita dengan bumi. Bunda bumi kau menghidupi kami, kau disebut Dewi Gaia di Yunani, Devi Prthvi di India dan Ibu Pertiwi di Nusantara. Engkau makhluk hidup, Engkau punya usia dan engkupun dihidupi Sang Surya dan bintang lain. Dan sang Sang Surya dan planet lain pun dihidupi oleh Bunda Alam Semesta. Mungkin ada pula yang menghidupi Bunda Alam Semesta. Biarlah, yang penting kami sadar Bunda Bumi hidup. Suhu badan kita 37 derajat Celcius. Apabila diluar badan temperaturnya tinggi, badan akan mengeluarkan keringat agar suhu badan tetap stabil. Apabila di luar dingin seperti di Pegunungan Himalaya ini, kulit tubuh akan mengerut dan mengeluarkan panas agar suhu badan tetap stabil juga. Menurut Denise Linn, suhu bumi berkisar 13 derajat Celcius. Apabila di luar panas, es di kutub akan mencair dan menjaga suhu bumi agar stabil, kemudian apabila di luar dingin, air laut akan membeku dan mengeluarkan panas untuk menjaga suhu tetap stabil pula. Kadar oksigen di atas permukaan bumi sekitar 21%, kalau oksigen terlalu besar, mudah terjadi kebakaran hutan dan kehidupan punah. Juga kalau oksigen kurang dari 21%, oksigen akan cepat habis untuk bernapas semua makhluk dan makhluk pun akan punah. Kandungan garam di laut pun selama ribuan tahun berkisar 3.4%. Manusia yang mengakibatkan Global warming, ibarat sel kanker dalam tubuh kita yang tidak sinkron dengan tubuh dan mempependek usia tubuh. Manusia yang bertindak penuh kekerasan pun ibarat kanker bagi Ibu Pertiwi. Luar biasa, apabila kita memandang Bunda Bumi ini hidup, cara hidup kita akan berubah. Terima kasih Guruji.

Keesokan paginya perjalanan diteruskan ke Vihara Alchi. Alchi adalah desa di Ladakh yang terletak di tepi sungai Indus. Alchi adalah vihara tertua di Ladakh yang terkenal karena lukisan-lukisan dari abad 11. Vihara didirikan oleh Penterjemah Besar Lotsawa Rinchen Zangpo. Lukisan dinding di Vihara Alchi adalah beberapa lukisan yang bertahan di ladakh dan merefleksikan artistik dan spiritual dari raja Buddha dan Hindu di Kashmir pada waktu itu. Rinchen Zangpo mengajak para seniman dari Kashmir melukis di vihara di Ladakh ini. Di semua vihara memotret dengan blitz dilarang, karena dapat merusakkan lukisan. Banyak lukisan mandala di vihara-vihara di daerah Ladakh. Lukisan lingkaran pada mandala menggambarkan kesempurnaan Sang Pencipta. Titik pusat lingkaran memberi makna tujuan. Segi empat melambangkan kekuatan, kesatuan dan bumi. Simbol kestabilan dan melambangkan empat arah, empat unsur dan empat musim. Segitiga adalah Trinitas Suci, mind/body and soul, ibu/ayah dan anak, waktu lampau/saat ini dan yang akan datang. Simbol keutuhan dan perlindungan. Plato menyatakan bahwa dunia diatur oleh makhluk Ilahi yang mewujudkan dirinya menurut hukum simetri dan geometri.

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara Likir. Rumah-rumah di desa Likir dibuat sekitar 200 tahun yang lalu. Kata Likir berasal dari Klu-kkhyil. Klu-kkhyil Gompa digunakan oleh Bhiksu sekte bertopi kuning. Nama Klu-kkhyl berarti belitan ular seperti bentuk bukit sekeliling vihara. Ditemukan oleh Lama Lhawang Chosje pada tahun 1028. Beliau mengajarkan aliran Kadampa yang merupakan ajaran yang diberikan oleh Yang Mulia Atisha. Sebelum Yang Mulia Atisha menyebarkan ajaran di Tibet, beliau belajar pada Yang Mulia Dharmakirti Svarnadvipi di Pulau Sumatera pada zaman Sriwijaya. Pada tahun 1470 ajaran Kadampa dikonversikan menjadi ajaran Gelukpa oleh Tsong Khapa sebagai lanjutan dari aliran Kadampa. Vihara ini mempunyai koleksi seni Buddhist dan patung raksasa di depan Vihara setinggi 25 m. Perjalanan dilanjutkan ke Leh. Rombongan menginap di Spic and Span Hotel.

 

Triwidodo

Juni 2008.

Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Kedelapan)

 

Vihara Thicksey dan Hemis

 

Catatan Kecil Pribadi

 

Happy Wedding Anniversary to Triwidodo & Rosita.

May your relation sthrengthen into a lasting bond of frienship.

Leh, Ladakh 19th May 2008

From Spiritual Journey Members 11th – 22nd May 2008.

Ditandangani Guruji dan 17 teman seperjalanan, di lembar pertama buku hadiah Guruji dan teman-teman seperjalanan, The Fifth Gospel, karya Fida Hassnain dan Dahan Levi, Dastgir Publications 1988.

 

Wanita yang diberkahi

Pernah kami tulis dalam tulisan yang dimuat dalam buku Neo Man Neo Vision, yang menceritakan tentang almarhumah Eyang Srini yang ditulis Guruji dalam Soul Quest sebagai Ibu Sri, seorang ibu atau bunda untuk semua, khususnya para pengikut, teman-teman dan mereka yang bersimpati padanya. Ia berasal dari keluarga Kraton, namun ia memilih tinggal di luar Kraton sebagai rakyat biasa. Ia seorang wanita yang diberkahi – sesuatu yang mistik. Ia jarang bicara, tetapi kalau bicara ucapannya penuh wibawa, seolah kekuatan yang lebih besar sedang berbicara lewat dirinya. Sebelum ibunda Guruji mengandung beliau, Ayah Guruji mendapat kesempatan bertemu dengan Eyang Srini. …. Ya, ya.. saya restui. Anda menginginkan seorang anak, seorang putra. Tuhan akan memberikannya kepada anda. Tak usah kuatir. Tunggu sebentar dan ia masuk ke ruang pribadinya. Tidak lama kemudian seorang pengikut Eyang Srini keluar dan memberikan sebuah apel untuk ibunda Guruji dan Sang Ayah diminta memberi makan ikan di Bengawan Solo dengan nasi kuning…..

Ibu kami juga sering minta tolong kepada Eyang Srini terutama saat kami ujian atau menempuh pendidikan di luar kota. Kadang-kadang kami diminta makan selat, masakan khas Solo. Kami ingat adiknya ibu kami yang akan mendapat PHK di Jakarta disuwunkan, dimohonkan berkah dan lolos dari PHK. Ternyata Istri kami masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Eyang Srini. Ibu istri kami juga sering memohon berkah. Dan yang penting, ketika kami akan menikah yang memberikan tanggal yang baik bagi perkawinan adalah Eyang Srini sendiri. Yang mendampingi kami dalam Upacara Temu Penganten adalah adik Eyang Srini sendiri. Tanggal yang dipilihkan Wanita Suci pembawa berkah ini adalah 19 Mei 1984. Kami terkadang masih datang ke makamnya yang dibuat dengan bangunan indah di luar Kota Solo dan dimana terdapat foto beliau yang dipajang di atas makamnya. Bangunan ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Eyang Srini yang pernah menjadi sebagai Tentara Pelajar.

Dua puluh empat tahun kemudian, pada tanggal 19 Mei 2008, kami berdua diajak Keberadaan mengikuti Guruji ke Vihara Hemis. Vihara yang berkaitan dengan Padmasambhava, pembawa Buddha dari India ke Tibet. Vihara yang berkaitan dengan Gusti Yesus yang pernah berada di Himalaya. Vihara yang berkaitan dengan sembuhnya Guruji yang sembuh dari penyakit Leukemia dan mendapatkan pencerahan. Gusti, luar biasa, tanggal yang dipilih seorang wanita suci pembawa berkah terbukti setelah duapuluh empat tahun kemudian. Tidak ada sesuatu yang bersifat kebetulan. Angka keluarga kami adalah warisan dari keluarga mertua kami yaitu 248. Setiap kami melakukan kebenaran, selalu saja ada mobil lewat di depan kami bernomor 248. Angka perkawinan telah menginjak ke 24 pada tahun 2008 dihitung dari tahun 84. Mobil yang dinaiki istri dalam perjalanan ini bernomor JK10. 4820. JK10 adalah nomor Jammu Kashmir untuk daerah Ladakh. Tanggal lahir istri 17-11-1957 bila dijumlah adalah 8-2-4. Sebelum mendapatkan nama Jalan Dworowati bernomor 33, jalan tersebut dinamakan Sidokare dan diberi almarhum ayah mertua nomor 248. menurut beliau Pujangga Ronggowarsito senang mempunyai nama orong-orong yang genap 248. Kebetulan kakek kami adalah seorang pensiunan Mantri Sekolah penggemar berat Ronggowarsito dan kami sebagai cucu tersayangnya sudah diajari memahami tulisan Sang Pujangga sejak kecil. Terima kasih Gusti. Terima kasih Guruji, terima kasih teman-teman semua.

Pagi itu kami sarapan pukul 05.00, berangkat pagi-pagi sekali menuju Vihara Thicksey. Vihara Thicksey terletak di ketinggian 3.600 m di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 20 km dari Leh. Merupakan tempat Thicksey Rinpoche, pemimpin Sekolah Gelug di Ladakh. Pada abad ke 15 Tsongkhapa penemu Sekolah Gelug mengirim 6 muridnya ke Tibet mengajarkan ajaran baru Gelugpa.

Di salah satu ruang seorang Bhiksu membaca mantra dan memukul semacam gong yang diikuti oleh dua orang bhiksu memakai topi khas Tibet dengan jambul seperti topi Romawi kuno yang terbuat dari kulit domba, meniup terompet diatas Vihara. Suaranya terdengar sampai perkampungan di bawah bukit. Kemudian rombongan mengikuti atau lebih pantas menyaksikan acara ritual berdoa dan sarapan bersama para bhiksu. Ritual makan di tempat meditasi dilakukan dengan tertib.

Perjalanan dilanjutkan ke Vihara paling terkenal di Ladakh, Vihara Hemis. Vihara Hemis adalah Vihara buddhist Tibet dari garis Drukpa yang terletak sekitar 45 km dari Leh. Vihara dibangun pada tahun 1.672 oleh Raja Ladakh Senge Namgyal. Sebagai penghormatan kepada Padmashambhava yang pernah memberikan ajaran di Hemis, setiap awal Juni di Vihara tersebut diadakan perayaan khusus.

Pada tahun 1894, buku perjalanan Jurnalis Nicolas Notovitch mengklaim bahwa Hemis adalah awal dari ajaran Saint Issa. Jesus dikatakan melakukan perjalanan ke India, selama waktu-waktunya yang hilang tak terjelaskan, antara 12 tahun sampai 29 tahunan. Menurut Notovtich, penjelasan telah tersedia di Perpustakaan Hemis, dan ditunjukkan kepadanya ketika dia menyembuhkan luka kecelakaan di sana.

Guruji nampak menyimpan tenaganya untuk bisa naik ke Vihara. Mahima langsung bersujud di tanah dan berangkulan dengan Ma Upasana dan menangis berdua setiba di Hemis. Inilah Vihara di mana Guruji Anand Krishna bertemu Lama yang menyembuhkan penyakitnya dan menyuruh pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan Karma Bhuminya. Ketenangan dan energi luar biasa terpancar di Vihara yang terletak di ketinggian pegunungan Himalaya. Jumlah oksigen yang tipis, membuat orang lebih meditatif dan kurang bicara. Dapat diterima logika bahwa bagi mereka yang menginap beberapa hari di Vihara, dan bermeditasi di sana akan mudah mendapatkan ketenangan. Sebagaimana kita ketahui, energi otak diperoleh dari sari makanan dan oksigen. Setelah berpuasa sekitar empat jam, ditambah oksigen yang tipis di ketinggian gunung yang dingin, pikiran tidak begitu liar lagi. Pada saat demikian lebih mudah bagi seseorang untuk mendapatkan getaran pikiran yang sinkron dengan alam semesta, dan terbukalah dirinya. Puji Tuhan, Guruji telah mendapatkan penerangan dan kesembuhan di sana. Vihara yang tadinya terletak di tepi Sungai Sindhu ini didirikan dengan tujuan agar para bhiksu mandiri dengan mengolah lahan pertanian yang cukup luas yang berada di tengah perkampungan penduduk.

Teringat buku tulisan Guruji di Soul Quest. Seorang Lama bertanya kepada Guruji yang sedang menderita karena penyakit leukemia dan Hb yang sangat rendah, Mengapa kamu menolak kematian? Terimalah kematian seperti menerima hal-hal lain dalam kehidupan. Tapi mengapa aku harus memberitahumu tentang ini. Kamu sudah punya banyak pengetahuan. Lama itu memegangbtangan Guruji ke pohon Bodhi yang sangat besar. Orang mengira Buddha mendapatkan pencerahannya di bawah pohon Bodhi. Tentu saja tidak demikian. Baik pohon ini atau pohon-pohon yang lainnya tak ada hubungannya dengan pencerahan. Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang telah dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tak membawanya kemana pun. Dan ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Tapi mengapa aku memberi tahumu tentang ini? Kau tentu saja sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Cerita selanjutnya Guruji menemui Lama tersebut di Hemis. Kau telah memilih tempat yang baik untuk mati. Lihatlah Himalaya dengan salju abadinya, dan ada sungai Sindhu dengan alirannya yang tenang. Kau sudah melakukan hal yang benar dengan datang ke sini , tempat yang tepat untuk mati………… Jangan lari, jangan melarikan diri. Hadapilah rintangan-rintangan hidup ini dengan senyuman di bibir. Kita cenderung lupa bahwa kita bertanggung jawab seratus persen atas apa yang terjadi pada diri kita. Kita menciptakan masalah, jadi kita juga yang harus menghadapinya… memecahkan masalah……. Ini adalah tanah yang suci. Getaran di sini sangat kuat – spiritual, getaran-getaran Ilahi. Atisha pernah berada di sini. Ia menghabiskan beberapa waktu di Biara ini, seperti halnya dengan sang Juru Selamat. Mereka berdua mencintai tempat ini. Gedung-gedung di biara ini telah berubah, tetapi biara ini tak berubah. Faktanya, ruangan yang sekarang kau tempati ini adalah ruangan yang dulu ditempati oleh sang Juru Selamat…….

Rombongan menyaksikan acara ritual di Vihara dan setelah selesai dilanjutkan dengan acara Guruji bersama rombongan. Setelah berdoa dan membaca mantra, keluar suara Guruji yang sangat mengharukan, bahwa masyarakat Indonesia itu egonya sangat besar, rasa jealousnya juga tinggi dan seluruh rombongan menangis.

