Haruskah Peristiwa 43 tahun yang lalu terulang lagi?


Menyimak Peristiwa 1 Juni 2008 di Monas dan rentetan kejadian sebelumnya.

 

Perih

Sedih

Haru

Tangis

Menyesak dada

Kecewa

Panas membara

Memenuhi rongga dada

 

Bunda Pertiwi,

Dikau lah Bunda yang sebenarnya.

Kukutip goresan pena, ketikan keyboard Putra Terbaikmu

 

Beloved,

Keadaan saya saat ini seperti seorang ibu yang telah merelakan anak-anaknya untuk maju ke medan perang. Mereka telah kembali dengan badan mereka berlumuran darah. Sang ibu menangis, hatinya pecah berkeping, namun jiwanya bangga. Karena, air susu dia yang mengalir sebagai darah dalam tubuh anak-anaknya tidak sia-sia.

Darah yang keluar dari badanmu adalah darahku. Pukulan yang kena kalian telah mengenai diriku.

Serahkan rasa sakitmu kepadaku, raihlah kesehatan dan penyembuhan dariku.

Jenderalku, komandanku, prajuritku, aku bangga memilikimu.

Aku bangga atas segala pengorbananmu bagi Ibu Pertiwi, Nusa, dan Bangsa.

Nama-namamu telah terukir diatas dadaku.

Sejarah akan mengenangmu sepanjang masa.

 

Love n blessings,

ibumu, gurumu, temanmu… a.k.

 

Sebetulnya kami tidak ingin mengungkap masa lalu, sudah kusimpan rapat dalam bawah sadarku.

Tetapi semua terungkap kembali seakan nyata.

Empat puluh tiga tahun lalu kejadian hampir serupa.

Dulu Partai Komunis pernah bertindak serupa, suara teror dimana-mana.

Dulu demi rakyat, buruh tani.

Kekuatannya seakan melingkupi Bumi Pertiwi.

Tetapi apa yang telah terjadi?

Kita semua mengetahui.

 

Kini, demi agama, demi kebenaran menurut mereka.

Biarlah umum yang menilainya.

Haruskah peristiwa dulu terjadi lagi?

Dengan setting dan pemeran masa kini?

Kami tidak tahu apakah ini bentuk pengulangan dan reinkarnasi.

Kami juga tidak ingin membuat dugaan yang belum pasti.

Kami sama sekali tidak menyamakan suasana.

Hanya mohon dirasakan dan diambil hikmahnya.

 

Dan dari dulu dan sekarang mayoritas warga tetap diam.

Silent Majority.

Diperlukan bakteri yakult untuk menyehatkan tubuh dari virus berbahaya.

Diperlukan virus berkebangsaan untuk mempersatukan tubuh yang diserang virus yang berusaha mencerai-beraikan.

 

Bunda Pertiwi,

Tidakkah putra-putramu merasakan?

Sembah sujud bagi Bunda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: