Perjalanan Ruhani ke Kashmir dan Leh India (Keenam)


 

Sepenggal Jalan Sutera Melintasi Pegunungan Himalaya

 

Catatan Kecil Keenam

Jalan Sutera adalah jalan perdagangan yang membentang dari Chang An di China ke laut Tengah dan Timur Tengah. Dari pertengahan Jalan Sutera di Yarkand ada jalan ke Selatan menuju Leh dan Kashmir. Jalan Sutera ini mempertemukan peradaban Timur dengan Barat. Sepenggal Jalan Sutera ke India ini melalui beberapa Pass, yaitu Khardhongla Pass, Fotula Pass dan Zojila Pass. Di Jalur Sutera Utara terdapat Pass yang sangat strategis bagi militer yaitu Khyber Pass, 1.070 m antara Pakistan dan Afghanistan yang namanya digunakan sebagai nama pabrik semen di India.Khardongla Pass, 6.127 m di antara Leh dan Nubra adalah Pass tertinggi di dunia yang dapat dilewati kendaraan bermotor yang tercatat dalam Guiness Book of World Records.

Alexander Yang Agung dari Laut Tengah dengan pasukannya melewati Jalan Sutera sampai di hulu sungai Jhelum di Punjab dan pasukannya menolak meneruskan perjalanannya ke India.Punjab adalah daerah yang dialiri 5 sungai yaitu Sungai-Sungai Indus, Jhelum, Chenab, Ravi dan Sathj yang menyatu ke Sungai Indus dan bermuara di Pakistan.

Gusti Yesus sewaktu remaja mengikuti pedagang melewati Jalan Sutera ke Himalaya. Demikian pula Gusti Yesus menghabiskan sisa hidupnya di Kashmir. Bhiksu Tong Sam Cong mencari kitab Tripitaka ke India paling tidak memakan waktu 16 tahun.

Perjalanan memakai kendaraan tersebut sangat mudah dibandingkan para Santo zaman dahulu, tetapi cukup mendebarkan juga berjalan melewati jurang-jurang yang dalam dengan jalan yang licin. Jarang sekali bertemu manusia, mau tidak mau harus bersahabat dengan alam dan menyelaraskan diri dengan alam yang begitu kokoh.

 

Rute Perjalanan

Jarak antara Srinagar-Leh adalah 434 km. Penerbangan langsung memakan waktu sekitar 60 menit. Bis umum biasanya menempuh dalam 2 hari dan menginap di Kargil. Perjalanan Rombongan 4 hari 3 malam untuk mengalami pengalaman sepenggal Jalan Sutera. Jalan Sutera membentang dari China ke Laut Tengah dan Timur Tengah dan cabangnya dari Yarkand ke Leh dan Kashmir. Perjalanan ini sangat penting buntuk melihat tempat-tempat spiritual sepanjang perjalanan, dan penyesuaian ketinggian dari Srinagar yang berketinggian 1.730 m diatas permukaan air laut ke Leh yang berkeringgian 3.700 m. Tanggal 15 Mei rombongan berangkat dari Srinagar dan bermalam di Sonmarg sepanjang 84 km. Hari berikutnya dari Sonmarg menuju Kargil sepanjang 121 km melalui Zojila Pass yang berketinggian 3.527 m, dan menginap di Kargil. Selanjutnya dar Kargil menuju Camping Site Uletokpo sepanjang 154 km melewati Fotula Pass dengan ketinggian sekitar 4.538 m, menginap di Uletokpo. Selanjutnya dari Uletokpo ke Leh sekitar 75 km.

 

Melewati Pegunungan Himalaya

Perjalanan ini terasa sangat menakjubkan

Sayang engkau tak duduk disampingku sayang

Banyak Cerita Yang Akan Kuberikan…….