Selesai dari Vihara Hemis perjalanan dilanjutkan ke Mahabodhi International Meditation Centre. Guruji pernah memutuskan menjadi Bhiksu di organisasi ini dan diinisiasi oleh Ven. Bikkhu Sanghasena dengan nama Anomadassi sebelum ketemu Lama Pemandu Beliau di Biara Hemis. Meditation Centre yang luas ini mempunyai beberapa program yang dalam 17 tahun terakhir berkembang sangat pesat. Ada program Meditasi, Program Pendidikan, Program Kesehatan dengan Rumah Sakit dan Klinik Berjalan, Pendidikan Bhiksuni, Program Lansia, Program Remaja, Program Lingkungan dan lain-lain. Desember 2005, ketika ikut rombongan Guruji ke Varanassi sempat melakukan peninjauan ke Mahabodhi Temple dan melihat sekelompok anak muda menari dalam lingkaran menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air seperti kegiatan Pesta Rakyat. Pada waktu itu juga sempat melakukan doa di Birla Temple di New Delhi yang juga merupakan kegiatan Mahabodhi International Meditation Centre dengan nuansa ritual spiritual. Di Sore hari melihat Shanti Stupa di puncak bukit di Leh yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Selanjutnya ke Vihara Shankar.

Pagi harinya perjalanan dilanjutkan ke Khardongla Pass yang merupakan Pass tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.127 m yang telah dicatat dalam Guinees Book of World Records. Persiapan matang perlu dilakukan karena di ketinggian tersebut oksigen sangat tipis dan membuat kepala pusing. Khardongla Pass ini merupakan jalan yang harus dilewati ke Nubra yang bisa diteruskan ke China.

Kita mengenal perjalanan ke Barat oleh Bhiksu Tong Sam Cong. Jalan yang dilalui melalui Khardongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass menuju Kashmir. Hal itu bermula ketika Kaisar Li Sin Min mengutus Bhiksu Tong Sam Cong untuk mengambil Kitab Suci Tripitaka dari India melalui “Jalan Sutra Utara”. Jalan tersebut demikian melegenda, hingga melahirkan kisah klasik See Yu, yang melalui tayangan televisi demikian terkenal sebagai serial film “Kera Sakti”. Bhiksu Tong Sam Cong melakukan perjalanan dari Chang’An, Anxi, Tashkent, Samarkand, Leh, Tibet, Bodhgaya, terus ke India Selatan sampai ke Kancipuram. Kemudian kembali ke Utara ke Kashmir, Kashgar, dan Anxi untuk kembali ke Chang’An. Perjalanan bhiksu Thong Sam Cong yang digambarkan menaiki kuda putih ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 627 sampai dengan tahun 643.

Alexander Yang Agung pada tahun 330 BC juga pernah melakukan perjalanan sejauh 20.000 miles dari Macedonia ke Punjab. Setelah lewat Bactria, dan berhenti sebentar di Kabul, meneruskan perjalanan sampai sungai Jhelum di hulu Kashmir dan tentaranya menolak meneruskan perjalanan ke India.

Gusti Yesus juga dipercaya melakukan perjalanan ke Kashmir lewat Jalan Sutra bahkan dipercaya makamnya berada di Kashmir. Jalan Sutra di mulai dari Chang’An di China, ada cabang dari Kashgar kemudian turun ke arah Selatan ke Leh dan Srinagar. Dari Kashgar ke Barat, Samarkand, Bokhara, Merv, Persia, Mesopotamia bertemu dengan Laut Tengah di Antioch dan Tyre. Rute ini digunakan untuk kepentingan perdagangan dan perpindahan penduduk oleh Bangsa Mesir, Irael, Arya dan lainnya.

Keesokan harinya melakukan penerbangan dari Leh menuju New Delhi. Di Delhi ziarah ke makam Hazrat Inayat Khan, Bahai Temple, Birla Temple dan sight seeing di New Delhi.

Keesokan harinya pulang menuju Jakarta. Selesai.

 

Triwidodo

Juni 2008.