Pagi hari sehabis sarapan di house-boat, rombongan naik shikara menuju jalan besar. Di Jalan sudah berjajar 5 Innova berwarna abu-abu metalik semua. Pelat nomor yang tadinya JK01 untuk Srinagar sekarang JK10 untuk Ladakh yang beribukota di Leh. Semua kendaraan di India merupakan kerjasama dengan perusahaan dalam negeri. Innova Shree-Toyota, Sedan Maruti-Suzuki, Truck Ashok-Leyland, Sepeda Motor Hero-Honda, Excavator Tata-Hitachi. Guruji berada di mobil paling depan, istri kami di mobil kedua dan kami berada di mobil ketiga bersama mas Yuda, Mas Wito dan Pak Hari. Para pengemudi mobil ini khusus didatangkan dari Leh yang biasa perjalanan melintasi pegunungan Himalaya.

Kalau pengemudi mobil Kami di Srinagar bernama Moh. Ayub dengan rambut ikal seperti Iyek Ahmad Albar, kali ini pengemudi kami minta dipanggil Gilson. Kami tahu namanya sulit dieja yaitu Gwyltsan, beragama Buddha dan di mobilnya ada foto Rinpoche Ladakh. Gilson yang bisa berbahasa Inggris tersebut selalu memulai perkalanan dengan membaca mantera.

Selepas dari Srinagar mobil menanjak naik dan beberapa kali melambat melewati ratusan domba yang digembalai beberapa penduduk. Selanjutnya kami menemui pohon besar dengan diameter sekitar 2 m yang tegak di tengah jalan dan jalan dibuat di samping kanan dan kirinya. Rasanya pohon tersebut merasa bangga bahwa dia dihormati manusia yang tidak menebangnya. Vibrasi kebahagiaaannya akan disampaikan kepada pohon kaumnya untuk bekerja sama dengan manusia. Jalan dari Srinagar ke Sonmarg tersebut berada disamping Sungai Sind, kadang di sebelah kiri kadang di sebelah kanan dan mobil bergerak menanjak ke arah hulu sungai.

Dapat dipahami perjalanan para santo yang suci karena berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan jarang bertemu manusia dan hanya bertemu tebing, sungai, bukit, lembah, salju, matahari, awan dan angin maka mau tidak mau akan berkawan dengan alam dan menyelaraskan dengan alam. Konvoi lima buah kendaraan dari rombongan ibarat beberapa gelintir semut kecil yang mengarungi pegunungan luas. Mengapa masih juga banyak manusia yang angkuh, padahal mereka terlalu kecil dibanding bumi. Bumi pun ibarat debu dibanding luasnya alam semesta yang mempunyai jutaan matahari.

Truck-truck yang lewat hampir semua bernada spiritual, bertuliskan Ya Allah, Om Nama Shiva, tidak ada yang slengekan atau bergambarkan perempuan setengah telanjang. Di belakang bak mereka tertulis please horn, kalau mau menyiap silahkan klakson dan mereka akan mencari badan jalan yang agak lebar menepi ke kiri yang dekat tebing, dan memberikan jalan bagi mereka yang mau cepat menyiap lewat kanan yang lebih aman. Apabila kita simpangan, bertemu kendaraan lain, maka truck, bahkan truck tentara pun akan berhenti di tempat badan jalan yang lebar memberi jalan. Di tempat yang tinggi, pembicaraan kita otomatis berkurang, dan kondisi otak lebih tenang, mungkin disebabkan lapisan oksigen yang tipis. Beberapa kali rombongan melewati memorial, tanda ada kendaraan atau truck yang jatuh ke jurang. Memang jalan sangat licin karena banyaknya salju yang mencair kena sengatan sang surya.

Akhirnya rombongan sampai di Sonmarg. Sambil menunggu persiapan kamar, beberapa teman naik kuda ke Gunung. Banyak kuda pony yang dipersiapkan untuk keperluan pariwisata. Beberapa teman lainnya melihat-lihat ke belakang hotel, di mana ada hamparan lepas dan 200 m dari hotel mengalir Sungai Sindh. Memang ada hubungannya center Joglosemar di Jogya di Dayu yang terletak di kecamatan Sinduhardjo. Minimal sama-sama Sind nya. Hotel di Sonmarg memang baru tetapi peralatannya sederhana, kuncinya hanya berupa gembok dan gerendel. Roomboy-nya ramah dan lain dengan di New Delhi yang setelah mengantar koper sengaja berdiri beberapa lama menunggu tip. Pengaruh materi di Kota Besar memang sangat terasa.

Sore hari Guruji mengumpulkan teman-teman di belakang hotel. Ma Archana diminta menyanyi. Guruji bercerita tentang Sungai Sindh, dimana para penyair mengungkapkan bahwa Sungai Sind itu kadang nampak kemudian hilang masuk ke dalam tanah dan muncul lagi di Pakistan dan menghilang lagi sebelum bertemu di laut. Menurut legenda Nabi Khidir sering muncul dari sungai Sindh. Burung-burung gagak beterbangan dan sebagian hinggap di pagar kawat berduri. Sedikit air masih mengalir di Sungai Sindh dan bergemericik melewati bebatuan. Guruji mengingatkan perlunya tulisan yang ngepop. Penulis harus tahu lagu pop. Lihat pembacaan tembang macapat yang hanya digemari kalangan tertentu saja. Gusti Mangkunegara IV yang menjelaskan tentang Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Rasa memang sejalan dengan Bhagavad Gita. Beliau membuat masakan spiritual berselera Jawa dengan tembang Macapat yang populer saat itu. Kita harus menyampaikan dalam bahasa gaul yang pop. Bahan dasarnya bisa sama tetapi penyajiannya penting untuk menarik minat masyarakat umum.

Esok harinya perjalanan dilanjutkan ke Kargil. Baru sekitar 3 km, semua kendaraan berhenti menunggu konvoi tentara setelah latihan di pegunungan. Menurut pengemudi, memang jalan border road di bawah komando militer dan kadang-kadang ditutup sementara untuk keperluan militer. Lebih dari dua jam rombongan menunggu. Seperti kata Guruji perjalanan di Himalaya memang sulit di prediksi, yang penting mulai berjalan, sampai di tujuan memakan waktu yang bervariasi, karena banyak hambatan di jalan. Bukankah hidup ini juga kadang sulit diprediksi? Kapankah kita sampai di tujuan spiritual? Yang penting kita sudah mulai berjalan mengarah tujuan. Jangan serius-serius amat. Dia menikmati permainan. Kami ingat gurauan teman saya, kenapa sombong memakai mercy, Jakarta-Cileduk tetap makan waktu dua jam juga. Otak boleh jago, tetapi hambatan macet di dunia ramai membuat perjalanan spiritual lambat juga. Perjalanan, pengalaman, rasa memang lebih penting dari tujuan. Tanpa terasa ada perkembangan diri ketika kita merasakan pengalaman perjalanan.

Perjalanan sekitar 2 jam sampailah kita ke Amritha. Ada tulisan di tepi jalan Wecome to the Land of Amritha. Setiap bulan Juni ramai para penziarah datang ke Gua Amritha untuk melihat lingga yang terbentuk alami dari es. Tulisan-tulisan di tepi jalan sangat bermakna dan meminta kita mengendarai dengan hati-hati.

  • Life is precious drive slowly.

  • Drive slowly enjoy the beauty of journey.

  • Time is money but life is precious.

  • Mountain are pleasure if you drive leisure.

 

Kadang-kadang rombongan berhenti sebentar menunggu excavator sedang membersihkan longsoran tebing. Pekerjaan mulia yang penuh kesigapan. Banyak manusia yang tidak kita sadari bahwa dia sesungguhnya melancarkan perjalanan kita. Kita punya banyak hutang, kami ingat tulisan Guruji.

Ada 5 macam hutang atau Rina yang disebut:

  1. Deva Rina, utang terhadap Dewa. Yang dimaksud adalah kemuliaan, kesadaran, pencerahan karena kata dewa berasal dari Divya, yang berarti yang mulia, yang terang, yang berasal dari cahaya.

  •  
    • Elemen-elemen alami seperti api, air, angin, tanah dan ruang juga disebut dewa. Api membakar habis segala macam sampah. Air membersihkan. Angin dapat menyusup kemana-mana. Tanah menopang beban kita semua. Dan tanpa ruang kita tidak dapat eksis.

    • Belajar dari sifat-sifat alami itu adalah utang pertama yang harus dibayar. Membakar sampah pikiran, menjaga kebersihan diri, kebersihan pikiran dan perasaan, belajar hidup sederhana, ringan dan tidak menjadi beban pada siapa pun juga, menjadi ruang kosong yang akomodatif.

  1. Pitra Rina, utang terhadap leluhur, atau barangkali lebih tepat utang terhadap keluarga. Karena keluarga adalah kontinuitas dari leluhur dan leluhur adalah keluarga.

  •  
    • Dengan meninggalkan rumah, kita tidak dapat memutuskan hubungan dengan dunia. Hubungan kita dengan dunia tidak pernah putus. Jika kita tidak menyelesaikan utang kita terhadap keluarga, kita akan dituntut untuk menyelesaikannya terhadap keluarga yang lebih besar – dunia ini.

    • Para Mesias dan Buddha juga meninggalkan rumah, tetapi lain mereka lain kita. Kita melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab, sementara mereka memikul tugas dan tanggung jawab yang lebih besar.

    • Jadilah seorang pelayan. Layanilah keluarga Anda sebagaimana orang tua Anda pernah melayani anda. Semangat pelayanan inilah yang semestinya berada di balik pelunasan Pitra Rina.

  1. Rishi Rina, utang terhadap para bijak, atau terhadap kebijaksanaan itu sendiri.

  •  
    • Cara kita melunasi setiap utang haruslah bijak.

    • Nilai kebijakan tertinggi adalah: aku senang, kau pun harus senang. Aku bahagia, kau pun harus bahagia. Aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diri.

    • Kita harus mengembangkan kebijaksanaan di dalam diri, kearifan diri. Demikian, kita baru dapat melunasi utang kita terhadap kebijaksanaan.

  1. Nara Rina, utang terhadap sesama manusia.

  •  
    • Seorang manusia yang tersadarkan dapat menyelamatkan seluruh umat manusia. Siddhartha seorang diri dapat menjadi cahaya bagi seluruh dunia. Isa seorang diri dapat mengubah sejarah peradaban manusia. Muhammad seorang diri mengantar dunia ke era baru.

  1. Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya.

 

Pukul 14.30 rombongan beristirahat di tempat yang datar dan makan siang. Makan yang terdiri roti sandwich, chicken, pisang, mangga dan orange juice terasa nikmat. Tetapi kita makan di balik batu karang untuk berlindung dari angin yang cukup kencang.

Sepanjang perjalanan dari Srinagar ke Leh terdapat kabel line untuk komunikasi militer yang berjarak sekitar 50 m dari jalan raya. Beberapa kabel jatuh ke tanah dan segera diperbaiki oleh militer. Jembatan yang dilewati terbuat dari rangka baja Bailey yang merupakan jembatan darurat tentara yang dibagun zeni angkatan darat. Rombongan menginap di Kargil, kota kecil yang selama musim dingin terputus aksesnya 6-7 bulan. Pipa air minum pada musim dingin juga membeku kecuali pipa distribusi yang besar, dan penduduk mendapatkan air dari truck-truck tanki. Di Kargil sudah ada perkebunan apel dan apricot. India memang padat penduduknya tetapi terutama di sekitar Delhi, Mumbai dan Lucknow dan Kolkata. Di Jammu dan Kashmir sedikit sekali penduduknya.

Kalau di Kashmir kita sering mendengar ucapan terima kasih dengan kata sukriya, di Kargil dan Leh mereka mengucapkan terima kasih dengan julley.

 

Teman-teman, Julley.

Triwidodo.

Juni 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: